Sejarah Kota Depok (27): Bioskop Tertua di Depok, Inisiatif LE Loen (1934); Awalnya Gemeente Bestuur Malu-Malu Kucing

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Gagasan awal pendirian bioskop di Depok adalah inisiatif  LE. Loen. Ini terjadi tahun 1934. Namun keinginan mendirikan bioskop ditolak dewan Gemeente Depok. Para anggota dewan berdalih, keberatan karena sedang kesulitan. Akan tetapi sebagian besar warga berkeinginan adanya bioskop. Melihat animo masyarakat atas inisiatif ini, Loen membawa lebih 100 tanda tangan warga kepada Bestuur Gemeente Depok (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-06-1934).

Het nieuws van den dag voor NI, 18-06-1934
Bioskop pada waktu itu baru ada di Batavia dan Buitenzorg. Di Batavia bahkan sudah sejak 1900 bioskop diperkenalkan dan jumlahnya sudah ada beberapa. Sementara di Buitenzorg sudah terdapat dua buah.

Deadlock antara warga yang diwakili LE Loen dengan Dewan Gemeente Depok akhirnya Asisten Residen Buitenzorg turun tangan untuk menengahi. Hal ini petisi pendirian bioskop sudah berjumlah 120 orang. Namun tetap gagal. Dalam konferensi yang kedua yang diprakarsai Asisten Residen, dalam keputusan akhir, disepakati pendirian bioskop dapat dilanjutkan dengan ketentuan Gemeente Bestuur mendapat lima persen hasil penjualan tiket (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 16-07-1934).

Sejarah Kota Depok (26): Pabrik Susu Melkerij Vita di Depok; Susu Berkualitas, Pabrik Susu Tertua di Indonesia

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Depok dan sekitar tidak hanya pemasok hasil-hasil pertanian seperti beras dan hortikultura ke Batavia juga mengekspor kopi olahan dari Tapos. Depok juga sejak lama telah mengekspor kapur (Tjitajam) dan batu (Depok) ke Batavia. Tidak hanya itu, batu bata dan keramik juga mengalir dari Tjitajam dan Depok ke Batavia. Satu produk lagi yang mengalir ke Batavia adalah produk susu yang terkenal berkualitas.

Het nieuws van den dag voor NI, 15-08-1933
Adanya industri pengolahan susu di Depok diketahui tahun 1896 (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 29-12-1896). Produk susu ini diusahakan oleh Nyonya Poth. Produk susu Nyonya Poth di Depok ini selama tahun 1896 dan 1987 cukup intens diiklankan di berbagai surat kabar.

Susu dari Depok lalu tenggelam dengan semakin banyaknya peternak-peternak yang mengusahakan produk susu di Batavia dan Buitenzorg. Populasi peternak yang mengusahakan produk susu terbanyak ditemukan di Mampang Tegal Parang.

Sejarah Kota Depok (25): Pabrik Kapur Tjitajam di Cipayung; Bukit Kapur yang Kini Menjadi Tempat Pembuangan Sampah

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Keberadaan pabrik kapur di Land Tjitajam terdeteksi pada tahun 1875. Kapur dari Tjitajam ini sebagai bagian dari komoditas yang diangkut kereta api untuk dikirim ke Batavia dan Buitenzorg (Nederlandsche staatscourant, 23-07-1875).

Bataviaasch nieuwsblad, 15-06-1895
Disebutkan selain produk kapur dari Tjitajam juga dilaporkan batu-batu yang diangkut kereta api dari Depok. Banyaknya kapur yang diangkut dalam satu tahun 412 ton dan batu sebanyak 1.445 ton.

Pengusahaan dan perdagangan kapur di Tjitajam ini dilakukan oleh Ouw Tiang Hoat. Disebutkan kapur dari Tjitajam terbilang berkualitas karena bersumber dari tebing gunung (berklippen), halus berwarna putih, tidak tercampur (dengan tanah) dan daya lekat sekuat semen (Bataviaasch nieuwsblad, 15-06-1895).

Sejarah Kota Depok (24): Berita Gempa 1834 dan Dampaknya; Landhuis Tjilangkap, Tjimanggis, Pondok Tjina, Pondok Terong dan Tjinere

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada tanggal 10 Oktober 1834 terjadi gempa besar yang menghancurkan Istana Buitenzorg. Gempa yang berpusat di Mega Mendoeng, telah menimbulkan beberapa kawah di atas Gunung Gede. Gempa yang sangat dahsyat ini bahkan dirasakan hingga ke Lampoeng (Soematra) di sebelah barat dan Tagal di sebelah timur. Bangunan yang terbuat dari batu hancur, rumah yang terbuat dari kayu dan bambu terjungkal, jalan pos antara Buitenzorg dan Tjiandjoer di sana sisi mengalami keretakan parah yang menimbulkan longsor. Demikian berita resmi dari pemerintah setelah sebulan kejadian sebagaimana dilaporkan surat kabar Javasche courant, 22-11-1834.

Javasche courant, 22-11-1834
Disebutkan Istana Buitenzorg hancur. Bangunan istana ini awalnya didirikan pada tahun 1744 oleh Gubernur Jenderal van Imhoff, lalu ditingkatkan pada tahun 1809 oleh Gubernur Jenderal Daendels, dan dibangun kembali pada tahun 1818, diperbesar dan dipercantik oleh Gubernur Jenderal van der Capellen. Bangunan utama lainnya yang hancur adalah bangunan kantor/rumah Residen Buitenzorg (di sebarang istana), suatu bangunan baru yang didirikan tahun 1821. Bangunan batu pasar (Babakan Pasar, Chinese Kampement) juga runtuh.

Depok dan Sekitar

Di Depok dan sekitarnya juga mengalami dampak yang besar. Bangunan yang terbuat dari batu landhuis Tjilangkap, landhuis Krangan, landhuis Tjimangis dan landhuis Pondok Tjina rusak berat dan runtuh sebagian. Sementara landhuis Tjiliboet, landhuis Pondok Terong, landhuis Sawangan, landhuis Tjineri, landhuis Koeripan (Paroeng) dan lainnya rusak ringan.

Sejarah Kota Depok (23): Nama Jalan di Depok Tempo Doeloe; Kerkweg (Jalan Pemuda) dan Pasarstraat (Jalan Dewi Sartika)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Empat nama jalan tertua di Depok adalah Jalan Pemuda, Jalan Siliwangi, Jalan Kartini dan Jalan Dewi Sartika. Namun nama-nama jalan ini baru muncul pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda. Penabalan nama jalan Pemuda dan Siliwangi diduga dikaitkan dengan peristiwa politik sebelumnya yakni perang kemerdekaan. Keempat nama jalan ini tidak berubah hingga ini hari.

Peta Depok, 1901
Sebelum kemerdekaan, pada era kolonial Belanda hanya ada dua nama jalan di Depok, yakni: Kerkweg dan Pasarstraat. Pasca pengakuan kedaulatan RI (1950) Kerkweg diubah namanya menjadi Jalan Pemuda dan Pasaarstraat namanya diganti dengan Jalan Dewi Sartika.

Kerkweg dan Pasarstraat

Sesungguhnya jalan tertua di Depok adalah jalan trans Batavia-Buitenzorg yang diduga sudah eksis sejak era Pakuan-Pajajaran. Jalan poros ini di era Pemerintahan Hindia Belanda sering disebut Westerweg untuk membedakan dengan Oosterweg yang menjadi jalan pos trans-Java (Jalan Raya Bogor sekarang).

Sejarah Kota Depok (22): Outer Ring Road Tempo Doeloe, Buitenzorg, Meester Cornelis dan Depok; Kapan Outer Ring Road Dalam Kota Depok?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Cara pandang masa kini tentang jalur lalu lintas di Jabodetabek tidak terlalu berbeda dibandingkan tempo doeloe. Pada masa lampau hanya dikenal jalur lurus dari hilir di pantai di Batavia ke hulu di gunung di Buitenzorg. Tiga jalur lurus yang ada adalah: pertama, Westerweg (jalur lalu lintas sisi barat sungai Tjiliwong via Depok, suatu jalur (rute jalan) kuno sejak era Pakwan-Padjadjaran). Kedua, muncul jalur Oosterweg (sisi timur sungai Tjiliwong via Tjimanggis saat Istana Buitenzorg dirintis, 1745). Ketiga, ketika jalur lebih barat muncul via Paroeng dan Tjinere sekitar 1850an, jalur ini disebut Westerweg, sedangkan Westerweg via Depok menjadi jalur Middenweg. Tiga jalur inilah yang kita lihat hingga sekarang ini.

Depok Outer Ring Road (DORR) Tempo Doeloe (*=landhuis)
Jalan kuno semasa era Padjadjaran dari Pakuan ke Soenda Kalapa mengikuti rute sisi barat sungai Tjiliwong. Hal ini karena tidak akan pernah menyeberangi sungai Tjiliwong. Pelabuhan Soenda Kalapa sendiri berada di sisi barat sungai Tjiliwong. Ketika, VOC memulai koloni dengan membangun Casteel Batavia (sisi timur sungai Tjiliwong), maka ketika melakukan ekspansi ke hulu hingga eks Pakwan-Padjadjaran yang kemudian dikenal Buitenzorg, VOC justru mengembangkan jalur sisi timur sungai Tjiliwong. Namun pilihan VOC memilih jalur timur justru memiliki konsekuensi yakni harus membangun jembatan di Buitenzorg, tepatnya di Warung Jamboe yang sekarang. Jembatan inilah jembatan permanen pertama yang dibangun untuk menghubungkan Westerweg dengan Oosterweg (1745).

Saat kali pertama Pemerintah Hindia Belanda memulai (konsep) pembangunan jalan raya, pemahaman outer ring road belum ada. Jalan pos trans-Java yang dimulai 1810 dari Anjer (barat) ke Panaroekan (timur) justru (hanya) memperkuat jalur Oosterweg. Sebab, jalan pos trans-Java dari Anjer (Banten),Tangerang langsung ke Batavia, dan dari Batavia ke Weltevreden (Gambir) lalu Meester Cornelis (Jatinegara) dan kemudian ke Buitenzorg via Tjimanggis.

Sejarah Kota Depok (21): Sejarah Cilodong dan Keluarga Riemsdijk; Land Tjilodong, Abraham Pieter Kijdsmeir Menikahi Wanita Pribumi

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Dua desa yang terdapat di Kecamatan Sukmajaya sebelum tahun 1999 (jelang pembentukan Kota Depok) yakni desa Kalimulya dan desa Kalibaru dimekarkan. Desa Kalimulya dimekarkan dengan membentuk desa Jatimulya; dan Desa Kalibaru dimekarkan dengan membentuk Desa Cilodong dan Desa Sukamaju. Lima desa ini pada tahun 2007 dipisahkan dari Kecamatan Sukamajaya dan membentuk kecematan sendiri yang diberi nama Kecamatan Cilodong.

Landhuis Tjilodong, 1930
Kecamatan Cilodong sebelumnya hanya dikenal luas karena Markas Kostrad. Pada masa kini, Kecamatan Cilodong tepatnya di Kelurahan Jatimulya terdapat Perumahan Grand Depok City (GDC). Landhuis Tjilodong, 1930

Lantas mengapa nama kecamatan diberi nama Kecamatan Cilodong. Apa yang melatarbelakanginya? Apakah karena KOSTRAD sudah lebih dulu mengklaim nama Cilodong? Tentu saja tidak. Nama Land Tjilodong sudah menjadi nama besar di masa lampau, bahkan Land Tjilodong termasuk Noesa Kembangan, Katjepiet dan Tjibinong. Manarik untuk ditelusuri. Mari kita lacak.

Sejarah Kota Depok (20): Sejarah Tapos, Cilangkap dan Cimpaeun; Kini Menjadi Satu Wilayah Administrasi Bernama Kecamatan Tapos

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Nama Tapos terdapat di berbagai tempat, seperti halnya nama Depok dan nama Sawangan. Nama Tapos diduga telah lama ada, namun lebih awal Tjimpaeun dikenal daripada Tapos. Land Tjimpaeun dan Land Tapos besar kemungkinan sudah sejak lama ada mengingat lokasinya yang bersebelahan dengan Land Tjimanggis. Sebagaimana diketahui nama Tjimanggis sudah muncul sejak era VOC, suatu tempat paling strategis (terminal) antara Batavia dan Buitenzorg.

Landhuis Tapos, 1930
Kampong Tapos berada di Kecamatan Cimanggis. Pada saat perubahan status Kota Administratif Depok menjadi Kota Depok tahun 1999. Kecamatan Cimanggis yang sebelumnya berada di Kabupaten Bogor dimasukkan ke Kota Depok. Pada tahun 2007 Kecamatan Cimanggis dimekarkan dengan dibentuknya Kecamatan Tapos. Nama kecamatan Tapos tampaknya diambil dari nama Land Tapos di masa lampau. Mengapa nama Tapos? Padahal di era kolonial Belanda juga ada nama Land Tjimpaeun, Land Tjilangkap. Mari kita lacak.

Land Tapos

Dalam buku Statistik Buitenzorg 1861 Land Š¢jikempoan of Petingie bertetangga dengan Land Tjilodong dan Land Tjilangkap. Land Š¢jikempoan of Petingie (Tjimpaeun) memiliki empat kampong. Di dalam land ini terdapat satu orang Eropa dan penduduk pribumi sebanyak 2080 jiwa serta 10 orang Tionghoa. Jumlah rumah sebanyak 386 unit dan terdapat sebanyak 369 tenaga kerja. Lahan yang diusahakan terdapat tanaman kopi sebanyak 11.567 batang yang belum menghasilkan.

Sejarah Kota Depok (19): Sejarah Sawangan dan Onderneming Sawangan; Ibukota Particuliere Landerien Berada di Landhuis

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Sejarah Sawangan merujuk pada sejarah Land Sawangan. Tetangga dari Land Depok, Land Mampang, Land Tjinere, Land Tjitajam dan Land Pondok Tjina yang secara ekonomi sudah berkembang sejak era VOC, Land Sawangan justru baru dikembangkan di era Pemerintah Hindia Belanda. Land Sawangan seakan ‘free land’ yang terjepit antara wilayah (area) perluasan ekonomi dari barat (Land Paroeng) dan wilayah perluasan ekonomi dari timur (sisi barat sungai Tjiliwong yang berpusat di Land Depok).

Peta 1901
Perkembangan Land Sawangan mulai diperhatikan pemerintah saat mana Pemerintah mengumumkan nilai pajak (NJOP) Land Sawangan sebesar f7.973 (Bataviasche courant, 02-03-1825). Pembentukan Situ Pasir Poetih menjadi faktor penting dalam perkembangan lebih lanjut Land Sawangan. Situ Pasir Poetih tidak hanya memicu pencetakan sawah baru, juga kemudian menjadi sumber air utama dalam intensifikasi perkebunan (onderneming). Inti perkebunan di Land Sawangan berpusat di desa Bedahan yang sekarang.

Bagaimana kisah perjalanan (land) Sawangan tentu sangat menarik ditelusuri. Meski sejarahnya lebih pendek jika dibandingkan dengan land yang lain, namun kisah di dalamnya cukup dinamis. Di satu sisi Land Sawangan memang adalah wilayah tertinggal di masa lampau, kurang tersentuh oleh kemajuan, namun di sisi lain, dalam perkembangannya di wilayah Land Sawangan ini juga tumbuh kesadaran kebangkitan bangsa. Pada masa perang kemerdekaan, Land Tjitajam, Land Sawangan dan Land Tjinere adalah garis pergerakan gerilya pribumi menghadapi Belanda. Mari kita lacak.

Sejarah Kota Depok (18): Sejarah Cinere, Bermula di Land Tjinere Milik St. Martin; Raden Adipati Aria Soeria di Redja, Regent van Chirebon

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Sejarah Cinere sesungguhya hampir seumur dengan Sejarah Land Depok. Namun karena Land Tjinere tidak optimal diusahakan, popularitasnya menjadi kalah dibanding Land Depok. Perbedaan lainnya adalah: Land Depok dibeli oleh Cornelis Chastelein, sedangkan Land Tjinere diberikan oleh Pemerintah kepada Sersan Majoor St. Martin, atas prestasinya memimpin ekspedisi dan mengakhiri tragedi di Banten.

Verponding Tjinere, 1930
Sejarah Cinere pernah saya tulis pada tahun 2012 yang dimuat dalam blog ini. Sayang sekali,  semua kata demi kata dari tulisan itu dicopy paste ke Wikipedia tanpa menyebut sumbernya. Bahkan ada satu kalimat yang saya buat salah tidak sengaja juga ikut terbawa. Okelah, dalam artikel ini saya akan coba koreksi. Namun yang lebih penting, dalam artikel Sejarah Cinere yang sedang anda baca ini akan dirilis lebih komprehensif dengan menyertakan sumber data yang lebih akurat. Selamat membaca.

Kelak, Land Tjinere menjadi milik Raden Adipati Aria Soeria di Redja, mantan Regent van Chirebon. Lantas bagaimana situasi dan kondisi sebelum dan sesudah Raden Adipati Aria Soeria di Redja? Itu pertanyaan yang perlu ditelusuri jawabannya. Mari kita lacak.