Laman

Minggu, 13 Juni 2021

Sejarah Kupang (38): Sejarah Benteng di Nusa Tenggara; Benteng di Solor dan Fort Concordia, Benteng di Bali dan Sumbawa

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini

Setelah berhasil merebut benteng Victoria di Amboina tahun 1605, pelaut-pelaut Belanda mengincar benteng Portugis di Solor dan di Coepang. Mengapa? Pelaut-pelaut Belanda ingin meratakan jalan dari Afrika Selatan menuju Amboina di Maluku. Hal ini setelah pelaut-pelaut Belanda menemukan rute navigasi pelayaran yang paling aman melalui pulau pulau St Paul dan pulau Kalapa di Lautan Hindia. Tentu saja tidak karena itu saja, tetapi karena pelaut-pelaut Belanda telah memiliki hubungan yang era dengan raja-raja Bali. Merebut benteng Portugis di Solor dan Coepang menjadi rintangan terakhir yang harus disingkirkan.

Pelaut-pelaut Belanda dengan bermodal peta-peta Portugis akhirnya menemukan jalan ke Hindia Timur di pulau Enggani dan tiba di (pelabuhan( Banten pada bulan Juni 1596. Inilah awal kehadiran Belanda I nusantara. Namun kehadiran pelaut-pelaut Belanda mendapat rintangan karena begitu kuatnya penetrasi perdagangan  Portugis di kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa seperti Banten, Jacatra dan Tjirebun (tentu saja Demak). Saat pelaut-pelaut Belanda di sekitar Lasem, orang-orang Blambangan meminta bantuan kepada para pelaut-pelaut Belanda karena (kerajaan) Mataram yang (sudah) Islam mengancam mereka. Pelaut-pelaut Belanda cepat paham dan menolak dengan halus sebagaimana dapat dibaca dalam laporan Cornelis de Houtman 1598. Pelaut-pelaut Belanda meneruskan navigasi ke Maluku tetapi salah satu kapal mereka terkendalam di laut Bali sehingga harus memutar haluan di selat Lombok dan mengitari pulau Lobom dan berlabuih di pantai timur Bali (kini Padang Bai). Mereka diterima raja-raja Bali. Dari pulau inilah pelaut-pelaut Belanda dengan sisa kapal dua buah pulang ke Belanda melalui selatan Jawa terus ke Afrika Selatan.

Lantas bagaimana sejarah benteng di Kepulauan Nusa Tenggara? Seperti disebut di atas terdapat benteng Portugis di Solor dan Timor. Lantas mengapa begitu banyak benteng di (pulau) Bali sementara aktvitas asing (Eropa) sangat minim di pulau? Seperti halnya di Bali begitu banyak benteng yang dibangun orang Bali, lalu mengapa orang Sumbawa di (pulau) Sumbawa dalam perkembangannya membangun benteng? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Benteng di Solor dan  Fort Concordia

Tunggu deskripsi lengkapnya

Benteng di Bali dan Benteng di Sumbawa

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar