Laman

Sabtu, 25 Juli 2020

Sejarah Pulau Bali (14): Sejarah Pers Bali, Sejak Kapan Bermula? Mengenal Muriel S Walker alias Ktoet Tantri, Sang Republiken


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini

Kota adalah tempat lahirnya pers. Ada dua kota besar di Bali tempo doeloe: Singaradja dan Denpasar. Lantas apakah di dua kota ini pernah terbit media seperti surat kabar atau majalah? Seperti kata Dja Endar Moeda (1898), pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, sama-sama untuk mencerdaskan bangsa. Pertanyaan tentang sejarah pers di Bali, khususnya di Denpasar tentu sangat penting, karena pers juga adalah bidang pencerdasan bangsa.

Presiden Soekarno dan K'toet Tantri van Bali
Dja Endar Moeda lahir di kota Padang Sidempoean, Tapanoeli pada tahun 1861. Setamat sekolah dasar, Dja Endar Moeda melanjutkan pendidikan di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean. Salah satu gurunya yang terkenal adalah Charles Andriaan van Ophuijsen. Lulus tahun 1884, Dja Endar Moeda diangkat menjadi guru. Pensiun guru di Singkil dan kemudian berangkat haji ke Mekah. Sepulang dari haji, Dja Endar Moeda membuka sekolah swasta di kota Padang tahun 1895. Ketika, Dja Endar Moeda menawarkan novelnya ke penerbit tahun 1897, Dja Endar Moeda mendapat bonus ditawari untuk menjadi editor surat kabar berbahasa Melayu, Pertja Barat. Dja Endar Moeda mengambil tawaran itu. Jadilah Dja Endar Moeda sebagai editor pribumi pertama. Sejak itulah Dja Endar Moeda kerap menyebut sekolah dan jurnalistik sama pentingnya. Lalu pada tahun 1902 penerbit surat kabar Sumatra post di Medan merekrut pribumi untuk dijadikan editor. Lalu pada tahun 1903 di Batavia. mantan editor Sumatra post, Karel Wijbran pemilik surat kabar berbahasa Melayu, Pembrita Betawi merekrut orang pribumi ketiga yakni Tirto Adhi Soerjo (kini lebih dikenal sebagai Bapak Pers Indonesia).  

Satu nama penting yang dikaitkan dengan pers Bali adalah seorang perempuan Muriel Stuart Walker yang menyebut dirinya K’toet Tantri. Oleh karena dia merasa orang Bali, lalu dia menjadi seorang Republiken (pembela Republik Indonesia). Okelah itu satu hal. Lantas bagaimana dengan sejarah pers di Bali sendiri? Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Muriel Stuart Walker alias Ktoet Tantri

Sebelum nama  K’toet Tantri van Bali dikenal, di Bali sudah terbit dua surat kabar Bali Adnjana dan surat kabar Surya Kanta. Dua surat kabar ini muncul di Bali setelah para pentolan masing-masing melihat dan terus memantau pergumulan politik anak bangsa (baca: pribumi) di (pulau) Jawa khususnya dalam konteks ketidakadilan oleh kaum penjajah (baca: orang Belanda). Surya Kanta dan Bali Adnjana sama-sama terbit di Bali utara di Singaradja. Bali Adnjana lebih dulu terbit baru kemudian menysul surat kabar Surya Kanta. Dua surat kabar ini tampaknya berbeda haluan.

Pada tahun 1932 seorang wanita muda Amerika tiba di Bali dengan paspor  bernama Nyona Walker (Mevrouw Walker). Boleh jadi Ny Walker yang tengah menjanda ini ingin mengasingkan diri ke surga di Bali setelah José Miguel Covarrubias memamerkan lukisannya di New York yang menjadi tenar di seluruh Amerika. José Miguel Covarrubias asal Meksiko yang sudah lama di New York melakukan perjalanan di seluruh dunia. Pada perjalanan ini ia berakhir di Bali pada tahun 1930 yang membuatnya segera terkesan luar biasa. Dia menggambar dan melukis di Bali selama sembilan bulan dan kemudian memamerkan karyanya di New York yang menarik perhatian orang Amerika. Orang bule pertama di Bali yang telah melakukan kegiatan melukis adalah seorang Jerman, Walter Spies yang tiba di Bali tahun 1920. Catatan: Pemerintah Hindia Belanda membentuk cabang pemerintahan di (afdeeeling) Zuid Bali, baru dimulai pada tahun 1908 dengan ibu kota Denpasar.

Pada tahun 1933 bersama istrinya kembali ke Bali sebagai bulan madu. José Miguel Covarrubias bersama istri tinggal di Denpasar. Mereka menempati salah satu paviliun di halaman I Goesti Alit Oka (pemimpin orkest musi gamelan Bali), sepupu dari almarhum radja terakhir Badoeng (yang meninggal tahun 1906). Pasangan beda ras ini tinggal di Denpasar selama dua tahun dan telah mengunjungi berbagai tempat di Bali khususnya wilayah selatan Bali. Mereka meninggalkan Bali pada tahun 1934 dan kembali ke New York. Sementara karya-karya mereka dipamerkan di New York, José Miguel Covarrubias menyelesaikan bukuanya tentang Bali. Pada tahun 1937 buku José Miguel Covarrubias terbit dengan judul Island of Bali. Buku ini ditulis dalam bahasa Inggris setebal 417 halaman yang diterbitkan sebuah penerbit di New York (Alfred A. Knopf). Buku ini dilengkapi oleh foto-foto hasil pemotretan yang dilakukan oleh istrinya Rose Covarrubias. Buku ini tentu saja beredar luas karena ditulis dalam bahasa Inggris. Pembaca orang-orang Belanda molohok. Sementara itu Mevrouw Walker yang juga dikenal dengan nama K’toet Tantri tetap berdiam di Bali.

Surya Kanta adalah organisasi sosial (societeit) yang didirikan di Bali. Organisasi ini didirikan pada tahun 1924. Pada tahun 1927 organisasi ini memasuki tahun ketiga (lihat De Indische courant, 02-04-1927). Nama Surya Kanta dalam bahasa Belanda berarti ‘brandglas’. Pemimpin organisasi awalnya adalah I Goesti Tjakra Tanara seorang mantan pejabat yang telah mendapat pendidikan. I Goesti Tjakra Tanara kali pertama menjadi kepala district Soekasada pada tahun 1910 (lihat De Preanger-bode, 13-11-1910). Dalam perkembangannya, karir Goesti Tjakra Tanara kemudian segera terputus karena Pemerintah Hindia Belanda memecatnya sebagai pejabat pribumi.

De Indische courant, 23-02-1931
Organisasi Surya Kanta bukan orang Jawa yang mendirikan, tetapi seorang muda yang menjadi kepala district Bali di Soekasada di Bali Utara, Goesti Tjakra Tanara. Dia telah mendapatkan pendidikan di sebuah sekolah kepala (Mosvia) di Jawa yang diduga telah berhubungan dengan anak muda revolusioner. Oleh karenanya ia menerima sebanyak mungkin informasi dari Jawa, lalu mulai membentuk persatuan. Namun anehnya organisasi Surya Kanta hampir semua anggotanya adalah orang-orang bangsawan dan pegawai kantor-kantor yang juga bangsawan (triwangsa) di Bali. Organisasi ini kemudian melakukan pertemuan pada akhir Desember (1926) di Singaraja, namun hanya ada dua anggota triwangsa yang hadir.

Namun Goesti Tjakra Tanara bukanlah orang biasa, dia adalah orang terpelajar yang telah mendapat pengaruh soal pergerakan kebangsaan dari Jawa. Meski dia sudah dipecat oleh pemerintah, Goesti Tjakra Tanara yang sudah mengenal para pejabat lokal lintas afdeeeling di Bali, tetap mengadvokasi penduduk seperti hukum pertanahan. Lalu muncullah media surat kabar (bulanan) dengan nama Bali Adnjana. Tidak diketahui apa yang menyebabkan dia dipecat dan tahun berapa dipecat. Namun setelah itu, mendirikan kantor pengacara. Disebutkan bahwa Goesti Tjakra Tanara tersandung kasus yang menyebabkan pengadilan adat (Raad van Kerta) di Tabanan yang menjatuhkannya hukuman 12 penjara. Tidak disebutkan kapan vonnis itu dijatuhkan dan bagaimana selanjutnya.

De Indische courant, 23-02-1931: ‘Orang Bali, I Goesti Tjakra Tanara, tinggal di Singaradja, yang diberhentikan dengan hormat beberapa tahun yang lalu sebagai poenggawa di Soekasada, yang setelah pemecatannya mendirikan kantor pengacara dan juga pemimpin redaksi majalah yang diterbitkan di Singaradja dengan nama Bali Adnjana.

Surat kabar berbahasa Melayu, Bali Adnjana paling tidak pada tahun 1925 sudah eksis di bawah pimpinan I Goesti Tjakra Tanara (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 26-02-1925). Tampaknya I Goesti Tjakra Tanara mendirikan surat kabar Bali Adnjana setelah tidak aktif di societeiy Surya Kanta.

Surat kabar Bali Adnjana masih teridentifikasi hingga tahun 1929 yang masih tetap di bawah pimpinan I Goesti Tjakra Tanara (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 25-06-1929). Lalu tidak lama kemudian muncul surat kabar Surya Kanta (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 25-06-1925). Disebutkan surat kabar bulanan ini adalah surat kabar berbahasa Melayu yang baru tetapi dengan kutipan berbahasa Bali. Surat kabar ini mengusung pusaka Bali dan menginformasikan kemajuan umum. Pemimpin redaksi adalah Ketoet Nasa di Boeboenan dan alamatnya adalah Ketoet Sempidi di Singaradja. Surat kabar Surya Kanta tampaknya tidak bertahan lama, paling tidak masih terdeteksi awal tahun 1929 yang masih dipimpin oleh Ktoet Nasa (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 01-01-1929). Seperti disebut di atas, surat kabar Bali Adnjana masih terus bertahan lalu kemudian tidak terdeteksi lagi setelah bulan Juni 1929. Dalam hal ini, I Goesti Tjakra Tanaja dan Ktoet Nasa dapat dianggap sebagai dua pionir pers Bali yang sama-sama eksis di Singaradja.

 

Pada bulan Juni 1931 di Singaradja terbit surat kabar (bulanan) yang diberi nama Bhawanagara (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1931). Disebutkan media ini menyajikan budaya Bali. Redaksi antara lain Dr. R. Goris dan I Goesti Gde Djelantik. Surat kabar terdiri 16 halaman. Kantor redaksi berada di (perpustakaan)  Kirtya Liefrinck-Van der Tuuk di Singaradja. Artikel-artikel ditulis dalam bahasa Bali dan bahasa Melayu dengan aksara Latin. Hanya Kadjeng yang tetap bertahan sebagai redaksi Bhawanagara.

Pada tahun 1936 muncul surat kabar (bulanan) yang baru yang diberi nama Djatajoe. Tidak disebutkan siapa nama-nama redakturnya. Redaksi surat kabar ini disebut  pengurus organisasi Bali Darma Laksana. Seperti halnya surat kabar Bhawanagara, surat kabar Djatajoe yang juga beralamat di Singaradja juga ditulis dalam bahasa Bali dan Melayu aksara Latin. Tidak diketahui seberapa lama surat kabar baru ini bertahan. Tampaknya surat kabar Bhawanagara masih bisa bertahan hingga berakhirnya era kolonial Belanda.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pers Kebebasan: Bali Adnjana vs Surya Kanta

Pada suatu hari di jaman pendudukan militer Jepang, Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap bertanya kepada seorang ‘anak Bali’ K’toet Tantri. ‘Apakah kamu tahu arti Lord Haw Haw?”. Tantri menjawab serius. ‘Itu kan radio propaganda Jerman’. Amir kemudian bercanda: ‘Bukan itu maksud saya, Tantri?’. Tanri tidak menjawab tetapi balik bertanya kepada Amir: ‘Hey Bung Amir, kalau begitu apa artinya dalam bahasa kamu?’. Amir tak menduga pertanyaan itu ditanyakan Tantri, tetapi Amir dengan sigap menjawab: ‘Dalam bahasa saya, Lord Haw-Haw artinya adalah Tuan Hau Hau’. Itulah candaan antara dua orang anti-fasis. Kedua orang ini yang awalnya bercanda lalu diinternir oleh militer Jepang.

Mengetahui bahwa militer Jepang telah menduduki (pulau) Bali, K’toet Tantri segera bergegas ke Soerabaja. Meski dia adalah anak angkat Radja Bali, Tantri sadar bahwa warna kulitnya akan mudah dikenali orang Jepang. K’toet Tantri dengan nama paspor Muriel Stuart Walker akhirnya tiba di Soerabaja (tempat dimana orang Eropa banyak ditemukan). Di Bali sendiri hanya sedikit orang Eropa-Belanda. Anehnya, ketika orang-orang Eropa-Belanda ditangkap dan diinternir oleh para anggota militer Jepang, K’toet Tantri menyimpan dan menitipkan paspornya kepada seorang wanita Prancis yang tidak akan ditangkap kerena ia adalah istri seorang apoteker di Soerabaja bernama Ismail Harahap (di Kaliasin). K’toet Tantri kemudian bergabung dengan gerakan bawah tanah. Saat bergabung inilah K’toet Tantri mengenal Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap. Dalam perkembangannya, Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap diinternir oleh militer Jepang, demikian juga K’toet Tantri harus pula mendekam dalam tahanan militer Jepang di Malang.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap dijemput oleh utusan Soekarno karena akan diplot sebagai Menteri Penerangan Republik Indonesia. Akhirnya K’toet Tantri mendapat giliran bebas keluar dari tanahan militer Jepang. K’toet Tantri tidak sempat pulang kampong ke Bali, pasukan Sekutu-Inggris sudah datang di Soerabaja untuk membebaskan interniran Eropa-Belanda dan melucuti senjata serta mengevakuasi militer Jepang ke luar Indonesia.

Anehnya lagi, meski K’toet Tantri yang berpaspor atas nama Muriel Stuart Walker yang notabene keturunan Inggris, bukannya malah senang dengan kehadiran Sekutu-Inggris tetapi, sekali lagi, ikut bergabung dengan para Republiken. K’toet Tantri aktif membatu Wali Kota Soerabaja, Dr, Radjamin Nasution menkonsolidasikan penduduk sehubungan dengan munculnya perlawanan warga Soerabaja terhadap kehadiran tentara Sekutu-Inggris di Soerabaja. Akhirnya terjadilah perang Soerabaja yang puncaknya pada tanggal 10 November 1945. Pemerintah Wali Kota Soerabaja kemudian mengungsi awalnya ke Modjokerto dan kemudian ke Toeloengagoeng. K’toet Tantri yang dalam waktu-waktu tertentu ikut radio propaganda Soerabaja, akhirnya  K’toet Tantri ikut mengungsi dengan rombongan pemerintah Kota Soerabaja yang dipimpin oleh Dr. Radjamin Nasoetion.

Sehubungan dengan pemindahan ibu kota Republik Indonesia dari Djakarta-Batavia ke Djokjakarta, K’toet Tantri kemudian menemukan jalan hingga sampai ke Djokjakarta. K’toet Tantri kembali ketemu teman lama Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap dengan jabatan barunya sebagai Menteri Keamanan Rakyat yang tetap merangkap sebagai Menteri Penerangan di Djokjakarta. Rombongan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moehamad Hatta baru menyusul pada awal Januari 1946. Seperti di Soerabaja, K’toet Tantri juga mengambil peran sebagai aktivis radio propganda di Djokjakarta.

Sementara itu, fungsi pemerintahan masih berada di Djakarta-Batavia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Soetan Sjahrir yang terus melakukan diplomasi politik baik terhadap komandan Sekutu-Inggris, pemimpin NICA, dan perwakilan-perwakilan negara asing. Hanya terdapat trio founding father RI di Djokjakarta yakni Presiden dan Wakil Presiden serta Menteri Pertahanan RI, Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap yang terus membina strategi pertahanan dengan Letnan Jenderal Oerip, Kolonel Zulkifli Lubis dan Soeltan Djokja sembari memantau dan mengkonsolidasikan Tentara Rakyat Indonesia dengan para laskar yang berjuang di berbagai tempat di Indonesia. Saat inilah K’toet Tantri bertemu kembali dengan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap. Dalam pertemuan tidak terduga ini, K’toet Tantri mengingatkan kembali Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap: ‘Bung, Amir, saya sudah tahu arti Lord Haw-Haw dalam bahasa kamu?’. Apa artinya, desak Tantri di keramaian orang. ‘Tuan Tak Berguna’ jawab Tantri. Amir lalu mengumumkan, masih di tengah keramaian: ‘Perhatian-perhatian, mulai sekarang, Muriel Stuart Walker saya beri marga sesuai ibu saya Siregar. Oleh karena itu nama lengkapnya sekarang adalah K’toet Tantri Siregar’. Tiba-tiba ada yang memberi selamat kepada Tantri: ‘Gefeliciteerd, jij hebt het’. Orang itu adalah Dr Parlindoengan Lubis yang baru pulangdari Belanda yang pernah ditahan Jerman di kamp Nazi. Dr Parlindoengan Lubis adalah anti-fasis.

Dalam fase awal di Djokjakarta ini, pers asing yang memiliki homebase di Batavia-Djakarta bermaksud untuk mengunjungi ibu kota RI yang baru. Sejumlah wartawan asing sudah tiba di Batavia termasuk wartawan Amerika Serikat Martha Gelhom dari Saturday Evening Post. Dengan kereta api dari stasion Djatienegara Soetan Sjahrir membawa rombongan pers asing ke Djogjakarta. Dalam rombongan ini tidak termasuk jurnalis Belanda, karena tidak diberi izin oleh Pemerintah Republik Indonesia di Djokjakarta. Setiba di Djokjakarta jurnalis asing itu terheran-heran ada seorang bule diantara pejabat-pejabat Indonesia. Pada saat inilah Muriel Stuart Walker alias K’toet Tantri berkenalan dengan Martha Gelhom (sesama Amerika). Sepulang dari Indonesia, K’toet Tanri adalah orang yang terus memasok kabar-berita kepada Martha Gelhom di Amerika.

Sehubungan dengan keberadaan K’toet Tantri pers Belanda mulai nyinyir. Hal ini karena pers Amerika mulai banyak yang menyudutkan kehadiran Belanda (kembali) di Indonesia, Pers Belanda juga menyoroti dan menkritik pers Amerika. Tak terkecuali K’toet Tantri juga menjadi sorotan karena dianggap memasok berita ke Amerika Serikat. Amunisi-amunisi yang bersumber dari pusat Republik di Jokjakarta menjadi bahan berita di Amerika yang terus memprovokasi pemerintah Belanda. Pers Amerika menjadi semacam corong (Lord Haw-Haw) RI di Eropa. Tentu saja hal itu didukung rakyat Amerika karena Pemerintah Amerika Serikat memiliki kepentingan tertentu di Indonesia.

De Nederlander, 27-06-1946: ‘Perjalanan pers asing ke pusat Repoeblik di Jawa mendapat kejutan...dalam media Amerika Serikat mendapat simpati kepada Repoebliek....setelah berakhirnya pendudukan Jepang, salah satu kesulitan terbesar bagi politik kita (Belanda) di Hindia (Indonesia) mendapat citra miring dari berbagai negara...Kita mungkin tidak selalu menyadari dengan cukup apa pengaruh melumpuhkan yang sedang terjadi disini, tidak hanya di Inggris, tetapi juga terutama di Amerika Serikat..yang lebih berbahaya adalah sikap mental khas Amerika...bahwa propagandis dari Hindia dapat dengan mudah bermain dimana saja di Amerika Serikat...Ini bukan masalah kanan atau kiri. Hanya ada satu pendapat di Amerika Serikat yakni simpati untuk Indonesia yang akan ‘membebaskan orang-orang Indonesia dari rantai tirani’....Sebaliknya...di surat kabar dan majalah utama Inggris, pelaporan menjadi lebih objektif dan akurat. Di Amerika Serikat sekarang ada juga tanda-tanda pembalikan. Sebagai contoh, kita baru saja membaca sebuah artikel yang menarik di Saturday Evening Post edisi 1 Juni oleh jurnalis terampil Martha Gelhom. Dia mengunjungi pusat republik...Staf editorial koran itu memperkenalkan laporan (diilustrasikan dengan gambar yang menyanjung Soekarno) dengan karakteristik berikut, kata-kata yang hampir sensasional: Orang Jawa menyatakan diri mereka merdeka, dan sang presiden dengan murah hati menjanjikan sebuah mobil untuk semua orang: tetapi seorang jurnalis Amerika yang telah mengunjungi daerah terlarang menemukan bahwa koloni Belanda yang dulu....Penulis mulai dengan sketsa situasi tragis di mana Belanda masih menemukan diri mereka sendiri, terutama mereka yang belum dibebaskan dari interniran (Jepang). Anda tidak akan menemukan dan membaca kata-kata dari pengertian seperti itu untuk situasi diluar negara kita. Kemudian membuat  deskripsi rinci tentang perjalanan kereta malam ke Jokjakarta...yang bersamaan dengan misi Tuan Sjahrir melakukan perjalanan untuk konsultasi dengan orang kuat Soekarno...Laporan tersebut menunjuk pada perbedaan antara sawah yang tak berujung dan tiga perempat penduduk asli kelaparan dimana-mana di stasiun yang tak terhitung jumlahnya...Di Jokja, kelompok jurnalis kulit putih disambut oleh seorang wanita, pegiat edisi lokal ‘van Lord Haw Haw, yaitu Miss Tantri yang terkenal, seorang Inggris, yang berperilaku seperti orang Indonesia. Wanita ini mendapatkan mantel dari Miss Gelhom, terutama karena berita-berita yang ia hujani dengan para jurnalis asing bahwa pembunuhan oleh Belanda akan terjadi disini yang diperankan oleh agen rahasia Belanda, dll!...Segala macam kebohongan, gosip, dan dongeng juga dibahas lebih lanjut ketika pertanyaan para koresponden... Kunjungan ke kamp TRI dibatalkan karena akan membahayakan rahasia militer. Tetapi para pengunjung cukup melihat gerombolan prajurit yang sangat muda yang diberi semua jenis senjata oleh Jepang. Orang Jepang kini yang secara sukarela diinternir dalam jumlah yang sebelumnya mereka memukul, menyiksa atau membunuh Nederlander....Di Soerakarta, Miss Gelhorn mendengar tentang Soekarno pada suatu pertemuan yang menulis bakat oratorisnya yang besar,,,Dia mendebit gelombang pasang frasa dangkal dan berulang kali berkata:  ‘Cita-cita sosial kita adalah lampu listrik, sepeda dan mobil untuk semua orang’. Penulis telah memutarbalikkan fakta..orang Amerika yang mudah tertipu. Justru karena dia tidak hanya mengkritik tetapi juga menunjukkan pemahaman yang tulus tentang kesulitan dan perasaan orang Indonesia, pidatonya membuatnya semakin mendalam...Saturday Ev, Post adalah salah satu surat kabar Amerika Serikat terbesar. Sirkulasinya, seperti yang kita ketahui, 8 juta per minggu, benar-benar mencapai sebagian besar seluruh rumah di Amerika Serikat. Artikel seperti ini dapat melakukan banyak hal baik, terutama karena majalah tersebut memiliki reputasi untuk berhati-hati dalam penilaiannya. Dokumen semacam itu mungkin terbukti sangat penting dalam menyebarkan kebenaran tentang Jawa...tapi, entahlah’. Surat kabar lainnya di Belanda, Algemeen Handelsblad, 09-07-1946 mengomentrari dan menyindiri surat kabar New York Times yang mengutip pernyataan datri Martha Gelhom. Surat kabar Amerika itu menyatakan bahwa ”memaksakan kehendak kami (Belanda) kepada para penguasa (Indonesia) tanpa meminta persetujuan. kami (Belanda) membiarkan mereka membayar pajak... bahwa dengan sedikit kasar, mereka (Berlanda) sekarang menuntut agar orang Indonesia ini melakukan praktik itu lagi.... (Algemeen Handelsblad menutup editorial itu dengan)...’tidak perlu digeneralisasi, tetapi hal itu diperlukan untuk membantu memberikan citra orang asing (Amerika) tentang perspektif Hindia (Belanda), terutama ketika dikaitkan dengan kesadaran akan kekurangannya sendiri (Amerika Serikat), seperti di New York Times. dalam masalah terkait.

Tampaknya Muriel Stuart Walker berada di tempat yang tepat ketika Amerika Serikat membutuhkan Indonesia, sementara Indonesia tidak membutuhkan lagi Belanda. Muriel Stuart Walker pantas mendapat nama K’toet Tantri di Bali, tempat yang menjadi kesadaran baru Muriel Stuart Walker ketika tahun 1932 memilih Bali sebagai tujuannya. Bali telah mempertemukan Muriel Stuart Walker dengan pejuang-pejuang Indonesia. Kini, Muriel Stuart Walker ketika tengah berada di Djokdjakarta, diantara para Republiken sejati.

Keberadaan Muriel Stuart Walker ketika di Djokjakarta telah membuat gusar Dr HJ van Mook (pemimpin Belanda-NICA) dan memperingatkan orang asing (lihat Nieuwsblad voor de Hoeksche Waard en Ijselmonde, 29-01-1947). Disebutkan ‘ada tiga orang Amerika dan beberapa orang Australia di sini (Indonesia0. Ada juga banyak orang India, beberapa orang Arab, seorang Belanda dan seorang Spanyol. Mereka ini telah memainkan propaganda internasional dan selalu bergerak, sebagian besar dari mereka ini sebagai propagandis ditempatkan di Djokjakarta. Baru-baru ini, Dr. Van Mook memperingatkan orang-orang India terhadap hal ini. Di antara orang asing, Suze van Soerabaja, yang propaganda jahatnya yang anti-Belanda dan anti-Inggris. Dia adalah paling terkenal. Akhir-akhir ini dia telah berbicara dengan otoritas republik di Djogjakarta. Teman-temannya para ekstremisnya di Oost Java menyebut dia adalah sebagai Muriel Pierson yang lahir di eiland Man. Dia menikah dengan seorang seniman di Hollywood. Setelah kehilangan suami dan anaknya dalam suatu kecelakaan, dia pergi ke laut Selatan dan akhirnya menetap di Bali dengan nama Vannen Manx. Dia membuka hotel liburan disana, dikonversi ke ajaran Hindu dan mengambil nama Bali K’toet Diah Tantri. Pada waktu pendudukan Jepang dia disangka sebagai mata-mata Amerika, lalu mereka mengurungnya. Setelah pembebasan dia di Jawa [Malang] kemudian menjadi turut mendukung Soetomo, penghasut ekstremis berusia 23 tahun. Orang-orang pengikut Soetomo yang melakukan pertempuran sengit di Soerabaja melawan Inggris dia disebut ‘Sally dari AS’. Dia juga diberi julukan ‘Suze dari Soerabaja’ keturunan Inggris. Setelah itu kemudian dia muncul di Djokjakarta di bawah naungan seorang komandan Indonesia’. Catatan: Komandan Indonesia di Djokjakarta ini adalah Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap (Menteri Pertahanan RI) yang diperbantukan kepada Kolonel Zulkifli Lubis (Komandan Intelijen RI).

Muriel Stuart Walker alias K’toet Tantri tampaknya menikmati hidupnya di Indonesia terutama di kampongnya di Bali. K’toet Tantri adalah seorang Republiken sejati. Akan tetapi K’toet Tantri tidak mengetahui dirinya sedang diincar oleh agen rahasia Belanda-NICA. Namun agen rahasia Amerika Serikat di Indonesia dan Singapoera lebih cepat bergerak sehingga K’toet Tantri dapat diamankan ke Singapoera melalui kerja sama dengan agen intelijen Indonesia.

Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche, 09-01-1950
K’toet Tantri menjadi musuh Belanda. Muriel Stuart Walker tampaknya sedang dicari oleh agen rahasia Belanda-NICA. Muriel Stuart Walker yang masih berpaspor Amerika Serikat itu sudah diketahui oleh agen-agen rahasia Amerika Serikat. Lalu Muriel Stuart Walker, Republiken Indionesia itu diamankan ke Amerika Serikat pada tahun 1947. Surat kabar Provinciale Drentsche en Asser courant, 01-02-1947 melaporkan bahwa Mrs K’toet Tantri telah berhasil melewati kontrol (barikade) angkatan laut Belanda untuk melarikan diri dari Jawa. Dia diselundupkan oleh agen intelijen Indonesia secara diam-diam diangkut dari Jawa ke Singapura bulan sebelumnya dengan kapal boat 100 ton milik orang Indonesia. Dia sekarang menulis memoarnya di sebuah vila di Singapura. Dia diberikan izin untuk menetap di Singapura selama dua bulan sampai formalitas paspornya selesai. Diaantara orang Indonesia di Sangapoera dia disebut Miss Daventry tetapi ke pihak lain dikatakan orang Amerika.

K’toet Tantri kemudian diberangkatkan oleh agen rahasia Amerika Serikat ke Los Angeles via Honolulu (Hawaii). Seperti sebelumnya, melalui agen-agen ini selama penantian di Singapoera K’toet Tantri terus memasok berita ke teman-teman jurnalisnya di Amerika Serikat khususnya Martha Gelhom. K’toet Tantri menerima bahan berita dari agen-agen intelijen Indonesia. Catatan: Kolonel Zulkifli Lubis sejak era pendudukan militer Jepang telah membangun jaringan intelijen Indonesia di Singapoera dan Semenanjung Malaya. Keluarga Kolonel Zilkifli Lubis banyak di Semenanjung Malaya. Surat kabar Nieuwe courant, 05-02-1947 yang mengutip dari kantor berita Antara menambahkan bahwa K’toet Tantri punya rencana untuk menulis di Amerika dan berbicara di radio tentang revolusi nasional di Indonesia. Catatan: Kantor berita Antara, kantor berita Republiken di Djakarta-Batavia yang dipimpin oleh Adam Malik dengan editornya Mochtar Lubis.

Sementara menunggu paspor di Singapoera, K’toet Tantri tanpa diduga memiliki kesempatan berharga ke Djokjakarta. Hal ini terjadi ketika Konsul Jenderal Mesir di Bombay (India) melakukan kunjungan kenegaraan ke RI (di Djokjakarta) pesawat yang ditumpangi mampir di Singapoera (lihat Nieuwe courant, 15-03-1947). Disebutkan yang mengutip dari kantor berita Antara, bahwa ‘Konsul Jenderal Mesir di Bombay, Moh. Abdoel Munim, telah tiba di Djokja dengan pesawat terbang carter. Dia ditemani oleh komentator radio wanita terkenal K’toet Tantri, yang telah menghabiskan beberapa waktu di Singapura. Munim membawa surat-surat dari pemerintah Mesir dan Mohammed Ali Jinna, presiden Liga Islam di India, yang ditujukan kepada Presiden Soekarno’.

Sekembalinya dari Djokjakarta di Singapoera, K’toet Tantri akhirnya berangkat ke Amerika Serikat. Selama di Amerika Serikat, K’toet Tantri tidak diam, dia memberikan kuliah di universitas dan perkumpulan mahasiswi dimana dia mendesak dukungan untuk orang Indonesia (lihat Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche courant en Vrije Twentsche courant, 09-01-1950).

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, K’toet Tantri pulang kampong ke Indonesia. Seperti diberitakan surat kabar Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche courant en Vrije Twentsche courant, 09-01-1950, Muriel Stuart Walker alias K’toet Tantri dengan samaran pada era perang revolusi ‘Suze van Soerabaja’ setelah tiba di Indonesia berharap untuk bertemu Presiden Soekarno di Djakarta dan kemudian akan pulang kampong ke Bali. Foto yang ditampilkan di atas yang beredar selama ini, kemungkinan besar adalah foto pertemuan itu (antara K’toet Tantri dengan Presiden Soekarno) sebelum pulang kampong ke Bali.

K’toet Diah Tantri benar-benar pulang kampong ke Bali. Muriel Stuart Walker telah meninggalkan Bali sejak awal pendudukan militer Jepang, 1942. Itu berarti sudah delapan tahun tidak mendapat kabar dari ‘ayah’ dan ‘ibu’ di Bali.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bali en Lombok Bode

Surat kabar bulanan Bali Adnjana dan Surya Kanta sudah lama tiada. Tidak ada penerusnya. Surat-surat kabar yang terbit di Soerabaja mencapai oplahnya hingga Bali khususnya di Singardja dan Denpasar. Surat-surat kabar Soerabaja ada yang diterbitkan dalam bahasa Belanda dan juga ada yang diterbitkan dalam bahasa Melajoe. Surat kabar Soerabaja ini juga beredar hingga Lombok khususnya di Ampenan, Mataram dan Selong.

Surat kabar berbahasa Malajoe yang terkenal di Soerabaja adalah Soeara Oemoem. Surat kabar ini awalnya adalah surat kabar Bintang Timoer edisi Soerabaja (dan edisi Semarang) sebagai perluasan jangkauan surat kabar Bintang Timoer yang terbit di Batavia. Edisi Soerabaja diterbitkan tahun 1927 untuk lebih menggelorakan rencana Kongres PPPKI (senior) bulan September 1928 dan Kongres Pemoeda (junior) bulan Oktober 1928. Pemimpin dan redaktur utama surat kabar Bintang Timoer adalah Parada Harahap (yang juga menjadi sekretaris PPPKI dan sekretaris Sumatranen Bond). Untuk menyelenggarakan dua kongres tahun 1928 Parada Harahap meminta Dr Soetomo sebagai ketua panitia, sedangkan komite Kongres Pemoeda Parada Harahap merekomendasik Mohamad Jamin (Jong Sumatranen Bond) sebagai sekretaris dan Amir Sjarifoeddin Harahap (Jong Bataksche Bond)  sebagai bendahara. Untuk ketua komite Dr Soetomo merekomendasikan Soegondo (ketua PPPI). Ketiga tokoh pemuda ini adalah sama-sama Rechthoogeschool di Batavia. Dalam Kongres PPPKI 1928 pengurus baru terpilih Dr Soetomo. Dalam rangka persiapan Kongres PPPKI di Solo tahun 1929. Dr Soetomo bersama Dr Radjamin Nasoetion di Soerabaja mendirikan partai baru yang diberi nama Partai Bangsa Indonesia (PBI). Surat kabar Bintang Tioer edisi Soerabaja inilah yang kemudian menjadi surat kabar Soeara Oemoem pimpinan dan redaktur Dr Soetomo yang juga sebagai organ dari PBI. Pada tahun 1931 Dr Radjamin Nasoetion dengan kendaraan PBI terpilih menjadi anggota dewan kota (Gemeenteraad) Soerabaja. Pada tahun 1935 PBI dan Boedi Oetomo bergabung (fusi) dan terbentuk partai baru yang diseberi nama Partai Indonesia Raja (Parindra). Pada tahun 1938 Dr Soetomo meninggal dunia, Pada tahun yang sama Dr Radjamin Nasoetion menjadi anggota Volksraad mewakili dapil Oost Java (Parindra).

Surat kabar Soeara Oemoem selain memberitakan kabar-kabar faktual juga menyuarakan keadilan dan kemerdekaan Indonesia. Melalui surat kabar Soeara Oemoem ini, publik di Bali dan Lombok tercerahkan tentang keadilan dan cita-cita kemerdekaan bangsa oleh para pejuang-pejuang di Jawa khususnya di Soerabaja. Sementara itu, sejak 1920an putra-putri asal Bali sudah banyak yang melanjutkan pendidikan di Oost Java khususnya di Soerabaja, Probolinggo dan Malang.

Pada era pendudukan Jepang, surat kabar Soeara Oemoem dibatasi. Oleh karena itu berita-berita di Jawa khususnya juga kurang tersampaikan ke Bali dan Lombok. Sebagaimana diketahui Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 yang lalu kemudian kemerdekaan Indonesia diproklamirkan di Djakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun tidak lama kemudian datang menyusul Belanda-NICA di belakang Sekutu-Inggris yang melakukan pelucutan senjata militer Jepang dan pembebasan para interniran Eropa-Belanda. Dengan semakin menguatnya NICA-Belanda di Batavia dan Soerabaja, maka NICA-Belanda mulai memasuki Bali pada awal bulan Maret 1946. Sebagaiana sebelumnya ketika NICA-Belanda berhasil menguasai Batavia langsung menerbitkan surat kabar (Het Dagblad terbit kali pertama di Batavia. pada tanggal 23-10-1945) dan hal yang sama juga di Soerabaja segera terbit surat kabar Nieuwe Courant (diperkirakan terbit pertama pada akhir Desember 1945; edisi No 23 terbit pada tanggal 19 Januari 1946).

Surat kabar baru terbit kembali di Bali pada era perang kemerdekaan (Belanda-NICA). Surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Bali diberi nama Bali en Lombok Bode. Surat kabar lokal di Bali dan Lombok ini paling tidak sudah terdeteksi pada awal Juni 1946 (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 14-06-1946). Dalam hal ini surat kabar Het Daghblad di Batavia mengutip berita surat kabar Bali en Lombok Bode.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar