Laman

Kamis, 23 November 2023

Sejarah Catur (25): Mari Belajar Catur dan Sejarah Catur Masa ke Masa; Sekolah Catur Utut Adianto dan Museum Catur Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Catur dalam blog ini Klik Disini

Sudah sejak lama di sejumlah kota di Eropa didirikan museum catur. Seperti museum umumnya, museum catur menyimpan berbagai hal terkait permainan dan pertandingan catur. Salah satu museum catur terkenal di Asia adalah Eugene Torre Chess Museum.  Museum juga menjadi prasarana tempat belajar catur dan menjadi penting untuk para siswa di sekolah catur. Museum catur dan sekolah catur adalah lembaga catur yang penting pada masa ini; suatu lembaga yang mempertemukan masa lampau dan masa depan.


School of chess. A school of chess denotes a chess player or group of players that share common ideas about the strategy of the game. There have been several schools in the history of modern chess. Today there is less dependence on schools – players draw on many sources and play according to their personal style. The Philidor era. In 1749, François-André Danican Philidor published Analyse du jeu des Échecs. This was the first book to discuss the strategy of chess in detail. It was also the first to discuss the interplay of pieces and pawns in the game. Philidor believed that maintaining the mobility of pawns was the most important strategic factor of chess, and he discussed pawn structure, particularly isolated pawns, doubled pawns, and backward pawns. Philidor's writings were widely praised and misunderstood for 90 years. His ideas were taken up by the English school in the 1840s. In 1925, Aron Nimzowitsch recognized the importance of pawn mobility. Philidor has increasingly been recognized as the founder of modern chess strategy. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah belajar catur dan sejarah catur masa ke masa? Seperti disebut di atas, sekolah catur dan museum catur penting pada masa ini, suatu hub perjalanan sejarah catur dari masa lampau ke masa depan. Bagaimana dengan di Indonesia Sekolah Catur Utut Adianto dan Museum Catur Indonesia? Lalu bagaimana sejarah belajar catur dan sejarah catur masa ke masa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Belajar Catur dan Sejarah Catur Masa ke Masa; Sekolah Catur Utut Adianto dan Museum Catur Indonesia

Sesungguhnya permainan catur adalah bentuk permainan yang sudah tua. Namun bagaimana bentuk permainan catur yang sekarang belum lama. Pada tahun 1749, musisi Perancis Philidor menerbitkan karya tentang permainan catur "L'analyse des Echec". Setelah buku Philidor diterbitkan, catur menjadi lebih populer. Dan pada tahun 1836, sebuah surat kabar bahkan diterbitkan untuk pertama kalinya di Paris, yang seluruhnya membahas masalah catur. "La Palamède" adalah nama surat kabar yang bertahan selama sepuluh tahun. Tahun 1851 sangat penting dalam sejarah catur. turnamen tingkat negara internasional yang pertama diadakan di London, dan Anderssen dari Jerman muncul sebagai pemenangnya.


Tentang permainan catur sendiri hanya ada legenda tentang asal usul catur, namun data pertama tentangnya berasal dari India sekitar tahun 500 Masehi. Nama catur berasal dari bahasa Arab dan Persia "Shah" yang berarti raja. Catur mencapai negara-negara Mediterania melalui Peivens dan Arab. Pada abad kesepuluh dan kesebelas Spanyol dan Italia diperkenalkan ke permainan ini dan dari negara-negara selatan ini diperkenalkan ke Prancis, Jerman, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya. Di Belanda orang mungkin pertama kali mempelajari catur pada abad ke-13. Hanya kaum bangsawan yang peduli dengan "permainan raja". Selama berabad-abad, aturan permainan terkadang berubah secara alami. Dan orang Cina, misalnya, bahkan memiliki papan yang sangat berbeda, yang dibagi menjadi dua oleh "sungai". Sekitar tahun 1480 aturan main mengalami perubahan penting. Pada saat itu, seni dan ilmu pengetahuan sedang mengalami kebangkitan, orang-orang keluar untuk menjelajahi negara lain. Pandangannya diperluas dan kebebasan bergerak beberapa bidak di papan catur juga "diperluas".

Pada tahun 1953 ada seorang kolektor catur Niemeyer di Wassemaar (lihat Algemeen Handelsblad, 26-09-1953). Niemeyer yang menceritakan sejarah catur di atas. Niemeyer memiliki beberapa permainan catur tua yang indah. Selain itu, Niemeyer juga telah mengumpulkan 7.000 buku yang hanya membahas tentang catur, Buku-buku tersebut disimpan di perpustakaan Federasi Catur Kerajaan Belanda (KNSB). Buku-buku terdiri dari karya-karya dalam 45 bahasa.


Diantara buku-buku itu terdapat banyak perangkat catur, juga ada sebuah catur hias Jepang yang terbuat dari kuarsa merah muda dan hijau dan juga perangkat catur hias gading Jepang. Permainan catur tertua yang dimiliki Niemeyer adalah permainan gading Rusia berwarna merah dan putih. Ada juga permainan Siam dan Bengal kuno. Ada juga fantasi yang lebih menyenangkan adalah set catur, yang semua bidaknya adalah ikan; ratunya adalah putri duyung yang cantik dan kudanya, tentu saja, adalah kuda laut. Lalu ada permainan Turki. Niemeyer juga memiliki koleksi permainan yang digunakan oleh orang Batak. Ini adalah permainan sederhana yang diukir dari bambu, yang biasanya tidak disimpan setelah pertandingan berakhir. Tentang soal catur Batak ini tentu saja memiliki koleksi buku yang ditulis oleh seorang planter di Langkat Armin von Oefele yang diterbitkan di Leipzig tahun 1904 dalam bahasa Jerman setebal 60 halaman dengan judul ‘Das Schachspiel der Bataker: ein Ethnographischer Beitrag zur Geschichte des Schach’.

Niemeyer menjelaskan begitu banyaknya ragam aturan permainan catur, Staunton dari Inggris menyederhanakannya pada tahun 1850. Bentuk dan permainanan yang disederhanakan ini sekarang digunakan dimana-mana di dunia. Memang kadang-kadang ada perbedaan kecil, tapi pada dasarnya semua perbedaan itu sama dengan Staunton.


Algemeen Handelsblad, 25-09-1848: ‘Beberapa penggemar catur (mungkin seseorang) di sini telah mengungkapkan kekesalan mereka melalui surat dengan kata-kata tertentu tentang ketidaksetujuan kami terhadap solusi (problem catur) soal No. 90, dengan memajukan pion putih c2 pada c4, dan mengungkapkan kekagumannya bahwa pion tersebut kemudian dapat diambil oleh pion musuh b4 pada c3, menanyakan dimana seharusnya aturan baru ini menurut mereka. Kami menjawab bahwa aturan ini bukanlah hal baru, tetapi dapat ditemukan di semua manual atau peraturan catur. Bandingkan antara lain Philidor (reg. 10), Staunton (Chess Player Handbook 1847, reg. 15), Robiano (les échecs simplifiés et approfondies, reg. 10), dll. Prinsip ini, bahwa pion, itu maju dua langkah, apabila melewati bidak musuh dalam keadaan skak dapat diambil seolah-olah baru mengambil satu langkah, hal ini umumnya diyakini oleh para pecatur Perancis, Inggris dan Jerman; hanya orang Italia yang tidak mengakui aturan ini, yang mereka sebut Passar Battaglia. Namun di negara kita aturan ini tidak diragukan lagi, yang dimasukkan oleh Gustavus dalam Nieuw Reglement op he Schaakspel, yang diadaptasi dari sumber terbaru (mengapa tidak diurutkan lebih baik!), Wijk bij Duurstede 1848, pasal. 11. Seperti yang kita dengar, hal itu juga telah diadopsi sebagai undang-undang oleh perkumpulan catur di kota ini. - Para guru yang berpengetahuan luas memaafkan kami atas penyimpangan ini, yang tentunya tidak berguna bagi mereka, namun kami tidak ingin terhambat dalam memberikan informasi yang diinginkan oleh amarah yang tidak pantas dalam surat tersebut’.

Howard Staunton adalah juara catur di Inggris. Belum ada pecatur luar Inggris yang mampu mengalahkannya tahun-tahun terakhir. Pengikut Staunton di Belanda mulai terbentuk. Sehubungan dengan kejuaraan catur yang akan diadakan di London, Presiden Philidor Society London dan Howaed Staunton mengundang pecatur Belanda untuk berpartisipasi. Sudang barang tentu pecatur Belanda akan berminat.


Algemeen Handelsblad, 17-01-1851: ‘Perkumpulan catur Philidor di Amsterdam, merayakan hari ini. Sebuah keputusan telah diambil, yang tentunya akan disambut dengan penuh minat oleh banyak peminat permainan mulia tersebut di Amsterdam. Dewan dari perkumpulan ini bermaksud untuk membuka kompetisi catur di kota Amsterdam dengan asosiasi dan peminat paling penting, baik di Amsterdam maupun di provinsi-provinsi. Kami yakin rencana ini akan mendapat kerjasama luas dari seluruh pecinta catur. Sementara kompetisi domestik sedang dipersiapkan, turnamen catur dalam skala yang lebih besar akan diadakan pada kesempatan pameran di London dan seluruh Eropa akan diundang untuk berpartisipasi. Presiden Philidor Society, yang, seperti diketahui, masih di London, telah diberitahu tentang niat ini oleh raja para pemain catur Inggris, Howard Staunton, dengan keyakinan penuh bahwa Nederland juga akan terlibat. dalam pertempuran dunia itu, jangan sampai kamu tidak terwakili’.

Kejuaraan catur di London tersebut sangat diminati oleh pecatur-pecatur berbagai negara di Eropa termasuk dari Jerman dan Belanda. Salah satu penantang Staunton adalah Adolf Anderssen dari Jerman. Dalam kejuaraan tersebut, Howard Staunton tumbang yang mana Anderssen memenangkan empat dari lima game. Lalu Adolf Anderssen menjadi jagonya catur di Eriopa.


Rotterdamsche courant, 03-07-1851: ‘Pertandingan catur hebat, yang baru-baru ini diadakan di London antara para pecatur terkemuka Eropa, berakhir dengan kemenangan Andersen dari Jerman, yang memenangkan empat dari lima pertandingan yang dimainkan dengan Staunton yang terkenal’.

Apa yang dipahami oleh Niemeyer dari buku-buku koleksinya, pada dasarnya merujuk pada perjalanan sejarah catur yang telah berlangsung dari waktu ke waktu. Namun sejauh itu yang dipahami bahwa bermain catur biasanya di atas papan catur. Boleh jadi Niemeyer tidak mengetahui lagi apa yang terjadi selanjutnya. Pada tahun 1960 ada yang tidak lazim dalam pembukaan olimpiade catur ke-14 di Leipzig (tanggal 16 Oktober 1960).


Indonesia berpartisipasi dalam olimpiade ini yang diperkuat A Baswedan, A Bachtiar, MA Watulo dan D Panggabean yang diadakan di Gedung opera yang baru. Yang tidak lazim itu adalah ada pameran tentang sejarah catur (lihat Eindhovensch dagblad, 08-10-1960). Disebutkan selain pameran itu ada juga pertandingan catur huruf (briefschaaktoernooi), suatu pertandingan tanpa papan catur dan hanya menggunakan notasi (huruf) catur.

Apa yang menarik dari dua hal unik di atas adalah yang pertama bahwa pameran catur mulai terinformasikan. Selama ini tidak pernah terinformasikan adanya pemeran catur. Kedua koleksi buku-buku catur milik Niemeyer. Tentu saja banyak pecatur memiliki koleksi buku catur. Koleksi Niemeyer bukanlah sedikit. Seperti dikatakan Niemeyer semua koleksi itu telah difasilitasi perserikatan catur Belanda (KNSB) untuk disimpan di dalam perpustakaan KNSB. Sudah barang tentu di dalam kolekasi buku itu buku yang membahas sejarah catur. Oleh karena koleksi Niemeyer ditempatkan di perpustakaan KNSB, maka dengan sendirinya pecatur Belanda dapat mengakses dan mempelajari.


Koleksi buku-buku catur dan pameran catur sejatinya dapat digabung menjadi satu sebagai museum catur. Museum catur akan menjadi sumber pembelajaran dalam hal permainan dan pertandingan catur. Setiap pecatur bahkan semua public dapat mengakses museum catur untuk sumber pengetahuan khususnya tentang teori-teori catur dan catatan-catatan pertandingan (file) antara dua pecatur kuat yang melakukan pertandingan.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sekolah Catur Utut Adianto dan Museum Catur Indonesia: Sama Sama Mencerdaskan Kecerdasan Bangsa

Setiap buah catur ada namanya dan masing-masing memiliki langkah sendiri. Dalam permainan catur pergerakan catur dapat dicatat yang disebut notasi catur. Notasi ini oleh Staunton dari Inggris telah disederhanakan pada tahun 1850. Notasi inilah yang digunakan sekarang. Setiap Gerakan/langkah di dalam permainan catur dicatat dengan menggunakan notasi catur. Dalam perkembangannya muncul notasi aljabar catur.


Selain notasi catur juga ada notasi aljabar catur. Notasi aljabar adalah metode untuk merekam dan menjelaskan langkah dalam permainan catur. Notasi ini dibentuk berdasarkan sistem koordinat untuk mengidentifikasi secara unik tiap kotak di papan catur. Sekarang notasi ini menjadi standard di semua organisasi catur dan hampir semua buku, majalah, dan surat kabar. Di negara berbahasa Inggris, metode paralel notasi deskriptif secara umum digunakan juga dalam publikasi catur sampai sekitar 1980. Beberapa pemain lama masih menggunakan notasi deskriptif. Notasi deskriptif sudah tidak diakui oleh FIDE. Notasi aljabar hadir dalam berbagai bentuk dan bahasa dan berdasarkan sistem yang dikembangkan oleh Philipp Stamma. Simbol anotasi: Meski secara teknis tidak termasuk dalam notasi aljabar, simbol di bawah ini biasa digunakan oleh anotator untuk memberi ulasan evaluatif terhadap langkah catur:  langkah kuat; !!  langkah sangat kuat—dan biasanya mengejutkan; ?  langkah salah; ??  blunder; !?  langkah penting, mungkin bukan yang terbaik; ?!  langkah diragukan, mungkin menjadi kesalahan;   langkah lebih baik daripada yang dimainkan; □  satu-satunya langkah yang masuk akal atau yang tersedia; =  posisi seimbang; +/= (or  Putih sedikit unggul; ; /+ (or  Hitam sedikit unggul; +/− (or ±)  Putih lebih unggul; −/+ (or  Hitam lebih unggul; +−  Putih akan menang; −+  Hitam akan menang; ∞  kedudukan tidak jelas; =/∞  siapapun yang buahnya lebih sedikit memiliki imbalan dalam posisi. Simbol yang dipilih ditempatkan di akhir notasi langkah, misalnya: 1.d4 e5?! 2.dxe5 f6 3.e4! Nc6 4.Bc4+/− (Wikipedia)

Notasi catur menjadi semacam huruf dalam teks. Oleh karena itu pertandingan catur dapat dicatat, disimpan sebagai dokumen yang dapat disalin. Dalam hal ini notasi catur membentuk deskripsi bahasa catur. Dokumen dengan menggunakan notasi/bahasa catur pada masa ini menjadi bukti/data tentang catatan permainan/pertandingan catur di masa lampau. Yang dapat dibaca kembali. Oleh karena itu catur telah memiliki peradaban sendiri. Dengan demikian setiap pecatur telah dibekali dengan kemampuan membaca (mengartikulasi gerakan di papan catur) kemampuan menulis dengan menggunakan aksara/notasi catur dan kemampuan mengevaluasi dengan cara menghitung probabilitas permainan dengan menggunakan angka/bilangan catur. Oleh karena setiap pecatur berbahasa sama maka setiap pecatur pada masa ini adalah populasi dari dunia catur itu sendiri.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar