Laman

Rabu, 25 Januari 2017

Sejarah Bandung (7): Villa Isola dan Dominique Willem Berretty; Lebih Terkenal Villa daripada Pemilik

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Villa Isola di Dago, Bandung, di sisi jalan ke arah Lembang terkenal dengan arsitekturnya. Namun, pemiliknya, Dominique Willem Berretty kurang dikenal sebagai jurnalis yang hebat. Padahal kemauan dan ketekunannya dalam mengelola media inilah yang menjadi pangkal perkara mengapa dia memiliki banyak uang dan mampu membangun villa mewah.

Dominique Willem Berretty, lahir di Djokjakarta 20 November 1891. Sebagai orang Indo (ayah orang Italia, ibu orang pribumi), meski berpikir dengan cara lokal Baretty ingin sukses seperti orang Eropa.

Barretty yang berasal dari keluarga besar, sebagai Indo, di satu sisi mudah mendapat pekerjaan sebagai orang Eropa, dan di sisi lain cara berpikirnya tetap lokal (membumi). Perpaduan inilah yang membuka jalan pikirannya menjadi orang yang sukses besar di bisnis media.

Villa Isola, tahap pembangunan, 1928
Berretty memulai kerja di Kantor Pos dan Telegraf di Batavia. Hanya berbekal pendidikan HBS hingga tingkat dua di Surabaya dan ikut ujian MULO di Djokjakarta. Dengan langsung bekerja pada usia muda, Berretty bekerja menjadi lebih aktif. Baretty, merasa bisa lalu meminta naik jabatan tetapi karena ‘dituding’ tidak memiliki pendidikan khusus tentang pos, permintaannya ditolak. Sejak itu, Baretty beralih ke jurnalistik.

Dominique Willem Berretty memulai karir jurnalistik dengan meminta pelatihan langsung dari Mr. Zaalberg, editor dari Bataviasch nieuwsblad di Batavia. Barretty menerbitkan majalah bernama ‘Lash’ pada 1 April 1917. Ini berarti umurnya sudah 26 tahun. Namun karena berdarah pribumi, semangatnya untuk maju sangat tinggi dari tingkat kesulitan yang amat sangat. Tentu saja hasilnya tidak memuaskan. Lalu kemudian menerbitkan lagi majalah bernama ‘Whip’. Setali tiga uang dengan ‘Lash’, bahkan menurut banyak orang pada edisi pertama ‘Whip’ tidak layak disebut sebagai media. Baretty terpikir untuk mendirikan kantor berita.

Jatuh bangun di media cetak tidak membuat Baretty patah arah. Lalu berpikir untuk mendirikan kantor berita, yang kemudian disebut ‘Aneta’. Barretty mulai membuka lowongan kerja sendiri menjadi perwakilan korespondensi surat kabar besar Telegraph di Belanda. Dan ternyata ini adalah kontak pertamanya dengan surat kabar Belanda yang menurunkan berita-berita dari Hindia Belanda (baca: Indonesia). Sekali lagi, karena berdarah local, kreativitasnya selalu muncul, maka Baretty berpikir untuk mendirikan kantor berita. Kemampuan Baretty ternyata di sini, suatu media yang belum ada di Batavia. Kelak kantor berita ini dikenal sebagai Kantor Berita Aneta (Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap).

Untuk memulai kantor berita baru ini, Baretty memulainya dengan sangat sederhana (yang tidak pernah terpikirkan oleh orang Eropa). Ruangan yang digunakan hanya 3x4 meter di suatu bagian dari gedung tua, tempat percetakan yang bangkrut, kira-kira semacam ‘gubuk’ di pusat kota Batavia. Baretty, yang juga berjiwa pribumi itu dengan sifat ‘apa yang bisa dilakukan saja’. Barretty hanya mampu mempekerjakan satu orang saja yang bertugas sebagai juru ketik yang bekerja dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 10.00 malam (dan pukul 11.00 pada akhir pecan). Lalu secara bertahap menunjuk seorang koresponden di Den Haag (kebalikan dari dirinya dulu yang membikin lowongan sendiri sebagai koresponden Telegraph di Batavia).

Kisah Dominique Willem Berretty dimuat dalam Nieuwsblad van het Noorden, 04-01-1935. Dalam layanan beritanya, Barretty membuat relasi dengan kantor berita di Australia, Reuter. Barretty mulai sumringah, telah menemukan ‘habitat’ yang sesuai dengan kemampuan dan kualifikasinya. Pada awal 1920 Barretty telah mampu menaikkan status koresponden di Den Haag menjadi kantor cabang. Pada tanggal 4 Desember 1920, Barretty akhirnya ‘bedol desa’ dari kantor berita ‘gubuk derita’ di Batavia (kota tua yang kumuh) pindah ke gedung baru di Weltevreden (kota baru yang nyaman). Gedung baru itu, berada di seberang kantor pos, tempatnya dulu bekerja sebagai pegawai pos dan telegraph. Posisi kantor baru ini persis disamping teater kota.

Sejak itu, bidang kegiatan Aneta diperluas mencakup bidang lainnya. Barretty mendirikan perusahaan. Pada bulan April tahun 1924, dua bidang pekerjaan di dalam satu badan itu dibentuk menjadi dua perusahaan yang terpisah, yang mana kedua perusahaan ini Barretty yang menjadi direkturnya. Pada tahun 1931 cabang Den Haag dijadikan sebagai NV (perusahan) yang terpisah dengan induk.

Sukses Barretty telah membuat dirinya terkenal. Barretty adalah segalanya bagi teman-temannya. Namun juga banyak yang membenci dan memusuhinya. Hal ini boleh jadi karena iri dari orang-orang Belanda, sebab Barretty adalah keturunan Indo, campuran Italia dan Jawa. Umumnya para indo, meski berwajah bule terkesan lebih Indonesia daripa Belanda.

Dominique Willem Berretty mulai menikmati hasil jerih payah yang dibangun sedikit demi sedikit. Barretty mulai berpikir membangun tempat peristirahatan (villa). Tempat yang dipilih di Bandoeng di Dago ke arah Lembang agar bisa memandang ke Bandoeng. Villa Baretty tersebut disebut Villa Isola. Pembangunan viila Baretty ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya dan villa tersebut diresmikan pada tanggal 21 Desember 1933.

Villa Isola, 1930
Villa ini adalah bangunan terheboh di Bandoeng. Arsitekturnya dikerjakan oleh Prof. Shoemaker. Dalam peresmian villa ini, tamu yang diundang sangat banyak untuk sekalian menginap. Sebuah peresmian dengan pesta mewah di villa yang bangunannya disediakan taman yang indah, lukisan dinding dan sebagainya (lihat De Indische courant, 21-12-1933). Villa Isola adalah villa wah. Dominique Willem Berretty memulai segalanya slogan local, ‘berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian, apa boleh buat bersakit-sakit duluan, bersenang-senang baru ini hari’.

Namun semua itu tidak lama, setahun setelah villanya diresmikan, Barretty dikabarkan tewas dalam suatu kecelakaan pesawat di gurun Suriah ketika dalam perjalanan pulang dari Belanda ke ‘tanah air’ (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 04-01-1935).
.
Het Vaderland, 01-11-1935
Villa Isola ini hingga ini hari situsnya masih ada yang berganti nama menjadi ‘Bumi Siliwangi’ dan kini menjadi gedung Rektorat Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI ). Setelah kematian Baretty, Villa Isola dijadikan sebagai hotel dibawah pengelolaan Hotel Homann Bandung (Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 01-11-1935).  

Itulah kisah pemilik Villa Isola. Seorang yang memang memulai sesuatunya dari bawah, jatuh bangun, namun dengan semangat ingin berhasil meski dengan pendidikan rendah, semua yang diimpikannya dapat diraih.

Kisah Dominique Willem Berretty adalah kisah pilu. Kisah Barretty ini adalah kisah yang dapat dijadikan pelajaran. Di dalam tulisan lain yang mengisahkan perjalanan Baretty tampak bertentangan. Padahal di awal karirnya Baretty diremehkan dan sangat menderita. Selama perjalanan karirnya Barretty adalah orang yang serius dan sungguh-sungguh dan tidak neko-neko (saya sejauh ini tidak menemukan fakta yang mengindikasikan Barretty berperilaku buruk). Boleh jadi Barretty telah menjadi langganan fitnah selama kenaikan karirnya. Oleh karena itu, kini kita jangan lagi ikut-ikutan menfinah dirinya dengan merujuk tulisan yang tidak sesuai dengan kisah Barretty yang sebenarnya.

Kisah sukses Dominique Willem Berretty telah menjadi inspirasi bagi pribumi tulen. Adam Malik yang juga pendidikannya hanya sampai SMP, mengawali karir yang mirip dengan Barretty. Dari sebuah gedung lusuh, numpang di gedung milik Yahya Malik Nasution (beristri wanita Banten, mertua Bob Tutupoly) di Batavia tahun 1937 mendirikan kantor berita Antara, kantor berita nasional Indonesia yang hingga ini hari masih eksis.

Perjalanan karir Dominique Willem Berretty juga telah diikuti oleh Parada Harahap pada tahun 1924 dengan mendirikan kantor berita pribumi (ingin menyaingi Aneta) yang diberi nama kantor Berita Alpena. Parada Harahap yang sudah memiliki surat kabar Bintang Hindia (sejak 1923) pada saat pembukaan kantor berita Alpena memulai dari satu tenaga jurnalis. Tenaga jurnalis yang dimaksud itu direkrut Parada Harahap dari Bandung yang namanya Supratman, yang bertindak sebagai editor merangkap wartawannya. Kelak, WR Supratman dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia Raya. Untuk sekadar diketahui ada tiga ‘anak didik’ Parada Harahap di bidang jurnalistik: Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah (dua terakhir seumuran, belasan tahun). Ketiga orang yang juga menjadi sobat Parada Harahap ini (sebelum pendudukan Jepang) meniti karir di bidang jurnalistik. Adam Malik mendirikan kantor berita dan fokus disitu (awalnya juga ikut diajak Mochtar Lubis). Lalu kemudian setelah era republik, Mochtar Lubis mendirikan surat kabar Indonesia Raya di Jakarta, sementara Sakti Alamsyah Siregar mendirikan surat kabar Pikiran Rakyat di Bandung. Dua surat kabar ini mottonya persis sama (sepakat barangkali): ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat’. Kantor berita Antara dan surat kabar Pikiran Rakyat hingga ini hari masih eksis. Surat kabar Pikiran Rakyat di Bandung pada masa ini berada di bawah pengelolaan anak Sakti Alamsyah Siregar. Saya pernah bertemu beliau (Sakti Alamsjah) tahun 1981 di Bandung. Saat itu anaknya tengah studi di Inggris bernama Perdana Alamsyah. Last but not least: Parada Harahap adalah anggota BPUPKI yang juga adalah mentor dari tiga founding father RI: Soekarno, Hatta dan Amir.

Dominique Willem Berretty dan Parada Harahap di awal tahun 1930 adalah dua radja media di Batavia. Parada Harahap, surat kabarnya yang terkenal Bintang Timoer (surat kabar pribumi bertiras paling tinggi) dan enam media lainnya termasuk satu majalah berbahasa Belanda. Parada Harahap di kampong halamannya di Padang Sidempuan tahun 1919 mendirikan surat kabar yang diberi nama yang sangat revolusioner: Sirnar Merdeka. Selama di kota itu, Parada Harahap belasan kali terkena delik pers dan beberapa kali dibui di penjara Padang Sidempuan (tempat dimana Adam Malik setelahnya di usia 17 tahun pernah dipenjara). Parada Harahap hijrah ke Batavia tahun 1922.
Seperti halnya Dominique Willem Berretty, Parada Harahap tidak punya ‘hutang’ terhadap Belanda. Pada tahun 1927 Parada Harahap menyatukan semua organisasi kebangsaan Indonesia (seperti Bataksch Bond, Pasoendan, Kaoem Betawi. Boedia Oetomo dan lainnya) dengan nama Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI) dengan meminta M. Hosni Thamrin sebagai ketua dan dirinya sebagai sekretaris yang berkantor di Gang Kenari. Pada akhir tahun 1933, saat Dominique Willem Berretty merayakan villanya di Bandoeng, Parada Harahap berangkat ke Jepang dengan memimpin tujuh orang Indonesia pertama ke Jepang. Tiga diantaranya adalah Abdoellah Lubis (direktur Pewarta Deli di Medan), seorang guru revolusiner dari Bandoeng (Dr. Samsi) dan M, Hatta yang baru lulus sarjana di Belanda. M. Hatta menggantikan posisi Soekarno yang tengah dirumorkan akan diasingkan oleh Belanda. Soekarno kerap menulis di surat kabar Bintang Timoer dan setiap bulan dari Bandoeng berkunjung ke Gang Kenari. Di Jepang, rombongan disambut sebagai mewakili pemerintah Indonesia (tentu saja Negara Indonesia belum ada) dan Parada Harahap digelari oleh pers Jepang sebagai The King of Java Press. Berita itu telah menggoncangkan Hindia Belanda dan juga di Belanda serta membuat pemerintah (colonial) tersinggung. Selama sebulan di Jepang (termasuk perjalanan pp), rombongan Parada Harahap dengan kapal Panama Maru tidak menuju Batavia (takut ditangkap pemerintah Hindia Belanda), tetapi turun di Soerabaja pada tanggal 13 Januari 1934 yang disambut oleh tiga orang rebolusioner: Dr. Radjamin Nasoetion (anggota dewan senior Kota Soerabaja), Dr. Soetomo, direktur rumah sakit dan Amir Sjarifoeddin yang datang dari Batavia. Pada hari mendarat tujuh revolusioner di Soerabaja, pada hari itu juga Ir. Soekarno diberangkatkan dari Batavia ke Flores. Mungkin dalam pikiran intel/polisi Belanda, amankan dulu satu ke Flores, akan lebih mudah mengamankan tujuh orang lainnya. Radjamin Nasoetion dan Soetomo satu kelas di STOVIA dulu. Dr. Radjamin Nasoetion, lulus STOVIA 1912, kelak menjadi wali kota pribumi pertama di Kota Soerabaja. Pada tahun 1931, adik Parada Harahap bernama Panangian Harahap adalah penilik sekolah pribumi di Bandoeng.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

3 komentar:

  1. Salam Pak Matua, kalau boleh saya berkorespondensi dengan Bapak. Saya ada keperluan riset mengenai Barretty. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam juga Pak Abdul Azis. Silahkan Pak. alamat email sebenarnya sudah disebut di 'Read Me', saya tulis kembali disini akhirmh@yahoo.com. Moga-moga saya bisa membantu. Selamat meneliti.
      akhir mh

      Hapus