Laman

Minggu, 11 Agustus 2019

Sejarah Tangerang (14): Sejarah Layanan Kesehatan di Tangerang; Wabah Kolera 1874 Picu Penempatan Dokter di Tangerang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Dua abad kehadiran orang Eropa/Belanda di Tangerang nyaris tidak ada perhatian terhadap pengembangan sosial penduduk. Kehidupan hanya menguntungkan pemilik lahan (landheer). Penduduk tak berdaya. Jika pun ada keuntungan sosial yang diterima hanya sekadar peningkatan akses yang lebih lancar ke ibu kota (stad) Batavia. Memang penduduk menjadi kosmopolitan, tetapi tidak memiliki segalanya: tidak memiliki lahan, tidak ada sekolah dan juga tidak mendapat layanan kesehatan. Itulah riwayat kelam penduduk di wilayah Tangerang.

Mahasiswa dan Docter Djawa School di Batavia (1902)
Seperti halnya Bekasi, sejak era VOC wilayah Tangerang adalah wilayah tanah-tanah partikelir (land). Yang berkuasa adalah para tuan tanah (landheer). Intervensi pemerintah sangat minim, yang menentukan segalanya adalah para pemilik lahan. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, secara bertahap lahan dibeli pemerintah. Namun pemerintahan hanya dipimpin seorang Schout (lebih mirip Sheriff daripada bupati). Schout hanya sekadar melayani para tuan tanah (keamanan dan peradilan). Baru pada tahun 1854 Tangerang dipimpin oleh seorang Asisten Residen. Ini sehubungan dengan semakin meluasnya lahan pemerintah. Sejak inilah pemerintahan (yang mengedepankan penduduk) dimulai. Pejabat pemerintah dari kalangan pribumi ditambahkan (demang). Namun tupoksi pemerintahan belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan dasar penduduk. Dalam pembentukan sistem pemerintahan, tata kelola bidang (dinas) pendidikan dan kesehatan berada pada urutan terakhir.
.
Penduduk yang sakit tidak tahu haru berobat kemana. Hanya penduduk yang terluka parah seperti dicakar harimau yang mendapat akses ke rumah sakit kota di Batavia. Kondisi ini selama berlangsung hingga muncul wabah kolera tahun 1874. Pemerintah bergegas memberikan  layanan kesehatan bagi penduduk. Motivasinya bersifat sekunder. Motivasi utama sesungguhnya adalah untuk melindungi ibu kota Batavia terhadap ancaman epidemik. Itulah awal riwayat layanan kesehatan di Tangerang. Bagaimana selanjutnya? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Dokter Pribumi dan Docter Djawa School di Batavia

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar