Laman

Kamis, 22 Agustus 2019

Sejarah Tangerang (29): Sejarah Awal Kota Tigaraksa, Ibu Kota Kabupaten Tangerang; Tanah Partikelir yang Dibebaskan 1927


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Nama Tigaraksa sebagai nama suatu tempat, paling tidak sudah tercatat pada tahun 1854 (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 12-07-1854). Dalam hal ini Tigaraksa adalah nama suatu tanah partikelir (land). Besar dugaan nama land ini mengadopsi nama suatu area dimana land ini berada. Penamaan suatu land umumnya mengikuti nama geografis (sungai, kampong atau danau) dan tentu saja ada yang mengikuti nama pemilik.

Batas Residentie Batavia dan Residentie Banten (Peta 1840)
Nama Tigaraksa diduga berasal dari kata tiga dan kata raksa. Terminologi raksa yang sering muncul pada tahun-tahun itu digunakan sebagai nama gelar seperti Luitenant Kiai Mas Raksa Djaija (lihat De Oostpost : letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 23-03-1853); Luitenant Klana di Raksa (De Oostpost : letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 18-07-1855); Bupati Tegal Raden Adipati Aria Raksa Negara (De Oostpost : letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 11-06-1857); Kiai Raksa Joeda (Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 29-10-1861).

Lantas bagaimana nama Tigaraksa sebagai nama land menjadi suatu tempat yang penting di Tangerang. Tentu saja pertanyaan ini dapat dianggap penting, karena Tigaraksa pada masa ini adalah ibu kota Kabupaten Tangerang. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Balaradja dan Tigaraksa (Peta 1903)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Land Tigaraksa

Sudah barang tentu nama Tigaraksa sudah ada jauh sebelum tahun 1854. Hanya saja wilayah Tigaraksa baru berkembang sejak 1854. Nama land Tigaraksa muncul, diduga karena adanya pemekaran dari land Balaradja. Area land Tigaraksa berada di arah selatan jalan pos Trans-Java Batavia-Anjer (antara sungai Tjimantjeuri dan sungai Tjipajaeun). Terbentuknya land Balaradja sendiri sebagai implikasi dari perluasan land-land partikelir di sisi barat sungai Tjisadane (seperti halnya perluasan lahan partikelir dari sisi timur sungai Bekasi ke sungai Tjitaroem yakni mengurangi wilayah Residentie Krawang dan dimasukkan ke Residentie Batavia yang lalu kemudian terbentuknya land-land baru sepert land Tjikarang dan land Tjabangboengin).

Tigaraksa (Peta 1904)
Perluasan tanah-tanah partikelir di sebelah barat sungai Tjisadane hingga sungai Tjikande (sungai Tjidoerian) dilakukan setelah pemerintah menjual lahan kepada swasta pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811). Dengan perluasan ini, yang menjadi tanah-tanah partikelir, maka sebagian wilayah Residentie Banten dikurangi dan kemudian wilayah tersebut dialihkan menjadi bagian dari Residentie Batavia. Batas Residentie Batavia dengan Residentie Banten yang baru adalah sungai Tjikande (sungai Tjidoerian yang bermuara di Djasinga). Dalam perkembangannya pemekaran land Balaradja, tidak hanya terbentuk land Tigaraksa, juga terbentuk land Antjol Victoria atau Daroe, land Tjiokoeja, land Antjorl Pasir atau Pasir dan land Tjikadoe (Tendjo).

Balaradja berasal dari nama kampong, akan tetapi nama Tigaraksa bukanlah berasal dari nama suatu kampong. Sejauh ini tidak pernah ditemukan nama kampong bernama Tigaraksa. Berdasarkan peta-peta mikroskopik tidak ditemukan nama kampong Tigaraksa di land Tigaraksa. Besar dugaan nama Tigaraksa adalah nama yang diintroduksi.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar