Laman

Kamis, 28 Maret 2024

Sejarah Padang Lawas (9): Padang Bolak dan Padang Lawas; Geomorfologi Padang Lawas dan Geomorfologis Pulau Sumatra


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Lawas dalam blog ini Klik Disini

Padang Bolak dan Padang Lawas adalah dua nama wilayah untuk wilayah yang sama. Padang adalah wilayah yang cenderung datar dengan vegetasi ilalang yang diselingi pepohanan rendah (seperti balakka dan aramotting). Bolak adalah bahasa Batak yang artinya luas dan demikian juga dengan lawas yang berarti luas. Padang yang sama menurut orang pedalaman disebut bolak, orang yang berasal dari lautan disebut lawas. Di wilayah bentang alam yang luas ini mengalir sungai-sungai berhulu di pegunungan. Sungai-sungai ni menjadi jalur transfortasi dari dan ke luar (laut) dan ke dalam (pedalaman).

 

Geomorfologi ilmu yang mempelajari tentang bentuk alam dan proses yang membentuknya. Para ahli geomorfologi mencoba untuk memahami kenapa sebuah bentang alam terlihat seperti itu, untuk memahami sejarah dan dinamika bentang alam. Geomorfologi dipelajari di geografi, geologi, geodesi, arkeologi, dan teknik kebumian. Lingkup kajian dari geomorfologi adalah bentuk permukaan bumi. Dalam pembahasan ilmiah, bentuk permukaan bumi ini meliputi penemuan dan pengenalan bentuk lahan dan faktor-faktor pembentuknya. Geomorfologi juga membahas tentang sejarah dan asal-usul bentuk lahan. Proses pembentuk utama yang bertanggung jawab terhadap pembentukan topografi adalah angin, ombak, cuaca, pergerakan tanah, aliran air, tektonik, dan vulkanik. Geomorfologi memiliki keterkaitan dengan geografi disebut geomorfologi geografi. Keduanya saling membutuhkan. Kajian geomorfologi geografi menghasilkan pengetahuan bentang lahan, bentang alam dan bentang geografi (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Padang Bolak dan Padang Lawas? Seperti disebut di atas wilayah Padang Lawas dan Padang Bolak adalah wilayah datar dimana kini ditemukan banyak candi-candi yang berasal dari masa lampau. Geomorfologi wilayah Padang Lawas dan Geomorfologis pulau Sumatra. Lantas bagaimana sejarah Padang Bolak dan Padang Lawas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Padang Bolak dan Padang Lawas; Geomorfologi Wilayah Padang Lawas dan Geomorfologis Pulau Sumatra

Salah satu pendekatan studi sejarah masa lampau yang jarang digunakan adalah pendekatan geomorfologis. Studi arkeologis sangat sesuai untuk memetakan situs sejarah di area kecil. Dalam hal ini studi geomorfologis dapat dimanfaatkan untuk memahami area situs-situs kecil dalam kesatuan peta yang lebih luas, peta yang merelasikan antara satu kawasan dengan kawasan lain dimana terdapat situs-situs masa lampau. Pulau Sumatra dalam hal ini adalah satu kawasan luas untuk peta sejarah masa lampau.


Seberapa luas pulau Sumatra pada masa lampau, jika dibandingkan dengan luas peta Sumatra pada masa ini? Besar dugaan luasnya tidak sama. Luas pulau Sumatra pada masa lampau tidak segemuk sekarang. Semakin jauh ke masa lampau bentuk peta Sumatra semakin ramping dan semakin kecil. Proses sedimentasi jangka panjang diduga factor penting mengapa luas pulau Sumatra semakin lebar hingga ke masa kini. Proses sedimentasi ini lebih intens terjadi pantai timur Sumatra. Salah satu penyebab terjadinya sedimentasi yang signifikan karena keberadaan sungai-sungai besar. Sungai yang membawa massa padat (lumpur dan sampah vegetasi) dari pedalaman di pegunungan ke wilayah pesisir pantai. Pemahaman serupa ini yang disebut pendekatan geomorfologis dalam memetakan situs-situs masa lampau secara geografis.

Wilayah Padang Lawas di masa lampau, secara geografis diduga kuat berada diantara pegunungan dan pantai/laut. Dalam hal ini sisi timur wilayah (datar) Padang Lawas beradi di kota Binanga yang sekarang. Kawasan di arah timur Binanga yang kini menjadi daerah dataran basah/berawa diduga dulunya adalah wilayah perairan/laut. Di wilayah Padang Lawas inilah suatu peradaban (yang pada akhirnya terbentuk peradaban candi) terbentuk dalam konteks peradabaan navigasi pelayaran perdagangan. Di pulau Sumatra sendiri, terdapat banyak situs sejarah masa lampau, masa yang berbeda yang membedakan situasi dan kondisi bentang alam, tingkat social (terutama dalam navigasi pelayaran perdagangan) dan budaya (peradaban seperti religi dan tingkat perkembangan arsitektur candi). Kawasan situs terluas di Sumatra terdapat di wilayah Padang Lawas. Pada masa ini ada sebanyak 26 situs candi, candi-candi yang berada di tiga daerah aliran sungai (Pane, Sangkilon dan Sirumambe). Dua sungai besar (Pane dan Sangkilon) sama-sama langsung bermuara di dalam suatu perairan/laut sebagai suatu teluk.


Sungai Pane betemu dengan sungai Sangkilon di Binanga, yang ke wilayah hilir disebut sungai Barumun. Di sungai Pane bermuara sungai Sirumambe. Di bagian tanjung pertemuan sungai Pane dan sungai Sangkilon ini terdapat candi Sipamutung. Candi-candilainnya berada di daerah aliran sungai Pane, sungai Sangkilon dan sungai Sirumambe. Ke arah hilir Binanga di daerah aliran sungai Barumun tidak ditemukan situs candi. Mengapa? Kecuali Binanga, ke daerah hilir sungai Barumun hingga kini tidak teridentifikasi nama kampong. Nama-nama kampong yang jauh di hilir adalah Huristak dan Kota Pinang serta kampong Labuhan Bilik di pantai. Boleh jadi wilayah hilir Binanga adalah area berbahaya berupa rawa-rawa yang sulit dijadikan sebagai kampong. Tampak pada peta satelit disekitar kota Binanga teridentifikasi sungai mati.

Secara geomorgologis di daerah hilir Binanga sungai semakin lebar, berkelok-kelok dan ditemukan cukup banyak sungai mati (bagian sungai yang terjebak karena jalur sungai yang baru terbentuk). Ciri-ciri bentang alam ditemukan sungai mati karena sangat datar dan elevasi yang rendah. Besar dugaan di masa lampau lebar sungai di hilir Binanga jauh lebih lebar dan jauh lebih dalam. Oleh karena itu sungai Barumun dari laut mudah dinavigasi hingga jauh ke Binanga. Nama Binanga ini diduga nama Minanga dalam prasasti Kedoekan Boekit (682).


Pada abad ke-6 diduga pelabuhan berada di Minanga/Binanga. Lalu kemudian seiring waktu (karena proses pendangkalan sungai) pelabuhan bergeser ke Huristak, lalu kemudian begeser lagi ke Kota Pinang dan terakhir hingga masa ini di Labuhan Bilik. Tampaknya ada, paling tidak lima titik area di hilir pertemuan sungai Pane dan sungai Sangkilon, yang dari masa ke masa menjadi pusat (kota) perdagangan di daerah aliran sungai Barumun yakni Binanga, Huristak, (kota) Pinang, (labuhan) Batu dan (labuhan) Bilik.

Dimana area GPS (kota) Binanga dari abad ke-7 adalah titik terpenting di daerah aliran sungai di Padang Lawas. Terbentuknya kota Binanga ini diduga berawal dari suatu masa dimana dua sungai besar bertemu (sungai Pane dan sungai Sangkilon) di dalam satu kawasan perairan yang sama. Perairan ini diduga kuat adalah suatu bagian dalam suatu teluk (seperti halnya di sungai Rokan).


Begitu banyaknya sungai mati di daerah aliran sungai Barumun mulai dari Binanga mengindikasikan bahwa ke arah hilir awalnya adalah perairan/laut yang sempit (semacam teluk yang memanjang jauh ke dalam seperti teluk Bima di Sumbawa. Pada masa MInanga, kapal berlabuh di Minanga, sedangkan perahu-perahu dari Minanga ke pedalaman melalu sungai Pane/Sirumambe dan sungai Sangkilon, Dalam hal ini Minanga adalah hub dari dua jalur navigasi pelayaran perdagangan sungai di kawasan wilayah yang disebut Padang Lawas (dataran rendah yang luas) hingga ke wilayah pegunungan (seperti lereng gunung Malea/Simardona (Mandailing/Angkola), gunung Lubukraya/Sibualbuali (Angkola/Sipirok) dan gunung Tampulon Anjing (Dolok/Hole). Dari gunung-gunung inilah produk alami (kamper, kemenyan. Emas) mengalir ke kota perdagangan Binanga plus gading dari wilayah Padang Lawas. Jadi dalam hal ini wilayah Padang Lawas/Padang Bolak adalah kawasan luas dataran rendah yang kering yang menjadi pemisah wilayah lautan (di hilir Binanga) dengan wilayah yang lebih tinggi di lereng-lereng gunung tersebut di atas.

Apa yang dapat digambarkan tentang situasi dan kondisi wilayah Padang Lawas pada awal terbentuknya peradaban candi-candi, secara geomorfologis wilayah Sumatra lebih jauh di masa lampau bentuk pulau Sumatra jauh berbeda dengan bentuknya dari masa ke masa. Oleh karena proses sedimentasi terjadi secara intens di pantai timur (dimulai dari wilayah Binanga), sebaliknya di pantai barat relatif stabil dari masa ke masa, maka diduga sebelum terbentuk peradaban di wilayah Padang Lawas sudah terlebih dahulu berkembang di pantai barat Sumatra.


Satu-satunya sumber peta masa lampau tentang peta Sumatra adalah catatan geografis Ptolomeus pada abad ke-2. Dalam peta Ptolomeus yang disebut Aurea Chersonesus (Semenanjung Emas) dapat ditafsirkan empat wilayah daratan (pulau Sumatra, Semenanjung Malaya, pulau Bangka dan pulau Jawa). Pada bagian pulau Sumatra di pantai barat di arah utara diidentifikasi nama Tacola. Nama Tacola ini ini diduga adalah Angkola. Catatan geografis Prolomeus juga menyebut kamper diimpor dari Sumatra bagian utara. Peta lainnya dari era Ptolomeus adalah peta pulau Taprobana. Peta ini diduga adalah peta tentang wilayah awal pulau Kalimantan. Dengan mengacu pada garis ekuator di pulau Tabrobana/Kalimantan, wilayah bagian utara sudah eksis lebih dahulu, sementara di bawah garis ekuator, seperti halnya pulau Sumatra, telah terjadi proses sedimentasi jangka panjang sehingga pada masa kini pulau Kalimantan telah melebar kea rah barat maupun ke arah selatan.

Pada abad ke-2 wilayah Padang Lawas diduga kuat garis pantai timur Sumatra masih berada di Binanga yang sekarang. Pada abad ini, dalam catatan Tiongkok tahun 132 disebut utusan Raja Ye-tiao dari wilayah (laut) selatan menemuu Kaisar Tiongkok di Peking untuk meminta pembangunan pos perdagangan. Dimana pos perdagangan itu didirikan sulit ditemukan. Dimana pusat kerajaan Ye-tiao juga sulit dipastikan. Beberapa peneliti pada era Pemerintah Hindia Belanda ada yang menyebut Ye-tiao adalah Sumatra dan juga ada yang menyebut Jawa.


Sebagaimana diketahui prasasti tertua di nusantara ditemukan di pantai timur Vietnam yang berasal dari abad ke-4 dan prasasti Muara Kaman (Kutai) yang berasal dari abad ke-5. Catatan Eropa pada abad ke-5 menyebut bahwa kamper diekspor dari nama tempat disebut Barusse, nama yang diduga Barus. Tentang apa yang diidentifikasi nama Tacola dan kamper diinpor dari Sumatra bagian utara dalama catatan geografis Ptolomeus (abad ke-2) diduga terhubung dengan nama Barusse pada abad ke-5.

Pemahaman orang Eropa dan orang Tiongkok dari masa ke masa (sejak abad ke-2) diduga masih terbatas pada pulau Sumatra bagian utara, suatu wilayah yang memiliki potensi perdagangan untuk komoditi antara lain emas dan kamper. Dua komoditi ini bersifat tahan lama dengan volume kecil yang mudah dibawa dengan menggunakan teknologi navigasi pelayaran perdagangan yang masih senderhana (perahu/kapal bertonase ringan).


Dalam catatan Tiongkok era dinasti Leang (502-556) disebutkan nama Po-lu-sse. Nama ini oleh sejumlah peneliti pada era Pemerintah Hindia Belanda adalah Barus. Nama-nama lainnya yang disebut adalah Tu-k'un, Pien-tiu of Pan-tiu, Mo-chia-man dan Pi-song serta Kiu-li of Ktu-tchiu. Nama-nama tersebut diduga adalah Mo-chia-man sebagai nama Pasaman, nama Tu-k'un adalah Tikoe, nama Pien-tiu of Pan-tiu adalah Panti dan nama Pi-song adalah Sipisang/Hapesong dan nama Kiu-li adalah (Huta) Puli. Semua nama-nama tersebut tampaknya berada di pantai barat Sumatra.

Nama-nama tempat terawal di nusantara yang mudah dikenali pada masa ini diduga kuat nama-nama tempat di pantai barat Sumatra. Pada abad ke-2 sudah disebut nama Angkola (Tacola). Nama Ye-tiao meski masih sulit dikenali tetapu diduga adalah nama kerajaan di Sumatra bagian utara (penghasi emas dan kamper). Nama tempat paling utama di Sumatra bagian utara ini adalah Baros, yang kemudian disusul dengan nama-nama Hapesong, Puli, Pasaman dan Panti serta Tiku.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Geomorfologi Wilayah Padang Lawas dan Geomorfologis Pulau Sumatra: Membandingkan Masa Lampau dan Masa Kini

Hanya ada beberapa prasasti kuno di pulau Sumatra, yang diduga berasal dari abad ke-7. Semua prasasti tersebut berada di Sumatra bagian selatan (Palembang, Merangin, Bangka dan Lampung). Semua prasasti yang ada mengindikasikan pendudukan (kerajaan Sriwijaya). Kecuali prasasti Kedoekan Boekit dan prasasti Talang Tuwo, isi teks empat prasasti lainnya mirip satu sama lain. Dalam prasasti Kedoekan Boekit (682) raja Sriwijaya disebut berangkat dari Minanga (yang kemudian membuat prasasti di Sumatra bagian selatan).


Prasasti Tanjore (1030) menyebutkan nama-nama yang mirip dengan nama Pane, Angkola, Mandailing, Binanga, Sunggam, Malea, dan lainya, yang berada di sekitar Padang Lawas. Sementara itu prasasti Laguna (882) disebut nama Raja yang terkenal di Binwangan yang diduga di Binanga/Minanga. Sedangkan dalam catatan Tiongkok tahun 900 disebut nama San-bo-tsai. Dalam hal ini setelah disebut pada abad ke-7 nama Minanga/Binanga masih eksis hingga abad ke-9. Nama San-bo-tsai. Menjadi penting dalam konteks wilayah Padang Lawas, karena San-bo-tsai diduga adalah Tambusai.

Nama Minanga diduga Binanga dan nama San-bo-tsai diduga Tambusai menjadi penting karena menjadi pusat perdagangan yang penting. Binanga/Minanga di daerah aliran sungai Barumun dan Tambusai/San-bo-tsai di daerah aliran sungai Rokan. Dalam hal ini wilayah Padang Lawas dapat dikatakan berada diantara dua sungai besar: sungai Barumun dan sungai Rokan.


Seperti halnya Binanga di daerah aliran sungai Barunun, San-bo-tsai/Tambusai di daerah aliran sungai Rokan juga diduga awalnya adalah suatu teluk yang jauh ke pedalaman hingga ke Tambusai. Dalam perkembangannya terjadi proses sedimentasi jangka panjang.   Seperti juga Binanga di daerah aliran sungai Barunun, tempat San-bo-tsai/Tambusai diduga sudah dikenal pada abad ke-7. I’tsing menyebut tiga nama tempat: Maloyo, Nelanda dan Sriwijaya. I’tsing dari Palembang melakukan pelayaran 15 hari ke Maloyo lalu kemudian ke Nalanda. Maloyo ini diduga adalah San-bo-tsai/Tambusai.

Pada masa ini di wilayah Padang Lawas, diantara sungai Barumun dan sungai Rokan terdapat banyak candi-candi dari masa lampau. Candi terdekat ke laut adalah candi Simaputung di Binanga. Sementara candi terjauh di wilayah Padang Lawas terdapat di (desa) Sangkilon. Candi ini diduga adalah candi Hindu, suatu candi yang tidak jauh dengan candi Simangambat di pantai barat (Siabu). FT Schnitger (1936) melaporkan adanya candi di desa Manggis (desa yang tidak jauh dari Tambusai).


Dalam peta candi di Sumatra, konsentrasi yang tinggi di wilayah Padang Lawas menjadi sangat penting. Dalam hal inilah wilayah Padang Lawas begitu penting di masa lampau. Seperti disebut di atas wilayah Minanga/Binanga dan wilayah San-bo-tsai/Tambusai/Maloyu sudah dikenal abad ke-7, besar dugaan candi Sangkilon, candi Simangambat dan candi Manggis berasal dari era yang sama (abad ke-7 ke atas). Mengapa? 

Lalu bagaimana dengan candi Muara Takus? Yang jelas sejauh ini candi Muara Takus ada area candi satu-satunya di kawasan daerah aliran sungai Siak dan daerah aliran sungai Kampar. FT Schnitger (1936) menyebut ada jalur lalu lintas dari Padang Lawas ke Muara Takus melalui desa Manggis (diman ditemukan sisa candi tua).


Secara geomorfologis sungai Siak tidak terhubung dengan wilayah dimana candi Muara Takus berada. Hulu sungai Siak di wilayah Tandun. Candi Manggis berada di wilayah hulu daerah aliran sungai Rokan Kanan (dekat dengan Tambusai). Hul sungai Rokan Kiri di wilayah yang sama dengan hulu sungai Siak. Sedangkan area candi Muara Takus berada di daerah aliran sungai Kampar (Kanan) yang berhulu di wilayah Pantai. Jarak antara candi Manggis dan candi Muara Takus sekitar 80 Km. Oleh karena itu area candi Muara Takus masuk dalam cluster percandian di arah utara di wilayah Padang Lawas. Bagaimana dengan wilayah Minangkabau. Tidak ada akses dari wilayah Minangkabau ke area candi Muara Takus karena dibatasi oleh pegunungan tinggi. Lantas mengapa nama sungai disebut Kampar? Besar dugaan merujuk pada nama kamper (sentra produksinya berada di utara di wilayah Padang Lawas).

Candi Manggis adalah sisa candi Hindu dari era peradaban Hindu (seperti halnya candi Sangkilon). Sebagaimana halnya dengan candi-candi di Binanga, candi Muara Takus juga candi Boedha di era peradaban Boedha. Oleh karena itu candi-candi di Binanga dan candi di Muara Takus diduga berawal dari era yang sama yakni pada abad ke-7. Prasasti Kedoekan Boekit (682) di Palembang terjadi pada awal era Boedha. Kota Moloyu (yang diduga Tambusai/San-bo-tsai) pada era I’tsing abad ke-7) juga diduga sudah memasakui peradaban Boedha.


Hanya ada beberapa prasasti kuno di pulau Sumatra, yang diduga berasal dari abad ke-7. Dua yang penting adalah prasasti Kedoekan Boekit (682 M) dan prasasti Talang Tuwo (684). Dua prasati ini ditemukan di kota Palembang yang sekarang. Secara geomorfologis kota Palembang pada abad ke-7 diduga kuat sebagai suatu pulau di muara daerah aliran sungai Musi. Oleh karena itu pada abad ke-7 tersebut Minanga (Binanga), Moloyu (Tambusai) dan Palembang adalah kota-kota yang berada di garis pantai.

Dalam sejarah jaman lampau di Sumatra, sumber yang ada, jumlahnya sangat terbatas adalah dalam bentuk prasasti dan candi. Ada perbedaan hakikat antara prasasti dengan candi sebagai bukti data sejarah. Prasasti dapat dipindahkan, sementara candi tetap berada di tempanya. Lalu pertanyaannya apakah batu-batu prasasti yang ditemukan di Palembang, Merangin, pantai barat pulau Bangka dan Pasemah/Lampung tepat berada di masa lampau pada abad ke-7. Sulit dibuktikan, tetapi dalam hal ini pendekatan geomofgologis sangat membantu.


Prasasti Palas Pasemah Lampung belum lama ditemukan. Baru ditemukan pada tahun 1956. Oleh karena itu, prasasti Palas Pasemah belum dianalisis dan dinarasikan oleh para peneliti pada era Pemerintah Hindia Belanda. Wilayah kampong Palas Pasemah di Lampoeng. Kampong Palas Pasemah ini kini dikenal di daerah aliran sungai Way Pisang, salah satu cabang sungai Way Sekampong di hulu. Dalam Peta 1924 diidentifikasi sungai way Sekampoeng, dimana sungai way Pisang bermuara ke sungai tersebut. Kawasan muara sungai way Pisang ini adalah rawa yang sangat luas (Rawa Sragi). Di hulu sungai way Sekampoeng di utara terdapat sejumlah kampong. Demikian juga di arah hulu sungai way Pisang di arah barat daya juga terdapat sejunlah kampong. Hulu sungai way Pisang sedniri di gunung Radja Basa. Tempat utama di sekitar kawasan gunung Radja Basa adalah kota Kalianda di pantai. Dengan membandingkan dengan peta masa kini, sungai way Pisang tampaknya telah mengecil. Pada tahun 1924 sungai way Pisang masih dapat dinavigasi dari laut/sungai way Sekampoeng hingga mendekati lereng gunung Radja Basa dimana terdapat perkampongan. Mengapa kini sungai way Pisang mengecil dan tidak bisa dinavigasi? Secara geomorfologis, daerah aliran sungai way Pisang telah terjadi proses sedimentasi jangka panjang, dasar sungai telah mendangkal. Proses sedimentasi di Kawasan rawa di daerah aliran sungi way Pisang telah membentuk daratan baru, yang dari waktu ke waktu semakin meninggi (pelapukan vegetasi). Kini daerah aliran sungai yang menjadi daratan terbentuk kampong-kampong baru hingga kini. Tampaknya perkampongan di daerah aliran sungai way Pisang adalah kampong-kampong baru pada masa kini. Pada Peta 1924 kawasan perkampongan baru itu diidentifikasi sebagai kawasan rawa. Ketinggian permukaan tanah di sekitar muara sungai way Pisang kira-kira empat meter dpl. Suatu daratan rendah, yang biasanya daerah rawa-rawa. Sulit membayangkan dimana kini terbentuk kampong Palas Pasemah pada era zaman kuno abad ke-7 sebagai suatu daratan. Besar dugaan pada masa itu abad ke-7 kawasan kampong/desa Palas Pasemah masih perairan/laut. Lantas bagaimana di desa Palas Pasemah ditemukan prasasti yang berasal dari abad ke-7. Sayang sekali, bagaimana proses penemuan prasasti itu ditemukan tidak terinformasikan. Sementara itu, secara geomorfologi gunung Radja Basa adalah suatu pulau pada masa lampau. Suatu pulau yang menjadi gugus pulau-pulau yang menghubungkan pulau Sumatra dan pulau Jawa. Oleh karena, jika terdapat prasasti di kawasan yang berasal dari abad ke-7 haruslah terkait dengan daratan pulau (gunung Radja Basa). Besar dugaan kerajaan atau pusat peradaban awal di kawasan berada di sekitar lereng gunung Radja Basa. Patut dipertanyakan posisi awal prasasti pada abad ke-7 ada di kamping Palas Pasemah.

Dimana prasasti berada pada abad ke-7 bisa jadi berbeda dengan posisi dimana ditemukan pada masa modern sekarang. Yang jelas batu prasasti dapat dipindahkan. Seperti disebut di atas prasasti Pasemah bisa jadi berbeda tempat masa kini dengan masa lampau. Bagaimana dengan prasasti di Palembang.? Sementara candi di wilayah Sumatra bagian selatan paling tidak ditemukan di Bumi Ayu (daerah aliran sungai Mussi) dan di Muara Jambi di daerah aliran sungai Batang Hari.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar