Sejarah Kota Padang (9): Ini Riwayat Keluarga Intveld di Padang, Nenek Moyang PM Kanada J. Trudeau; Gadis Nias Jelita

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


PM Kanada, Justin Trudeau (foto Liputan 6)
Beberapa hari yang lalu dari Australia terungkap bahwa Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau memiliki garis keturunan dari Kota Padang. Disebutkan nenek moyang Justin Trudeau di Kota Padang bermarga Intvelt dan wanita seorang Nias. Ini menarik, karena Justin Trudeau banyak dibicarakan karena perdana menteri terganteng di dunia. Juga disebutkan, nenek moyang Perdana Menteri Kanada ini masih sangat sulit dilacak. Artikel ini coba menelusuri siapa nenek moyang Justin Trudeau di Kota Padang. Penelusuran ini didasarkan pada surat kabar dan majalah berbahasa Belanda sejaman (1700-1900), foto, peta dan buku. Mari kita lacak.

Keluarga Intveld di Kota Padang

Pada tahun 1819 Inggris menyerahkan Kota Padang kepada Belanda setelah sejak 1795 mendudukinya. Peralihan kekuasaan kepada Belanda dari Inggris, di Kota Padang banyak orang-orang Inggris yang bekerja untuk Pemerintah Hindia Belanda. Hal serupa ini juga terjadi sebelumnya, ketika Inggris berkuasa di Jawa (1811-1816), orang-orang Belanda banyak yang bekerja untuk Inggris di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles. Singkat kata: yang bertikai adalah pemerintah, para pengusaha dan professional bekerja mengikuti siapapun yang menjadi penguasa (pemerintahan).

Ketika Pemerintah Hindia Belanda memulai pemerintahan di Residentie Sumatra’s Westkust dengan ibukota Padang tahun 1821, pemerintah merekrut sejumlah professional untuk bekerja di dalam pemerintahan yang baru. Pejabat-pejabat tersebut hampir sebagian besar adalah nama-nama Inggris yang ditempatkan di Tapanoeli (kini Sibolga), Baros, Pariaman, Air Bangie, Pariaman dan Padang. Nama-nama Belanda hanya muncul sebagai pemimpin utama dan komandan militer. Dari nama-nama pejabat yang direkrut terdapat sejumlah nama dari marga Intveld. Penulisan marga Intveld saling tertukar dengan Indvelt, Intvelt, dan In'tveld..

Sejarah Kota Padang (8): Metropolitan Pertama Luar Jawa; Kopi Mandailing Harga Tertinggi Dunia, Mr. WA. Hennij

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Kota Padang sejak 1834 adalah ibukota Province Sumatra’s Westkust. Secara bertahap Kota Padang juga menjadi ibukota Residentie Padangsche Benelanden, Residentie Padangsche Bovenlanden dan Residentie Tapenoeli. Ini dengan sendirinya Kota Padang akan semakin tumbuh dan berkembang pesat. Ekonomi kopi menjadi ‘garansi’ pembiayaan pembangunan di Province Sumatra’s Westkust. Denyut nadi pembangunan wilayah Pantai Barat Sumatra berpusat di Kota Padang.

Gudang kopi di Kota Padang (foto 1860)
Koffiecultuur yang dimulai di Padangsche Bovenlanden, perhatian pemerintah pusat (Batavia) semakin intens sejak 1834 (dengan meningkatkan status Sumatra’s Westkust dari residentie menjadi province) yang dengan sendirinya mengangkat seorang gubernur (kali pertama) . Penerapan koffiestelsel mengikuti program sejenis yang telah berhasil diterapkan di Preanger (1830). Peningkatan permintaan kopi dunia menjadi salah satu sebab mengapa Pemerintah Hindia Belanda sangat bernafsu dari West Java untuk melakukan ekspansi ke Sumatra’s Westkust. Pemerintah Hindia Belanda telah banyak kehilangan resources akibat Perang Djawa dan mandeknya ekonomi gula. Singkat kata pemerintah butuh recovery dan membutuhkan sumber pendapatan baru. Meski ada halangan ketika melirik Sumatra’s Westkust (Padri), itu tidak menjadi soal lagi. Hal ini karena Perang Jawa sudah mulai mereda. Kekuatan militer di Jawa sudah dapat dialihkan ke Sumatra’s Westkust untuk membuka ruang pengembangan ekonomi ekonomi kopi.

Pada saat mulai ekspansi besar-besaran di Sumatra;s Westkust, dengan menempatkan seorang gubernur di Kota Padang, situasi dan kondisi Kota Padang sudah sejak lama tidak mengalami perubahan yang berarti. Kota Padang hanya berpusat di sekitar muara sungai Batang Arau. Loji yang telah dibangun sejak dua abad sebelumnya (era VOC) hanya itu-itu saja. Pertambahan bangunan, rumah, kantor, militer dan situs lainnya hanya berada disepanjang sungai Batang Arau.