Laman

Rabu, 05 Desember 2018

Sejarah Menjadi Indonesia (10): Sejarah Bahasa Melayu dengan Aksara Latin; Buku, Surat Kabar dan Majalah


Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disin

Sejarah persuratkabaran di Indonesia dimulai dari sejarah penggunaan aksara Latin. Sebelum muncul surat kabar, situasi dan kondisi di Hindia Timur hanya ditemukan dalam buku yang merupakan laporan hasil perjalanan.

Joan Nieuhofs, 1682
Sejarah tulisan aksara Latin di Indonesia (baca: Hindia Timur) dimulai dari laporan perjalanan Joan Nieuhofs ke Hindia Timur yang diterbitkan dalam buku tahun 1682.

Lantas kapan buku dan surat kabar beraksara Latin berbahasa Melayu muncul kali pertama. Pertanyaan ini tentu masih perlu dijawab. Sebab, sejauh ini tidak pernah ditulis secara kronologis kapan introduksi aksara Latin dalam bahasa Melayu. Bahasa Melayu dalam hal ini harus dipandang sebagai bahasa pengantar (lingua franca) di Hindia Timur/Hindia Belanda

Tulisan berbahasa Melayu awalnya ditulis dalam aksara Jawi (huruf Arab). Sementara bahasa-bahasa etnik ditulis dengan aksara etnik, seperti Jawa, Makassar, dan Batak. Meski demikian, bahasa Melayu sudah mulai ditulis dalam aksara Latin tetapi dalam bentuk kamus kecil di dalam buku berbahasa Belanda (seperti kamus yang ditulis oleh Frederick de Houtman tahun 1603),    

Buku

Buku-buku berbahasa Melayu aksara Latin kali pertama digunakan oleh para misionaris. Buku tersebut disalin dari buku berbahasa Belanda oleh J Akersloot dan diterbitkan oleh penerbit di Batavia tahun 1829. Buku-buku misionaris sebelumnya masih dalam bahasa Belanda.

Selama era VOC, buku yang diterbitkan di Batavia (ibukota) hanya sebatas buku nama (Naam Boek) yang dimulai tahun 1731. Pada tahun 1744 untuk kali pertama terbit surat kabar Bataviasche nouvelles. Lalu kemudian diikuti oleh barang-barang cetakan pemerintah VOC (reglement, ordonantie dan instructie) dan berita-berita lelang. Pada tahun 1780 muncul buku/majalah yang ditulis oleh para anggota Bataviasche Genootschap. Baru pada tahun 1810 muncul surat kabar berbahasa Belanda Bataviasche koloniale courant dan kemudian pada tahun 1812 digantikan surat kabar berbahasa Inggris Java govt. gazette. Pada tahun 1814 muncul buku Directory and Almanack (lebih luas dari Naam Boek), Pada tahun 1816 terbit surat kabar Bataviasche courant (berbahasa Belanda) menggantikan Java govt. Gazette. Masih pada tahun yang sama untuk kali pertama muncul Statsblad van Nederlandsch Indië. Pada tahun 1817 muncul Almanak van Nederlandsch Indië (yang meneruskan format Directory and Almanack di era pendudukan Inggris. Pada tahun 1825 terbit surat kabar Bataviaasch advertentie-blad (yang menjadi semacam pesaing Bataviasche courant). Pada tahun 1828 terbit Javasche courant (yang diduga sebagai pengganti Bataviaasch advertentie-blad). Pada tahun 1829 terbit Nederlandsch Indisch handelsblad (tetapi Bataviasche courant tidak terbit lagi). Pada tahun 1830 terbit majalah pertanian. Pada tahun 1833 Nederlandsch Indisch handelsblad tidak terbit lagi. Pada tahun 1837 terbit kali pertama surat kabar di luar Batavia Soerabaijasche courant. Pada tahun 1839 terbit malajah Tijdschrift voor Neêrland's Indie.

Bersamaan dengan buku-buku misionaris tersebut juga diterbitkan buku-buku sastra seperti buku pantun dan tamsil misalnya yang ditulis H Wester dan diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh R. Le Bruijn.

Java government gazette, 30-01-1813
Pantun dalam bahasa Melayu jauh sebelum buku pantun terbit, telah muncul pantun di surat kabar. Pantun di surat kabar terjadi pada era Inggris yang dimuat pada surat kabar Java government gazette edisi 30-01-1813. Pantun tersebut ditulis oleh seorang pembaca di Semarang.

Buku pelajaran berbahasa Melayu baru muncul pada tahun 1840. Buku tersebut berjudul Kitab Malajuw âkan meng ‘Adjar hedja pada Anakh’ jang baharuw memula'ij dengan peladjáran. Buku ini diterbitkan sebanyak 12 halaman di Toumohon. Juga diterbitkan buku pelajaran kedua berjudul Kitab Malajuw jang kaduwa akan meng'adjar hedja guna segala ânakh jang sudah bel’adjar sedikit sâdja.

Surat Kabar Berbahasa Melayu dan Pribumi Penulis Buku

Setelah berbagai buku dalam bahasa Melayu terbit dan berbagai surat kabar berbahasa Belanda terbit, surat kabar berbahasa Melayu pertama terbit tahun 1856 di Surabaya yakni Soerat kabar Bahasa melaijoe yang diterbitkan E. Fuhri & Co. Pada tahun ini juga terbit buku Kitab pengadjaran basa Malajoe yang diterbitkan Lange en Co. Juga terbit buku Penoendjoekan bagimana orang misti soembajang. Juga pada tahun ini diterbitkan undang-undang dalam bahasa Melyu dengan judul sebagai berikut: Soerat hoekoem ondang-ondang atas tanah Hindie Nederland tersalin dari pada bahasa Holanda kapada bahasa Malaijoe dengan tietah dan biaija gouvernemen bergoena akan djadi pertoeloengan segala orang anak negrie mengatahwie hoekoem ondang-ondang itoe. Hukum diterjemahkan oleh toean Cohen Stuart baserta perbantoean Raden Rio Rekso di Poera (sebanyak 287 halaman oleh Lange en Co.

Setelah Batavia dan Soerabaja, surat kabar terbit di Semarang tahun 1845 Samarangsch advertentie-blad. Pada tahun ini juga terbit kitab masak-masakan, Buku berisi tentang jenis makanan, minuman, atjaran dan sambalan. Pada tahun 1845 terbit surat kabar Samarangsche courant. Pada tahun 1851 terbut majalah Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Pada tahun 1852 terbit Java-bode. Nieuws, handel- en advertentie-blad voor Nederlandsch-Indie. Pada tahun ini juga terbit buku dalam aksara Jawa. Juga terbit Kitab Malajoe akan mengadjar permoelaän deripada ilmoe hitongan. Juga terbit Kitab akan mengadjar permoelaän dari ilmoe boemi. Pada tahun 1853 terbit majalahTijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. Juga terbit surat kabar di Soerabaja De oostpost Letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentie-blad dan juga Soerabaijasch nieuws- en advertentie-blad. Juga muncul majalah Tijdschrift der vereeniging tot bevordering der Geneeskundige wetenschappen in Nederlandsch-Indie. Pada tahun 1854 terbit Kitab Akan dibatja anak-anak di skola Djawa karangan Elisa Netscher. Pada tahun 1857 terbit Pasoeroeansch nieuws- en advertentie-blad. Juga terbit buku Perladjarannja toekang hoekoer tanah dan Kitab goena pada segala orang jang soeka adjar batja.

Surat kabar berbahasa Melayu yang kedua terbit tahun 1858 di Batavia bernama Soerat chabar Batawie. Surat kabar ini diterbitkan oleh Lange en Co. Surat kabar berbahasa Belanda juga terus bertambah. Di Batavia terbit surat kabar Bataviaasch advertentie-blad tahun 1858. Surat kabar ini namanya mirip dengan surat kabar Bataviaasch advertentie-blad yang berhenti terbit pada tahun 1828. Setelah di Batavia, Soerabaja, Semarang dan Pasoeroean, lalu pada tahun 1859 terbit surat kabar di Padang bernama Padangsch nieuws- en advertentie-blad.

Setelah muncul surat kabar berbahasa Melayu yang pertama, pada tahun 1857 mulai muncul penulis non Eropa/Belanda. Mohamad Joesoep menulis buku dalam aksara Jawi (huruf Arab) yang diterbitkan oleh Lange en Co. Penulis kedua adalah Radhen Soerja di Laga yang menulis buku dalam aksara Jawa pada tahun 1858. Sebelumnya, buku-buku aksara Jawi dan akasara Jawa ditulis oleh orang Eropa/Belanda.

Java bode, 28-12-1859
Surat kabar berbahasa Melayu yang ketiga terbit tahun 1860 di Batavai bernama Selompret Malajoe, soerat kabar basa Malajoe rendah. Surat kabar ini diterbitkan oleh G.C.T. van Dorp. Kehadiran surat kabar ini sudah diuumumkan pada tahun 1859 di surat kabar Java Bode edisi 29 Desember. Surat kabar berbahasa Belanda juga terus bertambah. Tahun 1860 terbit lagi surat kabar di Padang yang diberi nama Sumatra-courant, nieuws- en advertentie-blad.

Penulis non Eropa/Belanda yang ketiga muncul tahun 1860. Radhen Bagoes Medjarad tidak menulis dalam akasara Jawi dan juga tidak dalam akasara Jawa tetapi dalam aksara Latin. Bukunya berjudul Lima poeloe toedjoe dongeng dari binatang. Pada menjatakan tjeritanja. Buku ini diterbiotkan di Batavia oleh Landsdrukkerij. Elisa Netscher kembali menulis buku pada tahun 1860 dengan judul Kitab ilmoe itoengan Akan di pakei kanak-kanak di skola tanah Hindia Nederland yang diterbitkan di Batavia oleh Landsdrukkerij. Untuk sekadar diketahui Landsdrukkerij adalah percetakan dan penerbitan yang dimiliki oleh pemerintah. Masih pada tahun 1860 terbit di Semarang buku Njanjian sekola basa Malajoe rendah. Bagian jang I dan Bagian jang Kadoewa yang diterbitkan oleh G.C.T. van Dorp.

Pada tahun 1861 surat kabar berbahasa Belanda terbit di Makassar yang diberi nama Makassaarsch handels en advertentie-blad. Juga di tahun yang sama di Makassar muncul majalah.mingguan Macassaarsch weekblad. Sementara di Soerabaya, pada tahun 1861 kembali terbit surat kabar baru yang diberi nama De nieuwsbode, dagblad van Soerabaija. Ini berarti di Soerabaja sudah ada tiga surat kabar, yakni Soerabaija courant dan Oostpost. Soerabajasche courant. Surat kabar Soerabaijasch nieuws- en advertentie-blad tidak terbit lagi.

Di Batavia sejauh ini masih bertahan tiga surat kabar yakni Javasche couran, Java-bode. Nieuws,- handels- en advertentie-blad voor Nederlandsch-Indie dan Bataviaasch handelsblad. Di Semarang terdapat dua surat kabar Samarangsch advertentie-blad (penerbit de Groot Kolff en Co dan Samarangsche courant (penerbit G.C.T. van Dorp. Di Padang terdapat dua surat kabar Padangsch nieuws- en advertentie-blad dan Sumatra-courant, nieuws- en advertentie-blad. Di Pasoeroan masih bertahan suerat kabar Pasoeroeansch nieuws-en advertentie-blad.

Surat kabar berbahasa Melayu masih bertahan di Soemarang pada tahun 1861 Selompret Malajoe. Dua surat kabar berbahasa Melayu sebelumnya di Soerabaja dan Batavia tidak terbit lagi. Ini mengindikasikan bahwa surat kabar berbahasa Melayu masih sulit tumbuh dan berkembang. Namun demikian, di Soerabaja kembali terbit surat kabar berbahasa Melayu pada tahun 1862 yang diberi nama Bientang timoor. Soerat kabar di Soerabaija yang diterbitkan oleh Gebr. Gimberg en Co.

Sedikit agak berbeda dengan surat kabar berbahasa Melayu, penulis-penulis non Eropa/Belanda mulai menunjukan peningkatan. Setelah Mohamad Joesoof, Radhen Soerja di Laga dan Radhen Bagoes Medjarad muncul Raden Widjaja, Raden Danoe Koesoemah, Raden Toemenggoeng Wira Tanoe Baija dan Raden Hadji Moehamad Moesa yang ketiganya masing-masing menulis buku dengan aksara Jawa pada tahun 1862 (yang diterbitkan Landsdrukkerij. Raden Hadji Moehamad Moesa bahkan menulis empat buku berbahasa Jawa/Soenda di tahun 1862.

Surat kabar/mingguan berbahasa Belanda muncul lagi di Batavia tahun 1863 yang diberi nama Indisch weekblad van het regt. Pada tahun yang sama juga di Semarang terbit De locomotief. Samarangsch handels- en advertentie-blad. Yang diterbitkan oleh de Groot, Kolff en Co. Ini dengan sendirinya di Semarang sudah ada tiga surat kabar.

Pada tahun 1863 muncul lagi penulis baru non Eropa/Belanda yakni Raden Demang Barata Widjaja yang menulis buku dengan aksara Jawa diterbitkan oleh Landsdrukkerij. Masih pada tahun 1863 kembali (Raden Rangga) Danoe Koesoemah menerbitkan buku dalam aksara Jawa tetapi kini diterbitkan oleh Lange & Co. Setelah Radhen Bagoes Medjarad yang menulis buku dalam aksara Latin, muncul penulis kedua nobn Eropa/Belanda yang menulis buku dalam campuran aksaran Latin dan akasara Arab (Jawi) yakni Moehamad Hoesin (Raden) dengan judul Sair tjarita orang pamalas yang diterbitkan oleh Landsdrukkerij. Masih pada tahun 1863 kembali Moehamad Moesa menulis dua buah buku beraksara Jawa/Soenda yang ditweribitkan oleh Landsdrukkerij. Juga muncul penulis baru yakni Raden Prawira Koesoemah dengan aksara Jawa/Soenda (1863).

Sejauh ini surat kabar berbahasa Melayu hanya Selompret Malajoe dan Bienteng Timoor, Buku-buku berbahasa Melayu yang ditulis oleh orang Eropa/Belanda dari tahun ke tahun semakin banyak dan beragam. Selain buku pelajaran, juga buku umum dan buku agama (Kristen dan Islam). Demikian juga undang-undang, peraturan dan instruksi yang disalin dalam bahasa Melayu juga semakin banyak. Sejumlah buku-buku yang berbahasa Melayu juga dicetak ulang.

Di Semarang pada tahun 1864 kembali terbit surat kabar baru yang diberi nama Javaan, nieuw Samarangsch handels- en advertentieblad. Dengan demikian di Semarang sudah terdapat empat surat kabar. Sementara di Pasoeroean pada tahun 1864 terbit lagi surat kabar Handels-blad voor Pasoeroean en omstreken. Surat kabar yang pertama adalah Pasoeroeansch nieuws- en advertentie-blad. Pada tahun 1864 Moehamad Moesa kembali menulis dua buku beraksara Jawa/Soenda.

Buku karya Willem Iskander (1865)
Penulis buku non Eropa/Belanda yang baru adalah Sati Nasution alias Willem Iskander. Pada tahun 1865 Willem Iskander menulis buku dengan aksara Latin berjudul Hendrik nadenggan roa, sada boekoe basaon ni dakdanak, di ata Mandailingkan. Buku ini bukan berbahasa Melayu tetapi berbahasa etnik Mandailing, Buku ini diterbitkan oleh peneribit Zadelhoff  en Fabritius di Padang.

Pada tahun 1865 kembali Raden Bagoes Moedjarad menulis buku berbahasa Melayu dengan aksara Latin berjudul Bahwa ini tjrita binatang, banjaknja lima poeloeh toedjoeh ((Landsdrukkerij). Masih di tahun 1865 kembali Moehamad Moesa (Raden Hadji) dengan enam buku. Empat dalam aksara Jawa/Soenda dan dua dengan aksara Latin. Keenam buku tersebut diterbitkan oleh Landsdrukkerij. Dua buka dengan aksara Latin berjudul Wawatjan woelang goeroe dan Wawatjan woelang moerid. Masih pada tahun 1865 penulis baru Soerjo Tjondro Negoro (Raden Mas Toemenggoeng Ario) menerbitkan tuga buku beraksara Jawa. Seorang penulis yang diduga seorang Tionghoa bernama Tan Kit tjoan pada tahun 1865 menulis buku beraksara Latin dengan judul Saier mengimpie dan saier boeroeng yang diterbitkan di Batavia oleh W. Ogilvie.

Keutamaan Willem Iskander dalam hal ini menulis buku dengan menyadur sebuah buku yang terkenal di Eropa ke dalam bahasa Batak dialek Mandailing-Angkola. Willem Iskander adalah lulusan sekolah guru di Belanda dan telah mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato pada tahun 1862. Sekolah guru ini adalah sekolah guru yang ketika di Hindia Belanda (setelah di Soerakarta dibuka tahun 1851 dan di Fort de Kock dibuka tahun 1856). Willem Iskander adalah pribumi pertama studi ke Belanda, sekolah guru Tanobato (Mandailing dan Angkola) pada tahun 1865 adalah sekolah guru terbaik di Hindia Belanda. Sekolah guru ini menggunakan tiga bahasa (Batak, Belanda dan Melayu) dan menerapkan aksara Latin (bukan aksara Batak).

Sati Nasution setelah lulus sekolah dasar di Panjaboengan, Mandailing tahun 1855 diangkat sebagai seorang asisten penulis di kantor Asisten Residen Mandailing en Angkola yang berkedudukan di Panjaboengan. Pada tahun 1857 Sati Nasution berangkat studi ke Belanda. Setelah lulus sekolah guru di Haarlem tahun 1860 kembali ke tanah air dan langsung pulang kampung tahun 1861. Sati Nasution yang telah mengubah namanya di Belanda menjadi Willem Iskander pada tahnn 1862 mendirikan sekolah guru di Tanobato (dekat Panjaboengan).  

Willem Iskander telah menulis sejumlah buku pelajaran dan buku bacaan (umum) dalam bahasa (dialek) Mandailing dan Angkola yang semuanya dalam aksara Latin. Buku yang terkenal yang ditulis Willem Iskander berjudul Siboeloes-boeloes, Siroemboek-roemboek yang diterbitkan di Batavia tahun 1872. Buku ini masih digunakan hingga ini hari di sekolah-sekolah di Tapanuli Bagian Selatan.

Pada tahun 1874 Willem Iskander berangkat lagi studi untuk mendapatkan gelar sarjana di Belanda. Untuk sementara sekolah guru di Tanobato ditutup. Willem Iskandern diharapkan setelah selesai studi di Belanda dengan gelar sarjana akan menjadi direktur sekolah guru (sebagai pengganti sekolah guru di Tanobato) yang akan dibuka di Padang Sidempoean tahun 1879. Dalam studi kedua ini Willem Iskander juga membawa tiga guru muda untuk studi di Belanda yakni Banas Lubis dari Tapanoeli, Ardi Sasmita dari Bandoeng dan Raden Soerono dari Soeracarta.

Demikianlah sejarah awal surat kabar berbahasa Melayu dan sejarah buku yang ditulis oleh orang pribumi di Indonesia.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar