Laman

Jumat, 04 November 2022

Sejarah Lampung (35): Krui di Pantai Barat Sumatra;Kabupaten Lampung Barat di Liwa Dimekarkan Kabupaten Pesisir Barat di Krui


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lampung di dalam blog ini Klik Disini  

Kota Krui pada dasarnya bukanlah kota terpencil di wilayah Lampung, tetapi kota yang terbilang ramai di pantai barat Sumatra. Sebelum Krui menjadi bagian wilayah (provinsi) Lampung, Krui adalah bagian dari residentie Bengkoelen di pantai barat Sumatra. Posisi Krui awalnya dilihat dari pantai barat Sumatra (Melayu), namun kemudian dilihat dari wilayah pedalaman Lampong (orang Lampung). Bagaimana dengan Krui, yang sebelumnya masuk kabupaten Lampung Barat, kini menjadi kabupaten baru Pesisir Barat?


Krui adalah ibu kota Kabupaten Pesisir Barat, dimana sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Lampung Barat. Namun Jauh sebelum bergabung ke provinsi Lampung, Krui dahulu administratifnya Palembang, Sumatra Selatan, yaitu kresidenan Bengkulu. Krui berada di daerah pesisir Samudra Hindia. Krui terdiri dari 11 kecamatan, yaitu Pesisir Tengah, Pesisir Utara, Pesisir Selatan, Lemong, Pulau Pisang, Way Krui, Krui Selatan, Karya Penggawa, Ngambur, Ngaras dan Kecamatan Bengkunat. Sejarah Krui sudah ada sejak zaman dahulu ketika masih masuk bagian administratif Sumatra Selatan, Krui masuk kedalam Kresidenan Bengkulu dibawah naungan Kesultanan Palembang Darussalam. Hingga saat ini dunia internasional tetap mengenal Krui dengan istilah "Krui South Sumatra" khsususnya dikalangan turis mancanegara. Sumber pendapatan masyarakat kebanyakan dari berdagang, nelayan dan bertani. Mayoritas penduduk asli Krui adalah keturunan asli Orang Melayu Palembang sesuai dengan sejarah masa lampau. Sebelum lahirnya Kabupaten Pesisir Barat berdasarkan Undang-Undang tersebut diatas, Kabupaten Pesisir Barat masih termasuk wilayah pemerintahan Kabupaten Lampung Barat yang ibukota kabupatennya di Liwa (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Krui di pantai barat Sumatra? Seperti disebut di atas, Krui adalah nama yang sudah lama eksis, sejak masih menjadi bagian dari wilayah Bengkulu di pantai barat Sumatra pada era Pemerintah Hindia Belanda. Pada masa Republik Indonesia menjadi bagian provinsi Lampung di Kabupaten Lampung Barat ibu kota di Liwa. Pada masa ini kabupaten dimekarkan dengan membentiuk Kabupaten Pesisir Barat dengan ibu kota di Krui. Lalu bagaimana sejarah Krui di pantai barat Sumatra? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Krui di Pantai Barat Sumatra; Kabupaten Lampung Barat di Liwa Dimekarkan Kabupaten Pesisir Barat di Krui

Nama Krui diduga berasal dari nama Koeroeng Raja (lihat Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1857). Disebutkan dari titik inilah menuju ke pedalaman di ketinggian melalui sungai Soengi Loewah (diduga kuat maksudnya sungai Liwa) hingga menuju Ranoe (danau Ranau). Dari nama Koeroeng Raja, mirip nama yang ditemukan di wilayah Atjeh, dimana Krueng adalah sungai, yang berarti sungai Raja atau Radja.


Nama Krui atau yang mirip dengannya tidak ditemukan dalam peta-peta lama (Portugis dan VOC/Belanda). Boleh jadi Namanya kalah popular jika dibandingkan dengan nama Dampin (kini Kalianda?) dan nama Silebar (dekat Bengkoeloe). Dalam peta-peta awal Pemerintah Hindia Belanda juga belum teridentifikasi nama Kroei. Namun yang jelas, satu-satunya akses dari pantai barat Sumatra ke pegunungan di danau Ranau hanya melalui Kroei. Namun secara geografis wilayah Kroei sendiri diduga wilayah yang sudah dikenal sejak zaman kuno (peradaban penduduk asli Lampung di seputar danau), namun namanya bukan Kroei tetapi nama lain.

Besar dugaan nama sungai Koeroeng Raja berubah menjadi sungai Kroe. Pada tahun 1780 sejumlah pemukiman baru muncul dari orang-orang Benkulen, Jawa, Padang dan beberapa orang Arab mengembangkan Pasar Melia (diduga di kampong Goenoeng Kemala) di sungai Kroe. Juga pernah ada pemukim Inggris di Croe.


Kapan nama Koeroeng Raja menjadi Kroe tidak diketehui secara pasti. Namun orang-orang Inggris (di Bengkoelen) sejak lama mengidentifikasi dengan ejaan Croe. Sementara orang Lampong dari pedalaman menyebutnya dengan nama Kegroey (lihat Zuid-Sumatra, 1930). Besar dugaan nama sebutan oleh orang Lampoeng yang kemudian diidentifikasi sebagai nama terakhir, Krui (hingga masa ini). Nama kampong asal di sekitar adalah kampong dari marga Pedada. 

Pada awal pembentukan cabang pemerintahan di pantai barat Sumatra, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Kroei sebagai pusat. Pada tahun 1850 sebuah rumah beton dibangun untuk seorang pejabat pemerintah ditempat yang baru arah selatan di Kroei. Pada tahun 1865 di Kroei diangkat seorang datuk oleh pemerintah (sudah memiliki delapan dusun) yang diakui sebagai kedudukannya setara dengan marga (pesirah). Sejak bencana gunung Krakatau Meletus pada tahun 1883 banyak penduduk dari Jawa asal Banten bermukim di Kroei. Lambat laun Kroei terutama di area baru (yang dimana pemeirntah berinisiatif) semakin berkembang. Pada tahun 1890 Cotroleur Dr DW Horst mendirikan gudang perdagangan di Kroei, namun tidak berhasil direspon pasar.

 

Pada tahun 1917 Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kroei sebagai ibu kota onderdistrict Pesisir yang merupakan wilayah marga Kroei (Besluit Resident Bengkoelen tanggal 28 Augustus 1917 No 212). 

Kroei dalam hal ini dapat dikatakan sebagai wilayah baru yang banyak pendatang, wilayah pertumbuhan baru. Para pendatang bercampur dengan penduduk asli Lampong dari belakang pantai. Dalam perkembangannya muncul pendatang Cina yang juga bercampur dengan penduduk asli Lampong. Oleh karenanya hukum adat yang digunakan di Kroe hukum adat Bengkoelen dan hukum adat Lampong. Komposisi penduduk di pasar (kota) Kroei pada tahun 1920an
sebanyak 9 orang Eropa/Belanda, 198 orang Cina dan orang Timur asing lainnya, dan 2.641 orang pribumi, yang lebih dari 2.300 orang penduduk Lampong atau pendatang yang sudah sepenuhnya menjadi orang Lampong.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kabupaten Lampung Barat di Liwa Dimekarkan Kabupaten Pesisir Barat di Krui: Krui Dulu di Bengkulu, Kini di Lampung

Seperti dideskripsikan di atas, wilayah Kroei yang awalnya pendatang, yang pertama orang Begkoeloe yang kemudian disusul para pendatang lainnya dari berbagai tempat, kemudian di wilayah Kroei populasi penduduk Lampong dari pedalaman semakin dominan. Kroei menjadi pintu masuk ke wilayah Liwa hingga jauh ke pegunungan di danau Ranau. Di wilayah Liwa di Pasar Liwa sendiri, seperti halnya di pasar Kroei ada perpaduan penduduk antara orang Lampoeng dengan Palembang, Kommering, Padang (Melayu), Cina, dll, namun kepemimpinan di Pasar Liwa dipeganng oleh pangeran Liwa (bandingkan di pasar Kroei dipimpin oleh seorang datuk dengan wakilnya dari marga Lampung).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar