Laman

Rabu, 29 Maret 2023

Sejarah Banyumas (9): Populasi Penduduk Banyumas: Asal Usul Penduduk Asli dan Peradaban di Banyumas dari Masa ke Masa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Setiap wilayah memiliki populasi penduduk. Setiap populasi penduduk memiliki asal-usul sendiri. Setiap penduduk asli memiliki perkembangan peradaban sendiri. Namun yang sulit dijawab seberapa tua penduduk asli, bagaimana perkembangan peradabannya dari masa ke masa. Tentu saja ada warga pendatang yang melebur dengan penduduk asli yang kemudian membentuk populasi penduduk baru dengan peradaban yang lebih baru. Demekian selanjutnya hingga kehadiran orang Eropa/Belanda.

 

Jawa Banyumasan (Ngoko: Wong Jawa Banyumasan; Krama: Tiyang Jawi Toyajenean, Indonesia: Orang Jawa Banyumasan) adalah etnis Jawa di Jawa Tengah bagian barat. Sedikit berbeda budaya, bahasa dan karakter dari etnis Jawa umumnya, lebih dikenal dengan sebutan wong ngapak (logatnya yang ngapak). Wilayah yang mengitari gunung Slamet dan sungai Serayu, dipimpin oleh keluarga Wiryodiharjo. Wilayah Banyumasan terdiri dari eks karesidenan Banyumas yang meliputi; Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas. Walaupun terdapat sedikit perbedaan (nuansa) adat-istiadat dan logat bahasa, tetapi secara umum daerah-daerah tersebut dapat dikatakan "sewarna", yaitu sama-sama menggunakan Bahasa Jawa Dialek Banyumasan. Pada awal masa kerajaan Hindu-Buddha, wilayah Banyumasan pengaruh Kerajaan Tarumanagara di barat dan Kerajaan Kalingga di timur dengan Sungai Cipamali sebagai batas alamnya. Singkatnya jelang berakhir kejayaan kerajaan Pajang dan berdirinya Kesultanan Mataram (1587), Adipati Wargo Utomo II menyerahkan kadipaten Wirasaba ke saudara, lalu membentuk kadipaten baru Banyumas menjadi Adipati pertama dengan gelar Adipati Marapat.Setelah pusat kadipaten dipindahkan ke Sudagaran kadipaten-kadipaten di wilayah Banyumasan tunduk pada Mataram.tetapi masih memiliki otonomi dan penduduk Mataram menyebut wilayah Mancanegara Kulon (antara Bagelen (Purworejo) sampai Majenang (Cilacap) (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah populasi penduduk Banyumas? Seperti disebut di atas, wilayah Banyumas adalah wilayah peradaban tua. Namun seberapa tua sulit diketahui secara pasti. Yang jelas asal usul penduduk asli Banyumas adalah perkembangan peradaban Banyumas itu sendiri dari masa ke masa. Lalu bagaimana sejarah populasi penduduk Banyumas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Populasi Penduduk Banyumas: Asal Usul Penduduk Asli Banyumas dan Peradaban Banyumas Masa ke Masa

Populasi penduduk suatu wilayah berawal dari suatu populasi penduduk asli, yakni penduduk terawal yang membangun peradaban di wilayah insitu. Ini berlaku umum di seluruh wilayah Indonesia, dalam hal ini secara khusus di Jawa. Populasi penduduk yang sekarang, yang membentuk peradaban masa kini, sejatinya belum selesai dan akan terus berlanjut hingga jauh ke masa depan. Dalam konteks inilah kita berbicara tentang populasi penduduk yang membentuk tingkat peradabannya sendiri pada suatu wilayah tertentu dari masa ke masa (secara continuum) termasuk di wilayah Banyumas. Tingkat peradaban yang dipengaruhi banyak factor.


Banyak factor yang mempengaruhi populasi penduduk di suatu wilayah tertentu, antara lain ras (termasuk genetic), lingkungan alam (geografi) dan lingkungan social (hubungan antar manusianya). Faktor ras/genetic mempengaruhi wujud fisik seperti raut wajah dan rambut; factor lingkungan alam seperti geomorfologi dan sumberdayata alam yang mempengaruhi kalori dan gizi tubuh dan adaptasi terhadap pola bertempat tinggal; factor hubungan antara manusia yang secara besama-sama atau tidak dengan factor lainnya dalam pembentuk wujud peradaban seperti bahasa, adat istiadat (termasuk pola perkawinan), arsitektur, music, budidaya, religi dan sebagainya. Elemen-elemen peradaban ini cenderung diturunkan, diwariskan antara generasi.

Peradaban yang lebih luas membentuk kebudayaan yang lebih rigid (seperti kebudayaan Asia dan kebudayaan nusantara). Sedangkan kebudayaan yang lebih sempit (terbatas) membentuk budaya-budaya local yang sangat banyak variasinya, termasuk di pulau Jawa sendiri, seperti budaya Jawa, budaya Sunda, budaya Madura, budaya Tengger, budaya Betawi dan juga budaya Banyumasan. Kebudayaan yang sama pada wilayah geografis yang sama membentuk konfigurasi budaya yang bersifat sambung menyambung (interception) dan pada level budaya juga bersifat sambung menyambung dengan wilayah budaya yang berdekatan dengannya tetapi satu sama lain menunjukkan budaya yang khas (core culture). Seperti disebut dalam artikel sebelum ini, budaya Banyumasan yang khas adalah soal (dialek) bahasa (yang dapat dibedakan dengan dialek/bahasa Jawa dan bahasa Sunda).


Salah satu hal yang perlu disadari dalam memetakan budaya local di dalam region yang lebih luas adalah tentang asal-usul budaya, dalam arti dimana budaya itu berawal, berkembang dan kemudian meluas ke berbagai tempat di kawasan. Titik awal adalah titik dimana core culture dipertahankan lebih kuat dan wilayah/area yang meluas membentuk perkembangan budaya yang lebih terhubung dengan budaya di tempat lainnya. Dalam perjalanan perkembangan budaya asli ke budaya yang lebih meluas secara wilayah juga dipengaruhi oleh adanya perubahaan geomorfologis wilayah dari waktu ke waktu. Wilayah pesisir/pantai cenderung berubah dari waktu ke waktu relative terhadap daratan. Budaya inti yang bermula di pedalaman/daratan dapat bergeser ke wilayah pantai karena factor ancaman (bencana alam atau perang); dan sebaliknya budaya baru di wilayah pantai dapat bergeser ke pedalaman karena adanya ancaman, serangan dari laut atau karena mendapat kemenangan (dalam perang) di wilayah baru di daratan.

Secara khusus (dialek) bahasa umumnya dipengaruhi factor hubungan sosiobudaya, antara penduduk asli dengan core cultur dengan warga pendatang dengan elemen budaya baru. Warga pendatang ini hadir dari wilayah yang lebih dekat, dan pendatang dari jauh hadir melalui navigasi pelayaran perdagangan (yang dapat membawa elemen-elemen budaya yang berbeda, termasuk bahasa dan religi. Bentuk akumulasi perubahan-perubahan budaya di wilayah tertentu ini yang membentuk peradaban yang terus berubah dari waktu ke waktu hingga masa kini. Oleh karenanya siapa populasi penduduk Banyumasan haruslah dilihat dari perjalanan budaya itu sendiri, perjalanan peradaban di wilayah itu sendiri.


Peradaban/budaya yang berkembang di suatu wilayah bisa jadi tidak bersifat continuum, tetapi ada peradaban/budaya pada suatu masa tertentu di masa lampau, peradaban/budaya mengalami degradasi karena bencana (gunung Meletus, banjir besar dan epidemic) dan juga serangan (genosida) yang kemudian terjadi promosi peradaban/budaya baru yang menyebabkan terjadinya suksesi atau dominasi budaya/peradaban dari pendatang di wilayah populasi penduduk asli.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Asal Usul Penduduk Asli Banyumas dan Peradaban Banyumas Masa ke Masa: Geomorfologis Wilayah, Bahasa dan Budaya

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar