Laman

Kamis, 04 Februari 2021

Sejarah Kupang (13): Sejarah Pulau Sabu [Sawu], Antara Pulau Rote - Pulau Sumba; Kini Nama Kabupaten Sabu Raijua (Dana)

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini

Artikel ini tidak berbicara tentang bupati terpilih Kabupaten Sabu Raijua yang identitas kewarganegaraanya diragukan, tetapi ingin menyelidiki untuk memastikan sejarah Pulau Sabu karena terkesan simpang siur. Lantas mengapa narasi sejarah Pulau Sabu menjadi penting? Bukan karena nama Orient P Riwu telah menyita perhatian publik tetapi karena nama Pulau Sabu yang sejak dulu dikenal kini menjadi (dijadikan) nama kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur: Kabupaten Sabu Raijua.

Pulau Sabu adalah pulau di sebelah barat Pulau Rote yang masuk wilayah kabupaten Kupang (kota Kupang di Pulau Timor). Seperti halnya Pulau Rote yang dibentuk menjadi kabupaten baru (Kabupaten Rote Ndao; gabungan naa pulau Rote dan Ndao), pada tahun 2008 Pulau Sabu dipisahkan dari kabupaten Kupang dengan membentuk klabupaten baru: Kabupaten Sabu Raijua (gabungan nama Pulau Sabu dan Pulau Raijua; tapi tidak menyertakan nama Pulau Dana). Ibu kota Kabupaten Sabu Raijua ditetapkan di Menia (pantai utara Pulau Sabu).

Bagaimana sejarah Pulau Sabu? Tentu saja jangan pula lupa nama (pulau) Raijua dan nama (pulau) Dana. Tiga pulau inilah yang mem(di)bentuk kabupaten Sabu Raijua. Akan tetapi dalam sejarahnya nama (pulau) Sabu harus didahulukan karena namanya sudah dikenal lebih awal di masa lampau. Okelah kalu begitu. Lalu bagaimana sejarah Pulau Sabu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk ntuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Pulau Sabu: Bukan Katolik Tapi Protestan

Nama Pulau Rote sudah lama diidentifikasi di dala peta. Boleh jadi karena letaknya yang begitu dekat dengan Coupang (pos perdagangan VOC-Belanda). Ketika nama Pulau Sumba belum diidentifikasi, nama Pulau Sabu sudah diidentifikasi dengan nama Pulau Sauw. Pulau Sabu sendiri berada di antara Pulau Rote dan Pulau Sumba. Nama Pulau Sabu paling tidak sudah diidentifikasi pada Peta 1665.

Pada era Portugis, hanya empat nama yang diidentifikasi pada peta: Pulau Solor, Pulau Timor, tanjung Cabo das Flores dan nama tempat Batoetara (Pulau Komba). Sejak 1613 Belanda mengusir Portugis dari Solor dan Coupang yang kemudian orang-orang Portugis bergeser ke timur Pulau Timor (Timor Leste yang sekarang). Sejak itulah nama-nama pulau lainnya diidentifikasi. Seperti disebut di atas, nama pulau Sabu diidentifikasi pada Peta 1665. Nama Pulau Sumba sendiri hanya diidentifikasi sebagai Pulau Sandelbosch (Tjendana). Nama Pulau Sabu tempo doeloe pada peta-peta selanjutnya dicatat dan dieja dengan beberapa versi seperti Savoe; Soewa, Sauvo, Sauw dan Souwa.

Dari nama-nama yang diidentifikasi dan dieja pada dasarnya nama pulau mengerucut pada nama Sabu (yang sekarang). Nama pulau Sabu diduga merujuk pada nama-nama pulau yang terbentuk di sekitar (kepulauan Soenda Ketjil). Itu satu hal, Dari mana nama-nama itu berasal-usul itu hal lain lagi. Nama pulau Solor diduga merujuk pada nama Selayar, nama Timor dan Batoetara merujuk pada nama Melayu arah mata angin (timur) dan batu, dan nama pulau Flores (bahasa Portugis cabo das florest).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Keutamaan Pulau Sabu: Antara Pulau Rote dan Pulau Sumba

Satu deskripsi tentang wilayah (Pemerintah Hindia) Belanda di pulau Timor dan sekitar dimuat pada majalah Tijdschrift voor Neerland's Indie 1838. Deskripsi ini mencakup nama-nama kerajaan di wilayah Belanda di Pulau Timor dan pulau-pulau lainnya termasuk Pulau Sabu (Savoe), sebagai berikut:

Savoe. Pulau ini terletak sekitar 36 mil Inggris di sebelah barat [pulau] Rottie dan mencakup area 184 mil persegi memiliki populasi sekitar 28.000 jiwa. Ini dibagi menjadi lima regentschappen (bupati), empat diantaranya berada di Savoe dan satu didekatnya pulau Radjoea (baca: Raijua). Pulau ini memasok semua produk yang ditemukan di pulau Rottte; tetapi penduduknya lebih bermoral (memiliki adat) lebih dari Rottineezen (orang Rote) dan memiliki kuda dengan kualitas yang lebih baik. Para kepala pulau ini lebih berani mengajukan kepentingan mereka daripada kepentingan Timor dan Rottie dan tampaknya sangat terikat dengan Pemerintah (Hindia) Belanda.

Gambaran di atas mengindikasikan bahwa penduduk Pulau Sabu khususnya memiliki potensi produksi yang baik dan memiliki kendaraan (kuda) yang lebih baik. Penduduk pulau Sabu tampaknya lebih independen dan memiliki ikatan kerjasama yang baik dengan orang-orang Belanda (relatif terhadap Portugis?). Satu hal penting lainnya dari penduduk Pulau Sabu memiliki adat (istiadat) yang baik.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar