Laman

Minggu, 22 Maret 2020

Sejarah Bukittinggi (6): Benteng Matoea, Timur Danau Maninjau di Agam Akses dari Pelabuhan Tiku; Matur, Lebih Tua Matua


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bukittinggi dalam blog ini Klik Disini

Benteng Matoea adalah salah satu benteng yang dibangun Belanda pada era Perang Padri. Benteng ini lebih muda dari benteng Fort de Kock. Nama benteng diambil dari nama kampong tua di timur danau Manindjaoe, negorij (nagari) Matoea. Benteng yang berada diantara benteng Tikoe dan benteng Fort de Kock dibangun sebagai benteng penghubung (antara Tikoe dan Fort de Kock). Kampong Matoea diduga kuat sudah ada sejak kuno.

Benteng Matoea (Peta 1837)
Negorij, nagari (desa) Matua kemudian terbagi dua: Matoea Moediak (hulu) dan Matoea Hilia (hilir). Dua nagari ini kini termasuk wilayah administratif Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Sementara itu, Matoer awalnya adalah nama laras. Di era Hindia Belanda nama Matoea dan Matoer adakalanya saling tertukar. Laras Matoer ditambahkan ke district Danau sehingga nama onderafdeeling disebut Onderfadeeling Danaudistricten en Matoer, Afdeeling Agam, Residentie Padangsche Bovenlanden.

Lantas seperti apa sejarah Matoea? Satu yang pasti belum pernah ditulis. Lalu apa pentingnya sejarah Matoea ditulis? Satu yang pasti nama Matoea sudah dikenal sejak lama, tidak hanya nama negorij, tetapi juga nama benteng (fort). Benteng Matoea cukup berperan dalam paruh terakhir Perang Padri (dalam pengepungan benteng Bondjol). Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Fort Matoea

Nama Matoea sebagai nam kota, paling tidak sudah dipetakan pada Peta 1830. Dalam peta, kota Matoe diidentifikasi sebagai benteng (fort) Belanda. Benteng (kota) Matoea ini berada di sebelah barat benteng Fort de Kock dan di sebelah timur danau. Dalam peta militer Belanda (Perang Padri) jalur pergerakan militer antara Tikoe dan Fort de Kock melalui kota-kota Manggopo, Loeboek Basoeng, Pasar Raboe, Soengai Lawi, Manindjau dan Matoea.

Kota Matoea diduga kuat adalah kota yang sudah ada sejak lama. Sebagai kota tua, kota Matoe terhubung dengan kota (pelabuhan) Tikoe. Pada era Poertugis, kota Tikoe sudah teridentifikasi dalam peta seperti halnya kota Batahan, kota Pariaman, Passaman dan kota Indrapoera. Kota-kota pantai (pelabuhan) ini terhuhubung dengan pedalaman dalam hubungannya dengan perdagangan. Posisi kota Matoea berada diantara (sungai) Tikoe dengan (sungai) Agam.

Dari mana asal-usul nama Matoea sulit diketahui. Hal ini karena bersifat random. Di Ranah Minangkabau nama ‘matua’ tidak memiliki arti apa-apa kecuali sebagai penanda navigasi dalam geografis, yang dalam hal ini nama kota (kampong). Namun ‘matua’ di Tanah Batak memiliki arti tersendiri. Meski demikian, tidak dengan sendirinya nama kota Matoea terkait dengan Tanah Batak. Sebab nama Matua juga ditemukan di Jepang (Matsuwa) sebagai nama lembah/teluk di New Zealand. Tentu saja ada nama pohon/buah matoa (yang banyak ditemukan di Papua). Nama kota Matoea di pantai barat Sumatra dalam hal ini unik sebagaimana nama kota Tikoe dan Agam. Nama Tikoe, Agam dan Matoea diduga kuat nama-nama kuno.

Sehubungan dengan rencana Pemerintah Hindia Belanda untuk mengepung benteng Bondjol, distrik XII Kota Oedik dan wilayah Matoe disatukan dengan nama baru District XII Kota Oedik en Matoea. Sebagai kepala (Civielen Kommandant) diangkat Kapitein FTM Mannen (lihat Javasche courant, 03-06-1835). Seperti diidentifikasi pada peta militer, benteng Fort Matoe terhubung dengan benteng Fort de Kock ke timur dan ke utara benteng Fort Masang (di sisi barat sungai Masang). Ibu kota baru distrik telah berada di kota (fort) Matoea. Pemindahan ibu kota ini diduga untuk mendekatkan pemerintah ke TKP (pusat Padri di Bondjol).

Pada tanggal 27 Maret 1936, van Mannen, Kapitein Civiel en Militaire Kommandant di Matoe en XII Kota di Fort Matoea melaporkan ‘bahwa di rumahnya telah meninggal Letnan pertama zenie PG Blockland. Sebelumnya ia di Bonjol dan setelah pulih dari demam yang dideritanya disana, ia pergi ke front untuk pelayanan lebih lanjut, tetapi kembali kemudian kembali sakit. Dia adalah karakter yang baik dan perwira yang rajin. Iklan ini berfungsi sebagai pemberitahuan kepada teman-teman dan kenalannya, yang tentu saja saya juga sangat sedih (lihat Javasche courant, 06-07-1836). Dari nama jabatan Kapt Mannen ini sudah ditambahkan sebagai pejabat militer (Civiel en Militaire Kommandant) mengindikasikan bahwa situasi di wilayah telah ditingkatkan menjadi status Daerah Operasi Militer (DOM).

Pada tanggal 16 Agustus 1837 benteng Bonjol berhasil dilumpuhkan oleh militer Belanda. Komandan militer Belanda dalam pengepungan benteng Bondol ini adalah veteran Perang Jawa Colonel AV Michiels. Detasement yang berhasil memasuki benteng Bondjol di bawah komandan Kaptein Alexander van Hart (anak buah terbaik Colonel AV Michiels). Setelah Perang Bondjol usai, pemerintahan sipil kembali dijalankan.

Benteng Fort Matoea tetap dijaga oleh militer Belanda selepas perang. Komandan benteng Fort Matoa adalah Letnan pertama van Veer yang dibantu oleh Letnan dua van Geersdaelen (lihat Javasche courant, 02-05-1838). Komandan benteng Fort Matoea menyebutkan bahwa O Schakel, ahli bedah kelas-2 meninggal (di Matoea) dalam perjalanan dari kota General Cochius (Bondjol) ke rumah sakit di Padang-Panjang. Dalam hal ini kota Bondjol telah diidentifikasi namanya menjadi kota General Cochius, sebagaimana sebelumnya Fort van der Capellen (Batoe Sangkar) dan Fort de Kock (Boekit Tinggi) serta Fort van den Bosch (Kamang). Kota Matoea tetap Matoea.

Seiring dengan dimulainya kembali pemerintahan sipil, sebagaimana lazimnya Pemerintah Hindia Belanda mengangkat pejabat perdagangan (posthouder). Untuk posthouder di Matoea diangkat A Trzeisnki (lihat Javasche courant, 18-04-1840).

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar