Laman

Minggu, 30 Agustus 2020

Sejarah Manado (14): Adolf G Lembong, Tentara Profesional; Lika-Liku Perjuangan Seorang Anak Manado dalam Perang Pasifik

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini

Nama Adolf Gustaaf Lembong harum manis di Manado dan Bandoeng. Paling tidak nama Lembong di dua kota tersebut ditabalkan sebagai nama jalan. Sudah barang tentu, nama Adolf Gustaaf Lembong di Lembong sangat spesial karena lahir di Manado sebagai Anak Manado. Lantas bagaimana sejarahnya? Adolf Gustaaf Lembong adalah seorang tentara profesional, siapa pun komando yang memberi perintah dan siapa pun bangsa yang dibela. Itulah Adolf Gustaaf Lembong, seorang tentara profesional yang penuh lika-liku perjuangan selama Perang Pasifik.

Rumor perang Pasifik sudah lama ada. Perang Pasifik itu benar-benar terjadi di Indonesia ketika militer Jepang mulai menduduki Manado pada tanggal 11 Januari 1942. Saat itu usia Adolf Gustaaf Lembong baru memasuki kepala dua. Perang Pasifik akhirnya Jepang menguasai seluruh Indnesia (baca: Hindia Belanda) setelah Pemerintah Hindia Belanda menyatakan menyerah kepada militer Jepang pada tanggal 9 Maret 1942 di Kalidjati, Soebang, West Java. Beberapa tahun kemudian Jepang mernyerah kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945 dilakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun tidak lama kemudian Belanda kembali dengan nama NICA. Perang kemerdekaan tidak terelakkan antara Republiken (TRI-TINI) dengan NICA-Belanda (KNIL). Lalu akhirnya terjadi gencatan senjata dan kemudian Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia 27 Desember 1949. Namun tidak semua menerima, muncullah tentara-tentara eks NICA membentuk pasukan-pasukan salah satu diantaranya pasukan APRA di Priangan.

Bagaimana sejarah Adolf Gustaaf Lembong sudah banyak ditulis. Namun seperti kata ahli sejarah tempo doeloe penulisan sejarah tidak pernah berhenti sejauh data dan fakta baru ditemukan. Sebab menurut ahli sejarah tempo doeloe, sejarah adalah narasi fakta dan data. Dalam hal inilah penulisan sejarah Adolf Gustaaf Lembong masih diperlukan. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Perang Pasifik di Manado: Adolf Gustaaf Lembong

Ketika tanda-tanda perang mulai terbuka di Eropa, hal serupa juga dirasakan di Hindia Belanda. Untuk mengantisipasinya Pemerinhtah Hindia Belanda mulai menambah rekrutmen baru, orang Belanda, Cina dan pribumi (lihat De Sumatra post, 14-02-1941). Untuk pelatihan sersan ini terdapat di sejumlah wilayah. Sedangkan untuk pelatihan perwira muda dipusatkan di sekolah militer di Bandoeng. Dalam fase inilah Adolf Gustaaf Lembong di Manado, I Goesti Ngoerah Rai di Bali dan Andoel Haris Nasoetion di Palembang.

Sersan I Goesti Ngoerah Rai dkk dari korp Prajoda Gianjar Bali mendapat kenaikan pangkat menjadi letnan dua (lihat De Indische courant, 24-03-1941). Pada waktu yang relatif bersamaan sejumlah sersan dipromosikan untuk mengikuti pendidikan perwira profesional di akademi militer di Bandoeng, diantaranya Abdoel Haris Nasoetion, Alex Kawilarang dan TB Simatoepang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-03-1941). Mereka ini lulus dengan pangkat luitenan dua dan disebar di berbagai tempat di Jawa. Sementara itu, Letnan Rai dan Letnan Wisnoe dipindahkan dari Singaradja ke Soerabaja untuk memperkuat pertahanan di Jawa dan selanjutkan akan ke Magelang (lihat Soerabaijasch handelsblad, 26-11-1941).

Di Soerabaja Sersan Brandt yang baru pulang dari Amerika Serikat melakukan pertemuan khusus dengan Majoor TJ Tichelaar. Sersan Brandt telah ditunjuk sebagai petugas divisi wilayah Minahasa. Sersan Brandt akan segera ke Manado (lihat Soerabaijasch handelsblad, 01-04-1941). Ahli radio ini di Manado akan bekerja dalam urusan radio militer. Salah satu stafnya di Manado diduga adalah sersan Adolf Gustaaf Lembong.

Pada hari Minggu tanggal 11 Januari 1942 Hindia Belanda mulai diserang, tentara Jepang sudah mendarat di Tarakan dan Minahasa (lihat Amigoe di Curacao: weekblad voor de Curacaosche eilanden, 12-01-1942). Laporan Domei dari Tokyo, sebagaimana dilansir surat kabar Dordrechtsche courant, edisi hari Rabu 14-01-1942 menyatakan bahwa Kema telah diduduki oleh pasukan pendaratan khusus Angkatan Laut Jepang tanggal 11 Januari dan juga bandara Kakas sudah berada di tangan Jepang, dimana empat pembom berat Lockheed-Hudson dan tiga pembom berat lainnya ditembak jatuh. Opregte Steenwijker courant, 16-01-1942 melaporkan menurut komunike dari markas besar Kekaisaran Jepang, pesawat angkatan laut Jepang juga melakukan serangan yang sangat ekstensif pada hari Kamis di pulau Molukka (termasuk di Ambon), di New Guinea (termasuk Sorong), serta pulau New Britain di Australia (pulau terakhir, yang terletak di lepas pantai timur laut New Guinea). instalasi hancur atau dibakar. Sementara itu, komunike selanjutnya menyatakan bahwa angkatan bersenjata Jepang di Minahasa sedang dalam proses operasi telah menangkap sejumlah besar mobil lapis baja musuh, senjata lapangan, senapan mesin, bahan peledak, amunisi dan bahan perang lainnya’

Pasukan Pemerintah Hindia Belanda (KNIL) di Minahasa berhasil dilumpuhkan militer Jepang. Pasukan KNIL tersebut ditangkap dan ditahan. Dalam hal ini termasuk sersan Adolf Gustaaf Lembong yang ditahan. Pasukan KNIL yang ditahan di berbagai tempat seperti di Minahasa (Manad)) dan Maluku (Ambon) kemudian diinternir ke kamp konsentrasi Rabaul di pulau Nieuw Brittanie (New Britain) di Australia.

Pasukan militer Jepang akhirnya berhasil menguasai seluruh wilayah Asia Tenggara. Markas militer Jepang yang sebelumnya di Saigon dipindahkan ke Singapoera. Pertahanan terakhir Pemerintah Hindia Belanda di Jawa pada akhirnya dapat dikuasai dimana Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang pada tanggal 9 Maret 1942 di Kalidjati, Soebang, West Java.

Pada bulan Mei 1943 Pemerintah Pendudukan Militer Jepang memindahkan Adolf Gustaaf Lembong dkk dari Rabaul di Nieuw Brittanie ke Filipina. Kamp konsentrasi di Filipina tersebut berada di Gonzalez, Provinsi Pangaison.

Amerikan Serikat berada di Filipina sejak 1898. Dalam Perang Pasifik permusuhan Kerajaan Jepang dengan Amerika Serikat berimbas di Asia Tenggara. Pasukan militer Jepang berhasil mengusir Amerika Serikat dari Filipinan.

Adolf Gustaaf Lembong dkk di kamp Gonzalez menemukan koneksi dengan para tahanan dan gerilyawan Filipina. Gerilyawan ini dipimpin oleh komandan Amerika Serikat Mayor Robert B. Lapham melalui gerilyawan (utusan) untuk bersiap untuk melarikan diri dari kamp. Lembong dan teman-temannya dari Indonesia benar-benar melarikan diri pada tanggal 6 Agustus 1943 dan tiba setelah 2 hari dua malam di kamp gerilyawan. Di kamp gerilya ini Lembong dan teman-teman diterima oleh komandan Amerika,

Dalam bergerilya Lembong dan teman-teman masih memakai seragam yang lama karena tidak ada pakaian lain yang tersedia.Setelah beberapa saat, Lembong diangkat menjadi perwira gerilyawan, Dalam perkembangannya Lembong ditangkap oleh militer Jepang pada bulan Januari 1944 tetapi empat bulan kemudian Lembong dapat melarikan diri dengan bantuan Asuncion Angel. Asuncion Angel adalah seorang perempuan muda Filipina, Asuncion Angel adalah seorang pejuang gerilya Filipina yang telah berulang kali menembus garis demarkasi Jepang dan tiga kali ia dipenjara oleh Jepang. Asuncion Angel dan Lembong menikah pada tanggal 26 Oktober 1944

Pada tanggal 6 Januari 1045 Adolf Gustaaf Lembong dkk dan gerilyawan Filipina terlibat pertempuran sengit dengan konvoi truk Jepang dalam perjalanan mereka ke San Leon. Dalam pertempuran itu 27 orang Jepang terbunuh sementara gerilyawan tanpa mengalami kerugian yang berarti. Tiga hari kemudian, pada tanggal 9 Januari 1945 pasukan Amerika mendarat di Teluk Lingay. Kehadiran pasukan Amerika Serikat ini disambut oleh para gerilyawan (termasuk Adolf Gustaaf Lembong dkk).

Diantara kelompok gerilyawan yang menyambut tersebut terdapat 10 orang yang mengibar-ngibarkan bendera tri color Belanda. Adolf Lembong dan pasukan kecilnya dalam bergerilya melawan militer Jepang di Filipina tetap menggunakan bendera Belanda (merah putih biru). Bendera itu dibuat oleh istri Lembong, Asuncion Angel.  

Sang komandan Amerika sempat mengira pasukan kecil Adolf Lembong adalah pasukan yang dikirim oleh Belanda: ‘Ketika kami melihatmu berdiri disana dengan warna merah putih dan biru itu, kami berpikir sejenak bahwa Belanda telah mendahului kam’, kata komandan Amerika itu kepada Lembong setelah mendarat.

Kisah Adolf Gustaaf Lembong dkk di Filipina ditulis oleh Arnold Vas Dias (direktur pelaksana Aneta) yang dirilis oleh kantor berita ANP-Aneta yang kemudian dimuat pada surat kabar Nieuwsblad van het Zuiden, 18-07-1945.

Pada tanggal 12 April 1945, Adolf Gustaaf Lembong dkk bersama sembilan temannya meninggalkan Filipina dan selanjutnya kembali bergabung dengan KNIL yang ingin menguasai kembali Indonesia. Adolf Gustaaf Lembong dkk tiba di Kamp Columbia di Brisbane Australian. Pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan telah membuat Adolf Gustaaf Lembong dipromosikan menjadi letnan dan teman-temannya yang lain menjadi sersan. Arnold Vas Dias mewawancarai Luitenan Adolf Gustaaf Lembong di kamp Columbia di Brisbane.

Itulah kisah terakhir Adolf Gustaaf Lembong di Filipina hingga tiba di Australia. Setelah itu tidak diketahui Adolf Gustaaf Lembong dkk ditempatkan di kesatuan mana. Juga tidak diketahui dimana kesatuan Adolf Gustaaf Lembong bertugas.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Adolf Gustaaf Lembong Desersi dari KNIL Bergabung dengan TRI

Kota Hirosima dan Nagasaki di bom oleh Amerika menjadi alasan Kerajaan Jepang menyerah kepada Amerika dan sekutunya. Penyerahan Jepang ini pula yang memicu proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan para interniran Belanda di Indonesia dilakukan oleh Inggris yang berbasis di Singapoera. Namun kemudian di belakang Sekutu/Inggris muncul Pemerintah (Kerajaan) Belanda yang disebut NICA yang juga melakukan konsolidasi terhadap kekuatannya (KNIL) dari berbagai tempat. Dalam situasi inilah Adolf Gustaaf Lembong bergabung kembali dengan KNIL (dari KNIL ke KNIL).

Semakin meningkatnya KNIL pasukan Belanda/NICA di Djakarta dan sekitar dan semakin intensnya perlawanan yang digalang rakyat Indonesia (Tentara Rakyat Indonesia) menyebabkan Presiden Soekarno mengangkat Amir Sjarifoeddin Harahap sebagai Menteri Keamanan Rakyat (baca: Menteri Pertahanan (tetap merangkap sebagai Menteri Penerangan). Hal ini sehubungan dengan Tentara Rakjat Indonesia yang mengumumkan Proklamasi Perang pada tanggal 13 Oktober 1945 (lihat Keesings historisch archief: 14-10-1945). Markas Tentara Rakjat Indonesia berada di Bandung (Provinciale Drentsche en Asser courant, 17-10-1945). Markas ini dipimpin oleh Abdul Haris Nasution. Pengumuman yang bersumber dari Markas TRI dan pengumuman perang dilakukan melalui hanya satu-satunya saluran pemberitaan yang masih dikuasai kalangan nasionalis Indonesia yakni Radio Indonesia Bandoeng (lihat De Patriot, 18-10-1945). Salah satu penyiar yang juga pernah membacakan teks Proklamasi RI pada malam hari tanggal 17 Agustus 1945 adalah Sakti Alamsjah Siregar (kelak menjadi pendiri surat kabar Pikiran Rakyat Bandung).

Dalam perkembangannya karena situasi yang semakin krisis di Djakarta, Pemerintah RI di Djakarta dipindahkan ke Jogjakarta secara bertahap yang dimulai awal Januari 1946. Rombongan terakhir Pemerintah RI evakuasi dari Djakarta pada bulan Maret 1946 dipimpin oleh Overste Mr. Arifin Harahap.

Pemerintah RI dan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) terus bahu membahu membangun kekuatan, mengkonsolidasi tentara rakyat dan melakun perlawanan terhadap pasukan Sekutu/Inggris di depan dan militer NICA KNIL di garis belakang. Ketika TRI melakukan pertempuran dengan KNIL di Djakarta, TRI melakukan perlawanan dengan tentara Sekutu/Inggris di Bandoeng. Klimaks perlawanan di Bandoeng yang dipimpin Kolonel Abdul Haris Nasution terjadi apa yang disebut aksi bumi hangus di area Bandoeng Selatan pada Maret 1946 (Bandoeng Laoetan Api). Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin Harahap bergegas dengan kereta api menuju Bandoeng untuk berdiskusi dengan Kolonel Abdul Haris Nasution.

Pada bulan Mei Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap mulai merapikan struktur kekuatan tentara Indonesia sehubungan dengan perubahan namanya dari Tentara Rakyat Indonesia (TRI) menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Nieuwe courant, 29-05-1946: ‘Perubahan dan penunjukan pada posisi baru TRI telah diterbitkan. Dalam penunjukkan ini terlihat keterlibatan orang-orang muda dan perwakilan dari tentara rakyat di Jawa. Soedirman dipromosikan menjadi Panglima tertinggi dengan pangkat Jenderal. Ketua Pengadilan Tinggi Militer ditunjuk Mr. Kasman Singodimedjo. Kepala Staf diangkat Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Kolonel Soetjipto diangkat menjadi Kepala Dinas Rahasia; Kolonel TB Simatoepang sebagai Kepala Organisasi TNI; Kolonel Hadji Iskandar sebagai Kepala Departemen Politik; Kolonel Soetirto sebagai Kepala Urusan Sipil; Kolonel Soemardjono sebagai Kepala Hubungan dan Kolonel Soejo sebagai Kepala Sekretariat. Sudibjo diangkat menjadi Direktur Jenderal Departemen Perang yang mana Didi Kartasasmita sebagai Kepala Infantri. Di dalam Departemen Perang juga diangkat: Kepala Departemen Artileri Letnan Kolonel Soerjo Soermano; Kepala Departemen Topografi Soetomo (bukan penyiar radio); Kepala Geni Kolonel Soedirjo; Kepala Persenjataan Mayor Jenderal Soetomo (juga bukan penyiar radio) dan Kepala Polisi Militer Mayor Jenderal Santoso (bukan penasihat Dr. Van Mook). 'Mayor Jenderal Abdoel Haris Nasution ditunjuk sebagai Panglima Divisi-1 (Siliwangi) dengan Letnan Kolonel Sakari sebagai Kepala Staf. Panglima Divisi-2 Mayor Jenderal Abdulkadir (bukan penasihat Dr. Van Mook) dengan Letnan Kolonel Bambangkoedo sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-3 Mayor Jenderal Soedarsono (bukan menteri) dan Letnan Kolonel Pari sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-4 Mayor Jenderal Sudiro dengan Letnan Kolonel Fadjar sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-5 Mayor Jenderal Koesoemo dengan Letnan Kolonel Bagiono sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-6 Mayor Jenderal Songkono (Brawidjaja) dengan Letnan Kolonel Marhadi sebagai Kepala Staf, dan Panglima Divisi-7 Mayor Jenderal Ramansoedjadi dengan Letnan Kolonel Iskandar Soeleiman sebagai Kepala Staf’.

Dalam struktur organisasi tentara yang baru ini kali pertama diperkenalkan pangkat tertinggi yang disebut jenderal (Soedirman, sebagai Panglima). Pangkat di bawahnya Letnan Jenderal (Oerip Soemohardjo, sebagai Kepala Staf). Lalu kemudian pangkat Mayor Jenderal disematkan kepada tujuh Panglima Divisi plus Kepala Persenjataan dan Kepala PM. Pangkat di bawahnya sejumlah Kolonel dan sejumlah Letnan Kolonel.

Saat-saat situasi dan kondisi inilah Adolf Gustaaf Lembong, letnan KNIL (Belanda/NICA) melakukan desersi dan bergabung dengan TRI. Tidak ada kata terlambat memang. Paling tidak dengan desersinya Lembong dari kesatuannya membuat kekuatan KNIL NICA berkurang satu dan membuat kekuatan TRI bertambah satu.  

Letnan Kolonel Lembong Menyerahkan Diri ke Belanda di Jogjakarta Januari 1949

Kapan Letnan (KNIL-Belanda) Adolf Gustaaf Lembong bergabung dengan pasukan Republik Indonesia (TKR-TRI) tidak ada informasi. Namun begitu, besar dugaan itu terjadi setelah KNIL (Belanda-NICA) dari Australia memasuki wilayah Jawa (apakah via Batavia, Semarang atau Soerabaja).

Ketika Adolf Gustaaf Lembong bergabung dengan TKR-TRI bergabung dengan satuan mana tidak ada informasi. Demikian juga pangkat awalnya di kesatuan Republik Indonesia juga tidak ada informasi. Seperti disebutkan di atas perubahan struktur TRI yang lebih terorganisir baru dilakukan pada bulan Mei 1946 (lihat Nieuwe courant, 29-05-1946).

Satu-satunya informasi yang ditemukan bahwa Adolf Gustaaf Lembong di kesatuan TRI berpangkat Overste sebagai pangkat terakhir. Disebutkan bahwa Adolf Gustaaf Lembong sebagai commandant van de 16de Brigade (resimen ke-16), Jika dihitung mundur pada saat itu, komandan resimen umumnya berpangkat Majoor. Resimen itu berada di bawah divisi. Di (pulau) Jawa ada tujuh divisi (setelah perubahan organisasi TRI yang berpusat di Djogjakarta, ibu kota RI)). Urutannnya dimulai dari Divisi-1 (Siliwangi) panglimanya Mayor Jenderal Abdoel Haris Nasution dengan Kepala Staf Letnan Kolonel (Overste) Sakari. Jika setiap divisi paling tidak ada tiga resimen, maka Resimen ke-16 diduga berada di sekitar Midden Java-Djogjakarta atau Oost Java.

Ibu kota RI pindah ke Djogjakarta pada akhir tahun 1945 yang didahului pemindahan kementerian Keamanan-Rakyat (Pertahanan) yang dipimpin oleh Mr Amir Sjarifoeddin Harahap. Pada awal Januari 1946 Presiden Soekarno dan Wakil Presiden  Mohamad Hatta pindah ke Djogjakarta. Setelah perpindahan ibu kota ini dari Djakarta ke Djogjakarta terjadi aksi polisional Belanda pada tahun 1947 (agresi militer Belanda I). Pada bulan Desember 1948 terjadi agresi militer Belanda II dengan sasaran wilayah Djogjakarta dan wilayah Sumatra (terutama Tapanoeli) yang dimulai tanggal 19 Desember.

Hasil perjanjian Renville (Januari 1948) menyebabkan kesatuan TRI di wilayah Divisi-1 (Siliwangi) harus menyingkir ke Djogjakarta-Midden Java. Adanya peristiwa Madioen (PKI) pada bulan September 1948 menyebabkan kekuatan RI secara tidak langsung mulai melemah. Dalam situasi dan kondisi ini Pemerintah Belanda_NICA yang semakin menguat di seluruh Indonesia mulai melancarkan serangan terakhir ke wilayah Republik yang dimulai pagi pada tanggal 19 Desember 1949 di jantung ibu kota RI di Djogjakarta.

Pada hari itu sejumlah tokoh republik diculik dan kemudian dibunuh di Pakem diantaranya penasehat hukum Soekarno-Mohamad Hatta yakni Mr Masdoelhak Nasoetion, Ph.D. Melihat situasi dan kondisi ini, Jenderal Soedirman meminta Majoor Jenderal Abdoel Haris Nasoetion segera ke West Java untuk melakukan operasi gerilya bersama pasukan Siliwangi (perjalanan bolak-balik inilah yang dikenal Long March). Jenderal Soedirman juga sempat meminta Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta untuk mengungsi ke pedalaman. Namun Presiden Soekarno tampaknya lebih memilih menyerah (sejak inilah hubungan Soekarno dan Soedirman renggang). Setelah mengumumkan lewat radio Djogjakarta sekitar pukul 10 pagi (membacakan maklumat dari Jenderal Soedirman yang terdiri dari tiga butir), Jenderal Soedirman dan pasukannya bergerak ke pedalaman (untuk bergerilya). Tujuan pertama Jenderal Soedirman (yang sedang sakit keras) dan pasukannya adalah ke arah wilayah Bagelan (Poerworedjo), tempat dimana akademi militer RI berada. Sementara itu di Djogjakarta dalam perkembangan berikutnya Presiden Soekarno ditangkap (dan kemudian dengan beberapa tokoh penting) diinternir (di kantor Presiden Soekarno dan di kantor Wakil Presiden Mohamad Hatta) dan selanjutnya diasingkan. Sedangkan posisi Soetan Djogja untuk sementara tetap berada di kraton yang dijaga ketat oleh pasukan Pemerintah Hindia Belanda (KNIL).

Pasukan NICA-Belanda tidak cukup dengan berhasil menangkap tkoh sipil (politik) tetapi juga ingin menahan tokoh militer. Berdasarkan informasi dari sejumlah penghianat, pasukan militer Belanda-NICA mengejar Jenderal Soedirman dan pasukannnya hingga menemukannya pada malam hari di wilayah Poerworedjo. Jenderal Soedirman ditangkap dan dibawa ke Djogjakarta (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 20-12-1948). Berita ini cepat beredar.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 21-12-1948: ‘Dikonfirmasi bahwa Panglima Tertinggi Partai Republik, Jenderal Sudirman, ditangkap pada malam hari dari hari Minggu sampai Senin. Pada hari Minggu pasukan Belanda menduduki Poerworedjo. Terjadi pertempuran ringan’. Dalam berita ini kapan persisnya Jenderal Soedirman ditangkap tidak diketahui secara jelas, tetapi hanya perkiraan pada rentang waktu antara larut malam Minggu (19/12) dan dinihari Senin (20/12). 

Oleh karena Jenderal Soedirman sakit parah, penahananya tidak di penjara tetapi dijaga ketat di suatu klinik di Djogjakarta sambil ditangani para medis Belanda (lihat Limburgsch dagblad, 22-12-1948). Dengan ditahannya Kepala APRI Jenderal Soedirman dan lebih-lebih dengan dibrangusnya Radio Djogka maka hubungan dengan para komandan-komandan militer yang bergerilya di berbagai tempat menjadi terputus. Selama ini para kamondan yang berbekal walkie-talkie peninggalan Jepang masih bisa berkomunikasi ke Markas Besar di Djogjakarta. Hingga tanggal 22 Desember 1948 hanya Radio Kediri, satu-satunya stasiun penyiaran di Jawa yang masih di tangan kaum republikan (lihat Trouw, 22-12-1948). Sudah barang tentu situasi dan kondisi menjadi sulit. Pihak pemerintah Belanda berharap akan terjadi demoralisasi di kalangan TNI.

Pimpinan militer Indonesia (TNI) hanya berada di tangan dua orang: Wakil Kepala APRI Letnan Jenderal TB Simatupang yang juga telah bergerak ke utara Djogjakarta (Midden Java) dan Kepala Teritorium Jawa Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution yang bergerak ke barat Djogjakarta (di West Java). Sementara Jenderal Soedirman ditahan, pasukannya bergerak ke barat daya Djogjakarta (Poerworedjo) dan ke tenggara Djogjakarta (Kediri).  

Soedirman bukanlah Presiden atau Menteri. Soedirman adalah seorang Jenderal. Dalam kondisi belum sehat, Jenderal Soedirman diduga telah mencari jalan keluar sendiri. Jenderal Soedirman kabur dari klinik yang dijaga ketat. Siapa yang memberi jalan bagi Jenderal Soedirman tidak ada keterangan. Namun ada sejumlah berita yang berkaitan.

De vrije pers : ochtendbulletin, 24-12-1948: ‘Jenderal Sudirman yang sakit di Djokja dan telah dirawat di bawah perawatan Belanda dikatakan telah bersikeras kemarin pagi untuk melanjutkan perjuangan. Setidaknya menurut radio Madioen’. Nieuwsblad van het Noorden, 31-12-1948: ‘Berita terbaru Jenderal Soedirman sakit parah tetapi tidak lagi di tangan Belanda. Berdasarkan laporan Dienst Legercontacten bahwa komandan tertinggi TNI Jenderal Soedirman tidak berada di tangan Belanda. Sekarang dilaporkan bahwa dimana sang jenderal sudah diketahui. Dia juga sakit parah. Sesuai perintah harian dari Kolonel Hidayat, komandan TNI di Sumatra, ia (Kolonel Hidayat) mengambil alih kepemimpinan pasukan Republik di seluruh Indonesia pada tanggal 28 Desember’. Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche courant en Vrije Twentsche courant, 03-01-1949: Mengutip laporan dari United Press ‘bahwa [Jenderal] Soedirman berada di Istana Sultan Djokja’. Het Parool, 03-01-1949: ‘Otoritas Republik dan mereka yang tetap di Batavia, telah menunjukkan kepada koresponden Reuter bahwa, menurut pendapat mereka, kekuatan (militer) Republik telah menyebar ke bagian-bagian garis depan yang akan terus menawarkan perlawanan kepada Belanda. Soedirman mantan panglima tertinggi Republik belum dipenjara, seperti yang awalnya dilaporkan secara resmi. Sangat mengejutkan sekarang bahwa dia Soedirman) berada di istana Sultan Djokja. Komando sekarang sudah dialihkan dan berada di tangan komandan di Sumatra, Kolonel Hidajat. Adalah penting untuk mengetahui, berdasarkan apa yang dinyatakan dalam komunike resmi 19 Desember, bahwa Soedirman berada di tangan Belanda, kini kanyataannya tidak. Hanya dua belas hari kemudian otoritas milisi (Republik Indonesia) datang untuk memperbaiki kesalahan’.

Dimana Jenderal Soedirman berada masih belum diketahui. Tentu saja duagaan berada di kraton Djogja masih dugaan. Yang jelas Jenderal Soedirman tidak lagi berada di tangan medis Belanda. Juga sulit menduga jika Jenderal Soedirman sudah bergerak jauh karena kondisinya yang masih sakit. Hal itulah dugaan satu-satunya tempat dimana Jenderal Soedirman berada di kraton Jogjakarta. Sementara di sisi lain di Jogjakarta dilaporkan terdapat sebanyak 169 eks perwira TNI telah melaporkan diri (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-01-1949).

Republik Indonesia tidak hanya secara spasial telah berkurang luasanya yang mana militer Belanda telah menduduki sebagian wilayah Republik tetapi juga para intelektual Indonesia telah banyak yang dibunuh serta para pemimpin pemerintahan dan pemimpin politik Republik Indonesia telah diasingkan. Para TNI tidak hanya banyak yang gugur, tetapi ratusan perwira telah melarikan diri dan menyerahkan diri kepada militer Belanda. Para penghianat bangsa ini telah menambah barisan pada kelompok kaum federalis. Lantas apakah TNI bubar? Ternyata tidak.

Meski banyak anggota TNI yang menyerahkan diri, tetapi moral TNI sudah barang tentu akan meningkat lagi sehubungan dengan adanya pengumuman dari Sumatra. Republik Indonesia tidak hanya telah membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) juga pucuk kamando TNI sudah diambil alih komandan Sumatra Kolonel Hidayat. TNI dalam hal ini kehilangan ratusan perwira di Jawa tetapi komando di Sumatra masih eksis. Anda mungkin juga tidak menyangka dengan berita terbaru bahwa tidak hanya ratusan (eks) perwira TNI yang menyerahkan diri ke Belanda, ternyata juga ada perwira tinggi.

Het nieuws : algemeen dagblad, 05-01-1949 sebagai berikut: ‘Kolonel tentara Repoebliken Soewardi, komandan Akademi Militer Repoeblikein dan Kolonel Lembong, komandan Brigade ke-16, mengajukan diri kepada komandan Belanda di Jogjakarta. Surat kabar Sin Po memberitakan bahwa komandan tentara Republiken, Soedirman, yang sakit, telah menyerahkan komando tersebut kepada Kolonel Hidayat di Sumatra, yang saat ini berada (lingkungan) kraton Sultan Jogjakarta. Empat hari yang lalu, militer Belanda mengumumkan bahwa Soedirman tidak ada di tangan Belanda, seperti yang dilaporkan semula. Wilayah kraton Soeltan Djogjakarta (sejauh ini) tidak ditempati oleh pasukan Belanda’. Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 06-01-1949: ‘Komandan TNI melaporkan diri mereka sendiri. Diantara perwira yang melapor di Djokja adalah mantan komandan mantan TNI Brigade XVI, Letnan Kolonel Lembong dan mantan Kolonel TNI Soewardi, hingga saat ini komandan bekas akademi militer republik di Djokja’.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Letnan Kolonel Lembong Terbunuh oleh KNIL Belanda di Bandoeng Januari 1950

Dalam perkembangan terakhir kantor berita Aneta di Batavia 31 Januari 1949 yang mengutip surat kabar Repoebliken Pedoman telah diumumkan melalui radio bahwa Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra sedang mempersiapkan para pemimpin Repoebliken untuk di Jawa. Untuk komisaris di Jawa berada di bawah kepemimpinan Jenderal Soedirman (lihat  Het nieuws : algemeen dagblad, 31-01-1949). Dalam berita ini tidak disebutkan apakah Jenderal Soedirman masih berada di kraton Jogjakarta. Namun yang jelas dalam perkembangannya Jenderal Soedirman setuju dengan keputusan dari Sumatra tersebut.

Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche courant en Vrije Twentsche courant, 14-03-1949: ‘Soedirman yang melarikan diri ketika Belanda menduduki Djokja menyatakan pada hari Sabtu melalui sumber Republik bahwa ia [Jenderal Soedirman] telah kembali ke pasukannya di hutan dan akan melanjutkan pertempuran. Semua komandan tentara Republik [TNI], kata Soedirman dalam proklamasinya, telah setuju dengan saya untuk mendukung pemerintah darurat (PDRI). ‘Berjuanglah. Kita harus mengintensifkan perjuangan kita’. Segera setelah pendudukan Djokja, pihak Belanda mengumumkan bahwa Jenderal Soedirman sedang sakit. Menambahkan bahwa dia tidak berada di tangan Belanda, tetapi bahwa keberadaannya diketahui. Menurut laporan ia dikatakan berada di kraton Sultan Djokja yang belum dimasuki oleh pasukan Belanda. Setelah serangan gerilya yang kejam di Djokja yang terjadi pada tanggal 1 Maret yang lalu terjadi, pasukan Belanda memasuki bagian kraton, pasukan Belanda memasuki bagian kraton, karena, menurut pihak Belanda, orang mengira mereka telah menembak mereka dari kraton’.

Akhirnya mulai ada inisiatif pertemuan perwakilan Belanda dan perwakiltan Republik Indonesia yang dimulai tanggal 14 April 1949 yang hasilnya dikenal sebagai Perjanjian Roem-Royen yang ditandatangani tanggal 7 Mei 1949 di Djakarta. Selama proses perundingan Roem-Royen pihak Republiken di Jawa telah menyelesaikan konsolidasi.

Het nieuwsblad voor Sumatra, 04-05-1949: ‘Pemerintahan gerilya. Surat kabar Sin Min melaporkan dari pihak Republik bahwa para Republiken telah membentuk pemerintahan sendiri di Jawa yang dibagi atas 3 provinsi yaitu Barat, Tengah dan Barat. Provinsi Jawa Timur yang masing-masing gubernur Ir. Ukar, Mr. Wongsonegoro dan Dr. Murdjani (yang sebelumnya pernah ditangkap oleh Belanda). Pemerintahan ini berfungsi di bawah Pemerintahan Darurat di Sumatra di bawah Mr. Sjafroedin Prawiranegara dan Komando Militer yang telah diambil alih Kolonel Hidajat di Sumatra dari Jenderal Soedirman. Empat divisi TNI saat ini bergerilya di Jawa bekerja sama dengan organisasi tempur yang masih memiliki senjata. Komposisi unit-unit ini adalah sebagai berikut: Divisi I di Jawa Timur dipimpin oleh Kolonel Sungkono, Divisi II di Jawa Tengah di bawah Kolonel Gatot Subroto, Divisi III di Jawa Tengah Selatan di bawah Kol. Bambang Sugeng dan Divisi IV di Jawa Barat di bawah Kolonel Sadikin. Kepala staf umum ditugaskan Jenderal Soedirman dibantu oleh Letnan Jenderal Abdul Haris Nasution, Kolonel TB Simatupang, Kolonel Sukanda. Untuk setiap lokasi yang terpisah mereka saling berhubungan dengan saluran militer. Pertanian diintensifkan di bawah Djawatan Pertanian Repblik untuk menyediakan makanan bagi gerilyawan. Polisi Republik, awalnya di bawah Sumarto, dipimpin oleh Sastrodanukusumo setelah penangkapannya, yang melanjutkan pekerjaannya dari luar kota Djokjakarta’

Satu yang penting dari perjanjian ini implikasinya adalah Republik Indonesia (para Republiken) kembali ke Jogjakarta yang pada gilirannya dilanjutkan dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Satu hal yang menjadi pertanyaan pasca perjanjian Roem-Royen ini adalah belum diketahuinya dimana posisi (gerilya) Jenderal Soedirman.

De vrije pers : ochtendbulletin, 24-05-1949: ‘Dimanakah lokasi Sudirman? Surat kabar Keng Po coba mengetahui dari kalangan Republiken di Batavia bahwa upaya masih dilakukan untuk menghubungi komandan tertinggi TNI Letnan Jenderal Soedirman, yang posisinya dalam Perjanjian Roem-Róyen masih dilakukan. Dari markas besar TNI di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, surat kabar itu mengatakan perjanjian tersebut telah disetujui, dan delegasi Republik juga melakukan upaya keras untuk menghubungi Kolonel Simatoepang yang umumnya dianggap sebagai ahli TNI dan memainkan peran penting dalam komisi gencatan senjata yang mengimplementasikan Perjanjian Renville. Markas besar TNI di Sumatra yang dipimpin oleh Kolonel Hidajat diketahui berdiri di belakang Pemerintahan Darurat Mr. Sjafroedin Prawiranegara’.

Perjanjian Roem-Royen menyebabkan ibu kota RI dikembalikan. Presiden Soekarno, Perdana Menteri Mohamad Hatta dan pejabat tinggi dan tokoh lainnya kembali ke Djogjakarta. Saat inilah Soeltan Djogja sebagai tuan rumah bingung karena tidak ada komandan TNI di Djogjakarta (yang ada hanya komandan KNIL). Untuk mempersiapkan transisi di Djogjakarta, Soetan Djogja mengirim utusan ke berbagai tempat di wilayah Midden Java untuk mencari Kolonel TB Simatoepang, sebab sangat diandalkan Soeltan Djogja. Majoor Jenderal Abdoel Haris Nasoetion terlalu jau di West Java. Akhirnya Kolonel TB Simatoepang ditemukan memimpin pasukan gerilya di Banaran.

Di Djogjakarta Soeltan Djogja merasa lega dengan kehadiran Kolonel TB Simatoepang (Jenderal Soedirman dilaporkan berada di wilayah gerilya di sekitar Kediri dan Malang). Fungsi utama kehadiran Kolonel TB Simatoepang adalah untuk menjaga keamanan di Djogjakarta dalam proses evakuasi pasukan KNIL dari Djogjakarta ke Semarang dan dalam penyambutan Presiden Soekarno yang tengah bersiap-siap ke Djogjakarta dari pengasingan di Parapat (Sumatra Utara).

Setelah pimpinan Republik Indonesia berada di Djogjakarta kembali (Jenderal Soedirman kemudian menyusul tiba di Djogjakarta) lalu diadakan persiapan ke perundingan Konferensi Medja Boendar (KMB) yang akan diadakan di Den Haag. Delegasi RI ke Den Haag dipimpin oleh Perdana Menteri Mohamad Hatta. Hasilnya perjanjian dilakukan dan akhirnya Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.

Saat serah terima pengakuan kedaulatan Indonesia di Amsterdam antara Ratru Belanda dan pimpinan delegasi Indonesia Mohamad Hatta, di Batavia juga dilakuka hal yang sama antara Lovin perwakilan Belanda dengan Soeltan Djogjakarta dan Kolonel TB Simatoepang. Sementara Presiden Ir Soekarno di Djogjakarta wait en see. Di Soekaboei juga terjadi serah terima antara Abdoel Haris Nasoetion dengan komandan KNIL-Belanda.

Setelah serah terima di Djakarta, keesokan harinya Presiden Ir Soekarno berangkat dari Djogjakarta ke Djakarta. Di lapangan terbang Kemajoran Ir Soekarno disambut oleh Soeltan Djogjakarta dan Kolonel TB Simatoepang (mirip seperti saat Soekarno kembali ke Djakarta dari pengasingan di Parapat). Setelah itu Ir Soekarno berpidato dalam rapat akbar di lapangan Ikada Djakarta. Lalu kemudian pada tanggal 2 Januari 1950 Mohamad Hatta dan rombongan tiba di Djakarta dari Belanda yang disambut oleh Soekarno, Soeltan Djogjakarta dan Kolonel TB Simatoepang di lapangan terbang Kemajoran.

Sebelum kedatangan Mohamad Hatta dan rombongan dari Belanda, sudah diberitakan bahwa yang menjadi kepala KASAP adalah Jenderal Soedirman dan wakilnya TB Simatoepang. Sedangkan Abdoel Haris Nasoetian sebagai kepala KASAD dan Soerjadarma sebagai kepala KASAU.

Abdoel Haris Nasoetian di Djakarta mulai mengkonsolidasikan angkatan darat dan melakukan penempatan para personel. Abdoel Haris Nasoetian menempatkan Overste Adolf Gustaaf Lembong di Bandoeng. Sementara itu, dalam fase transisi ini para pasukan KNIL-Belanda masih berada di barak untuk menunggu proses evakuasi ke Belanda. Sejumlah pasukan KNIL di Bandoeng melakukan semacam pemberontakan yang menyebabkan kekacauan. Overste Adolf Gustaaf Lembong termasuk yang tewas di Bandoeng.

De Gooi- en Eemlander : nieuws- en advertentieblad, 24-01-1950: ‘Menurut surat kabar Djakarta pimpinan Mochtar Lubis, Indonesia Raya, sebanyak 59 anggota TNI tewas dalam peristiwa kemarin di Bandoeng, termasuk Overste Lembong, ajudannya Leo Kailela dan Majoor Djokosutikno. Para TNI yang telah terbunuh, mereka ditemukan di jalan tanpa senjata. Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-01-1950: ‘Diantara korban aksi APRA di Bandung yang kami ketahui adalah Overste Lembong dan ajudannya, Leo Kailola. Overste Lembong sebelumnya adalah seorang pejuang gerilya terkenal yang antara lain berperang di pihak Amerika Serikat melawan Jepang di Filipina’. Het nieuwsblad voor Sumatra, 25-01-1950: ‘Menurut pemberitaan di surat kabar Indonesia, anggota TNI dibunuh oleh pasukan Westerling pada hari Senin di Bandung. Korbannya antara lain Overste Lembong dan Majoor Ir. Djoko Sutikno. Menurut laporan tersebut tidak terjadi perkelahian, tetapi 59 anggota TN1 yang tidak bersenjata dibunuh, termasuk di Braga, Tamblong, Javaweg, Merdekaweg dan di Preanger Hotel. Selain itu terdapat tiga anggota TNI mengalami luka berat dan tujuh luka ringan. Dua orang tewas diantara orang sipil, sementara lima orang terluka ringan menurut laporan tersebut’. De Volkskrant, 25-01-1950: ‘Menurut laporan dari pihak militer Indonesia, enam puluh anggota TNI terbunuh, termasuk tiga perwira tinggi Overste Lembong, ajudannya dan Majoor Djokosutikno. Dua orang dari pasukan Westerling dan 25 warga sipil tewas. Jumlah cedera belum diketahui. Juru bicara markas besar tentara Belanda hari ini mengatakan berkat campur tangan Mayor Jenderal Engels, komandan Belanda di Bandung, pasukan Westerling mengevakuasi kota kemarin. Kolonel Simatupang, Kepala Staf Angkatan Bersenjata menyebut serangan terhadap Bandung sebagai pemberontakan di tentara Belanda. Dia juga mengatakan bahwa pihak berwenang Belanda telah diperingatkannya tentang kesulitan ini sebelumnya, tetapi komandan Belanda menjawab bahwa itu bukan kewajibannya untuk bertindak menentangnya. Itulah penyebab semua kesengsaraan ini kata Simatupang’.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar