Laman

Kamis, 05 April 2018

Sejarah Kota Medan (65): PSMS, VBMO, PERSEDELI dan DVB, Ini Bermula Sejak 07-07-07; Kinantan, Nama Klub Tahun 1924


*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini

PSMS Medan adalah sebuah heritage Kota Medan di bidang sepak bola. Nama PSMS harus dipandang sebagai milik publik Kota Medan. Sebab nama PSMS adalah hasil gotong royong dari semua stakeholder sepak bola di Kota Medan sejak tempo dulu. PSMS sebagai warisan sejarah sepak bola Kota Medan dimaklumkan sejak 07-07-07 (Tanggal tujuh, Bulan Juli, Tahun Seribu Sembilan Ratus Tujuh). Sebagai heritage, nama PSMS tidak bisa diperjualbelikan. Nama PSMS melekat erat pada nama Kota Medan. Sebaliknya, peraturan teknis dan administratif sepak bola telah banyak berubah seiring dengan perubahan zaman. Khusus untuk PSMS, dari sepak bola amatir (komuniti) ke sepak bola profesional (industri).

Logo 'baru' PSMS Medan, 07-07-1907
Beberapa hari terakhir ini di Kota Medan muncul perdebatan (sebut saja kontroversi) soal logo PSMS. Logo PSMS ini seakan diperebutkan dua nama perusahaan, yakni: perusahaan yang mengelola klub PSMS sebelumnya dan perusahaan yang mengelola klub PSMS yang sekarang. Perusahaan sebelumnya mengklaim telah mematenkan logo PSMS, sementara perusahaan yang sekarang mengambil jalan hanya sekadar meneruskan logo yang sudah ada. Di sinilah yang menjadi pangkal perkara.

Lantas mengapa kini muncul kontroversi tentang logo PSMS? Ini bermula ketika era telah berubah, dari era ketidakpastian (zaman old) menjadi era kepastian (zaman now). Pada zaman now semua hal (misalnya copy right) harus teregister. Itu satu hal. Hal lainnya adalah persoalan tentang materi (content) apa yang harus diregister? Materi ini terkait soal kepemilikan. Oleh kareanya, logo PSMS memang harusnya teregister. Namun siapa yang berhak meregister nama PSMS?

Persoalan ini tidak hanya persoalan di klub PSMS Medan saja. Persoalan ini, idem dito secara potensial akan muncul pada klub-klub legendaris lainnya di Indonesia. Klub-klub legendaris Indonesia (PSMS, Persija, Persib, Persebaya, PSIS, PSM dan lainnya) adalah klub-klub yang telah bertransformasi melewati berbagai era. Klub-klub legendaris sangat unik, berbeda dengan klub-klub lainnya. Nama-nama klub legendaris adalah warisan sejarah sepak bola di masing-masing kota yang bersangkutan. Klub-klub legenfaris dimaklumkan siapa (PT apa saja) boleh mengelolanya, tetapi tidak untuk memperjualbelikan nama. Nama klub adalah heritage. Ini ibarat soal siapa yang berhak meregister lemang, rendang, tortor, gordang sambilan dan sebagainya. Formulasinya seperti apa. Oleh karenanya ini hal yang versifat umum, bukan kasus hanya Kota Medan. Kasus ini bersifat universal. Hanya saja permasalahannya dimulai dari Kota Medan dan baru muncul sekarang. Catatan: kisruh serupa ini sesungguhnya tidak terkait dengan pemain, pelatih dan suporter. Jadi tidak perlu terpengaruh. Ini murni soal operator, antara satu perusahaan dengan perusahaan lainya. Regulasi baru (yang diikuti PSMS) menuntut PSMS harus dikelola oleh perusahaan. Permasalahan adalah soal bagaimana perusahaan baru menyikapi tuntutan dari perusahaan sebelumnya dan bagaimana perusahaan pengelola yang sekarang mampu mencari solusi terbaik.   
.
Pertanyaan-pertanyaan kisruh logo PSMS tersebut tentu seja perlu diklarifikasi. Sudah barang tentu diperlukan jawaban yang komprehensif, yakni suatu deskripsi yang disertai oleh bukti (empiris). Sebab pada zaman now, semua hal harus ada dasarnya (fakta), logis (masuk akal) dan kredibel (dapat dipertanggungjawabkan). Oleh kareanya, pada zaman now ini, era kepastian, nama, logo dan julukan PSMS harus disikapi dengan hati-hati. Tidak boleh lagi sembarangan menciptakan dan mengklaim, tetapi sudah waktunya harus dipikirkan secara cermat. Mari kita luruskan dengan mengungkapkan fakta sejarah yang sebenarnya. Ini menjadi penting, karena diperlukan dalam penetapan dan penyusunan legal formal (perusahaan apa pun yang menjadi pengelolanya).

Kita beruntung yang masih hidup hingga sampai era digital ini. Semua informasi masa lampau dapat diakses secara digital. Ada tiga surat kabar yang dapat memberikan gambaran awal tentang sepak bola di Medan yakni Sumatra Courant (1865-1900), SumatraPost (1898-1942) dan Het nieuwsblad voor Sumatra (1947-1957). Menariknya, surat-surat kabar tersebut melaporkan secara detail apa saja yang perlu diberitakan (boleh jadi saat itu berbagai kejadian masih terbatas dan belum sekompleks sekarang). Dari sinilah kita bisa menyusun kembali (fakta) sejarah sepak bola di Medan. Oleh karenanya, secara perlahan-lahan informasi yang beredar sekarang yang tidak jelas sumbernya dapat dieliminasi menuju sejarah sepak bola Medan yang lebih kredibel. Pada masa ini banyak sejarah sepak bola Medan tidak berdasar, demikian juga sejarah sepak bola di kota-kota lain. Sekali lagi: inilah waktunya kita bersih-bersih diri.

PSMS: OMVB (1949), PERSEDELI (1941) dan DVB (1907)

Jika memperhatikan logo PSMS yang sekarang, atribut identitas yang paling mencolok adalah nama dan tahun. Nama menunjukkan nama klub (PSMS) dan tahun mengindikasikan kapan lahirnya (1950). Nama dan tahun ini tidak kompak. Nama PSMS sudah ada sebelum tahun 1950. Jadi agak ‘sikit’ janggal dilihat.

Tim Sepak Bola Van Nie Medan (1915)
Nama perserikatan sepak bola (kota) Medan sekitarnya (VBMO) kali pertama muncul pada bulan Oktober 1949. Hal itu muncul karena realitas saat itu sangat sulit merealisasikan. OSVB, perserikatan sepak bola (Residentie) Sumatra Timur. OSVB sendiri mulai diaktifkan pada bulan September 1948. OSVB vakum cukup lama karena pendudukan Jepang. OSVB yang dibentuk tahun 1915. Sejak pendudukan Jepang, aktivitas sepak bola yang secara dominan diselenggarakan oleh orang-orang Eropa/Belanda berhenti. Lalu baru muncul tahun 1948 setelah Belanda kembali. Foto Tim Sepak Bola Van Nie Medan (De revue der sporten jrg 8, 1915, no 17, 06-01-1915)

Nama PSMS muncul sebagai konsekuensi dari penerjemahan semua perserikatan yang berada dibawah federasi VUVSI. Pada tahun 1948 nama federasi lama (NIVU) diubah dengan nama baru yakni Voetbal Unie in de Verenigde Staten van Indonesie, disingkat VUVSI. Untuk menyikapi situasi dan kondisi yang baru federeasi baru juga diterjemahkan sebagai Ikatan Sepakraga Negara Indonesia Serikat (ISNIS). Oleh karenanya Voetbal Bond Medan en Omstreken (VBMO) diterjemahkan sebagai Persatoean Sepakraga Medan dan Sekililingnja yang disingkat PSMS.

Pada bulan September 1950 PSSI menyelenggarakan kongres di Semarang. Salah satu keputusan dalam kongres ini adalah membentuk federasi baru yakni Perstaoean Sepak Bola Seloeroeh Indonesia disingkat PSSI. Disebutkan bahwa kebetulan singkatannya sama dengan federasi yang lama, Persatoean Sepak Raga Seleoeroeh Indonesia. Kepetusan lainnya dari kongres Semarang untuk memulai kmpetisi pada tahun berikutnya (1951). Oleh karenanya, pada tahun 1950 VUVSI/ISNIS masih eksis dan PSSI baru muncul. Dengan kata lain saat itu ada dua federasi: VUVSI/ISNIS dan PSSI baru. Ini mirip pada kisruh PSSI beberapa tahun yang lalu yang mana muncul KPSI sebagai tandingan PSSI. VBMO/PSMS sendiri berafiliasi dengan VUVSI/ISNIS. Perserikatan yang berafiliasi dengan PSSI di Medan tentu saja belum berwujud. Dalam kongres Semarang sendiri, Medan tidak/belum terwakili.

Lantas apakah di Medan pada tahun 1950 telah dibentuk PSMS yang baru? Sesungguhnya tidak pernah ada pembentukan PSMS yang baru. Yang terjadi adalah situasi transisi, suatu situasi dimana kepengurusan VBMO/PSMS untuk kali pertama ketua perserikatan sepak bola Medan dijabat oleh orang pribumiu Dalam kongres VBMO/PSMS pada Januari 1950 Madja Purba secara aklamasi dipilih sebagai ketua VBMO/PSMS. Namun semasa era kepengurusan Madja Purba ini kegiatan sepak bola di Medan kurang kondusif, selain Madja Purba sangat sibuk dalam proses transisi NST ke NKRI, para gibol orang-orang Belanda juga tengah menjalani proses pemulangan (ke Belanda).

Het nieuwsblad voor Sumatra, 06-04-1950
Pada tanggal 5 April di Medan telah terjadi pertandingan persahabatan untuk pelepasan kepulangan Belanda. Ketua VBMO/PSMS Madja Purba dan Maj. General Sholten yang giat mengaktifikan sepakbola di Medan selama perang saling bertkar bingkasan selepas pertandingan antara tim militer Belanda vs tim VBMO/PSMS (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 06-04-1950).

Melihat kondisi kegiatan sepak bola di Medan yang tidak berjalan normal, Gubernur Abdul Hakim lalu meminta para stakeholder sepak bola di Medan (baca: PSMS) memilih pemimpinnya.

Setelah NST dibubarkan dan terbentuk NKRI di Sumatra Timur, gubernur Sumatra Utara secara definitif diangkat Abdul Hakim Harahap pada tahun 1951. Setelah setahun menjabat, pada awal tahun 1952 Abdul Hakim Harahap meminta stakeholder sepak bola di Medan memilih pemimpinnya. Ketua terpilih adalah Amir Hamzah, kepala polisi Medan dan sekitarnya. Permintaan Abdul Hakim ini dapat dimaklumi, era Belanda sudah berakhir, era NKRI baru dimulai. Madja Purba seakan berada di fase transisi antara kepengurusan yang lama VBMO/PSMS (Indonesia/Belanda) dan kepengurusan yang baru PSMS saja (Indonesia). Oleh karena itu, di Medan, PSMS tidak pernah berubah yang berubah adalah situasi dan kondisinya (fase transisi). Dengan kata lain, PSMS sudah eksis sebelum tahun 1950.     

Yang menjadi persoalan adalah mengapa PSMS diklaim lahir tahun 1950 (sebagaimana terdapat dalam logo PSMS yang sekarang). Ini bermula tahun 1955. PSMS melakukan perayaan kelahiran. Perayaan ini disebut lustrum (ulang tahun kelima). Perayaan ini cukup meriah karena dimeriahkan dengansebuah turnamen kecil dengan mengundang tim Persidja dan kesebelasan (nasional) dari Burma. Perayaaan ini diadakan bulan Agustus. Namun, meski disebut lustrum atau lahir tahun 1950 tetapi tidak ditemukan informasi kapan tanggal dan bulan lahir PSMS. Sebagaimana diklaim sekarang bahwa PSMS lahir tanggal 21 April 1950 apa yang menjadi rujukan tidak jelas: Pertama, peralihan kepungurusan Belanda ke pribumi terjadi tanggal 27 Januari 1950. Ini sehubungan dengan masa transisi Belanda ke Indonesia. Kedua, pada tanggal sekitar 21 April 1950 tidak ada kejadian khusus yang dapat dikaitkan dengan (kelahiran) sepak bola di Medan kecuali tim VBMO/PSMS berangkat ke Jawa untuk mengikuti kejuaraan antar kota yang dislenggarakan oleh VUVSI/ISNIS. Pada sekitar tanggal ini dilakukan suatu turnamen kecil yang dikaitkan dengan penyelenggaraan Kongres Rakyat, suatu kongres yang dimaksudkan bahwa di Sumatra Timur hanya ada satu bentuk pemerintahan (NKRI) dan NST harus dibubarkan. Tidak sinkronnya antara kejadian-kejadian tahun 1950 dan perayaan lustrum bulan Agustus 1950 dari sudut pandang masa ini menimbulkan spekulasi.

Boleh jadi penetapan lahir PSMS tahun 1950 bersifat emosional sebab situasi telah berubah dari era colonial Belanda ke era RI. Ini juga yang terjadi pada kongres Semarang, bahwa disebut telah lahir PSSI yang baru. Akan tetapi kenyataanya, pada masa ini PSSI tetap disebut lahir pada tahun 1930. Lantas bagaimana dengan PSMS Medan? PSMS tetap mengklaim lahir tahun 1950 (21 April).

PSMS secara alamiah tidak lahir pada tahun 1950 (bayi). PSMS pada tahun 1950 sudah cukup dewasa. Disebut dewasa karena perserikatan sepak bola di Medan sudah secara bulat disepakati pada tahun 1907 oleh semua stakeholder membentuk perserikatan dan menyelenggarakan kompetisi secara regular. Tahun inilah seharusnya (secara alamiah) dapat disebut tahun lahir PSMS yang sekarang. Hal ini sudah berlaku dalam kasus PSSI, meski muncul ide PSSI baru tahun 1950 tetapi kenyataannya PSSI tetap diklaim lahir tahun 1930. Hal ini karena secara alamiah PSSI sudah lahir tahun 1930.

Sejak pembentukan federasi sepak bola di Medan tahun 1907, sesungguhnya tidak ada yang berubah dengan federasi sepak bola di Medan hingga tahun 1950 bahkan hingga ini hari. Federasi sepak bola di Medan sejak 1907 tetap eksis hingga pada masa ini. Secara esensial tidak ada yang berubah, yang berubah hanyalah formatnya. Federasi sepak bola di Medan yang disebut Deli Voetbal Bond (disingkat DVB) yang disepakati tanggal 7 Juli 1907 dalam perkembangannya diintegrasikan sehubungan dengan pembentukan federasi sepak bola yang lebih luas (seluas Sumatra Timur) tahun 1915. Permintaan OSVB untuk menginegrasikan DVB dapat disetujui oleh pengurus DVB. Artinya, DVB dengan sendirinya akan menjadi bagian dari OSVB. Lantas bagaimana dengan DVB? Klub-klub yang sebelumnya tergabung dalam DVB tidak semua memenuhi syarat dalam kompetisi OSVB. Klub-klub yang tidak memenuhi syarat ini tetap eksis dan menjalankan kegiatan klubnya. Pada tahun 1923 Radjamin Nasution menyatukan klub-klub DVB yang tidak tertampung yang notabene hampir semuanya adalah klub-klub pribumi untuk menyelenggarakan kompetisi sendiri. Federasinya tidak mengacu pada OSVB (Sumatra Timur) tetapi tetap menggunakan nama federasi setempat (DVB). Klub-klub yang berkompetisi di OSVB tidak hanya klub-klub Belanda juga klub-klub pribumi. Dengan demikian, DVB sejatinya tetap eksis sejak tahun pembentukannya pada tahun 1907.  

Pada tahun 1941 muncul kisruh di tubuh OSVB. Klub-klub pribumi melancarkan protes karena tidak pernah orang pribumi menjadi (ketua) pengurus OSVB padahal kualitas klub pribumi tidak kalah dengan klub Belanda dan bahkan jumlah klub pribumi di Medan yang berkompetisi di OSVB justru lebih banyak dari jumlah klub Belanda. GB Joshua Batubara pimpinan klub Sahata keluar dari OSVB (yang juga diikuti oleh klub MSV dan UVV). Untuk mengakomodir kompetisi lalu dibentuk federasi sepak bola pribumi di Medan dengan nama Persatoean Sepakraga Seloeroeh Deli (PERSEDELI) yang diketuai oleh Dr. Pirngadi. Klub-klub yang tergabung dalam kompetisi PERSEDELI ini adalah klub-klub eks OSVB yang berhomebase di Medan dan klub-klub yang selama ini berkompetisi di DVB. Dengan demikian di Medan muncul dua federasi yakni OSVB dan PERSEDELI. Bagi pemerintah dua federasi itu tidak dipermasalahkan (idem ditto pada masa ini PSSI vs KPSI).

Beberapa waktu kemudian, terjadilah pendudukan Jepang (1942). Selama pendudukan Jepang kegiatan sepak bola di Medan khususunya dan di Sumatra Timur umumnya mati suri (vakum). OSVB vakum, PERSEDELI juga vakum. Setelah berakhir pendudukan Jepang lalu disusul Kemerdekaan RI. Pada awal era kemerdekaaan ini, kegiatan sepak bola belum bergairah, klub-klub masih tidur, lalu muncul kemudian NICA/Belanda (di belakang pasukan/militer Sekutu yang dipimpin Inggris untuk melucuti militer Jepang dan membebaskan interniran Belanda). Saat kehadiran kembali Belanda ini mulai hidup kembali kegiatan sepak bola. Beberapa kesebelasan militer dibentuk, klub-klub lama bermetamorfosis. Hanya klub Sahata pimpinan GB Joshua yang tetap dengan nama lama yakni Sahata. Klub-klub yang bermetamorfosis dan klub-klub yang baru dibentuk antara lain Juliana (Belanda), Black and White (Tionghoa), Medan Poestra (pribumi). Klub-klub yang berwana-warni ini (militer Belanda, warga Belanda, warga Tionghoa, warga Arab dan penduduk pribumi) kemudian disatukan sehubungan dengan diaktifkannya kembali OSVB. Namun OSVB tidak bias eksis karena situasi perang. Akibatnya, OSVB (berskala luas se Sumatra Timur) tidak relevan lalu muncul federasi yang lebih kecil di Medan karena situasi dan kondisi yang lebih kondusif. Federasi ini disebut OMVB. Klub-klub yang tergabung dalam OMVB ini seakan kembali kembali ke khittah DVB tahun 1907. Disebut demikian, karena OMVB adalah Medan dan sekitarnya dan DVB juga adalah Medan dan sekitarnya. Klub-klub yang tergabung baik dalam OMVB/PSMS dab DVB adalah klub-klub campuran (Belanda, Tionghoa dan pribumi). Oleh karenanya OMVB memiliki garis continuum dari DVB. Federasi sepak bola di Medan dan sekitarnya tidak pernah putus, yang terputus adalah federasi sepak bola Sumatra Timur (OSVB).  

Logo 'baru' PSMS Medan, 07-07-1907
Pada akhirnya federasi sepak bola di Medan berujung pada OMVB/PSMS yang selanjutnya (karena perubahan situasi politik) hanya disebut PSMS saja. Garis continuum DVB ke OMVB/PSMS kurang lebih sama antara lain dengan kasus di Makassar dan Surabaya. Di Makassar MVB yang lahir tahun 1915 menjadi MVB/PSM lalu PSM saja; di Surabaya SVB yang lahir tahun 1909 kemudian SVB/PSS menjadi Persibaja. Dalam hal ini PSM konsisten merujuk pada kelahiran MVB, sementara meski SVB/PSS yang menjadi Persibaja tetapi tahun kelahirannya mengacu pada SIV (kasus kelahiran Persebaya tidak konsisten perlu revisi). Lalu bagaimana dengan PSMS yang mengacu pada tahun 1950, tetapi dasar rujukannya tidak jelas. Padahal rujukan PSMS yang jelas dan valid adalah merujuk pada tahun kelahiran DVB tahun 1907. DVB dibentuk di Medan tanggal 7 Juli 1907. Seharusnya tanggal cantik inilah (07-07-07) hari kelahiran PSMS Medan (bukan 21 April 1950). Jika tanggal ini yang dijadikan tanggal kelahiran PSMS maka nama klub di Indonesia pada masa ini yang tertua adalah PSMS. Ini akan sinkron dengan kenyataan bahwa sepak bola pertama di Indonesia kali pertama diselenggarakan di Kota Medan (pada tahun 1893).

Materi dalam logo PSMS yang diperebutkan sekarang sesungguhnya keliru. Tidak pantas dan tidak ada bukti PSMS lahir tahun 1950. Perusahaan yang mendesain logo PSMS mengklaim logo yang digunakan oleh perusahaan pengelola PSMS yang sekarang tidak berhak. Memang tidak berhak jika logo itu sudah deregister oleh perusahaan sebelumnya. Namun yang menjadi persoalan adalah apakah perusahaan sebelumnya memiliki hak mematenkan nama dan tahun kelahiran PSMS. Jelas tidak berhak, karena nama PSMS adalah heritage (milik publik). Jalan tengahnya adalah perusahaan pengelola PSMS yang sekarang  memfasilitasi pemerintah Kota Medan untuk memformulasikan penetapan logo baru PSMS. Namun jangan sampai salah mendesain  logo. Karena tahun kelahiran PSMS bukan tahun 1950, tetapi tahun 1907. Dan juga pendiri PSMS bukan enam klub (sebagaimana selama ini diasosiasikan dengan enam helai daun).

Alih-alih mengatasi kisruh sepak bola di Medan saat ini, sudah waktunya PSMS Medan bersih-bersih diri, merapikan logo, menulis ulang sejarahnya. Penulisan ulang sejarah PSMS bukan untuk mengganti sejarah tetapi menarasikan kembali sejarahnya sesuai dengan (fakta) yang sebenarnya. Bahan-bahan sejarah PSMS begitu terang benderang. Bahan-bahan itu memang baru terbuka pada masa ini. Namun itu tidak terlambat sama sekali untuk menulis sejarah yang sebenarnya. Sejarah bias ditulis ulang, yang tidak dibolehkan adalah mengganti sejarah dengan rujukan yang tidak jelas (tidak valid). Tulislah sejarah PSMS sesuai aslinya. Sejarah bukan sebuah cerita, cerita yang diceritakan terus menerus yang tidak diketahui darimana rujukannya. Sejarah adalah narasi fakta. Mulailah dari fakta awal pembentukan perserikatan sepak bola di Medan berikut ini:

De Sumatra post, 08-07-1907
De Sumatra post, 08-07-1907: ‘Semalam di ruang serbaguna Hotel De Boer telah diadakan pertemuan para pengelola olahraga dan memutuskan untuk mendirikan sebuah liga sepak bola (voetbal competitive), dibagi menjadi dua kelas, untuk klub-klub yang ada Sumatra’s Oostkust. Pertandingan akan berlangsung di Esplanade sebagai tempat yang ditentukan. Aturan berikut diatur sebagai berikut: Setiap pertandingan, pemenang mendapat dua poin dan imbang satu poin. Klub yang berpartisipasi tetapi tidak mengikuti aturan wasit dan tidak bersedia bertanding diberi sanki kehilangan permainan (kalah) dengan 6-0. Klub yang tidak datang tepat waktu, juga kehilangan permainan (kalah) 5-0. Wasit memiliki hak, jika pemain bermain kasar, dikeluarkan dari permainan serta pemain yang bersangkutan dilarang berpartisipasi selama kompetisi. Untuk dua divisi kompetisi disediakan masing-masing piala. Jadwal pertandingan kompetisi sebagai berikut (lihat gambar). Hasil-hasil pertandingan akan dipublikasikan di koran secara teratur’.

Kinantan: Nama Klub di Medan Berdiri 1924

Berbeda dengan soal logo PSMS yang lebih formal, julukan PSMS lebih cair dan hanya bersifat informal. Logo adalah identitas unik dan bersifat legal formal. Nama dan (desain) logo harus selalu terjaga, karena nama dan logo diperlukan sebagai penanda (identitas diri) untuk jangka waktu tertentu. Sementara julukan boleh lebih dari satu. Namun demikian, penempatan julukan juga haruslah sesuai. Nama julukan memberi spirit kepada pemain dan suporter. Nama julukan tidak dipermasalahkan berubah sewaktu-waktu. Belakangan ini julukan tim kesebelasan PSMS disebut Ayam Kinantan.

Asal usul nama julukan Ayam Kinantan untuk tim kesebelasan PSMS tidak terlalu jelas. Saat ini memang terjadi, ada yang pro dan ada juga yang kontra. Itu sah-sah saja. Yang menjadi persoalan adalah apakah nama julukan tersebut sudah sesuai dengan karakter yang diusung oleh PSMS. Sisi ini yang diapungkan oleh salah satu legenda pemain PSMS Medan, Tumsila.

Nama-nama klub di Medan, 1924
Lantas mengapa muncul nama julukan PSMS sebagai Ayam Kinantan. Bagaimana riwayatnya. Ini juga menjadi isu baru (semacam perdebatan). Namun yang jelas penggunaan nama ayam Kinantan sudah ada sejak dulu. Nama ayam Kinantan ini digunakan oleh salah satu klub yang berada di bawah kompetisi perserikatan DVB pada tahun 1924 (lihat De Sumatra post, 26-02-1924).

Sejak 1907 kompetisi di Medan hanya satu perserikatan yang disebut Deli Voetbal Banod (DVB). Pada tahun 1915 muncul perserikatan yang lebih luas, Sumatra Timur yang disebut OSVB. Meski demikian, DVB tetap masih bagian dari OSVB.  Di Medan, kompetisi regional Medan masih terdapat klub-klub pribumi. Juara regional Medan akan diadu dengan juara regional lain untuk menentukan juara OSVB. Namun dalam perkembangannya klub-klub pribumi tidak memenuhi syarat untuk kempetisi OSVB. Pada tahun 1923 Radjamin Nasution menyatukan klub-klub pribumi (Inlandsch) dalam satu kompetisi sendiri di dalam regional Medan (DVB). Ada delapan klub yang berpartisipasi dalam Divisi-1 Inlandsch/DVB, namun pada akhir kompetisi Andalas dan Broer dinonaktifkan.     

Nama julukan bagi klub sangatlah jarang digunakan pada era kolonial Belanda, bahkan boleh jadi tidak pernah terpikirkan, Itu sejauh dari penggalian data yang bisa dilakukan saat ini. Tampaknya nama julukan dalam sepak bola muncul kali pertama awal tahun 1950 ketika Indonesia mulai membentuk tim nasional (ke India). Dalam proses seleksi pembentukan tim nasional ini tim Indonesia dibagi dua yakni Tim Harimau dan Tim Banteng. Dua tim ini melakukan pertandingan dan dari pertandingan ini diseleksi pemain yang mana yang bisa dinominasikan menjadi tim inti ke India. Sejak inilah diduga muncul nama julukan untuk tim perserikatan dan kemudian berlanjut (pada klub) dalam era Liga Indonesia. Sebagaimana kita ketahui sekarang tim nasional Indonesia mengerucut julukannya sebagai Tim Garuda.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

3 komentar:

  1. PSMS lahir 15 April 1950. Silahkan cari buku lustrum II 1950-1960. Disitu jelas tertulis tgl 15 April 1950 - 15 April 1960

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita tidak sedang mencari buku lustrum II 1950-1960, tetapi sedang mencari data sejarah sepak bola sejaman secara tertulis di Medan seperti surat kabar dan majalah. Setelah itu baru dibandingkan dengan kota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, Surabaja, Semaramg, Makassar, Padang, Jogjakarta dan lainnya. Demikian. Semoga maklum.

      Hapus