Laman

Rabu, 22 Juli 2026

Sejarah Tjipto (6): Diasingkan ke Belanda; Tjipto Mangoenkoesoemo Lanjutkan Studi, Bagaimana dengan Dekker dan Soewardi?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat dijatuhi hukuman pengasingan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 18 Agustus 1913. Awalnya akan diasingkan ke Bangka (Soewardi Soerjaningrat), Banda (Dr Tjipto) dan Timor (Douwes Dekker). Namun kemudian ketiganya diarahkan ke Eropa/Belanda. Mereka kemudian diberangkatkan ke Belanda pada September 1913. Buku Sejarah Klub Como 1907 segera terbit xvi, 826 hlm Deepublish


EFE Douwes Dekker di Eropa/Belanda menjadi kesempatan untuk melanjutkan studi. EFE Douwes Dekker studi doktoral di Universitas Zürich, Swiss, dalam bidang ekonomi. Gelar doktor diperoleh secara agak kontroversial dan dengan nilai "serendah-rendahnya", menurut istilah salah satu pengujinya. Karena di Swis ia terlibat konspirasi dengan kaum revolusioner India, ia ditangkap di Hong Kong dan diadili, kemudian ia ditahan di Singapura pada tahun 1918. Setelah dua tahun dipenjara, ia pulang ke Hindia Belanda pada tahun 1920. Sementara itu, Soewardi Soerjaningrat awalnya bergabung dengan organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda Indisch Vereeniging. Dalam perkembangannya Soewardi Soerjaningrat melanjutkan studi keguruan di Belanda. Soewardi Soerjaningrat setelah mendapatkan ijazah akta guru LO kembali ke tanah air (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat diasingkan ke Belanda? Seperti disebut di atas, EFE Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat melanjutkan studi. Bagaimana dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo? Lalu bagaimana sejarah EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat diasingkan ke Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Mahasiswa di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Diasingkan ke Belanda; Dr Tjipto Mangoenkoesoemo Akan Melanjutkan Studi, Bagaimana dengan Dekker dan Soewardi

Soetan Casajangan, setelah sembilan tahun di Belanda (lulus akta guru LO dan akta guru kepala MO), pada tanggal 5 Juli 1913 dengan kapal ss Prinses Jualiana dari Amsterdam kembali ke tanah air (lihat Algemeen Handelsblad, 04-07-1913). Berdasarkan beslit Menteri Koloni Soetan Casajangan akan ditempatkan di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pada saat Soetan Casajangan masih berada di perjalanan, ada dua hal yang terjadi: (1) bukunya (brosur) terbit di Belanda. Judulnya adalah 'Indische Toestanden Gezien Door Een Inlander' (Kondisi Indonesia Dilihat dari Sudut Pandang Penduduk Pribumi). Buku ini diterbitkan oleh Percetakan Hollandia-Drukkerij di Barn. (2) Indische Partij yang belum lama didirikan di Hindia mendapat masalah.


Seperti disebut sebelumnya, di Bandoeng beberapa anggota Indische Partij ditangkap. Ini bermula dengan pendirian Indische Partij pada akhir Desember 1912 (didominasi orang-orang Indo-Eropa). Pada bulan Maret 1913 statuta Indische Partij ditolak pemerintah, yang dengan demikian Indische Partij tidak memiliki persyaratan (izin pemerintah). Lalu, untuk mendapat dukungan besar, Indische Partij mencoba merangkul lebih luas partisipasi penduduk pribumi. Untuk memperluas cakupan organ Indische Partij (surat kabar De express) pada bulan Juni diterbitkan surat kabar berbahasa Melayu "Hindia Moelia" dengan pemimpin redaksi Tjipto Mangoenkoesoemo (lihat De expres, 14-06-1913). Sementara itu pada minggu kedua bulan Juni Ernest Douwes Dekker terinformasikan sedang di Belanda. Tentu saja  Ernest Douwes Dekker di Belanda juga telah bertemu dengan Soetan Casajangan sebelum kembali ke tanah air. De nieuwe courant, 28-06-1913: ‘Kami mendapat informasi dari Amsterdam: Kami mendengar bahwa Douwes Dekker akan meninggalkan negara kita pada tanggal 6 Juli mendatang untuk kembali ke Hindia melalui Marseille. Het vaderland, 07-07-1913: ‘Douwes Dekker. Diantar oleh berbagai teman dan pihak yang berkepentingan, Douwes Dekker meninggalkan Den Haag pada Minggu (tanggal 6) malam untuk melakukan perjalanan melalui Munich ke Marseille, dan dari sana menaiki kapal ss Tambora kembali ke negaranya, yang dilaporkan telah ia tinggalkan. Di Hindia, ia akan memulai dengan memprotes pembubaran Seksi B karena rumusan yang sangat keras. Setelah itu, ia akan sekali lagi dengan penuh semangat mengabdikan dirinya pada Gerakan Hindia, dalam arti yang paling umum’. Sementara itu, Tjipto Mangoenkoesoemo sudah lama mengundurkan diri dari Boedi Oetomo, sedangkan Soewardi Soerjaningrat masih anggota Boedi Oetomo (lihat De Preanger-bode, 07-07-1913). Disebutkan Boedi Oetomo. Dalam rapat BO yang diadakan tadi malam, pemilihan ulang pengurus cabang Bandoeng dilakukan, yang saat ini terdiri dari: Raden Roem, presiden, AH Wigojadisastra, wakil presiden, RM Soewardi, sekretaris pertama, R Kadirosman, sekretaris kedua, Soetan Moehamad Zain, dan M Haroen Atmawidjaja, komisaris. Lalu kemudian sehubungan dengan Peringatan Seratus Tahun Kemerdekaan Belanda—dari Napoleon, Prancis (1813-1913), Komite Pribumi mengeluarkan pamflet pertama berjudul “Als ik een Nederlander was” yang ditulis Soewardi Soerjaningrat dengan harga f0,25 yang diumumkan pada surat kabar De expres, 17-07-1913. Inti dari pamphlet tersebut adalah “jika saya seorang Belanda, saya tidak akan pernah ingin merayakan hari jadi seperti itu di sini (Hindia), di negara yang didominasi oleh kita (orang Belanda). Berikan dulu kebebasan kepada rakyat yang diperbudak itu (pribumi), baru kemudian peringati kebebasan kita (Belanda) sendiri”. Soewardi Soerjaningrat yang menjadi anggota Sarikat Islam terinformasikan mengundurkan diri (lihat De Preanger-bode, 18-07-1913). Disebutkan Sarikat Islam. Pada rapat dewan Sarikat Islam yang diadakan semalam, RM Soewardi dan Abdoel Moeis, masing-masing sebagai ketua dan sekretaris, mengajukan pengunduran diri karena keadaan mendesak. Kedua posisi tersebut akan diisi sementara oleh AH Wignjadisastra dan Abdul Gani. Lalu kemudian pamphlet tersebut juga diterima redaksi surat kabar De express (lihat De expres, 21-07-1913). Disebutkan pamphlet tersebut ditulis dalam teks bahasa Belanda dan bahasa Melayu. Di Belanda, selain Indische Vereeniging dari sisi pribumi, juga ada dua organisasi dari sisi Belanda yakni Vereeniging Oost en West dan organisasi Indisch Genootschap. Dalam Indisch Genootshap ini terdapat dua pribumi sebagai pengurus yakni Soetan Casangan dan Sjamsi Widagda. Namun karena kepulangan Soetan Casajangan hanya Sjamsi Widagda saja yang orang pribumi. Organisasi Indisch Genootschap yang dipimpin oleh Prof Cornelis van Vollenhoven ini akan membentuk organ sendiri (majalah/jurnal (lihat Sumatra-bode, 22-07-1913). Disebutkan di Den Haag, 20 Juli (JB) Tjipto Mangoenkoesoemo di Bandoeng menjadi kontributor untuk organ Indisch yang akan segera terbit di Den Haag. Ini mengindikasikan nama Tjipto Mangoenkoesoemo di Hindia sudah mulai diakui di Belanda. Dalam jurnal/majalah Het Tijdschrift yang dipimpin EFE Douwes Dekker (Tinjauan Kolonial-Politik, Sosiologis, dan Umum-Budaya untuk Kalangan Pemikir Publik Hindia) yang diterbitkan di Bandoeng terdapat artikel EFE Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo (lihat De Express, 23-07-1913). Disebutkan dalam edisi No. 22 (Tahun ke-2, 15 Juli 1913) EFE Douwes Dekker (St. Petersburg: “Azie” (Asia); Tjipto Mangoenkoesoemo (Bandoeng): “Toekomstblik” (Pandangan ke Masa Depan). De nieuwe vorstenlanden, 25-07-1913: ‘Batavia, 24 Juli. dari Sabang, ke Batavia; kapal ss Prinses Juliana, 23 Juli dari Suez, ke Batavia’. Dalam perkembangannya, brosur sensasional berjudul "Jika Saya Seorang Belanda" karya RM Soewardi, disita oleh pihak berwenang sore ini. Kami agak terkejut dengan pengaruh kepala editor Bat. Hbl. terhadap pihak berwenang; begitu pers majalah tersebut dihangatkan oleh kecaman pedasnya terhadap penulis, pihak berwenang telah mengambil langkah-langkah yang mereka sarankan. Ada orang-orang yang menganggap penyitaan ini sebagai bentuk publisitas dan percaya bahwa brosur tersebut akan dicetak lebih luas di dunia domestic (lihat De expres, 25-07-1913). Tjipto Mangoenkoesoemo dipanggil kehakiman (lihat De expres, 26-07-1913). Disebutkan karena interogasi panjang oleh pihak kehakiman membuat Tjipto tidak dapat melakukan apa pun untuk Expres hari ini. Ada apa dengan Tjipto Mangoenkoesoemo sehingga harus dipanggil kehakiman? Yang jelas karena Ernest Douwes Dekker sedang di Eropa dan Tjipto Mangoenkoesoemo berahalangan hadir, gawang redaksi hanya diperankan oleh seorang diri wakil pemempin redaksi HC Kakebeeke. Dalam edisi ini juga terdapat maklumat dari Komite Boemi Poetra: ‘Dilarang membaca! Pengumuman Sangat Penting! "Pamflet" karya RM Soewardi Soerjaningrat telah disita oleh pihak berwenang. Saudara-saudara! Anda dapat membayangkan betapa pentingnya refleksi yang terkandung di dalamnya. Cobalah untuk mendapatkannya dan membacanya!! Tanah Air tampaknya menuntut pengorbanan. Kalau begitu, Saudara Soewardi bersedia menjadi yang pertama. Komite Boemi Poetra’. De expres, Rabu, 30-07-1913: ‘Kembalinya Douwes Dekker. Kami mendapat informasi bahwa Tambora pasti akan tiba di Priok pada Jumat pagi. Dalam berita lainnya: Dr Tjipto, MM Soewardi,  Wignjadisastra dan Abdoel Moels; ditangkap. Siang ini, Tjipto Mangoenkoesoemo, RM Soewardi dan Abdoel Moeis ditangkap; yang pertama di kantor De expres, yang lainnya, termasuk Wignjadisastra, di rumah mereka. Pasukan militer mendukung operasi Departemen Kehakiman; yang, mengingat perilaku para tahanan yang sepenuhnya bermartabat dan tenang, sama sekali tidak perlu. De Preanger-bode, 31-07-1913: ‘Diharapkan di Tandjoeng Priok, kapal ss Tambora yang berangkat dari Rotterdam tanggal 28 Juni yang mana di dalam manifest kapal terdapat nama EFE Douwes Dekker. De expres, Jumat, 01-08-1913: ‘Douwes Dekker kembali ke Hindia. Weltevreden, 1 Agustus (Telegram pribadi). Di pagi hari, kapal ss Tambora tiba di Tandjoeng Priok dengan pemimpin redaksi kami, Douwes Dekker, di dalamnya. Perjalanan ke Bandung akan dilakukan dengan kereta ekspres, berangkat dari Weltevreden pukul 14.43, tiba di Bandung pukul 19.14’. Bataviaasch nieuwsblad, Senin, 04-08-1913: ‘EFE Douwes Dekker, pemimpin redaksi De Expres, yang kembali ke Hindia Belanda pada hari Sabtu (?) dengan kapal Tambora, hari ini dimasukkan ke penjara Weltevreden karena menjalani hukuman empat belas hari yang dijatuhkan kepadanya pada saat itu atas artikel-artikelnya yang menentang rencana penghapusan Pasal B.. Jika ini bukan kepulangan yang menyenangkan, lebih banyak dan jauh lebih buruk akan segera terjadi. Karena pada hari Sabtu, Het Bat. Handelsblad melaporkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan dengan serius untuk menggunakan haknya untuk menolak Douwes Dekker untuk tinggal lebih lama di Hindia Belanda — jika tidak sekarang, maka pasti jika ia mengulangi perilaku bermusuhan terhadap otoritas Belanda. Peringatan mengenai hal ini telah sampai kepada orang yang bersangkutan atau akan segera sampai kepadanya’. De expres, 05-08-1913: ‘Banyak yang datang untuk menyambut Douwes Dekker di Tandjoeng Priok, termasuk ibu Dekker dan ayahnya’.

Pada awal Agustus kapal ss Prinses Juliana yang ditumpangi Soetan Casajangan merapat di Tandjoeng Priok (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-08-1913). Disebutkan kapal ss Prinses Juliana, tiba hari ini di Tandjong Priok dari Eropa dan segera memulai bongkar muat. Sudah barang tentu Soetan Casajangan disambut oleh para juniornya di Tandjoeng Priok. Sebagaimana diketahui beberapa hari sebelumnya EFE Douwes Dekker ditangkap di Bandoeng lalu dibawa ke Batavia (dipenjara di Weltevreden).


Para junior ini banyak yang kuliah di sekolah kedokteran Stovia, ada yang di sekolah hukum Rechtschool di Batavia dan juga ada di Buitenzorg yang kuliah di sekolah kedokteran hewan (Veeartsenschool) dan sekolah pertanian (Middlebare Landbouwschool) di Buitenzorg. Mengapa disambut? Soetan Casajangan, yang di Belanda sebagai pendiri Indisch Vereeniging (organisasi mahasiswa pribumi di Belanda), juga di kampong halaman di Padang Sidempoean nama Soetan Casajangan sangat dikenal luas. Selain itu anak Padang Sidempoean yang studi di Belanda baru tiga orang: selain Soetan Casajangan, ada Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon (tiba di Belanda tahun 1910, studi perdagangan) yang juga menjadi keponakan Soetan Casajangan dan satu lagi Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (tiba di Belanda tahun 1911, studi keguruan). Salah satu mahasiswa senior di Stovia Abdoel Rasjid Siregar (yang pada tahun 1909 menjadi teman satu kelas dengan Soewardi Soerjaningrat) yang notabene adalah abang dari Mangaradja Soangkoepon. Sementara salah satu mahasiswa senior di Rechtschool adalah Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi. Di Veeartsenschool Buitenzorg mahasiswa senior Sorip Tagor Harahap dan Alimoesa Harahap serta di Landbouwschool ada mahasiswa senior Abdoel Azis Nasoetion. 

Soetan Casajangan adalah lulusan sekolah keguruan dengan akta MO (sarjana pendidikan), satu-satunya orang pribumi segera setelah tiba meminta menghadap Gubernur Jenderal di Buitenzorg (lihat Deli courant, 27-08-1913). Disebutkan pada hari Kamis yang lalu, Gubernur memberikan audiensi kepada Soetan Casajangan Soripada, seorang Batak yang kuliah untuk mendapatkan sertifikat mengajar di Belanda dan telah berafiliasi meminta Gubernur Jenderal membantunya sebagai pengawas pendidikan masyarakat pribumi di Sumatera. Permintaan itu sesuai dengan ijazah dan kualifikasinya. Namun tentu saja jabatan itu dapat ditebak umum akan ditolak pemerintah (Gubernur Jenderal Hindia). Ada perbedaan hak antara orang pribumi dan orang Belanda meski memiliki kualifikasi yang sama. Hal itu sudah berlaku selama ini sebagaimana hal ini juga telah dibicarakan Indische Partij di Bandoeng belum lama ini. 


De expres, 13-01-1913: ‘Cabang Indische Partij Bandoeng. Rapat Umum. Pada Minggu pagi, tanggal 12 bulan ini, sebuah rapat umum diadakan oleh cabang IP Bandoeng di aula perjamuan perusahaan Vogelpoel. Tujuan utama rapat ini adalah untuk menginformasikan kepada penduduk pribumi yang tidak berbahasa Belanda tentang tujuan IP, yang mana Bapak Kakebeeke, ketua cabang Bandung, menekankan hal ini dalam pidato pembukaannya dan mempercayakan kepemimpinan pertemuan ini kepada Bapak Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Setelah mendapat kesempatan berbicara, Dr Tjipto menyambut hadirin dalam bahasa Melayu dan memberikan kesempatan kepada pembicara pertama, B Akman. Dalam pidato yang fasih, R Akman menyampaikan pidatonya dalam bahasa Sunda, yang terjemahan bahasa Belanda: ‘menurut saya sangat mendesak untuk membahas satu poin penting dari program ini sekarang, yaitu penghapusan perbedaan ras. Kita semua merasa bahwa perbedaan ras itu ada. Lihatlah, jika salah satu dari kita bekerja di pegadaian, ia dapat naik pangkat menjadi administrator, gelar yang terdengar bagus untuk posisi dengan tanggung jawab yang sangat besar tetapi imbalan yang sangat minim. Karyawan yang sama mungkin akhirnya naik pangkat menjadi juru tulis di SS, tetapi tidak menanyakan gajinya; dari awal hingga maksimal, gajinya akan selalu hanya 2/5 dari apa yang akan diperoleh orang Eropa dengan kemampuan yang sama. Tampaknya seolah-olah penduduk pribumi hanya dianggap sebagai 2/3 manusia. Banyak yang telah menyuarakan tuntutan untuk mendapatkan lebih banyak sekolah yang lebih baik, tetapi, saya bertanya kepada Anda, apa gunanya sekolah-sekolah itu bagi kita jika kita secara sosial tetap dianggap hanya sebagai 2/3 manusia? Dimanakah kita dapat meminta kesetaraan, tetapi bahkan kesetaraan ini membawa banyak kesulitan bagi kita? Seseorang yang disamakan dipandang dengan curiga oleh sesama warga negara, karena mereka menganggapnya sebagai murtad, bangsa mereka menangis. Orang-orang Eropa berbisik di antara mereka sendiri: "Itu dia ‘orang Eropa di Lembaran Negara'". Selain itu, jika orang Indo-Eropa sudah merasakan subordinasinya, bagaimana perasaan seorang penduduk pribumi yang diperlakukan setara dengan orang Eropa? Anda mungkin dapat membayangkan situasi itu dengan lebih mudah jika saya menceritakan anekdot berikut dari kehidupan saya sendiri. Saya bekerja di layanan telepon pemerintah, dimana saya naik pangkat menjadi wakil manajer kantor sementara. Kepala departemen menjelaskan kepada saya bahwa tidak ada posisi bertanggung jawab yang dapat diberikan kepada penduduk pribumi (itulah sebabnya kata 'sementara' ditambahkan pada penunjukan saya sebagai Wakil), sehingga saya harus mengajukan status yang sama dengan orang Eropa jika saya ingin dipertahankan di posisi itu. Ketahuilah, kawan-kawan, bahwa sejak usia 10 tahun, selama masa sekolah saya, saya selalu tinggal bersama orang Eropa, baik di asrama maupun dengan keluarga di Batavia, sehingga, jujur saja, saya lebih banyak merasa sebagai orang Eropa daripada penduduk pribumi. Gagasan untuk diperlakukan setara sebagai orang Eropa, baik di dalam maupun di luar dinas, setelah pemerataan status, sangat menarik bagi saya. Setelah beberapa pertimbangan, saya kemudian menulis surat kepada ayah saya untuk meminta persetujuannya, tetapi saya menerima balasan yang menyatakan alasannya. Apa yang harus saya lakukan? Di satu sisi, ayah saya yang sangat saya cintai ditambah beberapa kepemilikan tanah; di sisi lain, masa depan yang baik. Saya berulang kali mencoba membujuk ayah saya untuk mempertimbangkan kembali keputusannya dengan menjanjikan masa depan, tetapi setelah dua tahun upaya yang sia-sia, saya harus menghentikan semua upaya, karena ia tetap teguh pada pendiriannya, dan saya kemudian terpaksa meminta pengunduran diri. Saya tidak dapat tetap berada di dinas pemerintah, karena harapan untuk promosi akan sia-sia, dan karena mereka berkata, "harapan adalah tujuan hidup". Pemberhentian tugas diberikan secara terhormat, tetapi baru setelah dewan dinas melakukan segala upaya untuk mempertahankan saya dalam dinas. Sebagai bukti bahwa saya memiliki kemampuan yang diperlukan untuk posisi yang saya pegang, saya dapat menyertakan sertifikat yang saya miliki dari kepala dinas tersebut, di mana beliau menyatakan bahwa, jika saya merasa perlu, beliau tidak akan keberatan sedikit pun terhadap kembalinya saya ke posisi yang sebelumnya saya pegang. Tetapi saya bertanya kepada Anda, kawan-kawan, untuk tujuan apa penyetaraan itu diperlukan? Tampaknya bagi saya ini sekali lagi menunjukkan perbedaan ras dan apa yang disebut inferioritas ras pribumi. Oleh karena itu, kawan-kawan, jika saya boleh memberi nasihat kepada Anda, bergabunglah dengan IP sebagai anggota, meskipun hanya untuk membantu menjernihkan perbedaan ras! Tepuk tangan meriah menunjukkan persetujuan dengan pembicara’. 

Alih-alih permintaan Soetan Casajangan sebagai pengawas pendidikan pribumi di Sumatra disetujui, Gubernur Hindia Belanda hanya memberi posisi bagi Soetan Casajangan sebagai guru kedua Eropa di sekolah guru pribumi di Fort de Kock. Sudah barang tentu Soetan Casajangan sangat kecewa adanya perbedaan hak itu belum memudar di Hindia. Soetan Casajangan hanya peduli dengan pendidikan, pendidikan dari bangsanya. Tentu saja ada perbedaan bidang dan posisi dengan R Akman di Bandoeng yang karena perbedaan hak (ketidaksetaraan) berani melepaskan jabatannya di bidang perkeretaapian di pemerintahan. 


Di bidang pendidikan, tampaknya tidak semudah itu bagi Soetan Casajangan. Kehadirannya di dunia pendidikan pribumi sangat dibutuhkan. Soetan Casajangan dari Buitenxorg berangkat ke Fort de Kock (sudah barang tentu Soetan Casajangan berpikir, banyak hal yang akan bisa dilakukan bagi penduduk pribumi di Fort de Kock di luar tugasnya sebagai pengajar). Seperti pernah ditulis oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo belum lama ini bahwa “pertentangan antara penindas dan yang tertindas masih dipertahankan, dan untuk saat ini kita tidak dapat berharap bahwa pertentangan ini akan hilang. Meskipun demikian, kepentingan negara menuntut agar dari kelompok-kelompok warga negara yang terpisah tajam itu akan segera muncul persatuan (yang merujuk pada tujuan Indische Partij), yang, bersatu dalam pikiran, akan bekerja untuk kepentingan tanah air kita bersama”. 

Seperti disebut sebelumnya, EFE Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat diasingkan ke Belanda yang berangkat dari Tandjoeng Priok pada tanggal 6 September 1913. Ketiganya seakan tukar tempat dengan Soetan Casajangan. EFE Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat setelah perjuangan mereka berakhir di Hindia, kini Soetan Casajangan mulai berjuang di Hindia. Berita tentang pengasingan EFE Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat ke Eropa sudah diketahui beberapa waktu lalu. 


De Sumatra post, 03-09-1913: ‘Tjipto dan Soewardi akan berangkat ke Eropa. Sama seperti yang telah dilakukan terhadap Douwes Dekker, Tjipto Maogoenkoesoemo dan RM Soewardi Soerjaningrat telah diberikan kebebasan melalui dekrit hari ini untuk meninggalkan Hindia, jika mereka menginginkannya, dalam waktu 30 hari setelah pelaksanaan dekrit interniran yang diketahui. Dengan ini ditetapkan bahwa, jika mereka melakukannya, pelaksanaan tindakan interniran akan ditangguhkan sampai mereka kembali ke negara ini. Menurut laporan yang diterima dari Bandung oleh Java Bode, Tjipto akan memanfaatkan kesempatan ini untuk melanjutkan studinya di bidang ilmu kedokteran di Eropa. Apa yang akan dilakukan Soewaidi belum dapat dipastikan; Namun, kami menganggap sangat tidak mungkin bahwa Soewardi, yang saat ini tinggal bersama ayahnya di Djogja, tidak akan memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan Hindia’. Setelah diberi waktu untuk mengunjungi keluarga Tjipto dan Soewardi kembali ke Bandoeng (lihat De Preanger-bode, 04-09-1913). Disebutkan, Perhatian, Kepolisian Bandung sekali lagi harus mengambil alih pengawasan dua warga pribumi yang dideportasi, Tjipto dan Soewardi, yang telah kembali ke Bandung. Kepala Polisi Braun langsung menunjukkan topinya kepada mereka saat tiba di kantor polisi Bandoeng’. De expres, 04-09-1913: ‘Yang bertanda tangan di bawah ini menyampaikan salam perpisahan, juga atas nama pasangan mereka, kepada semua teman dan sesama anggota partai, mengucapkan terima kasih kepada semua yang dalam beberapa hari terakhir telah memberikan tanda kasih sayang dan kesetiaan yang begitu luar biasa. Semoga masa kesejahteraan yang berkelanjutan menyertai Anda! DOUWES DEKKER TJIPTO MANGOENKOESOEMO R.M. SOEWARDÏ SOERJANINGRAT. Alamat sementara di Eropa: 224 Laan van Meerdervoort Den Haag’. De Preanger-bode, 05-09-1913: ‘Eksodus. Tjipto dan Soewardi berangkat besok pagi di bawah pengawasan polisi dari sini ke Batavia dan dari sana pergi dengan "Melchior Treub" ke Singapura, dimana  EFE Douwes Dekker juga bepergian’. De expres, 05-09-1913: ‘VEREENIGING INSULINDE Afdeeling BANDOENG. Pertemuan sosial Sabtu, 6 September, pukul 19.00, di “DE INDIËRS CLUB” di Poengkoer. -Peringatan hari jadi pertama.-Keberangkatan tiga pengasingan pada hari itu.-Laporan dari delegasi dari Semarang.-Presentasi dan penjualan lebih lanjut potret keluarga Douwes Dekker dari tiga pengungsi mulai dari f1.— minimum, kartu pos TJIPTO dan SOEWARDI dengan harga f0,25 minimum. DEWAN. Bataviaasch nieuwsblad, 06-09-1913: ‘Perpisahan. Semalam, cabang Batavia dari Asosiasi Insulinde mengadakan pertemuan di ruang atas Versteegh, di mana ketiga pria yang diasingkan, Douwes Dekker, Tjipto, dan Soewardi, diberi kesempatan untuk berbicara. Pertemuan tersebut, yang dihadiri oleh kepala administrasi lokal kami, Bapak Canne, dihadiri banyak orang. Tjipto dan Soewardi turun di Hotel des Indes bersama istri mereka; mereka percaya Tado-fonds akan bermanfaat bagi mereka. Jika tidak, menurut pendapat kami, acara tersebut bisa sedikit lebih sederhana. Sore ini, ketiga pria yang diasingkan tersebut akan berangkat dengan Melchior Treub menuju Singapura, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dari sana ke Belanda melalui kapal pos Jerman’. 

EFE Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat sudah berangkat ke Belanda. Indische Partij yang belum mencapai ulang tahun pertamanya harus berakhir? Bagaimana dengan Indische Bond dan Vereeniging Insulinde? Yang jelas, khusus buat Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda Indisch Vereeniging akan menyambut kedatangan mereka. Indisch Vereeniging diinisiasi Soetan Casajangan dan menjadi ketua Indisch Vereeniging yang pertama tahun 1908. Hingga akhir tahun 1913 ini baik Indische Bond (ketuanya masih FHK Zaalberg) maupun Vereeniging Insulinde masih eksis di Hindia, dua organisasi di Hindia yang sebelumnya turut mendukung Indische Partij.


Tunggu deskripsi lengkapnya

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo Akan Melanjutkan Studi, Bagaimana dengan Dekker dan Soewardi? Lalu Mengapa Soewardi Soerjaningrat Memilih Studi Keguruan?

Soetan Casajangan setelah dari Buitenzorg beraudiensi dengan Gubernur Jenderal pada bulan Agustus 1913, segera berangkat ke Fort de Kock untuk menjadi guru di sekolah guru Fort de Kock. Sementara itu, EFE Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat tiba di Belanda pada awal Oktober 1913. 


De nieuwe courant, 03-10-1913: ‘Disambut oleh sekitar tiga puluh anggota partai, Douwes Dekker, Tjipto, Soewardie, dan istri-istri mereka tiba di SS tadi malam. Setelah sambutan, mereka berkumpul di rumah penginapan, tempat para pria akan tinggal untuk sementara waktu, dan di sana mereka disambut dengan lagu mars Indische Partij’. 

Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat bukan anggota Indisch Vereeniging, tetapi secara defacto anggota dari Indische Partij. Memang Indische Partij sudah dilarang di Hindia, tetapi para anggotanya, atas nama Indisch Partij masih hidup, juga di Belanda. Hal itulah mengapa yang menyambut mereka di Den Haag adalah para anggota Indische Partij. Tentu saja Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat sudah mengetahui lama keberadaan Indisch Vereeniging di Belanda. 


Segera setelah Soetan Casajangan bertemu dengan Sorip Tagor pada bulan Agustus 1913 di Buitenzorg, Sorip Tagor akan melanjutkan studi kedokteran hewan ke Belanda. Pada akhir Agustus Sorip Tagor mengirim surat pengunduran diri ke Directeur van Landbouw, Nijverheid en Handel (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-08-1913). Disebutkan, Atas permintaannya sendiri, dengan hormat dari jabatannya, dokter hewan Belanda yang bertugas sebagai asisten pengajar di sekolah kedokteran hewan Belanda di Buitenzorg, Sorip Tagor. Soetan Casajangan sudah berada di Fort de Kock. Pada bulan September Sorip Tagor berangkat ke Padang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-09-1913). Disebutkan kapal ss Kawi akan berangkat tanggal 11 September dengan tujuan akhir Padang dimana dalam manifest kapal terdapat nama Sorip Tagor. Pada saat Soetan Casajangan sudah di sekolah guru di Fort de Kock, dua guru muda terbaik lulusan sekolah guru Fort de Kock, Dahlan Abdoellah dan Ibrahim gelar Tan Malaka akan melanjutkan studi keguruan ke Belanda. Pada bulan Oktober terinformasikan kapal ss Willis berangkat dari Jawa tanggal 11 Oktober dengan tujuan akhir Rotterdam melalui Padang (lihat De avondpost, 14-10-1913). Kapal ss Willis berangkat dari Padang tanggal 14 Oktober 1913. Satu dokter hewan Sorip Tagor Harahap dan dua guru Dahlan Abdoellah dan Tan Malaka termasuk penumpang yang berangkat dari Padang. Pada tanggal 30 Oktober 1913 kapal ss Willis berangkat dari Port Said menuju Rotterdam (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 31-10-1913). Kapal ss Willis merapat di Rotterdam (lihat Nieuwe Haarlemsche courant, 11-11-1913). Disebutkan kapal ss Willis tiba di Rotterdam tadi malam. Sudah barang tentu ketiganya akan disambut oleh anggota Indisch Vereeniging. Di pelabuhan Rotterdam ketiganya sudah barang tentu, paling tidak dijemput oleh Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon (dari Amsterdam, tiba di Belanda tahun 1910) dan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (dari Leiden; tiba di Belanda tahun 1911). Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon adalah yang membantu Soetan Casajangan merintis Studiefonds di Belanda tahun 1911. 

Lantas apa yang menjadi aktivitas pertama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat setelah di Belanda? Yang sudah terinformasikan adalah pada tahun 1913 ini Sorip Tagor Harahap telah diterima di sekolah kedokteran hewan Rijksveeartsenijschool di Utrecht pada tahun akademik 1913/1914 dan Tan Malaka diterima di sekolah keguruan Rijkskweekschool di Haarlem pada tahun ajaran 1913/1914. Setelah  Soetan Casajangan, mahasiswa Indonesia kedua di kampus ini adalah Tan Malaka. Sementara di Rijksveeartsenijschool, Sorip Tagor adalah mahasiswa Indonesia pertama. Bagaimana dengan Dahlan Abdoellah? Tidak/belum terinformasikan. 


Pada tahun 1912 Sam Ratulangi diketahui berangkat ke Belanda dengan kapal ss Rembrandt berangkat dari Batavia tanggal 21 Maret 1912 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-03-1912), Disebutkan di dalam manifest kapal Sam Ratulangi dengan status guru. Pada bulan Agustus 1912 Sam Ratulangi dkk di Amsterdam membentuk suatu perkumpulan dengan nama Setia Tanah Hindia (lihat Het vaderland, 30-08-1912). Disebutkan perkumpulan ini didirikan oleh para pelajar muda Hindia yang bertujuan untuk memberikan nasehat dan bantuan kepada mereka yang datang tak lama dari Hindia Belanda. Perkumpulan ini juga akan menyediakan informasi kepada pihak yang berkepentingan tentang semua kemungkinan lembaga pendidikan di Belanda. Pengurus sementara S. Ratulangi sebagai ketua, Willy M. Lans, sekretaris dan WJ van Rijn sebagai bendahara. Jadi dalam hal ini Sam Ratulangi berperilaku sebagau guru, guru yang meminformasikan studi ke Belanda. Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 13, 1913, No. 10, 06-03-1913: ‘Dari Seksi Amsterdam (Ver. Oost en West): Kuliah oleh HJD Apituley, Ketua “Indische Vereeniging”, dokter, yang bekerja di Binnen-Gasthuis, bersama Profesor Ruitinga, pada hari Jumat, 14 Maret 1913, pukul 20.00, di salah satu aula Hotel Amerika (pintu masuk Marnixstraat). Topik: “Perempuan dalam Kehidupan Masyarakat Pribumi”. Atas nama Dewan: C de Vries, sekretaris’. Pada bulan Juli 1913 Soetan Casajangan kembali ke tanah air dan ditempatkan sebagai guru di sekolah guru Kweekschool Fort de Kock. Bagaimana pendidikan Sam Ratulangi di Belanda tidak terinformasikan. Yang jelas pada bulan Desember 1913 Sam Ratulangi menulis brosur (makalah) yang berjudul “Sarikat Islam” yang diterbitkan Holland Drukkerij, di Baarn (lihat De standaard, 20-12-1913). Pada bulan Januari 1914 Sam Ratulangi menyampaikan makalah di hadapan para anggota Vereeniging Oost en West afdeeling Amsterdam dengan topik Sejarah Minahasa (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 31-01-1914). Tampaknya Sam Ratulangi menjadi salah satu tokoh muda pribumi yang dipandang para ahli dan peminat Hindia di Belanda  untuk mendapatkan perspektif dari orang pribumi. Sementara itu, Soetan Casajangan yang kembali ke tanah air, Sjamsi Widagda di organisasi Indisch Genootschp hanya satu-satunya mahasiswa Indonesia. Dalam hal ini Samsi Widagda dan Sam Ratulangi menjadi penerus Soetan Casajangan di Belanda, yang berperan dalam menjembatani antara orang (mahasiswa) pribumi dengan orang-orang peminat Hindia. 

Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat untuk kali pertama ke Belanda. Sudah barang tentu mereka berdua telah mengetahui keberadaan mahasiswa Indonesia di Belanda dan juga organisasinya yang sudah dikenal luas Indische Vereeniging. Tentu mereka berdua sangat merasakan ada perbedaan yang mendasar tentang apa yang mereka alami di Hindia (khususnya Bandoeng) dengan yang kini mereka rasakan di Belanda diantara orang-orang Indonesia. Mahasiswa Indonesia sendiri di Belanda dari masa ke masa sangat beragam, dan tentu saja keduanya mulai merasakan bagaimana berada diantara orang-orang terpelajar seluruh Indonesia di Belanda (yang dapat dikatakan puncak-puncak intelektual seluruh bangsa Indonesia yang berasal dari berbagai daerah, lihat misalnya saja dari daftar ketua Indisch Vereeniging). Apakah Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat akan menjadi minder? 


Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah kedokteran Batavia (Docter Djawa School) pada tahun 1905. Soetan Casajangan lulus sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean tahun 1889. Selama ini pendidikan tertinggi di Hindia hanya ada dua sekolah kedokteran Batavia dan beberapa sekolah guru di sejumlah tempat. Pada tahun 1900 bertambah satu lagi yakni Osvia di Bandoeng (bidang pemerintahan). Dr Ph Laoh lulus Docter Djawa School tahun 1898. Hoesein Djajadiningra lulus HBS 5 tahun di Batavia (KW III School) tahun 1906. RM Noto Soeroto lulus HBS 5 tahun di Semarang tahun 1907. Dr HJD Apituley lulus Docter Djawa School tahun 1902. Soewardi Soerjaningrat masuk sekolah Docter Djawa School (Stovia) pada tahun 1903, namun setelah tahun 1909 (naik dari kelas satu ke kelas dua tingkat medik) nama Soewardi Soerjaningrat tidak terdaftar lagi di Stovia.  Lama studi di Stovia 9 tahun, siswa yang diterima lulusan sekolah dasar Eropa (ELS): 3 tahun tingkat persiapan dan 6 tahun tingkat medik. Jadi dalam hal ini, di Belanda mahasiswa Indonesia banyak yang menjadi senior Tjipto Mangoenkoesoemo ketika di Docter Djawa School; dan sementara Soewardi Soerjaningrat masih tergolong sangat muda diantara sebagian mahasiswa Indonesia di Belanda. Lalu dengan gambaran serupa itu di Belanda, apakah akan membuat semangat Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat untuk melanjutkan studi di Belanda semakin kuat?  

Bagi Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat yang baru datang dari Indonesia, sudah barang tentu akan sulit untuk memutuskan apakah melanjutkan studi atau tidak. Keduanya di Hindia sudah terjun ke dunia politik. Lalu apakah kemudian keduanya di Belanda lebih condong memacu adrenalin semangat politiknya atau lebih condong untuk meningkatkan ketekunan dalan peningkatan pendidikan? 


Tempo doeloe seorang pensiunan guru Hadji Saleh Harahap gelar Dja Edar Moeda  terjun ke dunia jurnalis, seorang jurnalis Belanda pada tahun 1898 bertanya mengapa harus bergitu? Dja Endar Moeda, pemimpin redaksi surat kabar Pertja Barat di Padang menjawab enteng: “pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, sama-sama mencerdasarkan bangsa”. Lalu, bagaimana dengan kini, apa yang menjadi jawaban Tjipto Mangoenkoesoemo tentang pertanyaan “pendidikan atau politik”. 


Sejauh ini tidak pernah terinformasikan jawaban dari Tjipto Mangoenkoesoemo. Namun seperti dilihat nanti jawaban itu muncul dari Sorip Tagor Harahap yang dimuat di majalah Indische Vereeniging “Hindia Poetra” tahun 1919: Di dalam artikelnya, Sorip Tagor Harahap menyatakan: “pendidikan dan politik itu sejalan, sama-sama memajukan bangsa”.


Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 13, 1913, No. 52, 25-12-1913: ‘Indische Vereeniging. Nomor 5 dari organ Indische Vereeniging telah diterbitkan: Nomor ini berisi, antara lain, teks ceramah oleh Raden Mas Noto Soeroto, berjudul: Persatuan Hindia dan Belanda. Kita dapat membayangkan bahwa Bapak Douwes Dekker, yang berpartisipasi dalam debat setelah ceramah tersebut, menyatakan bahwa ia berulang kali mengira sedang mendengar orang Belanda berbicara, bukan orang Jawa. Sebuah contoh sebagai bukti. Pada halaman 29, RM Noto Soeroto mengatakan: “Jangan sampai Hindia dan Belanda saling mencela seperti dua saudara yang bertengkar: ‘kamu berutang ini padaku’, ya, tetapi kamu telah mengambil itu dariku”, tetapi marilah mereka mengulurkan tangan untuk bersama-sama membangun benteng melawan musuh yang mengancam keduanya. Marilah orang Belanda dan penduduk pribumi bekerja sama untuk kepentingan bersama di bidang materi dan spiritual. Marilah mencari kepentingan materi tersebut dalam perdagangan yang berkembang dan lalu lintas pengiriman yang sibuk antara Hindia dan Belanda. Semoga perkembangan pengetahuan teknis orang Belanda di Hindia, sebagai pasar tenaga kerja bagi orang Belanda, dapat menguntungkan penduduk pribumi melalui keuntungan materi yang dihasilkan dari penerapan metode pertanian, peternakan, irigasi, dan industri terbaru”. 

Pada akhir tahun 1913 sudah terinformasikan berbagai aktivitas Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat di Belanda, seperti pertemuan-pertemuan dengan berbagai organisasi termasuk SDAP (Partai Buruh Sosial-Demokrat Belanda) dan dalam hubunganya sebagai tamu dalam sidang Tweede Kamer dan tentu saja dengan Indisch Vereeniging. Namun tentang bagaimana dengan Tjipto Mangoenkoesoemo yang ingin melanjutkan studi sebelum berangkat ke Belanda belum terinformasikan. Apakah dalam hal ini Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat masih dalam proses adaptasi di wilayah baru? Lalu apakah Soewardi Soerjaningrat telah mengirim surat kepada Ratu? 


Maassluische courant, 22-11-1913: ‘Proklamasi Yang Mulia Ratu. Hari ini, Jumat, Yang Mulia Ratu telah mengeluarkan proklamasi di bawah ini: “Kepada Rakyatku. Merupakan kebutuhan bagi-Ku untuk menyampaikan pidato kepada Rakyat Belanda pada hari yang bersejarah ini. Hari ini, 100 tahun yang lalu, tibalah saat ketika Belanda Bersatu kembali bersatu sebagai negara. Saya mengingat dengan penuh syukur kata-kata yang diucapkan Vander Duyn van Maasdam dan Gijsbert Karel van Hogendorp saat menerima jabatan pada tanggal 2 November 1813: “Kami memenuhi keinginan semua sekutu kami ketika, sambil menunggu nasihat Yang Mulia Pangeran Oranye, dan atas Nama-Nya, kami menempatkan diri kami di pucuk pemerintahan hari ini; kami menerima tugas itu, dengan percaya pada bantuan Penyelenggaraan Ilahi, yang kedudukannya begitu nyata mengatur pembebasan tanah air kami yang hilang: tetapi kami juga melakukannya dengan percaya pada bantuan, atas pertolongan setiap orang Belanda, yang, tanpa mengingat masa lalu, tanpa membedakan pangkat atau status atau disposisi keagamaan, merasakan bersama kami kebutuhan untuk merebut kembali Tanah Air itu, yang telah ditaklukkan dari unsur-unsur alam, dari Philip dan Al, dari keberanian leluhur kami "...bahwa leluhur kami memberikan kesaksian yang begitu mulia, namun terlalu lama dinodai oleh fitnah dan rasa malu." Kepercayaan itu tidak salah tempat. Tanah Air telah direbut kembali. Provinsi-provinsi Belanda telah tumbuh bersama menjadi Persatuan nasional yang tak terpecahkan. Tanah air dan koloni terhubung erat. Kebebasan dan pemerintahan mandiri penduduk telah terus diperluas. Kemakmuran negara, yang didukung oleh semangat kewirausahaan yang bangkit kembali dan kondisi kerja yang membaik, telah meningkat secara signifikan. Perjuangan yang kuat untuk peningkatan moral dan spiritual telah berhasil. Dalam sains dan seni, Belanda bersaing dengan negara-negara lain untuk menjadi yang terdepan. Harapan tulus saya adalah, dengan berkat Tuhan, perdamaian, kebebasan, dan kemakmuran dapat terpelihara. Semoga persatuan seluruh rakyat Belanda—tanpa membedakan pangkat, status, atau keyakinan agama—juga di masa depan menjadi landasan yang kokoh bagi kemerdekaan nasional. Saya berharap dapat bekerja sama dengan rakyat Belanda demi kebahagiaan Tanah Air”. WILHELMINA. 

Lalu apakah Soewardi Soerjaningrat telah mengirim surat kepada Ratu? Tidak terinformasikan. Yang terinformasikan adalah Douwes Dekker, Dr Tjipto dan Soewardi, akan meminta audiensi dengan Menteri Koloni setelah pembahasan anggaran Hindia Belanda. Kemungkinan besar, rencana ini terkait dengan apa yang dinyatakan Menteri di Parlemen, yaitu bahwa ia bermaksud menunjukkan belas kasihan kepada para pengasingan. 


Ketika bukti diberikan secara pribadi kepada saya, kata Menteri kurang lebih, bahwa mentalitas Soewardi dan Tjipto telah berubah, ketika mereka datang kepada saya, maka saya akan berusaha untuk menjelaskan kepada orang-orang ini bahwa Negara Hindia Belanda bukanlah penindas besar seperti yang mereka kira, tetapi bahwa Negara tersebut masih ingin melindungi mereka dari pernyataan mereka sendiri, seperti yang telah mereka lakukan baru-baru ini. Saya ingin mengatakan: belas kasihan itu mungkin. Anda dapat mengandalkan kebaikan hati saya, tetapi saya harus memiliki keyakinan penuh bahwa saya berhak mengatakan kepada Gubernur Jenderal: “Ulurkan tangan perlindungan kepada mereka” (lihat Maassluische courant, 22-11-1913). 

Dalam masa proses adaptasi di Belanda, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat juga termasuk Ernest Douwes Dekker masing-masing atau bersama tetap mengisi kesibukan di Belanda. Surat kabar di Bandoeng, De Expres juga terus menginformasikan tentang keberdaan dan aktivitas ketiganya. Hingga sejauh ini lajur yang dilalui Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat berbeda (namun parallel) dengan lajur yang dilalui oleh mahasiswa dan alumni Indisch Vereeniging. Namun khusus untuk Soewardi Soerjaningrat terinformasikan akan melanjutkan studi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-01-1914). Disebutkan Soewardi sedang belajar. Soewardi telah memulai studinya untuk menjadi seorang guru.


Di Belanda Tjipto Mangoenkoesoemo telah melakukan kerjasama dengan beberapa orang Belanda untuk menerbitkan majalah (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 06-10-1913). Disebutkan, Terbitan Baru. Sebuah terbitan mingguan baru, De Indier (Orang Hindia), yang didedikasikan untuk gerakan sosial dan spiritual di Hindia, akan terbit akhir bulan ini. Tjipto, De Gruyter dan Frans Berding akan bertindak sebagai editor. Namun dalam perkembangan majalah tersebut redaksinya hanya disebut Tjipto Mangoenkoesoemo dan Frans Berding yang diterbitkan oleh De Toekomst di Sciedam, Belanda dengan harga f2 per kwartal dan telah didistribusikan oleh De expres di Bandoeng untuk Hindia (lihat De expres, 11-12-1913). Sementara itu, Douwes Dekker, Tjipto dan Soewardi telah menulis buku memori mereka (lihat De expres, 12-12-1913). Disebutkan, Diterbitkan: Onze Verbanning (Pengasingan Kita). Sebuah buku yang berisi semua dokumen dan memorandum, serta penjelasan dan komentar, yang berkaitan dengan pengasingan DD, Tjipto, dan Soewardi, yang ditulis oleh mereka yang diasingkan sendiri. Publikasi "De Indiër". Harga f1,20, tidak termasuk ongkos kirim. Dapat dipesan dari Administrasi "De Indiër", Percetakan "De Toekomst" di Schiedam. Juga tersedia di toko buku. Anda dapat membayar lebih dari f1,20. Semua hasil penjualan bermanfaat bagi "De Indiër" dan Gerakan yang dilayani oleh surat kabar ini. Yaitu: Gerakan Hindia (Indische Beweging). Buku Onze Verbanning tersebut yang telah didistribusikan di Hindia kemudian dilarang Gubernur Jenderal Idenburg (lihat De nieuwe courant, 30-01-1914). Salah satu alasannya disebut, karena komentar di dalamnya menghina pemerintah.


Wabah pest akhir-akhir di Jawa telah menjadi perhatian Dr Tjipto di Belanda. Hal itu tentu saja karena menjadi bidang keahliannya. Namun penanganan wabah pest di Hindia khususnya di provinsi Oost Java yang terus berfluktuasi dan bahkan telah menlan korban ribuan jiwa membuat Dr Tjipto protes. Tentang hal itu telah disuarakan Dr Tjipto melalui tulisan yang dimuat surat kabar De Expres di Bandoeng yang kemudian dilansir di Belanda (lihat De tribune, 04-02-1914). Pemerintah sendiri pernah meminta Dr Tjipto untuk turut berpartisipasi dalam menanganinya beberapa tahun yang lalu (1909). 


De expres, 17-02-1914: ‘SDAP dan Indische Partij (Partai Hindia). Troelstra berbicara. SDAP berdiri di pihak kita dalam segala hal. Pada tanggal 15 dan 16 Januari, Troelstra, pemimpin SDAP, menulis uraian berikut tentang posisi SDAP terhadap Partai Hindia, yang dengan demikian juga dianggap—seperti yang terlihat dari proses parlemen dan ulasan pers di tempat lain—masih ada, yang juga benar. Masih benar apa yang dikatakan Carlyle: Pikiran, sekali terbangun, tidak akan tertidur lagi; ia berkembang menjadi sistem pemikiran, tumbuh pada manusia demi manusia, dari generasi ke generasi, hingga mencapai kematangan penuhnya. Troelstra menulis: Baru-baru ini, keluhan disampaikan di "Het Volk" mengenai fakta bahwa spesialis kolonial kita berbicara tentang Partai Hindia di Tweede Kamer dengan cara yang sangat menyimpang dari sikap yang diadopsi oleh faksi parlemen kita dan pers dalam hal ini. Meskipun mengakui dan menyesali perbedaan tersebut, kami tetap percaya bahwa hal itu tidak boleh dibesar-besarkan. Mengenai kesimpulan praktis—ketidaksetujuan terhadap keputusan penahanan—terdapat kesepakatan bulat, meskipun tidak dalam hal alasan. Lebih lanjut, siapa pun yang membandingkan wawancara keras Van Kol terhadap IP dan pemimpinnya dengan kritiknya yang tenang di Senat (hlm. 97 dari Risalah) harus mengakui bahwa kolega partai kami telah berupaya, tentu saja sambil menghormati keyakinannya sendiri, untuk mengurangi jarak antara pendapatnya dan pendapat kami sekecil mungkin. Meskipun demikian, perbedaan pandangan antara dia dan kelompok parlemen tetap ada, suatu keadaan yang akan terjadi lagi dan oleh karena itu tidak boleh dianggap terlalu tragis. Hal itu hanya memberikan kesempatan untuk meninjau kembali berbagai posisi di dalam Partai. Jika seseorang membandingkan pidato Vliegen di Parlemen dengan pidato Van Kol, terlihat perbedaan yang sangat besar pada satu poin. Vliegen, khususnya, menentang keras alasan sebenarnya di balik keputusan penahanan—tindakan Soewardi dan rekan-rekannya terhadap keterlibatan penduduk asli dalam perayaan kemerdekaan kita—dan dengan demikian menempatkan dirinya secara mutlak berlawanan dengan Gubernur Jenderal dan di pihak para tahanan. Van Kol hanya tidak menyetujui dekrit penahanan dengan kata-kata berikut: “Dekrit penahanan telah menghidupkan kembali Partai Hindia, dan dalam kasus seperti itu, penegakan hukum harus diutamakan daripada tindakan administratif”. Fakta sebenarnya yang dengan tepat mendorong Soewardi untuk menulis dengan ironi yang begitu tajam dan pada akhirnya memprovokasi pemerintah untuk menggunakan kekuasaannya—fakta yang dengan sendirinya tidak ada hubungannya dengan Partai Hindia—tetap tidak dibahas oleh Van Kol. Menurut pandangan kami, itu salah. Tindakan pemerintah sulit untuk dibela oleh mereka yang mengesampingkan semua pertimbangan hukum dan moral yang lebih halus demi “alasan negara” yang dingin dari penguasa yang mahakuasa. Suatu kebijakan yang ditolak oleh seluruh Eropa yang beradab dalam despotisme Rusia, baik dalam sikapnya terhadap Finlandia maupun dalam pelanggaran hukum terhadap lawan politik. Penyalahgunaan kekuasaan yang tidak akan dibiarkan begitu saja oleh juru bicara demokrasi sosial jika mereka harus mengkritik Pemerintah. Sebenarnya kita telah sampai pada inti perbedaan antara Van Kol dan kita mengenai penilaian masalah ini. Dia menyesalkan penahanan tersebut karena secara artifisial telah menghidupkan kembali IP. Ini adalah posisi pemerintah, yang lebih memilih untuk menyingkirkan gerakan yang dianggap salah olehnya secepat dan seefektif mungkin. Kami menolak penahanan tersebut karena kami menganggapnya sebagai penyalahgunaan kekuasaan terhadap minoritas kecil yang sedang berkembang dan karena hal itu menghambat perkembangan normal minoritas tersebut dan pengembangan kemampuannya secara bebas. Posisi sebuah partai yang sendirinya membutuhkan kesempatan untuk propaganda dan pengembangan bebas, dan yang mengakui kesalahan dan kekurangan masa mudanya sendiri dalam pencarian dan perabaan minoritas yang terhambat di Hindia untuk metode kerja yang tetap dan program yang beralasan, sambil menemukan kekerabatan dengan aspirasinya sendiri dalam garis yang ditarik, yang masih ragu-ragu, dan tujuan yang muncul dari minoritas tersebut. Bahwa Van Kol mengkritik banyak hal yang telah diucapkan dan ditulis Douwes Dekker bukanlah yang membedakannya dari Vliegen. Tetapi yang terakhir melihat "ketidakdewasaan" dalam penyimpangan berulang-ulang dalam ucapan dan tulisan Vliegen ke arah kekerasan dan anarkisme. Fraksi kami juga menunjukkan dalam wawancaranya bahwa mereka menyadari dan tidak menyetujui penyimpangan tersebut. Namun, dengan tidak menyetujui penyimpangan tersebut—yang begitu mudah dijelaskan dalam masyarakat tanpa massa yang sadar dan terdidik serta tanpa kebebasan bergerak politik—mereka tidak tidak menyetujui gerakan itu sendiri. Hal ini, yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran nasional, merupakan dasar pertama bagi suatu tindakan, yang pada akhirnya bertujuan untuk membawa tanah dan kekayaan Hindia serta kekuasaan untuk mengaturnya sendiri kepada penduduk Hindia itu sendiri, Ini adalah ungkapan dari masyarakat Hindia yang mencerminkan perjuangan yang sama yang kami kejar di bawah kepemimpinan Van Kol: Hindia untuk rakyat Hindia. Sebuah tujuan akhir, tetapi dengan jangka waktu yang panjang untuk mewujudkannya melalui kebijakan etis, yang hanya diterima oleh para pembicara borjuis dan kedua Majelis. Rasanya sangat aneh mendengar sekarang dari mulut Van Kol apa yang telah berulang kali dilontarkan kepadanya oleh pihak borjuis: “Meninggalkan Hindia pada nasibnya sekarang akan terbukti sebagai bencana besar bagi negara dan rakyat; waktunya masih jauh dari tepat untuk itu.” Sama seperti Van Kol tidak pernah pantas menerima pernyataan umum ini, pernyataan itu tidak cocok sebagai argumen melawan teman-teman Hindia kita, yang bahkan lebih bersemangat daripada kita, bahkan jika pemberontakan tiba-tiba dapat merebut Hindia dari kekuasaan Belanda, hal itu sekarang akan diikuti oleh anarki atau pemerintahan penakluk lain. Memang benar bahwa Douwes Dekker sendiri, khususnya, belum menggabungkan tingkat energi yang mengagumkan yang menjadi ciri khasnya dengan pengetahuan khusus tentang kondisi setiap gerakan yang kuat, yang diperhitungkan untuk bertahan dalam periode pengorganisasian dan pengembangan yang panjang, yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Namun, ini juga berlaku bagi kita di era gerakan kita, yang harus dianggap sebagai tahun-tahun pembentukannya. Siapa di antara kita, yang berdiri di garis depan pada era itu, yang bersedia memeriksa diri sendiri dan menyatakan diri bebas dari dosa-dosa yang begitu berat dikaitkan dengan Douwes Dekker? Di sinilah letak titik menyakitkan bagi kita dalam perilaku Van Kol — titik di mana jalan kita dalam menilai IP berbeda. Kita merasa berkewajiban untuk tidak mengutuk orang-orang ini, bersama dengan semua orang yang berkuasa dan pemangku kepentingan kapitalis, atas kesalahan mereka; Kami ingin menunjukkan kesalahan-kesalahan itu kepada mereka, dan jika perlu, mengakuinya secara terbuka, namun kemudian—untuk membantu mereka mengatasinya, dan menghindari jalan pintas di mana keadaan, kurangnya pengalaman, dan kurangnya fondasi yang kokoh untuk pekerjaan yang bermanfaat dan berkelanjutan mengancam untuk mendorong mereka—untuk menemukan jalan lebar dengan cakrawala masa depan yang jauh namun indah yang diharapkan. Karena hati kami milik mereka, dan bukan milik kekuatan pemerintah, modal, dan pers, yang menyerang mereka dari segala sisi dan telah mengusir mereka dari tempat kerja ideal mereka, di mana kami dengan senang hati menantikan kembalinya mereka, dengan perlengkapan yang lebih baik dan telah diajari oleh pengalaman. (Kesimpulan menyusul)’. 

Dukungan SDAP di Belanda kerpada Indische Partij adalah satu hal. Wabah pest yang terus meningkat di Hindia adalah hal lain. Oleh karena, mengingat korban yang terus berjatuhan akhirnya Dr Tjipto menulis surat kepada Menteri Koloni untuk ditugaskan ikut memerangi wabah ke Hindia (lihat De expres, 06-05-1914).   


Sudah barang tentu permintaan Dr Tjipto akan menjadi sulit bagi Pemerintah Hindia Belanda. Dalam hal, karena surat ditujukan kepada Menteri Koloni, maka sang menteri akan berkonsultasi dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Selain di pemerintahan, sudah barang tentu permintaan Dr Tjipto ini akan mendapat resistensi public di Hindia terutama dari pers Belanda. Alih-alih respek terhadap tawaran untuk demi keselamatan penduduk dari ancaman wabah, yang terjadi justru muncul opini di pers Hindia yang mengipasi api anti-Tjipto, yang didasarkan pada rasa takut terhadap Tjipto. Itulah satu-satunya faktor yang mungkin menghalangi kembalinya Tjipto. Sementara orang pribumi, lepas dari soal hukuman pengasingannya, sangat mengharapkan kehadiran Dr Tjipto. Menambah satu dokter akan lebih baik daripada harus menunggu korban jatuh lebih banyak lagi. 

Dalam perkembangannya terinformasikan Douwes Dekker akan segera ke Jenewa (lihat Tilburgsche courant, 26-06-1914). Disebutkan Den Haag, 26 Juni. Kami menerima pesan bahwa Douwes Dekker akan segera menetap di Jenewa. Juga terinformasikan bahwa Soewardi Soerjaningrat juga akan menyusul ke Jenewa. 


De Nederlander, 27-06-1914: ‘Triumvirat. Douwes Dekker telah menetap secara permanen di Jenève. Soewardi Soerjaningrat mungkin juga akan pergi ke Jenewa dalam beberapa bulan. Dokter pribumi Tjipto sedang sakit. Ia dirawat di rumah sakit swasta. Ia menderita kelumpuhan, tetapi menurut dokternya, untuk saat ini tidak ada bahaya baginya’. 

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo terinformasikan sakit dan tengah dirawat di rumah sakit. Namun kemudian terinformasikan Dr Tjipto sudah pulih (lihat Het vaderland, 30-06-1914). Disebutkan kami mendapat pesan bahwa Bapak Tjipto telah pulih sedemikian rupa sehingga beliau dapat meninggalkan perawatan di rumah sakit. Beliau akan menetap di sini (Den Haag) untuk sementara waktu. Dalam rapat gabungan Asosiasi Personel Kereta Api dan Trem Belanda yang diadakan di Den Haag turut dihadiri Dr Tjipto. 


Haagsche courant, 10-07-1914: ‘Dalam rapat gabungan Asosiasi Personel Kereta Api dan Trem Belanda, asosiasi "St”, “Raphael" dan “Christelijken Protestantenbond” yang diadakan kemarin malam dan semalam, diputuskan pagi ini, setelah berkonsultasi dengan Raphaël dan Christelijken Protestantenbond, untuk menyampaikan tuntutan berikut kepada manajemen HTM. Dalam surat tersebut, tanggapan diminta dalam waktu tiga hari. Jika tidak ada jawaban yang diterima hingga saat itu, atau jika jawaban menunjukkan bahwa manajemen tidak cenderung untuk menyetujui tuntutan personel, maka pekerjaan akan dihentikan pada hari Minggu mendatang… Di antara yang hadir pada pertemuan tadi malam, Bapak Tjipto, seorang pengasingan Hindia yang terkenal, juga tercatat sebagai perwakilan dari “Serikat Pekerja Kereta Api Hindia”. 

Hubungan antara Partai SDAP Belanda dengan Indische Partij di Belanda tampaknya telah membawa Dr Tjipto ikut memperjuangkan hak-hak para pekerja. Dalam pertemuan yang dihadiri Dr Tjito tersebut, tercatat namanya atas nama “Serikat Pekerja Kereta Api Hindia”. Sementara itu, terinformasikan Dr Tjipto telah mengakhiri kerjasamanya dengan Indier (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-07-1914). Disebutkan Den Haag, 16 Juli 1914. Tjipto telah menarik kerja samanya dengan Indiër karena tekanan studinya. Apakah Dr Tjipto telah melanjutkan studi di Belanda? 


Bataviaasch nieuwsblad. 24-07-1914: ‘Surat dari Den Haag. Den Haag 23 Juni 1914. Sekarang saya berbicara tentang memerangi wabah, saya harus menjadikan diri saya juru bicara untuk sebuah pendapat, Tjipto, yang, dengan janji untuk benar-benar menahan diri dari tindakan agitasi apa pun, diminta untuk diizinkan kembali ke negaranya untuk membantu saudara-saudaranya yang menderita dengan pengetahuan dan dedikasinya. Saya tidak ingin mengatakan lebih banyak tentang itu’. De nieuwe courant, 28-07-1914: ‘Tjipto. Gubernur Jenderal Hindia Belanda telah memberikan izin kepada Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter pribumi yang tinggal pasif di Den Haag, untuk kembali ke Jawa atas permintaannya, karena alasan kesehatan, dengan pencabutan tindakan politik yang diambil terhadapnya’. 

Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang telah memberikan izin kepada Tjipto Mangoenkoesoemo untuk kembali ke Hindia adalah satu hal, Tentang pencabutan penahanan (yang dalam hal ini juga pengasingan) adalah hal lain. Lawan-lawan politik mereka kembali berkicau. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-07-1914: ‘Tjipto kembali. Tjipto Mangoenkoesoemo kembali ke Hindia karena alasan kesehatan. Telegram melaporkan bahwa ia telah diizinkan untuk kembali ke Hindia. Tentu saja, ini tidak benar. Ketiga tahanan tersebut langsung pergi ke Eropa, jadi mereka selalu dapat kembali. Namun, selama perintah penahanan belum dicabut, setibanya di Hindia mereka akan segera dikirim ke tempat tinggal yang telah ditentukan. Jadi Tjipto akan pergi ke Banda. Memperoleh gelar kedokteran tampaknya jauh lebih sulit daripada mengomel terhadap Pemerintah! Red’. 

Lantas bagaimana status hokum dari Dr Tjipto sekarang? Hinga sejauh ini belum terinformasikan dari pemerintah. Sementara itu ada juga yang menyebutkan penahanan Tjipto telah dicabut (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-07-1914). Disebutkan, Penahanan Tjipto. Den Haag, 28 Juli. Penahanan Tjipto telah dicabut karena alasan kesehatan. Ia akan dipulangkan pada awal Agustus. Penyakitnya sama sekali tidak diketahui oleh profesor, tetapi ia sepenuhnya lumpuh. Ada juga yang menyebutkan akibat penyakitnya lumpuh sebahagian (lihat De Preanger-bode, 30-07-1914). Tentu saja surat kabar De expres bereaksi. 


De expres, 30-07-1914: ‘Benih api. Begitu ayam-ayam itu ada di sana. Berita yang baik hati itu secara alami menyaring sesuatu yang bagus dari laporan kembalinya Tjipto ke Hindia. Pertama, surat kabar itu menyatakan bahwa Tjipto akan "secara alami" pergi ke Banda, dan kemudian ia mengatakan, oh, sungguh menjijikkan dan begitu tajam, bahwa "berteriak menentang pemerintah adalah hal yang sangat berbeda dengan mendapatkan perawatan dokter". Bukankah dia tepat sasaran, dan bukankah pernyataan seperti itu dengan sempurna menggambarkan jiwa rendahan yang memunculkannya? Di sini datang seorang pria yang kembali, hancur tubuh dan pikirannya, sakit parah, dan apa pun yang dikatakan oleh "surat kabar pertama Insulinde" yang membanggakan diri ini adalah kebodohan yang sama tidak pantasnya atau ketidakpantasan yang bodoh, persis seperti yang diinginkan. Betapa buruknya gagasan seorang editor tentang pembacanya yang berani menerbitkan hal-hal sepele seperti itu. TJIPTO MANGOENKOESOEMO. Internal. Telegram dari Belanda yang melaporkan kondisi kawan kita Tjip sama sekali tidak menggembirakan. Kawan kita yang malang tampaknya telah terserang penyakit yang tidak dapat didiagnosis oleh para ahli, tetapi telah membuatnya benar-benar lumpuh. Kita tahu bahwa Tjip sebelumnya pernah menderita penyakit ini, yang mengakibatkan kelumpuhan sementara dan sebagian, dan kita menduga bahwa penyakit yang sama telah menyerangnya lagi. Marilah kita berharap bahwa perjalanan laut akan sangat bermanfaat baginya dan bahwa Tjip akan segera diizinkan untuk menggerakkan anggota tubuhnya dengan bebas lagi, dan mungkin pikiran yang membangkitkan semangat untuk diizinkan kembali ke tanah airnya akan menguatkannya. Ucapan terima kasih perlu disampaikan kepada Gubernur Jenderal, yang menganggap pantas untuk tidak menambah penderitaan pengasingan secara tidak perlu dan yang telah memberikan izin untuk mencabut penahanan. Sekarang terserah kita untuk melindungi Tjipto sebisa mungkin dari dampak buruk yang ditimbulkan oleh penyakitnya; semoga Tjipto yang sakit menjadi dua kali lebih berharga di hati kita. Kawan-kawan, pendengar yang baik hanya membutuhkan setengah kata. Sekarang giliran kita untuk merawat rekan kita yang sakit. Berikut ini adalah pesan yang disampaikan dari Den Haag kemarin kepada Java Bode: Perintah penahanan untuk Tjipto telah dicabut karena alasan kesehatan. Ia akan kembali pada awal Agustus; penyakit Tjipto juga tidak diketahui oleh para profesor. Ia benar-benar lumpuh’.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar