Laman

Kamis, 09 November 2023

Sejarah Catur (11): Pecatur Arab Indonesia Era Hindia Belanda; Klub Catur Soerabaja Schaakclub dan Noer Ichwan Schaakclub


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Catur dalam blog ini Klik Disini

Apakah catur haram? Itu di Arab pada masa ini. Yang jelas di Indonesia sejak era Hindia Belanda dianggap ok-ok saja. Orang Arab sendiri di Indonesia pada era Hindia Belanda banyak yang bermain catur. Bahkan di Soerabaja ada klub catur yang anggotanya adalah orang Arab. Konon nama catur sendiri disebut asal usul dari nama satoer (Batak), tjatoer (Hindustan), schach (Parsi) dan melalui bahasa Arab, di Eropa disebut schack (Jerman), schaak (Belanda) dab chess (Inggris).


Catur Diharamkan di Arab Saudi, Ulama Indonesia Tak Setuju. Clara Maria Tjandra Dewi H. Jumat, 22 Januari 2016. Tempo.co, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan catur hukumnya hanya makruh dan tidak perlu difatwakan haram. Wakil Sekretaris Jenderal MUI Tengku Zulkarnaen mempersilakan bila ulama di luar negeri memfatwa haramkan catur. Tengku mengatakan dalam Islam segala kegiatan harus ada manfaatnya, harus produktif. Menurut dia, catur tidak produktif dan hanya membuang-buang waktu. “Siapa bilang catur olahraga asah otak, emang abis main catur dia jadi ilmuwan dan tau-tau bisa bikin pesawat terbang,” ujar Tengku dengan bercanda. Tengku mengatakan catur tidak akan difatwakan haram di Indonesia. Namun hukum makruhnya juga tidak dapat dihilangkan karena sifat permainannya yang sangat membuang-buang waktu. Sebelumnya, ulama Arab Saudi, Abdulaziz al-Sheikh, menilai permainan catur cenderung seperti musik yang masuk dalam kategori kejahatan ringan. Presiden Komite Hukum Asosiasi Catur Saudi Musa bin Thaily mengatakan fatwa larangan catur itu belum memiliki efek hukum. (https://nasional.tempo.co/)

Lantas bagaimana sejarah pecatur Arab di Indonesia era Hindia Belanda?  Seperti disebut di atas, orang Arab juga bermain catur, termasuk yang ada di Indonesia sejak era Hindia Belanda. Di Soerabaja ada nama klub catur Soerabaja Schaakclub dan Noer Ichwan Schaakclub. Lalu bagaimana sejarah pecatur Arab di Indonesia era Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Pecatur Arab di Indonesia Era Hindia Belanda; Klub Catur Soerabaja Schaakclub dan Noer Ichwan Schaakclub 

Klub Catur Soerabaja Schaakclub didirikan 18 November 1896 (lihat Soerabaijasch handelsblad, 09-01-1897). Soerabaja Schaakclub adalah klub catur tertua di kota Soerabaja, Klub ini bermula dari pertemuan catur mingguan yang dimulai oleh FCE Bousquet, SJ Veenstra dan MF Onnen pada bulan Desember 1894 - bergantian di rumah masing-masing. Lalu kemudian pada bulan Oktobe4 1896 diadakan turnamen 11 pemain. Seusai turnamen didirikan klub catur oleh 14 anggota yang mana memilih Bousquet sebagai ketua dan KAB Zorn sebagai sekretaris. Itulah awal mula permainan catur di Soerabaja, dan dari situ pula terbentuk klub catur di Soerabaja..


Di afdeeling Loemadjang paling tidak tahun 1883 sudah terinformasikan klub catur Bloote-Pooten-Club’. Pada tahun 1883 ini di Padang didirikan klub catur. Klub catur (schaakclub) E2—E4 paling tidak sudah terinformasikan di Medan pada tahun 1889. Klub catur di Semarang paling tidak sudah terinformasikan 1890. Lantas bagaimana dengan di Batavia? Yang jelas seperti disebut di atas pada tahun 1896 di Soerabaja didirikan Soerabaja Schaakclub. Pada tahun 1898 di Batavia diinformasikan diadakan pertandingan catur antara Soerabajasche Schaakclub dengan Bataviasche Schaakclub.

Dalam perkembangannya, Soerabajasche Schaakclub tidak hanya beranggotakan orang Eropa/Belanda, juga sudah ada yang non Eropa/Belanda pada tahun 1912 bernama Hadji Aesjad. Setelah empat tahun Hadji Arsjad tidak berpartisipasi lagi. Namun setelahnyta muncul nama baru di Soerabajasche Schaakclub yang bernama Hadji Amin (liht Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 23-02-1916). Kedaa non Eropa/Belanda ini di Soerabajasche Schaakclub sama-sama bermain di kelas kedua. Keduanya adalah orang Jawa tidak bisa berbahasa Belanda.


Selama ini pemain catur non Eropa/Belanda yang cukup dikenal adalah Si Narasar yang pernah mengalahkan juara catur Medan pada tahun 1910. Pada tahun 1913 melakukan tur ke Jawa antara lain di Bztavia, Megelang, Jogjakarta dan Semarang. Pada tahun 1816 Si Narsar kembali melakukan tur ke Jawa ternasuk ek kota Soerabaja. Pada tanggal 23 dan 26 Desember 1916 disebutkan pertandingan antara Si Narsar dengan D Bleykmans dilangsungkan di Soerabaja yang keduanya dimenangkan oleh jagoan Soerabaja tersebut.

Soerabajasche Schaakclub sejauh ini dapat dikatakan klub catur yang terbesar di Hindia Belanda. Pada tahun 1917 buku peringatan kelahiran klub Soerabajasche Schaakclub yang ke-20 (Nov 1896-1816). Bukuini juga dikirim ke sejumlah surat kabar (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-10-1917). Dalam buku ini juga termasuk analisis dua pertandingan antara Si Narsar dan D Bleykmans.


Seperti disebut di atas, salah satu pamain Soerabajasche Schaakclub yang non Eropa/Belanda adalah Hadji Amin. Si Narsar sendiri dari Tanah Karo bukan anggota klub catur di Medan, hanya sebagai lawan dalam pertandingan. Di Batavia sudah ada dua klub pribumi darilingkungan Pendidikan yakni Stovia Schaakclub dan Revhtschool Schaakclub. Diduga klub Weltevreden juga memiliki anggota non Eropa/Belanda. Lalu bagaimana dengan pemain catur Cina dan pemain catur Arab?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Klub Catur Soerabaja Schaakclub dan Noer Ichwan Schaakclub: Catur di Soerabaja Masa ke Masa

Dinamika catur di Soerabaja dan keberadaan klub catur Soerabajasche Schaakclub dapat dikatakan menjadi latar belakang munculnya pemain catur di antara kalangan orang Arab. Itu dimulai dengan partisipasi seorang pemuda Arab Achmad Baswedan yang turut berpartisipasi di dalam komunitas catur di Soerabaja. Achmad Baswedan kemudian tidak hanya masuk klub catur Soerabajasche Schaakclub juga kelak menjadi salah satu pemain andalan di dalam klub.


Tidak seperti kumunitas Cina yang tersebar di seluruh Hindia Belanda, komunitas Arab sudah sejak lama diketahui cukup banyak di wilayah Oost Java termasuk di kota-kota Sumenep, Pamekasan, Pasoeroen dan kota Soerabaja. Pada tahun 1911 di Soerabaja sudah didirikan organisasi kebangsaan yang diberi nama Moeratoel Ichwan (lihat De Preanger-bode, 29-11-1911). Salah satu diantara marga Arab di Hindia adalah Baswedan, paling tidak sudah diberitakan pada tahun 1905 (lihat Soerabaijasch handelsblad, 08-08-1905). Pada tahun 1913 di Soerabaja sudah dibentuk asosiasi perdagangan kecil orang Arab (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 16-01-1913). Nama Baswedan baru muncul di pemberitaan pada tahun 1913 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 04-04-1913). Disebutkan seorang Arab, (Ibrahim Ali) Baswedan di land Bagong di (selatan) Goebeng akan membangun di lahan tersebut pemukiman Eropa. selain membangun rumah untuk dijual juga dibangun rumah sewaan. Pembangunan perumahan ini diharapkan agar warga Eropa di kota lama dapat mencari tempat hunian di bagian kota yang baru dan lebih sehat. Dalam perkembangannya, di land Bagoeng yang sudah dibangun beberapa rumah untuk dijual namun untuk pengembangan lahan lebih lanjut tidak mudah karena ada tantangan tersendiri dari penduduk pribumi (lihat De Preanger-bode, 06-07-1915). Seperti disebut di atas, keberadaan orang Arab di Soerabaja sudah lama diketahui, dan berdasarkan sensus penduduk 1920 di wilayah Soerabaja terhitung orang Arab sudah ribuan banyaknya.

Pada tahun 1926 salah satu pemuda Arab, Achmad Baswedan diketahui telah berpartisipasi dalam kejuaraan catur di Soerabaya (lihat De Indische courant, 03-04-1926). Sebagaimana diketahui, Achmad Baswaden pada tahun 1926 naik dari kelas satu ke kelas dua MULO di Soerabaja (lihat De Indische courant, 16-05-1923), Beberapa bulan kemudian Achmad Baswedan diketahui sudah menjadi anggota klub catur Soerabaja Soerabajasche Schaakclub (lihat De Indische courant, 18-10-1926).


Achmad Baswedan anggota tim Soerabaja melawan tim Malang (lihat De Indische courant, 02-02-1927).

Ali Baswedan (nama sebelumnya Achmad Baswedan) terus aktif di dunia catur. Tampaknya Ali Baswedan tidak lagi berada di klub Soerabajasche Schaakclub (SSC), tetapi diduga telah menginisiasi pembentukan klub catur diantara para komunitas Arab. Achmad Baswedan adakalanya menggunakan nama lain yakni Ali Baswedan (merujuk pada nama kakeknya).


Sementara itu diantara komunitas Cina sudah terbentuk sebelumnya klub-klub catur dan pada tahun 1929 telah diadakan Kejuaraan Catur Cina se Jawa yang berlangsung di Salatiga pada tanggal 20 dan 21 Mei yang mana pemenangnya adalah The Hong Oe dari Djocja, setelah mengalahkan Tan Hien Yan dari Surabaya (lihat Soerabaijasch handelsblad, 25-05-1929).

Nama klub catur komunitas Arab yang didirikan di Soerbaja diberi nama Noer Ichwan (Cahaya Saudara Laki-Laki). Namun kapan klub itu dibentuk tidak diketahui secara pasti Yang jelas pada bula Juli Ali Baswedan masih menjadi bagian klub catur Soerabajasche Schaakclub ketika menghadapi tim catur kombinasi Lawang/Malang di Lawang (lihat Soerabaijasch handelsblad, 06-07-1929).


Di kota Soerabaja klub catur terkuat masih dipegang oleh Soerabajasche Schaakclub (hampir semuanya orang Belanda). Tentu saja bukan tidak bisa dikalahkan. Salah satu klub yang mampu mengalahkan klub SSC adalah klub Borneosche SC (lihat Soerabaijasch handelsblad, 29-06-1929). Disebutkan dalam pertandingan yang diadakan di Soerabaja SSC kalah dengan skor 5-10. Dalam pertandingan ioni masih ada nama Ali Baswedan. Tidak diketahui dimana homebase Borneosche Schaakclub apakah di Soerabaja atau di Bandjarmasin. 

Di Soerabaja sendiri tidak hanya klub Soerabajasche Schaakclub (SSC) yang juga banyak dihuni pemain catur Belanda, juga ada nama klub catiur Zwarte Koning. Klub baru ini anggotanya berbagai bangsa, ada Eropa/Belanda, ada Cina dan ada pribumi bahkan ada perempuan.


Dalam suatu pertandingan antara SSC mampu mengalahkan Zwarte Koning secara beregu dengan skor 14-10 (lihat Soerabaijasch handelsblad, 08-03-1930). Pertandingan dapat dikatakan pertandingan klosal. Dalam susunan pemain Zwarte Koning ada nama-nama PS Tan, T Tj King, Mevr.Lumowa, TK Tjwan, HB Tjwan. Dalam pertandingan ini nama Ali Baswedan masih bagian dari SSC.

Pada bulan Apro 1930 NISB menyelenggarakan kompetisi catur (lihat Soerabaijasch handelsblad,, 26-04-1930). Kompetisi di bagi ke dalam kelas utama, kelas aspiran utama (dua grup), kelas satu (empat grup), kelas dua dan kelas tiga masing-masing dua grup.


Nama-nama dalam kelas utama terdiri dari Hadji Ali, DJ Guykens, TS Kwik dan AW Hamming. Nama Hadji Ali sudah lama tidak terinformasikan di klub SSC. Dimana Sekaran klub Hadji Ali? Yang jelas bahwa telah menggambarkan peta kekuatan pemain catur tidak lagi berada diantara pecatur Belanda, juga ada pemain pribumi dan pemain Cina (TS Kwik dari Solo). Ali Baswedan dalam kompetisi NISB di kelas aspiran. Dalam kelas juga ada nama Hadji Hoesein dan Hadji Massoem.Dkafar Lokman dan Tan Hien Yan. Namun tidak diketahui apakah Ali Baswedan masih di klub SSC.

Perkembangan catur di Hindia Belanda sudah menunjukkan menyeberan yang menyerluruh; tidak lagi diantara orang Belanda di berbagai kota, juga diantara orang pribumi, Cina dan Arab. Pada masa awal klub pribumi masih diantara para siswa dan mahasiswa, tetapi sudah bersifar umum seperti klub catur pemuda Jong Batak di Batavia tahun 1926, klub orang Cina, klub orang Borneo (Borneosch Schaakclub) dan kemudian disusul klub orang Arab.


Pada tahun 1930 juara catur Belanda Dr MaxEuwe melakukan tur ke Hindia (lihat Algemeen Handelsblad, 21-08-1930). Disebutkan d\alam kunjungan pertama, Euwe di Medan, juara catur Belanda ini mendapat lima kemenangan dan sekali imbang. Dalam pertandingan yang dilangsungkan di Medan, 20 Agustus. Dr Max Euwe, juara catur Belanda, yang di sini tiba untuk membuat tur catur di Hindia Belanda untuk suatu konsultasi dan juga melakukan pertandingan eksebisi melawan trio pemain terkuat Medansche Schaakvereeniging, Mr. Lantzius, Meurs dan Basoeki. Selain tiga itu, Dr. Euwe juga melakukan pertandingan eksebisi terhadap tiga pecatur terkuat Batak. Dr. Euwe memenangkan lima partai dan bermain sekali imbang dalam melawan maestro pecatur asal Tanah Batak bernama Si Tomboek (5 1/2 - 1/2 untuk Euwe). Pada hari berikutnya, Dr. Euwe melakukan pertandingan simultan sebagaimana dilaporkan koran Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 22-08-1930 sebanyak 36 partai sekaligus, 34 partai dengan kemenangan, dan lagi-lagi, dua anak Batak dengan hasil remis (tidak disebutkan apakah Si Prang, Si Hoekoem, atau Si Toemboek). Sementara itu di Batavia, klub catur ‘Satur Batak’ telah didirikan di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-12-1931).

Dalam perkembangannya, klub catur Noer Ichwan termasuk penantang terkuat bagi SSC. Dalam satu pertandingan beregu belum lama ini SSC melawan Noer Ichwan. Klub catur baru Noer Ichwan mampu bersaing dengan SSC tetapi harus puas   dengan kekalahan tipis dari SCS (Soerabajasche Schaakclub) dengan skor 6-4 (lihat Soerabaijasch handelsblad, 19-12-1931). Dalam tim Noer Ischwan terdapat nama Ali Baswedan (permain yang terbilang dibesarkan oleh SSC). Kapan Ali Baswedan keluar dari SSC tidak diketahui secara pasti. Yang jelas Ali Baswedan dalam turnamen NISB tahun sebelumnya diduga kuat masih bagian SSC.


Dalam rapat umum NISB yang diadakan tahun 1932, Satoer Batak sudah menjadi anggota NISB (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 26-03-1932). Disebutkan Nederlandshe Indoschen Schaakbond (NISB) yang dipimpin ketua JH Ritman melangsungkan rapat umum. Pimpinan klub yang hadir antara lain, klub dari Ungaran, Jember dan Lawang; klub Djien Gie Lee Tie Sien dari Surabaya, klub ‘Satoer Batak’ dan klub De Pion dari Batavia; klub Bubble Tower dari Sungei-Gerong; klub Lua Chiao Tsin Nien Hui dari Soerabaya; klub dari Plaju, klub dari Padang, klub Mr. Cornelis (Batavia); klub dari Semarang dan klub dari Bandung serta klub dari Majalengka.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar