Laman

Senin, 15 Mei 2023

Sejarah Cirebon (43): Proklamasi di Jakarta Kemerdekaan Indonesia; Apakah di Cirebon Sudah Merdeka Sebelum Indonesia Merdeka


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Cirebon dalam blog ini Klik Disini

Hikayat Proklamasi 15 Agustus di Cirebon. Dua hari menjelang 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan sudah dibacakan oleh dokter Sudarsono di Cirebon. Menurut salah satu versi sejarah, naskah proklamasi itu dibuat Sutan Sjahrir(https://news.detik.com/). Banyak orang tidak tahu. Narasi baru ini muncul akhir-akhir ini. Mengapa tidak dari dulu diceritakan di sekolah? Oklah. Narasi sejarah selalu ada versi-versinya. Penyelidikan sejarah selalu hasilnya mengejutkan. Ada yang bersifat sensational, propagandis dan tentu saja ada yang tetap benar-benar bersifat akademik (empiris).


Sejarah Hari Ini, 15 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Pertama Indonesia di Cirebon. Jakarta, Kompas.TV - Tak banyak orang tahu bahwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sebenarnya telah dibacakan pada 15 Agustus 1945 di Cirebon. Pembacaan Proklamasi Indonesia di Alun-Alun Kejaksan, Kota Cirebon. Sutan Sjahrir dan dr Soedarsono sosok sentral proklamasi “pertama” Indonesia itu. Dr Soedarsono dokter di Rumah Sakit Oranje (kini RSD Gunung Jati), kader Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) yang membacakan. Budayawan Cirebon Nurdin M Noor mengatakan, ia membacakan proklamasi kemerdekaan RI atas permintaan Sutan Sjahrir. "Cirebon dipilih karena saat itu dianggap masih aman dari penjajah Jepang,". Keputusan Sjahrir saat itu muncul berkat mendengar siaran radio BBC 14 Agustus 1945. Siaran itu melaporkan kekalahan Jepang pada Sekutu. Proklamasi setelah tanggal 15 Agustus menandakan Indonesia berkompromi dengan Jepang. Soekarno menolak usul Sjahrir. Sjahrir memaki-maki Soekarno dengan sebutan “pengecut”. Ia pun menggerakkan masyarakat Jakarta untuk menyambut proklamasi. Stasiun Gambir menjadi arena demonstrasi menyambut proklamasi. Sekelompok mahasiswa pengikut Sjahrir bahkan berusaha membajak stasiun radio Hoosoo Kyoku di Gambir untuk melakukan proklamasi. Upaya itu digagalkan Kempeitai. Sjahrir berinisiatif mengirim telegram pada Soedarsono permintaan memproklamasikan kemerdekaan di Cirebon. Ada dua versi teks proklamasi Cirebon ini. Versi pertama menyebut teks proklamasi buatan Sjahrir dan aktivis lainnya, seperti Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur dan Abu Bakar Lubis. Des Alwi, anak angkat Sjahrir mengaku hanya ingat sebaris teks proklamasi Cirebon itu. “Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemedekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah oleh siapa pun juga,” Versi kedua menyebut teks proklamasi Cirebon buatan Maroeto Nitimihardjo. Namun, hingga kini tidak ada yang tahu secara pasti isi teks proklamasi yang dibacakan dokter Soedarsono itu. Naskah proklamasi Cirebon itu sudah tak diketahui keberadaannya. (https://www.kompas.tv/) 

Lantas bagaimana sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia di Djakarta? Seperti disebut di atas banyak orang tidak tahu ada proklamasi kemerdekaan versi di Cirebon. Bagaimana dengan yang di Djakarta? Apakah Cirebon benar-benar sudah merdeka sebelum Indonesia merdeka? Lalu bagaimana sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia di Djakarta? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Djakarta; Apakah Cirebon Sudah Merdeka Sebelum Indonesia Merdeka?

Sebelum mendeskripsikan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Djakarta 17 Agustus 1945, menarik untuk memperhatikan dulu, nama Soedarsono, yang konon disebut telah membacakan proklamasi kemerdekaan di Cirebon. Okelah itu satu hal, lalu siapa Soedarsono? Yang jelas banyak nama Soedarsono termasuk dokter Soedarsono alumni STOVIA. Pada tahun 1925 sekolah KW III School di Batvai melakukan ujian masuk. Salah satu siswa diterima adalah Soedarsono. Siswa lainya yang diterima antara lain Mohamad Nawir, W Hoetagaloeng. Seperti disebut tadi, belasan nama Soedarsono. Pada tahun 1930 ada Soedarsono lulus di HBS Bandoeng dan AMS di Weltevreden. Nama Soedarsono juga ada di AMS Jogja, naik ke kelas lima tahun 1928 (lihat De locomotief, 07-05-1928) dan naik ke kelas enam tahun 1929 (lihat De locomotief, 04-05-1929).


Soedarsono dilahirkan di Salatiga pada tanggal 9 Mei 1911. Pendidkan ELS, MULO, dan AMS B Jogjakarta melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta (lulus 1938). Bergabung organisasi Pemuda Indonesia menjadi ketua tahun 1928-1929. Ketua redaksi Indonesia dan menjadi sekretaris Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia cabang Jakarta. Dokter di Jawatan Pemberantasan Penyakit Malaria di Jakarta, Ciamis, dan terakhir di rumah sakit Cirebon pada masa Jepang. Selama di Cirebon, menjadi pemimpin PUTERA cabang Cirebon dan bergabung dengan gerakan bawah tanah Sjahrir. Ketika di Ciamis inilah anaknya Juwono Sudarsono lahir. Menyerahnya Jepang pada tanggal 14 Agustus 1945, Sutan Sjahrir mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan mereka menolak. Pengikut Sjahrir di Cirebon mengumumkan proklamasi kemerdekaan. Sudarsono memimpin proklamasi di Cirebon, dihadiri 150 orang anggota PNI. Naskah yang dibacakan Soedarsono berasal dari Sjahrir dan sayangnya naskah tersebut hilang. Sudarsono diangkat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan bergabung dengan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1945. Pada tahun 1946 beliau diangkat oleh Sutan Sjahrir menjadi Menteri Dalam Negeri selama tujuh bulan dan kemudian menjadi Menteri Negara Urusan Beras untuk India pada Kabinet Sjahrir III. Setelah penyerahan kekuasaan, Sudarsono diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk India dari tahun 1950-1953. Sudarsono meninggal dunia pada tanggal 6 Juni 1976 di Jakarta. Ia adalah ayah dari Juwono Sudarsono, akademis, diplomat dan politisi ulung serta pejabat menteri (Wikipedia)

Soedarsono yang mana yang dicari? Setelah menyelesaikan AMS, Soerdarsono melanjutkan studi ke Batavia pada tahun 1930. Pada tahun 1931 di sekolah tinggi kedokteran Geneeskundige Soedarsono dinyatakan lulus ujian kandidat pertama (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-04-1931). Disebutkan Soedarsono Mangoenadikoesoemo berasal dari Salatiga. Yang sama lulus adalah Adnan Gani berasal dari Palembajan.


Dalam struktur kepungurusan Pemoeda Indonesia tahun 1928 dan 1929 tidak ada yang disebut nama Soedarsono. Apakah Soedarsono dalam hal ini menjadi ketua Pemoeda Indonesia afdeeling Jogja? Sementara itu Soetan Sjahrir di Bandoeng pada tahun 1927 lulus ujian AMS naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat De koerier, 03-05-1927). Pada tahun 1928 ketua Pemoeda Indonesia afdeeling Bandoeng adalah Soetan Sjahrir (lihat De locomotief, 14-03-1928). Pada tahun 1928 Soetan Sjahrir naik ke kelas enam (lihat De koerier, 07-05-1928). Tampaknya Soetan Sjahrir tidak menyelesaikan studinya dan berangkat ke Belanda. Di bawah organisas Perhimpoenan Indonesia di Belanda, surat kabar bulanan Indonesia Merdeka sebagai ketua (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-04-1930). Sebelumnya, pada tahun 1930 ini organisasi Jong Sumatra dan Pemoeda Indonesia bergabung (fusi) dengan membentuk organisasi baru dengan nama Indonesia Moeda (Bataviaasch nieuwsblad, 24-03-1930). Ketua terpilih adalah Mohamad Jamin. 

Pada tahun 1932, Indonesia Moeda afdeeling Semarang mengadakan rapat umum (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 15-08-1932). Disebutkan yang menjadi ketua adalah Soedarsono. Namun apakah Soedarsono yang dimaksud sama dengan orang yang sama mahasiswa GHS di Batavia?


Di Batavia, Soedarsono Mangoenadikoesomo lulus ujian kandidat kedua tahun 1933 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-04-1933). Lulus ujian medik pertama tahun 1935 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 16-05-1935). Lulus ujian medik kedua (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 16-01-1936).

Seperti disebut di atas banyak nama Soedarsono, ada yang di RHS Batavia dan ada juga di THS Bandoeng. Nama Soedarsono Mangoenadikoesomo tidak terinformasikan aktif dalam organisasi. Soedarsono Mangoenadikoesomo lulus ujian dokter pertama (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 18-01-1937). Akhirnya Soedarsono Mangoenadikoesomo lulus ujian akhir dengan gelar arts (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-05-1938).


Nama Soedarsono sebelumnya sudah ada yang menjadi dokter. Nama Soedarsono juga masih ada yang kuliah di Geneeskundige Hoogeschool. Apakah dalam fase ini nama Soedarsono pernah terhubung dengan nama Soetan Sjahrir? Sepulang dari Belanda, Soetan Sjahrir aktif di partai eks PNI yakni partai Pendidikan Nasional Indonesia. Pada tahun 1936 Soetan Sjahrir diasingkan ke Digoel (dan kemudian ke Banda).

Hingga tahun 1941 Soedarsono Mangoenadikoesomo masih tetap di Batavia (DVG) (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-04-1941). Dr Soedarsono adakalanya diperbantukan di Geneeskundige Hoogeschool. Pada masa pendudukan Jepang. Nama Soedarsono dicatat sebagai dokter di rumah sakit Tjirebon Si di Tjirebon (lihat Orang Indonesia jang terkemoeka di Djawa, Gunseikanbu, 1944).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Apakah Cirebon Sudah Merdeka Sebelum Indonesia Merdeka? Narasi Sejarah Dapat Kontroversi, Penyelidikan Sejarah Tetap Diperluan

Seperti dikutip di atas, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia sebenarnya telah dibacakan pada 15 Agustus 1945 di Cirebon. Pembacaan Proklamasi Indonesia di Alun-Alun Kejaksan, Kota Cirebon. Apakah pernyataan ini benar? Okelah itu tanggal 15, lalu dimana lokasinya di Cirebon? Yang jelas tidak ada yang menolak bahwa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan di Djakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir Soekarno. Lokasi dimana itu dibacakan berada di jalan Pegangsaan Oost 56 Djakarta. Dalam hal ini narasi sejarah haruslah ada buktinya. Untuk sekadar diketahui riwayat tempat yang menjadi lokasi proklamasi kemerdekaan Indonesia di jalan Pegangsaan Timur No 56 Djakarta saja selama ini tetap menjadi perdebatan. Bagaimana dengan di Cirebon? Kita tidak perlu menyelidiki dimananya, apakah proklamasinya sendiri pada tanggal tersebut benar adanya sulit membuktikannya. Sebagaimana dikatakan ahli sejarah tempo doeloe, jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri.


Sebagaimana pernah dinarasikan dalam artikel terdahulu di dalam blog ini, rumah Pegangsaan Oost 56 Djakarta sebagai rumah proklamasi bermula pada akhir keberadaan orang Belanda. Pada bulan Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada (pendudukan) militer Jepang di Indonesia. Semua militer Pemerintah Hindia Belanda ditawan dan semua orang Belanda menjadi interniran. Semua milik orang Belanda dikuasasi pemerintahan militer Jepang di Indonesia. Dalam perkembangannya, Ir Soekarno yang selama ini diasingkan di Bengkoeloe dievakuasi ke Padang, tetapi Ir Soekarno diamankan oleh Mr Egon Hakim Nasoetion dan dipertemukan di pimpinan Jepang di Boekittinggi. Pada bulan Juni 1942 Ir Soekarno sudah di Djakarta. Oleh karena Ir Soekarno diangkat sebagai pemimpin Indonesia dicarikan rumah eks orang Belanda di kawasan Peganggsaan (kawasan dimana sudah sejak lama para pejuang Indonesia bertempat tinggal seperti Mr Amir Sjarigoeddin Harahap). Rumah yang menjadi kediamaan Ir Soekarno di jalan Pegangsaan Oost 56. Rumah tesebut merupakan milik orang Belanda (Mr PR Feit sejak Juli 1939, sebelum pendudukan Jepang). Setelah kerajaan Jepang takluk kepada Sekutu/Amerika tanggal 14 Agustus 1945 (diketahui melalui radio dari kapal-kapal di Tandjong Priok; sebab pada saat siaran itu listrik seluruh dipadamkan). Tiga hari kemudian proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan di halaman rumah Pegangsaan Timoer 56. Dalam perkembangannya, setelah pelucutan senjata dan evakuasi militer Jepang yang dilakukan oleh militer Sekutu/Inggris), dari waktu ke waktu eskalasi perang meningkat seiring dengan kahadiran militer Belanda/NICA. Oleh karena Djakarta dianggap tidak kondusif, Menteri Pertahanan Mr Amir Sjarifoeddin Harahap menyiapkan perpindahan ibu kota RI dari Djakarta ke Djogjakarta. Pada tanggal 4 Januari 1946 Ir Soekarno dan pejabat Indonesia berangkat ke Djogjakarta. Rumah Pegangsaan Timoer 56 kemudian dijadikan sebagai pusat Republik yang mana yang menjadi kepala perwakilan RI di Djakarta dipimpin oleh Overste (Letnan Kolonel) Mr Arifin Harahap (semacam dubes). Rumah itu kemudian dijadikan rumah kediaman resmi Soetan Sjahri (Perdana Menteri). Rumah tersebut penting bagi Republik karena merupakan tempat dimana proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan 17 Agustus 1945. Pada masa Perdana Manteri Mr Amir Sjarifoeddin Harahap rumah itu menjadi kediaman resmi Dr AK Gani, wakil Perdana Menteri RI dan wakil Menteri Luar Negeri Mr M Tamzil yang kemudian ditahan oleh Belanda (lihat Algemeen Indisch dagblad, 21-07-1947). Pihak RI menebusnya sebesar f250.000 tahun 1948. Pada tanggal 17 Agustus 1948 terkait suatu kejadian rumah itu disita oleh pemerintah/NICA. Kejadian tersebut dimana terjadi pemutaran film tetapi dilarang polisi (yang kemudian polisi tertembak). Kedubes RI di Djakarta vakum. Pemerintah Amerika Serikat melalui Cochran menengahi perselisihan antara Belanda dan RI. Delegasi RI dari Djogja mengajukan syarat untuk pembicaraan proposal Cochran. Syarat-syarat tersebut antara lain pengakuan kekebalan politik anggota delegasi Republik, pengembalian gedung Pegangsaan 56, dan pencabutan tindakan pengusiran pejabat Republik dari Batavia (lihat Nieuwsblad van het Zuiden, 23-10-1948). Selanjutnya, rumah Kedubes RI di Djakarta itu kemudian dikembalikan ke RI (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 27-08-1949). Disebutkan pada Jumat sore pukul dua, gedung Pegangsaan Oost 56 yang disita tahun lalu dengan keputusan Gubernur Batavia en Ommelanden dikembalikan ke otoritas Republik. Rumah ini tidak hanya penting karena tempat kediaman dimana Ir Soekarno dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tahun 1945 juga pernah menjadi kediaman resmi pejabat RI, Soetan Sjahrir dan AK Gani. Menjelang pengakuan kedaulatan Indonesia, rumah Pegangsaan Timoer 56 dijadikan sebagai tempat persiapan pembentukan Negara RIS (yang dihadiri pihak RI dan pihak-pihak negara federal) (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad,        09-12-1949). Disebutkan juga di rumah ini pada hari Kamis, 15 Desember, sebuah lembaga pemilihan yang terdiri dari delegasi resmi dari negara-negara konstituen akan memilih presiden pertama Republik Indonesia Serikat di Jakarta. Untuk presiden terpilih akan disumpah dengan mengambil tempat di Djogjakarta. Selanjutnya, presiden, bersama dengan lembaga pemilihan, akan menunjuk tiga formatur kabinet dan bertindak atas rekomendasi dari ketiga formatur tersebut kemudian menunjuk seorang perdana menteri serta para anggota kabinet lainnya. Sebagaimana diketahui presiden terpilih adalah Ir Soekarno dari (pihak) Republik Indonesia (RI), dan juga perdana Menteri RIS yang terpilih adalah Drs Mohamad Hatta dari (pihak) RI. Dalam perkembangannya, negara-negara federal satu per satu membubarkan diri. Pemerintah RI di Djogjakarta dalam posisi berada di atas angin. Pemerintah RI di Djogjakarta sendiri Presiden adalah Mr Assaat, Perdana Menteri Dr Abdoel Halim, Wakil Perdana Menteri Abdoel Hakim Harahap, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Pehubungan Ir M Sitompoel. Pada tanggal 17 Agustus 1950 Ir Soekarno sebagai Presiden RIS membubarkan negara RIS dan mengembalikan ke (NK)RI. Pada tanggal 18 Agustus 1950 diproklamasikan NKRI di Djakarta. Pada tanggal 6 September cabinet baru (NKRI) diumumkan dimana sebagai Perdana Menteri adalah M Natsir, Wakil Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang mana dibentuk Kementerian Perhubungan (Menteri Ir Djoeanda) dan Kementerian Tenaga dan Pekerjaan Umum (Menteri Ir Herman Johannes).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar