Laman

Senin, 21 November 2022

Sejarah Bengkulu (27): Jalan Raya Wilayah Bengkulu; Ruas Bengkulu-Tebingtinggi dan Jalan Antar Kota di Sepanjang Pesisir Pantai


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bengkulu dalam blog ini Klik Disini  

Pada masa ini di provinsi Bengkulu, antara satu kota dengan kota lain terhubung dengan jalan raya. Jaringan jalan yang melintasi di seluruh provinsi di pantai barat Sumatra kini menjadi domain dalam pencarian lokasi geografis (shareloc) dan jalan raya menjadi pananda navigasi visual (googleearth). Semua itu di masa lampau bermula dari pelayaran laut (sepanjang wilayah pesisir) hingga munculnnya rintisan jalan darat, yang terus berkembang hingga zaman Now,


Seperti halnya sejarah pelabuhan, sejarh jalan raya di pulau provinsi Bengkulu tidak hanya tidak terinformasikan tetapi juga tidak terperhatikan. Sejarah perjalanan di provinsi Bengkulu, hanya dikaitkan dengan sejarah kota-kota pelabuhan yang tidak terhubung satu sama lain, karena yang diperhatikan adalah lalu lintas pelayaran di antar kota di sepanjang pantai melalui laut (yang berbeda dengan di pantai timur Sumatra seperti di wilayah provinsi Sumatra Selatan dan provinsi Jambi yang sekarang yang dihubungkan dengan lalu lintas sungai). Oleh karena itulah, sejarah jaringan jalan di provinsi Bengkulu terlupakan dan terabaikan. Fakta bahwa masa kini, kita di provinsi Bengkulu sehari-hari menjalani kehidupan melalui jalan-jalan raya. Jalan raya kini menjadi urat nadi pergerakan barang dan orang di wilayah Bengkulu.

Lantas bagaimana sejarah jalan raya di wilayah Bengkulu? Seperti disebut di atas, sejarah jalan raya tidak terinformasikan dalam narasi sejarah Bengkulu. Fakta kini pergerakan barang dan orang di Bengkulu sangat tergantung jalan raya. Namun semua itu bermula dari jalan raya antara Bengkoelen-Tebingtinggi dan jalan darat antar kota pantai sepanjang wilayah pesisir. Lalu bagaimana sejarah jalan raya di wilayah Bengkulu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Jalan Raya di Wilayah Bengkulu; Bengkoelen-Tebingtinggi dan Jalan Darat Antar Kota Sepanjang Pesisir Pantai

Sejarah pembangunan dan pengembangan jalan di wilayah Bengkoelen, tidak berdiri sendiri, tetapi, jalan-jalan dibangun mempertimbangkan dua sisi: sisi eksternal dihubungkan dengan pembangunan jalan di wilayah lain secara regional, terutama di residentie Palembang dan residentie Lampoeng (demikian sebaliknya). Sementara sisi internal dengan mengacu pada pembangunan dan pengembangan jalan regional untuk meningkatkan pengembangan wilayah di didtrict-district di wilayah (residentie) Bengkoelen. Semua itu bermula pada awal cabang Pemerintah Hindia Belanda.


Selama era Inggris di wilayah Bengkoelen tampaknya tidak ada jalan yang dibangun. Orang-orang Inggris hanya memanfaatkan jalan tradisional yang diduga sudah eksis sejak zaman kuno. Ketika Raffles melakukan ekspedisi pada tahun 1819 ke wilayah pedalaman dari Bengkoelen ke wilayah Redjang (residentie Palembang) masih menggunakan jalan setapak yang hanya bisa menggunakan kendaraan kuda. Demikian juga ketika Raffles melakukan ekspedisi ke wilayah danau Ranau dari Kroei masih menggunakan jalan setapak.

Pasca berakhirnya Inggris (Traktat London 1824), sejak pembentukan cabang Pemerintah Hindia Belanda di wilayah Bengkoelen pada tahun 1826 mulai banyak dilakukan ekspedisi-ekspedisi ke wilayah pedalaman di regional (residentie) Bengkoelen. Salah satu la[poran perjalanan yang dilakukan pada tahun 1833 (yang dimuat dalam Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1842) disebutkan perjalanan darat dengan jalan kaki dari Bengkoeloe ke (kota) Lais dalam satu hari perjalanan, ke (kota) Ketaun selama dua hari perjalanan dan ke (kota) Seblat selama tiga hari. Demikian juga ekspedisi yang sama yang dilakukan ke wilayah pantai selatan Bengkoelen dengan menggunakan jalan kaki. Ini mengindikasikan bahwa jalan di sepanjang belakang pantai Bengkoeloe belum terbentuk jalan.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bengkoelen-Tebingtinggi dan Jalan Darat Antar Kota Sepanjang Pesisir Pantai: Mengapa Penting Jalan Raya ke Pedalaman?

Pada awal permulaan pembangunan jalan pada era Pemerintah Hindia Belanda. Status jalan dibagi ke dalam beberapa kategori: Groote rijweg (jalan raya); Karrenweg (jalan gerobak/pedati); Paardenpad (jalan kuda); Voetpad (jalan kaki); dan Boschpad (jalan hutan). Ini tentu berbeda dengan era masa ini kelas jalan dibagi dalam beberapa kategori seperti jalan nasional, jalan provinsi dan seterusnya atau dengan terminology jalan utama, jalan arteri dan sebagainya. Namun dalam hal penggunaan kurang lebih serupa. Jalan raya (groote rijweg) pertama di wilayah Bengkulu adalah jalan rijweg (yang dapat dilalui oleh kereta kuda) menuju Bengkulu dari wilayah Residentie Palembang (Tebingtinggi) melalui Kapahiang dan dari Kroei ke Liwa.


Dalam peta ekspedisi PJ Veth (1876) sudah ada jalan gerobak di wilayah pedalaman Bengkoeloe. Jalan tersebut dari Kapahiang ke ibu kota Afdeeling Lebong di Tapoes melalui Tjoeroep hingga ke arah utara di Moeara Aman dan Tanggoeng. Dalam Peta 1880 jalan dari Bengkoelo hingga Tebingtinggi melalui Kapahian sudah ditingkatkan menjadi jalan kereta kuda. Ruas jalan kereta kuda yang sudah dibangun juga dari Bengkoelen ke kota Loeboek Lintang (kemudian disebut Pasar Tais) terus ke pantai di kampong Seloema. Sementara itu jalan akses dari Kapahiang hingga Moeara Aman masih tetap seperti semula. Disamping itu sudah ada sejumlah ruas jalan yang dibangun untuk kelas gerobak, seperti dari Loeboek Lintan ke Tallo; dari Taba Penandjoeng (antara Bengkoeloe dan Kapahiang) ke wilayah pertambangan sebelah utara di Pematang Tiga. Juga dari Bengkoeloe hingga ke Muko-Muko jalan gerobak di belakang pantai melalui beberapa kota seperti Kerkap, Lais, Ketaun, Seblat dan Ipoeh. Juga dari Bengkoeloe hingga Seloema melalui Selebar. Juga jalan dari Kroei ke Bintoehan telah terhubung dengan kelas jalan geobak yang lebih baik. Kota Manna masih terisolasi diantara kota pantai tetapi telah memiliki jalan gerobak dari Manna ke pedalaman hinggan ke Pagar Alam (Res. Palembang). Peta 1880

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar