Sejarah Jakarta (7): Gempa Bumi 1834, Istana Buitenzorg Hancur; Sungai Ciliwung di Batavia Makin Dangkal, Kanal Barat Dibangun 1918




Istana Buitenzorg, 1834 (sebelum hancur oleh gempa bumi)
Gempa bumi adalah kejadian alam yang menakutkan dan dapat menimbulkan bencana besar. Gempa bumi di Batavia sudah kerap terjadi dan pencatatannya dimulai sejak kehadiran VOC tahun 1619 di Batavia. Dua hal yang pokok yang dapat menimbulkan bencana besar di Batavia adalah runtuhnya berbagai bangunan dan semakin dangkalnya Sungai Ciliwung.

Gempa bumi di Jawa telah terjadi beberapa kali terjadi sebelumnya. Gempa bumi pertama dicatat tanggal 13 Februari 1684. Selanjutnya, terjadi gempa bumi pada 4 Januari 1699, 25 Januari 1769, 10 Mei 1772 dan disusul pada tanggal 22 Januari 1775. Gempa bumi berikutnya pada tanggal 19 Maret 1805 (lihat Almanak 1816).

Pada masa transisi dari Inggris ke Belanda tahun 1815 terjadi kembali gempa bumi beruntun, yakni: tanggal 10 April 1815 lalu kesesokan harinya tanggal 11 April dan empat hari kemudian terjadi lagi tepatmya tangga; 15 April 1815. Ini mengindikasikan wilayah sekitar Batavia sejak dari dulu rawan terhadap gempa bumi.

Istana Buitenzorg Hancur

Gempa bumi tahun 1834 terbilang gempa bumi terbesar yang terjadi di Batavia. Gempa bumi ini tercatat telah menghancurkan Istana Buitenzorg. Padahal instana ini merupakan salah satu bangunan yang dibuat kokoh dan tahan lama karena tempat kediaman Gubernur Jenderal.

Sejarah Jakarta (6): VOC Diakuisisi Kerajaan Belanda, Pemerintah Hindia Belanda Dimulai 1799; Ibukota Batavia



VOC dibubarkan. Kerajaan Belanda mengambilalih dan membentuk pemerintahan. Nama Hindia Timur (Oost Indisch) diubah menjadi Hindia Belanda (Nederlandch Indie). Ibukota yang dipilih tetap Batavia. Namun lokasinya tidak lagi di pantai (Kastil Batavia) tetapi dipilih di suatu lokasi yang lebih sehat agak ked alam yang kemudian dikenal sebagai Weltevrede.

Hindia Belanda adalah wilayah yang sangat luas, Batavia hanyalah wilayah kecil dimana ibukota berada. Namun demikian, apa saja nama-nama kampong di ibukota ini belum ada daftar yang lengkap.

Pada era VOC (1619-1799) nama-nama kampong yang sudah terdeteksi antara lain: Pasar Borrong/Loear Batang, Kampong Bandan, Doeri, Moeara…Nama-nama kampong yang terdeteksi terus bertambah, baik yang sudah ada sejak awal (dan belum dilaporkan) maupun kampong-kampong yang terbentuk kemudian karena adanya migrasi.

Dengan adanya campur tangan kerajaan (terbentuknya pemerintahan) di Hindia Belanda, nama-nama tempat menjadi penting. Setiap tempat awalnya diberi nama sebagai penanda untuk jalan pos. Meski nama-nama tempat itu baru sekadar sebagai check point tetapi nama tersebut tetap diregister secara resmi (cikal bakal peraturan perundang-undangan tentang wilayah/daerah). Di antara nama-nama tempat check point tersebut kepemilikan lahan mulai diperkenalkan, pengakuan kepemilikan lahan diformalkan dan perpindahan kepemilikan harus terdaftar. Wilayah hulu Tjiliwong akan dibagi-bagi ke dalam kepemilikan landhuis (lahan partikelir yang dimiliki oleh para planter).