Laman

Rabu, 01 Maret 2017

Sejarah Bandung (35): Sungai Cikapundung, Air Mengalir Dari Curug Dago Sampai Dayeuh Kolot; Riwayatmu Kini

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Curug Dago, Lukisan Groneman 1860
Sungai Tjikapoendong adalah sungai terbesar di Kota Bandoeng yang mengalir dari utara ke selatan. Batas paling utara dari sungai Tjikapoendong adalah Tjoeroeg Dago dan batas paling selatan dari sungai Tjakopendoeng adalah Kampong Dajeuh Kolot.

Kota Bandoeng dalam hal ini adalah kota yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1829 ketika kali pertama Controleur ditempatkan di Bandoeng. Lalu dalam perkembangannya, sejak 1946, ketika Asisten Residen Bandoeng ditempatkan, kota Bandoeng berkembang semakin pesat. Saat itu, sungai Tjikapoendoeng sebagai sungai terbesar di Kota Bandoeng masih tampak deras, jernih dan indah. Sungai Tjikapoendoeng saat itu airnya disodet di hulu dengan membangun kanal-kanal untuk mengairi perkebunan dan persawahan yang dikerjakan oleh penduduk di bawah arahan Bupati Bandoeng.

Sungai Cikapundung dari Curug Dago hingga Dayeuh Kolot

Jembatan Bambu di atas sungai Tjikapoendoeng di Tjitjendo
Pada tahun 1929 di atas sungai Tjikapoendoeng dibangun jembatan permanen yang merupakan bagian dari proses pembangunan jalan pos trans-Java yang baru (jalan ini kelak menjadi Groote post weg dan kini menjadi Jalan Asia Afrika dan Jalan Jend. Sudirman). Di hulu maupun di hilir jembatan pos trans-Java beberapa jembatan yang terbuat dari bahan bamboo dibangun penduduk . Salah satu jembatan bamboo tersebut yang cukup terkenal terdapat di desa Tjitjendo. Pada tahun 1896 pemerintah membangun jembatan ini dengan jembatan kayu (kini jembatan di atas sungai Tjikapoendoeng, ruas jalan Suniaraja).

Kampong Dajeuh Kolot, Lukisan Groneman 1860
Pada saat controleur sudah beribukota di jalan pos trans-Java (sisi timur sungai Tjikapoendong) yang kelak menjadi Bandoeng (baru), Bupati Bandoeng masih berkedudukan (ibukota) di Bandoeng (lama). Ibukota Bandoeng (lama) baru pindah ke Bandoeng (baru) pada tahun 1846. Sejak perpindahan bupati inilah nama Bandoeng (lama) disebut Dajeuh Kolot. Seorang dokter yang ditempatkan di Bandoeng bernama Groneman mangabadikan kampong Dajeuh Kolot ini pada tahun 1860 dalam sebuah lukisan. Lukisan lain yang diabadikannya adalah Tjoeroeg Dago. Ini dengan sendirinya, Groneman telah mengabadikan sungai Tjikapoendoeng baik di hulu maupun di hilir.

Peta Bandoeng, 1920
Kota Bandoeng yang sekarang, sesungguhnya di arah utara lebih kering, tetapi di arah selatan hingga ke sungai Tjitaroem lebih basah. Area-area yang basah ini banyak terdapat rawa-rawa. Sejak pembangunan jalan pos trans-Java yang baru (1929), area-area yang basah ini secara bertahap dikeringkan dengan pembuatan drainase dan kanal-kanal sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan kota Bandoeng. Salah satu kanal yang dibuat dengan menyodet sungai Tjikapoendoeng adalah sungai yang melalui Pieters Park (kini Taman Balai Kota). Peta Bandoeng 1920

Satu lagi lukisan abadi Groneman adalah lanskap cekungan Bandoeng yang dilihat dari rumahnya di Tjioemboeloeit di lereng gunung Tangkoeban Prahoe. Lanskap cekungan  Bandoeng tampak di selatan gunung Malabar. Dalam lukisan ini terlihat di tengah cekungan beberapa titik bangunan yang diduga sebagai kota Bandoeng. Kampong Dajeuh Kolot sendiri berada di selatan di lerang gunung Malabar.

Sungai Cikapundung Riwayatmu Kini

Taman Pieters Park, 1901
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kota dan perluasan perkebunan di Bandoeng utara, penggundulan hutan juga sering terjadi. Akibatnya debit air sungai Tjikapoendoeng makin lama makin kecil. Pada masa kini debit air sungai Tjikapoendoeng semakin menyusut seakan menjadi selokan tempat muara dari pembuangan limbah rumah tangga dan industri. Foto kanal di Pieter Park 1901

Lagu Bengawan Solo adalah juga representasi sungai-sungai yang berada di kota-kota besar, juga termasuk sungai Tjikapoendoeng di Bandoeng. Coba renungkan lirik lagu Bengawan Solo untuk membayangkan sungai Tjikapoendoeng di masa lampau.
Bengawan Solo..
Rihwayatmu ini
Sedari dulu jadi perhatian insani
Musim kemarau
Tak s'brapa airmu
Di musim hujan air meluap sampai jauh
Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut
Itu perahu
Rihwayatmu dulu
Kalau pendatang s'lalu naik itu perahu
Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut
Itu perahu
Rihwayatmu dulu
Kalau pendatang s'lalu naik itu perahu


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar