Laman

Kamis, 11 Mei 2017

Sejarah Kota Padang (31): Parada Harahap, From Zero to Hero; Radja Delik Pers yang Menjadi The King of Java Press

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disi


Parada Harahap tidak asing dengan Kota Padang. Parada Harahap kerap berurusan ke kota terbesar ketiga di Sumatra ini, Urusan pertama soal delik pers dan urusan kedua soal Sumatranen Bond. Itu dulu, ketika baru memulai merintis kegiatan di bidang pers dan ketika baru memulai aktif di bidang organisasi kebangkitan bangsa. Kini, Parada Harahap telah menjadi The King of Java Press.

Het nieuws van den dag voor NI, 02-09-1919
Dulu, jauh sebelumnya, di Kota Padang terkenal seorang yang kini dijuluki sebagai Radja Persoeratkabaran Sumatra. Orang tersebut bernama Dja Endar Moeda, mantan guru yang memulai karir di bidang jurnalistik di ibukota Province Sumatra’s Westkust ini. Dja Endar Moeda kali pertama dikenakan pasal delik pers tahun 1907 dengan hukuman cambuk dan diusir dari Kota Padang. Dja Endar Moeda, orang pribumi pertama yang menjadi editor surat kabar adalah orang pertama di Hindia Belanda pasal delik pers diterapkan.

Parada Harahap datang kali pertama ke Kota Padang pada tahun 1919, tidak lama setelah mendirikan surat kabar bernama Sinar Merdeka di Kota Padang Sidempuan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-09-1919). Parada Harahap datang ke Kota Padang tidak dalam urusan melancong tetapi dalam status terdakwa karena tengah berurusan dengan hukum dalam soal pengenaan pasal delik pers kepada dirinya sebagai editor Sinar Merdeka. Akhirnya keputusan pengadilan ingkrah dan harus dibui di penjara Kota Padang Sidempoean (kelak di penjara yang sama Adam Malik yang masih berusia 17 tahun pernah menjadi penghuni karena urusan politik). Untuk kasus hukum yang dianggap besar kala itu pengadilannya di Kota Padang (belum ke Kota Medan).

Radja Delik Pers

Parada Harahap dari Padang Sidempuan merantau ke Sumatra Timur pada usia 15 tahun. Parada Harahap memulai karir sebagai krani (juru tulis) di sebuah perkebunan milik swasta asing di Sumatra Timur. Namun dalam perkembangannya, Parada Harahap terusik dengan banyaknya para kuli perkebunan yang menderita akibat penerapan hukum Poenale Sanctie. Parada Harahap secara diam-diam tahun 1917 merekam peristiwa sanksi terhadap kuli di sejumlah perkebunan dan tulisannya dikirim ke surat kabar Benih Mardika di Kota Medan. Awalnya redaksi enggan memuatnya, dan file itu disimpan.

Pada tanggal 1 Januari 1917 di Belanda sejumlah mahasiswa asal Sumatra yang menamakan dirinya Jong Sumantra memproklamirkan berdirinya Sumatra Sepakat, sebagai wadah pemuda/pelajar Sumatra untuk mendorong pembangunan di (pulau) Sumatra. Sumatra Sepakat diketuai oleh Sorip Tagor dengan wakil ketua Dahlan Abdoellah dan sekretaris merangkap bendahara Soetan Goenoeng Moelia. Pada bulan Desember 1917 di Batavia yang dimotori mahasiswa asal Sumatra di STOVIA merespon positif rekan-rekan mereka di Belanda dengan mendirikan wadah yang sama yang diberi nama Jong Sumatranen Bond. Ketua adalah T. Mansoer, wakil ketua Abdoel Moenir Nasoetion dan sekretaris M. Amir.   

Gelora pemuda Sumatra yang tengah berkobar, boleh jadi memantik para redaktur surat Benih Mardika untuk merilis laporan Parada Harahap yang beberapa waktu yang lama tersimpan sebagai file. Surat kabar Benih Mardika pada awal tahun 1918 yang memuat tiga edisi tentang kasus kuli dalam hal Poenalie Sanctie (yang sumber utamanya berasal dari Parada Harahap) dilansir surat kabar Soeara Djawa. Heboh di Jawa. Lalu pemerintah Kota Medan melakukan investigasi. Surat kabar Benih Mardika dikenakan pasal delik pers (namun tidak cukup bukti di pengadilan dan hanya dikenakan sanksi denda). Sementara Parada Harahap terbukti sebagai pelapor yang lalu dirinya dipecat sebagai krani, namun dalam perkembangannya Parada Harahap diangkat sebagai editor surat kabar Benih Mardika..

Parada Harahap menganggur. Lalu Parada Harahap dari Pematang Siantar merantau ke Kota Medan. Anehnya, Parada Harahap melamar sebagai editor surat kabar Benih Mardika. Lamarannya diterima dan diangkat sebagai editor, kebetulan para pimpinan Benih Mardika mulai disibukkan dengan kegiatan Sarikat Islam. Sebagaimana diketahui, Benih Mardika didirikan selepas Rapat Besar di Medan tahun 1914 yang diikuti berbagai organisasi yang dimotori oleh Sarikat Islam cabang Kota Medan. Bersamaan dengan pendirian surat kabar Benih Mardika di Medan, di Kota Padang Sidempoean didirikan surat kabar yang diberi nama Poestaha (oleh Soetan Casajangan, guru di Sekolah Radja di Fort de Kock).

Akan tetapi, belum lama Parada Harahap menjadi editor, manajemen surat kabar Benih Mardika terlibat dalam kasus perdata (non jurnalistik) dan Benih Mardika akhir tahun 1918 dibreidel. Akibatnya Parada Harahap menganggur lagi. Namun sempat diajak Abdoellah Lubis (mantan editor Benih Mardika di awal pendiriannya) pemimpin Pewarta Deli untuk ikut bergabung. Boleh jadi visi misi Pewarta Deli saat itu (mainstream) tidak sesuai dengan misi Parada Harahap sebagai bagian dari pemuda radikal. Akhirnya Parada Harahap meminta mengundurkan diri dan ingin mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan tahun 1919.

Di Kota Padang Sidempuan sudah sejak 1915 terdapat surat kabar Poestaha (mainstream). Saat Parada Harahap mendirikan surat kabar Sinar Merdeka, Poestaha bukan competitornya. Bahkan manajemen Poestaha meminta Parada Harahap untuk menjadi editor Poestaha juga. Sejak 1919 Poestaha ditangani Paraga Harahap. Kini, dua bilah surat kabar di Kota Padang Sidempuan berada di tangan satu orang: Parada Harahap.

Pada awal tahun pendirian surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan, Parada Harahap sudah langsung berurusan dengan pemerintah dengan dalih pasal delik pers. Pada tahun-tahun ini ini di Kota Padang, Sumatranen Bond tengah mengeliat jelang pelaksanaan kongres pertamanya. Parada Harahap yang masih terbilang muda (20 tahun) memimpin delegasi pemuda ke Kota Padang untuk berpartisipasi dalam Kongres Sumatranen Bond. Inilah kali pertama Parada Harahap ke Kota Padang.

Di kota ini Parada Harahap berkesempatan bertemu Dr. Abdoel Hakim yang sudah lama tidak pulang kampong. Kongres Sumatranen Bond yang diadakan di Kota Padang pada tanggal 8 Juli 1919 pembinanya adalah Dr. Abdoel Hakim, pentolan PNI Kota Padang yang sudah menjadi anggota dewan Kota Padang (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-07-1919). Abdoel Hakim adalah alumni ELS Kota Padang Sidempuan sebelum melanjutkan studi ke Docter Djawa School/STOVIA (kelak, 1931 Dr Abdoel Hakim Nasoetion diangkat menjadi wakil Wali Kota Padang, dua tahun setelah MH Thamrin diangkat sebagai wakil Wali Kota Batavia). Di Kota Padang ini juga Parada Harahap bertemu seorang pelajar yang menjadi pemimpin pelajar yang ikut berpartisipasi dalam kongres yang bernama Mohammad Hatta.

Di Kota Padang Sidempuan, sepak terjang Parada Harahap dalam dunia pers, meski kerap terkena ranjau delik pers, tetap tidak kapok. Selama di kota kelahirannya ini, Parada Harahap belasan kali dimejahijaukan dan beberapa kali dimasukkan ke dalam penjara Padang Sidempoean. Meski demikian adanya, Parada Harahap yang tidak pernah kapok telah membuahkan hasil, pemerintah setempat mulai berhati-hati terhadap penduduk di Tapanoeli. Pejuang pers di Kota Padang Sidempuan telah lahir, namanya Parada Harahap.

Pada tahun 1923 Parada Harahap dengan segudang pengalaman dari Padang Sidempuan langsung hijrah ke Batavia. Untuk itu Parada Harahap mampir ke Kota Padang sebelum meneruskan perjalanan ke Batavia. Parada Harahap menemui kembali Dr. Abdoel Hakim yang saat itu menjadi ketua sub komisi aksi otonomi di Kota Padang yang misinya untuk mempromosikan kemerdekaan di Hindia Belanda (lihat De Sumatra post, 14-01-1922). Saat itu Abdoel Hakim juga adalah ketua bond sepakbola pribumi di Kota Padang, Minangkabau Voetbal Bond.

Atas rekomendasi Soetan Casajangan, Parada Harahap di Batavia menemuai Dr. Abdoel Rivai, Pembina sarikat sepakbola pribumi di Batavia. Sebagaimana diketahui Soetan Casajangan adalah pendiri dan editor pertama surat kabar Poestaha di Padang Sidempuan, surat kabar yang diasuh oleh Parada Harahap selama di Padang Sidempuan sebelum hijrah ke Batavia. Juga sebagaimana diketahui Dr. Abdoel Rivai adalah mantan editor majalah Bintang Hindia yang diterbitkan di Belanda. Kontributor majalah yang dipimpin Mr. Pokker itu di Kota Padang waktu itu adalah Dja Endar Moeda, editor Pertja Barat, Insulinde dan Tapian Na Oeli.

Soetan Casajangan dan Dr. Abdoel Rivai sangat begitu dekat. Ketika tahun 1905 Soetan Casajangan berangkat studi ke Belanda, orang yang menjemput Soetan Casajangan di pelabuhan Amsterdam adalah Dr. Abdoel Rivai (alumni Docter Djawa School yang seangkatan dengan Dr. Abdoel Hakim yang sudah dikenal Parada Harahap di Kota Padang). Saat itu, Dr. Abdoel Rivai direkrut Pokker dari Batavia untuk menjadi editor untuk mengganti dirinya di Belanda. Soetan Casajangan dan Dr. Abdoel Rivai adalah dua orang pertama di Belanda asal Sumatra.

Lantas kemudian, eks majalah Bintang Hindia dihidupkan kembali dan dirancang menjadi surat kabar harian. Parada Harahap bertindak sebagai editor dan Dr. Abdoel Rivai sebagai pemimpin manajemen. Surat kabar Bintang Hindia terbit kali pertama di Batavia tahun 1923 dan langsung melejit dan mampu bersaing dengan surat kabar berbahasa Melayu lainnya.

Parada Harahap yang terbilang cerdas, meski hanya lulus sekolah rakyat juga pemberani. Parada Harahap juga memiliki multi talenta. Parada Harahap juga organisator yang baik. Yang sering dilupakan, Parada Harahap juga seorang yang kreatif dan memiliki sifat humanis. Parada Harahap adalah penulis scenario film yang berjudul Melati van Agam. Film ini disutradarai oleh Lie Tek Swie.

Pada tahun 1925, Parada Harahap melihat sukses kantor berita Aneta (yang mensuplai berita ke surat kabar berbahasa Belanda). Parada Harahap mendirikan kantor berita pribumi yang diberi nama Kantor Berita Alpena (editor direkrut dari Bandoeng bernama WG Rudolp Supratman yang kelak menicipta lagi kebangsaan Indonesia Raya).

Di Batavia, Parada Harahap juga tetap aktif Sumatranen Bond sebagai sekretaris. Pada akhir tahun 1925 hingga awal tahun 1926, Parada Harahap melakukan perjalanan jurnalistik ke seluruh (pulau) Sumatra. Hasil laporan ini sebagian disarikan dalam Bintang Hindia dan secara keseluruhan hasil perjalanan jurnalistik itu dibukukan dengan judul: ‘Dari Pantai ke Pantai: Perdjalanan ke Soematra’ yang terbit tahun 1926 yang dicetak oleh Percetakan Hindia Belanda (milik Parada Harahap bersama Dr. Abdoel Rivai). Dalam satu bab di dalam buku ini mengisahkan perjalanan Parada Harahap di Kota Padang.

Buku sejenis sudah pernah ada tahun 1900 yang ditulis oleh Dja Endar Moeda dengan judul Poelaoe Soematra yang diterbitkan di Kota Padang oleh penerbit milik Dja Endar Moeda.. Kedua buku tentang Sumatra ini seakan menapaktilas buku berjudul The Sumatra karya William Marsden tahun 1811 (edisi terbaru). Di dalam buku Marsden ini sudah diceritakan tentang pedalaman Angkola berdasarkan laporan dari Dr, Miller yang pernah melakukan ekspedisi ke Angkola pada tahun 1773. Distrik Angkola adalah kampong kelahiran Parada Harahap, Abdoel Hakim dan Dja Endar Moeda.

Di Batavia, nama Parada Harahap dalam tempo singkat sudah sangat melejit melebihi semua wartawan pribumi. Nama Parada Harahap sudah dibicarakan dimana-mana. Kiprah Parada Harahap telah membuka mata orang-orang Eropa/Belanda yang bergerak di bidang pers. Portofolio Parada Harahap berada di puncak piramida. Parada Harahap bahkan telah mendapat apresisi tinggi dari kalangan pers Eropa/Belanda sebagai ‘Wartawan Terbaik dari versi Europeescbe pers’.

De Indische courant, 23-12-1925: ‘Sungguh luar biasa bagaimana kuat hari ini jumlah majalah Jawa meningkat. Banyak yang tutup tetapi lebih banyak yang muncul. Semakin berwarna (nasionalis, keagamaan) dan juga khusus perempuan. Wartawannya juga bertambah pesat, bahkan wartawan Sumatra sudah mencapai 700 anggota. Sangat disayangkan oleh Parada Harahap dari Bintang Hindia dan kantor berita Alpena, yang merupakan wartawan terbaik dari Europeescbe pers, bahwa majalah aksara Jawa kurang diperhatikan oleh komunitasnya. Perjalanannya melalui Sumatera dan Selat manjadi saksi ini'.

Pada tahun 1926 Parada Harahap di Batavia mendirikan surat kabar yang lebih revolusioner yang diberi nama Bintang Timoer. Secara psikologis, Parada Harahap seakan menggeser kiblat bintang barat (Belanda) ke arah kiblat baru bintang timur (Jepang). Surat kabar Bintang Timoer dalam beberapa bulan sudah memiliki tiras paling tinggi di Batavia. Parada Harahap tengah berada di atas angin.

The King of Java Press

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar