Laman

Jumat, 17 November 2023

Sejarah Catur (19): Baris Hutagalung, Juara Kejuaraan Nasional Catur Indonesia 1954; Pertjasi dan Juara PersatoeanTjaturIndonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Catur dalam blog ini Klik Disini

Pada kejuaraan carur Petjasi Indonesia pertama tahun 1953 di Solo yang menjadi juara adalah Arovah Bachtiar dari Bandjarmasin. Pesertanya hanya mewakili perserikatan catur di Jawa Tengah plus Bandjarmasin. Perserikatan-perserikatan kuat di Jawa seperti Djakarta, Bandoeng dan Soerabaja masih perserikatan yang mandiri (independent). Perserikatan Tjatur Indonesia (PTI) (Djakarta) bergabung dengan Pertjasi dimana Baris Hutagalung sebagai sekretaris PTI mewakili kejuaraan Pertjasi Indonesia kedua tahun 1954. Baris Hutagalung menjadi juara.


Baris Hutagalung (lahir 1933) adalah pemain catur terbaik Indonesia 1950-1960-an. FKN Harahap seorang penulis catur mencatatnya sebagai pecatur terbaik Indonesia pada masanya sejajar dengan Tan Hiong Liong (era sebelum PD II) dan GM Ardiansyah (era 1980-an). Kejurnas ke-2 tahun 1954 di Tegal Baris Hutagalung juara dengan poin 11. Runner-up adalah adalah Arovah Bachtiar juara kejurnas sebelumnya. Baris Hutagalung memiliki dendam tersendiri karena pendaftarannya pada kejurnas pertama tahun 1953 ditolak oleh panitia. Padahal saat itu dia adalah pecatur terkuat di Jakarta. Kejurnas ke-3 tahun 1955 di Jakarta Baris Hutagalung menjadi juara. Tiga besar dalam kejuaraan ini Baris Hutagalung, Lim Hong Gie, Max Arie Wotulo adalah orang-orang pertama yang diberi gelar Master Nasional (MN) oleh Percasi. Saat itu Baris baru berusia 22 tahun, Max berusia 21 tahun dan Lim Hong Gie masih siswa SMP Kanisius berusia 15 tahun (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Baris Hutagalung juara Kejuaraan Nasional Catur Indonesia 1954? Seperti disebut di atas Baris Hutagalung adalah juara catur perserikatan Djakarta yang menjuarai kejuaraan Pertjasi Indonesia 1954. Pertjasi dan juara Persatoean Tjatur Indonesia (PTI). Lalu bagaimana sejarah Baris Hutagalung juara Kejuaraan Nasional Catur Indonesia 1954? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Baris Hutagalung Juara Kejuaraan Nasional Catur Indonesia 1954; Pertjasi dan Juara Persatoean Tjatur Indonesia  

Nama Baris Hutagalung sudah terinformasikan di dalam komunitas catur di Djakarta. Pada bulan November 1949 Persatoean Tjatur Djakarta menyelenggarkana kompetisi catur di wilayah federal Batavia/Djakarta yang diikuti delapan klub catur. Baris Hoetagaloeng adalah sekretaris Persatoean Tjatur Djakarta (PTD).


Dalam pembukaan kompetisi catur Djakarta tanggal 23 November, sekretaris PTD Baris Hoetagaloeng menyampaikan nama Persatoean Tjatur Djakarta telah diubah namanya menjadi Persatoean Tjatur Indonesia (PTI). Lebih lanjut Hoetagaloeng berharap agar PTI dibiarkan berkembang menjadi organisasi catur besar yang mencakup seluruh Indonesia dan dengan demikian menjadi organisasi catur nasional Indonesia. yang ingin bergabung dengan Federasi Catur Internasional (FIDE) sebagaimana Federasi Catur Uni Soviet, Federasi Catur AS, Federasi Catur Kerajaan Belanda.

Persatoean Tjatur Djakarta dengan anggota delapan klub secara resmi didirikan pada hari Kamis tanggal 16 Februari 1950 dengan ketua DJ Sihombing (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 17-02-1950). Di wilayah federal (RIS) sudah berdiri wadah catur nasional. Bagaimana dengan di wilayah Republik Indonesia?


Pada masa ini, setelah perundingan KMB, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia sebagai negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang mulai berlaku tanggal 27 Desember 1949. RIS dengan ibu kota di Djakarta terdiri dari negara Republik Indonesia (dengan ibu kota di Jogjakarta) dan negara-negaras federal (yang notabene bentukan Belanda). Para republiken umumnya di wilayah RI, juga ada Sebagian di wilayah negara-negara federal. Perubahan nama perserikatan Persatoean Tjatur Djakarta (PTD) menjadi Persatoean Tjatur Indonesia (PTI) mengindikasikan pengaruh para republiken di Djakarta sangat kuat. Ketua PTI adalah DJ Sihombing dan sekretaris adalah BM Hutagalung. Sebagaimana umumnya, orang Batak dimanapun berada adalah Republiken. Dalam konteks inilah PTI dibentuk untuk tujuan catur seluruh Indonesia (yang dimulai di Djakarta. Ibu kota RIS).

Sebagaimana disebut, Pertjasi didirikan tanggal 17 Agustus 1950 (di Djogjakarta), tanggal ini merupakan tanggal dimana RIS dibubarkan (dan kembali ke negara kesatuan. NKRI). Pertjasi sendiri baru terinformasikan ke public pada bulan Juli 1951 (lihat De nieuwsgier, 20-07-1951). Ini mengindikasikan PTI didirikan setelah terbentuk RIS dan Pertjasi didirikan setelah kembali ke negara kesatuan (NK)RI.


Dalam hal ini baik PTI maupun Pertjasi sama-sama menyelenggarakan turnamen. Pada tahun 1953 menyelenggarakan kejuaraan Pertjasi Indonesia di Solo. Kompetisi diadakan dari tanggal 1 Mei hingga 5 Mei 1953. Yang berpartisipasi adalah perserikatan-perserikatan catur di Jawa Tengah plus perserikatan catur Bandjarmasin. Yang menjadi juara adalah Arovah Bachtiar dari Bandjarmasin (yang masih berumur 18 tahun). Di eilayah Jawa Barat (termasuk Djakarta), PTI juga menyelenggarakan kejuaraan catur di Djakarta dan di Bandoeng.

Pada tahun 1954 PTI/Djakarta dan Pertjasi (Persatoean Tjatur Seloeroeh Indonesia) Djogjakarta dengan tetap mempertahankan nama Perttjasi. Dalam kejuaraan catur Pertjasi di Tegal yang menjadi juara adalah Baris Hutagalung (lihat Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 15-06-1954). Sebagaimana disebut di atas Baris Hutagalung adalah sekretaris PTD/PTI di Djakarta.


Dalam kejuaraan catur Pertjasi Indonesia di Tegal, yang berpartisipasi dana berada pada posisi 10 besar adalah pecatur-pecatur dari Djakarta, Semarang, Solo dan Bandjarmasin. Mengapa tidak ada nama-nama pecatur dari Jawa Timur khususnya Soerabaja? Fakta bahwa banyak pecatur dari Soerabaja yang sangat Tangguh seperti A Baswedan dan Oen Khoen Bing. Dalam daftar 10 besar ini selain Hutagalung danA Arovah yang menjadi runnerup juga ada nama-nama Tjio Tjwan Bing ED de Dewall keduanya juga dari Djakarta dan Lambok Hariandja dari Semarang. Apakah Persatoen Tjatur Soerabaja dengan klub terkuatnya SSC belum bergabung dengan kejuaraan Pertjasi? Lantas apakah Arovah dapat dikatakan juara catur sejati Indonesia pada tahun 1953? Idem dito apakah Baris Hutagalung dapat dikatakan juara catur sejati Indonesia pada tahun 1954?

Baris Hutagalung adalah pecatur muda dari Tanah Batak di Djakarta/Batavia dari generasi yang berbeda dari JH Hoetabarat dkk. Baris Hutagalung di era pengakuaan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, sedangkan JH Hoetabarat di era Pemerintah Hindia Belanda. Sementara itu Arovah Bachtiar juga telah mencapai ketenaran pada usia 15 tahun sebagai juara catur perserikatan catur di Bandjarmasin tahun 1950. Seperti disebut di atas, dalam kejuaraan catur Perjasi Indonesia yang diadakan di Tegal tahun 1954 Baris Hutagalung menjadi juara dan Arovah Bachtiar sebagai runnerup.


Pecatur belia pada usia sangat muda dan telah mendapat ketenaran sebenarnya sangat jarang. Pada tahun 1920an ada nama Pannelokken pemuda Belanda masih 15 tahun. Lalu kemudian ada FKN Harahap pada tahun 1930an yang juga masih usia 15 tahun yang tergabung dalam klub catur di Batavia Satoer Batak. Pada tahun 1934 FKN Harahap pada usia 17 tahun berangkat ke Belanda untuk mengikuti beberapa turnamen catur. FKN Harahap adalah non Belanda kedua berpartisipasi dalam turnamen catur di Belanda, sedangkan yang pertama adalah Mohamad Iljas pada tahun 1917. Seperti kita lihat non Belanda lainnya dari Indonesia yang berpartisipasi dalam turnamen catur di Belanda adalah Han Liong Tan. Catatan: pada tahun 1949 di Djakarta akan diadakan kompetisi antar klub catur se Djakarta (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 28-10-1948). Disebutkan klub-klub yang berkompetisi adalah Satoer Batak, Schaakmaat, De Pion dan Chung Hwa serta KMG. Kompetisi terbagi ke dalam dua kelas (kelas/divisi satu dan divisi kedua). Masing-masing kelas klub Satoer Batak dan Chung Hwa dengan dua tim (berbeda). Ini mengindikasikan di Batavia/Djakarta begitu banyak pecatur Batak dan pecatur Tionghoa. Sebelumnya klub catur Satoer Batak dan Schaakmat yang selalu bersaing sejak era Hindia Belanda, telah melakuan pertandingan anjangsana di Djakarta (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 11-10-1948). Dalam pertandingan ini klub Satoer Batak menang dengan skor 7 ½ vs 4 ½. Dalam tim Satoer Batak terdapat nama Baris Hutagalung yang bermain imbang dengan Ta Chung.

Baris Hutagalung adalah anggota klub catur Satoer Batak di Djakarta. Dalam perkembangannya seiring dengan gencatan senjata (pasca Perundingan Roem Royen April 1949) perserikatan BSB (Bataviasch Scahaakbond) diubah namanyan menjasi Persatoean Tjatur Djakarta (PTD) dimana sebagai sekretaris Baris Hutagalung. Pada bulan November 1949 (menjelang pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, RIS) nama PTD diubah lagi menjadi Persatoean Tjatur Indonesia (PTI).


Kehidupan catur paling dinamis di Indonesia sejak era Hindia Belanda adalah di Medan, Batavia dan Soerabaja. Jumlah klub terbanyak di Batavia. Pada tahun 1917 dibentuk klub catur Stovia, yang sepenuhnya bernaggota pecatur pribumi dari sekolah kedokteran Batavia (STOVIA). Klub catur Stovia ini diigagas oleh Abdoel Rasjid Siregar yang tergabung dengan BSB. Pada tahun 1918 Stovia Schaakclub bergabung dengan perserikatan catur Hindia Belanda (NISB). Pada tahun 1926 berdiri klub catur Jong Batak (organisasi kepemudaan) yang juga sepenuhnya pecatur pribumi. Dalam pertandingan antara Jong Batak vs Schaakmat (skor imbang) terdapat nama D Hoetagaloeng dan S Hoetagaloeng. Pasca Kongres Pemuda 1928, klub catur Jong Batak dibubarkan, tetapi kemudian pada tahun 1931 para pecatur di Batavia mendirikan klub baru dengan nama Satoer Batak yang dipimpin oleh JH Hoetabarat. Dalam pertandingan antara Satoer Batak dan Schaakmat yang dapat dikatakan beriumbang terdapat nama H Hoetagaloeng dan [?] Hoetagaleong. Ini mengindikasikan pecatur marga Hutagalung sudah eksis dari waktu ke waktu. Kini eranya Baris Hutagalung.

Siapa Baris Hutagalung? Masih muda, anak siapa? Jelas bukan Charles Hutagalung. Apakah ayahnya adalah salah satu pemain catur di Djakarta sejak era Hindia Belanda? Yang jelas pada masa itu salah satu tokoh penting di Djakarta adalah MT Hutagalung, direktur surat kabar harian Merdeka (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 06-01-1950). Tentu saja masih ada Letkol Dr Willer Hutagalung, asisten pribadi Jenderal Soedirman.


Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 12-08-1947: ‘Masa Indonesia. Minggu lalu terbitan pertama surat kabar pagi republik yang baru di Batavia, “Masa Indonesia”, dengan subjudul “The Times of Indonesia”. Direktur redaksi majalah ini adalah Asa Bafagih, pemimpin umum adalah MT Hoetagaloeng, Penerbit adalah BM Diah, Redaksi antara lain Soemadi dan Mochtar Loebis. Majalah ini juga memuat kolom berita domestik secara singkat dalam bahasa Inggris’. Nieuwe courant, 22-01-1948: ‘Majalah mingguan ‘Merdeka’. Menurut Aneta, selain harian republik “Merdeka”, berita mingguan bergambar “Merdeka” kini juga telah terbit di Batavia, dengan pemimpin redaksi: Mochtar Loebis, anggota redaksi Hiswara Darmapoetra, pemimpin umum MT Hoetagaloeng dan pimpinan penerbitan BM Diah’. Catatan: dalam masa gencatan senjata sambil menunggu hasil perundingan KMB di Belanda dalam urusan ketentaraan telah bertemu pihak Belanda (Dr Koets, mewakili Mr Loovin) dengan pihak militer republic Overste Dr W Hoetagaloeng (mewakili Sultan Djogja, yang juga Menteri Pertahanan RI) di Djakarta (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 25-10-1949).

Baris Maroeli mewakili marga Hutagalung berjuang di berbagai bidang. MT Hutagalung berjuang di bidang pers, Willer Hoetagaloeng di lapangan militer. Dalam hal ini Baris Hutagalung berjuang di lapangan catur.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pertjasi dan Juara Persatoean Tjatur Indonesia: Jogjakarta dan Djakarta Ibu Kota Indonesia

Baris Hutagalung tak tertandingi oleh siapapun. Baris Hutagalung juga menjadi juara dalam kejuaraan tahun 1955. Sebagaimana pada tahun ini di Indonesia dilakukan pemilihan umum pertama dan Konferensi Asia Afrika. Perdana Menteri RI Mr Boehanoeddin Harahap tentu saja sangat sibuk di lapangan politik dalam negeri dalam politik luar negeri. Pada tahun ini pulau seorang tamu luar negeri dari Belanda yang berkunjung ke Indonesia, yakni pemain catur Belanda bergelar master Lodewijk Prins.


Lodewijk Prins adalah pecatur yang tengah bersinar di Belanda. Pada awal tahun 1955 ini Prins melakukan tur catur ke Amerika Selatan. Pada akhir tahun 1955 ini Prins akan melakukan tur ke Indonesia (lihat Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 01-11-1955). Prins tidak hanya melakukan pertandingan simultan tetapi juga memainkan beberapa permainan, dengan pemain Indonesia terkuat (lihat De nieuwsgier, 03-11-1955). Juara catur Indonesia saat ini adalah Baris Hutagalung. Prins juga adalah seorang jurnalis catur. Alekhine, Euwe, Kostich, dan lainnya melakukan tur ke Indonesia sebelum perang (semasa Pemerintah Hindia Belanda).

Rupanya rencana Prins ke Indonesia dicermati oleh juara catur Belanda Dr Max Euwe yang pernah ke Indonesia tahun 1930. Tangannya menjadi gatal untuk menulis suatu artikel berjudul Schaakmeester Lodewijk Prins op tournée door Indonesië: ‘Zure’ en zoete herinneringen aan een tournée in 1930 di surat kabar di Belanda yang juga dilansir surat kabar Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 24-12-1955).


Dalam tulisan Dr Euwe menulis: ‘…Master catur Belanda Lodewijk Prins diharapkan tiba di Indonesia pada akhir Desember. Diundang oleh Sticusa, ia akan berkeliling negeri di bawah naungan Pertjasi dan akan bermain di Jakarta, Jawa Tengah dan Timur, Sumatera dan Kalimantan, antara lain. Juga ada pertandingan dengan juara Indonesia Hutagalung dalam program. Jadi di negeri-negeri Batak, penduduknya tahu cara bermain catur mereka sendiri dengan sempurna, tetapi kini juga mencapai ketenaran besar di catur Eropa. Hal ini menjadi jelas bagi saya ketika saya mengenal catur Batak di Medan selama tur yang saya lakukan keliling Indonesia pada akhir musim panas tahun 1930. Dalam catur modern pun, orang Batak jauh lebih unggul dibandingkan pemain Belanda lainnya yang tinggal di Sumatra dan hampir seluruhnya saat melawan Batak itulah saya kehilangan separuh poin dalam kunjungan saya di Medan… Saya kemudian mengambil kesempatan untuk mengenal catur asli dan ternyata sangat mirip dengan permainan catur kita sendiri sehingga saya tidak mendapatkan angka yang terlalu buruk pada permainan latihan berikutnya dengan master Batak. Namun peminat catur di Indonesia tidak hanya terbatas pada negara Batak saja. Saya ingat bahwa saya. mendapat perlawanan sengit dari pihak Indonesia sejumlah tempat misalnya, enam warga Bandjar yang ikut serta dalam pertandingan simultan di Semarang…. Kenangan "masam" dan manis tentang masa 25 tahun yang lalu ini muncul ketika saya mendengar bahwa master catur Belanda kita Lodewijk Prins akan segera melakukan tur ke Indonesia dan saya diminta untuk menyampaikan beberapa patah kata mengenai hal tersebut… Penting untuk dicatat bahwa perkenalan baru antara komunitas catur Indonesia dan serikat master catur Belanda ini dapat sangat berguna bagi kehidupan catur internasional. Sekitar lima puluh negara telah menjadi anggota federasi catur dunia (yang berafiliasi FIDE) dan negara-negara Asia pertama sudah masuk nominasi. Di Cina dan India terlihat kebangkitan catur dan juga Indonesia ikut dalam kegiatan ini, yang akan membentuk zona Asia baru sesuai dengan harapan. Konsekuensinya adalah antara lain Asia, Afrika, dan/atau Australia akan mengirimkan satu atau lebih wakilnya ke turnamen klasifikasi, yang pada akhirnya harus menentukan calon juara dunia... Prins adalah salah satu pemain Belanda terkuat dan telah mencapai beberapa kesuksesan internasional. Kami mencatat hadiah pertama di turnamen 'the' di Madrid 1951, di mana ia memulai dengan skor luar biasa 10 dari 10…. Lodcwijk dalam tur ke seluruh Indonesia tidak diragukan lagi akan sukses bagi kedua belah pihak. Bahwa hal ini akan berkontribusi untuk melibatkan Indonesia dalam ajang catur dunia adalah harapan dan aspirasi Belanda dan lebih dari itu, harapan dan cita-cita komunitas internasional’.

Lodewijk Prins akan tiba di Djakarta tanggal 29 Desember 1944 dan jadwal Prins sudah diumumkan dimana Prins akan bertanding dengan Hutagalung dalam empat game (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 27-12-1955). Disebutkan tanggal 30 Prins akan mengadakan ceramah di Gedung Sticusa jalan Gadjah Mada 13. Tanggal 2-7 Prins bertanding dengan Hutagalung dalam empat game dan juga pada tanggal 7 Prins akan melakukan pertandingan simultan di Gedung Sticusa. Pada halaman yang sama tulisan Dr Euwe diterbitkan lagi.

 

Nieuwsblad van het Noorden, 03-01-1956: ‘(Dari koresponden kami). Master catur Belanda Lodewijk Prins kalah dalam empat game pertama melawan juara Indonesia Hoetagaloeng pada Senin malam. Prins, bermain dengan warna hitam, menyerah setelah 31 langkah, setelah awalnya memegang posisi yang sangat baik’. Nijmeegsch dagblad, 04-01-1956: ‘De tweede (schaak) partij tussen. Pertandingan (catur) kedua. Pertandingan (catur) kedua antara Prins dan Hoetagaloeng berakhir imbang. Ini ditawarkan kepada Pris yang bermain dengan warna putih setelah dua puluh sembilan langkah. Hoetagaloeng saat ini memimpin dengan satu setengah poin berbanding setengah poin’.

Apa yang dikhawatirkan Dr Euwe terhadap master catur Belanda Lodewijk Prins terbukti. Secara teknis Lodewijk Prins kalah melawan Hutagalung. Berita ini segera menjadi viral di Indonesia maupun di Belanda. Ini untuk ketiga kalinya pecatur Batak mampu mengalahkan master Eropa/Belanda yakni Kostich tahun 1925, Dr Max Euwe tahun 1930 dan kini giliran Lodewijk Prins.


Master catur Belanda Lodewijk Prins tampaknya tidak ingin malu dan tersiar telah dipermalukan oleh pecatur Indonesia berasal dari Tanah Batak. Lodewijk Prins mulai was-was untuk memainkan pertandingan ketiga. Prins pada pertandingan ketiga berhasil menang sehingga skor 1 ½ vs 1 ½. Pada laga terakhir Prins dapat memenangkan pertandingan sehingga skor total 2 ½ vs 1 ½ (lihat De nieuwsgier, 07-01-1956). Jelas ini tidak baik buat psikologi Prins, tetapi sdangat baik buat reputasi Baris Hutagalung. Disebutkan sebuah kejadian istimewa. hasil yang terhormat bagi sang juara Indonesia, yang tidak banyak orang yang akan mengaitkannya dengan hal ini. Hutagalung, tanpa pengalaman asing, bisa berbangga dengan hasil menang sekali dan remis sekali melawan master Eropa Lodewijk Prins.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar