Laman

Senin, 17 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (14): Introduksi Bahasa Melayu di Tengah Penduduk Asli Berbahasa Sunda; Promosi Bahasa Indonesia, Degradasi Bahasa Sunda

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Land Depok tidak hanya koloni warga pendatang di tengah penduduk asli. Warga pendatang yang awalnya merupakan tenaga kerja Cornelis Chastelein juga menjadi koloni pengguna bahasa Melayu di tengah penduduk asli yang berbahasa Sunda (lihat Depok en Depokkers door JN Grimmius, 1852).


Bataviasche courant, 13-04-1825
Pada saat Cornelis Chastelein membuka perkebunan di hulu sungai Tjiliwong (1696) yang kemudian disebut Land Depok, bahasa pengantar untuk pribumi di Batavia adalah bahasa Melayu. Para tenaga kerja yang direkrut Cornelis Chastelein di Batavia yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dengan sendirinya menggunakan bahasa Melayu. Penduduk asli yang sudah ada di hulu sungai Tjiliwong (yang menjadi Land Depok) dan sekitarnya adalah berbahasa Sunda. Disebut sebagai pengguna bahasa Sunda mengacu, paling tidak jika diperhatikan dari nama-nama geografis (nama kampong, sungai dan situ) yang ada di sekitar.

Setelah sekian abad, Land Depok yang dulu hanya segelintir warga sebagai pengguna bahasa Melayu, pada masa kini, bahasa Melayu yang telah bertransformasi menjadi Bahasa Indonesia dan kota yang semakin meluas menjadi Kota Depok sekarang, warga kota terbilang pengguna Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari tertinggi di Indonesia. Bagaimana itu semua terjadi, mari kita telusuri dari awal (sejak adanya komunitas pendatang di Land Depok di masa lampau).

Pusat Penggunaan Bahasa Melayu di Tanah Sunda

Bahasa Melayu sebagai lingua franca di nusantara sudah berlangsung sejak kehadiran Belanda, bahkan di era Portugis yang datang seabad lebih awal sudah menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dengan penduduk pribumi terutama penduduk yang berada di pantai-pantai. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di pantai-pantai begitu luas mulai dari kepulauan Andaman hingga kepulaaun Maluku dan mulai dari pulau Rote hingga pulau Luzon.

Bagaimana bahasa pengantar sejak jaman kuno disebut menjadi bahasa Melayu (bukan bahasa Sanskerta) sulit diketahui. Pedagang-pedangan dari India, Arab (termasuk Mesir) dan Persia diduga yang menularkan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar ke berbagai titik perdagangan pantai. Barus sebagai pusat perdagangan awal terkenal dengan pusat perdagangan komoditi kuno seperti emas, kemenyan, benzoin, kamper (kapur barus) dan getah damar. Menurut ahli bahasa, salah satu kosa kota bahasa Melayu yang masuk dalam kitab suci Alquran dan Injil adalah kapur barus, melalui bahasa Persia kuno (kafura).    

Keberadaan bahasa Melayu tersebutlah yang digunakan Belanda (VOC) sebagai bahasa pengantar. Dalam laporan ekspedisi Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman sudah mengidentifikasi bahwa bahasa yang kerap digunakan di pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi adalah bahasa Melayu. Sebagaimana diketahui ekspedisi pertama Belanda ini juga menyertakan ahli linguistik. Ketika mereka di darat berinteraksi dengan penduduk asli yang bukan pengguna bahasa Melayu berbicara (menggunakan beberapa kosa kata bahasa Melayu) ternyata dapat dipahami. Ini mengindikasikan penggunaan bahasa Melayu tidak hanya di pantai-pantai Sumatra tetapi juga di pantai utara Jawa termasuk pelabuhan Banten dan pelabuhan Sunda Kalapa.

Sebagian penduduk asli di hulu sungai Tjiliwong, sudah tentu banyak yang mengetahui kosa kota atau mengerti sepenuhnya bahasa Melayu ketika mereka melakukan interaksi di pantai (Sunda Kalapa) dalam transaksi perdagangan dengan orang luar. Dalam kumpulan pepatah orang Sunda yang dikumpulkan oleh KF Holle (1863) teridentifikasi banyak kosa kota yang diduga terserap dari bahasa Melayu. Ini mengindikasikan bahwa penduduk asli Sunda di hulu sungai Tjiliwong tidak asing dengan bahasa Melayu (paling tidak mereka mengetahui di pantai khususnya di pelabuhan Sunda Kalapa digunakan bahasa Melayu.

Namun demikian, pengguna bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari di Tanah Sunda sudah barang tentu (hanya) terdapat di Land Depok. Hal ini karena komunitas tenaga kerja Cornelis Chastelein termasuk yang terbilang banyak. Satu hal yang tidak boleh dilupakan saat itu Land Depok adalah area terjauh dimana ada transaski penjualan lahan yang digunakan oleh investor Eropa.

Sejak terbentuknya komunitas warga Depok (eks tenaga kerja Cornelis Chastelein) bahasa Melayu mulai tersebar bagi penduduk asli di sekitar. Penggunaan bahasa Melayu di Land Depok semakin intens ketika VOC sejak 1714 sudah mengintroduksi pendidikan di Land Depok. Di beberapa pelabuhan yang menjadi awal koloni VOC seperti di Padang sudah diintroduksi pendidikan namun gagal karena penduduk asli tidak terlalu berminat. Hal ini kontras dengan di Land Depok yang secara sosial (politik) sudah berafiliasi dengan asing (VOC/Belanda).

Nederlandsche Zending Genootschap mulai melakukan aktivitas di Batavia. Hal yang pertama dilakukan adalah menerjemahkan Injil yang dilakukan oleh zendeling J. Akersloot ke dalam bahasa Melayu yang digunakan kali pertama di Depok en Toegoe (Javasche courant, 12-06-1828). Nederlandsche Zending Genootschap mulai tertarik dengan komunitas (Kristen) di Land Depok, maka sejak itu Land Depok dijadikan sebagai basis zending yang kemudian jemaatnya dikenal sebagai Inlandsche Christenen Gemeente van Depok.

J. Akersloot menjadi pendeta di Depok antara tahun 1825 hingga 1830 (lihat Grimmius, 1852). Salah satu pendeta terkenal di Gemeente Depok en Toegoe adalah JRPF Gonggrijp.  Setelah sekian tahun Gonggrijp kembali ke Belanda (Delf) tahun 1866 (lihat Nederlandsche staatscourant, 25-05-1866). Posisinya digantikan oleh asistennya Biekhof.

Penulisan kamus bahasa Melayu-Belanda dan Belanda-Melayu pada era VOC hanya digunakan untuk kalangan orang-orang Belanda/VOC. Sejak terbentuknya Pemerintah Hindia Belanda (yang menggantikan VOC) merilis kamus bahasa Melayu-Belanda dan Belanda-Melayu tahun 1803. Kamus ini kemudian diedarkan secara luas termasuk di dalam sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah. Kamus ini juga digunakan oleh para misionaris.

Dalam perkembangan lebih lanjut Nederlandsche Zendelinggenootschap mulai melakukan penulisan buku-buku pelajaran dan buku-buku agama (Kristen). Beberapa buku yang ditulis yang dibiayai Nederlandsche Zendelinggenootschap, antara lain:

1.  Kitâb Malájuw 'åkan meg’âdjar hêdjà güna segala 'Anakh Jang baháruw memulâij dengan peladjâran.
2.    Kitab Malajuw jang kaduwa, 'åkan meng’âdjar hêdjâ, gūna segala 'ánakh jang sudah belâdjar sedikit sâdja.
3.   Kitàb Midras jag dålamnja 'ada ter simpan babarapa fatsal jag Pendekh dán bergüna, 'åkan debatjåkan; terkårang dålam bahása Wolandâwij, güna segala 'Anakh Midras, 'awleh tuwan pema Rentah Midras dàn tersâlin kapada bahása Malájuw 'awleh R. Le Bruyn, Pandita 'Indjil di pùlaw Timor.
4.      Sawàtu perkatà dan natsilhat.
5.    Tjeritera Ihikajet Isãj 'Elmesêlh jang 'Anakh 'Allah dan Muchalits segala 'awrang berdawsa.
6.     Perg’adjàran jang pendekh 'åkan segala Kabenâran 'Agama Mesêlhij, terkårang 'awleh A. Brink, tersâlin deri pada bahàsa Wolandâwij kapada bahása Malâjuw 'awleh J. Akersloot, jang pada màsa hidopmja Surôhan 'Indjil ditánah Depok, dekàt Bâtawijah.

Buku-buku tersebut kali pertama di gunakan di Gemeente van Depok. Buku-buku lainnya yang ditulis oleh para pendeta di lingkungan sekolah yang dikelola misionaris juga muncul. Pendeta JRPF Gonggrijp juga penulis buku-buku umum (sekolah) yang produktif. Bukunya yang berbahasa Melayu juga diterjemahkan ke dalam bahasa daerah seperti bahasa Batak. Salah buku JRPF Gongrijp yang disadur ke dalam bahasa Batak yang diberi judul Barita na Marragam (Diterbitkan di Batavia 1868).

Ini mengindikasikan bahwa penulisan buku-buku pelajaran lebih ditujukan kepada kalangan penduduk yang bersekolah. Buku-buku pelajaran yang berbahasa Melayu umumnya hanya di tempat-tempat tertentu seperti di Batavia, Padang dan (land Depok). Sedangkan di daerah lain buku-buku ditulis dalam bahasa daerah seperti di Residentie Tapanoeli, Preanger dan Buitenzorg (minus land Depok) dan Jawa.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Penggunaan Bahasa di Depok Masa Ini

Kota Depok adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada umumnya masyarakat Jawa Barat menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari di rumah. Kecuali di Land Depok yang sejak dari doeloe sudah diintroduksi bahasa Melayu (cikal bakal Bahasa Indonesia). Lantas bagaimana penggunaan Bahasa Indonesia di Kota Depok pada masa ini?

Grafik penggunaan bahasa sehari-hari, 2010
Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, di Kota Depok terdapat sebanyak 82.63 persen warganya yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari di rumah. Ini sangat kontras dengan yang menggunakan bahasa Sunda yang hanya tersisa sebanyak 2.80 persen saja. Padahal di masa lampau, hanya Land Depok (saja) yang tidak menggunakan bahasa Sunda (melainkan menggunakan bahasa Melayu dalam kehidupan sehari-hari).

Tebel penggunaan bahasa sehari-hari, 2010
Anehnya, penggunaan bahasa Betawi dan bahasa Jawa justru lebih menonjol di Kota Depok jika dibandingkan dengan bahasa Sunda sendiri. Padahal di masa lampau bahasa Betawi hanya digunakan di Batavia (bahasa Betawi masih termasuk rumpun bahasa Melayu). Ini mengindikasikan bahwa bahasa sehari-hari di Kota Depok semakin Indonesia (promosi Bahasa Indonesia) dan sebaliknya bahasa Sunda semakin terdegradasi.

Lantas bagaimana di kabupaten/kota lainnya di Provinsi Jawa Barat? Ternyata penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari tertinggi terdapat di Kota Depok (bandingkan dengan di Kota Bekasi yang hanya 72.18 persen). Di Kota Bandoeng hanya terdapat sebanyak 26.91 persen.

Mengapa begitu tinggi penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Kota Depok jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Jawa Barat? Tentu saja itu bukan karena di Land Depok introduksi bahasa Melayu lebih awal di Tanah Sunda. Itu hanya satu hal. Tingginya penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari di Kota Depok pada masa kini adalah hal yang lain.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar