Sejarah Jakarta (83): Cililitan, Penerbangan Jarak Jauh Pertama Amsterdam - Batavia; Sejarah Awal Penerbangan Sipil Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pesawat pertama (dari Amsterdam) mendarat di Indonesia di lapangan terbang Polonia Medan. Itu terjadi pada tahun 1924. Dari Singapura pesawat yang sama kemudian mendarat di lapangan terbang Tjililitan, Batavia (kini Cililitan, Jakarta). Dua bandara ini (Polonia dan Cililitan) menandai awal sejarah aviasi (penerbangan) jarak jauh dan kebandaraan di Indonesia. Pada tahun 1943 lapangan terbang Cililitan digunakan oleh militer Jepang dan kembali dikuasai/digunakan Belanda (NICA) pada tahun 1945. Lapangan terbang Cililitan baru tahun 1950 benar-benar sepenuhnya dikuasai/digunakan oleh rakyat Indonesia.

Kedatangan pesawat pertama di Tjililitan, Senin, 24-11-1924
Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun belum sempat digunakan oleh pemerintah Indonesia, lapangan terbang Cililitan direbut (kembali) oleh militer Belanda/NICA. Sejak kedaulatan Indonesia diakui oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, lapangan terbang Cililitan sepenuhnya dikuasai oleh (pemerintah) Indonesia dan digunakan oleh TNI Angkatan Udara. Sementara itu sejarah penerbangan sipil Indonesia baru dimulai tahun 1950 yakni dengan cara memperbaiki dan meningkatkan status lapangan terbang Cililitan untuk layak digunakan oleh pesawat-pesawat komersil (pernerbangan sipil). Lapangan terbang Cililitan (yang kini dikenal dengan nama bandara Halim Perdana Kusuma) masih eksis hingga ini hari.

Ada dua hal penting yang menarik perhatian yakni bagaimana gagasan penerbangan jarak jauh Amsterdam-Batavia ini terselenggara dan bagaimana persiapan dan kesiapan menyambut kedatangan pesawat terbang ini? Kisah ini kurang terinformasikan dengan baik. Padahal dua hal tersebut adalah awal penerbangan jarak jauh dan sistem navigasi internasional. Lantas bagaimana awal sejarah kebandaraan dan sejarah penerbangan sipil Indonesia? Semua itu tentu masih menarik untuk diperhatikan. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (82): Tahun Baru Cina Lebih Semarak dari Tahun Baru Masehi Tempo Doeloe; Bagaimana Awal 1 Muharram?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Tahun baru Islam sudah lama berlalu (Jumat, 30 Agustus 2019). Tahun baru Cina sudah berlalu pula seminggu lalu (25 Januari 2020). Tentu saja tahun baru Masehi selalu dimulai tanggal 1 Januari. Itu juga telah berlalu. Karena semuanya telah berlalu, kita dapat melihat perbedaannya. Tahun baru paling semarak adalah tahun baru Masehi (yang kini menjadi tahun baru internasional). Namun tempo doeloe, paling tidak di Indonesia (baca: Hindia Belanda). tahun baru paling semarak adalah tahun baru Cina.

Tahun Baru Cina di Batavia (Algemeen Hblad, 11-02-1938)
Tempo doeloe, penggunaan mercon (petasan) dalam suatu perayaan, semisal tahun baru umumnya dilakukan di kalangan orang-orang Cina. Untuk penggunaan kembang api ternyata bukan di kalangan orang Belanda, tetapi justru di kalangan orang-orang Inggris. Di Jawa, suatu perayaan besar, misalnya Lebaran ditandai dengan pemukulan bedug. Di kalangan orang-orang Belanda ditemukan dengan cara membunyikan lonceng (gereja). Di Medan lain lagi. Perayaan besar (seperti Idul Fitri dan Idul Adha) ditandai dengan menembakkan meriam ke udara dari halaman Istana Maimoon. Di Padang Sidempoean lain pula caranya yakni dengan memukul gong besar dari menara masjid raya (yang selama ini digunakan untuk menunjukkan tanda waktu sholat tiba).

Lantas bagaimana dengan tahun baru Islam? Sekali lagi, paling tidak di Hindia Belanda juga semarak dan lebih semarak dari tahun baru Masehi. Bagaimana bisa? Nah, itu dia. Tentu setiap hal pada masa ini dalam kehidupan sosial telah mengalami proses transformasi dari tempo doeloe. Oleh karena itu, untuk memahami masa kini (dalam menandai tahun baru) ada juga baiknya untuk sekali-sekali memutar jarum jam kembali ke masa lampau untuk memahami bagaimana tahun baru dimulai. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (81): Sejarah Area MONAS; Bukan Lapangan Kerbau, Kebun Gambir di Buffelsveld (Lahan Milik Keluarga Buffels)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Ribut-ribut lapangan Monas. Itu satu hal. Satu hal yang lain ternyata tidak ada yang mempermasalahkan asal-usul Lapangan Monas (Monumen Nasional). Di dalam berbagai tulisan (yang dapat dibaca di internet) disebut lapangan Monas dulunya adalah lapangan kerbau (Buffelsveld). Entah darimana sumbernya. Memang tempo doeloe sebelum namanya disebut Koningsplein (Lapangan Radja) adalah eks Buffelsveld. Tetapi sejatinya bukan artinya lapangan kerbau (buffelsveld, huruf kecil) tetapi lahan (veld) dari (keluarga) Buffels [Buffelsveld] yang mana di lahan tersebut pernah diusahakan tanaman gambir. Nama Gambir juga nama marga orang Eropa. Nah, lho!

Perkebuinan baru (Peta 1682)
Nama Batavia sudah lama ada. Paling tidak sejak era Jan Pieterszoon Coen (1619). Itu berarti sudah berabad-abad. Tentu  saja tidak semua orang ingat apa yang telah berlalu. Pada tahun 1926 seseorang menulis di surat kabar Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 17-04-1926 dengan judul ‘De Indische „Oudgast" van de „Ancien RĂ©gime". Di dalam tulisannya terdapat satu kalimat sebagai berikut:  ‘Er was grond genoeg om een huis neer te zetten en de meest frissche plaats om te bouwen was wel langs het oude „Buffeltje" of het „Buffelsveld", dat nu het Koningsplein genoemd werd’. Penulis tersebut seakan mengartikan „Buffelsveld" (lahan milik Buffels) sama dengan „Buffeltje" (lapangan kerbau). Buffels adalah salah satu marga orang Eropa/Belanda. Anehnya penulis-penulis selanjutnya ada yang mengutip salah kaprah tersebut seakan kebenaran (fact). Runyamnya para penulis-penulis Indonesia masa kini menerjemahkan „Buffelsveld" secara letterlek sebagai Lapangan Kerbau. Kacau, bukan?  
    
Lantas bagaimana sejarah Lapangan Monas? Nah, itu dia yang ingin kita luruskan dan sempurnakan. Moga-moga artikel Sejarah Lapangan Monas ini, ribut-ribut yang terjadi tentang Lapangan Monas saat ini segera mereda. Dalam hubungan ini, kita harus mafhum orang Belanda tempo doeloe juga bisa salah (kaprah) tentang sejarah karena para penulis malas buka data primer seperti surat kabar dan peta-peta. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.  

Sejarah Padang Sidempuan (4): Mangaradja Soangkoepon, Macan Pejambon-Volksraad; Bela Pemuda Madura di Belanda, 1911


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini
 

Mangaradja Soangkoepon adalah seorang anggota dewan pusat (Volksraad) yang tidak ada takutnya. Mangaradja Soangkoepon membela siapa pun dimana saja. Mangaradja Soangkoepon juga penuh humor, pernah berseloroh di Volkraad dengan menyatakan bahwa (pulau) Sumatra itu bukan Pintu Belakang Luar Djawa, tetapi Pintu Depan Indonesia (baca: Hindia Belanda). Semua tertawa, tetapi dia sendiri tetap serius dalam mengemukakan pendapatnya.

Mangaradja Soangkoepon (Matjan Pedjambon)
Mangaradja Soangkoepon, kelahiran Padang Sidempuan tetapi tidak pernah memperjuangkan kepentingan wilayah (residentie) Tapanoeli di Volksraad. Sikapnya demikian, karena Mangaradja Soangkoepon terpilih ke Volksraad mewakili dapil (residentie/province) Oost Sumatra (Sumatra Timur). Mangaradja Soangkoepon terpilih kali pertama tahun 1927. Selama empat periode hingga berakhirnya era kolonial Belanda, Mangaradja Soangkoepon selalu memenangkan kursi ke Volksraad. Kepercayaan warga Sumatra Timur sangat tinggi kepadanya karena terbukti tidak pernah membela wilayah kampong halamannya, Tapanoeli. Namun jangan salah sangka. Karena anggota Volksraad dari dapil Tapanoeli adalah Dr. Abdul Rasjid Siregar kelahiran Padang Sidempoean (adik kandungnya sendiri). Catatan: Sumatra hanya terdiri dari empat dapil, masing-masing satu kursi: Oost Sumatra, West Sumatra, Zuid Sumatra dan Noord Sumatra (Residentie Tapanoeli dan Residentie Atjeh).   

Mangaradja Soangkoepon, bukanlah macan ompong, dan juga bukan Macan Kemajoran, tetapi Macan Pedjambon. Gedung dewan pusat (Volksrad) tempo doeloe di Pedjamboen (kini di Senayan). Mangaradja Soangkoepon bertarung di DPR benar-benar membela atas nama rakyat, seluruh rakyat Indonesia. Kisahnya dimulai di Belanda pada tahumn 1911 ketika membela pemuda Madura di pengadilan. Bagaimana kisah selanjutnya, mari kita ikuti berdasarkan hasil penelusuran sumber-suimber tempo doeloe.

Sejarah Padang Sidempuan (3): Sibualbuali, Perusahaan Oto Bis Jarak Jauh Pertama di Indonesia; MH Thamrin Bela Sibualbuali


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Nama gunung Sibual-buali identik dengan kota Sipirok. Pemerintah Hindia Belanda telah menabalkan nama Sipirok sebagai nama sebuah kapal uap (ss). Orang Sipirok juga menabalkan nama usaha angkutan bis mereka dengan nama Siboeal-boeali. Perusahaan bis Siboeal-boeali adalah perusahaan bis pertama di Indonesia. Perusahaan bis yang menyertai perjuangan bangsa Indonesia.

Kereta api, bandara, kapal uap dan oto bis Angkola dan Sipirok
Orang Padang Sidempuan awalnya hanya berharap jalur kereta api dibangun dari kampong mereka ke Sibolga (pelabuhan laut). Tingggal selanggah lagi rencana itu direalisasikan, Pemerintah Hindia Belanda di Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1920 membatalkannya karena anggaran defisit pasca Perang Dunia I. Pada tahun 1926 Pemerintah pusat menawarkan pembangunan bandara (Batavia, Palembang, Padang, Padang Sidempoean, Medan) namun itu ditolak masyarakat melalu dewan (raad) Onderfadeeling Angkola en Sipirok. Alasannnya simpel: pembangunan bandara hanya akan mempermudah pergerakan militer Belanda dan kenyamanan untuk segelintir orang Eropa/Belanda saja. Pemerintah pusat angkat tangan. Pengusaha-pengusaha Sipirok mulai berinisiatif dengan merintis perusahaan oto bis jarak jauh. Muncullah nama perusahaan oto bis Siboeal-boeali tahun 1937. Catatan: Afdeeling Padang Sidempoean terdiri dari: Onderafdeeling Angkola en Sipirok: Onderfadeeling Groot en Klein Mandailing, Oeloe en Pakantan; dan Onderafdeeling Padang Lawas.  

Orang Padang Sidempoean ingin segera sampai di kota-kota besar. Tidak seperti di Jawa, untuk melakukan perjalanan jarak jauh orang sudah sejak lama mengenal transportasi kapal laut dan kereta api. Orang Padang Sidempoean tidak punya rel dan juga tidak punya laut. Hanya hutan belantara yang ada. Gagasan pendirian oto bis jarak jauh adalah solusi terburuk yang dapat direalisasikan. Muncullah nama Siboeal-boeali. Untuk lebih memahaminya mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.  

Sejarah Jakarta (80): Sejarah Pendidikan di Jakarta; Sutan Casajangan, Direktur Pertama Sekolah Guru Normaalschool Batavia, 1919


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Satu yang terlupakan dalam sejarah Jakarta adalah sejarah pendidikan. Sejauh ini tidak pernah ditemukan tulisan tentang sejarah pendidikan di Jakarta. Ini satu kelalaian atau apa. Padahal Jakarta (baca: Batavia) adalah ibu kota negara sejak Jan Pieterszoon Coen, 1619. Bukankah Gubernur kita seorang ahli pendidikan, mantan Menteri Pendidikan. Okelah. Tidak ada kata terlambat untuk menulis sejarah pendidikan di Jakarta. Sejarah Jakarta tidak hanya Si Pitung.

Normaalschool Batavia dan Soetan Casajangan
Meski Batavia adalah ibu kota negara, sekolah guru (kweekschool) untuk pribumi yang pertama justru didirikan jauh dari Batavia di Soeracarta (1851). Sekolah guru yang kedua di Fort de Kock tahun 1856 dan yang ketiga, tahun 1861 di Tanobato (Afdeeling Mandailing en Angkola). Sekolah guru yang keempat didirikan di Bandoeng pada tahun 1866. Lulusan dari empat sekolah guru inilah kemudian satu dua guru yang ‘nyasar’ ke Batavia untuk berinisiatif memberikan pendidikan kepada anak usia sekolah di Batavia. Tentu saja beberapa guru itu tidak cukup mengingat penduduk Batavia sungguh sangat padat jaman itu. Pendirian sekolah guru di Batavia sangat diperlukan.    

Lantas apa pentingnya mengetahui sejarah pendidikan di Jakarta? Itulah pertanyaan pentingnya. Itu pula yang menyebabkan tidak ada orang yang pernah menulisnya. Saya coba searching di nternet, memang belum pernah ditulis. Oleh karena itu, inilah waktunya kita mulai menulis sejarah pendidikan di Jakarta. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Padang Sidempuan (2): Sinondang Sipirok, Sinondang Tapian Na Uli, Gordon Tobing; Sejarah Musik Modern di Sipirok


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Tempo doeloe di Djakarta ada muziek orchest namanya Sinondang Tapian Na Uli. Orkest musik ini didirikan oleh pemuda-pemuda asal Sipirok, Tapanuli. Orkest musik bukan gondang, tetapi band. Grup musik ini membawakan lagu-lagu daerah Tapanoeli khususnya daerah Sipirok. Pada tahun 1952 Sinondang Tapian Na Uli merekrut Gordon Tobing. Tahun ini pula Sinondang Tapian Na Uli dan Gordon Tobing mulai tampil di radio Djakarta.

Lagu dari Sipirok, Sinondang Sipirok di Djakarta (1954)
Pemuda-pemuda Sipirok di Tapanoeli terbilang awal dalam penggunaan alat-alat musik modern (Eropa). Ketika para pemuda Sipirok di era kolonial Belanda cukup banyak di Batavia mereka mendirikan grup musik. Beberapa nama yang turut bergabung dalam grup musik Sipirok ini antara lain Saidi Hasjim Nasution (ayah dari Keenan Nasution) dan Ismail Harahap (ayah dari Ucok AKA) dan Sakti Alamsjah Siregar (pendiri surat kabar Pikiran Rakyat Bandung). Satu pemusik lagi yang berafiliasi dengan grup musik Sipirok ini adalah komponis terkenal Nahum Situmorang (lahir di Sipirok, 14 Februari 1908). Grup musik asal Sipirok ini pada pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda namanya disebut Sinondang Na Uli. Pada awal tahun 1980an ketika saya masih kuliah, di Jakarta terbentuk organisasi naposo nauli bulung (pemuda-pemudi) asal Tapanuli Selatan (lahir di Tapanuli Selatan, lahir di Jakarta dan sekitar) yang diberi nama Sinondang. Dalam bnku tahunan saya lihat para donatur sangat wah semisal Adam Malik, Ir. Hasjroel Harahap, Dr, Arifin Siregar, Jenderal AH Nasution dan Sakti Alamsjah. Para seniot tampaknya sedang bernostalgia.
.
Ketika nama Gordon Tobing menjadi lebih terkenal dan banyak menerima order tampil di berbagai acara, grup musik Sinondang Tapian Na Uli berganti nama menjadi Sinondang Sipirok (sejak Agustus 1955). Bagaimana musik berkembang lebih awal di Sipirok (Tapanoeli) adalah satu hal dan bagaimana terbentuk grup musik Sinondang Sipirok di Djakarta adalah hal lain lagi. Untuk lebih memahaminya dan menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Jakarta (79): Orangtua EDDIE van Halen Menikah di Jakarta, 1950; Ibu Lahir di Rangkasbitung, Nenek Asli Purworejo


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Eddi van Halen, gitaris dari group band hard-rock asal Pasadena, California dalam satu wawancara televisi ketika ditanya ibunya berasal darimana? Eddie van Halen menjawab: Indonesia. Lalu, ditanya lagi. Tepatnya dimana? Rangkasbitung. Eddi van Halen menyebut dengan pasti dua nama tempat: Indonesia dan Rangkasbitung. Informasi ini membawa kita ke dalam pertanyaan baru: Siapa keluarga Alex dan Eddie van Halen serta darimana asal ibunya?

Java-bode, 11-08-1950
Beberapa waktu yang lalu kita juga mendapat informasi bahwa Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau memiliki garis keturunan Indonesia. Tepatnya dari garis keturunan ibu seorang gadis Nias. Ketika dicek di internet, memang dalam silsilah dari garis keturunan ayahnya tercatat menikah dengan seorang gadis Nias di Padang. Dalam hubungan ini telah disajikan artikelnya dalam blog ini dengan judul: Sejarah Kota Padang (9): Ini Riwayat Keluarga Intveld di Padang, Nenek Moyang PM Kanada J. Trudeau; Gadis Nias Jelita (diupload tanggal 7 April, 1917).  

Satu keterangan yang pasti bahwa orang tua Alex dan Eddie van Halen adalah ayah mereka Jan van Halen dan ibu adalah Eugenia van Beers. Orangtua mereka menikah di Djakarta pada tanggal 11 Agustus 1950 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-08-1950). Lantas pertanyaanya, apakah ibu mereka yang disebut lahir di Rangkasbitung adalah juga gadis asli Rangkasbitung, Lebak? Untuk mendapat keterangan yang lebih banyak, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. 

Sejarah Padang Sidempuan (1): Guru Dja Mangantar Wafat di Kemajoran Batavia, 1874; Murid Terbaik Willem Iskander


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Dja Mangantar gelar Baginda Radja hanyalah seorang guru sekolah dasar, namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Pemerintah Hindia Belanda membangun makamnya di Kemajoran Batavia begitu megah. Hal itu sangat jarang terjadi. Pemerintah Hindia Belanda memberikan penghargaan kepada seorang pribumi jika benar-benar sangat berjasa. Bukankah Dja Mangantar gelar Baginda Radja hanya seorang guru?

Sejarah Padang Sidempuan adalah serial artikel sejarah Padang Sidempuan dan sekitar. Sejak 1905 Afdeeling Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli terdiri dari tiga onderafdeeling, yakni Onderafdeeling Angkola en Sipirok, Onderafdeeling Mandailing en Natal, Onderafdeeling Batangtoroe dan Onderafdeeling Padang Lawas. Kota Padang Sidempoean pernah menjadi ibu kota Residentie Tapanoeli (1875-1905). Pada masa kini Afdeeling Padang Sidempoean adalah Tapanuli Bagian Selatan yang terdiri dari empat kabupaten dan satu kota (Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Padang Lawas Utara). Serial artikel Padang Sidempuan ini telah melengkapi sejarah kota-kota di dalam blog ini. Seelumnya sudah ada serial artikel Kota Jakarta, Kota Depok, Kota Bogor, Kota Bandung, Kota Surabaya, Kota Jogjakarta dan lainnya (lihat peta). Masih ada beberapa kota yang masih tahap pengumpulan data.

Makam Dja Mangantar gelar Baginda Radja disebutkan berada di Kemajoran, Batavia. Disebutkan dalam keterangan foto yang dibuat Petz & Co, Dja Mangantar meninggal di Batavia pada tanggal 8 Oktober 1874 dalam usia 22 tahun dan dimakamkan di Kemajoran (Overleden op 8 Oktober 1874 op 22-jarige leeftijd). Masih muda, namun sudah mendapat penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda. Bagaimana bisa? Untuk memahaminya, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.