Laman

Rabu, 31 Juli 2019

Sejarah Tangerang (4): Kali Mati Tjisadane di Telok Naga; Pulau Onrust, Muara de Qual, Mookervaart dan Benteng Tangerang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Tangerang tidak hanya itu-itu saja; sejarah Tangerang tidak hanya yang tampak hingga masa ini. Sejatinya, sejarah Tangerang juga termasuk yang sudah tidak terlihat lagi tetapi masih tergambar dan tercatat dalam dokumen sejarah (dokumen tempo doeloe). Meski terlihat tersembunyi dan terpencar-pencar tetapi bentuknya (relasinya) masih bisa diperhatikan. Seperti halnya sejarah sungai Tjisadane tidak hanya kanal Mookervaart dan bendungan Sepuluh. Akan tetapi satu hal yang penting adalah pertanyaan mengapa ada sungai mati di Tangerang?

Kalimati Tjisadane (Peta 1888)
Sungai mati ditemukan di Batavia (Jakarta) dam juga ditemukan di Soerabaja. Di Batavia pada era VOC/Belanda, sungai mati itu adalah aliran sungai Tjiliwong dimatikan pada ruas antara Stasion Juanda yang sekarang hingga Mangga Doea. Ruas ini mati karena sungai Tjiliwong telah dioedet dua kali yakni ketika membangunan kanal ke arah barat ke sungai Kroekoet (kanal yang kini menjadi jalan Veteran/Juanda) dan ketika membangun kanal ke arah timur melalui Pasar Batoe ke Goenoeng Sahari. Tidak hanya itu, di Batavia juga sungai Soenter di hilir telah lama mati karena pembangunan kanal dari Poelo Gadoeng ke kota (stad) Batavia. Kanal ini juga kemudian dimatikan di hilir karena pembangunan kanal Antjol. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, di Soerabaja, sungai Soerabaja di hilir mati secara perlahan-lahan karena adanya pembangunan kanal navigasi dari pusat kota ke laut. Kanal navigasi ini kini lebih dikenal sebagai Kali Mas.   
.
Lantas dimana sungai mati ini terkubur? Pertanyaan ini sepintas tidak penting, tetapi di dalam sejarah awal Tangerang, sungai ini mati karena karena disebabkan munculnya berbagai tujuan. Salah satu tujuannya adalah untuk memperpendek jarak navigasi dari (kota) Tangerang ke laut (menuju Batavia). Pertanyaan berikutnya di ruas manakah sungai Tjisadane itu dimatikan?  Dalam hal ini, Mookervaart adalah pengganti kalimati Tjisadane. Untuk melihat dimana ruas sungai Tjisadane ini terkubur mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Benteng Onrust dan De Qual: Awal Asul Tangerang

Ada dua nama tempo doeloe di Tangerang yang sangat populer tetapi tidak dikenal lagi pada masa ini, yakni (pulau) Onrust dan (muara sungai) de Qual. Pada masa ini dua tempat tersebut dikenal sebagai pulau Kelapa (Onrust) di teluk Jakarta dan desa Muara di kecamatan Teluk Naga, kabupaten Tangerang. Dari dua tempat inilah sejatinya sejarah Tangerang bermula. Pada masa ini sejarah awal Tangerang gagal fokus, seakan-akan semuanya bermula di Kota Tangerang (benteng Tangerang). 

Kecamatan Teluk Naga, desa Muara dan pulau Kelapa
Pada saat VOC/Belanda mulai membangun kota Batavia sebagai ibukota (stad) VOC, wilayah Banten berada dalam radar VOC sebagai wilayah terpenting di luar Batavia. Wilayah sisi timur sungai Tjisadane yang sudah diklaim VOC sebagai wilayah luar (buiten) berdasarkan perjanjian VOC dengan Kerajaan Jacatra (Jayakarta) di muara sungai Tjiliwong. Daerah aliran sungai Tjisadane dianggap VOC sebagai wilayah potensial di Banten untuk dikembangkan. Oleh karenanya Pemerintah VOC menunjuk seorang Residen (Banten) yang berkedudukan di (pulau) Onrust. Pulau Onrust menjadi Check Point terdekat ke kota Batam (Banten) di teluk Banten, dan juga menjadi tidak terdekat ke muara sungai Tjisadane. Muara Tjisadane ini disebut de Qual (muara) yang merupakan pintu masuk ke wilayah pedalaman di daerah aliran sungai Tjisadane. Di pulau Onrust (pulau Kalapa) lalu dibangun benteng, setelah dibangun benteng pertama, Kasteel di Batavia (Soenda Kalapa).

Sudah barang tentu keberadaan penduduk lebih awal adanya di kampong Moera (de Qual) jika dibandingkan dengan pulau Kalapa (Onrust). Kampong Moeara inilah yang diduga kuat yang disebut Tome Pires di dalam The Suma oriental of Tome Pires (1512-1515) sebagai Tamgara atau Tamgaram (Tangerang?), Pulau Kalapa diokupasi eleh orang Eropa sebagai pelabuhan di lautan yang kemudian disebut pulau Onrust. Terhadap kampong Moeara di muara sungai Tangerang atau Tamgaram disebut orang Eropa sebagai (de) Qual (berasal dari Kwala?).

Tamgara atau Tamgaram yang ditulis dalam bahasa Latin oleh orang Portugis jelas merujuk pada lafal orang lokal (setempat) sebagai Tangerang. Dalam hal ini sungai yang sama disebut sungai Tangerang atau sungau Tjisadane. Secara geografi sosial, muara sungai adalah wilayah para pendatang (dari berbagai tempat) untuk berdagang penduduk di wilayah pedalaman. Oleh karenanya nama Tangerang atau Tamgaram sebutan orang pendatang. Nama sungai juga disebut nama kampong tersebut, suatu nama baru yang berbeda dengan sebutan orang di pedalaman. Dengan kata lain, nama sungai Tangerang adalah sebutan pendatang sedangkan penduduk asli di pedalaman menyebut sungai Tjisadane. Hal serupa terjadi pada sungai besar lainnya yakni sungai Bekasi versus sungai Tjilengsi; sungai Kalapa vs sungai Tjiliwong; dan sungai Karawang vs sungai Tjitaroem.

Kampong terdekat dari muara (Tangerang atau Tamgaram) di daerah aliran sungai Tjisadane diduga kuat adalah kampong Babacon (Babakan), Wilayah antara dua kampong ini saat itu berupa rawa-rawa dan hutan belantara. Kampong Babakan dalam hal ini menjadi kampong terluar dari wilayah kerajaan Pakwan-Padjadjaran di pedalaman.

Cabang sungai Tjisadane tempo doeloe di Teloknaga
Siapa yang bermukim di kampong Moeara (de Qual) sudah barang tentu adalah para pedagang lintas pulau/pelabuhan yang yang terdiri dari orang-orang Tionghoa, orang Melayu dan sebagainya. Kampong Moeara (de Qual) menjadi semacam pelabuhan sekunder di antara dua pelabuhan utama yakni pelabuhan Bantam dan pelabuhan (Soenda) Kalapa. Ke pelabuhan Moeara inilah para pedagang datang berniaga dan para penduduk lokal di pedalaman untuk berniaga juga. Namun untuk mendekatkan diri ke TKP di pedalaman, pedagang-pedagang di kampong Moeara lebih ekspansif ke pedalaman (awal era baru para pendatang bermukim di pedalaman) dan munculnya perkampungan-perkampungan baru antara kampong Meoara dan kampong Babakan..

Pada cabang sungai Tjisadane di pedalaman diduga orang-orang Tionghoa membuka pemukiman baru yang kelak disebut Telok Naga.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar