Laman

Minggu, 29 Januari 2023

Sejarah Surakarta (65):Detik-Detik Berakhir Belanda di Indonesia, Orang Jepang Berada di Berbagai Tempat; Indo vs Belanda Totok


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surakarta/Solo dalam blog ini Klik Disini

Kehadiran orang Belanda sudah sejak lama, sejak Banten dan Arosbaja menyerang pelaut-pelaut Belanda pada tahun 1596. Setelah rentang waktu tiga setengah abad, tiba pula berakhirnya Belanda di Indonesia. Dalam rentang waktu itu terbentuk kelompok populasi baru disebut Orang Indo. Sementara itu sejak kemajuan Jepang, orang-orang Jepang mulai berdatangan pada akhir abad ke-19 dan semakin massif pada era kebangkitan Indonesia. Kehadiran Jepang menjadi memperkuat anti Belanda, yang kemudian Belanda harus berakhir pada awal tahun 1942.


Orang Indo (Indo-Europeanen) adalah kelompok etnik di Indonesia dan sekarang menjadi kelompok etnik minoritas terbesar di Belanda. Kelompok etnis ini dicirikan dari kesamaan asal usul rasial, status legal, dan kultural. Kaum Indo merupakan keturunan campuran antara orang dari etnik tertentu di Eropa (terutama Belanda, tetapi juga Portugal, Spanyol, Jerman, Belgia, dan Prancis/Huguenot). Secara hukum, sebagian besar berstatus sebagai warga Eropa di Hindia Belanda (Europeanen). Mereka menjunjung nilai-nilai budaya Eropa (terutama Belanda) dengan banyak pengaruh lokal Indonesia pada derajat tertentu dalam kehidupannya sehari-hari. Meskipun demikian, ke dalam kelompok etnik ini dimasukkan pula orang Eropa yang datang dan menetap cukup lama di tanah Indonesia atau yang lahir di Indonesia, karena di antara kalangan kaum keturunan campuran sendiri terdapat rentang fenotipe yang luas, sehingga faktor penampilan tidak bisa dijadikan satu-satunya pembatas untuk kelompok etnik ini. Kelompok "berdarah murni" Eropa dikenal sebagai totok (Mel.), blijvers (Bld.), atau kreol. Perang Dunia Kedua dan sesudahnya menjadi titik awal diaspora bagi kaum Indo, sehingga saat ini keturunan mereka banyak dijumpai di Belanda, Indonesia, Amerika Serikat (AS), Australia, Selandia Baru, Kanada, serta beberapa negara lain (Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah detik-detik berakhir Belanda di Indonesia, orang Jepang berada di berbagai tempat? Seperti disebut di atas, ada awal kehadiran dan juga ada awal berakhirnya Belanda di Indonesia. Itu rentang waktu yang sangat lama tiga setengah abad. Dalam rentang waktu tersebut terbentuk kelompok populasi baru, antara orang Belanda Totok dengan pribumi, yang disebut Orang Indo. Lalu bagaimana sejarah detik-detik berakhir Belanda di Indonesia, orang Jepang berada di berbagai tempat? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Detik-Detik Berakhir Belanda di Indonesia, Orang Jepang Berada di Berbagai Tempat; Orang Indo vs Belanda Totok

Di Surakarta berkabung. Soesoehoenan Soerakarta meninggal dunia awal tahun 1939 (lihat De locomotief, 20-02-1939). Disebutkan Soesoehoenan Soerakarta meninggal hari ini pukul 08.30. Berita duka dari Soerakarta segera menjadi viral di Indonesia (baca: Hindia Belanda) dan di Belanda. Soesoehoenan Soerakarta adalah salah satu raja terkenal dan dikenal luas di Hindia Belanda maupun di Belanda.


Surat kabar di Hindia Belanda seperti di Soerakarta, Semarang dan Batavia, korang pagi hanya pada berita pada posisi Breaking News dengan hanya satu kalimat. Karena koran pagi di Hindia Belanda pada masa itu umumnya dealine pukul 09.00 sebelum naik cetak. Namun koran sore di Hindia Belanda dapat memperkaya berita tersaebut. Demikian juga pada tanggal 20 itu sebagai koran pagi di Belanda juga berita itu lebih diperkaya lagi. Catatan: ada perbedaan waktu tujuh jam antara Hindia dan Belanda.

Duka di Soerakarta sejatinya cukup lama. Semua orang kehilangan, baik orang Eropa/Belanda, Cina, Arab maupun pribumi. Pada awal tahun baru 1940 Pakoeboewono XI, Soesoehoenan Soerakarta (yang baru) memberi ucapan selamat tahun baru (lihat Dagblad van Noord-Brabant, 02-01-1940). Disebutkan wali kota Bergen op Zoom, menerima ucapan selamat tahun baru dari Soesoehoenan di Soerkarta. Disebutkan pula, Pakoeboewono XI semasih pangeran mahkota pada pernah mengunjungi Bergen van Zoom (kota di provinsi Noord Brabant)


Bredasche courant, 01-11-1938: ‘Tamu Tinggi Hindia di Bergen op Zoom. Pada hari Senin, beberapa petinggi Hindia Belanda mengunjungi kota tua Scheldt, Bergen op Zoom…. Sekitar pukul sebelas lewat seperempat kelompok senior tiba dengan mobil di depan balai kota, di mana mereka diterima oleh wakil walikota, alderman de Moor. Rombongan tinggi terdiri dari Pangéran Hangabéhi, putra tertua Soesoehoenan Surakarta, istrinya Raden Ajoe Hangabéhi, saudaranya Pangéran Hardinegoro, anak Bendoro Raden Mas Goenolelo, Pangéran Hario Soerjoatmodjo, paman buyut dari pengurus rumah sendiri Pahoe Amaki di Yogyakarta dan asisten residen Kementerian Koloni Mr. LAM Visser. Dalam sambutannya Walikota Bpk. dr.P.A.F. Blom berbicara, dia mengenang Hindia yang indah, yang masih banyak diingat oleh para lelaki tua Hindia Belanda. Bangunan yang indah, alam yang indah dan terlalu banyak untuk disebutkan. Dia berterima kasih kepada para tamu terhormat karena ingin mengunjungi kota ini dan berharap mereka membawa kesan yang menyenangkan tentang kota kita bersama mereka. Setelah itu, teh dipersembahkan dan anggur kehormatan disajikan. Pangéran kemudian mengambil lantai dan berbicara sebagai berikut: Dataran yang telah kami lalui, pertanian dan industri yang kami lihat dimana-mana dan di bawahnya tentu saja industri gula, ditambah dengan sambutan yang menyenangkan dari Anda dan pemerintah kota, jadikan kami, para deputi dari pangeran Surakarta dan Pakoe Alaman dan seluruh rombongan kami merasa betah disini. Brabant Utara tidak lagi asing bagi kami; persahabatan Brabant dan ikatan yang menghubungkan industri Brabant dengan Jawa kami sedemikian rupa sehingga kami tidak akan pernah bisa melupakan Brabant dan tentunya juga kotamadya Anda, Pak Walikota. Kami ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Anda dan dewan kota untuk ini, jadi saya ingin mempersembahkan minuman ini atas nama kita semua untuk kesehatan Anda, Pak Walikota dan dewan kota Anda, dan untuk kemakmuran yang melanjutkan kotamadya Anda dan industri, perdagangan, dan pertaniannya. Setelah tinggal bersama selama beberapa waktu, rombongan tinggi melanjutkan ke toko mesin Monsieur Rogier, dimana rangkaian bunga dipersembahkan kepada Dewan. Sebelum semua orang berkumpul di meja kopi Brabant, yang ditawarkan oleh V.V.V. Difoga juga dikunjungi. Sore harinya, kunjungan dilakukan ke pabrik South Netherlands Spirit, ke perusahaan Van Dort, ke Machinefabriek Holland dan ke St. Geertruidisbrons, untuk melihat terakhir kali di aula besar Hotel de Draak. bertemu, dimana teh yang ditawarkan oleh pabrik-pabrik yang telah dikunjungi. Sekitar pukul tujuh rombongan besar berangkat ke Den Haag lagi’.

Setelah meninggalnay Pakoeboewono X, kebijakan Pemerintah Hindia Belanda berubah drastic, subsidi pemerintak ke kerjaan dan gaji Soesoehoenan Soerakarta dipotong. Sudah barang tentu pihak kraton gigit jari. Dampaknya program pembangunan kerajaan akan berdampak kepada penduduk, tentu saja gaji para pengurus kraton dan gaji Soesoehoenan sendiri dikurangi 50 pesen dari Soesoehoenan sebelumnya. yang turun drastic dan akan menunjukkan gap kemewahan di masa lalu dengan situasi dan kondisi masa ini. Tampaknya pengurangan ini bukan karena akibat penuruan ekonomi negara dan dunia, fakta bahwa gaji para pejabat negara (Pemerintah Hindia Belanda) tidak dipotong. Hal itulah yang menyebabkan MH Thamrin mempertanyakannya (lihat De Sumatra post, 02-01-1941).


Tidak lama setelah isu anggaran kerajaan dan haji Soesoehoenan Soerakarta. Entah ada kaitannya atau tidak, yang jelas ada satu rombongan dari Amerika di Soerakarata, yang tujuannya disebut untuk membuat film documenter kraton Soerakarta (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-05-1941). Apakah hal serupa ini lazim dan terdapat di tempat lain? Boleh jadi ada. Tampak terkesan biasa-biasa saja. Apakah pembuatan film itu murni kegiatan para pekerja seni biasaya, atau motif lain? Jelas sulit dipahami. Yang dapat dipahami saat itu, ada kepedihan baru di lingkungan kraton akibat dampak penuruan anggaran,

Sebaliknya, di Soerakarta akan diselenggarakan kongres Islam pada bulan Juli (lihat De Indische courant, 04-07-1941).  Memang dalam hal organisasi Islam, di Soerakarta bukan hal baru. Sejak era Sarikat Dagang Islam hingga pada masa PSI (Dr Soekiman dkk), kota Solo seakan memiliki kedekatan antara kota itu sendiri dan kehadiran partai-partai Islam. Lalu, dengan melihat kepedihan baru di lingkungan kraton akan mendekatkan datu sama lain antara kraton dan golongan Islam (sebaliknya kraton mulai dingin terhadap pemerintah)? Kita lihat nanti.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Orang Indo vs Belanda Totok: Rasial, Pemisahaan Hindia Belanda dari Kerajaan Belanda dan Era Baru Inndonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar