Laman

Rabu, 28 Juni 2023

Sejarah Dewan di Indonesia (26): PPPKI dan Volksraad; Para Pejuang Indonesia Melalui Partai Coperative - Non Coperative


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dewan di Indonesia di blog ini Klik Disini

Desentralisasi adalah satu hal, terbentuknya organisasi kebangsaan adalah hal lain lagi. Namun pada akhirnya kedua elemen bernegara ini memiliki arsiran. Organisasi kebangsaan di berbagai tempat dimungkinkan kandidatnya di berbagai dewan mulai dari dewan kota hingga pusat. Dalam perkembangannya berbagai organisasi kebangsaan yang ada membentuk federasi (PPPKI=Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia). Diantara anggota federasi ini ada juga organisasi kebangsaan yang non cooperative (kurang mendukung dewan).


Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) adalah organisasi pergerakan kemerdekaan yang pernah ada di Indonesia. PPPKI merupakan organisasi kumpulan dari beberapa organisasi-organisasi seperti Partai Sosialis Indonesia, Budi Utomo, Partai Nasional Indonesia, Paguyuban Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Pemuda Kaum Betawi, dan Kelompok Studi Indonesia. Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) didirikan dalam sebuah rapat di Bandung pada tanggal 17–18 Desember 1927. Latar belakang didirikannya PPPKI adalah karena tokoh-tokoh pergerakan nasional beranggapan bahwa berjuang melalui masing-masing organisasi tidak akan membawa hasil. Soekarno kemudian mempunyai ide untuk menggabungkan organisasi-organisasi tersebut supaya Indonesia dapat mencapai kemerdekaannya (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah PPPKI dan Volksraad? Seperti disebut di atas, dewan pusat (Volksraad) sudah dibentuk sejak 1918. Namun saat itu organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia belum Bersatu sama lain. Pada tahun 1927 dibentuk PPPKI sebagai federasi organisasi-organisasi kebangsaan yang menjadi wadah Bersama. Sebagian organisasi mendukung Volksraad dan Sebagian yang lain tidak. Sebab pejuang Indonesia masih memiliki platform berbeda-beda, ada partai coperative (seperti PBI) dan ada non cooperative (seperti PNI). Lalu bagaimana sejarah PPPKI dan Volksraad? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

PPPKI dan Volksraad; Para Pejuang Indonesia Melalui Partai Coperative dan Partai Non Coperative

Apa yang istimewa dengan periode Volksraad 1927-1931? Sebagaimana diketahui periode Volksraad dimulai tahun 1918(-1921). Pada tahun 1927 di sejumlah dapil dilakukan pemilihan anggota Volksraad. Nama yang terakhir terpilih menjadi anggota Volksraad adalah Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon.


De Sumatra post, 10-03-1927: ‘Volksraad. "De betere helft" dari Volksraad—yang terpilih—sekarang sepenuhnya masuk: 20 Pribumi, 15 Belanda dan 3 Cina telah terpilih. Dua orang terakhir yang terpilih -- menurut AID dalam tinjauan situasi -- hasil ini untuk suara kedua: Mr. Mochtar bin Praboe Mangkoenegoro untuk Sumatera Selatan, dan Abdoel Firman Siregar gelar Maharaja Soangkoepon untuk Sumatera Timur. Sebanyak 23 orang yang diangkat, yakni 6 orang pribumi (5 sesuai ketentuan UU dan 1 orang anggota, karena konstituen Borneo gagal memilih anggota), 15 orang anggota Eropa dan 2 orang anggota lagi, baik yang berasal dari Tionghoa maupun orang Timur asing lainnya, atau dari Eropa dapat ditunjuk’. 

Pelantikan anggota Volksraad dilakukan 16 Mei (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 16-05-1927). Disebutkan pagi ini Volksraad baru dibuka di hadapan banyak otoritas pemerintah, banyak anggota Volksraad lama dan anggota korps konsuler. Bertentangan dengan kebiasaan pendahulunya, yang selalu menyampaikan pidatonya di hadapan Volksraad dalam posisi berdiri, Gubernur Jenderal de Graef menyampaikan pidatonya hari ini sambil duduk. Yang Mulia dengan ini menyampaikan harapan agar Volksraad mengajukan pertanyaan selengkap mungkin, karena menurut Gubernur Jenderal tidak ada yang perlu dirahasiakan kecuali hal-hal kecil.


Gubernur Jenderal juga mengingatkan niat untuk memberikan penduduk asli lebih banyak suara di dewan lokal, serta di Volksraad, sementara niat untuk memasukkan dua anggota pribumi di Dewan Hindia. Para pejabat konsuler mengenakan kostum resmi, sementara Ali Moesa Harahap mengenakan kostum Bataksch Volkshoofd, dan pangeran Ali mengenakan pakaian Bandjar menjadi menarik perhatian. Catatan: Ali Moesa Harahap adalah anggota terpilih dari dapil Noord Sumatra (residentie Tapanoeli dan residentie Atjeh). Ali Moesa Harahap dan Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon sama-sama kelahiran Padang Sidempoean.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Para Pejuang Indonesia Melalui Partai Coperative dan Partai Non Coperative: Dewan Kota (Gemeenteraad) hingga Dewan Pusat (Volksraad)

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar