Laman

Selasa, 01 Agustus 2023

Sejarah Sepak Bola Indonesia (19): Pemain Sepak Bola Terkenal Era Hindia Belanda; Siapa Damora Harahap dan Achmad Nawir?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini Klik Disini

Banyak pemain sepak bola masa kini yang hebat. Namun tidak banyak terinformasikan pemain-pemain sepak bola Indonesia pada era Hindia Belanda. Yang kerap dibicarakan adalah Achmad Nawir, yang menjadi kapten timnas Indonesia semasa Hindia Belanda (federasi NIVU). Para pemain hebat di federasi PSSI kurang terindormasikan karena wakil Indonesia ke Piala Dunia di Prancis tahun 1938 adalah NIVU dimana Achmad Nawir bernaung. Okelah, Salah satu pemain hebat dari federasi PSSI adalah Damora Harahap.


Lima Pemain Pribumi yang Ikut Bela Timnas Hindia Belanda di Piala Dunia 1938, Nomor 1 Berprofesi Dokter. Ajeng Wirachmi, Litbang Okezone. Rabu 10 November 2021. Tim Nasional (Timnas) Indonesia dulu pernah mengikuti ajang Piala Dunia (Hindia Belanda). di Piala Dunia 1938 di Prancis. Kebanyakan berasal dari pelajar dan mahasiswa yang dipilih dari NIVU (Federasi Sepakbola Hindia Belanda). Tak ayal ada banyak pemain asal Belanda yang justru membela Timnas Hindia Belanda. Namun, beberapa pemain pribumi alias asli asal Indonesia yang turut serta bermain untuk Timnas Hindia Belanda. Lantas siapa saja mereka? Berikut 5 Pemain Pribumi yang Ikut Bela Timnas Hindia Belanda di Piala Dunia 1938: 5. Suvarte Soedamardji. Pria kelahiran 6 Desember 1915 ini menempati posisi sebagai penyerang. Aktif bermain di HBS Surabaya. 4. Sutan Anwar, pemain VIOS Batavia, pria asal Sumatera Barat yang lahir pada 21 Maret 1914; 3. Isaac Pattiwael, pria Maluku lahir pada 23 Februari 1914. 2. Frans Alfred Meeng, lahir 18 Januari 1910 dan merupakan pemain sepak bola di SVVB Batavia; 1. Achmad Nawir, kapten timnas seorang dokter muda. Pria yang lahir pada 1911 ini berposisi sebagai gelandang dalam timnya. Achmad adalah mahasiswa kedokteran di NIAS sejak 1929. (https://bola.okezone.com/) 

Lantas bagaimana sejarah pemain sepak bola terkenal era Hindia Belanda? Seperti disebut di atas, nama yang kerap disebut adalah Achmad Nawir. Tentu saja ada nama Damora Harahap namun kurang terinformasikan. Mengapa? Apakah Achmad Nawir dan Damora Harahap berasal dari Tapanoeli? Lalu bagaimana sejarah pemain sepak bola terkenal era Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Pemain Sepak Bola Terkenal Era Hindia Belanda; Damora Harahap dan Achmad Nawir

Organisasi perserikatan nasional sepak bola Hindia Belanda (NIVU) begitu menguat sejak pendiriannya tahun 1919. Lalu dalam perkembangannya banyak klub-klub baru, terutama dari golongan pribumi yang tidak tertampung dalam kompetisi, kemudian terbentuk perserikatan (bond) pribumi di berbagai kota. Pada bulan April 1930 perserikatan pribumi disatukan dengan membentuk perserikatan nasional sepak bola pribumi yang diberi nama Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia (PSSI).


Eskalasi politik nasional tengah menghangat. Ini setelah Ir Soekarno ditangkap lagi. Lalu sejumlah surat kabar dan majalah pribumi yang dianggap radikal dibreidel pada pertengahan tahun 1933, diantranya Bintang Timoer di Batavia pimpinan Parada Harahap, Pewarta Deli di Medan pimpinan Abdoellah Lubis, Daoelat Rakjat di Batavia organ PNI Mohamad Hatta, Fikiran Rakjat (PNI Ir Soekarno), Tjahaja Siang di Manado (pimpinan Ratoelangie), Soeara Oemoem di Soerabaja (PBI dan Dr Soetomo). Situasi yang memojokkan para nasionalis, Parada Harahap marah besar dan memimpin tujuh revolusioner berangkat ke Jepang pada awal November 1933 dengan kapal Panama Maroe dari Batavia. Para anggota delegasi diantara tujuh orang tersebut termasuk Panangian Harahap pemimpin redaksi Bintang Timoer, Abdoellah Lubis dari Medan, Sjamsi Widagda, PhD, guru di Bandoeng dan Drs Mohamad Hatta (yang belum lama pulang studi dari Belanda). Tujuh revolusioner ini di Jepang (termasuk PP) selama dua bulan. Rombongan kembali ke tanah air dan mendarat di pelabuhan Tandjoeng Perak Soerabaja pada tanggal 14 Januari 1934. Pada tanggal yang sama, Ir Soekarno diberangkatkan dari pelabuhan Tanjoeng Priok untuk diasingkan ke Flores.

Pada tahun 1934 terjadi keretakan di tubuh NIVU, antara perserikatan Batavia dan Sekitar (BVO) dengan dewan NIVU. Ini bermula dewan VBO meminta mundur dari NIVB (lihat Soerabaijasch handelsblad, 09-12-1933). Catatan: VBO di masa lampau adalah BVB (Bataviasche Voetbalbond) suatu bond pertama di Batavia (dibentuk tahun 1906). Pada tahun 1913 (menjelang kerjuaraan kota) BVB dilikuidasi seiring dengan terbentuknya WJVB (West Java Voetbalbond). Namun dalam perkembangannya, Batavia dipisahkan dari WJVB dengan dibentuknya perserikatan Batavia dan sekitarnya, Voetbalbond Batavia en Omstreken (VBO). Hal serupa ini terjadi di Medan, yang awalnya bernama perserikatan DVB (Deli Voetbalbond) kemudian dilikuidasi seiring dengan dibentuknya OSVB (Oostkust van Sumatra Voetbalbond).


Perseteruan di tubuh NIVU tidak memiliki dampak besar di perserikayn OSVB di Medan. Salah satu klub pribumi di Medan yang berpartisipasi dalam kompetisi OSVB adalah Sahata VC. Pengurus inti klub ini adalah Abdoel Hakim Harahap (anggota gemeenteraad Medan) dan Dr Djabangoen, dokter di rumah sakit kota di Medan. Mereka berdua juga merangkap pemain (salah satu pemain adalah K Panggabean). Pada tahun 1933 di Batavia didirikan klub Bataksche Voetbal Vereenging disingkat BVV (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-02-1933). Sebagai ketua JK Panggabean, wakil ketua Phonphon Harahap dan sekretaris R Harahap. BVV kemudian berpartisipasi dalam VBO. Catatan: Abdoel Hakim Harahap kelak menjadi Residen Tapanoeli, Wakil Perdana Menteri RI di Jogjakarta, Gubernur Sumatra Utara dan Menteri Negara Pertahanan. Abdoel Hakim Harahap lulus HBS di Prins Hentrik School di Batavia (sekolah dimana juga Mohamad Hatta).

Setelah deadlock diantara NIVB dan BVO, lalu kemudian muncul pihak-pihak lain yang berafialasi dengan NIVU untuk menengahi perselisihan. Apa yang menyebabkan BVO protes terhadap kepengurusan NIVU kurang terinformasikan. Di kompetisi VBO, selain klub orang Batak juga ada klub orang Ambon. Apakah karena ada klub-klub pribumi di VBO yang membuat dewan NIVU keberatan, tidak diketahui secara pasti. Yang jelas ajakan NIVU agar PSSI bekerjasama dengan NIVU tidak pernah terealisasi.


Dewan perserikatan BVB Bandoeng memutuskan untuk meminta rapat umum mendesak Ned. Ind. Voetbal Bond (NIVB), untuk mencoba sekali lagi menyelesaikan konflik Persatuan Sepakbola Batavia dan Sekitarnya (VBO) dengan NIVB (lihat Soerabaijasch handelsblad, 01-02-1934). Dewan di Bandoeng berpendapat bahwa bagaimanapun juga Batavia harus dimasukkan lagi dalam konteks N1VB. Batavia harus hadir pada rapat umum ini. Juga disebutkan konflik antara BVB dengan UNI, dimana selain dewan OVC, Sparta di Bandoeng, meminta walikota Bandoeng sebagai perantara dalam perselisihan yang muncul antara Bandoengschen Voetbal Bond (BVB) dan SV UNI. Sementara itu dibahas oleh Soekaboemischen VB, Selasa malam lalu, Persatuan Sepak Bola Soekaboemisch mengadakan pertemuan untuk membahas konflik antara VBO dan NIVB. Setelah diskusi panjang, mosi berikut disahkan: SVB. dalam pertemuan luar biasa Selasa, 30 Januari 1934, setelah mendengar diskusi tentang perselisihan yang sedang berlangsung antara NIVB dan VBO sehubungan dengan situasi SVB.: Menyesali pengunduran diri VBO dari NIVB, menyesali penangguhan VBO, yang diucapkan pertemuan umum NIVB di Bandoeng pada tanggal 24 Desember 1933 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 01-02-1934). Lalu konflik yang berlarut-larut akhirnya berujung dengan inisiatif BVO (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-06-1935). Disebutkan setelah pertemuan yang dipimpin ketua VBO, dimungkinkan untuk segera melanjutkan ke dasar organisasi puncak yang sangat diinginkan yang diberi nama Ned. Ind. Football Union, atau disingkat NIVU.             Tujuan dari pendirian organisasi puncak yang baru ini, sebagaimana telah disebutkan di atas, adalah untuk mencoba mempromosikan persatuan di dunia sepak bola Hindia Belanda.

Dalam situasi dan kondisi konflik di tubuh NIVB, PSSI tetap dengan agenda tahunannya yakni melaksanakan kompetisi kejuaraan antara perserikatan (bond) di bawah naungan PSSI. Seperti biasa segera berakhir kejuaraan akan diadakan Kongres PSSI. Kejuaraan dan kongres itu akan diadakan di Semarang pada bulan Juni 1935. Perserikatan pribumi diam-diam dan percaya diri mengikuti jalannya sendiri, tidak terlibat dalam semua pertengkaran (di NIVU), tetapi tetap focus dalam pengembangan sepak bola pribumi.


Pada tahun 1927 seluruh cabang OSVIA digabungkan menjadi MOSVIA (Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren) yang diipusatkan di Magelang. Sekolah MOSVIA adalah sekolah pamong pribumi (setingkat SMA). Salah satu siswa yang diterima di sekolah Magelang pada tahun ajaran 1933 adalah Damora Harahap (asal Padang Sidempoean lulusan sekolah MULO di Medan). Temannya juga diterima yakni Moestapa Pane (juga lulusan Medan). Damora menjadi salah satu pemain sepak bola di sekolahnya di MOSVIA Magelang. Damora Harahap adalah pemain klub pribumi di Megelang. Pada tahun 1935 kesebelasan (tim) Magelang masuk ke putaran final kejuaraan PSSI di Semarang.

Kejuaraan PSSI di Semarang diikuti empat tim dari empat wilayah (Batavia, Semarang, Bandoeng dan Soerabaja). Di dalam pemberitaan disebutkan Tjipto dari Meester Cornelis (region Batavia_, Jazid dari Solo (region Semarang) dan Damora Harahap dari Magelang (region Bandoeng) termasuk diantara para bintang. Kejuaraan di Semarang ini dilakukan pertandingan setengah kompetisi. Susunan pemain Magelang, Meestere Cornelis dan Solo (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 10-06-1935). Damora tak tergantikan di tim Megalang. Yang menjadi juara adalah Meester Cornelis, sedangkan pemain terbaik adalah Damora Harahap dari Megelang.


De locomotief, 12-06-1935: ‘Perserikatan pribumi. Kongres Kelima PSSI. Di gedung Sobo-Kartti di Karrenweg, resepsi perserikatan nasional sepak bola pribumi “Persarikatan Sepakraga Seloeroeh Indonesia”, berlangsung pada Sabtu malam. Aula dipenuhi para undangan dan anggota kongres, banyak dari mereka adalah wanita. Puluhan perwakilan dari berbagai asosiasi hadir. Pukul setengah delapan acara penyambutan dibuka dengan kata sambutan dari ketua panitia Dr Roesli. Lalu pelantikan kemudian diberikan kepada ketua serikat yang terpilih kembali, Ir Soeratin dari Jogja. Ir Soeratin memberikan sambutan pembukaannya. Dia mengenang pembentukan dan kegiatan serikat pekerja yang didirikan di Jogja pada April 1930. Saat ini serikat memiliki 19 cabang. PSSI berjuang untuk kerja sama dengan serikat lain dari semua negara; tetapi kerja sama itu harus didasarkan pada penghargaan yang sama. Asosiasi berorientasi nasional, tetapi mengakui bahwa olahraga adalah milik komunitas internasional. Pembicara mencatat dengan senang hati bahwa kerjasama yang diinginkan di Semarang sangat baik, dan tentunya menjadi contoh bagi tempat-tempat lain. Ir Soeratin kemudian memberikan rangkuman singkat dalam bahasa Belanda kepada para hadiran orang-orang Belanda. Kesempatan kemudian diberikan kepada berbagai perwakilan untuk berbicara. Minuman kemudian disajikan sementara gamelan dan orkestra dimainkan secara bergantian. Resepsi yang sukses ini berakhir pada tengah malam. Pada Senin malam, diadakan malam perpisahan di gedung Sobo-Kartti, dimana piala dan medali diberikan. Dalam pidato pembukaannya, presiden federasi Ir Soeratin mencatat dengan senang hati bahwa pertandingan-pertandingan sebelumnya bisa disebut sukses. Sekretaris membacakan keputusan-keputusan yang diambil dalam kongres tersebut. Keputusan yang diambil adalah sebagai berikut: a. kerjasama antara PSSI dan NIVB tidak dibahas; b. tidak ada keberatan untuk mengizinkan asosiasi dari negara lain untuk bergabung sebagai anggota luar biasa; c. perluasan organisasi ke cabang lainnya:; d. mengeluarkan manual untuk wasit; e. untuk membagi kompetisi menjadi empat divisi mulai sekarang; f. pengurus terpilih kembali dengan kedudukan di  Jogja; g. untuk mengadakan kompetisi kota berikut di Bandoeng. Setelah itu, berbagai piala dan medali diberikan. HH Pangeran Soerjohamidjojo mengucapkan kata-kata penghargaan kepada para pemain Solo. Medali emas pemain terbaik turnamen ini dianugerahkan kepada Damora, poros Magelang.

Sebelum penutupan, pasca kejuaraan dan sementara para pengurus perserikatan dan PSSI melakukan kongres dibentuk tim nasional (timnas) PSSI untuk melawan tim tamu dari federasi sepak bola kantor (SKVB). Dalam susunan pemain nasional PSSI ini nama Damora juga termasuk dalam line-up. Ini mengindikasikan Damora di dalam tim Magelang tidak tergantikan juga menjadi bagian dari tim nasional. Tentu saja ini akan melengkapi prestasinya di Semarang yang telah mendapat gelar pemain terbaik. Di tim nasional Damora tetap di posisinya sebagai poros.


Nama-nama pemain tim nasinal PSSI adalah Soebomo, Achmad, Wongso, Damora (Magelang), Lenzi, Kasbi, Soegiro, Asmah (Magelang), Ngali, Doelaila dan Waglis. SKVB adalah perserikatan klub perkantoran (pemerintah dan swasta) yang terdapat di beberapa kota seperti di Batavia, Semarang, Soerabaja dan Bandoeng serta di Medan. SKVB di berbagai kota ini membentuk federasi nasional sendiri dengan nama yang sama. Salah satu pengurus SKVB di Soerabaja adalah Radjamin Nasoetion.

PSSI sejauh yang rterinformasikan baru pada tahun 1935 ini membuat susunan tim nasional. Hal ini boleh jadi setelah tahun kelima, PSSI baru menemukan bentuknya, selain jumlah bond yang semakin banyak (19 bon) juga perang dingin dengan NIVU juga belum mencair. PSSI ingin menunjukkan telah memiliki tim nasional.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Damora Harahap dan Achmad Nawir: Siapa Lagi Nama Pemain Sepak Bola Terkenal Era Hindia Belanda?

Pada kejuaraan PSSI tahun 1935 di Semarang pemain terbaik adalah Damora Harahap. Itu jelas membuat Damora bangga tetapi tidak melupakan sekolahnya di Magelang. Tujuan merantau ke Jawa di Magelang adalah sekolah. Medali emas pemain terbaik hanyalah sekadar bonus kehidupan. Banyak pemain berprestasi gagal menyelesaikan studi. Tidak untuk Damora Harahap. Seperti kita lihat nanti salah satu pemain terbaik Indonesia adalah Achmad Nawir yang juga tidak mengabaikan studi yang sedang berjalan. 


De locomotief, 10-06-1936: ‘Eindexamen Mosvia. Di Gedung Mosvia di aloen-aloen Magelang diadakan ujian akhir dari tanggal 3 hingga tanggal 9 Juni yang mana gagal satu siswa dan yang lulus sebanyak 31 siswa termasuk Damora Harahap. Daftar lengkapnya sebagai berikut: M. Mohamad Hasan, Ali Hasan, Sjarif, S. Damora Harahap, Moestafa Panei, Mohamad Hasan, Zainoeddin, A. M. Hamzah,1 M. Soelaeman, Léla Panei, Radja Abdoel Hamid, R. Tatang, R. Soejoedono, R. Djoemadjitin, R. Soelaeman, Toebagoes Iskandar, R. Samsoedin, R. Tachja, R. Iskandar, M. Warmana, R. Hirawan, M. Soehéba,.R. Hidajat, M. Djokosoebeti, R. Arjo Roeslan Tjakraningrat, R. Harmaen Wiratanoeninigrat, R. Absar, R. Kamar, R. Sasidi, R. Saléh, R. M. Koensoehardjito.

Setelah lulus MOSVIA, apakah Damora Harahap kembali ke kampong dan bertemu keluarga di Medan? Bukankah di Jawa PSSI sangat aktif berkompetisi? Damora harus kembali ke Medan, sebab semua siswa sekolah MOSVIA adalah ikatan dinas yang dikirim dari berbagai daerah di Hindia Belanda. Damora Harahap ditempatkan di pemerintah kota (gemeente) Medan.


Di Medan Damora tidak kesulitan menemukan klub, sebab di Medan sangat banyak klub sepak bola. Damora diketahui masuk klub Sahata. Dalam pertandingan melawan klub Cina (MCVC) di kompetisi OSVB tim Sahata kalah (lihat Deli courant, 08-11-1937). Dua klub ini adalah klub tua di Medan. Kedua klub ini didirikan tahun 1907 dengan nama Chinese Sportclub dan Tapanoeli Voetbalclub. Disebutkan MCVC menang 3-1 melawan Sahata Pertandingan MCVC vs Sahata yang berlangsung kemarin di Kebon Boenga di atas lapangan yang licin namun bukan berarti tidak bisa dimainkan, diakhiri dengan kemenangan tak terduga bagi pemain Cina yang mencetak dua gol beruntun di menit-menit terakhir pertandingan. berjuang untuk mencetak gol, mengalahkan ekspektasi dari banyak penonton bahwa pertemuan akan berakhir seri. Sahata memainkan permainan yang bagus dimana penyerang tengah Damora, pemain di Jawa yang terkenal, tampil menonjol karena penempatannya yang bersih dan sundulannya yang luar biasa’.

Nama Damora di Medan menjadi jaminan mutu. Rupanya para gibol di Medan sudah mengetahui kemampun Damora selama di Jawa ‘penyerang tengah Damora, pemain di Jawa yang terkenal’. Tampaknmya klub Sahata kecolongan di injury time sehingga kalah. Namun dalam pertandingan-pertandingan berikutnya Sahata sangat ngontot. Belajar dari kekalahan melawan MCVC. Dalam pertemuan dengan salah satu tim kuat di OSVB yakni MSV, Sahata menang dengan skor 2-4 (lihat De Sumatra post, 20-12-1937). Catatan: MSV adalah klub orang Belanda tertua di Medan didirikan tahun 1898. Kompetisi OSVB tahun 1937 ini di divisi utama diikuti Sembilan klub.


Disebutkan lebi lanjut ‘…dan meraih kemenangan yang memang pantas atas tim MSV. Seperti yang diharapkan, Kebon Boengaveld adalah—lapangan olahraga kota! — setelah hujan pada Sabtu malam dan meskipun matahari cerah pada hari Minggu, satu genangan lumpur. Oleh karena itu, terjadi perosotan penting di sana pada Minggu sore, akibatnya kedua tim tidak dapat sepenuhnya mengembangkan permainan mereka. Untungnya, pemerintah kota akan membangun lapangan olahraga baru, tetapi selama ini belum siap, olahraga harus tetap dilakukan di lapangan yang dikeringkan dengan buruk ini! MSV bermain dengan pemain pengganti, yang bermain di lapangan sayap kanan. Terlihat bahwa MSV, pemain sayap kiri pencetak gol itu Goerdi tidak memiliki harinya kemarin dan menyia-nyiakan banyak peluang dengan menendang bola keluar setiap saat, berdiri dalam posisi yang baik. Garis tengah Sahata dan barisan belakang bermain jauh lebih baik. Hal ini memungkinkan barisan depan untuk bermain dengan kekuatan penuh dan tidak harus membuat satu pemain — biasanya Harahap — mundur untuk membantu pertahanan. Sangat menyenangkan melihat bagaimana semuanya berjalan lancar di garda depan Sahata kemarin. Orang besar di dalamnya adalah Damora Harahap, penyerang tengah, yang distribusi permainan dan sundulannya apik. Dia juga secara taktik sangat bagus…’.

Pada saat Damora Harahap mulai onfire di Medan dengan klub barunya Sahata, pada tahun 1937 ini FIFA telah mengumumkan persiapan Piala Dunia yang akan diadakan di Prancis pada bulan Juni 1938. Indonesia (baca: Hindia Belanda) akan melakukan prakualifikasi dengan klub sesama zona Asia (Jepang). Pemenangnya akan melakukan playoff antara pemenang playoff antara Argentina (zona Amerika Selatan) dan Amerika Serikat (zona Amerika Utara). Apa reaksi Damora Harahap? Dalam perkembangannya NIVU hanya menyeleksi tim nasional di Jawa. Damora gigit jari tampaknya.


Dalam jeda kompesisi OSVB di Medan diadakan turnamen ‘Om den Juliana Beker’. Damora dan klubnya Sahata menjadi juara (lihat Deli courant, 03-02-1938). Disebutkan final dibatalkan dengan keunggulan Tapanoeli yang dipertahankan. Lanjut hari ini. Dengan penuh minat final pertandingan untuk Juliana Beker berlangsung kemarin sore di Kebon Boenga, yang dimainkan antara Tapanoeli Swallows dan Lie Tji Hui. Akibat hujan lebat, pertandingan harus dihentikan delapan belas menit sebelum pertandingan berakhir dengan skor 3-0 untuk Swallows. Tim Tapanoeli, kombinasi dari Sahata dan Deli Mij dan hanya terdiri dari pemain Batak, membentuk satu kesatuan yang homogen. Gol-gol tersebut dicetak oleh Willy, Damora dan Arifin sebelum jeda. Hari ini diputuskan untuk memutar ulang paruh kedua pertandingan ini, dengan keunggulan Tapanoeli dipertahankan’.

Hasil seleksi timnas NIVU di Jawa di bawah pelatih Mastenbroek, melalui tournament dipanggil sejumlah pemain untuk mengikuti pelatihan dan uji coba. Pada fase keberangkatan menuju pemusatan latihan juga akan diadakan di Medan, Nama-nama pemain tim Indonesia yang berangkat ke Prancis sudah ditetapkan sebanyak 17 pemain. Surat kabar De Indische courant, 12-04-1938 memberitakan bahwa secara aklamasi Achmad Nawir ditunjuk menjadi kapten tim dan Rohrig sebagai wakil kapten (lihat De Indische courant, 19-04-1938).


Sebelum berangkat ke Eropa, tim NIVU akan memainkan pertandingan terakhir di Batavia pada hari Minggu siang 24 April di lapangan BVC melawan "sisa" Batavia. Tim NIVU: Mo Heng (Malang), Samuels (Surabaya), Anwar (Batavia), Nawir (Soer.), Taihutu (Batavia), Patiwael (Batavia), Hong Djien (Soer.), Hukom, F Meeng, Tan See Han, Summers. Cadangan: Van Beuzekom (Batavia), Harting (Surabaya), Van der Burj (Djocja), Faulhaber (Semarang), Sudarmadji (Surabaya) dan Telwe (Surabaya). Hasil pertandingan di Batavia berakhir dengan skor 4-1 (2-0) untuk kemenangan Tim NIVU melawan tim Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-04-1938).

Akhirnya Tim Indonesia berangkat dan memulai perjalanan panjang ke Eropa, dari Batavia tanggal 27 April 1938. Persinggahan pertama dilakukan di Medan. Di Medan, Tim Indonesia melakukan pemusatan pelatihan terakhir di tanah air sebelum menuju Eropa. Pada tanggal 30 April di Medan melakukan uji coba melawan sebuah tim bentukan yang terbilang kuat yang merupakan kombinasi para pemain terbaik di Medan dan sekitarnya. Apakah Damora Harahap akan bentrok dengan Achmad Nawir?


Di Medan oleh dewan OSVB telah membentu dua tim untuk menghadapi tim nasional NIVU (lihat Deli courant, 22-04-1938). Damora Harahap termasuk pemain OSVB yang dipanggil untul melawan timnas. Kedua tim OSVB sudah melakukan uji coba dengan lawan-lawannya sebelum kehadiran timnas.

Dalam pertandingan, Tim Indonesia dapat memainkan partai indah dalam pertandingan itu, tetapi hanya mampu menang 4-2 (lihat De Sumatra post, 02-05-1938). Disebutkan kedua tim berimbang yang membedakan hanya skor. Pelatih berdalih itu hanya sekadar latihan, apapun hasilnya tidak masalah. Hasil di Medan ini tidak terlalu diperhitungkan, tetapi tujuan utama lebih pada mendapatkan gambaran yang baik dari apa yang dapat selama pemusatan latihan sebelumnya di Soerabaja dan Batavia serta hasil partai uji coba di Bandung melawan klub Bandung tanggal 13-3-1938. Sementara itu Soedarmadji begitu kagum dengan permainan Medan.


Tujuh belas pemain dipilih dari (hanya) tiga perserikatan di Jawa yang terdiri dari delapan orang Belanda, tiga orang Ambon, dua orang Sumatra, satu orang Jawa dan tiga orang Tionghoa (lihat Soerabaijasch handelsblad, 25-05-1938). Jika hanya disebut satu orang Jawa itu berarti adalah Soedarmadji. Lantas siapa dua orang Sumatra. [Soetan] Anwar telah diklaim sebagai orang Minangkabau. Satu lagi sudah tentu yang dimaksud adalah Achmad Nawir. 

Lantas siapa Achmad Nawir? Darimana asalnya di Sumatra? Apakah Achmad Nawir berasal Padang Sidempoean, sekampong dengan Damora Harahap? Nama Mohamad Nawir muncul ke publik kali pertama ketika diumumkan siswa-siswa yang lulus kelas satu di sekolah Koning Willem III School di Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-05-1925). Nama Mohamad Nawir baru muncul kembali pada tahun 1930 (lihat De Indische courant, 28-05-1930). Disebutkan Mohamad Nawir naik dari kelas satu ke kelas dua di Nederlandsch Indie Arts School (NIAS) di Soerabaja. Mohamad Nawir satu kelas antara lain Abdoel Soekoer, P. Dalimoenthe, Djapar Siregar. Ph. Napitoepoeloe.


Dari penelusuran surat kabar sejaman, nama Nawir tidak ditemukan di Jawa atau pulau-pulau lain.  Yang agak mirip adalah nama Nawi yang banyak ditermukan di Batavia. Di Sumatra orang yang menggunakan nama Nawir hanya ditemukan di Tapanoeli. Salah satu nama yang ditemukan menggunakan nama Nawir adalah Nawir Harahap, seorang anggota dewan kota (gemeenteraad) dan seorang Kepala Kantor Regional (lihat De Indische courant, 07-08-1935). Jabatan-jabatan tersebut saat itu di era kolonial Belanda adalah jabatan bergengsi. Oleh karena itu Nawir Harahap (jika memiliki anak) jelas memiliki kemampuan finansial untuk menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Nama Nawir Harahap terakhir terdeteksi di Sibolga tahun 1948 (lihat Nieuwe courant, 23-09-1948). Disebutkan sejumlah orang republiken ditangkap (pada era agresi militer Belanda). Mereka itu adalah Mr. [Abdoel] Abas [Siregar], Kapitein Siregar, Majoor Siahaan, Luitenant Kolonel Sitompoel, Majoor [Maraden] Panggabean, Dr. Amir Husein Siagian, Dr [Ferdinand] Lumban Tobing, Nawir Harahap, Mr. Humala Silitonga dan lima orang TNI. 

Lantas apakah Mohammad Nawir atau Achmad Nawir berasal dari Tapanoeli? Mungkin hanya mengada-ada untuk mepertanyakan apakah Mohamad Nawir atau Achmad Nawir adalah anak dari Nawir Harahap. Ini hanyalah sekadar bertanya dan tetap menjadi suatu pertanyaan. Saat ini, hanya keluarganya yang mengetahuinya siapa Achmad Nawir.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar