Laman

Sabtu, 11 Februari 2017

Sejarah Bandung (21): Fikiran Ra’jat, Pikiran Rakjat dan Pikiran Rakyat; Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat



Surat kabar Harian Pikiran Rakyat Bandung adalah surat kabar legendaries di Bandung. Surat kabar pertama di Bandoeng adalah Preanger Bode (terbit 1896). Surat kabar Pikiran Rakyat adalah penerus surat kabar Prenager Bode. Sejarah Preanger Bode (lihat Artikel 17), sejarah Pikiran Rakyat mari kita lacak. Asal-usul pendirian surat kabar Pikiran Rakyat tidak pernah ditulis. Untuk itu coba dilengkapi dalam artikel ke-21 ini. Asal-usul pendirian surat kabar Pikiran Rakyat sangat esensial sebagai pra kondisi mengapa surat kabar Pikiran Rakyat namanya tetap dipertahankan sejak era Belanda dan mengapa pula tetap merupakan surat kabar utama di Kota Bandung.

Asal Usul Pikiran Rakyat

Sakti Alamsyah Siregar, pendiri Pikiran Rakyat
Untuk mengenang surat kabar Harian Pikiran Rakyat yang sekarang, kita harus memutar jarum jam ke tahun 1950. Pada bulan Mei 1950, surat kabar Pikiran Rakjat diterbitkan di Bandoeng. Kelak motto surat kabar baru ini adalah ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat’.


Di Djakarta, surat kabar yang memiliki motto yang sama dengan Pikiran Rakyat adalah Indonesia Raya. Surat kabar yang mengambil nama dari surat kabar lama Indonesia Raja dan nama lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR Supratman. Pada tahun 1925 WR Supratman bekerja sebagai editor kantor berita pribumi pertama, Alpena yang digagas oleh Parada Harahap. 

Surat kabar Indonesia Raya terbit pertama kali pada 29 Desember 1949 didirikan oleh Mochtar Lubis dengan kawannya dan yang bertindak sebagai editor adalah Mochtar Lubis.

Mochtar Lubis dan kawan-kawan mendirikan surat kabar Indonesia Raya setelah ‘mendapat restu’ dari Adam Malik. Sebab Adam Malik dan Mochtar Lubis adalah dua orang pertama yang membangun kembali kantor berita Antara setelah usai perang. Mochtar Lubis juga mendapat restu dari Parada Harahap, karena sebelumnya Mochtar Lubis bekerja di surat kabar yang dipimpin Parada Harahap. 

Lalu kemudian di Bandoeng surat kabar Pikiran Rakyat yang mengambil nama majalah yang pernah terbit di era Belanda bernama Fikiran Ra’jat, pada tahun 1967, wajahnya dimake-up sedemikian rupa oleh Sakti Alamsyah sehingga penampilan Pikiran Rakyat tetap elegan hingga ini hari.

Nama surat kabar Bandoeng ini tetap sama dengan nama di era Djamal Ali (1950-1965) tetapi meninggalkan mottonya dari ‘Mengadjak Pembatja Berfikir Kritis’ menjadi ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat’ (hingga sekarang). Ini bersamaan dengan diperbolehkannya kembali surat kabar Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis untuk terbit.

Itulah ringkasan asal-usul surat kabar Pikiran Rakyat yang kita kenal sekarang. Dari Fikiran Ra’jat oleh Pikiran Rakjat untuk Pikiran Rakyat dengan motto ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat’.

Catatan: ‘Fikiran Ra’jat’ ditulis pakai huruf f dan tanpa huruf k. ‘Pikiran Rakjat’, huruf f telah digantikan oleh huruf p dan penambahan huruf k. Pikiran Rakyat, hurif j telah diganti dengan huruf y (ejaan baru).

Fikiran Ra’jat dan Bintang Timoer

Di Bandoeng, selain surat kabar berbahasa Belanda, Preangerbode, juga telah bermunculan berbagai media orang-orang pribumi. Fikiran Ra’jat, terbit 1932. Majalah (periodieken) ini menjadi corong Soekarno untuk menyuarakan pendapat dan pemikiran dalam bentuk tulisan. Namun karena sifatnya periodical maka jangkauannya sangat terbatas di wilayah Bandoeng dan orang-orang pergerakan di berbagai tempat. Tulisan-tulisan Soekarno di dalam Fikiran Ra’jat tidak merakyat.

Untuk menyinari tulisan-tulisan Sukarno dan dapat menerangi cakupan yang lebih luas Sukarno sering mengirim tulisan ke surat kabar Bintang Timoer di Batavia, surat kabar di bawah pimpinan dan editor Parada Harahap (terbit sejak 1926). Parada Harahap dan Sukarno sama-sama memiliki karakter revolusioner dan sama-sama cerdas dalam beretorika (berbicara). Mereka berdua memiliki chemistry yang sama. Sama-sama tidak ada takutnya. Parada Harahap memulai tindakan revolusionernya di Padang Sidempuan dengan mendirikan surat kabar Sinar Merdeka 1919. Selama tiga tahun di kampong halaman (Parada Harahap, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah) belasan kali dimejahijaukan dan beberapa kali dibuai di penjara Padang Sidempuan (kelak tahun 1935 Adam Malik juga penghuni penjara ini).

Pada tahun 1932 juga, semua majalah dan surat kabar berhaluan nasionalis termasuk Bitang Timoer, Fikiran Ra’jat dan Indonesia Raja dilarang terbit (De Sumatra post,            13-06-1932).

Lalu kemudian, di Bandoeng, Fikiran Ra’jat yang diterbitkan oleh Drukkerij Economie disita (Bataviaasch nieuwsblad, 20-07-1933). Sejak itu nama Fikiran Ra’jat menghilang. Soekarno juga hilang dari peredaran karea telah diasingkan ke Flores dan Bengkulu.

Parada Harahap terus berjuang meski juniornya telah diasingkan. Pada akhir tahun 1933 Parada Harahap memprovokasi Belanda dengan memimpin tujuh orang Indonesia pertama ke Jepang. Tindakan Parada Harahap ini membuat heboh dan guncang tidak hanya di Hindia Belanda tetapi juga di Belanda.

Parada Harahap pada akhir tahun 1933 memimpin tujuh orang pertama Indonesia ke Jepang (selama sebulan termasuk di kapal). Inisiatif Parada Harahap ini adalah untuk memprovokasi Belanda yang sejak dari dulu menjadi lawan politik Parada Harahap (Benih Merdeka di Medan, 1918 dan Sinar Merdeka di Padang Sidempuan, 1919-1923). Dalam rombongan ini terdapat nama-nama seperti Abdullah Lubis, pemimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (saat itu editor dijabat Adinegoro yang sebelumnya sebagai editor di surat kabar Bintang Timoer pimpinan Parada Harahap), Juga terdapat seorang pemuda revolusioner bernama Mohammad Hatta yang baru pulang setelah lulus sarjana di Belanda. Lalu satu lagi seorang guru revolusioner dari Bandoeng. Atas dasar itu, peran Parada Harahap saat itu sangat sentral dalam hubungan orang-orang revolusioner Indonesia dengan perwakilan sipil Jepang di Indonesia. Karena itu, Soekarno, M. Hatta dan lainnya menjadi padu dengan tokoh-tokoh sipil Jepang di Indonesia. Dari tiga tokoh pemuda utama di era Belanda yang di bawah mentor Parada Harahap yakni Soekarno, Hatta dan Amir, hanya Soekarno dan Hatta yang mau berkolaborasi dengan Jepang. Amir Sjarifoeddin menolak dan terang-terangan menentang Jepang.

Parada Harahap muncul ke permukaan sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan dengan portofolio tertinggi diawali dengan gagasan dibentuknya supra organisasi kebangsaan PPPKI (Permoefakatan Himpoenan-Himpoenan Kebangsaan Indonesia). Supra organisasi ini didirikan tahun 1927 di rumah Husein Djajadiningrat dimana ketua ditunjuk M. Husni Thamrin dan bertindak sekretaris adalah Parada Harahap. Dalam pertemuan itu juga turut hadir Mangaradja Soangkoepon, anggota Volksraad. (MH Thamrin dan Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepn adalah dua ‘macan’ Volksraad di Pedjambon).

Gagasan Parada Harahap ini diduga muncul dari Soetan Casajangan, Direktur Normaal School di Meester Cornelis. Soetan Casajangan adalah mahasiswa kedua yang kuliah di Belanda (1905) dan pada tahun 1908, untuk merespon didirikannya Boedi Oetomo, menggagas didirikannya organisasi pelajar (disebut Indisch Vereeniging) di Belanda yang mengambil tempat di rumahnya dan Soetan Casajangan sendiri yang menjadi Presiden. Yang menjabat sekretaris Indisch Vereeniging adalah Husein Djajadiningrat dan bendahara Soetan Goenoeng Moelia. Satu lagi nama di belakang Parada Harahap adalah Dr. Abdul Rivai (orang yang menerima kedatangan Soetan Casajangan di dermaga Amsterdam tahun 1905) yang saat itu bekerja sebagai editor majalah berbahasa Melayu Bintang Hindia yang terbit di Leiden. Pada tahun 1923, ketika hijrah ke Batavia Parada Harahap mendirikan surat kabar Bintang Hindia bersama Abdul Rivai. Kongres Pemuda 1928 di bawah perlindungan PPPKI, dimana pelindung utama adalah Parada Harahap (yang juga ketua Kadin pribumi Batavia) dan bendahara kongres adalah Amir Sjarifoeddin.

Ketika Medan masih kampong, Padang Sidempuan sudah kota
Oleh karena itu lahirnya PPPKI di bawah inisiatif Parada Harahap berada di dalam koneksi (networking) para pentolan Indisch Vereeniging (yang selama ini luput dari pengetahuan para ahli sejarah). Para pentolan Indisch Vereeninging yang ketika PPPKI dibentuk (dan turut hadir) adalah Soetan Casajangan (kerabat dekat Parada Harahap); Husein Djajadiningrat (pertemuan pembentukan di rumahnya); Dr. Abdul Rivai (penulis tetap di Bintang Timoer milik Parada Harahap); Soetan Goenoeng Moelia (bendahara Indisch Vereeninging); dan Mangaradja Soangkoepon (anggota Indisch Vereeniging yang kini bersama MH. Thamrin menjadi anggota Volksraad). Di Volksraad juga terdapat adik Mangaradja Soangkoepon yakni Dr. Abdoel Rasjid dari dapil Tapenoeli (teman dekat Dr. Soetomo selagi kuliah di STOVIA). Mangaradja Soangkoepon sendiri berasal dari dapil Sumatra Timur.Soetan Casajangan, Mangaradja Soangkoepon, Soetan Goenoeng Moelia, Abdul Rasjid dan Parada Harahap adalah kelahiran Padang Sidempuan.

Generasi penerus Soetan Casajangan dan kawan-kawan adalah M.Hatta, Ali Sastroamidjodo dan Amir Sjarifoeddin di Belanda yang merperbarui Indisch Vereeniging menjadi Perhimpoenan Peladjar Indonesia (PPI). Dalam pembentukan PPPKI ini Soekarno M.Hatta, Ali Sastroamidjodo dan Amir Sjarifoeddin masih junior (second line). Parada Harahap berada diantara dua generasi tersebut dan memiliki akses dan koneksi yang strategis (kepada senior dan kepada junior). Parada Harahap sang revolusioner sejati dilingkari oleh para tokoh-tokoh revolusioner yang terdidik (mahasiswa dan sarjana). Amir Sajarifoeddin adalah saudara sepupu dari Soetan Goenoeng Moelia. Para pemuda revolusioner inilah yang kerap datang ke kantor PPPKI di Gang Kenari, Batavia tempat dimana Parada Harahap berkantor (kantor yang merupakan milik MH Thamrin). Di dinding kantor Parada Harahap dan MH Thamrin ini hanya tiga tokoh penting yang fotonya dipajang: Soeltan Agoeng, Soekarno dan Hatta (sudah sejak lama Parada Harahap menggadang-gadang Soekarno dan Hatta sebagai penerusnya).

Tokoh muda (yang lebih muda lagi) berikutnya antara lain yang merupakan ‘anak didik’ Parada Harahap antara lain Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah. Mereka ini masih belasan tahun ketika mulai terjun ke jurnalistik dan politik. Adam Malik bersama kawan-kawan mendirikan kantor berita Antara. Kantor berita Antara ini muncul mengikuti gagasan Parada Harahap yang pada tahun 1925 mendirikan kantor berita Alpena. Parada Harahap adalah mentor politik Adam Malik. Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsjah di awal pendudukan Jepang, ketiganya sama-sama bekerja di radio militer Jepang di Jakarta. Sebelum pendudukan Jepang, pada era kolonial Belanda (1938),

Kantor Berita Antara didirikan pada tanggal 13 Desember 1937 oleh Adam Malik dan kawan-kawan. Sebagai Direktur pertama adalah Soemanang dan Adam Malik sebagai Redaktur (wartawan muda, usia 20 tahun pada waktu itu) merangkap Wakil Direktur. Tahun 1942 kantor berita Antara berkolaborasi dengan kantor berita Domei (Adam Malik dan AM Sipahutar tetap bertugas). Setelah Jepang takluk (bom Hirosima dan Nagasaki) kantor berita Antara eksis kembali (seperti semula) dan dilanjutkan oleh Adam Malik dan AM Sipahutar.

Pada masa kepemimpinan Adam Malik yang baru di Antara, Mochtar Loebis masuk sebagai wartawan Antara. Namun tidak lama kemudian, posisi Adam Malik digantikan oleh Mochtar Lubis karena kesibukan Adam Malik sendiri dalam urusan republik. Pada saat Belanda datang kembali, situasi menjadi berubah. Kantor berita Antara lalu ditutup oleh penguasa.

De tijd: dagblad voor Nederland, 21-07-1947: ‘Sepuluh jam setelah penangkapan sejumlah anggota kantor berita Antara Indonesia dilakukan konferensi pers. Mochtar Lubis, Direktur Antara, mengatakan: Belanda telah memperlakukan kami dengan baik, pemancar kami diambil. Ketika kami ditangkap, kami tegang. Keluhan utama bahwa mereka telah menyita mobil saya. Kemudian kantor berita Antara ditutup’.

Awal Karir Sakti Alamsjah

Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsjah ‘ditempatkan’ dan mendapat tempat utama oleh Parada Harahap di radio militer Jepang agar ketiganya tetap berada di jalurnya (bidang jurnalistik) dan in-line dengan Parada Harahap sendiri. Strategi ini dimaksudkan di satu sisi (keluar) agar memiliki akses informasi dari luar negeri dan di sisi lain (kedalam) data dan informasi mudah diteruskan kepada tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan.

Parada Harahap, Soekarno dan M. Hatta sangat dekat satu sama lain dengan wakil Jepang di Hindia Belanda (baca: Indonesia).

Setelah Jepang takluk radio militer Jepang tidak aktif, para krunya juga berpencar. Adam Malik kembali menghidupkan kantor berita Antara, Mochtar Lubis sempat menjadi wartawan di tempat lain tetapi kemudian Adam Malik mengajak ke Antara. Sakti Alamsjah hijrah ke radio militer Jepang di Bandoeng (Malabar). Begitulah awal perkara Sakti Alamsyah hijrah ke Bandoeng.

Dari Fikiran Ra’jat ke Pikiran Rakjat: Soekarno vs Mochtar Lubis

Lalu pada tahun 1950 muncul kembali surat kabar di Bandoeng yang memiliki nama yang sama dengan Fikiran Ra’jat.  Surat kabar ini dipimpin oleh Djamal Ali dengan editornya Asmara Hadi. Dalam pendirian surat kabar Pikiran Rakyat ini Sakti Alamsyah turut bergabung. Surat kabar ini eksis cukup lama.

Surat kabar Pikiran Rakjat menurunkan editorial yang mempertanyakan, setelah merdeka, bebas berbicara dan bebas berpendapat, lantas bagaimana dengan kemakmuran rakyat, apakah kita masih mampu jika memang harus membutuhkan bantuan (investasi) asing? (lihat Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 30-08-1950).

Ini mengindikasikan bahwa surat kabar Pikiran Rakjat sangat concern dengan rakyat sesuai dengan namanya. Paling tidak surat kabar ini ikut menggarisbawahi persoalan menadasar pada waktu adalah kemiskinan (setelah usai perang kemerdekaan). Meski begitu situasi dan kondisi tanah ait dan situasi dan kondisi yang dihadapu surat kabar baru ini, mereka tidak lupa untuk mengucapkan selamat tahun baru (Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 30-12-1950). Djamal Ali, editor dan direktur Pikiran Rakjat telah memisahkan ruang redaksi dengan ruang yang lainnya (Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 16-01-1951).

Ketika Pikiran Rakyat baru memulai kiprahnya mulai timbul permasalahn di tingkat pemerintah (Soekarno). Pangkal perkaranya dimulai dari adanya tulisan Mochtar Lubis di surat kabar Indonesia Raya. Soekarno tersinggung.

De nieuwsgier, 02-03-1951: ‘Karena ada keluhan oleh Presiden, diperintahkan oleh Jaksa Agung, ex officio, Mochtar Lubis redaktur Indonesia Raya, Senin dipanggil oleh kepala jaksa A. Karim sehubungan dengan tulisan dimana presiden adalah yang bertanggung jawab atas kematian banyak orang Indonesia selama pendudukan’.

Pikiran Rajat merespon dan kejadian itu. Lalu menurunkan editorial yang mengingatkan kembali Soekarno atas kiprah politik pertamanya tahun 1927 di majalah Fikiran Ra’jat (Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 31-05-1951). Editorial ini seakan semacam sinyal dari Bandoeng, bahwa Mochtar Lubis dengan Indonesia Raya tidak sendiri. Boleh jadi suara Pikiran Rakyat merupakan suara hati Sakti Alamsyah dari kamar redaksi Pikiran Rakyat.

Pada bulan Mei, Pikiran Ra’jat merayakan ulang tahun yang pertama. Dalam perayaan ini hadir Adam Malik (Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 31-05-1951). Sudah barang tentu, Adam Malik mendapat undangan dari sohibnya Sakti Alamsyah. Tentu saja pertemuan antara Adam dan Sakti tidak sekadar ulang tahun tetapi soal yang besar: polemic antara Soekarno dan Mochtar Lubis.

Pers bebas tampaknya mulai dikekang Soekarno. Di era Belanda, sesungguhnya pers sangat bebas. Akan tetapi pers yang melanggar akan dituntut dengan dalih delik pers, Sang penguasa memanipulasi undang-undang yang ada untuk membungkam seorang wartawan maupun medianya. Wartawan yang paling banyak terkena jaring delik pers ini adalah Parada Harahap, lebih dari seratus kali dipanggil ke meja hijau dan belasan kali dijebloskan ke penjara. Rupanya di era kemerdekaan ini, kebebasa pers juga mulai diganggu oleh pemerintah. Dalih pemerintah adalah melindungi hak-hak azasi manusia. Lantas para jurnalistik bereaksi dan melakukan demonstrasi.   

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-08-1953: ‘Para wartawan memprotes, soal kebebasan pers dan perlindungan hak asasi manusia. Pada demonstrasi, seperti yang sudah dilaporkan kemarin, wartawan Indonesia yang diadakan dalam aksi mereka untuk perlindungan sumber berita. Dalam demo ini yang berpartisipasi dalam PWI adalah reporter, klub, SPS dan organisasi mahasiswa akademi untuk jurnalisme. Ketua panitia aksi demonstrasi adalah  Mochtar Lubis. Dalam dialog dengan pemerintah saat demo ini, Mochtar Lubis kemudian mengucapkan terima kasih kepada Jaksa Agung yang telah mendengar aspirasi mereka’.

Hanya sedikit orang yang konsisten dengan prinsipnya dan hanya beberapa koran yang mengusung kebenaran. Diantara yang sedikit itu Indonesia Raya dan sosok Mochtar Lubis yang paling terdepan. Koran dan pimpinannya sebangun: Mochtar Lubis adalah Indonesia Raya, dan Indonesia Raya adalah Mochtar Lubis.

De nieuwsgier, 03-01-1955: ‘Pada tanggal 29 Desember, Indonesia Raya genap lima tahun dan itu adalah fakta yang menyenangkan. Dalam dunia surat kabar, Indonesia Raya Indonesia menempati tempat yang unik. Kebanyakan surat kabar di sini, jika tidak berfiliasi partai dalam arti sempit, atau menjadi bagian dari golongan tertentu. Dalam lagu pertama Indonesia Raya ditulis antara lain bahwa koran itu akan tetap jauh dari satu sisi pelaporan yang yang menyenangkan tetapi merugikan yang lain. Hal ini ingin mendidik masyarakat untuk berpikir jernih. Terhadap tindakan tidak adil dan tidak tepat dari mereka juga datang, bagaimanapun, akan praktek-praktek ini. Kami tidak akan ragu-ragu untuk mengusir apa yang salah dan berbahaya, kami mendukung apa yang harus didukung dan benar dipertimbangkan untuk kebaikan bersama. Mudah untuk menulis hal seperti itu, tetapi sulit untuk diterapkan. Ini adalah keutamaan Indonesia Raya di bawah pimpinan energik, Mochtar Lubis, bahwa selalu berpegang motto ini; ancaman dan intimidasi diabaikan. Indonesia Raya dalam ketidakadilan berpikir, melihat, bahkan menyerang, secara terbuka dan keras. Sekarang Indonesia Raya melakukan oposisi terhadap pemerintah saat ini. Ia melakukannya karena percaya bahwa pemerintah ini terlalu sedikit yang mengoreksinya, dan menulis di editorial. Jika pemerintah berikutnya, tidak peduli siapa yang benar yang akan melakukan sesuai dengan prinsip Indonesia Raya. Dan itulah tradisi bahwa Indonesia Raya dengan beberapa surat kabar terbaik di dunia memiliki kesamaan. Selamat berdjoang, Indonesia Raya’.

Yang paling ditakutkan oleh koran adalah pembreidelan dan yang paling ditakutkan oleh seorang editor adalah ditangkap lalu dipenjara. Mochtar Lubis tidak takut dipenjara, dan Indonesia Raya tidak takut dibreidel. Misi keduanya adalah kebenaran dan mengentaskan ketidakadilan. Inilah ciri-ciri editor dan koran yang benar-benar koran kelas dunia.

Mochtar Lubis mengungkap skandal korupsi lalu diinterogasi militer (De nieuwsgier, 22-08-1956). Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Adam Malik dan Suwardi Tasrif  berangkat ke Belanda dalam pertemuan pers bilateral, tetapi militer memerintahkan pulang (De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 25-09-1956).

Mochtar Lubis tidak bisa ditekan, dan terus berjalan apa adanya sesuai misi pers Indonesia. Mochtar Lubis bahkan mengabaikan panggilan pulang dari anak-anak buah Mayjen Abdul Haris Nasoetion. Sebaliknya, anak-anak buah Parada Harahap di Java Bode terus menginformasikan sepak terjang Mochtar Lubis ini. Mungkin, Parada Harahap yang berada di sisi pemerintahan tetap menganut prinsip bahwa sesama insan pers Indonesia harus saling memperkuat. Parada Harahap adalah orang pertama yang menyuarakan kebebasan pers dan menulis buku berjudul Kebebasan Pers (lihat De vrije pers : ochtendbulletin, 04-02-1950).

Mochtar Lubis diadili, Sakti Alamsyah turut hadir
Mochtar Lubis dituntut. SPS dan PWI bereaksi membentuk komite aksi (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 22-10-1956). Mochtar Lubis di pengadilan, dihadiri banyak massa tetapi ditunda karena tidak didampingi pembela (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-10-1956). Mochtar Lubis didampingi pengacara mantan menteri kehakiman dari kabinet Mr. Burhanuddin Harahap (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-11-1956).

Kasus Mochtar Lubis ini adalah pengadilan terbesar di era kemerdakaan. Tidak hanya prosesnya lama (beberapa kali ditunda), juga melibatkan banyak saksi, seperti: Kolonel Kawilarang, Lic Hok Thay, Piet de Queljoe, Letkol. Prajogo. Generaal-Majoor Nasution, Mr. Moh. Roem en adj.hoofdkommissaris Saud Wirjasendjaja. Dalam persidangan itu sendiri terjadi perdebatan sengit antara pembela di satu sisi dan Jaksa dan hakim di sisi lain. Namun yang menarik adalah ketika hakim mengaitkan artikel Mochtar Lubis (lihat edisi 14 Agustus 1955 dan edisi 6 September 1955). Mochtar menjawab, tidak ada permusuhan dengan Nasution, karena kami adalah kawan lama yang baik, kata Mochtar Lubis.

Ini mengindikasikan bahwa Mochtar Lubis hanya menyerang Soekarno (bukan militer atau Abdul Haris Nasution). Mochtar Lubis hanya berjuang untuk kebebasan pers yang mulai dikekang Soekarno dan tidak begitu siapa yang menangkapnya apakah itu militer atau bukan.

Pikiran Rakyat lalu disita militer karena menuding militer sebagai pendukung regim yang memerintah. Hal ini menyebabkan PR tidak beroperasi lagi para pegawai dan wartawan kehilangan pekerjaan.

Singkat kata: Indonesia Raya dibreidel. Lalu kemudian terjadi peristiwa G 30 S/PKI dan peralihan kekuasaan dari Orde Lama (Soekarno) ke Orde Baru (Soeharto).

Orde Lama vs Orde Baru

Angkatan Darat melihat ini sebagai peluang lalu meminta para kru Pikiran Rakyat untuk menerbitkan surat kabar Angkatan Bersenjata (mulai 24 Maret 1966).

Lalu kemudian Sakti Alamsjah dengan Atang Ruswita memimpin kawan-kawan mereka eks kru Pikiran Rakyat mendirikan surat kabar baru tetapi dengan nama lama: Pikiran Rakyat. Sakti Alamsjah sebagai pemimpin umum dan Atang Ruswita sebagai pemimpin redaksi.

Setelah setahun kemudian Pikiran Rakyat sejak 24 Maret 1967 terbit dengan motto: ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat’. Pikiran Rakyat di bawah pimpinan Sakti Alamsyah berada dalam track baru di awal orde baru.

Tiga pendiri orde baru: Suharto, Adam Malik dan Hamengkubuwono. Adam kembali ketemu Sakti Alamsyah. Mochtar Lubis kembali bernafas dan menerbitkan kembali surat kabar Indonesia Raya yang sebelum dibreidel sudah mengusung motto ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat’. Sakti Alamsyah dengan Pikiran Rakyat juga mulai mendapat ‘angin’. Sohib mereka yang secara teknis mentor politik mereka Adam Malik sudah berada di jajaran pemerintahan Orde Baru.

Dari Pikiran Rakjat ke Pikiran Rakyat

Dalam fase awal manajemen baru Pikiran Rakyat (Sakti Alamsyah dan Atang Ruswita) motto surat kabar Pikiran Rakyat berubah dari  dari ‘Mengadjak Pembatja Berfikir Kritis’ menjadi ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat’. Pemberiaan motto baru Pikiran Rakyat yang persis sama dengan surat kabar Indonesia Raya, yakni ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat’. Hal ini tidak lazim, dan tidak boleh kecuali diperbolehkan yang satu terhadap yang lainnya.

Dua surat kabar yang berbeda nama berbeda tempat juga pernah memiliki motto yang sama, yakni: ‘Oentoek Sagala Bangsa’. Surat kabar yang pertama menggunakan motto ini adalah surat kabar Pertja Barat di Padang selepas surat kabar itu diakuisisi oleh Dja Endar Moeda tahun 1900. Dja Endar Moeda adalah editor surat kabar tersebut sejak 1897 (editor pribumi pertama). Surat kabar lainnya yang menggunakan motto ‘Oentoek Sagala Bangsa’ adalah surat kabar Pewarta Deli yang terbit di Medan pada tahun 1909. Surat kabar ini pendiri dan editornya Dja Endar Moeda. Parada Harahap pernah menjadi editor Pewarta Deli, setelah surat kabar Benih Merdeka dibreidel di Medan tahun 1918 dimana Parada Harahap. Pada tahun 1919, Parada Harahap pulang kampong di Padang Sidempuan dan mendirikan dan bertindak sebagai editor surat kabar Sinar Merdeka. Selain memimpin dan editor surat kabar Sinar Merdeka, Parada Harahap juga merangkap editor surat kabar Poestaha yang diterbitkan tahun 1915 (oleh Soetan Casajangan, guru di sekolah radja di Fort de Kock (kini Bukittinggi). Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan dan Parada Harahap, ketiganya sama-sama kelahiran Padang Sidempuan.

Pemimpin surat kabar Indonesia Raya adalah Mochtar Lubis. Sedangkan surat kabar yang baru dan diterbitkan di Bandoeng, Pikiran Rakyat pemimpin dan editor Sakti Alamsjah. Hubungan dekat (sohib) antara Mochtar Lubis dan Sakti Alamsjah (yang seumuran) menjadi faktor penting di belakang motto dua surat kabar ini sama: Indonesia Raya di Jakarta dan Pikiran Rakyat di Bandung.

Radio Bandoeng di Malabar
Kisah dua sohib ini tidak hanya sekadar pernah sama-sama bekerja di radio militer Jepang dengan Adam Malik. Pada hari Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 ketiganya memiliki peran yang khusus. Teks Proklamasi disiarkan di radio Bandoeng (Malabar) oleh Sakti Alamsyah yang dibawa oleh Mochtar Lubis setelah mendapat salinannya dari Adam Malik. Persahabatan yang telah lama dijalin antara Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah inilah yang memungkinkan satu sama lain memiliki motto yang sama.  

Singkat kata: setelah Orde Baru mulai normal, Indonesia Raya dan Pikiran Rakyat Bandung mulai nyaman. Adam Malik yang telah Menteri Luar Negeri sumringah melihat teman-teman lama seperjuangan sudah berhasil di surat kabar masing-masing: Mochtar Lubis di Indonesia Raya di Jakarta dan Sakti Alamsyah di Pikiran Rakyat di Jakarta. Demikian juga sebaliknya: Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah terus bekerja giat di bidang pers.

Parada Harahap telah lama tiada. Parada Harahap meninggal tahun 1959. Parada Harahap tidak bisa melihat adik-adiknya (Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah) yang tengah berada di puncak kejayaan masing-masing. Namun demikian, pada tahun 1957 Parada Harahap masih sempat melihat wisuda putrinya lulus sekolah hukum di Universitas Indonesia, meraih gelar sarjana hukum, perempuan pertama orang Batak bergelar sarjana hukum.

Pikiran Rakyat Hingga Sekarang

Sakti Alamsyah adalah tokoh di belakang layar, yang jika sendiri lebih suka memainkan berbagai alat musik daripada tebar pesona. Sakti Alamsyah karakternya sangat keras seperti Parada Harahap dan Amir Sjarifoeddin tetapi jika sudah bersentuhan dengan seni hatinya menjadi lembut dan jika sudah bertemu dengan keluarga atau kerabatnya dari kampong hatinya luluh dan tampak seakan menangis (karena mungkin merantau dan nyaris tidak pernah pulang kampong). Saya memiliki hubungan emosional dengan beliau.

Saya pernah bertemu dengan beliau, yang saya panggil ‘Tulang’ (uncle) pada tahun 1982 di rumahnya di Bandoeng. Besoknya ketemu lagi di kantornya di Pikiran Rakyat. Saat itu saya masih SMA kelas-2 dan kebetulan lagi ikut Raimuna (pramuka) di Cibubur. Saya dijemput dan diantar paman saya (adik ayah saya) yang sudah lama tinggal di Sukabumi. Diantara pertemuan itu Tulang Sakti menggoda saya: ‘mau bere jadi wartawan?’. ‘terimakasih, tidak tulang, saya nanti bermaksud ingin menjadi insinyur’. Oooh, iya, iya tahun depan tamat SMA ke sini saja’ (maksudnya ITB). ‘Mudah-mudahan tulang’. Ketika bermimpi melanjutkan sekolah ke Jawa, saya membaca surat kabar di warung dekat rumah bahwa Sakti Alamsyah, pemimpin umum Pikiran Rakyat meninggal dunia di Samarinda (dalam tugas). Saya buru-buru ke rumah menemui ayah saya. Lalu ayah saya mengajak saya ke rumah uwak (abang ayah saya) di RT lain untuk menyampaikan berita itu. Istri uwak saya adalah kakak kandung Sakti Alamsyah. Malamnya kami semua yang berkerabat di lingkungan itu membacakan Surat Yasin. Di rumah, saya mengambil dua figura dari dinding, lalu membersihkannya (walau sebenarnya tetap bersih). Figura pertama Sakti Alamsyah bersama istri dan anak-anak. Figura kedua, Sakti Alamsyah berada ditengah bersama kakaknya dan diapit oleh ayah dan uwak saya. Foto tersebut dibawa dari Bandoeng tahun 1977, ketika Tulang Sakti mengundang mereka bertiga, sekaligus ayah dan uwak saya mengunjungi adik mereka di Sukabumi yang belum pernah sekalipun pulang kampong sejak merantau tahun 1950. Hanya sekali saya bertemu dengan Sakti Alamsyah, tetapi ketika saya masih kanak-kanan (SD) saya kerap ke rumah orangtua Sakti Alamsyah di kampong Parau Sorat di Sipirok jika musim libur. Uwak saya tidak memiliki anak, karena itu saya juga selalu diajak jika ke Parau Sorat bertepatan dengan libur sekolah.  

Dua tokoh utama Pikiran Rakyat kini telah tiada. Sakti Alamsjah meninggal dunia tahun 1983 dan Atang Ruswita meninggal tahun 2003. Kini, Pikiran Rakyat di bawah kepemimpinan anak-anak mereka dibawah pimpinan Perdana Alamsyah.

Sejak diakuinya wartawan pribumi dalam pers Hindia Belanda (1897) hingga pers Indonesia Merdeka (pasca kemerdekaan) wartawan asal Padang Sidempoean selalu berada dalam top performance dan berada di peringkat teratas pada setiap periode (era): De Pionier adalah Dja Endar Moeda (mulai 1897), kemudian disusul The King of Java Press, Parada Harahap (mulai 1917) dan pada berikutnya adalah The Last of the Mohicans of Indonesian Journalism, Mochtar Lubis (1945). Tiga wartawan pribumi asal Padang Sidempoean ini tidak tertandingi pada setiap eranya masing-masing. Itu good newsnya. Karena itu, kepada ketiga wartawan ini seharusnya mendapatkan pernghargaan yang pantas. Namun kenyataannnya tidak satu pun dari mereka yang menerima perhargaan yang sepatutnya dari Negara. Itu bad newsnya. Bahkan, Mochtar Lubis yang dapat dianggap sebagai The Musketeer in International Press hanya menerima penghargaan dari Negara sebatas diberi hadiah penjara. Itu saja, lain tidak!

Sakti Alamsyah sebagai pendiri surat kabar Bandoeng Pikiran Rakyat telah membuka jalan bagi putra-putra Bandoeng untuk berkiprah di bidang jurnalistik di kampong sendiri. Atang Ruswita adalah orang pertama putra Bandung yang menjadi tokoh pers di Bandoeng. Sakti Alamsyah yang berasal dari kampong Parau Sorat, Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan yang pusaranya mendapat tempat di Makam Pahlawan Kota Bandoeng dengan sendirinya Sakti Alamsyah harus dipandang sebagai Urang Bandoeng dan Pahlawan Bandoeng.  

Selamat Hari Pers Nasional. Merdeka!


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.
Lihat juga:
Mochtar Lubis: The Musketeer in International Press; Penghargaan yang Diterima dari Negara Hanya Sebatas Penjara
Bapak Pers Indonesia: Dja Endar Moeda, Kakek Pers Nasional dan Parada Harahap, Cucu Pers Nasional


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar