Laman

Sabtu, 18 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto (4): Indische Bond dan Indische Partij di Indonesia; Bagaimana Dr Tjipto Menjadi Anggota Inti Indisch Partij?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Semua gerakan di Indonesia (baca: Indonesia) dimulai oleh orang-orang Belanda khususnya orang Indo, yang kemudian terbentuk Indisch Bond tahun 1898. Gerakan tersebut lalu meluas ke berbagai sisi. Pada tahun 1900 di Padang Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda menginisiasi pendirian organisasi kebangsaan Indonesia (pertama) diberi nama Medan Perdamaian (Dunia Perdamaian). Pada tahun 1901 organ Medan Perdamaian berupa majalah diberi nama Insulinde. Pada tahun 1903 Dja Endar Moeda mulai mengirim sejumlah guru untuk studi ke Belanda. Dalam konteks inilah kemudian terbentuk Indisch Partij. Singkatnya Republik ini tidak diciptakan oleh satu orang, tidak satu organisasi, juka tidak satu bangsa, tetapi semuanya ada permulaan Sejarah Sepak Bola di Indonesia


Sebagai seorang Indo, Douwes Dekker merasa terjadinya diskriminasi yang membeda-bedakan status sosial antara Belanda totok (asli), Indo (campuran), dan Bumiputera (pribumi) oleh pemerintah Hindia Belanda. Kedudukan dan nasib para Indo tidak jauh berbeda dengan Bumiputera. Di Bandung, sudah sejak lama terdapat organisasi Indo-Eropa seperti organisasi Indische Bond yang berdiri tahun 1899 (1898) dan organisasi Insulinde yang berdiri tahun 1907. Kedua organisasi tersebut bertujuan untuk mengangkat derajat kaum Indo dalam bidang sosial-ekonomi dan menjalin perserikatan dengan Belanda tanpa memisahkan diri dari negara induk. Pemikiran ini tentu saja bertolak belakang dengan Dekker. Dalam pidatonya di hadapan anggota Indische Bond tanggal 12 Desember 1911 Dekker membangkitkan semangat kaum Indo untuk memberontak dan melepaskan diri dari pemerintah kolonial. Dan karena jumlah kaum Indo yang sedikit, maka mereka harus bersama-sama dengan kaum Bumiputera berjuang dengan kaum Indo menjadi pelopor. Lalu terbentuk Panitia Tujuh..Pada tanggal 6 September 1912, Panitia Tujuh melakukan suatu rapat di bawah pimpinan Dekker di Bandung dan hasilnya terbentuk perhimpunan baru bernama Indische Partij (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Indisch Bond dan Indisch Partij di Indonesia? Seperti disebut di atas, semuanya dimulai dari Indische Bond yang kemudian terbentuk Indisch Vereening di Belanda (1908) dan Indisch Partij di Indonesia yang kemudian Dr Tjipto ikut bergubung dengan Indisch Partij. Lalu bagaimana sejarah Indisch Bond dan Indisch Partij di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Indisch Bond dan Indisch Partij di Indonesia; Bagaimana Dr Tjipto Menjadi Anggota Indisch Partij?

Republik ini dibangun oleh banyak orang dari berbagai pihak. Namun seperti disebut di atas semua perjuangan yang dilakukan dengan berbagai metode masing-masing ada permulaannya. Organisasi-organisasi kebangsaan sudah didirikan, jumlahnya semakin banyak. Orang-orang pribumi juga semakin banyak yang terpelajar, tidak hanya yang studi di Hindia juga yang studi di Eropa/Belanda. Pada tahun 1912 adalah pemulaan untuk meninjau semua yang telah dilakukan, memetakan semua yang ada, untuk menarik garis jalan yang akan dituju. 


Di seluruh wilayah Hindia Belanda, administrasi pemerintahan semakin rapih semakin kuat. Kerapihan dan kekuataan administrasi tersebut di sisi lain menyebabkan tekanan kepada warga Hindia Belanda semakin kuat. Indisch Bond (di Batavia), Medan Perdamaian (di Sumatra), Boedi Oetomo (di Jawa) dan lainnya di Hindia hanya berjuang secara lembut dengan hanya bersifat incremental. Demikian juga dengan Indische Vereeniging, Vereeniging Moederland en Kolonien dan Indisch Genootscap di Belanda setali tiga uang. Pada tahun 1912 ini suatu komite yang terbentuk di Bandoeng melakukan revolusi di tubah Indisch Bond dengan tujuan untuk mempertegas metode perjuangan radical untuk mencapai hak yang sama dan kemerdekaan. 

Sebelum Komite Bandoeng melakukan revolusi di tubuh Indisch Bond di Batavia, di Belanda diadakan pertemuan umum Indisch Vereeniging pada tanggal 11 Desember 1911. Ini juga sehubungan dengan terbitnya buku “Dor Duisternis tot Licht” yang disusun oleh JH Abendanon yang diterbitkan oleh Indisch Vereeniging melalui penerbit GCT van Dorp en Co di Den Haag. Iklan pertama dimuat di surat kabar Het vaderland, 27-06-1911. 


Het vaderland, 27-06-1911: ‘Buku yang luar biasa. Dikumpulkan dalam satu volume dan diterbitkan (dengan judul Door Duisternis tot licht, gedachten van Raden Adjeng Kartini Melalui Kegelapan Menuju Cahaya, pemikiran Raden Adjeng Kartini. Diterbitkan oleh GCT van Dorp en Co., Semarang, Surabaya, Den Haag) sejumlah surat dari Raden Adjeng Kartini, wanita muda Jawa yang luar biasa (ia meninggal pada usia 25 tahun), yang hidupnya yang singkat memberikan kontribusi besar pada pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan spiritual beberapa wanita Jawa terkemuka, dan dengan demikian membuka bagi kita, orang Eropa, perspektif baru tentang disposisi spiritual orang Jawa pada umumnya. Kartini, seperti yang ia sukai dipanggil dalam surat-suratnya, adalah salah satu putri dari almarhum Bupati Japara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Bapak Abendanon bertemu dengannya, sebagai kepala Departemen Pendidikan, Ibadah, dan Industri, selama perjalanan resmi yang dilakukan dengan tujuan berkonsultasi dengan Bupati dan istrinya serta ketiga putri mereka, yang telah mereka berikan pendidikan liberal Eropa, tentang apa yang dapat dilakukan untuk pengembangan intelektual gadis-gadis Jawa dari kelas atas dan bawah. Surat-surat dan fragmen surat yang diterbitkan, yang ditujukan kepada Bapak Abendanon dan keluarganya serta kepada berbagai tokoh pria dan wanita terkemuka di negara kita dan di tempat lain (di antara yang terakhir juga Profesor Anton te Jena, yang baru-baru ini tampil di Jerman sebagai pembela kebijakan kolonial kita, dan istrinya), menjadi bukti kecerdasan dan kehidupan emosional yang sangat berkembang, ditambah dengan keinginan yang mendalam untuk mengangkat rasnya secara intelektual dan spiritual, dan khususnya perempuan dan anak perempuan. Akibatnya, koleksi ini merupakan sumber yang hampir tak habis-habisnya untuk mempelajari pola pikir dan kehidupan spiritual orang Jawa dan perempuan Jawa. Siapa pun yang ingin melakukan sesuatu demi kepentingan perkembangan ras Jawa tidak boleh melewatkan buku ini. “Namanya akan tetap diberkati”, demikian Bapak Abendanon mengenang di akhir kata pengantarnya wanita terkemuka ini di antara orang Jawa dan masyarakat lain di Kepulauan Jawa, yang baginya ia seperti Aurora berjari mawar, menunjuk dari kegelapan menuju cahaya pagi kemajuan, yang hanya dapat diperoleh melalui peningkatan jiwa dan pikiran. Namanya pun akan diberkati di antara ras kulit putih, yang telah ia dekatkan dengan rasnya sendiri melalui ide-idenya”. Tujuan penerbitan ini, selain membangkitkan simpati, adalah untuk mengamankan kerja sama banyak pihak untuk pendirian sekolah berasrama dan sekolah harian bagi putri-putri kepala suku asli, seperti yang telah dibayangkan oleh penulis. Batu fondasi untuk lembaga tersebut telah diletakkan secara finansial. Dengan mengingat hal ini, kami juga ingin menarik perhatian khusus pada buku yang luar biasa ini’. 

HJ Abendanon adalah mantan Menteri Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda (1900-1905). Setelah kembali ke Belanda bergabung dengan Vereeniging Oost en West (orang-orang Belanda yang mendukung pemikiran dalam hubungannya kerjasama orang Belanda dan orang pribumi) di Den Haag. Organisasi inilah yang banyak berkontribusi dalam politik etik. 


Pada tahun 1908 HJ Abendanon mendatangani Soetan Casajangan di kediamannya di Leiden untuk mengkonfirmasi  Soetan Casajangan dalam pendirian organisasi mahasiswa pribumi di Belanda. Soetan Casajangan menjawab masih menundanya karena kesibukan studi. Beberapa bulan kemudian pada tanggal 25 Oktober 1908 di kediamana Soetan Casajangan didirikan organisasi mahasiswa pribumi dengan nama Indisch Vereeniging. Di alamat yang sama juga berada tempat kediaman Raden Kartono. Pada tahun 1910 masa jabatan Soetan Casajangan sebagai ketua Indisch Vereeniging berakhir dan kemudian diserahkan kepada ketua terpilih Dr Ph Laoh. Namun jabatan itu hanya dijabat Ph Laoh karena akan segera kembali ke tanah air. Ph Laoh menikah di Belanda tanggal 1 Desember (lihat De courant, 02-12-1910). Ph Laoh dan istri pada tanggal 3 Desember 1910 dengan kapal ss Rindjani dari Rotterdam berangkat ke Batavia (lihat De Maasbode, 04-12-1910). Dalam manifest kapal dicatat Dr Ph Laoh dan istri naik di Marseille (Prancis). Boleh jadi pasangan muda ini bermulan madu di kereta api dari Belanda ke Prancis (Marseile). Jabatan ketua Indisch Vereeniging diserahkan kepada Hoesein Djajadiningrat yang belum lama lulus ujian (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 19-10-1910). Disebutkan Raden Mas Hoesein Djajadiningrat telah lulus (cum laude) ujian sarjana (Drs) dalam bidang bahasa dan sastra kepulauan Hindia Timur di Universitas Leiden. De Maasbode, 19-06-1911: ‘Leiden, 19 Juni. Lulus ujian kandidat dalam bidang hokum Raden Mars Noto Soeroto. Algemeen Handelsblad, 11-08-1911: ‘Koresponden "Bat. Nbl" di Batavia melaporkan bahwa Drs Raden Hoessein Djajadiningrat akan tiba di Hindia menjelang akhir tahun ini. Setelah meraih gelar sarjana sastra, beliau kemungkinan akan ditugaskan untuk mempelajari bahasa-bahasa daerah. Pada bulan Oktober Soetan Casajangan diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan pada bulan Oktober 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya:

 

Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).

 

..saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi). 

Dalam pertemuan Indisch Vereeniging pada tanggal 24 Desember 1911 banyak hal yang dibicarakan yang pertama adalah sehubungan dengan kepulangan Drs Hoesein Djajadinigrat ke tanah air. Ketua Indische Vereeniging diserahterimakan dari Drs Hoesein Djajadinigrat kepada Noto Soeroto. 


Dalam pertemuan ini juga turut dihadiri guru muda yang dikirim Boedi Oetomo belum lama tiba di Belanda, Sjamsi Widagda yang dititipkan kepada Soetan Casajangan (yang saat ini Soetan Casajangan sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool di Haarlem dan Rotterdam). Sebagaimana diketahui Soetan Casajangan adalah satu-satunya mahasiswa pribumi yang mengambil bidang keguruan, lulus akta LO tahun 1907 dan lulus akta MO pada tahun 1909. 


Dalam pertemuan ini juga Noto Soeroto berbicara tentang ‘Pemikiran Raden Adjeng Kartini’ sebagaimana di dalam buku yang disusun oleh JH Abendanon. Buku yang berisi surat-surat RA Kartini yang dikirim kepada nona E Zeehandelaar, nyonya Haarthalt, Peof dr GK Anton dan nyonya, Nyonya HG de Booy-Boissevain, Mr JH Abendano dan nyonya serta lainnya. Sebagaimana diketahui RM Kartono (abang RA Kartini) berangkat studi ke Belanda tahun 1896 dan pada tahun 1909 yang lalu telah lulus sarjana bahasa dan sastra di Leiden (di kampus yang sama Hoesein Djajadiningrat lulus 1910). Di Leiden, Soetan Casajangan dan RM Kartono tinggal di alamat yang sama.


Het vaderland, 16-02-1912: ‘Pemikiran Raden Adjeng Kartini’. Dengan senang hati saya membaca pidato Raden Mas Noto Soeroto tentang "Pemikiran Raden Adjeng Kartini" (disampaikan pada pertemuan tanggal 21 Desember 2011 untuk Indische Vereeniging). Seperti yang disebutkan dalam kata pengantar buku yang disusun oleh JH Abendanon, disebutkan buku ini adalah publikasi pertama Indische Vereeniging, yang juga akan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Melayu, agar semua warga negara di seluruh Hindia dapat memperhatikan pemikiran wanita terhormat itu, yang merasakan dengan sangat akurat dan mendalam apa yang kurang di Hindia, dan pada saat yang sama dengan sangat baik membedakan poin-poin dalam karakter nasional yang membutuhkan perbaikan atau modifikasi, atau yang perlu dikembangkan lebih lanjut ke arah yang benar. Justru pemikiran-pemikiran tersebut, yang berasal dari simpati dan empati salah satu warga negara yang paling terhormat, akan menjadi dorongan khusus bagi Hindia. Namun, beberapa detail kecil menarik perhatian saya. Judul, serta apa yang dinyatakan pada halaman 5 dan 6, mungkin menimbulkan kecurigaan bahwa "pemikiran" ini pada saat itu telah memberikan dorongan bagi pendirian Indische Vereeniging. Siapa pun yang sedikit familiar dengan sejarah Indisch Vereeniging akan tahu bahwa organisasi ini didirikan atas inisiatif Soetan Casajangan Soripada. Banyak juga yang membaca pidato yang disampaikan akan bertanya pada diri sendiri: "Apa yang telah dilakukan Indisch Vereeniging hingga saat ini dalam semangat Kartini?" "Apakah dia (Kartini) hanya mendapatkan dukungan dari para pemuda bangsanya sendiri setelah menyampaikan pidato ini?" Tidak, tentu tidak! Pemikirannya sudah mulai berpengaruh. Pada pertemuan tahunan terakhirnya, Boedi-Oetomo memutuskan untuk mengirim satu atau lebih guru ke Belanda, sehingga setelah menyelesaikan studi mereka, mereka dapat "bekerja dengan lebih produktif di negara mereka sendiri untuk mewujudkan cita-cita kita (Kartini)" (hlm. 23), dengan mengingat: "Berikan pendidikan dan pengasuhan kepada orang Jawa" (hlm. 23). Dan bukan hanya di Jawa, tetapi di seluruh Hindia Belanda, kebangkitan ini terlihat jelas. Saat ini, beberapa orang Batak dan Melayu sudah belajar di negara ini untuk membantu mewujudkan, setelah menyelesaikan studi mereka, cita-cita yang sangat diinginkan Kartini di tanah air mereka sendiri. “Berikan pendidikan dan pengasuhan kepada Hindia!” Tidak seorang pun dapat mengklaim, setelah membaca pidato yang disampaikan kepada “Vereeniging Moederland en Kolonien” oleh Soetan Casajangan Soripada, bahwa Hindia pada umumnya tidak merasakan dengan sangat jelas bahwa mereka kekurangan hal ini; dapat berpendapat bahwa pemikiran Kartini ini hanya dapat berfungsi sebagai untaian lampu bagi Indisch Vereeniging, dan saat ini tidak mewujudkan gagasan utama Pemuda Hindia; dapat berpendapat bahwa pemikiran ini belum dikaji secara menyeluruh. Saya ingin melihat referensi sederhana terhadap fakta-fakta ini, yang sudah dapat dipastikan, ditambahkan ke dalam pidato yang sangat simpatik tersebut. Terima kasih atas publikasinya: JACS. V’. 

Di tanah air (Hindia), pada awal tahun 1912 terbit surat kabar baru berbahasa Belanda di Bandoeng, De expres. Surat kabar ini dipimpin sekaligus pemimpin redaksi EFE Douwes Dekker yang edisi pertama terbit hari Jumat, 01-03-1912. Sudah barang tentu, EFE Douwes Dekker terus mengamati perkembangan dan dinamika orang-orang pribumi di Belanda yang tergabung dalam Indisch Vereeniging. Lantas apakah surat kabar De expres akan menjadi organ (corong) dari Indische Bond? 


Sejak Indische Bond didirikan tahun 1898 di Batavia tidak pernah terinformasikan memiliki organ baik sebagai majalah atau surat kabar. Organisasi kebangsaan pribumi pertama yang didirikan di Padang tahun 1900 telah memiliki organ sendiri berupa majalah bulanan yang diberi nama Insulinde di bawah pemimpin redaksi Dja Endar Moeda. Sementara Boedi Oetomo di Jawa maupun Indisch Vereeniging di Belanda belum memiliki organnya masing-masing. Majalah “Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West” adalah organ dari Vereeniging Oost en West, organisasi yang lebih berfokus pada pemikiran daripada aksi yang didirikan tahun 1899 dan mulai pada tahun 1901 menerbitkan majalah tersebut. Organisasi sejenis didirikan tahun 1901 dengan nama Vereeniging Moederland en Kolonien yang banyak berkontribusi dalam politik etik. Organisasi tertua adalah Indisch Genootschap yang didirikan di Den Haag pada tahun 1854. Sementara itu organisasi sejenis sudah lama ada di Hindia yakni Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen didirikan di Batavia tahun 1778. 

Lantas siapa EFE Douwes Dekker? Seperti disebut sebelumnya, EFE Douwes Dekker kakeknya adalah Jan Douwes Dekker yang merupakan saudata dari Eduard Douwes Dekker. Dalam hal ini, Eduard Douwes Dekker adalah di masa lalu dan apakah kini EFE Douwes Dekker akan meneruskan perjuangan Eduard Douwes Dekker? Yang jelas pada tahun 1899 Dja Endar Moeda, editor surat kabar Pertja Barat di Padang mengkritik pengumpulan uang di seluruh Hindia untuk dikirim ke Transvaal di Afrika Selatan sementara di Hindia banyak penduduk miskin dan sangat membutuhkan. 


Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 16-12-1899: ‘Dja Endar Moeda, Editor "Pertja-Barat”. Kepada Yth. Editor! Dengan terkejut, pagi ini saya membaca tulisan Carrier di Sumatra-Curant kemarin, terutama bagian yang berkaitan dengan saya pribadi. Sebelum menanggapinya, saya ingin mengawali dengan hal berikut. Saya juga menganggap berlebihan bahwa begitu banyak uang dikirim ke Transvaal yang dapat digunakan lebih bermanfaat untuk kebutuhan dan keperluan Hindia. Lagipula, penduduk Transvaal kaya, sedangkan di Hindia masih terdapat kekurangan di banyak bidang. Pengiriman uang ke Transvaal tidak dapat dikritik, terutama karena hal ini dilakukan terutama sebagai ungkapan simpati, dan simpati dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, termasuk dengan mengirimkan uang, sehingga pengiriman tersebut, menurut pendapat saya, tidak seharusnya dikutuk. Selain itu, setiap orang bebas untuk mengungkapkan simpatinya dengan cara yang menurutnya paling tepat; tidak seorang pun berhak untuk mencegah hal ini. Lagipula, mereka yang mengirim uang tidak mencegah orang lain untuk menutup dompet mereka, dan mereka juga tidak mencemoohnya? Jika Carrier sama sekali tidak merasa simpati terhadap orang-orang Transvaler, maka itu urusannya. Alasan mengapa saya menggunakan kata-kata "nènèk moyang" adalah ini: pada saat itu saya ditanya oleh seseorang yang tidak dikenal, tentu saja melalui surat anonim, apakah orang-orang Transvaler mungkin adalah "nènèk mojang" dari Endar Moeda?, dan kemudian saya menulis di Pertja-Barat: bahwa orang-orang Boer bukanlah "nènèk mojang" dari ; "memang, tetapi ... mendapat simpati saya, dan jika ada orang yang berpikir bahwa orang Inggris adalah milik mereka sendiri, akan bijaksana baginya untuk pergi dan membantu mereka, karena orang Inggris sekarang lebih membutuhkan bantuan daripada orang Boer". Jika Carrier menyerang saya tentang hal ini dengan cara lain sebelum saya, jika ia terlebih dahulu meminta informasi kepada saya, ia akan mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya, dan pada saat yang sama akan bertindak jauh lebih sederhana, terlebih lagi karena ia selalu bersikap ramah terhadap saya. Saya harap jika Carrier ingin menyerang saya lagi, mulai sekarang ia akan bersedia melakukannya atas nama saya — menurut pendapat saya, ia cukup mahir berbahasa Melayu untuk dapat melakukannya dalam bahasa lokal juga — dan hanya mengirimkannya ke lembar lain jika saya menolak pencatatannya. Bagaimanapun, itu akan menjadi tindakan yang lebih rasional, terutama terhadap kenalan baik. Saya tidak akan mengatakan lebih banyak tentang hal ini, Tuan Editor; saya percaya ini sudah cukup. Hormat saya. Dja Endar Moeda, Editor "Pertja-Barat." Padang, Desember 1899’. 

Banyak orang di Hindia tidak hanya mengumpulkan uang untuk dikirim ke Transvaal di Afrika Selatan, juga ada sejumlah orang di Hindia yang akan berangkat ke Afrika Selatan untuk membantu Transvaal sebagai tentara sukarelawan termasuk diantaranya EFE Douwes Dekker dan saudaranya J Douwes Dekker. Transvaal adalah suatu Republik di Afrika Selatan yang didominasi keturunan orang-orang Belanda (semacam orang Indo di Hindia) yang tengah berperang dengan tetangganya di koloni Inggris. 


Zutphensche courant, 06-03-1900: ‘Surat kabar Bat. Nbd. Laporan menyebutkan bahwa pada tanggal 2 Februari, tiga pemuda dari Hindia Belanda, Koeff, EFE Douwes Dekker, dan seorang lagi yang namanya tidak diketahui oleh surat kabar ini, berangkat ke Singapura dengan kapal "La Seyne" untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Lorenco Marquez dan ZAR-Republik Afrika Selatan, dengan tujuan bergabung dengan tentara Boer sebagai sukarelawan. Banyak teman dan kenalan memberikan sambutan hangat kepada trio yang bersemangat itu’. Soerabaijasch handelsblad, 12-04-1900: ‘Kepada Yth. Editor. Dengan hormat saya meminta agar Anda menerbitkan tulisan berikut di surat kabar Anda yang banyak dibaca. Bukankah baru-baru ini kita mengetahui bahwa E Douwes Dekker Jr. telah berangkat ke Transvaal? Segera kita akan melihat saudaranya juga pergi ke sana. Selama bertahun-tahun, J Douwes Dekker telah menunjukkan kepada kita bahwa ia adalah pembalap terbaik di Jawa, bahkan, katakanlah, pembalap terbaik di Hindia. Memegang gelar juara di Hindia begitu lama membuktikan bahwa pria tersebut memiliki fisik yang kuat. Pada balapan terakhir di sini, ia hampir menunjukkan kepada kita, memang benar, bahwa ia bukan lagi Douwes Dekker yang dulu, tetapi jika dibandingkan dengan fakta bahwa ia hanya berlatih sekitar delapan hari untuk balapan tersebut dan belum melihat sepeda selama sekitar enam bulan sebelumnya, maka penampilannya masih luar biasa jika dibandingkan. Pada tanggal 15 bulan depan. Balapan kembali diumumkan di Semarang, dan "Atlet" kita, yang baru berlatih selama 16 hari, akan menunjukkan bahwa, setelah hanya tiga minggu pelatihan, ia kembali menjadi pembalap seperti dulu. Oleh karena itu, hampir tidak ada keraguan tentang kemenangannya, dan kami sangat berharap semua pesepeda Surabaya akan memberikan sambutan meriah terakhir kalinya saat ia kembali dari Semarang. Hidup Douwes Dekker! Terima kasih atas ruang yang diberikan, Hormat saya, FV. Catatan Redaksi: Besok, kita akan diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan nyata kepada juara kita: lelang barang-barang rumah tangganya akan diadakan di rumahnya. Editor’. De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 07-07-1900: ‘Kami menerima surat dari Douwes Dekker yang telah berangkat dari sini ke Transvaal, dari Zanzibar’. De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 22-10-1900: ‘Surat dari Transvaal. Jules Douwes Dekker menulis surat kepada SHB di Dalmanutha, tertanggal 1 Agustus, dan karenanya telah berlayar selama dua setengah bulan. Di dalamnya, Douwes Dekker menyatakan bahwa ia naik kapal König di Napoli pada tanggal 21 Juni; kapal ini singgah berturut-turut di Port Said, Suez, Aden, Tanga, Zanzibar, Dar es Salaam, Mozambik, Gumde, dan Beiraan, dan mencapai Teluk Delagoa pada tanggal 23. "Pada hari itu saya melakukan persiapan dan persiapan lainnya untuk berangkat keesokan paginya, tetapi harus mendekam di penjara pada tanggal 24 tahun yang sama karena pelanggaran polisi". Keesokan harinya, 25 Juli, kami berangkat dengan kereta api ke Watervalboven, bermalam di sana, dan berangkat pada tanggal 26 ke Machadodorp, di mana kami dipersenjatai dan ditugaskan ke Korps Hollander di bawah komando Bapak Villeneuve. Korps ini berangkat dua hari kemudian ke Dalmanutha untuk menahan musuh, yang telah melewati Belfast, sehingga kami sekarang berada di posisi yang baik di Dalmanutha, khususnya di Elandskop. Jenderal Botha juga telah mundur dengan 6.000 kavaleri, dan kami berharap dapat berhasil menghadapi musuh di sini, yang diperkirakan akan datang kapan saja. Kehidupan di kamp, ​​atau lebih tepatnya perang, sangat keras dan melelahkan. Kami memiliki dua meriam maxi-major bersama kami, dan saya bekerja keras hingga hampir mati untuk menempatkan kedua meriam itu di puncak bukit. Makanan kami masih cukup baik; kemungkinan akan memburuk. Untungnya, musim dingin hampir berakhir, karena sangat dingin di lapangan terbuka dengan langit seperti tenda yang menyerupai tempat tidur. Saya hanya bisa menceritakan sedikit tentang situasinya. Jika Inggris tidak menderita kerugian besar di Machadodorp, dan jika mereka berani maju lebih jauh ke timur, maka saya tidak tahu. Medannya indah. Saya ingin menulis banyak hal kepada Anda, tetapi tidak bisa, karena surat ini sedang dibuka di Komatipoort. Namun, cobalah untuk sedikit meredam simpati Anda terhadap Transvaal, meskipun tidak mengenai masalah itu sendiri. Saya mendapat informasi bahwa saudara saya telah ditawan dalam Pertempuran Daspoort’. 

Berapa lama EFE Douwes Dekker di Afrika Selatan membantu Transvaal? J Douwes Dekker memberitahukan melalui surat bahwa saudaranya (EFE Douwes Dekker) telah ditawan musuh dalam Pertempuran Daspoort (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 22-10-1900). Tawanan yang ditangkap tentara Inggris seperti EFE Douwes Dekker kemudian dikonsentrasikan ke Ceylon. 


P de Vries yang mengalami sebagai tawanan di Ceylon menulis: (diringkas): Setelah tiga minggu, kami akhirnya berangkat ke Ceylon dengan kapal City of Vienna. Kapal ini adalah kapal kargo, yang khusus dilengkapi untuk mengangkut kuda. Para tahanan ditempatkan seluruhnya di dek bawah kapal. Kapal berisi sekitar seribu orang, Pada tanggal 24 September (1900), kami tiba di Kolombo dan dari sana pergi dengan kereta api ke Dyatalawa. Pada tanggal 1 Januari (1901), semua orang asing dibawa ke Rayam. Kami kembali dikurung di dalam kawat berduri. Setelah beberapa bulan, sebuah bangunan barak ditambahkan untuk tahanan yang baru tiba. Bulan-bulan berlalu seperti itu, hingga tanggal 31 Agustus (1901) tiba. Lebih dari sebulan sebelumnya, orang dapat mengamati bahwa sesuatu akan dilakukan; bisikan misterius, bersembunyi di setiap sudut dan celah hanya untuk menghindari gangguan yang tidak diinginkan, menunjukkan bahwa sesuatu harus dibahas atau dilatih. Itu cukup sulit dalam keadaan kami, karena tidak ada bangunan kosong yang tersedia dan ruang kamp juga terlalu kecil untuk saling menghindari. Pengangkatan komite perayaan, berbagai sub-komite, dan penyebaran daftar pendaftaran semuanya menciptakan pergerakan dan kesibukan di kamp kami yang belum pernah terjadi sebelumnya. Secara umum, perayaan itu hanya ditujukan untuk warga Belanda dan warga Belanda lama, bersama dengan beberapa tamu undangan. Harapan kami bahwa akan ada banyak hal yang terjadi tidak mengecewakan, ketika, beberapa hari sebelum tanggal 8 Agustus (1901), kami dikejutkan dengan sebuah program yang menunjukkan hari yang ceria dan sibuk. Program ini dirancang dan dilaksanakan oleh Douwes Dekker yang terhormat, yang juga bertanggung jawab atas gambar dan lukisan selanjutnya, yang ia kerjakan dengan sangat teliti. Sehari sebelumnya, gubuk kami, yang sebagian besar ditempati oleh warga Belanda, didekorasi dengan sangat rapi dengan tanaman hijau dan kain bendera; sementara itu, sebuah panggung didirikan di salah satu ujungnya, atau lebih tepatnya digantung, karena kami menggunakan selimut kami secara bersamaan sebagai layar, sayap, dan karpet. Tempat tidur kami telah dipindahkan ke luar gubuk untuk sementara waktu. Malam segera berakhir; hari perayaan dimulai bagi beberapa orang dengan sedikit senandung. Dengan senandung? Ya, karena di luar masih gelap, begitu pula di kepala beberapa orang yang tidur larut; namun orang sudah dapat mendengar suara mengerikan yang memekakkan telinga. Beberapa tamu yang riang gembira tidak tahan berlama-lama di tempat tidur mereka dan, untuk menyibukkan diri sejenak, masing-masing melihat-lihat, lalu tabuhan drum dilakukan sekuat tenaga, yang juga diiringi oleh seorang pemain seruling; inilah nomor perayaan pertama (lihat Franeker courant, 15-01-1903). 

EFE Douwes Dekker di tempat kamp konsentrasi di Ceylon masih terinformasikan hingga bulan Agustus 1901. Tampaknya, EFE Douwes Dekker di Ceylon menginisiasi suatu perayaan diantara orang-orang (keturunan) Belanda yang kemudian laporannya dikemas untuk diterbitkan sebagai buku di Belanda (Haarlem). Hasil penjualan buku itu akan digunakan untuk membantu kepentingan Broekhuizenfonds, untuk keluarga yang ditinggalkan oleh pejuang Boer yang gugur. 


Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 27-01-1902: ‘Percetakan buku dan litografi H Kleinmann & Co. di Haarlem mengirimkan kepada kami untuk didiskusikan salinan album, Wilhelminadag op Ceylon, Herinneringsalbum van de Ragamafeesten (Hari Wilhelmina di Ceylon, Album Peringatan Festival Ragama) pada tanggal 31 Agustus 1901, yang aslinya diproduksi oleh EFE Douwes Dekker, tawanan perang di Ceylon, yang mengirimkannya kepada FC Verselewel de Witt Hamer di Haarlem untuk diterbitkan dalam bentuk cetak faksimili dan agar hasilnya digunakan untuk kepentingan Broekhuizenfonds, untuk keluarga yang ditinggalkan oleh pejuang Boer yang gugur. Harga album adalah f4,50. Semua biaya dihitung seadil mungkin, sehingga lebih dari setengahnya bermanfaat bagi dana tersebut. Kata pengantar ditulis oleh Dr JB Schepers, guru di gimnasium di Haarlem. Album aslinya dipersembahkan kepada Yang Mulia Ratu Wilhelmina, yang menerimanya dengan ramah. Untuk menjual album ini di Jerman, Prancis, dan Amerika, penerbit telah menerjemahkan kata pengantar Dr Schepers ke dalam bahasa Prancis, Jerman, dan Inggris. Pengerjaan ilustrasi, yang menggambarkan sekilas kehidupan para tawanan perang, menunjukkan bagaimana mereka menyibukkan diri dan menikmati liburan bersama, sangat berhasil. Faksimili program perayaan, dll., juga dibuat dengan sangat baik. Publikasi ini, untuk tujuan yang baik, pasti akan menemukan pembeli’. 

Seberapa lama EFE Douwes Dekker dan tawanan lainnya di Ceylon tidak terinformasikan. Bagaimana hasil inisiatif EFE Douwes Dekker untuk penerbitan buku untuk membantu orang Boer juga tidak terinformasikan . Yang jelas EFE Douwes Dekker terinformasikan sudah berada kembali di Hindia (lihat De locomotief, 02-01-1903). Disebutkan EFE Douwes Dekker mengikuti pendidikan di Instituut voor Handelsonderwijs (Institut Pendidikan Komersial) untuk Boekhouden, handelsrekenen en handelsrecht (Pembukuan, Aritmatika Komersial, dan Hukum Komersial telah lulus ujian yang diselenggaraan mulai tanggal 24 (Desember 1902).

 

EFE Douwes Dekker bertunangan di Weltevreden (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-04-1903). Disebutkan bertunangan: EFE Douwes Dekker dan C Ch. Deije di Weltevreden. Bataviaasch nieuwsblad, 11-05-1903: ‘Menikah EFE Douwes Dekker dengan Clara C Deye. Batavia, 11 Mei 1903’. 

Dalam perkembangannya EFE Douwes Dekker terinformasikan sebagai koresponden di Batavia untuk surat kabar yang terbit di Semarang De Locomotief (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 16-06-1903). Disebutkan dalam salah satu artikel EFE Douwes Dekker mendapat koreksi/kritik dari Karel Wijbrand (pemimpin redaksi Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië).

 

De Preanger-bode, 04-11-1903: ‘M Vierhout, pemimpin redaksi baru De Locomotief, tiba kemarin dari Belanda dengan kapal uap “Oranje” dan akan tinggal di Batavia selama beberapa hari sebelum berangkat ke Semarang. Menurut Het Nieuwsblad, Vierhout disambut di Tandjong Priok oleh agen De Locomotief, EFE Douwes Dekker. Kami pun menyampaikan sambutan hangat kepada kolega baru kami di Hindia’. 

EFE Douwes Dekker kini telah menjadi seorang jurnalis di Batavia. Nama EFE Douwes Dekker muncul sejak isu Transvaal. Saat itu jurnalis Dja Endar Moeda pemimpin redaksi surat kabar Pertja Barat di Bandoeng telah mengkritik/menyindiri warga di Hindia mengumpulkan dana untuk membantu orang-orang Transvaal yang kaya di Afrika Selatan sementara di Hindia banyak penduduk yang miskin dan lebih membutuhkan bantuan. Pada fase inilah terinformasikan beberapa pemuda dari Hindia berangkat ke Transvaal termasuk EFE Douwes Dekker. 


Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda lulusan sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempoean (Tapanoeli) pada tahun 1884. Setelah pension dari guru di Singkil, Dja Endar Moeda berangkat haji ke Mekkah pada tahun 1893. Sepulang dari Mekkah, Dja Endar Moeda memilih berdomisili di Padang (ibu kota Pantai Barat Sumatra) dan membuka sekolah rakyat karena sekolah pemerintah tidak mampu menampung semua penduduk usia sekolah. Pada tahun 1895 penerbit surat kabar Pertja Barat merekrut Dja Endar Moeda sebagai redaktur. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mengakuisi Pertja Barat beserta percetakannyan yang kemudian langsung menerbitkan surat kabar baru Tapian Na Oeli. Pada tahun 1900 ini juga Dja Endar Moeda mendirikan organisasi kebangsaan pribumi (yang pertama) di Padang dengan nama Medan Perdamaian. Pada tahun 1901 Dja Endar Moeda menerbitkan majalah bulanan Insulinde sebagai organ dari Medan Perdamaian. Pada tahun 1903 Dja Endar Moeda melalui Medan Perdamaian akan mengirim guru-guru pribumi untuk studi keguruan ke Belanda, salah satu diantaranya adalah Soetan Casajangan (adik kelasnya dulu di sekolah guru Padang Sidempoean). 


Dunia pers di Hindia telah mengorbitkan nama EFE Douwes Dekker. Dimulai tahun 1903 sebagai koresponden di Batavia untuk surat kabar De Locomotief di Semarang. Dalam perkembangannya EFE Douwes Dekker merintis suatu majalah yang sekaligus menjadi pemimpin redaksinya tahun 1911. Majalah tersebut diberi nama Het Tijdschrift yang diterbitkan di Bandoeng. Cakupan majalah tersebut meliputi bidang politik, social, budaya dan sebagainya dengan melibatkan sejumlah kontributor di Eropa/Belanda maupun di Hindia. Dalam edisi pertama juga dimuat artikel yang ditulis oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo.

Seperti disebut di atas, pada awal tahun 1912 terbit surat kabar baru berbahasa Belanda di Bandoeng, De expres. Surat kabar ini dipimpin sekaligus pemimpin redaksi EFE Douwes Dekker yang edisi pertama terbit hari Jumat, 01-03-1912. Dengan demikian, kini EFE Douwes Dekker telah membawahi dua media sekaligus. Bandingkan dengan Dja Endar Moeda ketika menerbitkan surat kabar berbahasa Belanda di Padang pada tahun 1905 dengan nama Sumatera Nieuwsblad. Saat itu Dja Endar Moeda sudah memiliki dua surat kabar berbahasa Melayu Pertja Barat dan Tapian Na Oeli serta satu majalah, Insulinde yang menjadi organ Medan Perdamaian. Seperti disebut di atas, Dja Endar Moeda pada tahun 1899 mengkritik pengumpulan dana untuk Transvaal, yang kemudian pada tahun 1900 terinformasikan EFE Douwes Dekker berangkat ke Transvaal (Afrika Selatan) sebagai tentara sukarelawan. Lantas apa motivasi EFE Douwes Dekker jauh-jauh ingin berjuang ke Transvaal? Boleh jadi karena semangat muda, semangat untuk ikut berjuang sesame Indo Afrika dalam mempertahankan negaranya. Lalu kini setelah menjadi pemilik media di Hindia apakah semangat EFE Douwes Dekker dulu masih tetap menyala untuk memperjuangkan sesama orang Indo di Hindia? 

Satu majalah dan satu surat kabar harian di tangan satu orang (EFE Douwes Dekker) jelas sudah menunjukkan bahwa EFE Douwes Dekker telah memiliki portofolio diantara rekan sebangsanya sesama Indo di Hindia. Dulu hanya satu orang pribumi yang sudah menyadari untuk memperjuangkan bangsanya (Dja Endar Moeda), tetapi kini sudah banyak orang pribumi yang terpelajar yang sudah mulai intens memperjuangkan bangsanya, terutama para mahasiswa atau alumni Indische Vereeniging di Belanda seperti Soetan Casajangan. 


Dr Tjipto Mangoenkoesoemo adalah salah satu, jika tidak ingin dikatakan satu-satunya, yang merupakan mahasiswa/alumni di Hindia yang dapat dikatakan yang sudah menyadari arti penting memajukan bangsanya sendiri. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah dokter Docter Djawa School di Batavia pada tahun 1905. Hanya dua tahun sebagai dokter pemerintah, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mengundurkan diri. Pada Kongres Boedi Oetomo yang kedua di Djogjakarta tahun 1909, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo menyatakan mengundurkan diri dari Boedi Oetomo. Mengapa? Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tidak memiliki pemikiran yang sama dengan elit-elit Boedi Oetomo. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo ingin menempuh jalan sendiri dengan caranya sendiri. Dalam konteks inilah kemudian terinformasikan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo telah turut memberi kontribusi satu artikel di Het Tijdschrift yang dimuat pada edisi pertama (1911). Selama ini tidak pernah terinformasikan tulisan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Dari fase transisi, kini Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mulai memasuki dunia baru (dunia pemikiran). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Bagaimana Dr Tjipto  Menjadi Anggota Indisch Partij? Bagaimana Pula Soewardi Soerjaningrat Menjadi Anggota Indisch Partij?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar