Laman

Selasa, 10 November 2020

Sejarah Kalimantan (69): Sejarah Asal Usul Kota Banjarmasin di Muara Sungai Tatas; Bangun Kanal Bangun Kota (Area Eropa)

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Selatan di blog ini Klik Disini

Bagimana sejarah asal usul Kota Banjarmasin, sudah banyak ditulis. Tentu saja belum cukup sejauh fakta dan data baru terus ditemukan. Seperti halnya, suatu kota tumbuh dan berkembang terus menerus, maka penulisan narasi sejarah kota itu sendiri akan terus terjadi. Sejarah Kota Banjarmasin sebagai bagian dari Sejarah Menjadi Indonesia, penulisan narasi sejarah kota Banjarmasin haruslah baik dan benar. Karena, narasi sejarah adalah rekam jejak kota itu sendiri yang akan diwariskan,

Dalam beberapa artikel dalam serial artikel Sejarah Kalimantan Selatan telah disinggung sedikit banyak tentang sejarah (kota) Bandjarmasin. Pada artikel ini difokuskan pada aspek teknis terbentuknya kota sebagai cikal bakal Kota Banjarmasin yang sekarang. Artikel ini juga dapat disandingkan dengan sejarh tiga kota yang menjadi ibu kota provinsi di pulau Kalimanta, yakni: Pontianak (provinsi Kalimantan Barat), Samarinda (provinsi Kalimantan Timur) dan Palangkaraya (provinsi Kalimantan Tengah). Untuk sejarah ibu kota provinsi Kalimantan Utara ada baiknya dilakukan oleh pegiat sejarah di Tanjung Selor atau kota-kota di provinsi Kalimantan Utara.

Lantas dari mana dimulai sejarah Kota Banjarmasin? Tidak lagi dimulai dari asal-usul nama Banjarmasin sebagai sebuah kerajaan (kesultanan), tetapi dapat dimulai dari titik mana (origin) Kota Banjarmasin yang sekarang bermula. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Banjarmasin: Benteng Schans van Thuijll dan Kween

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perkembangan Lebih Lanjut Kota Banjarmasin

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar