Laman

Minggu, 25 Agustus 2019

Sejarah Tangerang (32): Penjara dan Schout Tangerang, 1824; Mengapa Begitu Banyak Jumlah dan Ragam Penjara di Tangerang?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Penjara di Tangerang paling tidak sudah ada pada tahun 1824. Ini sehubungan dengan pembangunan kantor polisi Tangerang di Tanah Tinggi (lihat Bataviasche courant, 10-04-1824). Saat itu Afdeeling (kabupaten) Tangerang masih dipimpin oleh seorang Schout. Fungsi Schout saat itu lebih banyak bertugas dala, urusan keamanan daripada menjalankan fungsi pemerintahan. Penjara adalah salah satu sarana bagi Schout Tangerang. Schout sendiri diadopsi oleh orang Belanda dari Prancis, di Amerika disebut Sheriff.

Jeugdgevangenis di Tanah Tinggi, Tangerang (1935)
Pada masa ini di Tangerang terdapat sejumlah penjara: Lapas Kelas I Tangerang, Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang, Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang, Lapas Anak Perempuan Kelas IIB Tangerang, dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Tangerang. Semua penjara ini berada di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Memang tidak ada pemerintah daerah memiliki penjara (seperti tempo doeloe).

Namun dalam perkembangannya, di Tangerang tidak hanya sudah diadakan penjara bagi umum (gevangenis), tetapi juga kemudian diadakan penjara bagi pria (mannengevangenis) dan juga penjara khusus bagi wanita (vrouwengevangenis) dan penjara anak-anak (jeugdgevangenis). Lantas mengapa semua penjara itu harus berada di Tangerang? Mungkin pertanyaan ini tidaklah penting-penting amat. Akan tetapi mengapa begitu banyak penjara di Tangerang tentu masih perlu dicari tahu. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Schout Tangerang Membangun Penjara

Pada tahun 1799 VOC dibubarkan dan kemudian diakuisisi oleh Kerajaan Belanda dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), pemerintah membentuk pemerintahan di Afdeeling Tangerang dengan mengangkat seorang Schout (semacam Sheriff di Amerika). Schout pertama diangkat tahun 1810 (lihat Bataviasche koloniale courant, 16-03-1810). Schout ini berkantor di Tanah Tinggi. Namun tidak lama kemudian, Pemerintah Hindia Belanda digantikan oleh Inggris (1811-1816).

Kota Tangerang dan Tanah Tinggi (Peta 1888)
Meski Tangerang sudah menjadi kota, karena ada pasar dan sejak era VOC sudah ada benteng, tetapi tidak serta merta pemerintah dapat mendirikan bangunan di kota Tangerang. Kota Tangerang masih dimiliki oleh swasta yang dalam hal ini dimiliki oleh tuan tanah (landheer) land Tangerang. Penempatan kantor pemerintah (Schout) di Tanah Tinggi boleh jadi karena berada di tengah. Oleh karenanya, ibukota Afdeeling Tangerang kali pertama berada di Tanah Tinggi. Saat itu batas Residentie Batavia baru sebatas sungai Tjisadane (kota Tangerang). Saat itu Residen Batavia dibantu oleh seorang Asisten Residen yang disebut Asisten Residen Ommelanden Batavia (yang terdiri dari Afdeeling Meester Cornelis, Afdeeling Tangerang dan Afdeeling Bekasi), Di Afdeeling Tangerang ditempatkan seorang Schout: JF Carels.  

Setelah Pemerintah Hindia Belanda berkuasa kembali, pemerintahan di Afdeeling Tangerang dilanjutkan. Pemerintah membeli land Tangerang dan menjadikannya sebagai ibukota pemerintah. Kota Tangerang menjadi milik pemerintah. Namun baru pada tahun 1820 pemerintahan di Afdeeling Tangerang dipindahkan ke kota Tangerang. Wilayah Afdeeling Tangerang juga telah diperluas hingga ke batas sungai Tjikande (sungai Tjidoerian). Pada tahun 1824 bekas rumah dan kantor Schout di Tanah Tinggi dijadikan sebagai kantor polisi (lihat Bataviasche courant, 10-04-1824). Kantor polisi kemudian memiliki penjara. Inilah awal adanya penjara di Tangerang. Schout Tangerang juga ditingkatkan statusnya menjadi Hoofdschout yang membawahi beberapa onderschout diantaranya berada di Katapang.

Selama ini jika Schout menangkap dan menahan seseorang yang melanggar hukum, sang terdakwa ditempatkan di penjara di Batavia. Hal yang sama juga dilakukan oleh Schout Meester Cornelis dan Schout Bekasi. Pada saat itu para tahanan (yang sehat dan kuat) banyak yang dipekerjakan sebagai rodi yang dikirim ke berbagai daerah untuk pekerjaan-pekerjaan yang berat seperti membangun jalan, jembatan dan benteng. Para tahanan disebut orang rantai (karena kakinya dirantai). Oleh karenanya penjara-penjara di Batavia tidak pernah overcapacity.   

Pada tahun 1826 di Afdeeling Tangerang dibentuk pengadilan yang disebut landraad (lihat      Bataviasche courant, 10-05-1826). Hoofdschout Tangerang juga menjadi anggota landraad. Untuk ketua pendadilan diangkat pemerintah tersendiri. Ketua pengadilan ini melakukan tugas di dua landraad di Meester Cornelis dan Tangerang. Landraad Meester Cornelis termasuk Afdeeling Bekasi. Afdeeling Bekasi sendiri hanya dipimpin oleh setingkat Schout (sementara di Afdeeling Tangerang statusnya Hoofdschout).

Penjara Tangerang (Peta 1902)
Dalam perkembangannya Afdeeling (district) Tangerang yang dipimpin oleh Hoodschout memiliki penjara yang lebih besar yang dibangun di kota Tangerang. Lokasi penjara ini tidak jauh dari kantor Hoofdschout. Meester Cornelis (yang juga mencakup Bekasi) memiliki penjara yang lebih besar. Penjara Meester Cornelis ini menempati eks benteng Meester Cornelis (lokasinya di dekat jembatan Tjiliwong di Meester Coornelis).

Pada tahun 1859 status (afdeeling) District Tangerang ditingkatkan menjadi Asisten Residen. Fungsi Hoofdschout ditiadakan, tetapi Asisten Residen membawahi beberapa orang schout/onderschout  (yang fungsinya hanya di bidang keamanan, semacam polisi). Selain Schout di Katapang juga ditempatkan seorang schout di Maoek dan kemudian seorang onderschout di Tjoeroeg.

Kota Tangerang (Peta 1902)
Saat ini Residentei Batavia, Residen membawahi tiga Asisten Residen (Meester Cornelis, Buitenzorg dan Tangerang). Di Afdeeling Bekasi masih dipimpin oleh Schout (di bawah Asisten Residen di Meester Cornelis). Pada tahun 1869 terjadi kerusuhan di Bekasi, Asisten Residen Meester Cornelis dan Schout Bekasi terbunuh. Oleh karena kekosongan pimpinan daerah di Meester Cornelis (termasuk Bekasi) dirangkap oleh Asisten Resident Tangerang (hingga Asisten Residen Meester Cornelis yang baru diangkat).

Dalam perkembangannya fungsi schout (kecuali di Bekasi) menjadi fokus soal keamanan (semacam kepala polisi). Fungsi schout ini selain ditemukan Batavia (di Weltevreden dan Tanah Abang) juga trerdapat di Semarang dan Soerabaja serta Cheribon. Schout telah bertransformasi menjadi polisi. Inilah sejarah awal polisi di Hindia Belanda. Sementara itu fungsi schout/onderschout di district Tangerang masih merangkap dalam tugas pemerintahan untuk membantu Asisten Residen.

Pada tahun 1873 fungsi Schout yang merangkap tugas pemerintahan ini di Residentie Batavia digantikan oleh fungsi yang baru; Demang. Dalam hal ini demang adalah pejabat pemerintah yang diangkat yang berasal dari orang pribumi. Demang membawahi polisi-polisi yang dipekerjakan untuk membantu tugas demang. Sementara di kota-kota, seperti di Batavia, schout adalah kepala polisi (semacam kapolsek) seperti yang terdapat di Weltevreden, Tanah Abang, Pasar Baroe dan Senen. Schout ini adalah orang Eropa/Belanda. Salah satu schout terkenal di Batavia adalah Schout Hinne yang berhasil menembak si Pitoeng pada tahun 1893. Si Pitoeng sebelumnya pernah dipejnajar di penjara Meester Cornelis dan melarikan diri.

Penjara Orang Muda (Jeugdgevangenis) Tangerang

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

1 komentar:

  1. Artikel yang menarik dan informatif. Tapi kalo boleh tau, lanjutannya kapan di terbitkan ya pak? Terimakasih.

    BalasHapus