Laman

Selasa, 11 Juli 2017

Sejarah Kota Depok (8): Komunitas Kristen Land Depok di Tengah Penduduk Asli Beragama Islam; Sekolah Pemerintah vs Sekolah Zending

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Cornelis Chastelein sesungguhnya tipikal VOC tulen. Saat dirinya masih memiliki jabatan prestisius berani berspekulasi sebagai pionir membeli lahan di Depok, suatu area terjauh dimana orang Eropa/Belanda berada, untuk mengusahakan pertanian (onderneming). Cornelis Chastelein bekerja dengan para tenaga kerjanya dengan sepenuh hati untuk menghasilkan keuntungan. Cornelis Chastelein sendiiri memiliki anak bernama Anthony Chastelein sebagai pewaris.

Gereja di Depok (foto 1939)
Namun sulit dipahami apa yang dipikirkan oleh Cornelis Chastelein ketika asetnya yang berharga jelang kematiannya sebagian diwariskan kepada tenaga kerjanya sebagaimana dinyatakan di dalam testamen yang dibuatnya tahun 1714. Padahal saat itu era materialistik.

Dalam kehidupan nyata, apapun yang dilakukan oleh Cornelis Chastelein, apalagi saat itu era materialistik, tidak ada orang yang peduli. Semua orang-orang Eropa/Belanda berlomba-lomba demi keuntungan dan tidak sempat memikirkan apa yang dilakukan oleh orang lain. Semua orang-orang Eropa/Belanda saat itu berafiliasi dengan VOC (organisasi dagang). Pemerintah dan gereja absen dalam semua kehidupan saat itu. Begitu lama ketidakhadiran pendeta di tanah yang baru.

Di Depok para pewaris meneruskan keinginan Cornelis Chastelein untuk menjadikan Land Depok sebagai Christen negorij. Para pewaris tentu saja sangat bersukacita karena mereka telah dibebaskan dan bebas mengusahakan lahan pertanian yang subur. Kesungguhan para pewaris ini dapat dipahami. VOC memberikan pendidikan kepada para pewaris sejak 1714 hingga 1774. Namun mereka dalam menjalankan ajaran Kristen tanpa bimbingan seorang pendeta. Karena memang tidak ada pendeta. Namun demikian para pewaris yang membentuk komunitas sendiri di tengah penduduk yang beragama Islam tetap berperilaku baik sebagai orang pribumi, sementara orang-orang Eropa dan Tionghoa haus dengan uang. Sejauh ini gesekan tidak pernah terjadi antara pewaris yang sudah beragama Kristen dengan penduduk asli sekitar yang beragama Islam.

VOC (sebagaimana juga nanti Pemerintah Hindia Belanda) tidak membedakan penduduk menurut agama dan kepercayaan. VOC menganggap semua sama: Islam, Kristen dan pagan sama saja. VOC hanya memandang siapa yang bersedia berpartisipasi untuk membangun jalan dan jembatan dan mengusahakan pertanian untuk keuntungan VOC. Bagi seorang pendeta yang melihat situasi dan kondisi saat itu komunitas Kristen yang berkulit coklat di Land Depok adalah suatu cahaya yang tetap bersinar di kegelapan.

Pada tahun 1840 seorang misionaris Nederlandsch Zendeling-Genootschap, LJ van Rhijn, untuk kali pertama seorang misionaris datang berkunjung ke Depok. Boleh jadi inilah pertemuan dua belah pihak yang saling membutuhkan: para pewaris sangat membutuhkan bimbingan, dan pendeta (kebetulan dari misionaris) membutuhkan jemaat untuk dibimbing.

Land Depok Dipersoalkan

Pada tahun 1848 Land Depok terguncang, para pewaris Cornelis Chastelein terpojok ((lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-06-1883). Ahli waris yang mengaku pewaris asli mengajukan ke Pengadilan Tinggi di Batavia untuk menuntut agar lahan yang diserahkan oleh Cornelis Chastelein dikembalikan. Mereka beralasan dan mengklaim bahwa mereka ahli waris yang sah dari garis lurus keturunan dari Anna de Haan, janda dari Anthony Chastelein (yang merupakan putra sebagai pewaris asli dari Cornelis Chastelein).

Pewaris Cornelis Chastelein yang beragama Kristen di Land Depok sesungguhnya tidaklah lebih baik dalam hal penghidupan dibanding penduduk asli yang beragama Islam di sekitar mereka, seperti di Ratoe Djaja dan Bendji. Para pewaris ini bahkan masih hidup dalam kemiskinan akut dan tinggal di gubuk-gubuk yang tersebar diantara pohon-pohon kelapa, dan hanya beberapa keluarga yang kelihatan rumahnya lebih baik (lihat Depok en de Depokker: Eene Bijdrage tot de Kennis van Inlandsche Christenen op Java door JN Grimmius, 1852).

Para ahli waris asli melihat celah bahwa pewarisan itu adalah subjek dari hak pakai, yang menurut Hukum Hollandsch akan berakhir dalam seratus tahun. Menurut mereka ahli waris asli, sekarang dianggap haris sebagai sudah selesai pada bulan Agustus tahun 1814 dan klaimnya adalah bahwa terdakwa harus dihukum: ‘menarik tangan mereka dan negara untuk mengevakuasi mereka segera, dan menyerahkan kepada penggugat dan menurut constituanten sebagai pemilik yang sah. Sejak bulan Agustus 1814 semua manfaat yang diperoleh dari lahan harus mengkompensasi semua manfaat dan pendapatan nya.

Seorang pembaca menulis bahwa gugatan muncul karena nilai Land Depok sekarang sudah berbeda (nilainya tinggi) pada tahun 1848 jika dibandingkan nilainya yang hanya 700 rijksdaalder yang mana Cornelis Chastelein telah membayarnya sebelum tahun 1714.

Akan tetapi semua tuntutan itu bentu. Mahkamah Agung di Batavia berdasarkan materi tuntutan dan berdasarkan bukti pewarisan memutuskan bahwa penyerahan tanah kepemilikan penuh dinilai sah. Lalu tuntutan ditolak dan penggugat dikecam dan dikenai denda selama proses pengadilan. Land Depok tetap untuk melestarikan gereja.

Masuknya Zending

Pasca berakhirnya sengketa antara pewaris asli dan pewaris Cornelis Chastelein inilah zending masuk. Depok dan Depokkers adalah suatu lahan dan kehidupan yang terasing meski sudah lebih dari satu abad mereka beragama Kristen. Oleh karena itu Toegoe dan Depok dianggap sebagai pos terdepan dari misi dimana terdapat koloni Kristen yang hidup miskin.

Tentu saja LJ van Rhijn di Nederlandsch Zendeling-Genootschap, misionaris yang pernah berkunjung ke Depok tahun 1840 akan menjadi faktor penting sebagai penyambung antara pendeta misionaris dengan jemaat yang membutuhkan dukungan. Komunitas Kristen Depok adalah organisasi persaudaraan penduduk pribumi yang solid, dan Nederlandsch Zendeling-Genootschap akan menjadikannya sebagai model stasion misionaris.

Masuknya zending di Depok telah memperkuat para pewaris Cornelis Chastelein karena mereka didukung. Hubungan antara pewaris yang sudah beragama Kristen dengan misionaris di satu sisi telah diperkuat, tetapi di sisi lain hubungan pewaris yang beragama Kristen dengan penduduk asli yang beragama Islam justru semakin longgar yang satu sama lain memunculkan prasangka-prasangka yang berujung pada kekhawatiran.

Akhirnya muncul ketegangan. Ini bermula pasca kerusuhan di Bekasi tahun 1865, sejumlah pihak telah merapat ke Land Depok tepatnya di Land Ratoedjaja, tetangga Land Depok terdekat. Para pewaris menganggap semakin banyaknya yang bwerdatangan ke Ratoendaja semakin memperuncing keadaan. Sebelumnya, penduduk asli yang beragama Islam di Ratoedjaja menganggap kehadiran misionaris di Land Depok telah memunculkan kecurigaan. Dua komunitas pribumi yang berbeda agama dan kepercayaan yang damai-damai saja, setelah satu setengah abad tampak mulai retak. Tingkat kesurigaan dan kekhawatiran semakin meningkat.

Namun para pewaris tidak bisa lagi mundur dalam soal hubungan timbal balik dengan zending, karena zending termasuk pihak yang mendukung mereka ketika pihak lain (pewaris asli) ingin mengusir mereka dari Land Depok. Sebaliknya, komunitas penduduk asli yang beragama Islam semakin solid dan peran pemuka agama semakin intens.

Dua komunitas pribumi ini semakin lama semakin menguat ke kutub masing-masing. Gejala ini terus berlangsung sehingga satu sama lain semakin berjauhan di hati meski sangat dekat secara geografis.

Sekolah-Sekolah Pemerintah

Sebelum didirikannya sekolah misionaris, sekolah guru (Kweekschool) untuk pribumi sudah sejak tahun 1851 dibuka di Soerakarta. Lalu kemudian sekolah guru yang kedua dibuka di Fort de Kock (kini Bukittinggi). Dalam perkembangannya, di Afdeeling Mandailing dan Angkola (Residentie Tapanoeli) didirikan sekolah guru yang baru pada tahun 1862.

Pada tahun 1862 di Tano Bato di Afdeeling Mandailing dan Angkola dibuka sekolah guru. Sekolah guru ini dipimpin oleh Willem Iskander yang pulang ke tanah air setelah menyelesaiakan studi dan mendapat akte guru di Belanda tahun 1861. Si Sati (Nasoetion) yang telah mengubah namanya menjadi Willem Iskander berangkat studi ke Belanda tahun 1857. Willem Iskander adalah pribumi pertama yang studi ke Negeri Belanda.

Sekolah guru Tanobato di Mandailing dan Angkola ternyata maju pesat. Pada tahun 1864 Inspektur Pendidikan di Batavia A van der Chijs berkunjung ke Tanobato dan melakukan penilaian bahwa sekolah guru yang dipimpin oleh Willem Iskander. Hasilnya tidak diduga oleh A van der Chijs.

Neuse Rotterdamsche courant: staats-, handels, nieuws- en advertentieblad, 20-03-1865: ‘Izinkan saya mewakili orang yang pernah ke daerah ini. Di bawah kepemimpinan AP Godon (Asisten Residen Mandailing dan Angkola) daerah ini telah banyak berubah, perbaikan perumahan, pembuatan jalan-jalan. Satu hal yang penting tentang Godon telah membawa Willem Iskander studi ke Belanda dan telah kembali kampungnya. Ketika saya tiba, disambut oleh Willem Iskander, kepala sekolah dari Tanabatoe diikuti dengan enam belas murid-muridnya, Willem Iskander duduk di atas kuda dengan pakaian Eropa murid-muridnya dengan kostum daerah….Saya tahun lalu ke tempat dimana sekolah Willem Iskander didirikan di Tanobato…siswa datang dari seluruh Bataklanden…mereka telah diajarkan aritmatika, ilmu alam, prinsip-prinsip fisika, sejarah, geografi, matematika…bahasa Melayu, bahasa Batak dan bahasa Belanda….saya sangat puas dengan kinerja sekolah ini’.

‘Mari kita mengajarkan orang Jawa, bahwa hidup adalah perjuangan. Mengentaskan kehidupan yang kotor dari selokan (candu opium). Mari kita memperluas pendidikan sehingga penduduk asli dari kebodohan’. Orang Jawa, harus belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Awalnya Chijs mendapat kesan (sebelum ke Tanobato) di Pantai Barat Sumatra mungkin diperlukan seribu tahun sebelum realisasi gagasan pendidikan (sebaliknya apa yang dilihatnya sudah terealisasi dengan baik). Kenyataan yang terjadi di Mandailing dan Angkola bukan dongeng, ini benar-benar terjadi, tandas Chijs’ (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-11-1868).

Heboh pendidikan yang amburadul di Jawa dengan mengacu pada sukses sekolah guru di Tanobato, memicu pemerintah untuk segera membuka sekolah guru yang baru di Bandoeng. Sekolah guru ini dibuka pada tahun 1866. Sekolah guru Bandoeng diharapkan untuk mempercepat pemenuhan guru-guru terutama di Banten, Batavia, Buitenzorg dan Preanger.

Pada tahun 1866 sekolah di Afdeeling Buitenzorg baru satu buah sekolah negeri yang dibangun yakni di Buitenzorg. Untuk sebagai pembanding, di Afdeeling Mandailing dan Angkola sudah terdapat delapan buah sekolah negeri (yang menjadi asal sekolah untuk mengikuti sekolah guru yang dipimpin Willem Iskander). Untuk kandidat siswa sekolah guru Bandoeng datang dari empat sekolah dasar negeri, yakni dari Buitenzorg, Tjiandjoer, Bandoeng, Sumadang dan Soekapoera (Garoet).

Meski sekolah guru Bandoeng telah dibuka dan sekolah guru di Soerakarta terus ditingkatkan, namun polemik pendidikan bagi pribumi terus bergulir. Pemerintah mulai digugat, bukan oleh para pemimpin-pemimpin pribumi, tetapi orang Eropa/Belanda yang memiliki kepedulian terhadap kemanusiaan.

Arnhemsche courant, 13-11-1869: ‘…Hanya ada 7.000 siswa dari jumlah populasi pribumi yang banyaknya 15 juta jiwa di Jawa. Anggaran yang dialokasikan untuk itu kurang dari tiga ton emas. Hal ini sangat kontras alokasi yang digunakan sebanyak 6 ton emas hanya dikhususkan untuk pendidikan 28.000 orang Eropa… lalu stadblad diamandemen untuk mengadopsi perubahan yang dimenangkan oleh 38 melawan 26 orang yang tidak setuju’.

Setelah adanya perubahan dan kemenangan di parlemen (dewan) oleh yang pro, diantara yang pro ada yang mengungkapkan kekecewaannya selama ini sebagaimana dilaporkan oleh Algemeen Handelsblad, 26-11-1869: ‘…kondisi pendidikan pribumi di Java adalah rasa malu untuk bangsa kita (Belanda). Dua atau tiga abad mengisap bangsa ini, berjuta-juta sumber daya penghasilan telah ditransfer ke ibu pertiwi (Kerajan Belanda), tapi hampir tidak ada hubungannya untuk peradaban pribumi di sini (Hindia Belanda)…’.

Sementara di Mandailing Angkola, tidak hanya Willem Iskander yang menulis buku-buku pelajaran, juga guru-guru sekolah dasar (alumni Kweeskschool Tanobato) menulis buku-buku pelajaran. Sebagian dari buku-buku yang ditulis itu dicetak di Padang dan Batavia. Buku pelajaran yang ditulis Willem Iskander sudah ada yang dicetak di Batavia tahun 1865.

Pro-kontra tentang pendidikan pribumi di Hindia Belanda telah mencapai puncaknya. Untuk pengembangan pendidikan pribumi, orang Belanda banyak yang setuju tetapi juga banyak yang tidak setuju karena alasan yang berbeda-beda. Di kalangan misionaris memiliki dinamika sendiri. Dari Tapanoeli, muncul usulan Willem Iskander agar pemerintah mengirim guru ke Belanda (seperti dirinya dulu).


De locomotief, 01-02-1873
Dampak perubahan peta pendidikan di Jawa setelah dipicu sekolah-sekolah di Mandailing dan Angkola dan dibangunnya sekolah guru di Bandoeng, juga terjadi di Depok. Pada tahun 1873 untuk kali pertama dibuka sekolah pemerintah (gouvernemenfs Inlandsche school) di Depok. Guru yang diangkat adalah seorang guru berlisensi Eropa (Europeesch hoofdonderwyzer) bernama Te Net dengan gaji f200 per bulan. Mr. Te Net sebelumnya adalah guru swasta di Batavia. Untuk membantu Te Net diangkat asisten guru yang direkrut dari pemuda Depok yang paling layak (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 01-02-1873).
.
Ternyata usul ini direspon pemerintah dan direstui Radja Willem III. Akan tetapi usul Willem Iskander ini memiliki konsekuensi sebab pemerintah meminta Willem Iskander untuk membimbing tiga guru muda sementara Willem Iskander juga diberikan beasiswa untuk mendapatkan akte kepala sekolah. Tidak hanya itu, sekolah guru Tanobato harus ditutup dan akan dibangun sekolah guru yang lebih besar di Padang Sidempuan yang mana Willem Iskander akan diangkat menjadi direkturnya.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-03-1874: ‘Dengan keputusan tanggal 6 bulan ini, Radja mengambil keputusan yang diperlukan di bawah otorisasi untuk mengirim kepala sekolah di kweekschool untuk guru Inlandsche di Tanah-Bato (Sumatera’s Westkust), Willem Iskander, dan tiga pribumi lainnya, ke Belanda, agar untuk dilatih studi dua tahun lebih lanjut untuk pendidikan inlandsch. yang dirancang untuk menemani Iskandcr, pemuda Batak Si Banas, Soendanees Ardi Sasmita, sekarang menjadi guru di sekolah asli Madjalengka (Cirebon) dan Mas Soerono, guru di Soerakarta. Sehubungan dengan keberangkatan Iskander sementara menutup perguruan tinggi untuk Tanah-Batoe’.

Pengembangan pendidikan di Jawa mulai menemukan jalan keluar. Pendirian sekolah guru di Bandoeng yang dibuka tahun 1866 telah diperluas ke Jawa Tengah dengan membangun sekolah guru di Oengaran. Sementara itu dalam suatu kesempatan, di Batavia, Raja Willem III berkesempatan mengunjungi sekolah William III. Raja menawarkan guru-guru di Belanda untuk bekerja di Jawa. Raja berkata ketika berada di gimnasium William III (Algemeen Handelsblad, 04-05-1874).

Di dalam negeri pemerintah terus didorong untuk direncanakan pengembangan pendidikan di beberapa tempat. Magelang, Bandong dan Probolinggo (Java); di Amboina; di Tondano; untuk Bandjermasin; di Fort de Kock; Padang Sidempoean, dan Makassar (Algemeen Handelsblad, 21-09-1875).

Namun takdir menentukan lain. Guru-guru muda yang dibawa Willem Iskander (berangkat Mei 1874 dan tiba Juli 1874) satu per satu meninggal dunia. Soerono setelah enam bulan (Januari 1875) sakit lalu dibawa pulang ke Jawa tetapi meninggal di perjalanan. Juga Mandhelinger Si Banas dikabarkan telah meninggal dunia (Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 13-10-1875). Penduduk di Tanah Batak, penduduk di Tanah Pasundan dan penduduk di Tanah Jawa berduka. Harapan penduduk di tiga daerah ini sirna. Willem Iskander juga ternyata menemui takdirnya dan meninggal di Belanda.


Zending di Residentie Tapanoeli secara teknis baru dimulai tahun 1858 saat Gustav van Asselt ditempatkan di Sipirok (18 tahun setelah pemerintahan kolonial dibentuk di Mandailing dan Angkola tahun 1840). Pendeta-pendeta Jerman yang dipimpin Klammer menyusul di Sipirok. Pada tanggal 7 Oktober 1862 para misionaris Belanda (Nederlandsch Zendeling-Genootschap) yang dipimpin van Asselt dan misionaris Jerman yang dipimpin Klammer mengadakan rapat: dua keputusan penting, pertama: wilayah misionaris Belanda di Angkola (plus Mandailing) dan wilayah misionaris Jerman di Silindoeng (plus Toba). Keputusan kedua adalah penbendirian sekolah di Prau Sorat. Tanggal 7 Oktober 1862 inilah yang diklaim HKBP sebagai tahun kelahirannya. Setelah sekolah didirikan, salah satu guru di sekolah ini adalah seorang pemuda bernama Nommensen, misionaris muda asal Jerman yang baru datang langsung dari Jerman. Dalam perkembangannya sekolah umum ini dijadikan sekolah calon misionaris pribumi (seminari) sehubungan dengan meningkatnya minat penduduk untuk beralih ke sekolah yang telah didirikan oleh pemerintah. Salah satu direktur sekolah Seminari Prau Sorat yang terkenal adalah CF Leipoldt.

Seminarie di Depok

Hiruk pikuk pendidikan pribumi terus dipantau para misionaris dan lalu membuat langkah-langkah strategis. Kegiatan zending sendiri sudah lama berlangsung. Para misionaris melakukan kegiatan di berbagai tempat baik di daerah yang sudah beragama maupun daerah-daerah yang dianggap mereka masih pagan. Stasion-stasion misi dibangun. Di wilayah dimana sekolah Gouvernements tidak ada, misionaris membangun sekolah-sekolah.

Nederlandsch Zendeling-Genootschap dalam hal ini berperan penting. Namun persoalan muncul, karena di daerah dimana ada stasion misi dan mulai membangun sekolah, kenyataannya tidak cukup guru yang tersedia. Oleh karena itu Nederlandsch Zendeling-Genootschap mulai merencanakan sekolah guru misionaris.

Pada tahun 1875 Centraal-Comite Nederlandsch Zendeling-Genootschap di Batavia merekomendasi untuk mendirikan sekolah msionaris (seminarie) di Depok. Direktur Seminari Depok yang akan diangkat adalah Mr CF Leipoldt (yang saat ini) sebagai zendeling-leeraar en director van het Seminarie te Prau-Sorat op Sumatra. CF Leipoldt sendiri adalah dari Rijnsche Zendings Genootschap (lihat De standaard, 22-11-1875).


Seminari Praoe Sorat berada di onder afdeeling Sipirok, afdeeling Mandailing dan Angkola. Oleh karena misionaris Belanda kurang berhasil di Mandailing dan Angkola dan semakin berhasilnya misionaris Jerman di Silindoeng, maka Seminarie Praoe Sorat akhirnya ditutup (pada nantinya Nommensen di Silindoeng mendirikan seminari (untuk menggantikan Seminari Praoe Soerat).
 
Akhirnya pada tahun 1878 seminari dibuka di Depok yang didukung penuh Nederlandsch Zendeling-Genootschap. Seminari ini dengan lama kursus empat tahun untuk pembentukan guru pribumi agama Kristen. Pelatihan yang dipusatkan di Depok memiliki tiga puluh magang yang berasal dari Kalimantan, Bataklanden, Minahasa dan tempat lain di sini. Guru-guru misionaris lulusan Seminari Depok inilah yang akan bekerja di stasion-stasion misi.

Siapa yang menjadi Direktur ternyata tidak mudah. Rekomendasi untuk CF Leipoldt tidak muncul lagi. Yang muncul nama Poensen, Zendeling di Kediri (lihat De standaard, 18-10-1877). Dalam perkembangannya Direktur seminari diberitakan De standaard, 18-10-1879: ‘Mr D. Iken, Kepala sekolah Christenen di Wageningen, diangkat menjadi Kepala sekolah di Seminari di Depok, dengan gaji tahunan f3.000’.

Ini mengindikasikan Seminari Depok menjadi sekolah guru misionaris pertama di Jawa. Dengan didirikannya sekolah zending di Depok, secara tidak langsung popularitas Depok semakin meningkat terutama di kalangan jemaat Kristen di nusantara (sekolah guru misionaris berikut kedua nantinya dibuka di Ambon).

Pendidikan dasar sendiri di Depok sudah ada sejak era VOC, sebagaimana VOC juga mendirikan sekolah-sekolah rakyat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun sekolah-sekolah yang didirikan VOC ini tidak berkembang, karena penduduk juga belum terlalu peduli dengan pendidikan. Sementara sekolah di Depok meski berjalan kurang memuaskan, namun setelah masuknya zending, sekolah dasar di Land Depok semakin berkembang. Sekolah yang awalnya dipandang sebagai sekolah umum, lambat laun penduduk sekitar melihat sekolah di Depok sebagai sekolah Kristen.

Konferenzi Zending

Kegiatan misi di nusantara tidak hanya dilakukan oleh NZG tetapi juga misi Barmen Jerman. Tentu saja misionaris Protestan juga bersaing dengan misionaris Katolik Roma. Seetelah kegiatan misi dilakukan sejak lama di ebrbagai tempat di nusantara, muncul gagasan untuk duduk bersama di dalam suatu konferensi. Yang menjadi salah satu tuan rumah dalam konferensi ini Seminari Depok.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Sumber-sumber sudah disebutkan di dalam tulisan. Jika sumber tidak disebutkan dalam tulisan, sumber sudah disebut di artikel lain (lihat notofikasi di bagian akhir artikel ini). Terimakasih.

      Hapus