Laman

Jumat, 07 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (6): Depok adalah Nama Asli, Bukan Singkatan; Een der Oudste Christengemeenten van het Eiland Java

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Di dalam Wikipedia, disebut secara etimologi nama Depok/Depoc berasal dari akronim organisasi Kristiani yang didirikan Cornelis Chastelein: De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Wikipedia mengutip dari tulisan Tasa Nugraza Barley berjudul ‘The Forgotten Bule Depok’ yang diupload tanggal 22 September 2014. Tidak diketahui dari mana sumbernya bahwa nama Depok sebagai akronim.

Salinan testamen Cornelis Chastelein ( JN Grimmiu, 1852)
Asal-usul nama Depok berbeda dengan asal usul Batavia, Preanger dan Buitenzorg. Nama Batavia merupakan nama region/wilayah di Belanda bagian utara tempo doeloe, sementara nama Preanger mengacu pada penyebutan orang Belanda untuk orang Priangan, sedangkan Buitenzorg bermula dari penyebutan region/wilayah tempat peristirahatan di luar kota (buiten dan zorg). Nama Depok sendiri adalah nama yang diadopsi dari nama asli. Depokker merujuk pada orang-orang pribumi, pewaris Cornnelis Chastelein di Land Depok (lihat Depok en de Depokker: Eene Bijdrage tot de Kennis van Inlandsche Christenen op Java door JN Grimmius, 1852).

Depok adalah Nama Asli

Nama Depok adalah nama asli, bukan singkatan. Disebut asli karena pemberian nama Depok muncul dari orang asli. Nama-nama asli memang sulit dilacak asal-usulnya. Faktanya nama-nama asli sudah disebut sejak lama. Nama tetangga Depok yang sudah sejak lama eksis adalah Mampang, Pondok Tjina dan Pondok Terong.

Orang asing (Eropa/Belanda) sangat memerlukan nama asli, karena nama asli adalah penanda navigasi di daratan, nama-nama tempat yang sudah eksis sejak lama. Orang-orang asli (baca: pribumi) sudah lebih awal menggunakan nama tempat, nama situs atau nama geografis (gunung, sungai dan lainnya) sebagai penanda navigasi.  

Nama Depok dan Mampang sepintas sulit dipahami artinya. Hal ini berbeda dengan nama Pondok Tjina dan Pondok Terong lebih mudah dipahami. Nama-nama yang sulit dipahami cenderung diperdebatkan: bagaimana nama-nama tersebut bermula.

Cornelis Chastelein: Membeli Lahan di Depok

Depok dikenal karena kehadiran Cornelis Chastelein. Ketika pejabat VOC ini membeli lahan di Mampang dan Depok, dokumen yang tersimpan di Batavia menyebut lahan tersebut dengan batas-batas tertentu berada di Depok dan Mampang (Bataviaasch nieuwsblad, 27-06-1929). Dalam testamen yang dibuat Cornelis Chastelein tanggal 13 Maret 1714 sebelum kematiannya tanggal 28-06-1714 secara eksplisit lahan yang diwariskan letaknya dimana dan luasnya berapa (lihat Depok en de depokkers, 1852). Wasiat Cornelis Chastelein baru diumumkan pada tanggal 24 Juli 1714 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, edisi 28-06-1929).  

Peta hulu Tjiliwong, 1724
Nama Depok juga telah disebut dalam laporan ekspedisi yang dilakukan oleh Abraham van Riebeek tahun 1703 yang melalui rute sisi barat sungai Tjiliwong: Tjililitan, Tandjong, Pondok Tjina, Depok, Pondok Terong, Bodjonggede, Tjiliboet dan Paroeng Angsana. Nama-nama tempat tersebut sudah diidentifikasi pada Peta 1724. Pada saat ekspedisi Abraham van Riebeek ini lahan terjauh di sisi barat sungai Tjiliwong yang diusahakan di hulu sungai Tjiliwong baru sejauh Sringsing [kini Lenteng Agung]. Yang mengusahakan lahan Sringsing tersebut adalah Cornelis Castelein.

Lahan-lahan yang ditinggalkan Cornelis Chastelein yang diwariskan kepada tenaga kerjanya sebagaimana disebut dalam testamen diakuir pemerintah pada tahun 1871. Ini bermula ketika Spoorweg Maatschappij akan mengakuisisi lahan untuk pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg di ruas Depok. Pemerintah melalui Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa lahan-lahan milik pewaris Cornelis Chastelein di Mampang dan Depok. Pengadilan Tinggi juga memutuskan konpensasi diberikan kepada pewaris berdasarkan testament yang dibuat pada tanggal 13 Maret 1714 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-01-1874).

Hal yang penting dalam testamen ini Cornelis Chastelein menginginkan di lahan-lahan yang diwariskannnya dibentuk/dijadikan sebagai tempat Kristen (Christen-negorij) yang baru. Wasiat ini tampaknya dituruti oleh para pewarisnya.

Kampong Asli

Wilayah sepanjang sungai Tjiliwong bukanlah daerah kosong, melainkan wilayah yang populasinya sangat ramai sejak era Padjadjaran mulai dari Pakwan (Buitenzorg/Bogor) hingga Soenda Kalapa (Batavia/Jakarta). Dikatakan ramai, jika dibandingkan dengan populasi wilayah lain di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Berdasarkan pencatatan penduduk 1861, wilayah hulu sungai Tjiliwong (yang kemudian disebut afdeeling Buitenzorg) saja, jumlah penduduknya ditaksir sudah lebih dari 350.000 jiwa (suatu angka yang besar di masa lampau).

Luas wilayah yang sempit dan jumlah penduduk yang sangat besar mengindikasikan jumlah pemukiman (perkampungan) yang sangat banyak. Suatu perkampungan yang ada saat itu hanya terdiri dari beberapa rumah. Setiap perkampungan memiliki nama sendiri-sendiri. Antara satu kampung dengan kampung lain terhubung dengan jalan-jalan setapak yang membentuk jaringan wilayah tradisional yang bisa kita bandingkan dengan jaringan tempat-tempat tinggal (kampung atau perumahan) pada masa sekarang ini. Jaringan wilayah tradisional itu terbentuk karena antara lain sebab hubungan perkawinan (sosial), pertukaran (ekonomi), tradisi keagamaan dan pertahanan.  

Pada saat Cornelis Chastelein memulai membuka lahan di hulu sungai Tjiliwong, wilayah lahan (land) yang dibelinya dari penguasa lokal yang disahkan secara hukum oleh VOC memiliki batas-batas tertentu (saat itu batas-batas ditentukan oleh alam seperti sungai, bukit atau danau). Pembelian yang dilakukan di dalam batas-batas lahan (land) ini meliputi bumi (daratan) dan air (sungai dan danau) termasuk isinya: tumbuhan, tanaman, mineral, ikan dan bahkan penduduk yang bertempat tinggal di lahan tersebut.

Terminologi yang muncul kala itu dalam bahasa Belanda untuk menunjukkan suatu wilayah dengan batas-batasnya dianggap sebagai zoo. Di dalam zoo ini termasuk manusia (dalam hal ini penduduk pribumi) hanya dianggap sebagai mahluk yang nilainya setara dengan hewan (politik rasial kala itu sangat kental).

Oleh karenanya, Land Depok yang menjadi hak kepemilikan pribadi Cornelis Chastelein bukanlah area kosong, bahkan nama Depok sendiri adalah nama suatu pekampungan awal (yang entah dimana posisi ‘gps’nya di land tersebut. Disebut kampong Depok, karena nama-nama tempat utama yang diidentifikasi sebagai penanda navigasi saat itu adalah nama tempat hunian penduduk yang namanya sudah dikenal luas di sekitar.

Nama-nama Pondok Tjina, Depok, Ratoe Djaja, Mampang dan Pondok Terong adalah penanda navigasi utama. Nama-nama penanda navigasi atau perkampungan inilah yang kemudian area (land) yang diperjualbelikan, landnya diberi nama.

Di Land Depok, selain nama kampong Depok sudah eksis, juga diduga sudah eksis nama-nama kampung lain seperti Pitara (dari nama Hindoe), Paroeng Blimbing, Paroeang Serab, Paroeng Melela dan lainnya. Terminologi paroeng mengindikasikan penanda navigasi untuk menunjukkan perkampungan yang muncul dimana ada penyeberangan sungai yang sempit (yang ditandai dengan adanya jembatan bamboe).

Kampong Depok dan Landhuis Depok

Kampong Depok dan Landhuis Depok adalah dua tempat yang berbeda. Tidak pernah diceritakan atau dilukiskan dimana lokasi Kampong Depok dan dimana Landhuis Depok. Kampong Depok adalah lokasi dimana penduduk asli bermukim, sedangkan Landhuis Depok adalah lokasi yang dipilih oleh Cornelis Chastelein sebagai pusat kegiatannya.

Sumber informasi yang paling relevan untuk mengidentifikasi dimana posisi gps Kampong Depok dan Landhuis Depok adalah salinan testamen Cornelis Chastelein tentang pewarisan lahan kepada para tenaga kerjanya. Sumber berikutnya adalah peta Land Depok tahun 1901.

Berdasarkan rute yang digunakan oleh Abraham van Riebeek pada saat ekspedisi ke hulu dari sisi barat sungai Tjiliwong adalah Tjililitan, Tandjong, Pondok Tjina, Depok, Ratoedjaja dan Pondok Terong. Nam-nama kampong berada di sisi barat sungat Tjiliwong dan sangat dekat atau dipinggir sungai Tjiliwong. Oleh karena kampong dan sungai terkait, maka kampong-kampong tersebut berada di tempat yang rendah atau lembah yang langsung bersentuhan dengan sungai. Kampong-kampong ini menjadi semacam pelabuhan sungai di masa lampau. Kampong yang menjadi pelabuhan ini kedua sisi sungai besar kemungkinan sama-sama rendah. Kampung-kampung ini menjadi interchange (simpul) antara wilayah sisi barat dan wilayah sisi timur sungai Tjiliwong. Dengan kata lain, lebar sungai cukup besar dan arus air lebih tenang yang memungkinkan adanya getek.

Secara teoritis, letak Kampong Depok ini berada di hilir jembatan Panus yang sekarang. Sedangkan jembatan Panus, yang cikal bakalnya di masa lampau adalah jembatan bambu lokasinya dipilih di lebar sungai yang paling sempit. Arus air di bawah jembatan biasanya sangat deras.

Sementara posisi gps landhuis yang menjadi pusat kegiatan Cornelis Chastelein dalam mengusahakan pertanian berada di lokasi yang berbeda dengan Kampong Depok. Oleh karena landnya disebut Land Depok, maka landhuis ini tidak terlalu jauh dari Kampong Depok (nama land dan nama landhuis yang merujuk pada nama kampong). Landhuis menjadi semacam ‘ibukota’ di Land Depok.

Peta (Land Depok), 1901
Ibukota Land Depok adalah ibukota bagi orang asing (Eropa/Belanda) di lingkungan orang asli. Orang asing dalam hal ini ingin membuat koloni. Sebagai orang asing dan membuat koloni baru, maka orang asing tidak pernah mengambil tempat di kompong yang sudah eksis. Dengan kata lain, orang asing tidak pernah mengakuisisi kampong orang asli (apalagi mengusirnya). Sebab, orang asli adalah partner strategisnya di lingkungan yang baru. Hal ini yang terjadi pada area koloni yang lebih besar seperti Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Semarang, Medan dan Padang. Untuk area koloni yang lebih kecil seperti landhuis Depok  secara teoritis kurang lebih sama. Oleh karena sebagai orang asing, untuk mempertahankan keamanan, orang asing memilih lokasi yang secara alamiah memiliki fungsi pertahanan seperti laut, danau, tebing atau jurang. Berdasarkan pemahaman serupa ini landhuis Depok berada di sisi sungai Tjiliwong yang paling strategis dari sudut keamanan dan pertahanan.

Lokasi landhuis yang dipilih Cornelis Chastelein adalah sisi dalam lekukan sungai Tjiliwong. Sebab secara alamiah sungai telah membentengi landhuis separuh area landhuis. Posisi landhuis ini besar kemungkinan di dekat situs gereja tua Depok di hook jalan Pemuda yang sekarang. Sementara untuk tempat pemukiman tenaga kerjanya berada di belakang gereja tersebut. Pemukiman tenaga kerja ini kelak menjadi perkampungan bagi para pewaris Cornelis Chastelein.

'De Eerste Protestante Organisatie van Christenen’

Orang pribumi Kristen yang berada di bawah Portugis di Toegoe di Batavia pindah ke Kampong Toegoe di Depok. Sementara itu, di Depok, sudah ada penduduk pribumi yang sudah beragama Kristen sejak era C. Chastelein.

Semasa Cornelis Chastelein di Depok sudah ada gereja. Antara 1714 hingga 1744 sudah ada sekolah bagi penduduk pribumi Kristen di Depok dan Toegoe di bawah pengawasan gereja. (lihat Over den toestand en de behoeften van het onderwijs der jeugd in Nederlandsch Indie, 1850). Inlandsche christen gemeente sebanyak 291 orang dan gereja dibangun tahun 1792. Gereja kedua dibangun tahun 1836. Kemudian dibangun gereja ketiga yang terbuat dari papan yang dihubungkan dengan sekolah yang dihadiri oleh 53 murid (Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 1873). Pendeta Depok yang terkenal Beukhof.

Nederlandsche Zendelinggenootschap mulai merencanakan misinya di Hindia Timur sejak 1790an dan melakukan kegiatan misi di berbagai tempat seperti Amboina, Timor, Riouw dan Celebes.

Pada tahun 1828 atau 1834 pemerintah membangun sekolah guru agama Kristen di Depok. Beasiswa yang direncanakan untuk pengiriman murid ke sekolah misi di Depok: Amboina f8.640, Timor f16.545, Riouw f1.900, Celebes f8.940, dan Depok sendiri f600.

Buku-buku yang pembuatannya dibiayai oleh Nederlandsche Zendelinggenootschap:
1.    Kitâb Malájuw 'åkan meg’âdjar hêdjà güna segala 'Anakh Jang baháruw memulâij dengan peladjâran.
2.   Kitab Malajuw jang kaduwa, 'åkan meng’âdjar hêdjâ, gūna segala 'ánakh jang sudah belâdjar sedikit sâdja.
3.    Kitàb Midras jag dålamnja 'ada ter simpan babarapa fatsal jag Pendekh dán bergüna, 'åkan debatjåkan; terkårang dålam bahása Wolandâwij, güna segala 'Anakh Midras, 'awleh tuwan pema Rentah Midras dàn tersâlin kapada bahása Malájuw 'awleh R. Le Bruyn, Pandita 'Indjil di pùlaw Timor.
4.      Sawàtu perkatà dan natsilhat.
5.   Tjeritera Ihikajet Isãj 'Elmesêlh jang 'Anakh 'Allah dan Muchalits segala 'awrang berdawsa.
6.    Perg’adjàran jang pendekh 'åkan segala Kabenâran 'Agama Mesêlhij, terkårang 'awleh A. Brink, tersâlin deri pada bahàsa Wolandâwij kapada bahása Malâjuw 'awleh J. Akersloot, jang pada màsa hidopmja Surôhan 'Indjil ditánah Depok, dekàt Bâtawijah (terbit 1839?).
Depok (dan Toegoe) selain terbilang awal juga jumlah pribumi yang beragama Kristen terbanyak. Awalnya komunitas Kristen di Depok disebut Inlandsch gemeente van Depok kemudian lebih dikenal sebagai Christenden Gemeente van Depok. Keberadaan Depok semakin penting ketika kegiatan misionaris mulai digalakkan di berbagai tempat di Hindia Belanda. Sekolah bagi pribumi yang beragama Kristen yang kemudian muncul sekolah zending di Depok semakin memperkuat keberadaan Depok sebagai Christenden Gemeente van Depok.

Pewaris yang Setia

Salah satu faktor penting mengapa Land Depok menjadi Christenden Gemeente van Depok adalah kesetiaan para pewaris terhadap pesan yang diinginkan oleh Cornelis Chastelein. Dalam testamennya, Cornelis Chastelein meginginkan di Land Depok terbentuk komunitas Kristen. Nederlandsche Zendelinggenootschap melihat riwayat Depok ini sebagai hal yang strategis.

Sementara penduduk di sekitar Land Depok sudah sejak lama beragama Islam termasuk penduduk di kampung-kampung yang berada di Land Mampang. Tokoh-tokoh agama Islam di luar Land Depok (terutama Land Ratoe Djaja dan Land Pondok Terong) menyadari posisi Land Depok dari sisi internal (testament) dan dari sisi eksternal tentang perkembangan yang terjadi di dalam Christenden Gemeente van Depok yang sudah disokong oleh Nederlandsche Zendelinggenootschap. Sebagaimana tokoh-tokoh Islam di sekitar Depok yang khawatir terhadap pengaruh Kristen di Depok, juga para jemaat Depok (Christenden Gemeente van Depok) juga memiliki kekhawatiran terhadap penduduk lokal di wilayah sekitar. Dalam suatu perayaan keagamaan di Ratoe Djaja diduga Raden Saleh hadir dan kehadirannya telah menjadi polemik pada surat kabar di kalangan Kristen. Raden Saleh adalah pelukis terkenal berdarah Arab yang telah lama belajar di Belanda (dan dianggap telah dekat dengan Belanda). Kalangan Kristen menganggap Raden Saleh telah menyokong munculnya gerakan Islam di sekitar Depok yang berpusat di Ratoe Djaja/Pondok Terong. Sebab belum lama berselang terjadi kerusuhan yang terjadi di Bekasi dan sekitar yang mana tokoh-tokoh agama dari Ratoe Djaja/Pondok Terong terlibat.      

Meski ketegangan selalu ada antara komunitas Kristen di Land Depok dengan penduduk lokal di sekitar, namun tidak pernah terdeteksi terjadi kerusuhan. Boleh jadi ini karena faktor pewaris dari Cornelis Chastelein yang setia dengan wasiat yang mereka terima yakni menjadi penganut agama Kristen yang baik dan tidak ingin bertabrakan dengan para tetangga. Faktor luar (utamanya kehadiran Nederlandsche Zendelinggenootschap) diduga yang menyebabkan munculnya ketegangan. Sebagaimana para pendeta-pendeta yang ada di Land Depok berasal dari luar (bukan pribumi) dan berfiliasi dengan Nederlandsche Zendelinggenootschap.

Pemerintah Hindia Belanda pada prinsipnya netral dalam urusan keagamaan (liberal/sekuler). Kemauan Nederlandsche Zendelinggenootschap tidak selalu dituruti oleh Pemerintah. Sebaliknya, Pemerintah Hindia Belanda menganggap Islam, Kristen dan pagan sama pentingnya. Yang diutamakan pemerintah adalah siapa yang bersedia berpartisipasi dalam pembangunan jalan dan jembatan (faktor ekonomi) apakah mereka Islam, Kristen atau pagan.

Sebagai pewaris Land Depok tampaknya, komunitas Kristen Depok atau jemaan Depok sangat menyadari bahwa lahan mereka adalah lahan warisan. Para pewaris ini konsisten untuk mempertahankannya tanpa ada yang mengganggu baik oleh masyarakat sekitar maupun oleh pemerintah sendiri.

Namun demikian, setiap masa ada saja yang membutuhkan hak yang melekat kepada para pewaris. Para pewaris awalnya enggan untuk melepaskannnya. Para pewaris menganggap pelanggaran terhadap wasiat yang diterima. Namun upaya mempertahankan hak pewarisan dan kesetiaan terhadap pesan dalam wasiat Cornelis Chastelein tidak selalu dapat dipertahankan. Pertama, dalam pembangunan jalur kereta api. Para pewaris enggan lahan Depok diokupasi untuk jalur kereta api oleh pihak investor swasta yang didukung pemerintah. Namun persoalan yang berlarut-larut dapat ditengahi oleh pemerintah dengan keputusan Pengadilan Tinggi untuk mengakuisisi lahan dengan pemberian konpensasi (1871).

Sebelumnya sempat ada rencana membangun kereta rute melalui Tjinere dan Sawangan dengan jalan melengkung (lihat Particuliere landerijen door J.F.W. van Nes, 1848). Rencana pembangunan jalur kereta api ini tidak diketahui ujung pangkalnya hingga muncul proposal konsesi pembangunan kereta api tahun 1864.

Kedua, dalam persoalan pengairan persawahan di Tandjong Barat. Untuk meningkatkan debit air melalui kanal Tanah Baroe diusulkan agar menutup Situ Pitara. Gemeente Depok. Awalnya tidak rela, sekali lagi, karena ini dianggap melanggar pewarisan Land Depok dari Cornelis Chastelein. Lalu dalam perkembangannya, pemerintah Batavia terus mencari jalan keluar dan akhirnya Situ Pitara ditutup agar aliran dari Kali Baroe yang melalui Pondok Terong/Ratoe Djaja diteruskan langsung ke Kali Baroe tanpa ada penyimpinan air (konservasi) di Situ Pitara lagi. Ini berarti Situ Pitara harus ditutup (1830). Dalam penutupan Situ Pitara, Gemeente Depok diberi konpensasi oleh pemerintah.

Itulah kisah Land Depok sebagai Christenden Gemeente van Depok sebagai salah satu gereja Kristen tertua di pulau Jawa (Een der oudste Christengemeenten van het eiland Java) (lihat Stemmen voor waarheid en vrede jrg 31, 1894). Di Seminarie van Depok juga pernah tercatat sebagai tempat konferensi pertama (eerste Indische Zendingsconferentie) pada tahun 1882 (lihat FW Grosheide, 1926).

Dengan demikian bahwa Gemeente Depok tidak salah dianggap sebagai de eerste protestante organisatie van Christenen, tetapi tidak berarti asal nama Depok dari singkatan tersebut. Nama Depok sebagaimana nama-nama Ratoe Djaja, Pondok Terong dan Pondok Tjina adalah nama asli yang sudah sejak lama ada dan sulit ditelusuri. Cornelis Chastelein yang menjadi haknya dan telah diwariskannya memang menginginkan (hanya) Land Depok (saja) untuk menjadi Christen-negorij. Itu semua telah terlaksana paling tidak hingga eksistensi Belanda berakhir di Indonesia.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

5 komentar:

  1. Pak, menurut sejarah yang saya baca, Cornelis membeli sebidang tanah yang kemudian dikenal sebagai Depok itu setelah belaiu mengundurkan diri dari VOC tahun 1691-1692an. peta Van Riebeek ekspedisi tahun 1703. berarti memang sudah lebih dulu nama yayasan De Eerste Protestante Organisatie van Christenen ada dong ya? apa saya yang kurang baca datanya? jadi agak bingung karena banyak versi.
    mohon pencerahan pak...
    terima kasih banyak...

    BalasHapus
  2. Jeli juga Pak 'Aikonism' bacanya. Akan tetapi bukan begitu cara bacanya jika ingin lebih teliti. Abraham van Riebeek tentu saja sangat naif untuk menanyakan apakah Depok sebuah singkatan. Demikian juga sangat naif Cornelis Chastelein untuk menamakan sebuah tempat tinggal dengan berdasarkan singkatan. Orang asing (VOC/Belanda)justru memerlukan nama asli (lokal) sebagai penanda dalam peta. Karena nama lokal adalah semacam navigasi bagi pihak yang lainnya. Saya sendiri tak pernah menemukan dalam dokumen-dokumen lama sejak era VOC (1700an)bahwa Depok sebagai sebuah singkatan. Setiap orang boleh saja membuat kalimat atau frase tentang nama kotanya, tetapi itu tidak ada gunanya, kecuali berguna bagi si pembuat singkatan.
    Demikian. Semoga penjelasan ini dapat membantu.
    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bapak dosen FEB UI bukan Pak?

      Hapus
  3. Sepertinya kita diarahkan untuk menganggap bahwa depok itu Milik Kristen

    BalasHapus
  4. nama Depok udah ada sebelum Cornelis Chastelein membeli sebidang tanah di Depok

    BalasHapus