Laman

Senin, 20 November 2017

Sejarah Semarang (7): Situs Tertua di Kota Semarang, Masjid Agung Kauman, Pasar, Alun-Alun dan Kraton Bupati Semarang

Untuk melihat semua artikel Sejarah Semarang dalam blog ini Klik Disini


Semua telah berubah dan semua telah mengalami relokasi kecuali satu situs, yakni lokasi masjid kuno yang kini lebih dikenal sebagai Masjid Agung Kota Semarang. Lokasi masjid tua Semarang ini sudah terdeteksi keberadaannya pada era VOC. Situs lain di area masjid ini adalah rumah Bupati Semarang, alun-alun, kauman (lingkungan warga Islam) dan pasar. Masjid Tua Semarang atau Masjid Agung Kauman Semarang kini dengan posisi GPS berada di hook Jalan Alun-Alun Barat dan Jalan Pasar Johar.

Peta Kota Semarang, 1741
Area orang-orang Eropa/Belanda di era VOC telah mengalami relokasi. Demikian juga kampement Tionghoa telah direlokasi. Perkampungan orang-orang Moor dan Arab juga telah mengalami relokasi. Yang tidak mengalami relokasi adalah perkampungan penduduk asli (pribumi) Jawa dan perkampungan Melayu. Di perkampungan Jawa inilah satu-satunya situs yang terdeteksi di era VOC. Saat itu, keberadaan Bupati memang sudah dilaporkan tetapi tidak terdeteksi dimana rumah Bupati. Satu situs lagi yang terdeteksi saat itu adalah keberadaan Klenteng Tionghoa. Situs masjid dan situs klenteng dipisahkan oleh sungai Semarang. Klenteng Tionghoa ini diduga adalah Klenteng Sam Poo Kong. Keterangan Peta 1741: A. Kastis, B. Area Eropa; 20. Klenteng di area Tionghoa, 21. Masjid di area perkampungan asli (Jawa), 22. Perkampungan Melayu, Moor dan Arab.

Dengan mengacu pada dokumen kuno, peta-peta yang dibuat pada era VOC dengan membandingkan situasi dan kondisi di lokasi tersebut pada era digital ini, hanya situs masjid yang tetap berada di tempatnya. Ini mengindikasikan bahwa situs masjid kuno Semarang yang tidak lain adalah lokasi Masjid Agung Kauman Semarang dapat dikatakan (satu-satunya) adalah situs tertua di Kota Semarang. Situs penting di sekitar adalah benteng (casteel) Semarang, namun situs ini di awal era Pemerintahan Hindia Belanda sudah dibongkar.

Kraton dan Masjid

Rumah Bupati yang juga sekaligus berfungsi sebagai pusat pemerintahan disebut Kraton. Penggunaan nama kraton mengikuti terminologi untuk sebutan kediaman raja/sultan. Rumah Bupati Semarang menurut Peta VOC 1719 berada di arah hulu sisi barat sungai Semarang. Pada peta ini disebut Dalam yang diduga adalah rumah Bupati atau Kraton. Lokai Dalam ini letaknya tidak jauh dari Rumah Ibadah (Javaasch Tempel). Di seberang sungai Semarang diidentifikasi Sinood Quartiar. Pada Peta 1741 lokasi Javaasch Tempel diidentifikasi sebagai Masigit (Masjid Kaoeman?) dan lokasi Sinood Quartiar diidentifikasi sebagai Chineese Klenteng (Klenteng Sam Poo Kong?).

Peta tertua Kota Semarang, 1719
Lokasi dimana disebut Dalam terdapat empat situs. Pada persil pertama terdapat tiga situs yang diduga bagian dari Rumah Bupati dan pada persil kedua hanya terdapat satu situs yang diduga sebagai pusat pemerintahan (kantor). Di lahan perkarangan Bupati terdapat kebun kopi. Sebuah kebun kopi yang diduga telah diintroduksi oleh VOC. Kebun kopi ini diduga kebun kopi pertama di Semarang.

Area sebelah barat sungai Semarang yang berpusat pada Dalam dan Masigit adalah desa penduduk asli (pribumi) Jawa, sementara di hilir desa Jawa terdapat kampement (perkampungan) orang-orang Melayu, Moor dan Arab. Sedangkan area sebelah timur (berseberangan) sungai Semarang yang berpusat pada Klenteng Tionghoa adalah perkampungan warga pendatang (migran) Cina. Secara epistemologis, komunitas pertama di Semarang (sepanjang DAS Semarang) adalah Desa Jawa, kemudian disusul perkampungan Melayu/Arab dan disusul kemudian perkampungan Tionghoa. Eksistensi ketiga komunitas ini menjadi dasar munculnya koloni VOC/Belanda sejak 1708 yang berpusat di benteng (casteel) yang lokasinya mengambil posisi di hilir perkampungan Tionghoa. Sejak kehadiran VOC/Belanda di DAS Semarang, kerjasama VOC dengan Bupati, kopi mulai diintroduksi.

Pasar dan Aloon-Aloon

Peta 1875 (Kantor Residen, Rumah Bupati dan Alun-Alun)
Pasar belum teridentifikasi pada Peta Semarang 1719. Baru pada Peta Semarang 1741 pasar teridentifikasi. Hal ini diduga karena pusat transaksi sebelumnya berada di sepanjang pinggir sungai. Pasar yang diidentifikasi dekat Dalem (kraton) dan masjid yang diduga lokasi Pasar Djohar yang sekarang. Pasar ini diduga berkembang setelah orang-orang Moor/Arab memisahkan diri dari perkampungan Melayu di hilir [Melayu dalam hal ini adalah pribumi non Jawa termasuk Riaow, Bandjar Bugis, Madura yang beragama Islam, sedangkan Moor adalah orang-orang laut Tengah yang beragama Islam yang dibedakan dengan orang-orang (Jazirah) Arab].

Aloon-Aloon Semarang, 1880
Pada nantinya orang-orang Moor di sekitar masjid, VOC dipisahkan dari perkampungan Jawa dan menempatkannya di seberang sungai menempati perkampungan Tionghoa. Sementara orang-orang Tionghoa direlokasi ke sisi barat sungai Semarang di hulu perkampungan Jawa. Hal ini diduga karena orang-orang Cina pada tahun 1741 melakukan pemberontakan (yang diduga adanya ekses pembantaian orang-orang Cina oleh militer Belanda di Batavia tahun 1740). Eks perkampungan Tionghoa yang menjadi perkampungan (baru) menjadi area komunitas Moor yang disebut Pakadjan/Pekodjan.   

Masjid dan alun-alun Semarang, 1890
Di area kauman (sekitar masjid) diduga telah berkembang pasar. Suatu lokasi bertemunya semua komunitas untuk urusan transaksi dagang, yang mana sebelumnya transaksi dilakukan berada di (sepanjang) pinggir-pinggir sungai. Pasar ini (sekitar kauman dan masjid) lambat laun menjadi (pusat) pasar. Seiring dengan perkembangan pasar, persil lahan yang menjadi ‘kantor bupati’ Semarang diubah menjadi aloon-aloon kota. Sedangkan kebun kopi yang ada di halaman rumah bupati (kraton) difungsikan sebagai lokasi pasar yang lebih luas (menggantikan pasar di kauman) yang mana pasar baru ini kelak dikenal sebagai Pasar Djohar.

Dalam perkembangan lebih lanjut area Eropa/Belanda juga mengalami pertumbuhan sehingga diperluas ke seberang sungai di sisi barat sungai Semarang. Lokasi yang dipilih (ditentukan) adalah area antara desa (perkampungan) Jawa di kauman dengan perkampungan Melayu di arah pesisir. Situs pertama yang dibangun di area Eropa/Belanda yang baru ini adalah kantor Residen Semarang (yang kelak menjadi rumah Gubernur Semarang). Sejak itulah dibangun jembatan permanen yang menghubungkan sisi timur dan sisi barat di atas sungai Semarang yang lokasinya tepat berada di dekar kantor Residen.

Situs-situs kuno Semarang ini masih terlihat pada masa ini. Dari beberapa situs kuno di Kota Semarang hanya situs menjadi yang dapat dianggap eksis sejak doeloe hingga ini hari. Situs masjid ini tidak berubah meski situs-situs yang lain pernah mengalami relokasi di Semarang. Relokasi adalah bagian dari perkembangan dan upaya pengembangan kota yang disesuaikan dengan perencanaan (planologi) kota oleh pemerintah VOC maupun Pemerintah Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Hal serupa ini kelak terjadi di Kota Bandoeng, Kota Buitenzorg (Bogor), Kota Padang dan Kota Medan.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar