Sejarah Kota Depok (30): Sejarah Cibubur dan Tanjung Timur; ECC Ament, Anak Pemilik Land Tandjong Oost di Landhuis Tjiboeboer

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada tanggal 2 Oktober tahun 1847 Pemerintah Hindia Belanda telah mengeksekusi Land Tjiboeboer. Siapa pemilik lahan sebelumnya tidak diketahui. Lahan ini terdiri dari lahan padi sawah yang luas, kerbau, kuda, perabot rumah, dan sejumlah properti lainnya (Javasche courant, 25-09-1847). Seperti biasanya, setelah suatu lahan dieksekusi tidak lama kemudian lahan beserta properti di dalamnya akan disewakan (semacam konsesi) kepada publik.

Javasche courant, 25-09-1847
Dalam sebuah iklan tahun 1870, Land Tandjong Oost dan Land Tjiboeboer akan disewakan kepada publik. Yang berminat dapat menghubungi HM Ament, Administrateur di Fekajong (Pekayon). Batavia 8 April 1870 (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 08-04-1870).

Setelah pemerintah menyewakan lahan yang telah dieksekusi, Land Tjiboeboer tampaknya telah diambilalih (sewa beli) oleh HM Ament, seorang tuan tanah (Landheer) Land Tandjong Oost (Pasar Rebo). Tidak diketahui kapan HM Ament mengakuisisi Land Tjiboeboer hingga keberadaan Land Tjiboeboer akan disewakan kepada publik oleh HM Ament tahun 1870.

Sejarah Kota Depok (29): Islam, Kristen, Pagan Sama Penting Bagi Pemerintah Hindia Belanda; Gemeente Depok Pernah Mangkir

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Dalam banyak hal, Pemerintah Hindia Belanda tidak terlalu mengistimewakan warga Land Depok dibandingkan penduduk land lainnya. Pemerintah menganggap Islam, Kristen dan pagan dipandang sama, yang membedakan adalah siapa yang bersedia berpartisipasi dalam pembangunan dalam wujud kerjasama untuk membangun jalan; jembatan dan mengembangkan lahan-lahan pertanian. Itulah inti politik kolonial: memaksimumkan keuntungan.

Papan nama Gemeente Bestuur Depok
Bagi Pemerintah Hindia Belanda melihat tidak ada yang istimewa di Land Depok, yang ada adalah popularitas Land Depok karena warga terus melestarikan wasiat Cornelis Chastelein sejak era VOC. Meski popularitas Land Depok terus meningkat, karena jemaat Kristen (gemeente) Land Depok telah menjadi pusat zending (1871), pemerintah tidak bergeming. Dalam perbedaan sudut pandang antara pemerintah dam gereja, sejumlah warga di Gemeente Depok justru mulai coba mengkapitalisasi popularitas.

Pemerintah Hindia Belanda menganggap warga Gemeente Depok hanyalah sebagai penyewa lahan (pemerintah). Namun warga Gemeente Depok tetap menganggap lahan Land Depok adalah warisan Cornelis Chastelein sejak 1714. Ketika muncul peraturan perpajakan yang baru tahun 1933 (Staatsblad No. 352), pemerintah bertindak tegas terhadap warga yang tidak memenuhi kewajiban untuk membayar pajak. Tidak diketahui apa yang melatarbelakangi motif ‘setangah membangkang’ ini.

Sejarah Kota Depok (28): Dodol Depok Terkenal Sejak 1908; Setengah Abad Mendahului Dodol ‘Picnic’ Garut

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada tahun 1908 muncul sebuah iklan di surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, edisi 21-08-1908 tentang dodol terkenal Dodol Depok (de bekende Dodol Depok). Iklan ini pada intinya menginformasikan dodol tersebut dapat dibeli di stasion Depok dan juga stasion Weltevreden (Gambir), stasion Bandoeng dan stasion Padalarang. Dodol Depok ini adalah produksi Ny. Laurens.

Het nieuws van den dag voor NI, edisi 21-08-1908
Dodol sebagai penganan sudah dikenal sejak lama. Bahkan Firma J. Hoefftcke & Co di Leiden memasang iklan menjual Sambalai Kerri, Atjars, Dodol, Watjiek, enz (Apeldoornsche courant, 26-04-1898). Lalu muncul berita yang mulai fokus agar pabrik mengolah dan mengemas penganan asli seperti wadjik, dodol, dan lainnya karena kini banyak permintaan dari Belanda (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-01-1899). Jenis-jenis dodol juga bermacam-macam seperti sebuah iklan Toko Betawie di Batavia yang juga menjual dodol doerian, dodol manggies, dodol zuurzak (Haagsche courant, 19-07-1902). Dodol sebagai penganan asli sudah dilaporkan adanya pada tahun 1880 (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-06-1880).

Dodol dari Depok yang sudah beredar luas tentu saja sudah diproduksi jauh sebelum iklan tahun 1908. Dodol Depok tidak hanya sekadar penganan asli yang sudah diiklankan, juga menjadi nama yang kerap diperbicangkan di masyarakat (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-10-1911).

Sejarah Kota Depok (27): Bioskop Tertua di Depok, Inisiatif LE Loen (1934); Awalnya Gemeente Bestuur Malu-Malu Kucing

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Gagasan awal pendirian bioskop di Depok adalah inisiatif  LE. Loen. Ini terjadi tahun 1934. Namun keinginan mendirikan bioskop ditolak dewan Gemeente Depok. Para anggota dewan berdalih, keberatan karena sedang kesulitan. Akan tetapi sebagian besar warga berkeinginan adanya bioskop. Melihat animo masyarakat atas inisiatif ini, Loen membawa lebih 100 tanda tangan warga kepada Bestuur Gemeente Depok (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-06-1934).

Het nieuws van den dag voor NI, 18-06-1934
Bioskop pada waktu itu baru ada di Batavia dan Buitenzorg. Di Batavia bahkan sudah sejak 1900 bioskop diperkenalkan dan jumlahnya sudah ada beberapa. Sementara di Buitenzorg sudah terdapat dua buah.

Deadlock antara warga yang diwakili LE Loen dengan Dewan Gemeente Depok akhirnya Asisten Residen Buitenzorg turun tangan untuk menengahi. Hal ini petisi pendirian bioskop sudah berjumlah 120 orang. Namun tetap gagal. Dalam konferensi yang kedua yang diprakarsai Asisten Residen, dalam keputusan akhir, disepakati pendirian bioskop dapat dilanjutkan dengan ketentuan Gemeente Bestuur mendapat lima persen hasil penjualan tiket (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 16-07-1934).

Sejarah Kota Depok (26): Pabrik Susu Melkerij Vita di Depok; Susu Berkualitas, Pabrik Susu Tertua di Indonesia

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Depok dan sekitar tidak hanya pemasok hasil-hasil pertanian seperti beras dan hortikultura ke Batavia juga mengekspor kopi olahan dari Tapos. Depok juga sejak lama telah mengekspor kapur (Tjitajam) dan batu (Depok) ke Batavia. Tidak hanya itu, batu bata dan keramik juga mengalir dari Tjitajam dan Depok ke Batavia. Satu produk lagi yang mengalir ke Batavia adalah produk susu yang terkenal berkualitas.

Het nieuws van den dag voor NI, 15-08-1933
Adanya industri pengolahan susu di Depok diketahui tahun 1896 (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 29-12-1896). Produk susu ini diusahakan oleh Nyonya Poth. Produk susu Nyonya Poth di Depok ini selama tahun 1896 dan 1987 cukup intens diiklankan di berbagai surat kabar.

Susu dari Depok lalu tenggelam dengan semakin banyaknya peternak-peternak yang mengusahakan produk susu di Batavia dan Buitenzorg. Populasi peternak yang mengusahakan produk susu terbanyak ditemukan di Mampang Tegal Parang.

Sejarah Kota Depok (25): Pabrik Kapur Tjitajam di Cipayung; Bukit Kapur yang Kini Menjadi Tempat Pembuangan Sampah

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Keberadaan pabrik kapur di Land Tjitajam terdeteksi pada tahun 1875. Kapur dari Tjitajam ini sebagai bagian dari komoditas yang diangkut kereta api untuk dikirim ke Batavia dan Buitenzorg (Nederlandsche staatscourant, 23-07-1875).

Bataviaasch nieuwsblad, 15-06-1895
Disebutkan selain produk kapur dari Tjitajam juga dilaporkan batu-batu yang diangkut kereta api dari Depok. Banyaknya kapur yang diangkut dalam satu tahun 412 ton dan batu sebanyak 1.445 ton.

Pengusahaan dan perdagangan kapur di Tjitajam ini dilakukan oleh Ouw Tiang Hoat. Disebutkan kapur dari Tjitajam terbilang berkualitas karena bersumber dari tebing gunung (berklippen), halus berwarna putih, tidak tercampur (dengan tanah) dan daya lekat sekuat semen (Bataviaasch nieuwsblad, 15-06-1895).

Sejarah Kota Depok (24): Berita Gempa 1834 dan Dampaknya; Landhuis Tjilangkap, Tjimanggis, Pondok Tjina, Pondok Terong dan Tjinere

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Pada tanggal 10 Oktober 1834 terjadi gempa besar yang menghancurkan Istana Buitenzorg. Gempa yang berpusat di Mega Mendoeng, telah menimbulkan beberapa kawah di atas Gunung Gede. Gempa yang sangat dahsyat ini bahkan dirasakan hingga ke Lampoeng (Soematra) di sebelah barat dan Tagal di sebelah timur. Bangunan yang terbuat dari batu hancur, rumah yang terbuat dari kayu dan bambu terjungkal, jalan pos antara Buitenzorg dan Tjiandjoer di sana sisi mengalami keretakan parah yang menimbulkan longsor. Demikian berita resmi dari pemerintah setelah sebulan kejadian sebagaimana dilaporkan surat kabar Javasche courant, 22-11-1834.

Javasche courant, 22-11-1834
Disebutkan Istana Buitenzorg hancur. Bangunan istana ini awalnya didirikan pada tahun 1744 oleh Gubernur Jenderal van Imhoff, lalu ditingkatkan pada tahun 1809 oleh Gubernur Jenderal Daendels, dan dibangun kembali pada tahun 1818, diperbesar dan dipercantik oleh Gubernur Jenderal van der Capellen. Bangunan utama lainnya yang hancur adalah bangunan kantor/rumah Residen Buitenzorg (di sebarang istana), suatu bangunan baru yang didirikan tahun 1821. Bangunan batu pasar (Babakan Pasar, Chinese Kampement) juga runtuh.

Depok dan Sekitar

Di Depok dan sekitarnya juga mengalami dampak yang besar. Bangunan yang terbuat dari batu landhuis Tjilangkap, landhuis Krangan, landhuis Tjimangis dan landhuis Pondok Tjina rusak berat dan runtuh sebagian. Sementara landhuis Tjiliboet, landhuis Pondok Terong, landhuis Sawangan, landhuis Tjineri, landhuis Koeripan (Paroeng) dan lainnya rusak ringan.

Sejarah Kota Depok (23): Nama Jalan di Depok Tempo Doeloe; Kerkweg (Jalan Pemuda) dan Pasarstraat (Jalan Dewi Sartika)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Empat nama jalan tertua di Depok adalah Jalan Pemuda, Jalan Siliwangi, Jalan Kartini dan Jalan Dewi Sartika. Namun nama-nama jalan ini baru muncul pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda. Penabalan nama jalan Pemuda dan Siliwangi diduga dikaitkan dengan peristiwa politik sebelumnya yakni perang kemerdekaan. Keempat nama jalan ini tidak berubah hingga ini hari.

Peta Depok, 1901
Sebelum kemerdekaan, pada era kolonial Belanda hanya ada dua nama jalan di Depok, yakni: Kerkweg dan Pasarstraat. Pasca pengakuan kedaulatan RI (1950) Kerkweg diubah namanya menjadi Jalan Pemuda dan Pasaarstraat namanya diganti dengan Jalan Dewi Sartika.

Kerkweg dan Pasarstraat

Sesungguhnya jalan tertua di Depok adalah jalan trans Batavia-Buitenzorg yang diduga sudah eksis sejak era Pakuan-Pajajaran. Jalan poros ini di era Pemerintahan Hindia Belanda sering disebut Westerweg untuk membedakan dengan Oosterweg yang menjadi jalan pos trans-Java (Jalan Raya Bogor sekarang).

Sejarah Kota Depok (22): Outer Ring Road Tempo Doeloe, Buitenzorg, Meester Cornelis dan Depok; Kapan Outer Ring Road Dalam Kota Depok?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Cara pandang masa kini tentang jalur lalu lintas di Jabodetabek tidak terlalu berbeda dibandingkan tempo doeloe. Pada masa lampau hanya dikenal jalur lurus dari hilir di pantai di Batavia ke hulu di gunung di Buitenzorg. Tiga jalur lurus yang ada adalah: pertama, Westerweg (jalur lalu lintas sisi barat sungai Tjiliwong via Depok, suatu jalur (rute jalan) kuno sejak era Pakwan-Padjadjaran). Kedua, muncul jalur Oosterweg (sisi timur sungai Tjiliwong via Tjimanggis saat Istana Buitenzorg dirintis, 1745). Ketiga, ketika jalur lebih barat muncul via Paroeng dan Tjinere sekitar 1850an, jalur ini disebut Westerweg, sedangkan Westerweg via Depok menjadi jalur Middenweg. Tiga jalur inilah yang kita lihat hingga sekarang ini.

Depok Outer Ring Road (DORR) Tempo Doeloe (*=landhuis)
Jalan kuno semasa era Padjadjaran dari Pakuan ke Soenda Kalapa mengikuti rute sisi barat sungai Tjiliwong. Hal ini karena tidak akan pernah menyeberangi sungai Tjiliwong. Pelabuhan Soenda Kalapa sendiri berada di sisi barat sungai Tjiliwong. Ketika, VOC memulai koloni dengan membangun Casteel Batavia (sisi timur sungai Tjiliwong), maka ketika melakukan ekspansi ke hulu hingga eks Pakwan-Padjadjaran yang kemudian dikenal Buitenzorg, VOC justru mengembangkan jalur sisi timur sungai Tjiliwong. Namun pilihan VOC memilih jalur timur justru memiliki konsekuensi yakni harus membangun jembatan di Buitenzorg, tepatnya di Warung Jamboe yang sekarang. Jembatan inilah jembatan permanen pertama yang dibangun untuk menghubungkan Westerweg dengan Oosterweg (1745).

Saat kali pertama Pemerintah Hindia Belanda memulai (konsep) pembangunan jalan raya, pemahaman outer ring road belum ada. Jalan pos trans-Java yang dimulai 1810 dari Anjer (barat) ke Panaroekan (timur) justru (hanya) memperkuat jalur Oosterweg. Sebab, jalan pos trans-Java dari Anjer (Banten),Tangerang langsung ke Batavia, dan dari Batavia ke Weltevreden (Gambir) lalu Meester Cornelis (Jatinegara) dan kemudian ke Buitenzorg via Tjimanggis.

Sejarah Kota Depok (21): Sejarah Cilodong dan Keluarga Riemsdijk; Land Tjilodong, Abraham Pieter Kijdsmeir Menikahi Wanita Pribumi

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Dua desa yang terdapat di Kecamatan Sukmajaya sebelum tahun 1999 (jelang pembentukan Kota Depok) yakni desa Kalimulya dan desa Kalibaru dimekarkan. Desa Kalimulya dimekarkan dengan membentuk desa Jatimulya; dan Desa Kalibaru dimekarkan dengan membentuk Desa Cilodong dan Desa Sukamaju. Lima desa ini pada tahun 2007 dipisahkan dari Kecamatan Sukamajaya dan membentuk kecematan sendiri yang diberi nama Kecamatan Cilodong.

Landhuis Tjilodong, 1930
Kecamatan Cilodong sebelumnya hanya dikenal luas karena Markas Kostrad. Pada masa kini, Kecamatan Cilodong tepatnya di Kelurahan Jatimulya terdapat Perumahan Grand Depok City (GDC). Landhuis Tjilodong, 1930

Lantas mengapa nama kecamatan diberi nama Kecamatan Cilodong. Apa yang melatarbelakanginya? Apakah karena KOSTRAD sudah lebih dulu mengklaim nama Cilodong? Tentu saja tidak. Nama Land Tjilodong sudah menjadi nama besar di masa lampau, bahkan Land Tjilodong termasuk Noesa Kembangan, Katjepiet dan Tjibinong. Manarik untuk ditelusuri. Mari kita lacak.