Laman

Minggu, 03 Februari 2019

Sejarah Kota Palembang (1): Asal Mula Terbentuk Kota Palembang; Pembangunan Benteng VOC 1662, Relokasi Kraton 1780


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Palembang dalam blog ini Klik Disini

Kota Palembang masa kini adalah kota metropolitan yang dilintasi oleh sungai Musi. Kota Palembang bermula dari seputar lingkungan kraton. Distrik Palembang adalah distrik pertama di Sumatra yang mana pemerintahan pertama  Pemerintah Hindia Belanda dibentuk. Sejak kehadiran orang Eropa/Belanda, kota Palembang yang berkedudukan di sekitar kraton Palembang secara perlahan tumbuh dan berkembang hingga mencapai bentuknya yang sekarang.

Kraton Palembang dan Pos VOC/Belanda, 1780
Dalam berbagai literatur sudah banyak ditulis tentang keberadaan Palembang. Kota Palembang dikaitkan dengan Kerajaan Sriwijaya yang diduga bermula di bukit Seguntang sebagaimana didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit pada tanggal 16 Juni 683, Tanggal ini kemudian ditabalkan menjadi hari lahir Kota Palembang. Tentu saja banyak hal yang terjadi hingga datangnya orang-orang Eropa ke Palembang.  Itu adalah satu hal, tetapi dalam hal ini adalah bagaimana asal-usul terbentuknya Kota Palembang yang tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan hingga mencapai bentuknya yang sekarang. Deskripsi serupa ini kurang mendapat perhatian para sejarawan. Padahal inti asal usul Kota Palembang yang sekarang justru terletak disitu. Menghubungkan tanggal 16 Juni 683 dengan terbentuknya Kota Palembang yang sekarang hanya akan membuat kita gagal paham mengapa dan bagaimana Kota Palembang terbentuk menjadi seperti sekarang.

Meski sejarah Kota Palembang sudah banyak ditulis, namun sejarah Kota Palembang tentu saja masih menarik untuk ditulis ulang. Sejarah Kota Palembang tentu saja tidak hanya sekitar hal ihwal nama Palembang sendiri dan kebesaran Kerajaan Sriwijaya di masa lampau. Sejarah Kota Palembang haruslah dikaitkan dengan yang lain seperti kedatangan orang Eropa, keberadaan sungai Musi, politik dan perang yang terjadi, pembangunan pusat perdagangan, pembentukan pemerintahan dan pembangunan berbagai fasilitas, pembangunan moda transportasi darat, perkembangan sosial seperti kesehatan dan pendidikan dan tentu saja perihal yang terjadi selama pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan hingga pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda. Dengan memperhatikan relasi-relasi tersebut baru dimungkinkan kita memahami fokus sejarah Kota Palembang. Untuk itu, mari kita mulai dari artikel pertama. Selamat mengikuti.

Asal Usul Awal Terbentuknya Kota Palembang: Palembang Lamo ke Palembang Baru

Kota Palembang yang sekarang adalah suatu situs penting dan situs paling strategis di pedalaman (pulau) Sumatra di masa lampau (eks Kerajaan Sriwijaya). Setelah jenuhnya kota pantai utama di Baroes (Tapanuli), situs di sungai Musi ini boleh dikatakan sebagai situs terbaik yang dipilih oleh para pendahulu di era Budha/Hindu di pedalaman. Posisi strategis situs sungai Musi ini jauh melebihi situs sungai Angkola (Simangambat), situs sungai Baroemoen (Padang Lawas) dan situs sungai Kampar (Moeara Takoes). Di empat situs ini terdapat bukti peninggalan kuno, tertua di Sumatra, suatu petunjuk pada masa lampau telah terbentuk populasi (penduduk) yang besar jumlahnya.

Situs tua di Sumatra (Peta 1597)
Banyak jalan dari laut menuju arus sungai Musi ke hulu hingga ke Lingga (kini Lubuk Linggau). Dua sungai besar yang bermuara ke sungai Musi adalah sungai Komering dan sungai Ogan. Antara muara sungai Komering dan muara sungai Ogan di sisi utara sungai Musi menjadi pusat perdagangan di masa lampau. Pusat perdagangan ini secara historis yang menjadi asal mula Kerajaan Sriwijaya dan kemudian terbentuknya Kesultanan Palembang. Suatu pusat perdagangan yang mempertemukan produk barang (industri) dari seberang lautan dan produk komoditi (kehutanan, pertambangan dan pertanian) dari pedalaman. Pembentukan kraton adalah terbentuknya kekuasaan. Lalu kekuasaan Kesultanan Palembang berhadapan dengan Pemerintahan VOC/Belanda.

Meski situs-situs di (pulau) Sumatra ini berjauhan satu sama lain, tetapi secara ekonomi terhubung dengan satu sama lain dalam era perdagangan kuno produk kuno seperti emas, kamper, kemenyan dan damar. Sumber emas ditemukan di berbagai tempat di Sumatra karena itu pulau Sumatra juga disebut pulau emas.

Kamper dan kemenyan hanya ditemukan di Tanah Batak yang karena itu muncul kota kuno pertama yakni Baroes.Komoditi kamper dan kemenyan sebagai produk dunia dari Tanah Batak juga mengalir ke situs sungai Musi.

Setelah era jaman kuno ini secara perlahan berakhir, era jaman baru dimulai dengan produk komoditi baru yakni antara lain pala, lada dan (getah) poeli. Pada era baru ini, situs sungai Musi masih tetap eksis (sebagai pusat perdagangan strategis di pedalaman Sumatra). Namun semuanya harus dimulai dari nol kembali. Ketika mengembalikan situs sungai Musi inilah muncul ke permukaan yang disebut sebagai Kesultanan Palembang. Saat itu, keberadaan VOC/Belanda sudah semakin kuat dengan membuka koloni baru di muara sungai Tjiliwong (Batavia) pada tahun 1621 sebagai pusat perdagangan. Pada tahun 1662 VOC/Belanda melalui membangun benteng (fort) di sisi sungai Musi sebagai tempat utama (hoofdplaats).

Komunikasi penguasa di Palembang dengan VOC/Belanda dimulai tahun 1637. Sejumlah komunike dalam bentuk nota (brieven) dikirimkan dari Batavia. Pada tahun 1643 dibuat suatu resolusi dan kemudian dibuat lagi resolusi tahun 1644. Komunike ini berlangsung hingga tahun 1645. Komunike dilanjutkan lagi pada tahun 1655, tahun 1656 dan 1658 yang hasilnya dibuat resolusi tahun 1659, 1662 dan 1663. Data-data ini sudah disarikan oleh penulis-penulis yang diduga kuat bersumber dari catatan harian Kasteel Batavia. Untuk sekadar kilas balik, peta disamping ini merupakan gambaran awal tentang siklus perdagangan komoditi kuno diantara dua pusat kebudayaan besar (India dan Tiongkok) di Sumatra (Baros, Simangambat, Padang Lawas dan Palembang).

Pada tahun 1666 kebijakan VOC/Belanda berubah dari sebelumnya hubungan perdagangan yang longgar kemudian menjadi kebijakan yang mana penduduk dijadikan sebagai subjek. Proses komunike yang terus berlangsung menghasilkan kembali resolusi tahun dan 1671. Komunike dilakukan lagi pada tahun 1677 dan menghasilkan resolusi baru tahun 1678. Pada tanggal 20 April 1678 dibuat kontrak antara Sultan  Ratoe dan D.  de  Haas. Dibuat lagi resolusi baru tahun 1679. Komunike dilanjutkan lagi tahun 1683. Pada tanggal 15 Januari 1691 dilakukan renovatie (perbaikan) kontrak yang terkait dengan tahun-tahun 1662, 1678, 1679 en 1681. Pada tanggal 16 Oktober 1691 dilakukan ratifikasi oleh Hooge  Regering  terhadap renovatie tanggal 15  Januari 1691. Selain brieven, resolusi dan contract juga ditemukan sejumlah memorie yakni tahun 1666, 1673, 1674, 1700, 1706, 1711 dan 1716. Pada tahun 1721 terdapat sebuah instruksi dan sebuah rapport. Pada tanggal 2 Juni 1722 dilakukan renovatie terhadap contract.  Pada tanggal 6 Agustus 1723 dibuat ratificatie  terhadap renovatie  2  Juni  1722. Pada tahun 1724 dibuat lagi resolusi. Pada tanggal 10 September 1755 dibuat renovatie  terhadap contract sebelumnya.

Bataviase nouvelles, 02-11-1744
Demikian seterusnya proses renovatie dan ratifikasi berulang, yang terakhir ratifikasi tanggal 28 November  1791. Sementara intensitas pelayaran dari dan ke Palembang dari waktu ke waktu semakin meningkat. Tidak hanya kapal-kapal dari Palembang ke Batavia tetapi juga dari Amsterdam langsung ke Palembang. Nama kapal yang kerap hilir mudik antara Palembang dan Batavia adalah kapal De Kleine Pallas (misalnya lihat  Bataviase nouvelles, 02-11-1744).

Middelburgsche courant, 01-05-1784
Dimana benteng (fort) ini dibangun berada di sisi selatan sungai Ini dapat lihat pada Peta 1700. Kraton Palembang dipindahkan dari tempat yang lama (Palembang Lamo) pada tahun 1780. Benteng VOC/Belanda juga turut dipindahkan yang menempatkannya pada sisi yang berhadapan ke arah utara kota lama, dimana kraton tetap di sisi utara sungai Musi dan benteng berada di sisi selatan sungai. Era baru pembentukan kota Palembang dimulai. Kemudian Residen pertama Palembang diangkat yakni C Fred. Schreuder (lihat Middelburgsche courant, 01-05-1784). Ini mengindikasikan bahwa di Palembang mulai merintis pemerintahan. Namun sejak tahun 1791 terjadi interupsi yang mana terjadi pendudukan Prancis, VOC/Belanda dibubarkan dan digantikan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Peta 1700
Sejak tahun 1791 tidak terdeteksi interaksi antara Palembang dengan pejabat-pejabat atau para pedagang VOC/Belanda. Boleh jadi hal itu karena VOC/Belanda sedang menghadapi berbagai masalah. Hal ini diperburuk pada tahun 1795 pemerintahan VOC/Belanda diambil alih Prancis. Meski demikian yang terjadi tampaknya tidak semua wilayah berhasil dikuasai oleh Prancis. Seperti diberitakan Amsterdamse courant, 06-03-1798: ‘Berdasarkan pesan-pesan otentik dari Batavia, tertanggal 6 Juli 1797, tidak semua Pulau Jawa diserang secara paksa, tetapi Republik ini (baca: VOC/Belanda0 masih memiliki Ternate, Makasser, Banjermasing dan Palembang; Mereka (Prancis) hanya menang telak di Batavia. Sementara dari pesan lainya bahwa Ternate, khususnya, betapapun lemahnya penduduk gagah berani penduduk melakukan perlawanan yang dikontrol oleh Engelschen..'.

Pada tahun 1799 VOC/Belanda dinyatakan bubar dan kemudian diambilalih oleh Kerajaan Belanda sehubungan dengan berakhirnya pendudukan Prancis dengan membentuk Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1800. Pemerintahan Hindia Belanda dalam hal ini seakan memulai dari nol kembali dan pada permulaan ini baru terkonsentrasi di (pulau) Jawa yang mana sejak era Gubernnur Jenderal Daendels yang dimulai tahun 1809 membuat program pembangunan jalan utama (Grooteweg) antara Anjer hingga Panaroecan.

Java government gazette, 04-07-1812
Namun tidak lama kemudian terjadi pendudukan militer Inggris di Batavia pada tahun 1811. Pemerintah Hindia Belanda yang masih muda lumpuh. Wilayah-wilayah kekuasaannya di luar (pulau) Jawa melakukan pemberontakan termasuk di Saparoea (Maluku) dan Palembang (Sumatra). Pada situasi ini ekspedisi Inggris dikirim ke Banca dan Palembang. Bagaimana gambaran (pelabuhan) Palembang saat awal pendudukan Inggris di Palembang dilukiskan oleh surat kabar  Java government gazette, 04-07-1812. Disebutkan tentang situasi penduduk dan permukiman di kedua sisi sungai Moesi dan produksi yang diperdagangakan di pelabuhan Palemmbang seperti gambir, kapas, damar, gading, mata kucing, belerang, garam, lilin, beras, benzoin, nila, tembakau, pinang, kerbau dan emas, tetapi item yang paling penting adalah timah Banca. Sebagian besar yang lain adalah dibeli dari wilayah yang jauh di bagian pedalaman Sumatra.  

Ketika Pemerintah Hindia Belanda berkuasa kembali pada tahun 1816, mulai dilakukan ekspansi ke Sumatra. Pelembang dan Lampong dinormalisasi. Pemerintah Hindia Belanda melakukan aneksasi di Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) termasuk Tapanoeli. Dalam fase aneksasi di Pantai Barat Sumatra ini, Pemerintah Hindia Belanda melakukan tukar guling antara Bengcoolen yang dimiliki Inggris dengan wilayah yang dikuasai Belandi di Malacca (1824). Wilayah Pantai Barat Sumatra baru tahun 1840 benar-benar dapat dikuasai. Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan incasi ke Riaou (1850a) dan Sumatra’s Oostkust tahun 1860an dan terakhir melakukan invasi ke Atjeh pada tahun 1870an,


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar