Laman

Rabu, 03 Juli 2019

Sejarah Bekasi (13): Sejarah Banjir Bekasi; Kali Mati, Kali Malang Rawa Malang, Rawa Siloeman, Tjiboentoe dan Rawa Pandjang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Sejarah banjir di Bekasi adalah sejarah panjang, bahkan sejak jaman purba. Muara sungai Bekasi yang sekarang sebelumnya jauh lebih ke dalam. Pada era VOC, kampong  Moara diidentifikasi sebagai batas daratan dan lautan. Kampong Moara tempo doeloe ini kini menjadi batas Kecamatan Muara Gembong hingga ke laut. Seluruh wilayah kecamatan ini dapat dikatakan hasil proses sedimentasi jangka panjang. Proses sedimentasi yang kuat mengindikasikan adanya arus deras di kawasan rendah yang membawa lumpur dari hulu. Tipologi daratan dan sungai semacam ini kerap menimbulkan banjir besar. Seringnya banjir di Bekasa pada masa ini adalah gambaran banjir yang intens pada masa lampau. Banjir besar di Bekasi terjadi pada tahun 2016.

Banjir bandang di Bekasi 1961 (De Volkskrant, 24-01-1961)
Pada tahun 2007 pernah terjadi banjir besar di Bekasi. Namun banjir yang terjadi pada bulan April 2016 dianggap sangat besar. Banjir bandang tahun 2016 ini terjadi karena luapan Kali Bekasi yang tidak bisa ditahan. Banyak orang menganggap banjir Bekasi tahun 2016 ini sebagai banjir terbesar sepanjang sejarah. Idem dito dengan sejarah banjir di Jakarta. Tipologi wilauah Bekasi dan Jakarta yang wilayahnya berdekatan kurang lebih sama. Banjir gede di Jakarta terjadi pada tahun 2007, banjir yang bersamaan dengan banjir Bekasi tahun 2007. Banjir Bekasi tahun 2016 jauh lebih besar dari banjir Bekasi tahun 2007.

Banjir gede pada  tahun 2016 bukanlah banjir terbesar dalam sejarah banjir Bekasi. Pada tahun 1961 pernah terjadi banjir hebat di Bekasi yang disebabkan oleh sungai Bekasi dan sungai Tjitaroem. Sebanyak 211.600  jiwa penduduk mengungsi dan 60.000 rumah ditelan banjir. Otoritas militer yang melakukan pengamatan dari pesawat menyatakan bahwa daerah Bekasi menyerupai satu lautan coklat besar (lihat  De Volkskrant, 24-01-1961). Peristiwa banjir 1961 inilah yang kemudian memantapkan penyegeraan rencana lanjutan pembangunan kanal Kalimalang dari Bekasi ke (bendungan) Tjoeroek di Poerwakarta. Sebelumnya, pada tahun 1959 kanal Kalimalang ruas Bekasi-Jakarta sudah selesai dibangun.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Kali Mati, Rawa Pandjang dan Tjiboentoe

Tanda- tanda alam di Bekasi sejak tempo doeloe telah terpetakan dengan sangat jelas. Ini dapat dilihat pada peta mikroskopik (skala 1:20.000) yang terbit pada periode waktu 1900-1903). Puluhan peta (blad) ini telah membagi habis seluruh wilayah Bekasi. Informasi dalam peta-peta tersebut dapat dibandingkan dengan kondisi masa sekarang. Informasi tersebut yang memiliki kaitan dengan soal banjir antara lain tentang situs sungai (kali), muara, rawa, situ, area persawahan dan pemukiman, jalan dan jembatan serta bendungan dan kanal.

Peta dengan skala 1.20.000 setara dengan peta digital pada masa ini seperti googlemaps. Dalam peta digital googlemaps bisa dilacak dengan baik dan tepat tentang situs-situs yang diperlukan dalam kajian seperti posisi dan arah sungai dan rawa.

Tanda-tanda alam di Bekasi yang mengindikasikan suatu dampak suatu banjir di masa lalu, diantaranya yang terpenting adalah kali mati (sungai mati), rawa panjang dan rawa yang sangat panjang (sungai buntu). Situs-situs unik cukup banyak ditemukan di wilayah Afdeeling Bekasi.

Kali mati sungai Tjitaroem di Bekasi (Peta 1901)
Satu hal yang unik lagi tentang wilayah Bekasi terdapat begitu banyak sungai-sungai kecil yang berdiri sendiri (sejajar dengan sungai-sungai besar). Semua tanda-tanda alam Bekasi ini merujuk pada satu kata: banjir.

Kali mati ditemukan di kali Bekasi dan sungai Tjitaroem. Kali mati adalah arah aliran sungai yang kemudian menjadi nyaris tidak berfungsi atau terkurung karena munculnya arah aliran sungai yang baru. Kali mati ini terdapat pada aliran sungai yang berbelok-belok yang mana bagian hilirnya hampir menyentuh hulunya. Pola aliran sungai ini hampir membentuk lingkaran.  Belok-belok tajam (bahkan hampir satu lingaran) menunjukkan tingkat permukaan yang merata di satu kawasan. Seringnya hujan di wilayah hulu menyebabkan debit air tinggi di hilir yang dapat menerjang di tikungan sungai (abrasi). Proses abrasi inilah yang menyebabkan arah aliran sungai melingkar mempertemukan bagian hulu dan hilir sehingga lingkungan sungai terisolasi dan menjadi terputus dan penduduk menyebutnya kali mati. Dalam hal ini kali mati adalah tanda-tanda alam yang menunjukkan wilayah di sekitarnya rawan banjir.

Sungai Soerabaja (Peta 1867)
Kali mati buatan alam merupakan petunjuk alarm bahaya banjir, pernah terjadi dan mungkin akan terjadi. Sementara kali mati buatan manusia menunjukkan adanya intervensi manusia untuk mengurangi bahaya banjir di kemudian hari. Contoh pertama di Batavia (kini Jakarta). Sungai Tjiliwong disodet di benteng Noordwijk (sekitar masjid Istiqlal yang sekarang) dengan mengalirkannya dengan membangun kanal ke barat (sungai di jalan Veteran/Juanda yang sekarang). Oleh karena masih kerap nanjior di kota lalu sungai Tjiliwong disodet lagi ke arah timur dengan membangun kanal (sungai di pasar Baru yang sekarang). Akhirnya sungai Tjiliwong dari benteng Noordwijk ke arah kota dimatikan (di atas eks sungai kemudian dibangun rel kereta api antara stasion Junada dan stasion Manggadua). Kali mati juga ditemukan di Semarang dan Soerabaja. Sungai Soerabaja di dalam kota disodet untuk membangun kanal ke pantai dan kanal ini menjadi jalur kapal ke dalam kota. Akibat pembangunan kanal ini (kini disebut Kalimas), sungai Soerabaja ke hilir menjadi mati. Hal serupa juga dilakukan di kota Semarang.  

Tanda-tanda alam lainnya yang terkait dengan banjir di masa lalu adalah ditemukannya sejumlah rawa panjang. Suatu rawa yang cukup panjang dan melengkung dan beberda dengan rawa yang umumnya lebar dan tidak beraturan. Rawa panjang mengindikasikan suatu bekas arah aliran air yang mengindikasikan pernah terjadi banjir gede. Rawa panjang ini cenderung lebih dalam dan eksis lebih lama (jika dibandigkan dengan rawa luas yang cenderung dangkal). Orang yang tempo doeloe membuat perkampungan di sekitar rawa diduga menjadi asal usul nama kampong Rawa Pandjang (kini  kawasan di sekitar Naragong).

Rawa Panjang adalah salah satu bentuk penamaan rawa karea bentuknya. Nama rawa diberikan sesuai karakteristik rawa. Nama-nama rawa di Bekasi seperti rawa Gede (rawa yang luas), rawa Siloeman, rawa Tembaga. Penghuni utama rawa adalah buaya yang dianggap raja rawa, seperti halnya harimau adalah raja hutan. Di Rawa Tembaga dan Rawa Siloeman penduduk selalu mengaitkan dengan keberadaan monster. Namun bagi orang Eropa Belanda, monster yang terdapat di Rawa Tembaga (antara pal 21 dan pal 22 di dekat Bekasi) itu adalah buaya besar yang berdiam di rawa. Pada musim kemarau ketika rawa kering buaya-buaya itu adakalanya keluar dan tidur di jalan dan menghalangi orang yang lewat (lihat  De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 05-01-1856).

Satu lagi tanda-tanda alam di Bekasi yang terkait dengan banjir, meski sangat jarang tetapi tetap dapat dijadikan sebagai petunjuk adalah sungai buntu (Tjiboentoe). Suatu sungai pendek yang diduga terbentuk karena dampak banjir. Sungai buntu ini tidak mengalir lebih jauh ke hilir tetapi berbelok ke arah hulu membentuk setengah lingkaran (lihat lagi kali mati). Sungai buntu ini boleh dikatakan bentuk lain dari rawa panjang.

Rawa Siloeman dan Sitoe Siloeman (Peta 1903)
Rawa dan situ adalah wujud yang sama, bedanya adalah soal adaptasi terhadap musim kemarau dan musim hujan. Rawa bisa kering di musim kemarau sedangkan situ tetap eksis. Ini berarti merujuk pada kedalaman air. Suatu rawa yang dalam dan bersifat permanen disebut situ (danau, meer or lake). Sifat yang membedakan ini penduduk Bekasi menyebut sitoe Siloeman untuk yang dihulu dan rawa Siloeman yang ada di hilir. Seperti Bekasi yang merupakan daerah hilir yang landai umumnya genangan air berbentuk rawa, tetapi di daerah hulu yang tanahnya berombak cenderung terbentuk situ seperti di Depok. Situ dan rawa yang memiliki sumber air tetap yakni adanya sungai di hulu akan cenderung mengalir ke hilir. Rawa dan situ semacam ini dimanfaatkan untuk pembangunan bendungan dan kanal irigasi. Ada juga rawa dan situ yang terbentuk karena keadaan khusus. Misalnya bekas lio (pabrik batu bata) yang membentuk cekungan luas secara perlahan terbentuk situ. Namun ada juga yang terbentuk secara drastis seperti terbentuknya rawa Besar di Depok (akibat jebolnya bendungan Situ Pitara yang menyebabkan banjir bandang pada tahun 1850).   

Tanda-tanda alam yang terkait banjir di Bekasi masih banyak tetapi tidak perlu diuraikan lagi. Contoh tanda-tanda alam di Bekasi tersebut di atas menunjukkan suatu kisah banjir. Contoh ini sudah cukup mewakili untuk mengatakan bahwa Bekasi memiliki potensi banjir. Contoh-contoh ini denga seringnya banjir di Bekasi pasa masa ini berkorelasi. Tanda-tanda alam dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahaya banjir.

Banjir dan Kali Malang

Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap pada awal pembentukan kabinetnya tahun 1955 menghadapi persoalan minimnya ketersediaan listrik menyusul protes (demonstasi) mahasiswa yang digalang oleh Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia di Babndoeng (cikal bakal Dewan Mahasiswa ITB). Ketua Dewan Mahasiswa ITB saat itu adalah Januar Hakim Harahap. Sejak itu Boerhanoeddin Harahap meminta Pandji Soeroso (Menteri PU) mengkajinya. Lalu muncullah gagasan pembangunan waduk Djatiloehoer (sungai Tjitaroem di Poerwakarta) yang mengintegrasikan untuk pembangunan irigasi dan pembangunan pembangkit listrik. Pekerjaan proyek Djatiloehoer dimulai pada bulan April 1956 (lihat Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 07-02-1957).

Algemeen...de Preangerbode, 07-02-1957
Disebutkan waduk Djatiloehoer ini memiliki volume tiga miliar meter kubik yang juga akan mengurangi (dampak) banjir yang terus menerus dari sungai Tjitaroem. Dari Tjoeroeg air dikumpulkan dan dialirkan ke Djatinegara melewati kali Bekasi dan kali Tjiipeen. Dengan demikian Djakarta akan menerima air minum yang memadai melalui pengolahan airnya. Bendungan baru untuk mengantisipasi selesainya pembangunan Djatiloehoer pekerjaan bendungan sudah dimulai di Kali Bekasi yang akan mengatur pasokan air untuk Jakarta. Bendungan ini )Kali Bekasi) memiliki panjang 55 meter dan tinggi 13 meter. Di sepanjang bendungan akan dibangun jalan raya ke Djakarta sehingga meluruskan (memperpedek) jalan saat ini. Pekerjaan irigasi juga sedang dibangun dari Tjoeroeg ke timur ke sungai Tjipoenegara dan Salam Darma. Ini menghasilkan perbaikan irigasi untuk 250.000 hektar lahan pertanian. Keseluruhan biaya pembangunan proyek waduk dan irigasi ini, diluar proyek PLTA diperkirakan sebesar 500 Juta rupiah.

Pada tahun 1959 proyek bendungan kali Bekasi dan kanal serta jalan raya Bekasi ke Djakarta selesai dibangun. Kanal dan jalan ini garis lurus dari kota Bekasi hingga ke Tjawang. Aliran air kanal ini di Tjawang berbelok ke utara dan kemudian ke timur menuju rawa Malang di perbatasan Djakarta dan Bekasi. Sementara itu debit air yang meningkat di rawa Malang dikembangkan aliran kali dari rawa Malang ke laut (Maroenda). Kanal antara kali Bekasi dan rawa Malang inilah diduga kemudian disingkat menjadi nama kanal Kali Malang. Nama jalan di sisi utara kanal boleh jadi lambat laun disebut jalan Kalimalang.

Kanal Kalimalang dan Banjir Kanal Timur (BKT)
Pembangunan kanal telah memicu pembangunan jalan raya (jalan raya Kalimalang). Jalan ini menjadi lebih pendek dan jarak waktu yang singkat antara Bekasi dan Djakarta. Sebelumnya dari Bekasi ke Djakarta harus melalui Krandji, Odjoeng Menteng, Tjakoeng, Poelo Gadoeng, Tjipinang dan Djatinegara (Djakarta). Rute ini dibangun sejak tahunn 1850an. Jalur lainnya yang juga melingkar dari Bekasi ke Djakarta adalah melalui Pekajon, Pondok Gede, Pondok Bamboe dan Tjipinang. Jalan alternatif lainnya dari Krandji melalui Tjikoenir, Pondok Gede, Pondok Bamboe dan Tjipinang. Jalan baru lintas Kalimalang memang jauh lebih pendek.  

Sementara pekerjaan proyek pembangunan waduk Djatiloehoer terus berlangsung, bencana besar terjadi pada tahun 1961. Banjir bandang di Bekasi yang disebabkan oleh sungai Bekasi dan sungai Tjitaroem (lihat  De Volkskrant, 24-01-1961). Disebutkan sebanyak 211.600  jiwa penduduk mengungsi dan 60.000 rumah ditelan banjir. Otoritas militer yang melakukan pengamatan dari pesawat menyatakan bahwa daerah Bekasi menyerupai satu lautan coklat besar. Het vrije volk : democratisch-socialistisch dagblad, 23-01-1961 menambahkan bahwa di Bekasi hanya lima desa yang masih tersisa untuk menampung 60.000 hingga 100.000 pengungsi. Lalu lintas kereta api telah berhenti dan koneksi telepon antara Djakarta dan Soerabaja menjadi terputus,

Banjir bandang dari sungai Tjitaroem ini tentu saja waduk Djatiloehoer belum memberi pengaruh apa-apa karena pekerjaanya masih tahap awal. Demikian juga pembangunan bendungan Tjoeroek juga belum meberi dampak apa-apa dan bahkan boleh jadi pekerjaannya masih tahap permulaan. Oleh karena itu, banjir bandang dari Tjitaroem murni masih pengaruh alam dalam arti banjir bandang Tjitaroem sepenuhnya karena potensi bahaya alamiah sungai Tjitaroem sendiri,

Pasca banjir bandang sungai Tjitaroem sudah barang tentu rencana awal membangun kanal dari Tjoeroek ke Kali Bekasi menjadi prioritas. Kapan pembangunan kanal dari Tjoeroek ke Bekasi tidak diketahui kapan dimulai dan juga kapan selesainya. Yang jelas, bahwa pembangunan kanal dari Tjoeroek ke Bekasi mendesak dilakukan agar mampu mengurangi potensi banjir dari sungai Tjitaroem ke hilir. Ini berari pekerjaan kanal Kalimalang dari Tjoeroek dilakukan segera setelah banjir bandang.

Pekerjaan proyek pembangunan waduk Djatiloehor adalah pekerjaan mega proyek yang membutuhkan waktu cukup lama. Seperti diketahui, bendungan Djatiloehoer sepenuhnya selesai dan diresmikian pemerintah RI pada tahun 1967. Itu berarti pembangunan bendungan Djatiloehoer membutuhkan waktu selama 10 tahun. Pada saat waduk Djatiloehoer mulai dioperasikan pada tahun 1967, kanal dari Tjoeroek ke Kali Bekasi (terusan kanal Kalimalang) sudah lama selesai. Dengan kata lain, kanal Kalimalang secara keseluruhan (dari Tjoeroek, Poerwakarta ke Djakarta) jauh lebih dulu selesai jika dibandingkan dengan waduk Djatiloehoer. Kanal Kalimalang sumber airnya dari bendungan Tjoeroek (bukan dari Kali Bekasi atau sungai Tjibeet).

Kanal Kalimalang jelas seakan memberi manfaat langsung untuk banyak hal. Yang pertama mengurangi potensi banjir sungai Tjitaroem ke hilir dan memberi sumpai air bersih ke Djakarta. Manfaat lainnya dari kanal Kalimaling yang juga penting telah memberikan jaminan bagi pembangunan irigasi di hilir kanal. Pada satu sisi, kanal Kalimalang dipandang sebagai hal yang bermanfaat.

Namun pada sisi lain kanal Kalimalang harus dilihat cermat dan bersifat jangkat panjang. Kanal Kalimalang telah banyak menghambat arah aliran sungai yang menyebabkan banyak sungai-sungai buntu di hulu kanal (yang doeloe penduduk menyebut kali semacam ini sungai/kali Tjiboentoe). Kanal Kalimalang juga menyebabkan sejumlah sungai di dilir kanal menjadi mati (Kali Mati). Sementara itu, keberadaan kanal Kalimalang bagi Kali Bekasi tidak sepenuhnya dapat diandalkan untuk meminimumkan potensi banjir Kali Bekasi ke hilir. Sebab kenyataannya air kanal Kalimalang tidak tercamput dengan air sungai Kali Bekasi. Kanal Kalimalang yang membawa air (bersih) dari Tjoeroek pada perkembangannya disalurkan melalui terowongan (channel) di bawah bendungan Kali Bekasi. Sebaliknya, air Kali Bekasi tidak dialihkan ke kanal Kalimalang untuk mengurangi potensi banjir Kali Bekasi ke hilir.

Dalam hal ini, terutama pada masa kini, pengaruh keberadaan Kalimalang di tengah Kota Bekasi boleh jadi hanya bermanfaat bagi kota Djakarta, tetapi sebaliknya keberadaan kanal Kalimalang justru memberi beban kepada Kota Bekasi. Keberadaan Kalimalang mau tak mau tetap akan menahan arah air bawah permukaan dan tidak mengalir ke hilir, tetapi membuat arah air bawah permukaan justru berbalik ke arah hulu. Kerapnya banjir lingkungan di bilangan Narogong dan Rawalumbu pada masa ini boleh jadi karena pengaruh langsung dari keberadaan Kalimalang. Gambaran sungai (kanal) Kalimalang tidak hanya mencerminkan seperti nasibnya yang kini airnya kotor, tetapi juga mencerminkan perilakunya terhadap area-area yang dilaluinya di tengah Kota Bekasi juga mengalami malang sendiri (kerap terjadi banjir).

Tidak hanya itu, fungsi kanal Kalimalang pada masa ini tidak begitu penting lagi untuk memberi manfaat pembangunan irigasi. Hal ini karena di wilayah (kab/kota) Bekasi sudah tak terbilang berapa luasnya sawah irigasi hilang digantikan oleh pemukiman. Sebaliknya pemukiman tidak melihat kegunaan kanal Kalimalang baginya. Hanya melihat sungai-sungai yang dulu banyak mati karena terhalang kanal Kalimalang telah banyak menghilang dan diurug untuk menambah luasnya lahan pemukiman. Tapi jangan lupa ada risiko besar disitu, saluran pembuangan (drainase) menjadi terhambat dan dapat meningkatkan potensi banjir lingkungan.

Jika merecall kembali ke masa lampau, wilayah Bekasi sejatinya rawan banjir. Ini dapat dibuktikan dengan banyaknya rawa-rawa yang muncul dan juga ditemukannya kali buntu (Tjiboentoe) dan rawa panjang plus kali mati. Sekarang, manfaat kanal Kalimalang yang semakin berkurang, justru sebaliknya telah memberi pengaruh pada peningkatan potensi banjir lingkungan. Dalam hal ini kanal Kalimalang harus dipandang telah turut melipatgandakan potensi bahaya banjir di Bekasi, khususnya di Kota Bekasi.

Batas wilayah Kecamatan Muara Gembong, Bekasi
Dengan memperhatikan sifat alamiah air di Bekasi sejak dahulu kala dan peran kanal Kalimalang pada masa ini, maka yang tergambar adalah bahwa wilayah Bekasi adalah wilayah yang rawan banjir. Gambaran ini menyebabkan kita tidak perlu lagi mendaftar intensitas banjir di Bekasi (jumlah dan frekuensi) dari era kolonial Belanda hingga era kemerdekaan ini. Sebab gambaran umum wilayah Bekasi sebagai wilayah rawan banjir sudah cukup menjelaskannya secara keseluruhan. Terbentuknya daratan di pantai Bekasi tempo doeloe, yang kini semuanya menjadi wilayah Kecamatan Muara Gembong, harus dipandang sebagai wujud kerapnya banjir bandang di Bekasi pada jaman kuno. Tanda-tanda ini terpetakan dengan jalan pada peta VOC pada tahun 1750.

Peta 1840
Namun demikian satu hal yang perlu dicatat disini adalah banjir besar yang terjadi di Kali Bekasi pada tahun 1858 (lihat Samarangsch advertentie-blad, 05-02-1858). Catatan banjir ini adalah catatan tertua yang ditemukan. Disebutkan di Bekasi terjadi hujan lebat yang sangat lama menurut penduduk sepengetahuan mereka belum pernah terjadi serupa ini dan hanya reda sebentar. Selain itu, pasokan dari berbagai arus sungai dari gunung sangat besar. Di Bekasi orang melihat, sejauh mata memandang, tidak ada apa pun selain laut, sementara jalan terendam dua hingga tiga kaki di beberapa titik. Pemilik land LCA Gronovius dan pengusaha lainnya telah mengungsi dari rumah mereka. Tumpukan besar kayu bakar dan benda-benda lainnya telah tersapu dari tepian yang tinggi dan menghilang ke sungai. Di kampung-kampung terdekat tidak ada lagi tanah terlihat dan rumah-rumah benar-benar dikelilingi oleh air. Saat ini, air menenggelam di semua tempat itu, sementara petani memperkirakan bahwa banjir ini umumnya akan menghasilkan kesuburan. Air naik begitu tinggi pada tanggal 23 di sungai Bekasi sehingga tidak seorang pun ditemukan di pasar, mereka yang tinggal di pasar telah mengungsi dan tidak memberani apa-apa karena takut akan kecelakaan. Menurut ingatan penduduk tertua. Sementara itu, sungai-sungai Tjitaroem dan Tjikarang sejauh ini telah jauh melampaui bank-bank sungai sehingga air setinggi dua kaki di jalan utama. Jembatan yang dibangun dari kayu dan bambu di atas Kali Djeruk, dekat Tjikarang, dan juga di jalan besar, hanyut oleh air yang tinggi..

Kota Bekasi adalah wilayah perkotaan yang khas. Keberadaan kanal Kalimalang yang arahnya melintang (dari timur ke barat), memang tempo doeloe memberi manfaat, tetapi pada masa ini boleh dikatakan sebagai beban kota. Pembangunan kanal dengan arah melintang adalah intervensi manusia yang melawan (kodrat) alam. Kanal-kanal normanya mengikuti arah aliran sungai, bukan sebaliknya. Kanal di Semarang dan Soerabaja tempo doloe mengikuti arah aliran sungai. Demikian juga dalam pembangunan kanal pelayaran kapal dari sungai Tjitaroem di hulu ke hilir di sungai Bekasi via sungai Gembong di Babakan pada tahun 1867 (lihat Bataviaasch handelsblad, 29-04-1867). Pada Peta 1840 sungai Tjitaroem, sungai Gembong dan sungai Bekasi berada pada posisi sejajar. Dengan adanya kanal dari Tjitaroem yang diintegrasikan dengan sungai Gembong. Lalu kanal sungai Gembong ini diintegrasikan dengan sungai Bekasi (lihat Gambar di bawah ini). Sebelumnya, sudah ada indikasi membangun kanal dari Karawang lurus ke laut hingga (Tnadjoeng) Pakkies (lihat lagi Peta 1840).

Kanal Tjitaroem, Kali Gembong dan Sungai Bekasi (sejak 1867)
Selain di Bekasi, kanal melintang juga ditemukan di Kota Djakarta (Batavia) dan Kota Padang. Pada era kolonial Belanda di Batavia dibangun kanal melintang yang kini disebut Banjir Kanal Barat (wilayah Menteng).. Kanal ini telah mengurangi potensi banjir sungai Tjiliwong di sekitar istana. Akan tetapi kanal ini di satu sisi terkesan membuat sejumlah sungai menjadi mati (misalnya Kali Tjideng), tetapi di sisi lain saat itu kali mati tersebut diberdayakan sebagai saluran pembuangan (drainase) yang efektif dalam hubungannya dengan pembangunan kawasan perumahan Menteng. Kanal Kali Barat (yang dalam) juga menjadi saluran pembuangan sekitar. Ini berbeda dengan kanal Kalimalang yang memang dirancang berbeda dengan Banjir Kanal Barat. Sementara di Kota Padang dibangun kanal yang melintang. Kanal ini disebut banda bakali. Fungsi kanal ini di satu sisi untuk mengurangi potensi bahaya banjir dari sungai Batang Arau, tetapi juga, karena kanal ini dalam, bermanfaat menjadi saluran pembuangan. Kanal melintang di Batavia/Djakarta dan Padang tetap memberi keamanan, tetapi kanal Kalimalang bagaimana? Sudah dijelaskan.

Itulah riwayat banjir di Bekasi. Kota Bekasi rawan banjir? Ingat ada Kalimalang, ada Kali Mati, ada Kali Buntu (Tjiboentoe) dan ada Rawa Panjang. Nama-nama ini aneh dan terkesan menyeramkan, Dan tentu saja masih ada rawa-rawa siluman (yang berada di bawah komplek perumahan-perumahan yang sekarang).


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar