Laman

Senin, 10 Mei 2021

Sejarah Padang Sidempuan (15): Para Pionir Organisasi Kebangsaan Indonesia Asal Kota Padang Sidempuan; Kecerdasan-Keberanian

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini 

Mungkin bayak yang tidak mengetahui, pionir dan pendiri organisasi kebangsaan (Indonesia) hampir semuanya berasal dari kota Padang Sidempoean. Seperti kata Dja Endar Moeda bahwa pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, karena sama-sama mencerdaskan bangsa. Pada kenyataannya Dja Endar Moeda yang secara sadar mengolah kemampuan bangsanya sendiri dengan menyatukannya dalam suatu organisasi untuk mempercepat terbentuknya persatua bangsa dan kesatuan secara nasional. Dja Endar Moeda mendirikan dan sekaligus direktur pertama oragnisasi kebangsaan (Indonesia) pertama pada tahun 1900.

Dja Endar Moeda, tidak mendirikan organisasi kebangsaan di kampongnya di Padang Sidempuan, tetapi di kota Padang. Saat itu kota Padang adalah ibu kota Provinsi Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust province), yang terdiri dari tiga residentie: Padangsche Benelanden (ibu kota di Padang), residentie Padangsche Bovenlanden (ibu kota di Fort de Kock) dan residentie Tapanoeli (ibu kota di Sibolga). Padang Sidempoean sendiri adalah ibu kota afdeeling (Angkola en Mandailing) residenti Tapanoeli. Jadi, Dja Endar Moeda mendirikan organisasi kebangsaan di ibu kota provinsinya. Pada tahun 1908, Soetan Casajangan asal Padang Sidempoean tidak mendirikan organisasi kebangsaan (Indonesia) di kota Padang (ibu kota provinsi) dan juga bukan di Batavia (ibu kota negara Hindia Belanda) tetapi di Leiden (Belanda). Organisasi kebangsan Indonesia di negeri orang itu diberi nama Indische Vereeniging (Perhimpoenan Indonesia). Tentu saja masih ada tokoh muda pendiri organisasi kebangsaan (yang masuk dalam daftar pionir) antara lain: Sorip Tagor, Abdoel Rasjid dan Soetan Goenoeng Moelia. Orang-orang asal Padang Sidempuan itu, sejak tempo doelo, selalu bersifat nasionalis.

Lantas bagaimana sejarah para pionir Organisasi Kebangsaan Indonesia asal Padang Sidempuan? Seperti disebut di atas, dua yang pertama Dja Endar Moeda dan Soetan Casajangan. Lalu apakah ada kaitan antara satu sama lain? Tentu saja ada, tidak secara langsung, tetapi kebetulan (secara random) sama-sama kelahiran Padang Sidempoean. Bagaimana bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Organisasi Kebangsaan Pertama: Bukan Boedi Oetomo, Tapi Medan Perdamaian

Saat para pemimpin pribumi di berbagai tempat di Indonesia (baca: Hindia Belanda) berpartisipasi aktif di dalam societeit (klub atau organisasi sosial orang-orang Eropa-Belanda), Dja Endar Moeda di kota Padang dengan sadar mulai membentuk orgnasasi sosial dari kalangan bangsa sendiri untuk mewujudkan terbentuknya persatua dan kesatuan diantara orang-orang pribumi. Gagasan Dja Endar Moeda ini terwujud pada tahun 1900 dengan didirikannya organisasi kebangsaan pribumi (baca: Indonesia) dengan nama Medan Perdamaian. Dja Endar Moeda secara aklamasi diangkat sebagai presidennya. Organisasi kebangsaan Indonesia pertama sah berdiri. Motto organisasi ini ‘Oentoek Sagala Banga’ atau untuk semua suku.

Dja Endar Moeda, kelahiran Padang Sidempoean menyelesaikan pendidikan di sekoah guru (kweekschool) Padang Sidempoean tahun 1884. Dja Endar Moeda terbilang salah satu murid terbaik dari guru Charles Adriaan van Ophuijsen. Dja Endar Moeda memulai karir sebagai guru di Batahan, kemudian dipindahkan ke Air Bangis dan lalu dipindahkan lagi ke Singkil. Di kota ini Daja Endar Moeda meminta pensiun dini dan lalu berangkat menunaikan haji ke Mekkah. Sepulang dari Mekkah, Dja Endar Moeda tidak kembali ke kampongnya di Padang Sidempoean tetapi memilih tinggal di kota Padang (iibu kota provinsi). Pada tahun 1895 Dja Endar Moeda mendirikan sekolah di kota Padang (karena melihat penduduk usia sekolah banyak yang tidak tertampung di sekolah negeri. Dja Endar Moeda menulis buku pelajarannya sendiri dan di cetak di percetakan Cina di kota Padang. Dja Endar Moeda, selain menulis buku pelajaran sekolah, juga menulis buku-buku umum dan roman (novel). Pada tahun 1897 salah satu novelnya ditawarkan kepada percatakan yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Padang, Pertja Barat, tetapi tidak hanya novelnya yang diterima layak cetak, juga Dja Endar Moeda ditawarkan posisi sebagai kepala redaktur di Pertja Barat. Gayung bersambut. Pada tahun 1900 diketahui Dja Endar Moeda telah mengakuisisi surat kabar Pertja Barat sekaligus percetakannya. Dja Endar Moeda tidak hanya editor surat kabar pribumi pertama, juga pemilik surat kabar dan percetakan pertama. Modal inilah yang kemudian berinisiatif mendirikan organisasi kebangsaan (pribumi) di kota Padang.

Sebagai organisasi kebangsaan dengan motto Oentoek Sagala Bangsa, Dja Endar Moda  pada tahun 1900 menerbitkan dua media lagi, setelah surat kabar Pertja Barat yakni surat kabar berbahasa Melayu Tapian Na Oeli untuk tiras di Tapanoeli dan majalah dua mingguan Insulinde yang memberitakan berita-berita pembangunan dan artikel-artikel pertanian dan lainnya. Surat kabar Perta Barat dengan motto Oentoek Sagala Banga, motto yang sama dengan organisasi kebangsaan Medan Perdamaian.

Dalam tempo dua tahun organisi kebangsaan Medan Perdamaian yang berpusat di Kota Padang sudah memiliki sekitar 500 anggota di provinsi Sumatra’s Westkust. Pada tahun 1902 Dja Endar Moeda atas nama pimpinan organisasi menyumbang sebanyak f14.000 untuk membantu peningkatakan pendidikan di kota Semarang (Midden Java). Sumbangan tersebut diberikan langsung Dja Endar Moeda melalui direktur pendidikan Pantai Barat Sumatra di Padang, Charles Adriaan van Ophuijsen (mantan guru dan direktur Kweekschool Padang Sidempoenan. Medna Perdamanaian dalam hal ini tidak hanya memiliki otto Oentoek Sagala Bangsa juga benar-benar ingin membantu pendidikan anak bangsa meski jauh di Jawa.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Daftar Para Pionir Indonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar