Laman

Jumat, 21 Agustus 2020

Sejarah Manado (2): Manado Toewa (Oud Manado), Pos VOC Relokasi dari Pulau ke Muara; Ma-na-hasa vis-a-vis Ma-na-dou

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini

Ada Manado Toewa dan ada Manado (saja), ada pula Batavia Lama (Oud Batavia) dan Batavia Baroe (Nieuwe Batavia) dan tentu saja ada Bandoeng (Kolot) dan Bandoeng (Anjar). Pertanyaannya: Mengapa tempat di pulau itu disebut Manado Toewa (Oud Manado) sedangkan tempat di muara sungai Tondano hanya disebut Manado (saja). Seperti kata seorang penyair kuno: ‘Apalah arti sebuah nama’. Namun sejarawan lama menyatakan bahwa semuanya ada permulaan . Lalu bagaimana sejarah permulaan pulau tersebut Manado Toewa.

Pada awalnya nama Minahasa dicatat sebagai Manahasa, demikian juga nama Manado dicatat sebagai Manadou. Lantas apakah ada huibungannya antara Manahasa dan Manado. Tentu saja baik-baik saja hingga ini hari, Namun pertanyaannya adalah hubungannya dalam soal nama. Manahasa dieja menjadi Ma-na-hasa dan Manadou dieja Ma-na-dou. Di pulau (ilha) Celebus (orang Belanda enyebut eilandt Celebes) terdapat sejumlah nama tempat dimulai dari awal Ma, seperti Ma-djene, Ma-moedju, Ma-kale dan banyak lagi di Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara. Konon nama Moboegoe dicatat sebagai Ma-boegoe. Boleh jadi awalan Ma merujuk pada satu kata yang artinya tempat tertentu  sebagai kota, negeri, kampong atau desa. Madjene, Mamoedjoe dan Makale (mungkin Maros) berada di wilayah Toradja. Penduduk Toradja diduga adalah penduduk tertua (asli) di (pulau) Celebus yang boleh jadi sejaman dengan penduuk Batak, Lampong dan penduduk Jawa dan Bali. Lantas apakah penduduk Manahasa adalah migran dari Toradja (yang dibedakan dengan Bougis dan Makassar). Itu satu hal. Hal lain yang lebih penting adalah apakah awalan Ma untuk menujukkan sutau tempat berkaitan dengan Ma-na-hasa (tempat yang dekat atau tempat di daratan-gunung) dan Ma-na-dou (tempat nan jauh, tempat di lautan-pulau). Jika ditarik dari suatu origin (katakanlah Toradja) maka Na-hasa lebih dekat daripada Na-dou. Namun origin Ma-na-dou bukan dari Ma-na-hasa apalagi dari Toradja, tetapi boleh jadi dari wilayah lain di luar pulau sebagai migran yang berlayar dari arah utara. Nama Ma-toewa lain lagi.

Manado Toewa jelas sebuah kota tua. Nama pulau sudah pasti awalnya disebut pulau Manado, berdasarkan nama tempat (kota atau negeri) Manado. Idem dito nama pulau kemudian disebut pulau Manado Toewa. Lantas seperti apa sejarah Manado Toewa. Sekali lagi, seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Manado: Manado Toewa vs Manado Saja

Pada Peta 1665 (peta VOC-Belanda) suatu  pulau diidentifikasi sebagai Oud Manado (Manado Toewa). Adanya keterangan waktu pada naa mengindikasikan bahwa nama pulau tersebut sebelumnya hanya disebut pulau Manado (saja). Hal ini berbeda dengan penyebutan nama pulau Nain-besar dan pulau Nain-ketjil. Toewa, besar dan ketjil mengindikasikan penggunaan bahasa Malejoe sebagai lingua franca di kawasan pulau-pulau tersebut.

Berdasarkan catatan Kasteel Batavia (Dagregister) 15 Februari 1666 Pemerintah VOC-Belanda menempatkan pedagang-pedagangnya di Manado. Berdasarkan Daghregister 1 Juni 1661 perdagangan di Manado bagus. Pada tahun 1665 Pemerintah VOC membangun benteng di Manado (lihat Daghregister 30 Desember 1665). Benteng ini kelak disebut Fort Amsterdam (lihat Peta 1695).

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, Pemerintah VOC telah merelokasi pos perdagangannya dari pulau ke daratan di muara sungai Tondano. Pada Peta 1679 di sisi barat muuara sungai Tondano sudah terbentuk benteng VOC (bendera tricolor) dan di sisi timur sungai diidentifikasi nama tempat (kampong) Manado. Sejak terbentuknya kampong Manado di muara sungai Tondano, diduga nama pulau Manado disebut (pulau) Manado Toewa seperti yang diidentifikasi pada Peta 1665.

Peta 1679 judulnya disebut Kaartje van de Manahassa. Ini mingindikasikan seluruh wilayah Manado dan sekitar sebagai wilayah Manahasa. Dengan kata lain, kampong Manado, Fort Manado dan pulau Manado Toewa berada di wilayah (district) Manahasa. Lantas mengapa kelak bergeser penulisan Manahasa menjadi Minahasa? Itu satu hal. Hal lain yang lebih penting adalah apa hubungan nama Ma-na-hasa dengan nama Ma-na-dou. Penyebutan Manado dan Manadou sama saja hanya soal pelafalan (tidak dengan antara Manahasa dan Minahasa).

Berdasarkan peta-peta terbaru, letak atau posisi kota atau negeri Manado Toewa berada di timur pulau Manado Toewa (menghadap ke Ternate). Pulau ini termasuk yurisdiksi dari kerajaan di district Manahasa (Kerajaan Bolaangmongondow).

Berdasarkan peta-peta Portugis, wilayah Manahasa termasuk wilayah kerajaan Boelon (Roy de Boulon). Kerajaan ini bertetangga dengan kerajaan Bancala Roy di barat dan kerajaan Layo (Roy de Layo) di selatan (dipisahkan oleh teluk-laut. Lebih ke selatan lagi terdapat kerajaan Toraja (Toraja Roy) dan wilayah Bougis. Kerajaan Boulon diduga adalah kerajaan Bolaangmongondow yang mana pasa masa kini Bolaang Mongondow berada di wilayah Minahasa. Sedangkan kerajaan Layo adalah kerajaan Gorontalo.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah Manado Toewa di Era VOC

Bagaimana sejarah (pulau) Manado sebelum namanya menjadi Manado Toewa sangat sulit memperoleh datanya. Untuk memahaminya hanya dapat dipelajari dengan cara retrospektif dari sudut pandang masa kini ke masa lampau. Anggaplah kita memiliki peta tahun 1991 tentang pulau Manado Tua.

Dalam Peta 1991 ada dua tempat disebut Manado Tua, Di pantai timur diidentifikasi sebagai Manado Tua 1 dan yang di pantai selatan diidentifikasi sebagai Manado Tua 2. Katakanlah Manado Tua 1 lebih tua. Kota atau kampong Manado Tua 1 ini di pantai timur menghadap Ternate. Pada era Portugis, Spanyol dan era Belanda (VOC), pusat perdagangan berada di wilayah Maluku. Peta 1991

Sejak Belanda mengakuisi Ternate dari Spanyol maka seluruh wilayah pulau Celebes berada di bawah yurisdisi Belanda-VOC, Gubernur VOC ditempatkan di Ternate. Wilayah Yurisdiksi Gubernur Ternate ini termasuk wilayah Manado (Minahasa). Wilayah Gubenur VOC Makassar hanya terbatas di wilayah selatan dan barat pulau. Wilayah pulau sebelah tenggara berada di bawah Gubernur VOC Amboina. Wilayah Minahasa dan wilayah Gorontalo adalah dua wilayah (kerajaan) yang terjauh dari Gubenur Ternate maupun dari Gubernur Makassar. Dua wilayah ini boleh jadi bersifat remote area: dari sisi administrasi berpusat di Ternate tetapi dari sisi perdagangan menuju Makassar.

Sebagai remote area, wilayah Manado belum berkembang. Perkembangan wilayah baru terlihat setelah penempatan Residen (bawahan Gubernur Ternate) di Manado. Kapan Residen ditempatkan di Manado tidak diketahui secara pasti, Residen Manado sejak tahun 1780 adalah Johannes Boot dan Residen Gorontalo adalah Bernard Sebastian Wenthold sejak 1777 (lihat Naam-boekje 1783).

Meski di wilayah Manado sudah ditempatkan Resident, namun secara ekonomi wilayah tersebut tidak terlalu menguntungkan bagi VOC. Hal ini dapat dibaca pada laporan yang dipublikasikan pada tahun 1780.

Hollands rijkdom, behelzende den oorsprong van den koophandel, en van de magt van dezen staat, 1780: ‘Di Manado, terletak di sudut Celebes, kami juga memiliki pemerintahan, terutama yang berfungsi untuk mengumpulkan pendapatan (rysaldaer), tetapi tidak banyak hubungannya dengan semua keuntungan. Di Macasser, perusahaan (VOC) kembali membentuk Comptoir (pos perdagangan) dan kembali membuat kontrak dengan radja’.

Residen pada era VOC belumlah dianggap sebagai pemimpun wilayah pemerintahan. Hanya saja para pedagang di tempat tertentu diangkat sebagai wakil Pemerintah VOC. Jadi fungsi residen hanya sebatas pembuatan kontrak-kontrak dengan para pemimpin lokal (radja-radja) dalam hubungannya dengan perdagangan. Residen juga bertanggungjawab untuk pembangunan benteng-benteng baru dan pengawasannya.

Kebijakan Pemerintah VOC pada awalnya hanya sebatas perdagangan yang longgar di kota-kota pantai (transaksi perdagangan umum). Sejak tahun 1665 kebijakan Pemerintah VOC bergeser dengan kebijakan yang baru dimana pendudukan dijadikan sebagai subjek yang dalam hal ini para pemimpin lokal atau radja-radja diajak kerjasama untuk penanaman komditi tertentu seperti lada, kopi dan sebagainya. Sehubungan dengan kebijakan baru ini, pada tahun 1665 Pemerintah VOC mulai membangun benteng di Manado. Pembangunan benteng biasanya mengindikasikan bahwa ada militer yang menjaga kawasan ketika para pedagang atau Residen mulai bekerja dengan melakukan pendekatan kerjasama dengan penduduk. Benteng juga pada awalnya menjadi rumah atau kantor bagi Residen.

Jika merujuk pada awal pembangunan benteng di Manado diduga menjadi awal ditempatkannya Residen di Manado. Benteng-benteng VOC di Jawa baru terbatas di sekitar Batavia (seperti benteng Riswijk, benteng Noordwijk, benteng Jacatra, benteng Antjol dan benteng Angke).

Benteng-benteng VOC yang pertama adalah benteng Victoria di Amboina (yang direbut dari Portugis pada tahun 1605). Lalu kemudian VOC merebut benteng Portugis di Coupang. Setelah itu VOC membangun benteng di Banda. Dalam perkembangannya memperkuat hubungan dengan radja-radja di Bali, Lombok dan Soembawa (terutama Bima). Pada tahun 1619 dari benteng Ontong Jawa (Fort Amsterdam) militer VOC melakukan aneksasi di kerajaan Jacatra. Sejak 1619 Pemerintah VOC yang telah membangunan benteng kuat Kasteel Batavia di hilir sungai Tjiliwong (yang menjadi wilayah kerajaan Jacatra). Pada tahun 1628 terjadi serangan dari Mataram ke Kasteel Batavia. Untuk memperkuat diri di sekitar Jawa, Pemerintah VOC membuar perjanjian kerjasama dengan radja Bali pada tahun 1633. Pemerintah VOC kemudian memindahkan Residennya di Sombaopoe (Makassar) pada tahun 1640an ke Bima. Bersamaan dengan pembangunan benteng di Manado tahun 1665, Pemerintah VOC mengirim ekspedisi militer ke pantai barat Sumatra untuk mengusir Atjeh (lalu membanguna benteng di Padang). Lalu pada tahun 1667 Pemerinta VOC menyerang kota Sombaopoe (Kerajaan Gowa). Penempatan Residen dan pembangunan benteng di Manado diduga terkait dengan penaklukan kerajaan Gowa (Makassar).

Dengan ditaklukkannya kerajaan terkuat Kerajaan Gowa pada tahun 1669 diduga perkembangan perdagangan di Manado semakin meningkat. Hal ini karena seluruh Hindia bagian timur (Maluku dan Celebes) sudah berada di bawah kekuasaan Pemerintah VOC. Ini berarti bahwa para pedagang-pedagang VOC semakin leluasa kemana saja untuk menjalin hubungan kerjasama (kontrak) dengan para pemimpin lokal.

Setelah Pemerintah VOC semakin menguat di luar Jawa, Pemerintah VOC mulai melakukan perhitungan dengan kerajaan Mataram yang pernah menyerang Batavia pada tahun 1628. Pemerintas VOC membangun benteng pertama di Tegal (Fort Missier). Dengan kekuatan militer VOC yang semakin menguat (didatangkan dari Belanda) juga dukungan pasukan pribumi seperti dari Maluku, Bali, Melajoe dan Bugis dan Makassar maka Pemerintah VOC sudah siap berperang dengan kerajaan Mataram. Penaklukan pertama setelah pebangunan benteng Missier adalah menaklukkan kerajaan Demak yang kemudian pemerintah VOC memindahkan benteng ke Semarang. Pemerintah VOC kemudian membuat perjanjian dengan kerajaan Mataram yang kemudian Peerintah VOC membangun benteng di Soeracarta. Lalu kemudian dilakukan penguasaan di Soerabaja. Pada tahun 1682 Pemerintah VOC mulai tegang (kembali) dengan kesultanan Banten. Perjanjian dengan kerajaan Mataram diantaranya untuk melepaskan wilayah Soenda yang kemudian dikelola sendiri oleh Pemerintah VOC. Pada tahun 1687 Pemerintah VOC mengirim ekspedisi ke wilayah hulu sungai Tjiliwong.

Sehubungan dengan kebijakan menjadikan penduduk sebagai subjek, lambat laun perharian Pemerintah VOC semakin intens di Jawa. Meski demikian, perdagangan di luar Jawa tetap dijaga kesinambungannya termasuk dengan Maluku, Celebes (termasuk Manado) dan pantai barat Sumatra. Lalu hubungan VOC diperluas ke Palembang dan Siak.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar