Laman

Sabtu, 15 Juni 2019

Sejarah Jakarta (57): Sejarah Pasar Jumat di Land Simplicitas (Pondok Laboe dan Lebak Boeloes); Pusat Perdagangan di Westernweg


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pasar Simplicitas sudah eksis pada tahun 1834 (lihat Almanak 1834). Pasar ini berada di sisi barat land Ragoenan dan di utara land Tjinere. Pasar Simplicitas ini berada di jalur jalan sisi barat (westerweg). Ke arah selatan menuju Parong hingga ke Buitenzorg. Ke arah utara bercabang dua yang mana sisi barat menuju Kebajoran, Palmerah hingga Pasar Tanah Abang dan sisi timut melewati Bangka terus ke Mampang Prapatan lalu ke Karet dan berakhir di Pasar Tanah Abang. Pasar Simplicitas ini kelak disebut Pasar Pondok Laboe.

Landhuis Simplicitas, 1880
Pondok Labu pada masa ini adalah nama kelurahan di kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Kelurahan Pondok Labu di sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Cilandak Timur; di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Cilandak Barat; di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Lebak Bulus; di sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Pangkalan Jati dan kelurahan Pangkalan Jati Baru, kecamatan Cinetre, Kota Depok.

Sejauh ini, sejarah Pondok Labu kurang tergali dengan baik. Padahal Pondok Labu dengan nama lama Pasar Simplicitas sudah sejak masa lampau diketahui keberadaannya. Untuk menambah pengetahuan kita, upaya pendokumentasian sejarah Pondok Labu perlu dilakukan. Mungkin tidak terlalu penting, tetapi dengan menganggap demikian maka tidak akan pernah diketahui apa yang pernah terjadi di kelurahan Pondok Labu pada masa lampau. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Teras depan landhuis Simplicitas, 1930
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Simplicitas Sejak Petrus Albertus van der Parra (1761-1775)

Nama lahan subur (landgoed) Simplicitas paling tidak sudah diberitakan pada tahun 1781 (lihat Leydse courant, 19-08-1782). Disebutkan land Simplicitas dan land-land lainnya di Weltevreden dan di Tjimanggis dimiliki oleh istri almarhum Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra dan land-lanad Rustenburg, Struiswijk dan Tjankaving dimiliki oleh ketua Dewan (Raad) David Johan Smith. Enam land ini mempekerjakan dua ribu orang Jawa. Keterangan ini mengindikasikan bahwa land Simplicitas sudah ada sebelum van der Parra meninggal tahun 1775.

Leydse courant, 19-08-1782
Land-land yang sudah ada di sisi barat sungai Tjiliwong adalah land Tjitajam, land Tjinere, land Srengseng, land Ragoenan dan land Depok. Land yang pertama adalah land Tjinere dan land Tjitajam yang dimiliki oleh sersan St Martin sejak 1684. Land Ragoenan dibuka oleh Lucaz Cardeel tidak lama setelah land Tjinere. Pada tahun 1695 Cornelis Chastelein membuka lahan di Srengseng dan kemudian di Depok pada tahun 1704. Land-land inilah yang dianggap land tertua di sisi barat sungai Tjiliwong. Pada tahun 1714 Cornelis Chastelein mewariskan land Depok kepada pekerjanya. Sebelum membeli land di Srengseng, Cornelis Chastelein telah membeli land Paviljoen dan kemudian dijual anaknya kepada Justinus Pinck. Dalam perkembangannya Pinck mendirikan Pasar Senen. Gubernur Jenderal Jacob Mossel membeli properti Justinus Pinck dan membangun rumah mewah di atas land tersebut. Land inilah yang kemudian disebut Weltevrenden. Ketika masa jabatan Mossel berakhir, land Weltevreden dibeli oleh Gubernur Jenderal yang baru Petrus Albertus van der Parra. Land Weltevreden plus land Timanggis dan land Simplicitas yang diusahakan oleh janda van der Parra. Satu land lagi yang sudah terbentuk di sisi barat sungai Tjiliwong adalah land Tandjong West. Land Simplicitas dan land Tandjoeng West diduga dibentuk bersamaan sekitar tahun 1750an. Land Tandjong West tidak mengusahakan pertanian seperti land lainnya tetapi karena lahanya adalah lahan kering, yang diusahakan adalah peternakan sapi (susu dan daging).      

Petrus Albertus van der Parra meninggalkan dua istri dan satu anak. Istri yang tertua di Ceilon dan istri yang kedua di Batavia bernama Adriana Johanna Bake bersama anaknya yang memiliki nama yang sama dengan ayahnya, Petrus Albertus van der Parra, Jr (lahir di Batavia tahun 1760). Adriana Johanna Bake tidak mudah mendapat warisan karena melalui proses pengadilan yang berlarut-larut. Warisan baru diperoleh Adriana Johanna Bake pada tahun 1781 yakni perkebunan-perkebunan di sekitar Batavia (Weltevreden, Tjimanggis dan Simplicitas).

Petrus Albertus van der Parra Jr tidak berumur lama, meninggal tahun 1783. Pada saat meninggal Petrus Albertus van der Parra Jr jabatannya sebagai kapten angkatan laut. Janda Petrus Albertus van der Parra menjadi sebatang kara. Adriana Johanna Bake juga tidak berumur panjang dan meninggal di Weltevreden (Batavia) 18 Februari 1787.

Lantas bagaimana nasib land Simplicitas? Tidak diketahui secara jelas. Yang jelas tidak bisa diwariskan kepada ahli waris yang tidak berada di Oost Indisch (baca: Hindia Timur). Hal ini juga pernah terjadi pada kasus land Tjitajam dan land Tjinere yang diambil alih oleh pemerintah ketika St Martin meninggal dan tidak memiliki ahli waris di Oost Indisch. Land Simplicitas (dan land lainnya diambil alih pemerintah dan dijual kembali kepada publik (penawar harga tertinggi). Siapa yang membeli land Simplicitas?

Pembelinya diduga kuat adalah adalah David Johan(nes) Smith (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-11-1915). Disebutkan bahwa pada tahun 1789 ketika ada ancaman Inggris ingin merebut stad Batavia, Smith mengeluarkan banyak uang untuk membiayai upah pasukan pribumi sebagai kekuatan cadangan. Smith menjaminkan semua asetnya berupa yang masing-masing senilai f46.000 untuk tiga bangunan di Molenvliet; f80.00 untul land Tanah Abang; f40.000 untuk land Matraman; 10.500 untuk sebuah rumah bandar; dan f90.000 untuk land Sruiswijk dan land Simplicitas. Yang menjadi permasalahan tidak diketahui kapan Smith memperoleh land Simplicitas, apakah membelinya dari Ny. Bake sebelum meninggal atau apakah membelinya dari pemerintah setelah diakuisisi oleh pemerintah aset Ny. Bake?  

David Johan(nes) Smith pernah memiliki laand Simplicitas dan menjualnya pada tahun 1789. Namun setelah itu siapa yang memilikinya tidak jelas. Namun yang pasti land Simplicitas tetap eksis. Informasi ini diketahui tahun 1813 Pasar Simplicitas termasuk satu dari 10 pasar yang dikontrol oleh pemerintah pendudukan Inggris (lihat Java government gazette, 30-01-1813).

Pada tahun 1799 VOC dibubarkan dan diakuisisi oleh kerajaan Belanda dan membentuk pemerintah Nederlandsch Indie (baca: Hindia Belanda). Pada era Gubernur Jenderal Daendels, 1808 mulai dilakukan program pembangunan jalan pros trans-Java dari Anjer ke Panaroekan. Juga dilakukan pembangunan baru dan peningkatan mutu jalan arteri. Selain itu, untuk mendukung program pertanian, juga dilakukan pembangunan baru dan peningkatan mutu kanal irigasi. Satu lagi yang menjadi program Daendels adalah pembangunan kota, yakni membeli land Weltevteden untuk membangun ibukota (stad) baru menggantikan Batavia dan membeli land Bloeboer untuk membangun kota Buitenzorg.

Salah satu jalan arteri yang dibangun baru adalah jalan dari Buitenzorg melalui Parong, Tjinere dan Simplicitas hingga ke Pasar Tanah Abang. Peningkatan kanal dilakukan di sisi ti,ur Tjiliwong dari bendungan Katoelampa hingga Tjibinong melalui Tjiloear. Selain itu dilakukan pembangunan kanal baru di Bloeboer dari Bondongan (sungai Tjipakantjilan) melalui Paledang ke Kedong Badak dan Tjiliboet. Pembangunan kanal juga dilakukan di hilir mulai dari Tjitajam melalui Tjinere dan Simplicitas. Kanal ini memanfaatkan kali Kroekoet di Pitara.

Namun belum semua program terealisasi dengan baik, terjadi pengambilalihan kekuasaan Belanda oleh Inggris tahun 1911. Gubernur Jenderal Daendels digantikan oleh Letnan Gubernur Jenderal Raffles. Pemerintah pendudukan Inggris tidak terlalu mengindahkan program Daendels tetapi lebih menekankan pada pemungutan pajak. Salah satu akibatnya dari kebijakan Raffles ini adalah munculnya pemberontak dan terpecahnya kesultanan Jogjakarta (terbentuknya Pakoealaman).    

Dalam berita pengontrolan pasar-pasar di seputar Batavia (lihat kembali Java government gazette, 30-01-1813) terindikasi bahwa pasar Simplicitas sudah cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari nilai pajaknya sebesar f6 per bulan. Empat pasar tertinggi yang masing-masing dengan nilai pajak sebesaer f8 berada di Weltevreden (Pasar Senen), Pasar Tanah Abang dan dua pasar di Batavia (Pasar Baroe dan Pasar Lama).

Java government gazette, 19-08-1815
Pemerintah pendudukan Inggris membuat ketetapan perbatasan Stad Batavia, sekitar dan Residensi Buitenzorg (lihat Java government gazette, 19-08-1815). Dalam ketetapan ini wilayah diperluas ke barat hingga sungai Tjisdane dan ke timur hingga sungai Tjitaroem, termasuk land partikelir antara pantai hingga ke perbatasan di selatan, termasuk land Pondok Laboe, Simplicitas, Lebak Boeloes, Trogong, Tjirenda dan Jombang.   

Nilai pajak di bawah Pasar Simplicitas antara lain di Poelo Gadong dan Tjilintjing yang masing-masing sebesar f4. Informasi ini juga mengindikasikan bahwa pasar di land Tandjoeng belum terbentuk (kelak pasar di Tandjong West disebut Pasar Minggoe).

Pasar Simplicitas menjadi pasar besar, itu berarti land Simplicitas telah berkembang pesat. Pasar dan land sejalan, sebab pasar Simplicitas yang berada di land Simplicitas yang menguasai adalah swasta yang dalam hal ini pemilik tanah partikelir (land) Simplicitas (landheer). Inisiatif pembentukan pasar jika bukan pemerintah adalah landheer. Namun yang menjadi faktor utama dalam terbentuknya pasar adalah infrastruktur jalan. Besar dugaan program pembangunan jalan arteri di era Daendels dari Butenzorg ke Tanah Abang melalui Parong dan Simplicitas telah berjalan dengan baik.

Jalan arteri dari Simplicitas (Peta 1825)
Jalan poros pertama dari hulu sungai Tjiliwong hingga ke pelabuhan Soenda Kalapa di muara sungai Tjiliwong sudah terbentuk sejak era Pakuan-Padjadjaran. Jalan poros kuno ini melewati Kedong Badak, Tjilieboet, Bodjong Geder, Tjitajam, Depok, Pondok Tjina, Srengseng, Tandjong West, Doerian Tiga, Menteng, Tjikini hingga ke Sonda Kalapa. Pada era Gubernur Jenderal van Imhoff (1743-1750) jalan sisi timur sungai Tjiliwong dibangun. Jalan ini kemudian menjadi jalan poros baru yang disebut Oosterweg, sedangkan jalan kuno di sisi barat sungai Tjiliwong disebut sebagai jalan poros Westerweg. Pada era Gubernur Jenderal Daendels jalan arteri Buitenzorg, Parong, Simplicitas dan Tanah Abang kemudian terus meningkat dan dalam perkembangannya nanti jalan arteri ini menjadi jalan poros baru yang disebut Westerweg (sementara jalan kuno disebut sebagai Middenweg).

Berapa banyak land yang terbentuk sejak era VOC dan berapa banyak pasar yang telah didirikan tidak diketahui secara lengkap. Pemilikan land-land seperti yang telah disebutkan di atas, umumnya terdapat di sebelah barat dab timur sungai Tjiliwong. Land-land terjauh di sisi barat di sekitar land Simplicitas adalah land Pondok Laboe, land Lebak Bolos, land Trogong, land Tjirenda dan land Jombang (lihat  Java government gazette, 19-08-1815). Dari informasi ini dapat dikitahui bahwa land Simplicitas dan land Pondok Laboe adalah dua land yang sudah dibedakan (dimekarkan?).

Bataviasche courant, 26-04-1823
Bataviasche courant, 26-04-1823: ‘Pengumuman. Pemilik pasar di Weltevreden, Meester Cornelis, Poelo Gadong, Tjilintjing, Bekasi, Kedaoeng, Tjabangboengin, Tandjong Oost, Pondok Gede, Tanah Abang, Tandjong West, Tangerang, Grinding, Maoruk, Djengot, Pondok Laboe dan Assem, sekarang diminta untuk membayar pajak lima persen sekarang diminta untuk membayar pajak lima persen atas pendapatan pasar mereka untuk penerimaan sumber daya negara’.

Setelah berakhirnya pendudukan Inggris tahun 1816 an digantikan kembali oleh Pemerintah Hindia Belanda situasi kembali berubah. Setelah dipandang tidak sesuai dengan penetapan pajak pasar, pemerintah kembali mengubah aturan pajak dengan mengenakan pajak sebesar lima persen (lihat Bataviasche courant, 19-07-1817). Banyak yang telah berubah setelah kembalinya Belanda. Setelah sekian lama muncul kabar bahwa land Simplicitas akan dijual (lihat Bataviasche courant, 26-04-1823).

Bataviasche courant, 26-04-1823
Penjualan land Simplicitas ini dilakukan oleh ALP de Seriere. Nama Seriere merupakan nama pihak lain yang diketahui sebagai pemilik land Simplicitas setelah yang pertama oleh (keluarga) van der Parra. Apakah ALP de Seriere orang yang langsung memiliki/mmbeli land Simplivitas setelah van der Parra tidak diketahui secara jelas. Pada era pendudukan Inggris, Seriere pernah mengiklankan sebuah rumah di Semarang untuk dijual (lihat Java government gazette, 29-07-1815). ALP de Seriere pernah menjabata sebagai Presiden en leden van den Magistraat van Batavia en Ommelanden (lihat Bataviasche courant, 01-08-1818).

Penjualan ini ternyata tidak mudah dan hingga tahun 1825 belum terjual. Lahan tersebut kemudian akan dilelang melalui badan lelang negara (lihat Bataviasche courant, 16-02-1825). Lahan Simplicitas diketahui telah dimiliki oleh Chasse seorang anggota Raad van Indie (lihat Javasche courant, 26-04-1828).

Javasche courant, 24-11-1829
Pasar Pondok Laboe atau pasar Simplicitas diketahui hanya buka pada hari Jumat (Vrijdag). Ini dapat diketahui dari aturan baru pemerintah tentang tarif di wilayahv Stad Batavia dan sekitar, Buitenzorg dan Krawang (Javasche courant, 24-11-1829). Jumlah pasar yang dicatat juga semakin banyak dan juga diperoleh keterangan hari buka pasar mulai dari pasar di Stad Batavia hingga yang terjauh di timur di Pamanoekan dan yang terjauh di selatan Djasinga.

PT Chasse sebelumnya juga diketahui sebagai anggota Magistraat, yang dalam hal ini land Simplicitas milik de Seriere dibeli oleh temannya sendiri. Lahan land Simplicitas diketahui sangat sesuai dengan tanaman Cengkeh, yang mutunya sama dengan cengkeh yang ditanam di Maluku (Javasche courant, 24-09-1829). Land Simplicitas juga diketahui sebagai penghasil keju (lihat Javasche courant, 14-08-1833).

land Simplicitas dan land Pondok Laboe pada masa kini
Dalam berita Javasche courant, 14-08-1833 juga ditemukan adanya pembongkaran bangunan-bangunan rumah, gudang dan lainnya di lahan (landgoed) Simplicitas di dekat sungai Psanggrahan dan puing-puingnya dijual untuk umum. Apakah ini menunjukkan pemilik dan lahan Simplicitas dalam situasi kemakmuran dan akan membangun dengan yang baru? Informasi ini juga menunjukkan, seperti disebut di atas bahwa land Simplicitas dan land Pondok Laboe adalah dua land yang berbeda. Land Simplicitas berada dekat sungai Psanggrahan di sisi barat dan land Pondok Laboe berada dekat dekat di sisi barat sungai Kroekoet (di tengah dua land ini mengalir sungai Grogol). Namun demikian, besar dugaan dulunya semua lahan itu adalah land Simplicitas yang berada di utara land Tjinere dan di sisi barat land Ragoenan. Lalu kemudian land Simplicitas (di sebelah timur) dimekarkan dengan membentuk land Pondok Laboe. Pada masa kini di sisi barat jalan Pondok Labu adalah land Simplicitas dan di sisi timur adalah land Pondok Labu. Hal serupa ini adalah lazim seperti land Tandjong West yang sebagian dijual oleh pemilik dan terbentuk land Tanah Agong (kemudian dikenal sebagai land Lenteng Agoeng). Dalam hal ini, selanjutnya land Simplicitas adalah land yang berada di utara land Tjinere yang berada di sisi timur sungai Psanggrahan, sebaliknya land Pondok Laboe yang berada di sisi timur jalan arteri.

Pasar Simplicitas di selatan Batavia tetap eksis namun jika dibandingkan dengan pasar-pasar lain, pasar Simplicitas tidak terlalu pesat perkembangannya. Adanya pasar dan perkembangan pasar merupakan indikasi terpenting dalam tingkat perkembangan wilayah. Selain sewa land, retribusi pasar juga menjadi sumber penerimaan pemerintah.  

Javasche courant, 05-11-1834
Salah satu ukuran besarnya pasar yang dapat digunakan adalah sewa yang dikenakan pemerintah untuk pengelolaan rumah opium. Ukuran pasar terbesar tetap berada di Weltevreden lalu disusul pasar di Tanah Abang dan pasar di Meester Cornelis (lihat Javasche courant, 05-11-1834). Pasar-pasar baru telah bermunculan (dalam arti dicatat sebagai sumber pendapatan pemerintah), seperti pasar di Tandjong West (pasar hari Minggu) dan pasar Doerian Baroe atau pasar Pondok Terong di land Tjitajam. Pasar Simplicitas (Pondok Laboe) ukurannya setara dengan pasar di Tandjong West.  

Land Simplicitas juga dikabarkan menghasilkan kulit manis (lihat Javasche courant,  24-06-1835). Disebutkan dijual kayu manis dari perkebunan Simplicitas. Informasi ini telah melengkapi informasi sebelumnya yang mana land Simplicitas sangat sesuai dengan tanaman cengkeh. Land Simplicitas seakan mewakili gabungan tanah Sumatra penghasil utama kulit manis dengan tanah Maluku penghasil cengkeh. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa populasi tanaman cengkeh dan tanaman kulit manis ditemukan di sekitar land Simplicitas.

Pasar Tanah Abang dan Pasar Weltevreden (Peta 1840)
Untuk memahami hal tersebut kita harus kembali ke pionir sersan St. Martin pada tahun 1680an. St Martin, seorang Prancis adalah orang pertama yang membuka lahan di sisi barat sungai Tjiliwong yakni di Tjinere dan Tjitajam. St. Martin adalah pahlawan Belanda yang berhasil mengatasi kesultanan Banten. St Martin tidak hanya seorang pemberani, juga sangat fasih berbahasa Melajoe. Satu hal yang lain lagi, St Martin adalah pegiat botanis yang dapat dikatakan sebagai seorang botanis (ahli tanaman). St Martin juga diketahui memiliki perpustakaan paling lengkap di Batavia dan menjadi asisten ahli botani Rumphius yang bekerja di Amboina. Ketika buku botani lima volume yang tidak tuntas diselesaikan Rumphius karena meninggal, St Martin adalah orang yang meneruskan pekerjaannya. Soal penemuan perkebunan cengkeh dan perkebunan kulit manis di Simplicitas diduga terkait dengan peran awal dari St Martin yang membuka lahan di Tjinere dan Tjitajam. Lantas mengapa lahan Tjinere dan lahan Tjitajam? Dua land inilah yang paling subur. Land Tjinere dijadikan sebagai land perkebunan dan land Tjitajam dijadikan sebagai land persawahan (menghasilkan beras). Kebetulan dua land ini terhubung: sungai Psanggrahan dan sungai Kroekoet di Tjinere (dan Simplicitas)  berhulu di Tjitajam. Satu hal lagi yang bisa dikaitkan dalam hal ini adalah di land Tjinere/Simplicitas didirikan pasar (Pasar Simplicitas) dan di land Tjitajam juga didirikan pasar (Pasar Pondok Terong). Untuk sekadar catatan tambahan, pekerjaan buku botani lima volume tersebut juga tidak tuntas karena St Martin meninggal, pekerjaan itu diteruskan oleh Cornelis Chastelein yang telah membuka perkebunan di Srengseng dan Depok. Rumphius, Martin dan Chastelein adalah tiga orang berdarah Prancis. Dalam kaitan ini St Martin adalah pendiri Tjinere dan Tjitajam dan Cornelis Chastelein adalah pendiri Srengseng dan Depok. Seperti kata pepatah, semua ada dasarnya dan semua terhubung satu sama lain. Itulah domain sejarah.

Sehubungan dengan perkembangan wilayah dan penataan sistem jaringan transportasi dalam hubungannya dengan alokasi anggaran pemerintah, mulai ditetapkan jalan mana yang dijadikan sebagai jalan kelas dua. Jalan kelas satu sendiri adalah jalan pos atau jalan poros trans-Java yang berada di sisi timur sungai Tjiliwong antara Batavia dan Buitenzorg (jalan Daendels). Ketetapan pemerintah itu dalam penetapan jalan kelas dua dituangkan dalan sebuah resolusi tanggal 28 Januari 1836 nomor 24 (lihat Javasche courant, 24-02-1836). Penataan jalan ini diduga terkait dengan perkembangan lebih lanjut dari program Gubernur Jenderal sebelumnya van den Bosch tahun 1830 (pasca Perang Jawa) tentang cultuurstelsel (koffiestelsel). Tanaman-tanaman dari sistem atau program tersebut diduga telah menghasilkan. Arus barang dan komoditi juga akan menjadi lebih intens.

Javasche courant, 24-02-1836
Resolusi tanggal 28 Januari 11 nomor 21: Telah disetujui dan dipahami. Pasas-3 bahwa jalan kelas dua di Residentie Batavia dan Afdeeling Buitenzorg yang dimaksudkan mencakup: (a) Middenweg, membentang dari Parapatlan ke Westerweg di tanah Pondok Terrong. Middenweg yang membentang dari Tanah Abang ke Middenweg di land Karet; Westerweg mencakup dari Tanabang ke Buitenzo'g yang mana jalan dari Westerweg melalui pasar di Simplicitas, melalui Tjipoetat dan Parong ke Kuripan; (b) jalan dari Tangerang ke Toasia; (c) jalan-jalan dari Buitenzorg via Tjampea dan Jassinga ke Bantam via Simplak ke Kuripan dan dari Parong ke Tangerang; (d) jalan dari Batavia melintasi Tjintiga dan Soedimara ke Bergzigt.  

Sementara jalan terus ditingkatkan, kinerja pasar juga telah meningkat dari waktu ke waktu. Jika terjadi penataan pada jalan, sebenarnya juga ada penyesuaian hari buka pasar dari awal perkembangannya untuk pasar yang berdekatan. Jaringan jalan dalam hal terkait dengan hari buka pasar. Hari buka pasar Simplicitas adalah hari Djoemahat (Vrijdag). Sebagaimana kita lihat nanti pasar hari Jumat bergeser ke land Lebak Boeloes.

Pasar Senen di Weltevreden (1770)
Pasar terdekat dengan pasar hari Jumat di land Simplicitas adalah pasar Doerian Baroe atau pasar Pondok Terong di land Tjitajam yang buka hari Rabu dan pasar Minggu di land Tandjong West yang secara spasial bersifat bidang segitiga. Pasar sekunder (rujukan) dalam hal ini adalah pasar Tanah Abang yang buka pada hari Sabtu (zaturdag).  Di sisi timur sungai Tjiliwong adalah pasar Tandjong Oost (Rabu), pasar Tjimanggis (Jumat) pasar Tjibinong (Sabtu) yang secara spasial bersifat garis lurus sepanjang jalan utama. Pasar rujukan adalah pasar Meester Cornelis (Kamis). Pasar yang buka hari Jumat cukup banyak, tetapi sangat jarang sebuah pasar dibuka pada hari Minggu (pasar yang membingungkan orang Eropa/Belanda karena mereka pada hari Minggu libur). Pasar utama berada di Weltevreden (Pasar Senen).

Land Simplicitas diketahui telah berubah pemilik. Pada tahun 1828 land Simplicitas dimiliki oleh PT Chase, pada tahun 1837 pemiliknya diketahui adalah J van der Ven (lihat  Javasche courant, 09-12-1837). Namun sejak peralihan kepemilikan ini tidak diketahui secara jelas. Disebutkan bahwa van der Ven juga adalah pemilik land Pondok Petong, land Pabajoeran, land Tjempaka Poetie, land Rampoa, land Trogong dan land Lebak Boeloes (enam land ini saling berdekatan). Konglomerasi semacam ini tidak hanya ini tetapi ada beberapa, seperti pemilik land Tjimanggis juga adalah pemilik land Pondok Tjina dan land Tjinere; demikian juga pemilik land Tjibinomg juga adalah pemilik land Tjilodong, land Tjilangkap dan land Tapos. Tentu saja ini bukan baru, tempo doeloe pemilik land Simplicitas adalah istri van Parra yang juga pemilik land Tjimanggis dan Weltevreden. Land Simplicitas, land Lebak Boeloes dan land Trogong berdekatan dengan keenam land vand der Ven tersebut.

Java-bode, 04-05-1859
Namun tidak lama kemudian land Simplicitas diketahui akan disewakan (lihat Javasche courant, 17-03-1838). Tidak hanya itu juga diketahui pasar Pondok Laboe (pasar Simplicitas) akan disewakan (lihat Javasche courant, 07-11-1838). Sepuluh tahun kemudian pemilik land Simplicitas diketahui adalah PJ Godefroij (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 25-04-1848). Land Simplicitas kembali disewakan pada tahun 1859 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-05-1859). Yang mengiklankan adalah PE Godefroij. Yang berminat dapat menghubungi janda PJ Godefroij yang beralamat di Rijswijk.

Pasar Simplicitas bukanlah pasar besar tetapi kinerjanya dari waktu ke waktu tidak teralu meningkat, bahkan ada kecenderungan menurun. Apakah ini yang menyebabkan pemilik pasar Simplicitas terus mengiklankan bagi penyewa potensial pada tahun-tahun terakhir. Di antara 16 pasar di sekitar Batavia, pasar Simplicitas dalam setoran pajak tahunan (lima persen) hanya berada di peringkat tiga dari bawah (lihat Nieuw Amsterdamsch handels- en effectenblad, 08-01-1862). Tampak nilai pajak pasar Simplicitas hanya f1.000 jika dibandingkan dengan pasar besar yakni Pasar Senen sebesar f24.000.

Nieuw Amsterdamsch handelsblad, 08-01-1862
Seperti disebutkan di atas pasar adalah salah satu sumber perbendaharaan pemerintah dan tentu saja pemilik pasar (yang dalam hal ini pemilik pasar swasta). Berdasarkan peraturan pemerintah semua pasar atas izin pemerintah. Para pedagang tidak boleh membentuk transaksi di luar pasar. Itu dianggap pelanggaran yang dapat dikenakan denda atau pidana. Setiap pasar memungut biaya tol untuk banyak hal seperti pedagang yang berdagang, pengelola permainan, wayang, rumah penyewaan opium dan sebagainya. Semua itu diawasi oleh polisi yang ditempatkan di setiap pasar. Perlu dicatat bahwa pengenaan pajak hanya dilakukan di Batavia, Buitenzorg dan Krawang. Pemilik pasar/land tidak hanya orang Eropa/Belanda juga ada Tionghoa. Untuk di wilayah lain telah dihapuskan sejak 1851.

Pada tahun 1873 land Simplicitas akan dijual oleh PE Godefroij (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-02-1873). Penjualan land Simplicitas ini satu paket dengan land lainnya yang berada di Kebajoran, Tanah Koetsier dan Gebroek. Yang berminat harap menghubung PE Godefroij di land Simplicitas dan di Batavia dapat menghubungi Mr. JTM Godefroij. Tidak diketahui apakah land di Kebajoran, Tanah Koetsier dan Gebroel sudah terjual, tetapi janda AMC Gedofroij Ross memasang iklan untuk menjual rumah di Rijswijk dan land Simplicitas (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-06-1873). Yang berminat dapat menghubungi Mr. JTM Godefroij. Tampaknya tiga land belum terjual yakni land Kebajoran, Tanah Koetsier dan Simplicitas. Ini terindikasi dari iklan PE Geofroij yang melarang keras berburu di tiga land tersebut (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-03-1874).

Java-bode, 25-04-1885
Pada tahun 1879 di land Simplicitas terkena wabah penyakit hewan. Sebanyak 108 ekor sapi di land Simplicitas mati (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 22-01-1879). Residen Batavia telah mengumumkan ke publik di land PE Godefroy di Simplicitas terjadi wabah runderpest (veetyphus) yang menyebabkan kematian sapi (lihat Arnhemsche courant, 26-02-1879). PE Gedofroij tampaknya bertempat tinggal di land Simplicitas. Ini terlihat dari catatan pemerintah yang mana dicatat lahir di land Simplicitas (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 22-09-1879). Land Simplicitas tidak hanya mengalami penyakit hewan (yang pertama) dan telah menyebar ke land-land lainnya, juga muncul penyakit demam bagi penduduk. Menurut pemilik land Simplicitas, lahannya yang memiliki penduduk 10.000 orang terdapat kasus demam sekitar 300 orang. Sudah ditangani dokter dan telah menempatkan tiga dokter Djawa (lihat  Bataviaasch handelsblad, 01-03-1881).

Pasar di land Simplicitas adakalanya ditulis dengan Pasar Djoemahat seperti yang ditulis oleh Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-03-1882, Sebelumn ini juga, terutama setelah pengoperasian jalur kereta api tahun 1873 nama pasar di land Tandjong West yang buka pada hari mingggu lebih sering sekarang disebut Pasar Minggoe. Dengan demikian nama Pasar Minggoe dan nama Pasar Djoemahat seakan mengikuti penamaan publik terhadap pasar Weltevreden yang disebut sebagai Pasar Senen. Sementara itu di land tetangga di Tjinere pemiliknya ingin menjual lahannya (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-04-1885). Disebutkan bahwa penjualan publik land partikelir Tjinere dua bidang yang meliputi bangunan, pertanian, padang rumput dan hutan yang dikenal sebagai Pancalan Djati, Tjinere, Tanah Baroe, Crocot dan Maroejoeng blok P bagian 10, nomor 118 hingga 181 dengan harga f277.000 yang berbatasan ke utara ke land Pondok Laboe, selatan ke Depok, ke timur ke sungai Crocot dan  ke barat sungai Passangrahan yang dimiliki oleh Oeij Kiat Djin.

Bataviaasch nieuwsblad, 14-04-1888
PE Gedofroij yang setelah melalui cobaan yang berat dengan wabah penyakit hewan sapi dan wabah demam bagi penduduk yang tinggal di land Simplicitas, kabar duka kembali datang dari land Simplicitas. PE Gedofroij dikabarkan telah meninggal dunia pada tanggal 12 April dalam usia 57 tahun. PE Geofroij meninggalkan seorang istri dan tiga saudara (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-04-1888). PE Gedofroij meninggal di land Simplicitas. Kata simplicitas artinya kesederhanan. Tidak diketahui berapa jumlah anak PE Gedofroij.

Bagaimana nasib land Simplicitas setelah meninggalnya PE Gedofroij tidak diketahui. Meski demikian nama Simplicitas sudah menjadi terkenal. Pada tahun 1879 muncul wabah ternak di land Simplicitas untuk kali pertama. Sejak itu setiap pembahasan penyakit hewan selalu dikaitkan dengan penyakit hewan yang ditemukan di land Simplicitas. Nama Simplicitas juga telah mencapai Amsterdam. Kopi produksi land Simplicitas juga diekspor hingga Amsterdam (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 04-11-1895).

Volumenya tidak banyak memang, tetapi kopi Liberia produksi land Simplicitas memiliki nama dagang tersendiri seperti kopi Roempin Liberia, Dramaga Liberia dan sebagainya. Kopi Liberia dari land Simplicitas masih terus eksis hingga akhir tahun 1902 (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 19-02-1902).

Sebuah laporan pemerintah yang dimuat di dalam Nederlandsche staatscourant, 26-11-1897 ada indikasi bahwa land Simplicitas telah dibeli oleh pemerintah. Dalam laporan tersebut ada satu baris (no.14) yang menyatakan ‘taxatiekosten der beleende landen Simplicitas c.a. vaa de weduwe PE Godefroij’ sebesar f300. Biaya yang dikeluarkan pemerintah tersebut adalah biaya penilaian land Simplicitas yang dimiliki oleh janda PE Gedofroij sebesar f300. Penilaian tetaplah penilaian. Tidak ada informasi setelah penilaian tersebut dilanjutkan ke pembelian oleh pemerintah. Sebagaimana diketahui, pemerintah secara terus menerus melakukan upaya pembelian (akuisisi) tanah-tanah partikelir (land) yang muncul pada era VOC. Tampaknya land Simplicitas menjadi dalah satu target.

Bataviaasch nieuwsblad, 23-05-1927
Land Simplicitas tidak diketahui apakah masih berstatus land partikelir atau land pemerintah. Pada tahun 1905 diketahui land Simplicitas telah dimiliki oleh keluarga de Vries (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-07-1905). Disebutkan keluarga de Vries bertempat tinggal di land Simplicitas. Indikasi ini diperkuat dengan iklan yang dibuat oleh de Vries yang menjual dengan harga yang wajar, Kapitale Huis (Capital House) di Buitenzorg yang sebelumnya dihuni oleh mantan Residen Faes. Untuk yang berminat dapat menghubungi Vries di Simplicitas, Afdeeling Meester Cornelis (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 18-08-1906).

Akhirnya pemerintah mengakuisisi land Simplicitas pada tahun 1927 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-05-1927). Disebutkan bahwa hari ini, transfer terjadi pada particuliere land Kebajoran (Simplicitas). Land itu, milik Sin Kim Soen berukuran seluas 1.800 bau. Pembayaran dilakukan dengan nilai sebesar 3.5 ton. Lahan budidaya (termasuk kebun sereh) yang merupakan bagian dari lahan akan diberikan kepada penyewa saat ini dengan sewa jangka panjang. Informasi ini juga menjelaskan bahwa pemilik terakhir dari land Simplicitas adalah Sin Kim Soen yang diduga kuat membelinya dari keluarga de Vries.

Rijstpelmolen (gilingan padi) Simplicitas, 1930
Kapan  Sin Kim Soen memperoleh lahan ini dari keluarga de Vries diduga sekitar tahun 1913. Pada tahun itu terjadi penjualan besar-besar lahan di land Simplicitas. Salah satu land yang dijual kepada publik dengan nama land Pondok Laboe-Karang Tengah sebanyak lima bidang yang berisi bangunan, lahan pertanian seluas 415 bau denganverponding senilai f29.984 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 04-08-1913).

Dengan diakuisisinya land Kebajoran Simplicitas ini maka lahan yang berstatus land partikelir secara keseluruhan dari land Simplicitas tamat sudah. Land Simplicitas termasuk land tertua di District Kebajoran. Dengan akuisisi ini juga land-land partikelir semakin berkurang. Sebelumnya land tetangga, land Ragoenan pada tahun 1917 telah diakuisisi oleh pemerintah. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 16-05-1927 melaporkan dari sidang Volksraad land-land yang telah diakusisi pemerintah pada tahun-tahun terakhir ini antara lain land Djatinegara, land Pondok Laboe, land Paser Tangerang Barat, Djasinga dan Kebajoran.

Land Lebakboeloes en Simplicitas: Pasar Djoemahat

Pergeseran batas-batas wilayah yang lebih luas sudah sangat jarang terjadi misalnya batas residentie dan batas afdeeling. Tidak demikian pada batas-batas wilayah yang lebih kecil, terutama di dalam batas-batas land. Perubahan dan pergeseran batas-batas land biasanya disebabkan adanya penjualan dengan pembentukan land baru atau adanya penggabungan (peleburan) dua land menjadi satu kepemilikan. Satu lagi yang perlu dicatat adalah nama-nama kampong, selain muncul nama kampong baru  juga terjadi pergeseran kareana perpindahan penduduk (relokasi) atau wilayah kampong semakin meluas.

Batas antara afdeeling Meester Cornelis dan afdeeling Buitenzorg sudah tidak berubah. Land Simplicitas yang berada dalam ‘grey area’ telah ditegaskan oleh pemerintah pendudukan Inggris pada tahun 1815. Oleh karena itu batas-batas land yang masuk afdeeling Meester Cornelis dengan land yang berada di afdeeling Buitenzorg mengacu pada batas afdeeling yang sudah dipetakan. Seperti diketahui, land Tjinere dan land Ragoenan, land Simplicitas sudah eksis sejak era VOC. Tiga land ini terbilang land pendahulu. Dalam perkembanganya, masih di era VOC terbentuk land baru. Pada era Pemerintah Hindia Belanda (setelah tahun 1800) tidak ada lagi pembentukan land partikelir, tetapi land yang sudah ada dimungkinkan untuk membentuk land partikelir baru dengan pemekaran. Sementara itu, sejumlah land partikelir diakuisisi oleh pemerintah dan dijual ke publik. Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan lahan sisa dengan membentuk land baru yang kemudian dijual ke publik. Luas lahan land partikelir semakin menyusut, sebaliknya land pemerintah (verponding) semakin meluas. Meski begitu, batas-batas wilayah afdeeling tetap adanya (tidak berubah).

Sebagaimana land Tjinere dan land Ragoenan, land Simplicitas juga adalah land partikelir. Land Tjinere berada di wilayah afdeeling Buitenzorg; land Ragoenan dan land Simplicitas yang sudah terbentuk di era VOC sebagai land pendahulu menjadi batas afdeeling Meester Cornelis dengan afdeeling Buitenzorg yang kemudian dimasukkan menjadi bagian dari wilayah District Kebajoran (Afdeeling Meester Cornelis). Land Simplicitas sendiri di sisi timur berbatasan dengan land Ragoenan yang dibatasi oleh sungai Kroekoet, sementara land Simplicitas di sebelah barat berbatasan langsung dengan sungai Psanggrahan (District Tengerang), sedangkan land Simplicitas di sebelah utara berbatasan dengan land Gandaria dan land Pondok Pinang. Di selatan berbatasan dengan Buitenzorg.
.
District Kebajoran (d)
Dalam perkembangannya, Residentie Batavia hanya terdiri dari empat afdeeling yakni (A) Stad Batavia, (B) Meester Cornelis, (C) Tangerang dan (D) Buitenzorg. Afdeeling Meester Corbnelis terdiri dari tiga district yakni (c) Meester Cornelis, (d) Kebajoran dan (e) Bekasi. District Kebajoran berbatasan dengan District Weltevreden (b), District Meester Cornelis, Buitenzoeg dan District Tangerang (f). Secara geografis, District Kebajoran berada di sisi barat sungai Tjiliwong dan di sisi timur sungai Angke.   

Pada era Pemerintah Hindia Belanda land Simplicitas mengalami pemekaran yang kemudian terbentuk land Pondok Laboe, land Lebak Boeloes dan land Trogong. Oleh karena land Simplicitas, land Pondok Laboe dan land Lebak Boeloes bermula dari land Simplicitas, maka jika ada penggabungan kepemilikan nama yang muncul adalah tiga nama land ini. Sebelum adanya penataan sistem administrasi wilayah, nama yang digunakan adalah nama land. Pernah land Simplicitas digabung dengan land Lebak Boeloes tetapi secara umum tetap disebut land Simplicitas (mengacu pada land induknya). Sebagai land induk, keutamaan lain land Simplicitas adalah tempat dimana landhuis, pabrik penggilingan padi dan tentu saja pasar. Landhuis Simplicitas sebagai ibukota di wilayah land juga berada di jalur lalu lintas utama dari Buitenzorg ke Tanah Abang (land Simplicitas diakses dari Tanah Abang via Kebajoran).

Java-bode, 29-03-1882
Nama pasar Djoemahat lambat-laun menjadi nama kampung sendiri dan kampong ini berada di land Lebakboeloes, Namun karena land Simplicitas digabung dengan land Lebakboeloes maka nama wilayah hanya disebut land Simplicitas (lihat misalnya Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-03-1882). Disebutkan ‘kampung-kampung Kadaoeng, Tjempaka Poetie (land Poundok Petong), Trogong, Lebak Boeloes dan Passer Djoemahat (land Simplicitas) District Kebaijoran’.

Pada tempo doeloe muncul nama land gabungan baru yang disebut land Simplicitas en Pondok Laboe, tetapi pada tahun-tahun terakhir nama yang muncul adalah land Lebakboloes en Simplicitas. Perubahan dan pergeseran nama wilayah (berdasarkan nama land) disebabkan adanya perubahan kepemilikan atau terjadinya perkembangan spasial baru (atas dasar lalu lintas jalan utama atau pertumbuhan ekonomi dan semakin berkembangnya pasar). Oleh karenanya terkesan terdapat persaingan antara land Pondok Laboe dan land Lebakboeloes. Namuan karena nama land Simplicitas sebagai land pandahulu dan memiliki banyak keutamaan maka nama (land) Simplicitas selalu menonjol dan sulit tergantikan.

Pasar lama Simplicitas, pasar baru Djoemahat (Peta 1914)
Dimana posisi pasar Simplicitas? Posisinya tidak statis. Pada awalnya, sejak awal Pemerintah Hindia Belanda (1800), berada di tengah land Simplicitas. Posisi pasar Simplicitas ini juga tidak jauh dari land Pondok Laboe, karena itu pasar Simplicitas juga adakalanya disebut pasar Pondok Laboe. Batas land Simplicitas dan land Pondok Laboe adalah sungai Grogol. Pasar Simplicitas ini berada di jalur ekonomi awal yakni jalan dari Buitenzorg ke Tanah Abang melalui land Tjinere (jalan Cinere Raya yang sekarang) dan land Simplicitas (jalan Karang Tengah Raya yang sekarang). Pasar Simplicitas ini dibuka pada hari Jumat (vrijdag). Lambat laun nama pasar Simplicitas ini juga disebut Pasar Djoemahat (Pasar Jumat). Terjadi promosi nama Pasar Djoemahat dan sebaliknya terjadi degradasi nama Pasar Pondok Laboe yang pada gilirannya nama Pasar Simplicitas juga terdegrasi dan hanya dikenal Pasar Djoemahat saja.

Land Simplicitas dan land Tjinere pada masa kini
Dalam proses perkembangan tersebut, posisi pasar ini bergeser. Ini sehubungan dengan perkebangan jalur ekonomi di sisi barat land Simplicitas melalui land Pondok Tjabe dan land Tjireundeu (jalan Cirende Raya/jalan Lebak Bulus Raya yang sekarang). Ketika terjadi lagi penggabungan land Simplicitas dan land Lebak Boeloes ke dalam satu kepemilikan land, pada situasi dimana jalan di sisi barat sungai Psanggrahan telah meningkat maka posisi pasar Simplicitas yang mana sebutan Pasar Djoemahat mulai populer dipindahkan ke arah utara dimana dua jalan arteri dari selatan bertemu di land Lebak Boelos. Lalu dengan semakin berkembangnya Pasar Djoemahat di land Lebak Boeloe, area sekitar menjadi pemukiman yang tumbuh pesat dan terbentuk kampong, yakni kampong Pasar Djoemahat. Popularitas land Lebak Boeloes juga secara perlahan telah mengalahkan nama Simplicitas. Karena itu nama wilayah juga berubah dari Simlplicitas en Lebakboeloes menjadi (rokade) Lebakboeloes en Simplicitas (lihat Peta 1914). Hal ini tidak hanya terjadi di Simplicitas tetap sudah jamak sejak lama di berbagai tempat di Jawa dan Sumatra. Itu semua bermuara ke satu nama yang sesuai situasi dan kondisi (nama tempat adalah penanda navigasi yang penting).

Dalam perkembangannya nama wilayah Lebak Boelos en Simplicitas mereduksi dan hanya disebut wilayah Lebak Boeloes (lihat Peta 1924). Menghilangnya nama Simplicitas karena Lebak Boeloes semakin populer lebih-lebih posisi Pasar Djoemahat berada di land Lebak Boeloes. Dalam nomenklatur penulisan juga sudah terkesan nama Lebak Boelos lebih penting daripada nama Simplicitas yang ditulis dengan Lebak Boeloes en Simplicitas (bukan sebaliknya). Nama Simplicitas yang sudah berumur lebih dari satu abad melemah dan tamat. Kini, land Simplicitas menjadi bagian dari kelurahan Lebak Bulus.

Pasar Simplicitas (lama); Pasar Djoemahat (baru)
Dalam rangka penataan sistem wilayah administratif dengan pembentukan desa-desa yang dintegrasikan dengan pelaksanaan sensus penduduk tahun 1930, kampong besar dijadikan satu desa atau beberapa kampong kecil yang berdekatan dijadikan satu desa, seperti desa Pondok Laboe, desa Pasar Djoemahat dan desa Lebak Boeloes. Tidak ada nama desa Simplicitas (lihat daftar desa dan wijk sensus penduduk 1930). Nama (land) Simplicitas di dalam Peta 1934 juga tidak diidentifikasi lagi. Hal ini karena land Simplicitas telah diakuisisi oleh pemerintah. Land-land partikelir yang ada di Peta 1934 masih diidentifikasi dengan menambah particulier di depan nama land. Nama Simplicitas sebagai nama land maupun nama pasar tamat. Nama-nama land (partikelir) di sekitar yang masih eksis seperti diidentifikasi dalam Peta 1934 adalah land Tjinere en Pondok Tjina; land Gebroek, land Pondok Pinang; dan land Pondok Tjabe Hilir.

Nama Pasar Djoemat (Pasar Djoemahat) muncul ke permukaan. Namanya terus dicatat. Orang semakin banyak yang mengetahui Pasar Djoemat. Jauh sebelum ini juga terjadi di land Tandjong West. Nama pasar sebelumnya adalah pasar Tandjong West lalu kemudian berganti nama menjadi Pasar Minggoe. Namun pasar Tandjoeng West masih menyisakan warisan hingga ini hari sebagai nama kelurahan Tanjung Barat (alih bahasa dari Tandjong West). Lalu bagaimana warisan nama Simplicitas? Tidak terlihat. Namun sejarah tetaplah sejarah. Nama-nama Pondok Labu, Lebak Bulus dan Pasar Jumat haruslah tetap dihubungkan dengan nama Simplicitas jika membicarakan sejarah. Sebelum mengakhiri kisah nama Simplicitas, satu pertanyaan yang juga penting dijawab adalah dimana posisi landhuis Simplicitas?

Landhuis Simplicitas dengan halaman luas (1930)
Sebagaimana diketahui di masa lampau landhuis dapat dikatakan sebagai ibukota (hoofdplaat) di suatu land. Pemilik land (landheer) adalah presidennya karena landheer adalah pemiliki negara (berdaulat) yang disebut tanah partikelir (land). Land sejatinya adalah negara dalam negara. Land Simplicitas pada masa kini menjadi bagian dari wilayah kelurahan Lebak Bulus.
.
Posisi GPS landhuis Simplicitas pada zaman now ini berada di kelurahan Lebak Bulus tepatnya di sebelah kiri jalan Ciputat Raya selepas persimpangan jalan dari Rempoa/Tjipoetat. Landhuis ini berdasarkan foto 1930 dan Peta 1901 dan Peta 1914 memiliki halaman luas yang di depan bangunan terdapat jalan setengah lingkaran dari dan ke jalan raya (dapat diakses dari dua arah).

Landhuis Simplicitas (Peta 1914)
Penanda navigasinya sebagai berikut: Bayangkan anda dari Buitenzorg via Tjinere melalu land Simplicitas mau ke Tanah Abang via Kebajoran. Itu berarti pada masa kini dari jalan Cinere Raya yang sekarang, lanjut jalan Karang Tengah Raya yang sekarang. Pada pertigaan pertama dari arah barat bertemu dengan jalan Cirende Raya. Tidak jauh dari pertigaan ini Pasar Djoemahat. Lalu setelah pasar pada simpang kedua yang mana jalan dari arah timur ketemu (dari kampong Lebak Boeloes, jalan Adiaksa Raya yang sekarang). Tidak jauh kemudian ketemu simpang yang ketiga jalan yang dari barat dari Rempoa/Tjipoetat. Setelah simpang ketiga ini pada posisi dimana jarak terjauh antara sungai Psanggarahan dengan jalan Lebak Bulus Raya. Itu berati posisi landhuis ini adalah area pusdiklat kepolisian RI yang sekarang. Peta 1914

Eks landhuis Simplicitas di kelurahan Pondok Pinang (Peta 1995)
Sementara dimana posisi penggilingan padi (rijstpelmolen) berada di sebelah bangunan landhuis dekat sawah sebelah utara kira-kira masih menjadi area bagian pusdiklat Polri. Pada masa kini area landhuis/rijstpelmolen (area pusdiklat Polri) sudah masuk kelurahan Pondok Pinang (pemekaran desa/kelurahan Lebak Bulus?). Sedangkan dimana posisi pasar Pasar Djoemahat (kini Pasar Jumat) berada di sisi timur jalan Lebak Bulus Raya  yang sekarang sebelum pertigaan dari Rempoa/Tjipoetat (lihat Peta 1995). Pasar Jumat yang sekarang tidak jauh dari terminal bis Lebak Bulus. Pada peta masa kini, pasar ini masuk wilayah kelurahan Lebak Bulus.    

Demikianlah sejarah panjang pasar Simplicitas secara singkat, pasar yang kini dikenal sebagai Pasar Jumat. Mau jumatan? Boleh juga ke masjid Lebak Bulus di land Simplicitas.


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar