*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Indie Weerbaar (Pertahanan Hindia Tangguhh) di Batavia adalah sebuah gerakan dan komite pertahanan yang dibentuk pada Juli 1916 . Gerakan ini digagas oleh Gubernur Jenderal JP van Limburg Stirum sebagai respons atas pecahnya Perang Dunia I (1914). Pemerintah Hindia Belanda khawatir wilayah Hindia Belanda akan mendapat serangan dari luar, mengingat kekuatan militer resmi KNIL sangat terbatas. Pemerintah ingin merangkul penduduk pribumi. Apakah ini awal permulaan negara Indonesia? Sejarah Catur di Indonesia
Nama Indonesia diadopsi mulai tahun 1917: Het Indonesisch Verbond van Studeerenden (Persatuan Mahasiswa Indonesia) adalah organisasi mahasiswa yang didirikan di Belanda pada tahun 1917 untuk menyatukan mahasiswa asal Hindia yang tertarik pada Hindia. Namun, organisasi payung tersebut terbukti tidak mampu menjembatani perbedaan ideologis dan politik yang mendalam antara berbagai kelompok mahasiswa dan berhenti beroperasi pada tahun 1923. Persatuan ini berfokus pada mahasiswa Belanda yang mempersiapkan karier kolonial di kepulauan tersebut, serta mahasiswa dari Hindia itu sendiri. Organisasi-organisasi besar seperti Indische Vereeniging dan asosiasi Tionghoa-Hindia Chung Hwa Hui bergabung. Ketua pertama adalah JA Jonkman. Peran sekretaris-bendahara dipegang oleh HJ van Mook. Organisasi ini menerbitkan majalah Hindia Poetra sebagai organ resminya. Meskipun sebagian besar mahasiswa Belanda memiliki pandangan moderat atau konservatif terhadap koloni tersebut, Indische Vereeniging mengalami radikalisasi sejak awal tahun 1920-an menuju kemerdekaan penuh. Ketegangan ini menyebabkan berakhirnya aliansi pada tahun 1923 (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Indie Weerbaar di Batavia dan Het Indonesisch Verbond van Studeerenden di Belanda? Seperti disebut di atas, ada dua gerakan yang terjadi berurutan yakni Pemerintah Hindia Belanda ingin merangkul penduduk pribumi untuk mempertahankan negara (Indie Weerbaar, 1916) dan mahasiswa-mahasiswa Belanda ingin bersatu dengan mahasiswa-mahasiswa pribumi dan Cina di Belanda (Het Indonesisch Verbond van Studeerenden, 1917). Lantas bagaimana dengan EFE Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat? Lalu bagaimana sejarah Indie Weerbaar di Batavia dan Het Indonesisch Verbond van Studeerenden di Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sezaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Pertahanan Indonesia Tangguh (Indie
Weerbaar) di Batavia; Het Indonesisch Verbond van Studeerenden di Belanda Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Demikianlah yang terdapat dalam narasi sejarah Indonesia masa kini. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ sezaman.
Belanda dan Jerman dalam banyak aspek dapat dikatakan lebih dekat satu sama lain daripada berjauhan. Berada di daerah aliran sungai (DAS) yang sama: sungai Rhein, Belanda di hilir Belanda (di bawah-Nether-land) dan di hulu Jerman (di atas-Deutsch-land). Orang Inggris menyebut penduduk di dua wilayah rendah itu Deutsch. Dalam hal inilah orang Inggris menyebut orang-orang dari daratan Eropa Barat Laut yang bahasanya mirip dengan Jerman (Deutsch). Kata diutisc dipakai dahulu untuk membedakan bahasa rakyat biasa dari bahasa Latin yang dipakai kaum terpelajar. Sejak abad ke-17 sebutan Deutsch ini hanya dipakai untuk warga negara Belanda saja (Deutsch atau Dutch). Pada saat orang Belanda menjadi pelaut (menguasai navigasi pelayaran) dan bahkan hingga sudah menguasai Hindia Timur (baca: Indonesia), pengetahun dan teknologi dari Jerman turut memajukan Belanda. Hal itulah mengapa banyak keahlian (dan orang) yang terdapat di tubuh VOC berasal dari Jerman seperti senjata, militer, percetakan dan sebagainya sebagaimana kemudian direpresentasikan pada nama-nama Dr FW Jung Huhn dan De Muller (dua ahli geologi pertama di wilayah Hindia Belanda). Pelaut-pelaut Belanda yang sudah mulai mencapai Jepang, kerajaan Jepang kemudian lebih percaya Belanda dari pada Portugis, karena tingkat pengetahuan dan teknologi Belanda yang pada akhirnya Kerajaan Jepang mengusir Portugis dari Jepang dan pada tahun 1641 menjadikan Belanda satu-satunya yang dapat berdagang di seluruh wilayah Jepang. Seperti di Indonesia (baca: Hindia Belanda), pengaruh Belanda di Jepang sudah tertanam berabad-abad hingga pada tahun 1861 seorang dokter Belanda Nagasaki membawa sejumlah pemuda Jepang untuk belajar ((kuliah) di Belanda. Bersamaan dengan itu, kerajaan Jepang juga mengirim utusan untuk pembuatan kapal-kapal perang di Belanda untuk dikirim ke Jepang. Salah satu mahasiswa yang belajar teknologi kapal, kemudian yang akan membawa kapal perang itu ke Jepang. Namun para sarjana Jepang memahami bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi berada di Jerman yang kemudian mengalihkan perhatian Jepang ke Jerman. Untuk mendukung itu rute pelayaran langsung antara Jerman dan Jepang (dan sebaliknya) dibuka. Dampaknya cepat terasa, Jepang menjadi maju pesat dalam segala bidang, bahkan sudah mencapai level Belanda (hanya dalam tempo singkat 40 tahun sejak 1861). Pada masa inilah orang-orang Jepang sudah mulai masuk secara deras ke wilayah Indonesia (baca: Hindia Belanda) dengan barang-barang industrinya. Pada tahun 1903 konsul Jepang sudah ditempatkan di Batavia, kemudian ditambah lagi di Soerabaja dan Manado lalu kemudian menyusul di Medan (perluasan dari perwakilan Jepang di Singapura). Melihat semua itu, orang Belanda di Indonesia “molohok”. Sejak ini pula orang-orang Belanda di Indonesia mulai khawatir, bahwa kekuatan asing (Jerman) tidak hanya terjadi di Belanda (Eropa), juga kekuatan asing di Asia timur (Jepang) juga terjadi di Hindia Belanda (baca: Indonesia). Orang-orang terpelajar Belanda di Belanda, yang memiliki minat kepada Indonesia (baca: Hindia) mulai menyadarinya sehingga Vereeniging Oost en West didirikan di Den Haag tahun 1899 dan Vereeniging Moederland en Koloniën didirikan di Den Haag pada tahun 1901. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda mulai dirangkul mereka seperti Dr Abdoel Rivai, Baginda Djamaloedin, Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, Dr Ph Laoh, Hoesein Djajadiningrat dan lainnya. Selanjutnya dengan semakin menguatnya penetrasi Jepang di Hindia dan semakin kuatnya dorongan sebagian orang Belanda untuk mengangkat derajat orang pribumi di Indonesia (dalam konteks politik etik dan politik kerjasama), orang-orang terpelajar Indonesia, terutama yang studi di Belanda sangat memahami dinamika yang terjadi. Soetan Casajangan, mahasiswa keguruan di Belanda menginisiasi membangun persatuan diantara mahasiswa Indonesia dengan didirikannya organisasi mahasiswa pribumi Indische Vereeniging pada tahun 1909. Sejak inilah orang-orang Indonesia yang semakin banyak yang studi di Belanda mulai menyadari bahwa peta geopolitik Indonesia telah berubah. Gerakan-gerakan intelektual orang Indonesia pun mulai bermunculan dalam konteks politik.
Gerakan-gerakan intelektual orang Hindia (orang pribumi dan Indo Eropa)
yang dalam konteks politik yang pertama adalah Studiefonds Indische Vereeniging
di Belanda dan kemudian disusul dengan meunculnya partai politik Indische
Partij di Indonesia. Dua gerakan intelektual ini muncul sebagai respon terhadap
ketidakadilan yang semakin menganga. Dua gerakan intelektual ini dengan sadar
berjuang untuk menuntut hak yang sama bagi semua bangsa “coklat” dan “putih”. Soetan
Casajangan, mantan ketua Indische Vereeniging dan yang telah memiliki akta guru
MO (pendidikan keguruan tertinggi di Belanda—kira-kira sarjana pendidikan IKIP
pada masa ini) sebagai pengajar bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool
di Haarlem dan Rotterdam diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien
(Organisasi para ahli/pakar bangsa Belanda di negeri Belanda dan di Hindia
Belanda) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan
pada tahun 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan
makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan
pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya.
Geachte
Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).
“...saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi)”.
Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Soetan Casajangan saat berpidato itu mewakili bangsanya. Berabad-abad orang Belanda “menghisap” kekayaan alam dan jerih payah orang Indonesia, hingga tahun 1911 baru tujuh orang pribumi yang sarjana (guru hanya satu orang, Soetan Casajangan sendiri) atas biaya sendiri tanpa dukungan pemerintah (perguruan tinggi/universitas hanya ada di Belanda).
Tidak adanya respon pemerintah selama ini, bahkan setelah Soetan Casajangan berpidato di forum Vereeniging Moederland en Kolonien di Belanda (beritanya ada surat kabar dan naskah pidatonya tersebut diterbitkan oleh Vereeniging Moederland en Kolonien di Belanda, lalu Soetan Casajangan mulai mencari jalan keluar menyasar para donator di Belanda (non-pemerintah). Soetan Casajangan yang dibantu oleh Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon mulai merintis pembentukan dana studi (Studiefonds). Sementara itu di Indonesia (baca: Hindia), pada bulan Agustus 1912 terjadi revolusi di tubuh Indische Bond (organisasi orang-orang Indo Eropa) di Batavia yang kemudian terbentuk Indische Partij (dengan memilih pusatnya di Bandoeng). Pada bulan Oktober EFE Douwes Dekker mengajak Dr Tjipto Mangoenkoesoemo (di Kepandjen, Malang) untuk ikut bergabung Indische Partij. Soetan Casajangan di Belanda, pada tanggal 19 Desember 1912 diundang oleh Vereeniging Oost en West cabang Amsterdam untuk berpidato. Soetan Casajangan membawakan makalah dengan judul “Een en ander ter bevordering van den vooruitgang van Nederlandsch-lndie (Hal-hal lain untuk mempromosikan kemajuan Hindia Belanda). Pada pertemuan yang diadakan di Bandoeng pada tanggal 25 Desember 1912, Indische Partij secara resmi dididirikan yang mana di dalam badan pengurus pusat nama Dr Tjipto Mangoenkoesoemo duduk sebagai wakil ketua sementara yang menjadi ketua Indische Partij adalah EFE Douwes Dekker. Sekretariat dipimpin oleh JG van Ham dan bendahara GP Carli. Suatu komite dibentuk untuk mempersiapkan statuda (AD/ART). Pidato Soetan Casajangan dimuat pada jurnal/majalah Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 13, 1913, No. 2, 09-01-1913. Intinya guru Soetan Casajangan menunjukkan betapa pentingnya pendidikan untuk pembangunan, untuk seluruh Hindia Belanda. Selain anak-anak, Soetan Casajangan juga ingin pendidikan bagi orang tua, terutama di bidang pertanian, peternakan, dan perdagangan. Hanya dengan demikian, menurut Soetan Casajangan bangsa Belanda yang kecil (penduduk sedikit wilayah sempit di Eropa) akan berdiri tegak (bermartabat) di hadapan wilayah Indonesia yang besar (penduduk banyak wilayah luas di Asia). Isi pidato Soetan Casajangan tersebut diapresiasi oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dengan beberapa komentar kritis yang dimuat pada surat kabar De expres, 12-02-1913.
Setelah pendirian Studifonds di Belanda dan diundang oleh Vereeniging Oost en West cabang Amsterdam untuk pada tanggal 19 Desember 1912, Soetan Casajangan menulis artikel yang kemudian diterbitkan pada tanggal 11 Februari di surat kabar di Hindia dengan judul ‘Dari Belanda! Untuk Rakyat Hindia!’ yang pada intinya Soetan Casajangan meminta dukungan dari Hindia Belanda dengan menyatakan ‘untuk memohon kesediaan Anda, bangsa Belanda, untuk berkorban. Anda, warga negara Belanda dan asosiasi yang memiliki badan hukum, tentu siap untuk mengumpulkan dana untuk tujuan: "Memungkinkan penduduk pribumi di Belanda untuk memperoleh perkembangan dalam hal-hal yang paling penting: pendidikan, perdagangan, dan pembangunan", dalam dana pendidikan (studiefonds), yang darinya biaya dapat ditutupi untuk memberikan pendidikan tingkat yang lebih tinggi kepada beberapa penduduk pribumi di Belanda setiap tahun, dan yang juga berfungsi untuk peningkatan dan perluasan sekolah di Hindia Belanda. Di Hindia terdapat keinginan untuk pembangunan yang lebih besar, untuk pendidikan yang lebih baik oleh ribuan penduduk pribumi, yang mana Belanda selama berabad-abad telah bekerja sama untuk memberi manfaat bagi Belanda dan orang Belanda secara materi.
Dengan jutaan penduduk pribumi sebagai teman, kepemilikan Insulinde dijamin untuk Belanda; Dengan jutaan penduduk pribumi sebagai lawan yang acuh tak acuh atau, lebih buruk lagi, sebagai lawan yang tidak puas, pada akhirnya akan terbukti mustahil bagi Belanda kecil untuk mempertahankan kepemilikannya terhadap musuh asing atau domestik yang kuat. Memanfaatkan arus tersebut di antara penduduk pribumi pada waktu yang tepat dan memberikan arahan, saat ini, merupakan tugas besar dan benar-benar bersejarah yang diemban oleh Belanda. Soetan Casajangan mengingat kan “bahwa rakyat Belanda, akan merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda tahun ini; semoga tahun 1913 ini menjadi awal kebebasan spiritual dan kebangkitan spiritual bakat-bakat yang tertidur dari ribuan warga Belanda di Hindia Belanda. Siapa pun di antara pembaca artikel ini, yang diterbitkan di surat kabar Belanda yang paling banyak dibaca, yang merasa simpati terhadap upaya ini, hendaknya mereka mempertimbangkan: "Setiap orang Belanda memiliki kepentingan di Belanda dan bahwa hegemoni Belanda terletak di Hindia, hendaknya mereka menunjukkan hal ini dengan mengirimkan kartu nama mereka kepada R Soetan Casajangan Sp, Copemicusstraat 131, Den Haag, sehingga pertemuan pertama untuk pembentukan komite dan dewan dapat diadakan sesegera mungkin".
Dalam artikel tersebut Soetan Casajangan tidak hanya menyindir orang-orang Belanda, Soetan Casajangan juga terkesan telah memberi sinyal ancaman bagi orang-orang Belanda. Artikel Soetan Casajangan itu ditanggapi secara dingin di Hindia, tetapi berbagai macam reaksi muncul di Belanda. Boleh jadi orang-orang Belanda di Hindia lebih memperhatikan isu tentang statute Indische Partij.
Sementara itu di Hindia, statuta atau permohonan badan hukum Indische Partij resmi ditolak oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Idenburg pada tanggal 4 Maret 1913. Setelah pengurus Indische Partij melakukan revisi pada statute mereka, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Idenburg kembali mengeluarkan surat keputusan penolakan yang memperkuat keputusan pertama pada tanggal 11 Maret 1913’. Tamat sudah Indische Partij.
Soetan Casajangan juga mengirimkan artikel dengan topic yang sama yang dimuat oleh surat kabar Het vaderland, 12-03-1913 dengan memberi judul yang sama ‘Dari Belanda! Untuk Rakyat Hindia!’. Soetan Casajangan dalam arikelnya juga juga mengutip pernyataan ATN Engelenberg, yang sedang cuti, berbicara dengan tepat, dengan kata-kata berikut: “Hendaknya Belanda memperhatikan, “bahwa pengorbanan demi Hindia ini juga merupakan “investasi yang baik, karena “dengan itu tangan antara Belanda dan Hindia dapat diperkuat...“Semoga Kekaisaran menjadi satu rumah sejati bagi “semua bangsa dan semua agama yang dicakupnya, sehingga pada saat cobaan “semua berdiri bahu-membahu untuk “menangkal bahaya”. Soetan Casajangan dalam artikelnya juga membuat suarat D Soesman kepada editor surat kabar tersebut, yang pada intinya menyatakan: “Apa lagi pertahanan terbaik bagi wilayah kita yang indah?” “Pendidikan umum dan pengasuhan yang baik dan bijaksana bagi warga Hindia. Biarlah warga Belanda yang berpendidikan tinggi dan berpikiran baik menunjukkan bahwa mereka sangat memahami apa yang menjadi kepentingan negara mereka dan apa yang perlu dilakukan untuk kerajaan-kerajaan tersebut”.
Soetan Casajangan melanjutkan: Dan sebagai orang Batak pribumi, saya dengan senang hati akan mendukung kata-kata orang Eropa yang berwibawa ini, para ahli tentang Hindia dan kondisi disana, dengan keyakinan dan pengalaman saya yang diperoleh selama bertahun-tahun tinggal di antara penduduk pribumi, bahwa penduduk pribumi saat ini mengharapkan peningkatan moral dari Belanda, yang akan memungkinkan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan ilmu pengetahuan di mana pun, yang akan memberi mereka kemakmuran praktis yang lebih besar dan, dalam arti ideal, membuat mereka "lebih manusiawi". Minat dan perhatian tanpa disengaja dari penduduk pribumi adalah faktor terbaik yang dapat dibayangkan untuk mengamankan Hindia bagi kita. Lagipula, di sekolah kita mengamati bahwa hasil pendidikan sangat bagus ketika minat dan perhatian tanpa disengaja dari para siswa hadir. Dengan demikian, kita hanya perlu memastikan bahwa metode dan bahan pengajaran itu baik. Oleh karena itu, kita hanya perlu memastikan bahwa minat dan perhatian itu harus dimanfaatkan. Lebih lanjut: Jika ia memiliki perkembangan itu, ia akan mempertimbangkan sendiri agama apa yang akan dianutnya dan bangsanya. Betapa tugas yang "besar" bagi "Bangsa yang kecil!". “Biarlah Belanda sekarang menunjukkan kebesarannya, “dalam segala hal yang dapat dilakukan oleh negara kecil!” Jumlah penduduk pribumi yang, dengan mengatasi berbagai rintangan, datang untuk menyelesaikan pendidikan mereka di Belanda di sekolah-sekolah Belanda semakin meningkat; dan ini tentu akan menjadi jauh lebih besar jika pengorbanan finansial yang besar tidak sering menjadi penghalang. Keinginan penduduk pribumi untuk lebih banyak sekolah, untuk pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik, semakin tumbuh setiap hari. Jika sekolah dasar pertama-tama diorganisir dengan benar dan didasarkan pada sekolah-sekolah Eropa, maka lembaga pendidikan menengah dan tinggi akan muncul dengan sendirinya. Tidakkah rakyat Belanda benar-benar ingin menjangkau penduduk pribumi? Biarlah tahun 1913, Tahun Yubileum yang akan datang, juga menjadi Tahun Yubileum bagi warga Belanda keturunan cokelat di Hindia Belanda, di mana warga tersebut dapat menjadi saksi atas dukungan yang diberikan dari Belanda untuk mengangkat mereka melalui pendidikan tinggi ke keadaan "kebebasan" spiritual. Pendirian dan pembukaan berbagai lembaga pendidikan di Hindia Belanda hanya dapat dilakukan selama bertahun-tahun; Namun, Belanda memiliki banyak sekolah yang bagus, di mana terdapat banyak kesempatan bagi para pemimpin di bidang pendidikan, pertanian, dan perdagangan untuk menerima pendidikan yang lengkap di bidang tersebut. Baiklah, warga Belanda! Di antara penduduk pribumi terdapat kebutuhan dan keinginan besar akan pendidikan yang lebih tinggi, terutama bahasa Belanda, pengetahuan tentang pertanian dan peternakan, serta pengetahuan komersial. Teguhlah, warga Belanda! Sekarang, melalui bantuan keuangan, penduduk pribumi dapat memperoleh pengetahuan dan pengembangan tersebut di Belanda! Kita hanya perlu berpikir bahwa, jika setiap orang bersedia membayar sebagian kecil dari pajak yang harus dibayar di negara ini, dengan mempertimbangkannya sebagai kontribusi sukarela untuk peningkatan kesejahteraan kita... Saudara-saudara di Hindia, melalui pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik, juga sebagai tanda kemurahan hati Belanda yang terkenal luas, atau mungkin oleh sebagian orang sebagai pengakuan atas kehormatan yang lebih terkenal, kita dapat memiliki fondasi yang kuat untuk pendirian: "LEMBAGA ABADI UNTUK PERSATUAN DAN KEMAJUAN" (yang akan diberikan sebagai uang muka tanpa bunga kepada para siswa dengan jaminan asuransi jiwa), kemudian penduduk pribumi tersebut, setelah kembali ke Hindia, akan menyebarkan pengetahuan yang diperoleh di antara penduduk, dan imbalannya juga akan dipetik seratus kali lipat oleh kalian, para pemuda Belanda, melalui penghargaan, rasa hormat, rasa syukur, dan pengabdian yang tulus dari penduduk pribumi terhadap Kekaisaran Belanda, yang akan disebut "sesungguhnya": "BELANDA YANG LUAR BIASA" dan terdiri dari provinsi-provinsi di Eropa dan di Hindia, hanya satu Kekaisaran yang ada. Di mana, baik di sini maupun di tempat lain, perkembangan yang lebih besar dan kemakmuran yang lebih besar memerlukan kebutuhan yang lebih besar dan daya beli yang lebih besar, bimbingan itu juga secara tidak langsung akan menguntungkan Belanda dan perusahaan-perusahaan Belanda. Investasi dalam pendidikan menghasilkan bunga yang tak ternilai’.
Soetan Casajangan menulis artikel singkat yang dikirim kepada editor surat
kabar Het vaderland yang kemudian diterbitkan pada edisi 25-03-1913. Isinya
antara lain untuk menyampaikan respek kepada editor yang sebelumnya telah
memuat artikelnya. Soetan Casajangan juga menyampaikan sudah ada respon yang
diterima dan bahkan simpati dari para petinggi kerajaan. Ini mengindikasikan
bahwa artikel Soetan Casajangan di surat kabar telah menyebabkan sebagian mata dan
telingan orang Belanda mulai terbuka.
Het vaderland, 25-03-1913: ‘WARGA BELANDA! UNTUK RAKYAT INDONESIA!. Kepada Editor yang terhormat! Saya dengan senang hati akan memanfaatkan keramahan Anda untuk kedua kalinya untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang beberapa bagian dari rencana yang telah saya kembangkan. Saya memang telah menerima berbagai ungkapan simpati, termasuk dari Yang Mulia Ibu Suri; dari Yang Mulia Pangeran Belanda; dari Yang Mulia mantan Gubernur Jenderal JB van Heutsz, dll., dan studiefonds tersebut kemungkinan besar akan didirikan. Saya hanya berharap dapat meningkatkan jumlah kontributor melalui surat ini. Pada tahun 1913, tahun Yubileum Belanda, menyisihkan sejumlah dana sekali untuk membiarkan kegembiraan itu bergema bagi saudara-saudara kita di Hindia untuk kepentingan langsung kita sendiri tentu bukanlah permintaan yang berlebihan; mereka ingin belajar bahasa Belanda, gerbang menuju pembangunan, dorongan untuk lebih, untuk peradaban "Belanda", semakin lantang terdengar. Jika, untuk sementara waktu, dana yang akan dibentuk hanya memungkinkan beberapa penduduk asli untuk menjadi guru—dan kemudian cabang layanan lain akan disiapkan di Belanda—maka itu sudah akan membuka kemungkinan bagi ratusan penduduk asli untuk memperoleh peradaban yang lebih besar yang diinginkan dari salah satu dari mereka sendiri. Pendidikan dasar adalah yang utama, fondasi dari perkembangan total; baru kemudian, dan melalui itu, pendidikan menengah atau tinggi selanjutnya. Dengarkan bagaimana HJD Apituley, seorang dokter Hindia, baru-baru ini mengungkapkan pendapatnya di Amsterdam: “Untuk menjadikan perempuan pribumi sebagai pendidik yang layak bagi anak-anaknya, sekolah diperlukan, di samping bimbingan dan kasih sayang dari orang Belanda. Kembangkan pikiran dan hati perempuan Jawa, dan Anda akan memiliki generasi Jawa yang baik. Jika Anda melihat tangan yang terulurkan kepada Anda dari Hindia untuk dukungan, jangan menolaknya karena dia berkulit cokelat; maka penduduk asli akan menghormati Belanda, karena hati ibunya mendorongnya untuk melakukannya. Maka akan benar-benar ada Belanda yang Agung di Asia” dan KWB, 20-03-1913. “Baiklah, wahai warga Belanda dari semua kalangan dan tingkatan, janganlah ragu-ragu; jika Anda ingin berjabat tangan dengan kami, bantulah, melalui kontribusi finansial, agar warga asli pertama dapat dikirim tahun ini juga, 1913, untuk mempelajari budaya Belanda di Belanda dan, setelah menyelesaikan studinya, membawanya kepada sesama warga Belanda di wilayah Belanda di Insulinde. Pertemuan pertama para peserta akan segera berlangsung. Semoga pembentukan dana dan pengangkatan administrator di negara ini dapat diselesaikan sepenuhnya pada tanggal 30 April 1913. Setiap orang yang bersimpati pada rencana ini—terutama para wanita dan pria Ind—dan yang belum menunjukkannya hingga sekarang, sekali lagi meminta saya untuk mengirimkan kartu nama, setelah itu setiap orang akan menerima undangan ke pertemuan pendirian pertama. Karena pepatah mengatakan: "Banyak hal kecil menghasilkan satu hal besar". Terima kasih, Ed., atas ruang yang diberikan. Hormat saya, R. SOETAN CASAJANGAN S.p. Copernicusstraat 131, Den Haag’.
Demikian seorang guru Soetan Casajangan berjuang untuk bangsanya dengan caranya sendiri, cara seorang guru. Lantas bagaimana dengan Indische Partij setelah statutanya ditolak pemerintah? Seperti disebut di atas, di dalam Indische Partij pribumi diwakili oleh dokter Tjipto Mangoenkoesoemo. Meski statuta Indische Partij telah ditolak pemerintah, namun aktivitas pada anggotanya masih jalan (tidak dilarang, hanya statutanya tidak diterima/diakui). Dalam hal ini, ketua Indische Partij adalah juga pemimpin redaksi surat kabar De expres yang mana salah satu redakturnya adalah Dr Tjipto Mangoenkoesoemo (yang juga sebagai wakil ketua Indische Partij). Surat kabar De expres, 24-04-1913 memuat surat tentang Soetan Casajangan di Belanda yang dikirim ke surat kabar De Locomotief di Semarang.
De expres, 24-04-1913: ‘Seorang Batak Dihormati di Belanda. Dari Den Haag, Loc. menerima surat tertanggal 25 Maret yang lalu, dengan isi sebagai berikut: Kemarin, pada pertemuan ramah tamah Vereeniging Oost en West, penghormatan yang mengejutkan diberikan kepada kepala sekolah Batak, Raden Soetan Casajangan, yang baru-baru ini menjadi sangat populer melalui upayanya yang tak kenal lelah untuk memungkinkan rekan senegaranya menerima pendidikan di Belanda dan yang, untuk tujuan itu, memasang seruan di surat kabar harian baik di Belanda maupun di Hindia. Prakken, anggota dewan Ver. Ooost en West, maju dan memberikan penghormatan kepada pelopor Batak tersebut dengan kata-kata singkat dan hangat: ia menghargai upayanya untuk membawa kemajuan di antara rekan senegaranya dan menganggap penyebaran bahasa Belanda di Hindia sebagai cara terbaik untuk mendekatkan Timur dan Barat, benteng terkuat untuk kecintaan penduduk pribumi terhadap Belanda. Ia berharap Soetan akan berhasil dalam usahanya yang tekun dan, sebagai tanda penghargaan, atas nama dewan Oost en West, ia mempersembahkan rangkaian bunga yang sangat besar dan indah berupa dedaunan dan tulip, dihiasi dengan bendera tiga warna Belanda. Pita-pita tersebut bertuliskan: Penghargaan untuk gagasan MHR Soetan Casajangan. Untuk pendirian "Dana Studi Abadi" Untuk Persatuan dan Kemajuan. Sungguh suatu hal yang luar biasa bagi pria sederhana itu untuk dihormati secara tak terduga di depan umum, dan sekarang tiba-tiba harus tampil di sorotan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia menurutinya dengan agak ragu-ragu, menjelaskan bahwa usahanya telah diterima dengan sangat baik di Belanda. Dengan demikian, ia telah menerima surat penghargaan dan persetujuan dari Yang Mulia Ibu Suri, dari Yang Mulia Pangeran Belanda, dari mantan Gubernur Jenderal van Heutsz, dan dari banyak tokoh terkemuka. Ia menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang tak terduga tersebut dan berterima kasih kepada semua orang yang telah mendukung usahanya hingga saat ini. Selanjutnya, ia meninggalkan tempat kejadian dengan rangkaian bunga yang besar. Dapat ditambahkan bahwa R Soetan Casajangan telah menerima lebih dari 150 surat dan kartu persetujuan, serta banyak janji dukungan finansial. Ia memperkirakan akan membutuhkan sekitar satu ton emas untuk tujuannya, dan sekarang sedang berspekulasi pada hati yang gembira di Tahun Yubileum (100 tahun kemerdekaan Belanda) untuk mengamankan jumlah tersebut, yang mana seluruh Hindia, dan terutama penduduk pribumi, juga harus bekerja sama. Pada bulan Juli mendatang, R Soetan Casajangan akan berangkat ke Hindia (pulang ke tanah air) sebagai pejabat yang ditugaskan untuk pendidikan penduduk pribumi, di mana ia kemungkinan besar akan dipercayakan dengan beberapa fungsi khusus di tanah Batak. Hindia masih dapat memperoleh manfaat besar dari orang-orang seperti dia’.
Redaksi surat kabar De expres sudah beberapa kali memuat artikel tentang sepak terjang Soetan Casajangan di Belanda yang terkait dengan isu (perjuangan) peningkatan pendidikan pribumi. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo juga pernah menulis satu artikel untuk merespon isi pidato Soetan Casajangan di Vereeniging Oost en West yang kemudian dimuat di surat kabar De Expres. Ini mengindikasikan perjuangan Soetan Casajangan di satu sisi (khususnya di bidang pendidikan) di Belanda dan perjuangan Indische Partij di sisi lain di Hindia dapat dikatakan seiring sejalan (saling mendukung).
Saat ini tepatnya pada minggu kedua bulan Juni Ernest Douwes Dekker terinformasikan sedang di Belanda. Tentu saja Ernest Douwes Dekker di Belanda juga telah bertemu dengan Soetan Casajangan sebelum kembali ke tanah air. Dr Tjipto di Indonesia, untuk memperluas cakupan organ Indische Partij (surat kabar De express) pada bulan Juni diterbitkan surat kabar berbahasa Melayu “Hindia Moelia” dengan pemimpin redaksi Tjipto Mangoenkoesoemo (lihat De expres, 14-06-1913). De nieuwe courant, 28-06-1913: ‘Kami mendapat informasi dari Amsterdam: Kami mendengar bahwa Douwes Dekker akan meninggalkan negara kita pada tanggal 6 Juli mendatang untuk kembali ke Hindia melalui Marseille. Het vaderland, 07-07-1913: ‘Douwes Dekker. Diantar oleh berbagai teman dan pihak yang berkepentingan, Douwes Dekker meninggalkan Den Haag pada Minggu (tanggal 6) malam untuk melakukan perjalanan melalui Munich ke Marseille, dan dari sana menaiki kapal ss Tambora kembali ke negaranya, yang dilaporkan telah ia tinggalkan. Sementara itu, setelah yayasan studiefonds yang digagas Soetan Casajangan secara resmi dididirikan di Belanda, Soetan Casajangan pun mulai bersiap-siap pulang ke tanah air. Yayasan itu sendiri di Belanda akan dikelola suatu komite yang dibentuk yang langsung dipimpin oleh HJ Abendanon dkk. Soetan Casajangan tidak terlibat (lagi) dalam kepengurusan yayasan, karena Soetan Casajangan akan benar-benar meninggalkan Belanda setelah 9 tahun dan akan memulai kewajiban (perjuangan yang baru) di Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Soetan Casajangan pulang ke tanah air dengan menumpang kapal ss Prinses Jualiana pada tanggal 5 Juli dari Amsterdam dengan tujuan akhir Batavia air (lihat Algemeen Handelsblad, 04-07-1913). Sementara itu, Tjipto Mangoenkoesoemo sudah lama mengundurkan diri dari Boedi Oetomo, sedangkan Soewardi Soerjaningrat masih anggota Boedi Oetomo (lihat De Preanger-bode, 07-07-1913). Disebutkan Boedi Oetomo. Dalam rapat BO yang diadakan tadi malam, pemilihan ulang pengurus cabang Bandoeng dilakukan, yang saat ini terdiri dari: Raden Roem, presiden, AH Wignjadisastra, wakil presiden, RM Soewardi, sekretaris pertama, R Kadirosman, sekretaris kedua, Soetan Moehamad Zain, dan M Haroen Atmawidjaja, komisaris. Lalu kemudian sehubungan dengan Peringatan Seratus Tahun Kemerdekaan Belanda—dari Napoleon, Prancis (1813-1913), Komite Pribumi mengeluarkan pamflet pertama berjudul “Als ik een Nederlander was” yang ditulis Soewardi Soerjaningrat dengan harga f0,25 yang diumumkan pada surat kabar De expres, 17-07-1913. Inti dari pamphlet tersebut adalah “jika saya seorang Belanda, saya tidak akan pernah ingin merayakan hari jadi seperti itu di sini (Hindia), di negara yang didominasi oleh kita (orang Belanda). Berikan dulu kebebasan kepada rakyat yang diperbudak itu (pribumi), baru kemudian peringati kebebasan kita (Belanda) sendiri”. Soewardi Soerjaningrat yang menjadi anggota Sarikat Islam terinformasikan mengundurkan diri (lihat De Preanger-bode, 18-07-1913). Disebutkan Sarikat Islam. Pada rapat dewan Sarikat Islam yang diadakan semalam, RM Soewardi dan Abdoel Moeis, masing-masing sebagai ketua dan sekretaris, mengajukan pengunduran diri karena keadaan mendesak. Kedua posisi tersebut akan diisi sementara oleh AH Wignjadisastra dan Abdul Gani. Lalu kemudian pamphlet tersebut juga diterima redaksi surat kabar De express (lihat De expres, 21-07-1913). Disebutkan pamphlet tersebut ditulis dalam teks bahasa Belanda dan bahasa Melayu.
Soetan Casajangan dan Ernest Douwes Dekker masih di dalam perjalanan dengan kapal masing-masing. Dalam perkembangannya, brosur sensasional berjudul "Als ik eens Nederlander was” (Jika Saya Seorang Belanda) karya RM Soewardi, disita oleh pihak berwenang sore ini. Kami agak terkejut dengan pengaruh kepala editor Bat. Hbl. terhadap pihak berwenang; begitu pers majalah tersebut dihangatkan oleh kecaman pedasnya terhadap penulis, pihak berwenang telah mengambil langkah-langkah yang mereka sarankan. Ada orang-orang yang menganggap penyitaan ini sebagai bentuk publisitas dan percaya bahwa brosur tersebut akan dicetak lebih luas di dunia domestic (lihat De expres, 25-07-1913).
Tjipto Mangoenkoesoemo dipanggil kehakiman (lihat De expres, 26-07-1913). Disebutkan karena interogasi panjang oleh pihak kehakiman membuat Tjipto tidak dapat melakukan apa pun untuk Expres hari ini. Ada apa dengan Tjipto Mangoenkoesoemo sehingga harus dipanggil kehakiman? Yang jelas karena Ernest Douwes Dekker sedang di Eropa dan kini dalam perjalanan dan Tjipto Mangoenkoesoemo berhalangan hadir, gawang redaksi hanya diperankan oleh seorang diri wakil pemimpin redaksi HC Kakebeeke. Dalam edisi ini juga terdapat maklumat dari Komite Boemi Poetra: ‘Dilarang membaca! Pengumuman Sangat Penting! "Pamflet" karya RM Soewardi Soerjaningrat telah disita oleh pihak berwenang. Saudara-saudara! Anda dapat membayangkan betapa pentingnya refleksi yang terkandung di dalamnya. Cobalah untuk mendapatkannya dan membacanya!! Tanah Air tampaknya menuntut pengorbanan. Kalau begitu, Saudara Soewardi bersedia menjadi yang pertama. Komite Boemi Poetra’. De expres, Rabu, 30-07-1913: ‘Dr Tjipto, MM Soewardi, Wignjadisastra dan Abdoel Moeis; ditangkap. Siang ini, Tjipto Mangoenkoesoemo, RM Soewardi dan Abdoel Moeis ditangkap; yang pertama di kantor De expres, yang lainnya, termasuk Wignjadisastra, di rumah mereka..
De expres, Jumat, 01-08-1913: ‘Douwes Dekker kembali ke Hindia. Weltevreden, 1 Agustus (Telegram pribadi). Di pagi hari, kapal ss Tambora tiba di Tandjoeng Priok dengan pemimpin redaksi kami, Douwes Dekker, di dalamnya. Perjalanan ke Bandung akan dilakukan dengan kereta ekspres, berangkat dari Weltevreden pukul 14.43, tiba di Bandung pukul 19.14’.
Bataviaasch nieuwsblad, Senin, 04-08-1913: ‘EFE Douwes Dekker, pemimpin redaksi De Expres, yang kembali ke Hindia Belanda dengan kapal Tambora, hari ini dimasukkan ke penjara Weltevreden karena menjalani hukuman empat belas hari yang dijatuhkan kepadanya pada saat itu atas artikel-artikelnya yang menentang rencana penghapusan Pasal B.. Jika ini bukan kepulangan yang menyenangkan, lebih banyak dan jauh lebih buruk akan segera terjadi. Karena pada hari Sabtu, Het Bat. Handelsblad melaporkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan dengan serius untuk menggunakan haknya untuk menolak Douwes Dekker untuk tinggal lebih lama di Hindia Belanda — jika tidak sekarang, maka pasti jika ia mengulangi perilaku bermusuhan terhadap otoritas Belanda. Peringatan mengenai hal ini telah sampai kepada orang yang bersangkutan atau akan segera sampai kepadanya’.
Tidak lama setelah kepulangannya dari Belanda, Douwes Dekker ditangkap dan pada hari Senin tanggal 4 Douwes Dekker dimasukkan ke panjara di Weltevreden. Soetan Casajangan dengan kapal SS Prinses Juliana tiba di Batavia pada hari Senin tanggal 4 Agustus 1913.
Het Indonesisch Verbond van Studeerenden di Belanda: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat
Gerakan nasionalis sudah dimulai di Indonesia. Dari Belanda diinisiasi oleh gerakan Soetan Casajangan dan di Hindia sendiri dipicu oleh gerakan Indische Partij. Di Eropa juga semakin menguat gerakan nasionalisme seperti Pan-Slavisme dan Pan-Jermanisme. Di Indonesia sejumlah orang yang terlibat dalam gerakan nasionalisme ini (yang tergabung dalam Indische Partij) telah ditangkap. Di Eropa, Gavrilo Princip (nasionalis Serbia-Bosnia) membunuh putra mahkota Austria-Hongaria, Adipati Agung Franz Ferdinand di Sarajevo pada 28 Juni 1914.
Het Centrum, 30-06-1914: ‘Kaisar Jerman baru saja berpartisipasi dalam perlombaan layar besar di kapal pesiarnya di Kiel ketika berita mengerikan itu disampaikan kepadanya melalui terompet kapal. Ia memerintahkan penghentian segera, dan pada seluruh armada, serta pada semua kapal pesiar dan pada Di antara kapal-kapal skuadron Inggris, bendera Austria dikibarkan setengah tiang di tiang utama. Kaisar secara pribadi berteman dekat dengan Adipati Agung Franz Ferdinand, tetapi pembunuhan ini juga dapat memiliki arti penting bagi Jerman dan Aliansi Tiga Negara. "Tidak hanya bagi Austria-Hongaria, tetapi juga bagi Kekaisaran Jerman dan seluruh Aliansi Tiga Negara, kematian pewaris takhta adalah kerugian yang tak tergantikan oleh perhitungan manusia," tulis Köln. Volksz. benar. "Selain kengerian tindakan keji si pembunuh muda, kejahatan di Sarajevo juga sedemikian rupa sehingga menimbulkan kekhawatiran serius bagi hubungan internasional’. De Volksstem. 01-07-1914: ‘Anarki membunuh putra mahkota Austriadan anggotanya. Adipati Agung Franz Ferdinand, pewaris takhta Kaisar Franz Tzuf dari Austria, mengunjungi Bosnia dan Herzegovina bersama istrinya, wilayah yang belum lama dianeksasi oleh Austria. Pada hari Minggu mereka berada di Sarajevo, ibu kota Bosnia, dan mengunjungi berbagai gedung. "Pertama, seorang warga melemparkan bom ke arah Adipati Agung", tetapi ia berhasil menangkis benda berbahaya itu dengan lengannya. Bom tersebut meledak di bawah mobil di sebelahnya dan melukai beberapa anggota rombongan dan penonton. Kemudian, ketika Adipati Agung dan istrinya hendak menanyakan keadaan korban luka, seorang siswa berusia 16 tahun, Gavrie Prinzipi, mendekati mereka dan melepaskan beberapa tembakan ke arah Adipati Agung dan istrinya, menewaskan keduanya. Para pelaku, baik pelempar bom maupun pembunuh, ditangkap. Warga sekitar ingin membunuh pembunuh di tempat kejadian, tetapi polisi mencegahnya. Sang Adipati Agung ditembak di wajah. Istrinya terkena peluru di perut dan satu lagi di leher. Kaisar Fransiskus yang sudah tua, yang telah mengalami banyak musibah, sangat terpengaruh ketika berita sedih itu dilaporkan kepadanya. Anak-anak dari pasangan yang terbunuh sedang bermain di taman istana ketika berita mengerikan itu datang. Namun, sebelum saat itu, tidak seorang pun berani memberi tahu anak-anak tentang kematian orang tua mereka. Pembunuhan ganda ini telah menimbulkan keresahan besar di seluruh Eropa dan sekitarnya; dan dari semua kepala pemerintahan, telegram belasungkawa telah diterima di istana Austria; Presiden Wilson dan Paus Pius X juga mengirimkan telegram simpati. Pelaku kedua serangan tersebut lahir di Austria. Caberinovich, si pengebom, pernah bekerja di percetakan pemerintah di Belgrade. Tampaknya, setelah serangan pertama, sang Adipati Wanita menentang Adipati Agung untuk kembali naik mobil; tetapi Gubernur Bosnia, M Potiorek, berkata: "Semuanya sudah berakhir sekarang". "Kita hanya punya satu pembunuh di Sarajevo". Hal ini meyakinkan sang Adipati Agung, dan ia pun bersiap untuk menghadapi kematiannya. Adipati Agung Francis Ferdinand berusia 51 tahun dan merupakan keponakan Kaisar Franz Joseph. Karena kematiannya yang mendadak dan kematian istri morganatiknya, yang sebelumnya adalah Countess Sophie Chotek, Kekaisaran Austria kini tanpa pewaris. Adipati Agung Karl Franz Joseph, putra berusia 27 tahun dari Adipati Agung Otto Franz Jozet, saudara dari Kaisar yang berkuasa, kini disebut sebagai calon penerus takhta. Hukum darurat militer telah diumumkan di Sarajevo. Warga Austria yang marah telah membunuh beberapa orang Serbia sebagai balas dendam, dan kerusuhan lebih lanjut dikhawatirkan akan terjadi. Tragedi mengerikan ini sangat memukul Kaisar Franz Tozèf yang sudah lanjut usia, dan orang-orang mulai khawatir akan keselamatannya. Secara umum diakui bahwa kematiannya akan menimbulkan komplikasi serius di Eropa. Akibat pembunuhan tersebut, lebih dari 200 orang tewas dalam kerusuhan di Mostor-Herzegovina’.
Kekaisaran Austria-Hongaria menduduki dan menguasai setelah menganeksasi Bosnia dan Herzegovina (sejak 1908). Terbunuhnya putra mahkota Austria-Hongaria di Sarajevo pada 28 Juni 1914 menyebabkan hubungan Austria-Hungaria dan Serbia memanas. Austria-Hungaria mengirim tuntutan ke Serbia tetap Serbia menolak kehadiran militer.
Seperti dilihat nanti, pada tanggal 28 Juli 1914 Austria-Hongaria resmi mendeklarasikan perang terhadap Serbia. Ini dapat dikatakan persaingan geopolitik di wilayah Balkan. Agresi Austria-Hongaria dapat ditahan Serbia yang membuat Austria-Hongaria malu besar di Eropa. Austria-Hongaria meminta bantuan penuh dari Jerman (dan berhasil menduduki Serbia). Di sisi lain Jerman pada tanggal 1 Agustus 1914 menyatakan perang terhadap Rusia karena mobilisasi pasukan Rusia dan pada tanggal 3 Agustus 1914 Jerman menyatakan perang terhadap Prancis karena Prancis menolak tetap netral dan beraliansi dengan Rusia. Jerman juga menerobos wilayah Belgia untuk maju ke wilayah Prancis. Belanda dan Swiss bersikap netral. Pada tanggal 4 Agustus 1914 Inggris menyatakan perang terhadap Jerman, menyusul invasi Jerman ke wilayah netral Belgia. Eskalasi perang di Eropa ini kemudian terus meningkat.
Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 14, 1914, no. 30, 23-07-1914: ‘Surat kepada Editor. Oleh v. d. V. Den Haag, 10 Juli 1914. Kepada Editor Koloniaal Weekblad di Den Haag. Kepada editor. Dalam Kol. Weekblad tanggal 9 bulan ini, sebuah artikel dicetak ulang dari Soer. Handelsblad, di mana Bapak Soetan Casajangan dicela dengan nada agak picik karena antusiasmenya, yang ditunjukkan di Den Haag untuk pembentukan dana studi bagi penduduk asli berbakat (Juliafonds), tiba-tiba meredup di Hindia. Menurut pendapat saya, celaan itu tidak pantas. Bapak SC membayangkan bahwa banyak tamu kaya dan sangat kaya di Hindia yang memperoleh kekayaan mereka di Hindia akan merasakan sesuatu untuk penduduk pribumi pulau itu. Sekarang hal ini ternyata menjadi kekecewaan pahit baginya, dan tidak lebih dari sekitar f3.000 yang telah disumbangkan; Saya sangat memahami bahwa antusiasmenya telah mereda dan dia menyerah untuk mengalami kegagalan lain. Bukankah kekecewaan seperti itu akan memberikan efek yang sama pada orang Eropa?’.
Soetan Casajangan, guru di sekolah guru di Fort de Kock menyikapi eskalasi perang yang terus meningkat di Eropa dan serangan orang-orang Belanda di Hindia yang tidak ingin nasionalism menguat, mulai melakukan gerakan dengan caranya sendiri di pedalaman Sumatra.
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo di Belanda disebutkan penahanan Tjipto telah dicabut (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-07-1914). Disebutkan, Penahanan Tjipto. Den Haag, 28 Juli. Penahanan Tjipto telah dicabut karena alasan kesehatan. Ia akan dipulangkan pada awal Agustus. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo pulang ke Indonesia dari Belanda pada tanggal 22 Agustus 1914.
De Preanger-bode, 08-09-1914: ‘Pembentukan Korps Pribumi Pertama di Fort de Kock. Atas inisiatif Bapak RS Casajangan S.p., sebuah pertemuan para kepala suku, pejabat, dan warga berada dari Fort de Kock dan sekitarnya diadakan di Madjoe societeit pada tanggal 25 Agustus 1914, pukul 9 pagi. RSCSp, sebagai ketua, membuka pertemuan dan menyampaikan ceramah mengenai situasi terkini di Eropa. Setelah menyapa hadirin dan mengucapkan selamat—seperti yang tertulis dalam JB—atas Hari Raja, pembicara memulai dengan menjelaskan hubungan antara berbagai ras di Hindia, khususnya di Sumatra. Setelah itu, ia menceritakan bagaimana ia memiliki gagasan untuk belajar di Belanda agar dapat memberikan informasi kepada rekan senegaranya, untuk berjuang demi kemajuan negara dan bangsa; betapa sulitnya jalan yang harus ia tempuh; bagaimana ia belajar di Belanda; betapa banyak persahabatan yang ia alami di sana dari orang Belanda; dan bagaimana, setelah menyelesaikan studinya, ia ragu, yaitu, apakah ia harus tetap tinggal di Belanda untuk kepentingannya sendiri, atau apakah ia harus kembali ke Hindia untuk kepentingan bangsanya. Ia memutuskan untuk melakukan yang terakhir. Kemudian ia menceritakan apa yang telah ia lakukan di Belanda untuk usahanya, termasuk memberikan kuliah di berbagai asosiasi, seperti O en W dan M en K. Dua asosiasi didirikan: Indische Vereeniging dan studiefond Juliana Fonds untuk persatuan dan kemajuan Belanda Raya. Sebuah brosur diterbitkan olehnya, dll., semuanya bertujuan untuk persatuan Belanda dan Hindia, yang penduduknya harus memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sebagai penjelasan, ia mengutip sejarah dari zaman kuno. Satu per satu, ia menceritakan keadaan rakyat pada waktu itu, diikuti oleh kedatangan orang Hindu, Tiongkok, Arab, Portugis, Inggris, dan Belanda. Ia membahas hal ini untuk waktu yang lama; Ia mengenang kembali persahabatan, kejujuran, dan perilaku baik orang Belanda terhadap penduduk pribumi pada waktu itu, pendirian Perusahaan Hindia Timur (VOC); lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penduduk pribumi secara bertahap menganggap Perusahaan sebagai guru, pemimpin, dan penguasa, bahkan sebagai ayah dan ibu, dan bagaimana Perusahaan berubah menjadi Pemerintah saat ini. Sebagai contoh perbuatan baik Pemerintah, ia menyebutkan lalu lintas, perdamaian dan ketertiban, pertanian, peternakan dan perdagangan, industri, kesehatan, dll. Ia membandingkan kehidupan saat ini dengan kehidupan masa lalu. Oleh karena itu, kemakmuran saat ini disebabkan oleh Pemerintah yang bersifat kebapakan. Kepentingan rakyat terjalin dengan kepentingan Pemerintah. Siapa pun yang membela kepentingan Pemerintah membela kepentingannya sendiri. Dan kerja sama rakyat dengan Pemerintah adalah kekuatan maksimal untuk membela negara dan rakyat dari musuh asing’.
Hingga tahun 1914 ini tidak ada orang di Indonesia, kecuali Soetan Casajangan yang telah berpikir tentang bahaya musuh asing. Soetan Casajangan merujuk pada situasi terkini (perang) di Eropa. Seperti disebut di atas, Jerman dan Jepang telah selangkah lebih maju dalam kemajuan pengetahuan dan teknologi; Jerman di Eropa dan Jepang di Asia. Kemajuan pengetahuan dan teknologi cenderung dikooptasi para pemimpin (politik) di suatu negara untuk membangun kekuasaan dan penguasaan. Bahaya musuh asing inilah yang diduga menjadi salah satu kekhawatiran baru bagi bangsa. Seiring dengan eskalasi perang yang meningkat di Eropa, satu-satunya jalan untuk dapat mempertahankan diri bangsa adalah bekerjasama dengan pemerintah yang apa adanya (Belanda). Perpindahkan ke bangsa asing (misalnya Jerman dan Jepang) akan menyebabkan terjadi langkah mudur bagi bangsa Indonesia karena harus beradaptasi lagi pada sistem pemerintahan yang baru.
Kekhawatiran orang Belanda sendiri terhadap penetrasi perdagangan Jepang di Hindia sudah muncul sejak awal, dimulai dengan adanya gerakan politik etik yang dimotori oleh kalangan terpelajar Belanda dengan terbentuknya di Belanda Vereeniging Moederlad en Kolonien dan Vereeniging Oost en West yang dimplementasikan upaya merangkul orang pribumi untuk dua tujuan: meningkatkan kemajuan pribumi dan memperkuat kemitraan dengan pribumi untuk memartabatkan peran pemerintah di wilayah koloni. Sikap agresif dan ekspansionis Jerman di Eropa yang sekarang juga dengan sendiri telah menambahkan kekhawatiran orang Belanda terutama yang berada di Hindia. Musuh asing Belanda di Hindia, tidak hanya Jepang di depan mata, sebenarnya juga Jerman. Meski Belanda di Eropa netral terhadap Jerman, tetapi bahaya ekspansionisme Jerman di Hindia bukan tidak mungkin terjadi. Fakta bahwa wilayah koloni Jerman berada di depan mata di wilayah Papua Nugini. Melemahnya arus komunikasi antara Belanda (Eropa) dengan Hindia (Asia) dapat menimbulkan ketegangan baru di wilayah sekitar Indonesia (Jerman di Papua Nugini, Amerika di Filipina dan Inggris di Australia dan di wilayah The Straitsettlement. Lantas apakah Pemerintah Hindia Belanda telah berpikir juga sama dengan yang dipikirkan oleh Soetan Casajangan?
Sementara itu, Soetan Casajangan pada bulan Mei 1915 dipindahkan dari sekolah guru Fort de Kock ke sekolah guru di Amboina. Pada tahun 1915 ini di Belanda Soewardi Soerjaningrat telah lulus ujian guru akta LO. Lantas apakah Soewardi Soerjaningrat akan segera kembali ke tanah air? Yang jelas Dr Tjipto di Jawa sudah mulai aktif dalam penulisan artikel di majalah-majalah.
Pada tahun 1916 di Belanda akan diadakan Kongres Pendidikan Hindia (lihat (lihat Algemeen Handelsblad, 24-03-1916). Kongres Pendidikan Hindia yang pertama akan diadakan pada tanggal 28, 29, dan 30 Agustus 1916 di Den Haag yang diketuai oleh JH Abendanon. Para peserta adalah semua mahasiswa asal Hindia (Belanda, Cina dan pribumi) dengan pembicara dari berbagai keahlian. Dua pimbicara (dengan makalah) yang tergabung dalam Indische Vereeniging diwakili oleh guru Dahlan Abdoellah dan guru Soewardi Soerjaningrat (yang sama-sama lulus akta guru LO pada tahun 1915) yang akan berbicara tentang pendidikan pribumi.
Soetan Casajangan di Amboina sumringah mendengar kabar akan diadakannya Kongres Pendidikan Hindia di Den Haag. Soetan Casajangan adalah guru pribumi pertama dan satu-satunya yang bergelar guru akta MO sejak dari awal terus memperjuangkan pendidikan pribumi. Soetan Casajangan adalah pendiri Indische Vereniging tahun 1908. Sudah beberapa kali diudang oleh Ver. Oost en West dan Ver. Moederland en Kolonien untuk berpidato dan Soetan Casajangan selalu membawakan topik pendidikan. Soetan Casajangan adalah penggagas Studiefonds di Belanda yang secara resmi didirikan menjelang kepulangan Soetan Casajangan ke tanah air pada awal Juli 1913. Studiefonds yang didirikan itu kemudian ketua terpilih adalah JH Abendanon, yang kini juga akan menjadi ketua Kongres Pendidikan Hindia di Den Haag. JH Abendanon sendiri adalah penulis buku RA Kartini (terbit 1911) dan JH Abendano di Hindia pernah menjadi Inspektur Pendidikan Pribumi (1900-1905). Dalam hal ini untuk urusan untuk memajukan pendidikan pribumi identik dengan HJ Abendanon dari sisi orang Belanda dan Soetan Casajangan dari sisi orang pribumi sendiri.
Sementara itu, eskalasi perang di Eropa yang terus meningkat menyebabkan orang-orang Belanda di Hindia semakin khawatir terhadap bahaya musuh asing. Jelang diadakannya Kongres Pendidikan Hindia di Den Haag, sejumlah pihak di Hindia mulai membentuk suatu komite untuk tujuan mempertahankan diri (Indie Weerbaar).
De nieuwe vorstenlanden, 06-07-1916: ‘Hindia Belanda dapat dipertahankan. Sebuah Komite yang luas telah dibentuk di Batavia, yang anggotanya terdiri dari orang-orang dari berbagai kebangsaan dan dari berbagai lapisan sosial, dan kaum perempuan juga terwakili, dengan tujuan untuk menyelenggarakan pertemuan publik pada tanggal 31 Agustus mendatang, di mana mereka yang menginginkan pertahanan yang energik dan efektif bagi Hindia Belanda akan menemukan kesempatan untuk mengekspresikan diri secara terbuka. Ketua komite ini adalah H Jacob, Wakil Ketua MC Koning, dan Sekretarisnya adalah HHHG Branden (Parapattan 28) dan WV Rhemrev, [Parapattan AID. Ketika rencana komite ini telah mengambil bentuk konkret, pers akan diberitahukan. Mereka yang ingin menghubungi komite diundang untuk menulis surat kepada salah satu sekretaris. Surat dapat dialamatkan ke Indie Weerbaar di Weltevreden’.
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar