Laman

Jumat, 04 Januari 2019

Sejarah Menjadi Indonesia (14): Sejarah Hoax, Hoaks Indonesia; Dari Era Kolonial Tempo Dulu Hingga Merdeka Masa Kini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disin
 

Akhir-akhir ini, di era ‘medsos’ zaman now teknologi komunikasi dan informasi, hoax atau hoals (kabar bohong)  menjadi hal yang banyak dibicarakan tetapi mengandung potensi laten perdebatan dan bahkan perseteruan. Isu hoax di zaman now sudah bersifat global. Namun hoax bukanlah hal baru, bahkan sudah menjadi perilaku kuno, tetapi di era teknologi digital zaman bow, hoax menjadi menguntungkan di satu pihak tetapi menghancurkan di pihak lain. Sebab hoax masa kini, daya gelindingnya sangat luas mulai dari ibukota hingga desa-desa terpencil dan penetrasinya juga sangat lebar mulai dari pejabat publik hingga ke orang yang bersahaja buta huruf.

Kamus Belanda, 1863
Ada perbedaan mendasar hoax di era kolonial Belanda dengan era masa kini. Pada era masa kini, zaman now, ada kecenderungan hoax sebagai sesuatu yang tidak ada atau sesuatu yang belum terjadi, lalu diada-adakan atau dijadi-jadikan. Pada era kolonial Belanda, hal seperti itu jarang dikomunikasikan, Hoax pada era itu, kecenderungannya adalah sesuatu yang ada atau yang terjadi lalu dibesar-besar. Perbedaan skala dalam hal membesar-besarkan dari hal yang kecil mengindikasikan luasnya permasalahan yang ingin dicapai si pembuat hoax. Si pembuat hoax dalam hal ini bisa seorang pejabat Belanda, maupun seorang pemimpin lokal yang berseberangan. Perbedaan mendasar lainnya, pada era tempo doeloe, zaman old dengan era masa kini, zaman now adalah bahwa tempo doeloe si pembuat hoax dapat diidentifikasi siapa, paling tidak menyebut nama samaran yang dapat dilacak, sedangkan pada zaman now si pembuat hoax menyembunyikan diri (alibi).    

Lantas bagaimana hoax disikapi oleh semua penduduk Indonesia yang semakin metropolitan. Itu satu hal. Hal lain yang juga penting diperhatikan adalah bagaimana hoax tempo doeloe di Indonesia telah bertransformasi sedemikian rupa menjadi hoax jenis baru yang menakutkan seluruh ummat, Lalu bagaimana perbedaan hoax pada masa doeloe zaman old dengan hoax pada masa kini zaman now. Hoaks pada tempo doeloe era kolonial Belanda cenderung searah antara orang Belanda/Eropa dengan pribumi, antara penjajah dengan penduduk yang terjajah. Tentu saja ada hoaks dari para oknum zending.

Seperti kita lihat nanti, hoaks era kolonial bertransformasi menjadi hoaks Indonesia masa kini yang dapat dibedakan ke dalam dua kategori. Pertama, hoaks bersifat fitnah (kabar bohong) yang dapat dituntut ke pengadilan. Kedua, hoaks bersifat penyamaran (mengelabui) yang hanya bersifat politik dan etik tanpa ada konsekuensi hukum. Hoaks bersifat politik dan etik misalnya dalam pengaburan sejarah: satu sisi membesar-besarkan satu hal dan sisi lain mengerdilkan hal lain. Dalam hubungan ini banyak data sejarah dipalsukan, termasuk dalam hal ini sejarah tokoh nasional yang sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sejarawan atau ahli sejarah juga tidak sepenuhnya bebas dari hoaks. Untuk melawan hoaks Indonesia hanya dengan menunjukkan bukti-bukti otentik sejarah (menganulir data palsu). Era digital yang sekarang, dimana semua data dan informasi sejarah yang bersumber dari surat kabar dan buku (dalam bentuk electronic data) mulai terbuka dan dapat diakses, maka hoaks dalam sejarah Indonesia yang bertebaran selama ini akan terkoreksi dengan sendirinya dengan munculnya tulisan-tulisan terbaru dan kredibel.     

Hoax Tempo Dulu: Hal Kecil Dibesar-besarkan, Hal Besar Dikerdilkan

Kata hoax adalah sebuah kata yang sudah tua. Meski kata hoax berasal dari Inggris, tetapi penggunaannya di Belanda sudah lama ada. Paling tidak sudah digunakan Adriaen Cornelisz van Haemstede pada tahun 1657 dalam bukunya berjudul ‘Historie der martelaren, die om het getuygenisse der Euangelischer waerheydt haer bloedt..’ Dua abad kemudian di dalam kamus Belanda, Algemeene kunstwoordentolk (1863), kata hoax tetap dinyatakan sebagai kata yang berasal dari Inggris. Namun demikian, kata hoax jarang digunakan, atau paling tidak jarang muncul di dalam buku atau surat kabar Belanda. Buku atau surat kabar Belanda yang menggunakan kata hoax selalu dikaitkan dengan hal yang terjadi di Inggris. Singkat kata, kata hoax jarang digunakan dalam pembicaraan konteks Belanda.

Padanan kata hoax dalam kamus Belanda adalah beursleugen (kebohongan). Tapi kebohongan (kebohongan) bagi orang Belanda adalah hal serius. Sedangkan kata hoax di dalam pembicaraan orang Inggris adalah tipuan, suatu tipuan yang dibedakan dengan kebohongan (beursleugen). Oleh karena itu, hoax dalam konteks Inggris adalah suatu yang tidak serius. Bagi orang Inggris, hoax dapat diartikan sebagai sulap seperti judul buku The Magnificient Hoax (by by E. Phillips Oppenheim). Kata hoax dalam konteks Inggris pada dasarnya sebuah tipu muslihat, Suatu terminologi yang digunakan dalam keseharian, seperti penyamaran juga dalam medan perang (sebagai suatu taktik mangalahkan memperdayai musuh). Singkatnya, hoax dalam konteks Inggris tidak ada konsekuensinya, seperti main sulap (menghibur), menyamar (mengalihkan perhatian) atau mengelabui lawan (dalam perang). Sementara kebohongan dalam konteks Belanda suatu hal yang memiliki konsekuensi (fitnah, tidak jujur). Seperti halnya bagi orang Inggris, bagi orang Belanda hoax juga diartikan sebagai tipuan (seperti dalam sulap). Tipuan dalam konteks Belanda ada kata bakunya sendiri, yang diartikan sebagai hal yang serius (punya konsekuensi)..  

Di Hindia (baca: Indonesia), penggunaan kata hoax dalam surat kabar atau teks Belanda, tidak pernah ditemukan, setidak-tidaknya sangat jarang muncul, baik surat kabar atau teks yang terbit di era VOC maupun pada era Pemrintah Hindia Belanda. Padahal orang Belanda di Hindia sudah ratusan tahun. Sebaliknya, kata hoax sangat kerap muncul dalam surat kabar Inggris di era pendudukan Inggris yang sangat singkat (1811-1815).  

Tunggu deskripsi lengkanya
 

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar