Laman

Kamis, 18 Mei 2023

Sejarah Banyuwangi (2): Geomorfologi di Wilayah Banyuwangi Ujung Timur P Jawa; Gunung Raung Selat Bali Pulau Alas Purwo


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Lain tempo doeloe, lain pula sekarang. Lain di zaman kuno, lain pula masa nanti. Tidak hanya populasi penduduk yang berubah, juga wilayah geografis juga berubah dari masa ke masa. Dalam narasi sejarah masa kini, tidak pernah dinarasikan sejarah geografi wilayah. Semuanya dianggap tetap (tidak berubah) dari zaman ke zaman; dari zaman megalitikum hingga ke zaman melenium. Membicarakan sejarah perubahan geografis, kita sedang berbicara tentang geomorfologis wilayah.


Wilayah Banyuwangi kini dengan panjang garis pantai 175,8 Km. Jumlah pulau 10 buah. Letak geografis di ujung timur Pulau Jawa. Wilayah daratannya terdiri atas dataran tinggi berupa pegunungan yang merupakan daerah penghasil produk perkebunan; dan dataran rendah dengan berbagai potensi produk hasil pertanian serta daerah sekitar garis pantai yang membujur dari arah utara ke selatan yang merupakan daerah penghasil berbagai biota laut. Batas wilayah     sebelah utara adalah Kabupaten Situbondo, sebelah timur adalah Selat Bali, sebelah selatan adalah Samudera Indonesia dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Jember dan Bondowoso. Topografi bagian barat dan utara pada umumnya merupakan pegunungan, dan bagian selatan sebagian besar merupakan dataran rendah. Tingkat kemiringan rata-rata pada wilayah bagian barat dan utara 40°, dengan rata-rata curah hujan lebih tinggi bila dibanding dengan bagian wilayah lainnya. Daratan yang datar sebagian besar mempunyai tingkat kemiringan kurang dari 15°, dengan rata-rata curah hujan cukup memadai sehingga bisa menambah tingkat kesuburan tanah. Dataran rendah yang terbentang luas dari selatan hingga utara dimana di dalamnya terdapat banyak sungai yang selalu mengalir di sepanjang tahun. Di Kabupaten Banyuwangi tercatat 35 DAS, sehingga disamping dapat mengairi hamparan sawah yang sangat luas juga berpengaruh positif terhadap tingkat kesuburan tanah. (https://banyuwangikab.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah geomorfologi wilayah Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa? Seperti disebut di atas wilayah Banyuwangi berada di huk garis pantai selatan dan pantai timur (Selat Bali). Ada gunung Raung, pulau Bali, pulau Alas Purwo. Lalu bagaimana sejarah geomorfologi wilayah Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Geomorfologi Wilayah Banyuwangi di Ujung Timur Pulau Jawa; Gunung Raung, Selat Bali, Pulau Alas Purwo

Banyuwangi dan Blambangan adalah dua hal yang berbeda. Blambangan adalah nama lama, tempat yang berbeda dengan nama baru Banyuwangi. Dari dua tempat berbeda masa inilah kita mulai memahami wilayah (kabupaten) Banyuwangi yang sekarang secara geomorfologis. Kita mulai dengan nama Blambangan. Dalam artikel sebelumnya, Blambangan adalah kerajaan yang sudah diketahui sejak masa lampau. Nama Balambangan sudah dicatat dalam teks Negarakertagama (1365 M).


Pada Peta 1724 ibu kota (stad) Balambangan berada jauh di pedalaman di sisi selatan hulu sungai (sungai Balambangan). Sungai tersebut diduga kuat adalah sungai Setail yang sekarang. Kerajaan di wilayah Balambangan tempo doeloe ini lebih tepat disebut kerajaan yang berada di pantai selatan Jawa (kerajaan Balambangan) dibandingkan dengan kerajaan di pantai utara (kerajaan Panaroekan). Apakah itu penting? Dalam hal inilah pentingnya studi geomorfologis. Sementara itu teluk di tenggara kota Balambangan diidentifikasi teluk Balambangan; sedangkan pegunungan yang dekat pantai di sebelah utara disebut (gunung) Balambangan.

Dimana kota Balambangan (diidentifikasi pada Peta 1724) berada sekarang? Apakah di desa Blambangan kecamatan Muncar atau di desa Kradenan kecamatan Purwoharjo? Yang jelas bukan di (kota) Muncar. Mengapa? Sebab masih perairan/laut. Kota Muncar yang sekarang merupakan tanah sedimen yang merupakan daratan baru di sekitar area muara sungai Balambangan.


Masih dalam peta, di bagian luar teluk Balambangan diidietifikasi suatu pulau (pulau sedimentasi yang bermula dari pulau karang). Pulau karang/sedimentasi ini kini telah menyatu dengan tanjung di sisi timur teluk.  Pulau larang/sedimen inilah yang sekarang disebut Tanjung Gebang. Dengan demikian, pada masa lampau teluk ini lebih dekat, rellatif dengan sekarang yang terkesan jauh ke dalam.

Tanjung yang berada di sisi timur teluk Balambangan (Peta 1724) adalah suatu daratan awal (pegunungan rendah) yang menyatu dengan area di selatan (kini Kawasan Taman Nasional Alas Purwo). Apa yang menarik dalam hal ini adalah kawasan yang kini berada di antara teluk Balambangan dengan pantai selatan Jawa merupakan perairan/laut. Dengan demikian Kawasan Taman Nasional Alas Purwo yang sekarang dulunya adalah suatu pulau (pulau yang terpisah dari daratan Jawa).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Gunung Raung, Selat Bali, Pulau Alas Purwo: Lain Dulu Lain Sekarang

Lain kota Balambangan kuno, lain pula secara geomorfologis kota baru Banjoewangi. Dalam artikel sebelumnya, nama Banjoewangi baru teridentifikasi pada tahu 1776. Banjoewangi diduga awalnya adalah suatu kampong kecil dimana militer VOC membangun benteng (Fort Banjoewangi). Lantas mengapa di kampong ini yang dipilih oleh pelaut Eropa (Inggris dan Belanda) sebagai pos perdagangan/militer? Areanya sangat strategis dari arah utara (selat Bali) dan tidak begitu jauh dengan ibu kota Blambangan di selatan. Secara navigasi posisi kampong Banjoewangi berada di kawasan selat yang sempit (kini selat Bali).


Kampong Banjoewangi berada diantara gunung Balambangan di utara dan teluk/kota Balambangan di selatan. Bagaimana secara geomorfologis kampong Banjoewangi ini? Berdasarkan Peta 1724 area kampong Banjoewangi hanya bagian dari garis pantai yang lurus dari utara ke selatan. Namun demikian, kampong Banjoewangi secara geografis berada di suatu teluk kecil, dimana di teluk kecil bermuara dua buah sungai kecil (kali Klampok dan kali Telik). Teluk kecil ini boleh jadi memiliki air yang jernih dan karena itu diduga menjadi asal usul nama (kampong) Banjoewangi. Pada masa ini, teluk kecil ini telah menjadi daratan, dimana dua sungai kecil sebelumnya Bersatu membentuk sungai tunggal ke pantai/laut (posisi kampong Banjoewangi di sisi utara). Kampong Banjoewangi inilah yang diduga benteng VOC berada yang kemudian menjadi cikal bakal kota Banyuwangi yang sekarang.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar