Laman

Selasa, 28 November 2017

Sejarah Kota Medan (58): PSMS Medan Promosi ke Liga-1 Setelah Satu Dekade; Sejarah Sepak Bola Medan Bermula 1893

*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini. (Artikel 1-56 Klik Disana)


PSMS Medan baru saja promosi ke Liga-1 setelah mengalahkan PSIS di semi final Liga-2. Pada partai final Liga-2, PSMS Medan akan melawan Persebaya Surabaya besok (28 November 2017). Promosi PSMS Medan baru mampu dicapai sekarang setelah menunggu satu dekade. PSMS Medan berada di level tertinggi liga Indonesia (Indonesia Super League) terakhir pada musim 2008/2009. Saat itu PSMS Medan melakukan play-off dengan Persebaya Surabaya. PSMS Medan kalah dan terdegradasi dan Persebaya menang dan promosi.

Logo PSMS Medan
PSMS Medan dan Persebaya Surabaya sama-sama telah promosi ke di level tertinggi liga Indonesia (Liga-1). Partai final Liga-2 besok adalah untuk memperebutkan juara Liga-2. Satu tiket promosi akan diperjuangkan PSIS Semarang.

Klub PSMS Medan dan Persebaya Surabaya adalah dua klub legenda Indonesia. Di Liga-1 sudah menunggu tiga klub legenda lainnya: Persija Jakarta, Persib Bandung dan PSM Makassar. Bagaimana sejarah PSMS Medan dengan klub-klub legenda tersebut di masa lalu menarik untuk diperhatikan. Mari kita telusuri.

Kejuaraan Antar Perserikatan 1954

PSMS Medan berpartisipasi dalam Kejuaraan Antar Perserikatan pada tahun 1954. Kejuaaraan Antar Perserikatan ini diselenggarakan di Solo yang terdiri dari enam klub (Partai 6 Besar) yakni: PSMS Medan, Persidja Djakarta, PSM Makassar, Persis Solo, Persema Malang dan Persibaja Surabaja (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-12-1954).

Java-bode, 13-12-1954
PSMS Medan di bawah pimpinan Manajer Muslim Harahap. Pemain PSMS Medan saat itu terbilang moncer, antara lain: Jusuf Siregar dan Abdul Kadir, pemain sayap Medan dan termuda (18 tahun)

Dari babak penyisihan di Solo, peringkat pertama dan peringkat kedua (PSMS dan Persidja) akan dipertemukan di Jakarta tanggal 3 Januari 1955 untuk menentukan juara.

Dalam pertandingan final ini PSMS Medan melakukan protes karena wasit memihak Persidja. Manajer Muslim Harahap melakukan protes di tengah pertandingan untuk mengganti wasit tetapi tidak digubris panitia. Jusuf Siregar ditekel Djamiat, wasit awalnya menunjuk titik putih tetapi karena protes Djamiat lalu wasit hanya memberi tembakan langsung. Kembali Jusuf Siregar ditekel oleh Tamaela yang sejarusnya kartu merah (kuning kedua) tetapi wasit tidak memberi ganjaran. Lalu yang terakhir Abdul Kadir diserang Tamaela. PSMS Medan kalah dan Muslim Harahap dan tim tidak mengakui kekalahan tersebut. Muslim Harahap tidak ada masalah bagi kami dengan Persidja, yang kami persoalkan mutu wasit (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-01-1955).

PSMS Medan sendiri sejak dibentuk tahun 1950 cukup berprestasi. PSMS Medan adalah juara sepak bola PON III di Medan (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 28-09-1953). PSMS juga mengalahkan Timnas Philipina di Manila (Het nieuwsblad voor Sumatra, 02-04-1954). PSMS Medan juga bertanding lawan klub dari Austria Grazer AK (Het nieuwsblad voor Sumatram 02-08-1954); melawan Timnas Swedia Kalmar FF (De vrije pers: ochtendbulletin, 22-10-1954). PSMS Medan setelah Kejauaran Antar Pwerserikatan ini akan bertanding di Medan dengan klub dari Swiss, Grasshoppers (Het nieuwsblad voor Sumatra, 08-02-1955).

Dengan modal yang bagus, PSMS Medan yakin menjuarai Kejuaraan Antar Perserikatan yang diadakan tahun 1954. Namun ternyata PSMS Medan merasa dirugikan (oleh waist). PSMS Medan lalu melakukan rapat pada tanggal 7 Januari 1955 dan keputusan yang dibuat dikirim ke PSSI, sebagai berikut: 1. Revisi Keputusan PB PSSI (Head Board of Soccer Association Indonesia) tentang pembentukan kejuaraan Indonesia 1954 pada kongres khusus PSSI pada bulan April 1955; 2. Bahwa wasit Van Yperen, sadar atau tidak sadar melakukan kesalahan, maka dia harus diskors dari korps wasit PSSI; 3. PSSI harus membentuk komite disiplin untuk wadah jika melakukan protes; 4. Manual untuk manajemen pertandingan dan wasit pertandingan kejuaraan PSSI harus direvisi (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-01-1955)..     

Sejarah Sepak Bola Awal di Beberapa Kota

Sebagaimana sepak bola di masing-masing perserikatan merupakan warisan dari sepak bola sejak era kolonial Belanda, sesungguhnya sepak bola di Medan cukup disegani di Nederlandsch Indie (baca: Indonesia). Sebagai misal, Timnas yang dibentuk untuk Piala Dunia tahun 1938 adalah gabungan seleksi pemain perserikatan (bond) di Jawa (West Java, Midden Java dan Oost Java) di bawah NIVU. Ketika try-out terakhir di Medan (sebelum berangkat ke Rheim, Prancis) 30 April di Medan Timnas versi NIVU ini dikalahkan oleh Tim Medan dengan skor 4-2. Tim Medan inilah yang menjadi cikal bakal PSMS Medan.

Sejarah sepak bola Indonesia sejatinya bermula di Medan. Pada tahun 1894 dilaporkan ada pertandingan sepakbola antara kesebelasan Deli dengan tim dari Penang di lapangan Esplanade (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 02-01-1894). Lapangan Esplanade kini menjadi Lapangan Merdeka Medan. Di Soerabaja kapan pertandingan sepak bola di mulai agak sulit terdeteksi. Namun ada berita yang diduga sebuah pertandingan di Soerabaja tahun 1897 diadakan di aloon-aloon (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-01-1897). Berita ini diperkuat oleh adanya tim Soerabaja melakukan pertandingan ke Malang (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 01-06-1898). Di Malang sendiri baru ada pertandingan pada tahun 1898 ini.  Di Batavia pertandingan sepak bola perdana diselenggarakan antara tim Nimmer Vermoeid vs Trapper pada hari Minggu 27 Februari 1898 pukul lima sore di Koningsplein di Gang Scott (sudut lapangan Moanas sekarang deka patung kuda). Berita ini diiklankan di surat kabar Bataviaasch nieuwsblad mulai edisi 26-02-1898. Sementara di Bandoeng, De Preanger-bode (31-03-1904) melaporkan hari Minggu tanggal 2, pukul lima sore ada pertandingan sepakbola yang dilakukan anak-anak Bandoengsche melawan Bataviasch Voetbal Club (BVC)  di Pietersplein atau Pieters Park (kini taman Balai Kota). Sedangkan di Semarang, pada tahun 1906 diadakan pertandingan segitiga antara Hippies Sport Vereeniging di Pontjol, Go A Head dan tim dari Semarangsch Voetbal Vereeniging (lihat Soerabaijasch handelsblad, 07-03-1906). Pada tahun 1908 di Padang dilaporkan terdapat sebanyak 17 tim sepakbola (Soerabaijasch handelsblad, 04-01-1908). Tim-tim sepak bola itu menggunakan lapangan Plein van Rome (Gereja Katolik Roma) di Alang Lawas yang memiliki empat lapangan sepakbola yang berdampingan yang kualitasnya terbilang baik.

Inggris dan Belanda adalah awal sepak bola modern. Di Belanda sendiri baru dibentuk Asosiasi (perserikatan) Sepak Bola Amsterdam tahun 1879. Tahun 1893 muncul pengaturan hasil pertandingan diantaranya nilai bagi kemenangan dengan nilai dua. Musim baru 1893/94 dimulai dengan 6 klub kelas satu, Haarlem, Amsterdam, Den Haag, Rotterdam dan Wageningen; 4 kelas kedua Rotterdam, Amsterdam, Haarlem dan Gooi. Kompetisi untuk asosiasi masih terlihat terlalu lemah untuk kelas dua. Sistem kompetisi juga berlanjut di Timur (Belanda). Sedangkan federasi (KNVB) baru dibentuk tahun 1889 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 01-06-1898).

Di Nederlandsc Indie (baca: Indonesia) demam sepak bola cepat menyebar, paling tidak sudah ditemukan di Medan antara Deli dan Penang tahun 1894. Lalu kemudian terdeteksi di Soerabaja, Batavia, Bandoeng dan sebagainya. Agen-agen sepak bola ini di Nederlandsc Indie adalah para pemuda yang sebelumnya aktif bermain bola di Belanda kemudian merantau ke berbagai kota Nederlandsc Indie untuk bekerja (pemerintah atau swasta). Mereka inilah yang membentuk kesebelasan-kesebelasan tersebut. Mereka bermain tengah kota sore hari pulang kerja. Dari sinilah orang-orang Tionghoa dan pendududuk asli (pribumi) tertular dan terjadi demam sepakbola. Hal ini karena menarik dan mudah dilakukan dan kapan saja.

Java-bode, 13-01-1897
Buku panduan sepak bola sendiri di Nederlandsc Indie (baca: Indonesia)  sudah beredar sejak tahun 1895 berjudul Athletiek en Voetbal. (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-02-1895). Buku tersebut ditulis oleh W Muller yang dapat dibeli di toko-toko. Buku ini menyajikan sejarah permulaan, aturan lapangan dan aturan permainan dan aturan kompetisi yang disertai gambar-gambar dan hasil-hasil kompetisi di Belanda (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 01-06-1898).

Si Oranye VIOS (Jakarta) vs Si Biru Sidolig (Bandung), 1927
Dari gambaran ini dapat diduga bahwa sepak bola di Indonesia (baca: Nederlandsch-Indie) demam sepak bola tidak terlalu jauh perbedaan waktu jika dibandingkan di negara asalnya di Eropa (Inggris dan Belanda). Banadingkan dengan Manchester United baru didirikan tahun 1920. Sementara di Batavia sudah berdiri klub VIOS juga pada tahun 1902. Klub VIOS dengan julukan De Orange adalah cikal bakal Persija yang sekarang. Dan sudah barang tentu (boleh jadi) sepak bola di Indonesia lebih dulu berkembang jika dibandingkan dengan negara-negara Amerika Latin. Dan Asia Tenggara sendiri adalah yang pertama di Asia tumbuhnya sepak bola dibanding negara lain di Asia sebagaimana sudah terdeteksi tahun 1894 di Medan pertandingan kesebelasan Deli (Belanda) dan kesebelasab Penang (Inggris).

Rivalitas PSMS Medan dan Persidja Djakarta Dimulai 1954
.
Java-bode, 16-08-1955
Aneh tapi nyata beberapa bulan kemudian PSMS Medan mengundang tamu dari Burma. Namun kesebelasan dari Burma itu adalah tim kombinasi (semacam tim Nasional). Untuk menghormati tamu, PSMS juga melakukan kombinasi dengan menggandeng Persidja. Pertandingan tersebut dimainkan di stadion Teladan di Medan dalam rangka perayaan ulang tahun Asosiasi Sepak Bola Medan dan perayaan ulang tahun kesepuluh Republik Indonesia. Pertandingan ini dilaporkan dengan saksi mata oleh RRI (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-08-1955).

Tim Burma dapat dikalahkan dengan skor 5-2. Ssusunan pemain tim kombinasi PSMS / Persidja: Freddy Davis (Djakarta) Rasjid (Medan), Him Tjiang (Jakarta), Ramelan (Medan), Kiat Sek (Jakarta), Liong Houw (Djakarta), Djamiat (Djakarta), Sjamsuddin (Medan), Ramli (Medan), Jusuf Siregar (Medan) A. Kadir (Medan). Gol dihasilkan oleh Abdul Kadir dengan sontekan (menit 26) dan gol tembakan keras dari jauh oleh Jusuf Siregar (menit 36). Gol berikutnya Sjamsudin dan Djamiat. Gol terakhir oleh Jusuf Siregar.

Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 20-08-1955
Empat hari kemudian di Stadion Teladan Medan, justru yang bertemu adalah PSMS Medan melawan Persidja. Pertandingan ini dipimpin wasit Burma, Paul Then. Hasil pertandingan PSMS Medan mengalahkan Persidja dengan skor 6-3. Ini seakan revans terhadap Persidja yang mengalahkan PSMS pada Kejuaraan Antar Perserikatan (Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 20-08-1955).

Ini sulit menduga skenario apa. Yang jelas pertandingan di Medan ini adalah inisiatif PSMS Medan. PSMS merencanakan kombinasi dengan pemain Persidja untuk melawan kombinasi Burma dan kemudian antara PSMS dan Persidja dilakukan pertandingan dengan wasit dari Burma (wasit netral). Hasilnya PSMS mampu mengalahkan Persidja dengan 6-3. Revans inikah yang diinginkan oleh PSMS Medan? Lantas apakah Persidja telah terperangkap dalam jebakan PSMS yang tidak puas dari hasil Kejuaraan Antar Perserikatan yang baru lalu?



*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar