Laman

Minggu, 21 Januari 2018

Sejarah Bandung (41): Pertandingan PSMS Medan vs Persib Bandung Mengapa Disebut Pertemuan El Clasico Sejati di Indonesia?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Beberapa menit lagi akan dilakukan kick-off antara Persib Bandung vs PSMS Medan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung dalam babak penyisisihan grup Piala Presiden 2018. Seorang pembaca dari Semarang sore tadi mengirim email menanyakan mengapa akhir-akhir ini pertandingan Persib Bandung va PSMS Medan dinobatkan sebagai pertandingan El Classico di Indonesia? Pembaca tersebut sebelumnya telah membaca Sejarah Sepak Bola di Semarang yang dimuat dalam blog ini.

Persib vs PSMS: Final Kejuaraan Nasional di Stadion Senayan, 1985
Sambil menunggu kick-off dan selama jalannya pertandingan antara PSMS vs Persib saya akan coba mengkompilasi pertemuan kedua tim (sejak era kejuaraan perserikatan) dan pertemuan kedua klub (sejak era liga Indonesia). Mungkin pertanyaan tersebut sedikit dapat dijawab, tetapi semoga itu dapat membantu. Artikel ini seyogianya dilihat sebagai rangkaian sejarah sepak bola di Indonesia. Dalam blog ini juga telah diupload artikel tentang sejarah sepak bola di Medan, di Bandung, di Jakarta, di Semarang, di Surabaya, di Padang dan di Makassar.

Pada malam ini PSMS dan Persib kembali lagi untuk bertemu untuk yang ke-54 kali sejak Persib Bandung dan PSMS Medan bertemu pertama kali pada tahun 1952. Kedua tim perserikatan teresebut bertemu dalam kejuaraan perserikatan. Lantas apa spesialnya pertemuan Persib Bandung dan PSMS Medan pada malam ini. Mari kita lacak sejarah pertemuan kedua tim/klub legendaris ini.

Pertemuan Persib Bandung dan PSMS Medan yang tercatat dalam sejarah sepak bola dunia adalah pada Final Kejuaraan Nasional Perserikatan tahun 1985 di Stadion Senayan Jakarta. Dalam pertandingan ini PSMS mengalahkan Persib dengan skor 3-2 dalam adu finalti. Saya sendiri memiliki memori terhadap pertandingan ini karena saya hadir di stadion Senayan sektor timur lantai atas (kubu suporter PSMS Medan). Untuk membantu saya menonton pertandingan di lapangan saya juga membawa radio untuk mendengar siaran langsung pandangan mata yang disiarkan oleh RRI. Para penyiar waktu itu tiga orang adalah Sambas, Syamsul Muin Harahap dan Abraham Isnan. Kombinasi pandangan mata (saya) dan pendengaran telinga (dari radio) memang terbukti tampak bagaimana hebohnya pertandingan tersebut baik situasi dan kondisi di lapangan (antar pemain) maupun suasana di tribun (para penonton). Jumlah penonton diperkirakan sebanyak 150.000 orang hingga sampai ke pinggir lapangan (lihat foto).

Kala itu, saya sendiri sesungguhnya bukanlah suporter PSMS, justru saya suporter Persib. Mengapa? Saya sudah tinggal di Bogor sejak 1983 dan memiliki KTP Kota Bogor. Ketika terjadi babak penyisihan grup 1985, ketika nonton bareng di RT001 RW006, saya didaulat Pak RT menjadi suporter PSMS. Saya yang satu-satunya warga asal Sumatera Utara di RT itu mau tak mau menerimanya. Padahal saya sendiri bukan suporter PSMS, karena saya belum pernah sama sekali ke Medan. Saya adalah BTL. Karena saya pemilik KTP Bogor maka saya memilih menjadi suporter Persib. Pak RT berkehendak lain, jadilah saya menjadi suporter PSMS. Lucunya, jika Persib memasukkan gol saya disuruh diam dan mereka berjingkrak-jingkrak. Akan tetapi jika PSMS memasukkan gol, saya malah diangkat beramai-ramai ke udara dengan teriakan hidup PSMS. Itulah para suporter RT001 RW006 di salah satu kelurahan di Bogor Utara. Suporter Persib membutuhkan suporter PSMS. Hanya dengan begitu, tontonan dan suasana penonton menjadi semangat.

Pada hari final (PSMS vs Persib) saya tidak ikut nonton bareng di RT001 RW006. Sebab, hari Sabtu itu, habis ujian di kampus, empat teman datang ke tempat kos saya mengajak nonton final Persib vs PSMS di Stadion Senayan. Awalnya saya enggan, karena saya punya acara sendiri nonton bareng. Karena didesak oleh teman-teman sekampung itu di pedalaman Tapanuli (kebetulan diantaranya ada dua teman sekampung itu alumni SMA Medan), saya mengalah dan sebelum berangkat lapor dulu ke ketua RT saya dulu bahwa saya absen nonton bareng. Lalu kami berangkat menuju terminal Bogor. Rupanya teman alumni Medan ini sudah menyiapkan spanduk tiga meter lengkap dengan tali di ujung kiri dan kanan atas spanduk sedangkan di ujung kiri dan kanan bawah dikasih pemberat (ait dalam plastik: botol Aqua belum ada toh!). Di luar terminal dekat pangkal jalan tol Jagorawi kami menunggu bis. Kernet bis teriak Cililitan, Cilitatan masih ada bangku kosong, naik-naik. Rupanya terjadi tawar menawar antar kernet bis dengan teman. Sayup sayup saya dengat: mau naikin nggak lima orang, tapi kami pasang sepanduk di belakang bis. Akhirnya kernet bis mengalah. Sementara saya naik dengan dua teman, dua teman yang lain lagi sibuk di belakng bis mengulurkan tali ke teman yang sudah di dalam bis. Tampaknya kernet tidak tahu bunyi kalimat dalam spanduk. Lalu pintu ditutup dan bis mulai masuk jalan tol. Spanduk aman tertambat di belakang bis. Lalu kami duduk manis di barisan bangku paling belakang. Saya mulai khawatir jika ketahuan, tidak hanya kernet yang menurunkan kami di tengah jalan tol tetapi juga penumpang yang lain, ternyata lebih dari separuh penumpang bis adalah suporter Persib dari Bogor. Cilaka! Teman saya kasi kode ke kernet supaya tutup mulut. Bis bernama Lorena tersebut kemudian melaju kencang di jalan tol. Semua penumpang tampaknya tenang. Namun ketika bis mendekati Sentul, penumpang bis yang berada di bis lain yang melewati kami berteriak-teriak ke arah bis kami. Mungkin para penumpang bis-bis lainnya menganggap bis kami sepenuhnya adalah suporter PSMS. Penumpang bis kami dan juga suporter Persib di dalam bis tampak bingung mengapa bis kami diteriakin sepanjang perjalanan oleh bis-bis lain yang datang dari Bandung, Sukabumi dan Cianjur yang notabene adalah suporter Persib. Saya mulai menjadi tidak nyaman. Teman saya bilang, tenang saja lae. Penumpang lain di dalam bis ini tidak ada yang tahu dan hanya kernet yang tahu ada spanduk di belakang bis. Setelah cukup menegangkan sepanjang perjalanan, diteriakin bis lain, akhirnya bis kami sampai di terminal Cililitan. Kami segera turun dan melipat spanduk.

Lalu kami naik bis lain di Cililitan, bis yang dipilih adalah bis jurusan Blok-M yang sepenuhnya diisi oleh penumpang yang merupakan suporter PSMS yang datang dari berbagai tempat. Dari Cililitan bis berangkat menuju Blok M via Semanggi dan turun di Senayan. 

Tampaknya akan terjadi situasi dan suasana yang mirip tahun 1985 di stadion Senayan dengan yang segera berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api malam ini. Selamat menonton El Clasico.

Pertemuan Persib Bandung vs PSMS Medan: Sejak 1952

Pertemuan pertama tim Bandung (Persib) dengan tim Medan (PSMS) terjadi pada tahun 1952 dalam kejuaraan nasional perserikatan. Pertemuan pertama Persib dengan PSMS ini berlangsung di Bandung. Dalam pertandingan ini Persib mengalahkan PSMS dengan skor 4-2. PSMS sendiri baru didirikan tahun 1950. Sebelum berangkat ke Jawa, termasuk melawan Persib di Bandoeng, PSMS sudah melakukan persiapan yang intensif termasuk mengalahkan klub kuat dari Djakarta, Chung Hua (Het nieuwsblad voor Sumatra, 09-07-1952).

Pada tahun 1950 sebagai awal PSSI memulai kejuaraan nasional, masih terbatas di Jawa, mempertemukan juara dari Jawa Barat (Bandoeng dan Djakarta), Jawa Tengah (Solo, Djogjakarta dan Semarang); dan Jawa Timur (Soerabaja, Malang). Pada tahun 1951 kejuaraan diperluas dengan menyertakan juara dari Sulawesi (Makassar). Pada tahun 1952 kejuaraan nasional diperluas lagi dengan menyertakan tim dari Sumatra (PSMS Medan), sementara PSM Makassar tidak berpartisipasi (karena masalah keamanan, pemberontakan di Sulawesi). Keikutsertaan PSMS Medan besar kemungkinan karena pemerintah Sumatera Utara beribukota di Medan baru terbentuk tahun 1952. Gubernur Sumatera Utara yang pertama adalah Abdul Hakim Harahap dan Wali Kota Medan pertama Alimoeda Siregar.

Pertemuan Persib vs PSMS baru kembali terjadi pada tahun 1955. Pada tahun 1955 Persib mengalahkan PSMS Medan dengan skor 3-1 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-07-1955). Ini untuk kali kedua Persib bertemu dengan PSMS dan Persib memenangkan dua kali pertemuan tersebut.

Pada tahun 1953 Persib tidak berpartisipasi dalam kejuaraan nasional, sementara PSMS tetap ikut berpartisipasi. Persib tidak bisa berpartisipasi karena pada saat itu terjadi suhu politik yang meningkat di Priangan dengan adanya pemberontakan DI/TTI di Jawa Barat. Dalam pertandingan terkahir Persija vs PSMS, tim Medan tidak mau melanjutkan pertandingan karena merasa dirugikan dan PSMS dinyatakan kalah. Akhirnya posisi klassemen akhir (tahun 1954): Persija dengan nilai 10  (Champions) lalu runner up PSMS Medan dengan nilai 8. Urutran selanjutnya adalah Persibaya, Persema Malang, PSM Makassar dan Persis Solo.

Pada tahun kejuaraan 1956/1957 PSMS dan Persib bertemu kembali dalam kejuaraan nasional. Pertandingan dilangsungkan di Bandung yang mana PSMS kalah 1-3 dari Persib (Het nieuwsblad voor Sumatra, 13-07-1957). Ini untuk kali ketiga PSMS kalah dari Persib, namun dalam posisi klassemen PSMS lebih baik dari Persib.

Posisi klassemen terakhir adalah: PSM Makassar dengan nilai 11 (Champions), PSMS Medan dengan nilai 9 (Runner-up, lagi). Urutan berikutnya adalah Persib Bandung, Persidja Djakarta, PSP Padang, Persibaja Surabaja dan Persema Malang (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 30-07-1957).

Pada kejuaraan 1957/1959 PSMS dan Persib bertemu kembali. Pertandingan yang dilangsungkan di Bandung tanggal 30 Agustus berakhir dengan kemenangan 8-1 atas PSMS. Inilah kemenangan terbesar Persib melawan PSMS. Sejauh ini PSMS belum pernah menang melawan Persib. Dalam klassemen akhir Persib duduk sebagai Runner-Up (yang mana sebagai juara adalah PSM).  PSM sendiri berada pada posisi nomor terakhir. Untuk kejuaraan berikutnya PSMS harus melakukan play-off dengan rangking di atasnya dan tim yang promosi. Dalam play-off ini PSMS menjadi juara dari empat kesebelasan dan berhak maju ke puturan terakhir (tujuh besar).

Pada kejuaraan 1959/1961 PSMS yang lolos play-off bertemu kembali dengan Persib. Pertandingan yang dilangsungkan di di Bandung Persib, lagi, lagi mengalahkan PSMS dengan skor 5-3. Posisi dalam klassemen akhir: Persib menjadi Champion dan PSMS duduk di posisi kelima. Pada kejuaraan berikutnya (1964) Persib dan PSMS bertemu kembali (dalam grup barat). Dalam klassmen akhir Persib di rangking 3 dan PSMS di rangking 4. Pada kejuaraan 1964/1965 Persib dan PSMS bertemu kembali. Persib masuk ke partai semifinal. Pada kejuaraan 1965/1966 Persib dan PSMS bertemu kembali. Persib dan PSMS sama-sama masuk ke partai semifinal. Persib menjadi runner-up (kalah di final) dan PSMS duduk di posisi ketiga (menang WO)

Pada kejuaraan tahun 1966/1967 PSMS Medan berbenah diri sehubungan dengan diangkatnya Gubernur Sumatera Utara yang baru, Kolonel Marah Halim Harahap, seorang gibol. Dalam kejuaraan ini untuk kali pertama PSMS mengalahkan Persib dan juga untuk kali pertama PSMS menjadi Champion Kejuaraan Nasional. PSMS butuh waktu 15 tahun untuk mengalahkan Persib dan juga butuh waktu 15 tahun untuk menjadi juara.  

Pada kejuaraan 1966/1967 di semi final, Persib dan PSMS tidak bertemu, tetapi kedua tim ini maju ke partai grand final. Pada partai grand final yang dilangsungkan di Stadion Senayan Jakarta, Persib menyerah 0-2. PSMS untuk kali pertama menjadi Champion kejuaraan nasional

Pada kejuaraan berikutnya (1969/1971) PSMS tidak terbendung, selain PSMS kembali mengalahkan Persib. PSMS maju ke semifinal. PSMS di final bertemu Persebaya. PSMS lalu menjadi Champions. Urutan adalah sebagai berikut: PSMS, Persebaya (Runners-Up) dan ditempat ke-3 adalah Persija dan PSM (ke-4).

Dua tim finalis kejuaraan nasional ini mendapat kesempatan melawan PSV Eindhoven  yang tengah mendangakan lawatan ke Asia Tenggara. PSV menghadapi tim Nasional Malaysia, timnas Singapoera dan timnas Indonesia plus PSMS (14 Juni 1971) dan Persebaya. Salah satu pemain yang kini sangat terkenal dalam lawatan itu adalah Guus Hiddink (lihat Limburgsch dagblad, 17-04-1971). Dalam lawatan ini, PSV mengalahkan Timnas Singapoera dengan skor 13-0 (lihat Limburgsch dagblad, 15-06-1971). Tahun sebelumnya, PSMS, sebagai juara Indonesia tampil di Liga Champions AFC 1970 yang mana prestasi yang diraih berhasil maju ke semi final (namun akhirnya hanya berada di posisi keempat setelah dikalahkan oleh tim dari Iran dan Lebanon).

Pada kejuaraan berikutnya (1971/73) Persib mengalahkan PSMS dengan skor 3-1. Namun dalam posisi klassemen akhir Persija menjadi Champion, di urutan kedua Persebaya dan PSMS di posisi ketiga. Persib berada di posisi keenam. Pada kejuaraan tahun 1973-75 berbeda grup dalam 18 besar. Persib tertahan, PSMS melaju pada fase delapan besar. Di final PSMS bertemu Persija. Setelah skor 1-1 akhirya disepakati Persija dan PSMS juara bersama. Pada kejuaraan 1975/78 Persib dan PSMS berbeda grup di 18 besar maupun pada fase selanjutnya delapan besar. Persib tertahan di delapan besar, sedangkan PSMS melaju ke semi final. Akhirnya Perssebaya juara, Persija runner up dan PSMS juara ketiga.

Pada kejuaraan 1978/79 kompetisi kejuaraan di bagi dua level: Divis-1 (lima besar) dan divisi-2. Persib berada di Divisi-2. Dalam fase lima besar di Divisi-1 dilakukan kompetisi dua putaran. PSMS berhasil menjadi runner up di bawah Persija. Masing-masing dengan poin 11 tetapi PSMS kalah selisih gol dengan Persija. Pada tahun 1980 kejuaraan disebut Divisi Utama (enam besar). Dalam Divisi Utama ini tidak termasuk Persib, sedangkan PSMS dalam klassemen akhir berada pada posisi ketiga. Pada partai Final bertemu Persipura dan Persiraja (peringkat 1 dan 2). Persiraja menjadi juara.

Pada kejuaraan berikutnya tahun 1983 Divisi Utama dibagi dua grup (barat dan timur). PSMS dan Persib berada di grup barat. Pada putaran pertama PSMS mengalahkan Persib dan pada putaran kedua Persib mengalahkan PSMS. Klassemen grup barat PSMS menjadi juara dan Persib runner-up grup barat. Pada babak selanjutnya (empat besar di stadion Senayan) dengan skema setengah kompetisi, Persib menjadi juara dan PSMS menjadi runner-up. Lalu keduanya dipertemukan di grand final. PSMS mengalahkan Persib dengan skor 3-2 adu finalti (setelah sebelumnya kedudukan 0-0).

Final ulangan antara Persib dan PSMS kembali terjadi pada kejuaraan tahun 1985. Kompetisi dimulai dengan pembagian grup barat dan timur. Di Grup barat, pada putaran pertama Persib dan PSMS imbang (2-2) dan pada putaran kedua juga imbang antara PSMS dan Persib (0-0). Pada grup barat juara Persib dan PSMS di peringkat ketiga. Pada babak enam besar (setengah kompetisi), PSMS mengalahkan Persib dengan skor 1-0. Posisi klassemen akhir: PSMS juara dan Persib runner-up. Kedua tim lalu dipertemukan di partai grand final. PSMS mengalahkan Persib dengan skor 2-1 dalam adu finalti (posisi sebelumnya berakhir dengan kedudukan 2-2).

El Clasico: Era Klonial Bandung vs Batavia; Era Masa Kini Persib vs PSMS

Sejak kejuaraan nasional 1983 dan 1985 inilah  pertemuan Persib Bandung dan PSMS Medan mengerucut menjadi rivalitas. Pada pertemuan final tahun 1983 sesungguhnya pertemuan biasa-biasa saja. Namun karena pada kejuaraan tahun 1985 finalis tahun 1983 bertemu kembali. Saat bertemu kembali Persib dan PSMS di final tahun 1985, psikologis penonton Indonesia berubah. Oleh karena kedua tim ini memiliki basis suporter yang kuat dan pertandingan diadakan di Stadion Senayan, maka pertemuan ini menjadi perhatian nasional karena jumlah penonton yang sangat luar biasa: 150.000 penonton hadir di Stadion Senayan. Saat pertemuan final PSMS vs Persib inilah saya diajak teman untuk menonton di Stadion Senayan. Secara tak langsung, yang awalnya enggan hadir, menjadi saksi apa yang disebut pertemuan dua tim rivalitas yang kelak tetap dibicarakan dan mendapat pengakuan sebagai awal pertemuan Persib vs PSMS sebagai pertandingan El Clasico sejati.

Mengapa kini pertemuan Persib dan PSMS disebut pertandingan el clasico sejati? Hal ini karena sejak pertemuan 1985 kedua klub ini, selain telah menjadi rivalitas, juga kedua tim tim mau dikalahkan oleh yang satu dengan yang lainnya. Kisah jumlah penonton yang merupakan rekor penonton Indonesia sepanjang masa menjadi label yang ditambahkan pada pertemuan antara Persib dan PSMS ini. Terbukti nanti, setiap kedua tim ini bertemu kembali, motivasi kedua tim dan fanatisme kedua suporter menjadi berlipat ganda baik penyelenggaraannya di Bandung atau Medan maupu di tempat netral (seperti Stadion Senayan).  

Jumlah penonton yang spektakuler di tahun 1985 inilah sesungguhnya yang menjadi bumbu romantisme pertemuan antara Persib dan PSMS pada pertemuan-pertemuan berikutnya (termasuk pada pertemuan malam ini).

Memang ada rivalitas yang lain selain PSMS vs Persib, seperti Persib vs Persija; Persija vs PSMS, Persib vs Persebaya, Persebaya vs Persija dan Persebaya vs PSMS. Namun diantara rivalitas itu hanya pertemuan Persib vs PSMS yang menjadi selalu manarik dibicarakan karena memiliki romantisme jumlah penonton tahun 1985. Nilai daya tarik di antara dua tim dan dua kubu suporter antara Persib dan PSMS inilah yang menjadikan pertemuan PSMS vs Persib dapat dianggap sebagai pertemuan el clasico sejati.

Disebut el clasico (sejati) karena setiap kedua tim bertemu, tingkat pembicaraan diantara dua kubu sangat intens. Masing-masing sudah memiliki slogan yang menobatkannya sebagai el classico. Persib menganggap boleh kalah dengan tim lain, asal jangan dengan PSMS. Sebaliknya, PSMS menganggap harus menang melawan Persib, tidak apa-apa jika kalah dengan tim lain. Slogan berpasangan ini tidak ditemukan dalam pertemuan rivalitas yang lain. Oleh karenanya pertemuan dua tim disebut el classico sejati, haruslah didasari oleh rivalitas yang hebat antar dua tim, kemudian memiliki slogan baku (ingin saling mengalahkan) dan plus elemen tambahan romantisme jumlah penonton. Elemen-elemen in tidak ada di pertemuan dua tim lain yang bertajuk rivalitas.

Disebut pertandingan el clasico sejati juga karena hanya dua tim Persib dan PSMS yang secara tim memiliki karakter unik. Tim PSMS dan tim Persib terbentuk secara alamiah dari pemain-pemain lokal (setempat). Ini disebabkan dua perserikatan ini sejak dari dulu selalu melahirkan pemain-pemain berkualitas dari wilayah setempat. Karenanya,para pemain sangat cinta tanah air (maksudnya sangat cinta kotanya). Karakter unik ini menjadi bersinergi antara keterampilan teknis dan spirit bertarung. Dua tim inilah yang memiliki karakter unik ini sehingga ketika bertemu para pemain dari masing-masing tim merasa tidak punya utang di tim lawan. Artinya jika PSMS bertemu Persib atau sebaliknya para pemain datang bertanding seakan cash and carry. Meski demikian, perkelahian diantara dua tim  ini di lapangan sangat jarang terjadi. Para pemain hanya berpikir bagaimana untuk menang, dan karena itu tidak terpikir untuk memancing emosi lawan apalagi untuk konfrontasi untuk berkelahi. Para pemain kedua tim sudah merasa cukup hanya wasit yang menilai apakah pelanggaran atau tidak.    

Karakter el classico Persib vs PSMS bahkan masih terlihat pada masa kini. Katakanlah misalnya pada masa lalu para pemain adalah pemain lokal masing-masing tim. Tapi kini, tidak demikian lagi. Ada Supardi atau Gazali Siregar di Persib, sebaliknya di PSMS ada Jajang Sukmara. Akan tetapi karakter tim tidak berubah. Jajang Sukmara mengikuti gaya taktis PSMS, juga Supardi bisa mengikuti gaya teknik Persib. Dengan begitu, apa yang bisa dilihat sekarang bahwa pada hakikatnya tidak ada korelasi siapa yang bermain di dalam tim, tetapi yang berkorelasi adalah tim mana yang sedang dilawan. Singkat kata: faktor el classico pertemuan antara PSMS dan Persib bukan dipengarahui oleh komposisi pemain tetapi lebih pada nama atau bendera tim tersebut.Karakter tim inilah yang tidak berubah sejak dulu hingga kini. Jika kedua tim bertemu bahkan hingga kini, karakter tim inilah yang mengemuka. PSMS harus menang lawan Persib tetapi tidak masalah dengan tim lain, sebaliknya Persib harus mengalahkan PSMS meski kalah dari tim lain. Slogan inilah yang terus hidup di dua tim ini siapapun yang menjadi pemain atau pelatih.  

Rivalitas Persija vs Persib Bukan El Clasico

Dalam grup A Piala Presiden 2018 di Bandung ini ada tiga tim legenda, yakni selain Persib dan PSMS adalah PSM Makassar. Persib Bandung sangat respek terhadap tamunya baik terhadap Sriwijaya maupun  PSMS yang datang dengan menurunkan tim terbaik. Stadion GBLA yang penuh penonton, tim Bandung selalu turun dengan tim terbaik. Sebaliknya, PSM selalu turun dengan pemain lapis kedua. Tim utama PSM sedang melakukan turnamen di Makassar.

Kita tidak mengerti mengapa PSM demikian. Memang, pada waktu yang bersamaan PSM menyelenggarakan turnamen yang dikelola sendiri yang disebut Supercup Asia 2018. Karenanya pemain inti bermain di Makassar dan pemain lapis kedua di Bandung. Hasilnya PSM dikalahkan PSMS dan juga dikalahkan oleh Sriwijaya FC. Padahal sejatinya, pertandingan di Bandung ini secara kualitas lebih baik jika dibandingkan dengan Supercup Asia 2018 di Makassar. PSM menjadi juara setelah mengalahkan klub Kamboja dan klub Singapura. Secara perbandingan, klub yang dikalahkan oleh PSM dari dua negara Asia Tenggara (baca: bukan Asia) jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan tiga klub lawan di Bandung: klub dari Medan, Palembang dan klub dari Bandung. Inilah anomali sepakbola. PSM seakan ingin melempar klub-klub yang berada di utara (Supercup Asia) malah lemparannya justru jatuh ke klub-klub yang berada di selatan (Asia Tenggara) yang kualitasnya dipertanyakan jika dibandingkan dengan kualitas klub Persib, Sriwijaya dan PSMS. Akhirnya tim ayam jantan PSM dari timur keok di Bandung, tetapi berjaya di Makssar menjadi juara. Dalam hal ini PSM ingin menikmati sendiri kemenangan yang dibuatnya sendiri di Makassar sebagai turnamen sendiri ketika semua klub-klub hebat bertarung di pentas nasional Piala Presiden 2018 yang diliput secara nasional (live) yang ditonton semua rakyat Indonesia.

Sesungguhnya apa yang dicari PSM tidak jelas. Padahal di Bandung ada pertandingan El Clasico (pertemuan tiga tim Persib, PSM dan PSMS). PSM dalam hal ini tidak respek. Sebaliknya Persib Bandung dan PSMS sangat respek. Karena itu pertemuan Persib vs PSM atau PSMS vs PSM bukan pertandingan el classico sejati. El classico sejati adalah pertandingan yang sudah ada sejak dulu dan tetap berlaku hingga ini. Tidak tergantung angin, hanya tergantung dengan siapa tim bertemu. Nah, jika PSMS dan Persib akan bertemu dalam situasi dan kondisi apapun keduanya selalu mengusung kemenangan (bukan main-main).

Sejatinya, pertemuan el classico Persib vs PSMS jarang terjadi bentrok atau perkelahian antar pemain. Demikian, juga suporter kedua tim nyaris tidak pernah membuat kerusuhan. Tim dan suporter (Persib vs PSMS) jika menang sangat bersukacita, tetapi jika kalah maka dendam yang muncul. Dendam dalam arti akan mengalahkan lawan yang menang pada pertemuan berikut. Jadi dendam yang dimaksud adalah dendam dalam pertandingan. Karena itu, kedua suporter tidak ada halangan untuk datang pada pertemuan berikutnya. Bahkab suporter Persib nyaman-nyaman saja memasang atribut di stadion Teladan Medan, sebaliknya suporter PSMS di Bandung tanpa ragu datang dengan yel-yel khasnya, misalnya A Sing Sing So.   

Pertemuan tim Persib dan tim PSMS sangatlah unik. Demikian juga antara suporter PSMS dan suporter Persib sangat unik jika berada di dalam satu stadion. Sebagai contoh, pada final tahun 1985 di stadion Senayan, saat Persib mencetak gol, para suporter PSMS di tribun timur atas diam saja sebaliknya hampir seluruh stadion bergemuruh oleh suporter Persib. Sebalinya ketika PSMS menciptakan gol suporter Persib diam dan sebaliknya suporter PSMS meledak. Tapi bukan di situ intinya. Ketika suporter Persib merayakan gol yang terlihat di tribun bawah, suporter PSMS tidak ada yang mengganggu dari atas, semisal melempar bekas minumun ke bawah. Saya bisa saksikan itu, karena saya turut hadir. Yang ada adalah respek. Pada masa ini jika saya perhatikan di televisi, kedua suporter masih menunjukkan respek seperti dulu. Kedua suporter tidak saling mengganggu. Dengan demikian, elemen suporter juga mendukung pertemuan Persib vs PSMS sebagai pertemuan el classico sejati.

Harian Kompas edisi MInggu 24 Februari 1985
Lantas mengapa suporter PSMS menggema di dalam stadion padahal suporter PSMS tidak banyak dan hanya terdiri dari tiga sektor di tribun timur bagian atas? Mungkin teorinya begini: Tiga sektor itu berada persis di tengah tribun timur bagian atas. Di luar tiga sektor itu umumnya suporter Persib. Ini dapat diamati jika Persib menciptakan gol, seluruh stadion menggema yang mana tampak suporter Persib berdiri mengangkat tangan kegirangan, sementara suporter PSMS duduk terdiam. Sebaliknya, saat PSMS menyarangkan bola, suporter PSMS di tiga sektor atas meloncat sambil berteriak histeris sepuas-puasnya. Meski suporter relatif sedikt lalu mengapa begitu menggema di seluruh stadion? Hal ini karena teriakan histeris itu berasal dari bagian atas stadion yang berada di tengah-tengah stadion (jadi terjadi echo) yang merupakan jarak terdekat ke posisi ruang hampa di atas lapangan. Jika posisi suporter PSMS dipindah misalnya ke belakang gawang, teriakan suporter PSMS akan lebih tertelan karena ada space yang lebih luas. Gema ketika menyanyikan yel-yel A Sing Sing So menjadi terdengar lebih menggema lagi karena yel-yel itu sendiri nadanya memang berat apalagi diulang-ulang. Oleh karenanya, posisi dan nada berat yang diulang menimbulkan efek resonansi berganda (apalagi semakin malam udara semakin dingin, tekanan udara akan memantulkan kembali suara ke bumi). Satu hal lagi yel-yel ini dinyanyikan secara spontan dengan koor yang kompak (seirama). Itulah mengapa gema suporter PSMS dan gema suporter Persib nilai desibelnya relatif hampir sama tingginya (meski jumlah suporter berbeda jauh). Padahal saat itu belum dikenal soporter membawa alat-alat pengeras suara ataupun drum. Praktis hanya mengandalkan suara nyanyian. Anggaplah itu sebagai dukungan paling efisien. Esok paginya, harian Kompas, tanpa malu-malu mengakui dengan mengutip yel-yel A Sing Sing So sebagai judul headline-nya. Paling tidak hal itu yang saya rasakan saat itu. Idem dito di bis yang kami tumpangi dari Bogor: dengan hanya lima suporter PSMS dikira suporter Persib seisi bis kami adalah suporter PSMS

Antara suporter Persib dan PSMS sebagaimana dulu jelas saling membutuhkan. Kehadiran dua kubu suporter di dalam stadion justru jauh lebih penting jika seluruh sudut stadion hanya dipenuhi oleh satu kubu suporter saja. Kehadiran dua kubu suporter di dalam stadion justru para suporter lebih bersemangat dalam menonton. Itulah yang terjadi pada masa lampau. Pada masa ini ada kesan masing-masing kubu suporter tidak mumbutuhkan suporter lain hadir di stadion. Ada sesuatu yang hilang pada msa ini. Kubu suporter Persib tidak membutuhkan suporter Persija, sebaliknya kubu suporter Persija tidak membutuhkan suporter Persib. Hal ini juga terkesan antara dua kubu suporter Persebaya vs Arema saling tidak membutuhkan. Apa yang salah? Sudah waktunya semua kubu suporter sepak bola Indonesia bersedia berbagi di dalam satu stadion. Stadion adalah milik bersama baik saat kandang maupun tandang.

Sportivitas dalam El Clasico

Dunia telah berubah,dunia sepakbola juga telah berubah. Sepakbola untuk sport telah bergeser menjadi sepak bola untuk industri. Sepakbola amatir juga telah bertransformasi menjadi sepak bola profesional. Dalam dunia sepakbola modern, kemenangan adalah syarat perlu, tetapi syarat cukupnya adalah sportvitas. Artinya kemenangan yang diraih harus dengan cara yang sehat: tidak ada pengaturan, tidak ada intimidasi sebelum dan sesudah pertandingan, tidak ada teror selama dalam pertandingan; dan tidak ada lagi komplein (mogok main) dan tidak ada lagi banding (semua berakhir di lapangan).

Profesionalisme dalam sepakbola adalah pemenuhan hak dan kewajiban. Jika semua pemain dan pelatih dapat gaji sesuai kinerjanya dan semua klub untung sesuai kinerjanya, maka semua suporter puas menonton. Tidak ada lagi sikap-sikap amatir yang pemain dan pelatih tidak terbayar dan klub buntung. Profesionalisme dalam sepakbola memungkin pelatih dan pemain berpindah dengan nyaman ke klub yang menjadi lawan. Dengan demikian, pemain dan pelatih dihargai haknya, klub bebas menentukan siapa pemain yang diturunkan dalam pertandingan. Sebagai contoh: Pelatih Djadjan Nurdjaman, eks pelatih Persib dengan nyaman menjadi pelatih PSMS, demikian juga dengan pemain seperti eks pemain Persib Jajang Sukmara yang menjadi bagian dari tim PSMS. Juga sebagai contohL dua eks pemain pilar PSMS tahun 2007 menjadi kapten tim: Legimin Rahardjo di PSMS Medan dan Supardi di Persib Bandung. Jika profesionalisme ini mekar dalam sepakbola maka para penonton juga bergetar dalam melihat dalam pertandingan sepakbola.Semua stakeholder sepakbola hanya melihat satu: sportivitas dalam sepakbola (pemain bermain dengan tenang, penonton datang dengan nyaman).  

Jika kesadaran ini terus meningkat dan menjadi melembaga, maka semua pertandingan adalah tontonan. Tidak ada lagi el clasico parsial (bilateral) tetapi semua pertandingan adalah El Officio (pertandingan yang diekspektasi) yang mana setiap pertandingan yang ditunggu adalah pertandingan yang menarik ditonton.

Breaking news (media): Pada minggu pertama (hari Pembukaan Piala Presiden 2018) Panpel hanya mendapat masukan penjualan karcis sekitar Rp 1,3 Miliar. Jumlah ini telah meningat pada minggu kedua (kala Persib bertemu PSMS) Panpel menerima pemasukan sekitar Rp1,7 Miliar.

Tidak ada lagi yang membedakan antara satu pertandingan dengan pertandingan  lain. Tidak lagi pertandingan baru seru dan banyak penonton pada saat El Clasico tetapi juga terjadi pada semua pertandingan. Situasi semacam ini adalah puncak prestasi industri sepak bola. Semua pemain dan pelatih dihargai, semua pertandingan ditonton, semua klub untung, semua penonton menikmati tontotan.

El Classico PSMS dan Persib telah bertransformasi menjadi El Officio; rivalitas dalam pertandingan sudah menjadi model dalam sepakbola modern. Bertanding dengan semangat, penonton menjadi antusias. Ke depan, model pertandingan PSMS dan Persib menjadi rujukan bagi semua pertandingan: Fair Play (Profesional dan Sportivitas).

Persib vs PSMS: Model El Clasico Sejati di Indonesia

Pertandingan PSMS vs Persib yang baru saja kita soroti terbukti sebagai pertandingan yang enak ditonton. Jangan lupa: pertandingan itu tidak hanya ditonton oleh suporter Persib dan PSMS tetapi juga ditonton oleh suporter klub lain di Indonesia. Boleh jadi telah ditonton oleh suporter klub-klub di luar Indonesia.

Hasil pertandingan Persib vs PSMS berakhir dengan skor 0-2. Eks pelatih mengalah klub lamanya, eks pemain mengalahkan klub lamanya. Sebaliknya PSMS bermain dengan tenang dan spartan tanpa ganguan, Jajang Sukmara bermain dengan dedikasi tinggi, baik terhadap klubnya yang baru (PSMS) maupun dihadapan teman-temannya sendiri (pemain PERSIB) dan bahkan dihadapan kerabat dan keluarganya yang hadir di stadion. Demikian, juga Djanur mengapresiasi timnya hanya seperlunya, senyum dan tepuk tangan dengan tetap di bangkunya. Tidak berlebihan, hanya seperlunya untuk menunjukkan kegembiraan.

Pertandinag PSMS vs Persib tersebut nyaris tanpa cela. Suporter PSMS hadir di tribun khusus tanpa ada gangguan dari suporter Persib. Di tengah lapangan tidak ada kejadian bentrok antar sesama pemain. Suporter Persib memberi respon positif selama pertandingan: mendukung timnya dan tidak ada reaksi negatif terhadap pelatih dan pemain PSMS. Adanya penyalaan flare di tribun seusai pluit tanda berakhirnya pertandingan itu boleh jadi itu hanya reaksi sesaat dari penonton untuk pesan bagi klub agar terus memperbaiki diri (setelah kekalahan). Semua berjalan normal: kesan rivalitas (saling membunuh) sirna, yang mengemuka adalah saling menghargai (sportivitas). Suusana itulah model sepakbola modern: Profesional dan Sportivitas.

Jika suasana ini terjadi lagi, penonton suporter PSMS akan tetap datang, penonton Persib semakin berbondong-bondong juga datang. Tentu ini menjadi pesan positif, suporter Persbib akan datang dengan tenang dan nyaman menonton di kandang PSMS.

Oleh karenanya El Classico adalah pertandingan-pertandingan yang diciptakan untuk selalu diingat oleh para penonton. Pertandingan Persib vs PSMS ini akan diingat penonton karena ada di lapangan Djanur dan Jajang Sukmara di tim kubu lawan. Meski demikian, pertandingan berjalan normal dan menyenangkan.

Pertandingan PSMS vs Persib tahun 1985 di stadion Senayan di tempat netral adalah pertandingan yang selalu diingat. Kini, pertemuan PSMS vs Persib seyogianya menjadi model setiap pertandingan di liga Indonesia.

Pertandingan PSMS vs Persib adalah pertandingan El Clasico di Indonesia. Dengan mengacu pada dua pertemuan 1985 lalu dan 2018 ini tidak ada salahnya pertandingan tersebut disebut El Clasico sejati Indonesia. Suatu pertandingan el classico yang berbeda dengan membandingkan rivalitas antara FC Barcelona vs Real Madrid.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

1 komentar: