Laman

Senin, 10 April 2017

Sejarah Kota Padang (10): Soetan Iskandar, Regent van Padang; Marah Oejoep, Regent Terakhir (Padang Menjadi Gemeente)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Sumatra’s Westkust adalah satu-satunya yang berstatus provinsi di Sumatra. Ibukota Province Sumatra’s Westkust adalah Kota Padang dimana Gubernur sejak 1834 berkedudukan. Dalam fase permulaan provinsi ini, Province Sumatra’s Westkust memiliki tiga residentie: Padangsche Benelanden, Padangsche Bovenlanden dan Bengcoelen. Satu residentie yang sudah terbentuk lama adalah Residentie Palembang en Banca (termasuk Lampong).

Rumah pemimpin lokal di Padang (1870)
Hingga tahun 1827 Pemerintah Hindia Belanda yang beribukota di Batavia baru tiga afdeeling: Batavia, Semarang dan Soerabaja. Struktur Pemerintah Hindia Belanda masih tampak sederhana. Meski demikian, sejak 1815 dua Residen sudah ditempatkan di luar Jawa yakni di Palembang en Banca dan Banjermasin. Satu Asisten Residen di Macassar (Almanak 1815). Pada tahun 1829 Wilayah Sumatra’s Westkust masih disebut Padang en Onderhoorigheden yang dikepalai oleh seorang Residen (sejak 1822, Residen pertama, Kolonel Raff) dengan dibantu tiga asisten residen: Asisten Residen van Padang (di Padang), Asisten Residen Zuidelijke Afdeeling (di Indrapoera) dan Asisten Residen di Bengkulu. Pada tahun 1830 dibentuk Residentie Sumatra’s Westkust dengan memisahkan sendiri Bengkulu sebagai sebuah Residentie. Sementara Residen di Residentie Sumatra’s Westkust dibantu dua asisten residen di Padangsche Benelanden dan di Padangsche Bovenlanden. Pada tahun 1834 dibentuk Province Sumatra’s Westkust yang dibantu tiga residen (Padangsche Benelanden, Padangsche Bovenlanden dan Bengkoelen).

Gubernur Province Sumatra’s Westkust yang pertama (1834) adalah Kolonel AV Michiels. Di jajaran pemerintahan di Province Sumatra’s Westkust posisi pemimpin lokal tertinggi adalah Soetan Iskandar sebagai Resident van Padang. Jabatan ini sebelumnya dipegang oleh Soetan Mansoer Alam Shah (tokoh yang dikaitkan dengan aristokrasi Pagarroejoeng). Untuk regent van Pagarroejoeng dipegang oleh Soetan Alam Bagagar Shah (yang diangkat Belanda untuk menggantikan Moening Shah, radja terakhir Pagarroejoeng). Pemerintah Hindia Belanda sendiri di Batavia akan copy paste system pemerintahan lokal yang sudah berhasil diterapkan di Preanger (Preanger Regentshappen yang dikoordinasikan oleh regent van Bandoeng sebagai hoofd regent).

Pada tahun 1832 Regent van Padang ditiadakan,  sementara Soetan Ahamd Shah diangkat sebagai Regent van Indrapoera. Sebagai pengganti regent van Padang diangkat Toeankoe Panglima dan Toeankoe Bandahara. Yang diangkat sebagai Toeankoe Panglima adalah Marah Indra sedang Toeankoe Bandahara adalah Soetan Iskandar. Penghilangan fungsi Regent van Padang ini diduga terkait dengan eskalasi politik yang terus berkembang di Padangsch Bevenlanden (di bawah regent van Pagarroekoeng, Soetan Alam Bagagar Shah). Pada tahun 1833, fungsi regent van Pagarroejoeng dihilangkan karena Soetan Alam Bagagar Shah diduga tidak koperatif terhadap pemerintah.

Dengan diangkatnya Soetan Iskandar sebagai Regent van Padang berarti Soetan Iskandar mengalami promosi dari Toeankoe Bandahara menjadi Toeankoe Panglima sekaligus Regent van Padang (yang difungsikan kembali). Sedangkan Toeankoe Panglima yang sebelumnya Marah Indra diberhentikan, Untuk Toenkoe Bandahara diangkat orang yang lain.

Soetan Iskandar, Regent van Padang

Siapa Soetan Iskandar tidak terlalu jelas. Soetan Iskandar adalah tokoh pribumi yang terpenting, individu yang ditokohkan oleh Pemerintahan Hindia Belanda sebagaimana nantinya di tempat lain, seperti di Deli, Sultan Amaluddin Mangendar dan di Preanger, Bupati Bandoeng Raden Adipati Nata Koesoema.

Jabatan Regent di Padang ini, yang telah menggantikan kedudukan Radja dari Pagarroejoeng diperlukan Belanda untuk menjadi partner dalam memulai menjalankan sistem pemerintahan yang baru. Perubahan struktur pemerintahan lokal di Padang ini dianggap telah kondusif bagi Belanda untuk memulai babak baru praktek kolonial.

Besluit, Augustus 1843, No.39
Peran Soetan Iskandar tidak begitu jelas dan tidak terinformasikan. Padahal Soetan Iskandar sudah menjabat sebagai Hoofd Regent yang berkedudukan di Kota Padang. Di satu sisi, Soetan Iskandar yang ditokohkan menjadi hoofd regent dan di sisi lain pemimpin lokal dari kalangan aristokrasi (Pagaroejoeng) secara perlahan dihilangkan dalam struktur pemerintah di Province Sumatra’s Westkust. Regent van Padang hanya semata-mata menjadi ‘alat’ pemerintah colonial saja (bandingkan dengan Regent van Bandoeng dan Soeltan van Deli). Regent van Padang dalam fungsi sehari-hari menjalankan fungsi pemerintahan (lihat Besluit van den Vice President, waarnemenden Gouberneur Generaal van Nederlandsch Indie, van den Augustus 1843, No.39).

Soetan Iskandar cukup lama untuk memegang jabatan Regent van Padang. Sementara regent yang lain sudah sejak lama dihapus seperti di Pagarroejoeng, Pariaman dan Indrapoera. Posisi regent van Padang masih dijabat Soetan Iskandar saat Gubernur AV Michiels diganti dengan gubernur baru pada tahun 1849.

Soetan Iskandar sebagai Regent van Padang masih tetap eksis ketika tahun 1865 di Sumatra’s Oostkust, Sultan Deli diangkat sebagai bagian dari pemerintahan. Usia jabatan Soetan Iskandar hampir setua Regent van Bandoeng yang bermula tahun 1829 dan masih eksis hingga sekarang. Bedanya, Regent van Bandoeng Raden Adipati Nata Koesoema Hoofd Regent Preanger yang secara teknis ‘membawahi’ tiga regent yang lain (Tjiandjoer, Sumadang dan Garoet/Soekapoera). Sultan Deli dan Regent van Bandoeng masih terlihat perannya yang cukup besar sebagai partner pemerintah.

Administrasi Province Sumatra’s Westkust

Pada tahun 1865, Sumatra’s Westkust sebagai satu-satunya provinsi di luar Jawa, seiring dengan pembentukan pemerintah di Sumatra’s Oostkust (yang beribukota Bengkalis) terjadi perubahan struktur administrasi wilayah dan sistem pemerintahan.

Pada tahun 1840 Residentie Bengkoelen dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust. Sebagai pengantinya dibentuk Residentie Air Bangies (termasuk afdeeling Natal dan afdeeling Mandailing en Ankola) dan kemudian disusul dibentuknya Residentie Tapanoeli. Namun pada tahun 1845 Residentie Air Bangies dihapus yang mana Afddeling Mandailing en Ankola yang disusul kemudian afdeeling Natal dimasukkan ke Residentie Tapanoeli. Sementara afdeeling Rao dimasukkan ke Residentie Padangsche Bovenlanden (kemudian dimasukkan ke Residentie Padangsche Benelanden). Sedangkan afdeeling Air Bangies dimasukkan ke Residentie Padangsche Benelanden. Sejak itu, Province Sumatra’s Westkust tidak berubah lagi hingga waktu yang lama (hingga nanti 1905) yang terdiri dari tiga residentie: Padangsche Benelanden, Padangsche Bovenlanden dan Tapanoeli. Yang terjadi adalah pemekaran atau penggabungan pada wilayah-wilayah yang lebih rendah.

Berdasarkan Staatsblad No. 104 Tahun 1864, Province Sumatra’s Westkust yang terdiri dari tiga residentie: Padangsche Benelanden, Padangsche Bovenlanden dan Tapanoeli, secara administratif adalah sebagai berikut:

Residentie Padangsche Benedenlanden terdiri dari empat afdeeling; Рadang, Ajer Bangis en Rau, Príaman dan Раinan (Air Hadji). Residentie Padangsche Bovenlanden terdiri dari lima afdeeling: Again., Tanah Datar, Limapoeloeh Kota, XIII en IX Kоta, dan Batipoe en Х Коta. Residentie Tapanoeli terdiri dari tiga afdeeling: Sibolga en ommelanden, Mandailing en Angkola, dan Natal.

Afdeeling Padang en Ommelanden terdiri dari dua onder-afdeeling, yakni: Hoofdplaats Padang yang meliputi Mentawai-eilanden (Si Beroet, Si Parah, Noord Paggi, Zuid Paggi dan kleine of Kasau-eilanden); dan Ommelanden van Padang yang meliputi district Pau V, Pau 1X, Nanggalo. Kota Tengah, Boengoes, Loeboe Kilangan, Limou Manis dan Kasau.

Di Ajer Bangies en Rao dibagi ke dalam empat onderafdeeling yang masing-masing dibagi ke dalam beberapa laras. Pariaman terdiri tiga onderafdeling yang masing-masing terdiri dari sejumlah laras. Раinan terdiri empat distrikten, Air Hadji dibagi ke dalam tujuh nagari dan Indrapoera ke dalam empat lanschappen. Dengan perbedaan jenis administrasi, sistem pemerintahan yang ada juga berbeda-beda. Catatan: Di Padangsche Bovenlanden dibagi ke dalam beberapa onderafdeeling yang masing-masing terdiri dari sejumlah laras. Sedangkan di Tapanoeli dibagi ke dalam beberapa onderafdeeling yang masing-masing terdiri dari sejumlah koeria (setingkat distrikt).

Residentie Padangsche Benedenlanden yang terdiri dari empat afdeeling hanya dipimpin masing-masing oleh seorang Asisten Residen, Secara teknis Province Sumatra’s Westkust hanya terdapat dua Resident (di Sibolga dan di Fort de Kock).

Suksesi Soetan Iskandar

Di Afdeeling Padang en Ommelanden, Asisten Residen langsung memimpin di onder afdeeling Hoofdplaats Padang, sedangkan di onder afdeeling Ommelanden van Padang dipimpin oleh seorang Controleur. Asisten Residen sendiri membawahi Controleur.

Oleh karena Kota Padang adalah kota melting pot (dan daerah-daerah sekitarnya) yang terdiri dari beragam suku bangsa, Asisten Residen yang dibantu Controleur juga didampingi pemimpin lokal yakni Regent van Padang, yang dalam hal ini Soetan Iskandar. Sementara untuk warga lainnya, Asisten Residen dibantu oleh Kapitein dan Letnan Chinezen, serta Kapitein dan Letnan dari warga lainnya. Yang menjadi Kapitein warga lainnya adalah Dr. Dorie.

Dr. Dorie adalah alumni Docter Djawa School. Dia terdaftar sebagai mahasiswa Docter Djawa School tahun 1856. Dr. Dorie berasal dari Afdeeling Mandailing en Angkola (Residentie Tapanoeli). Sedangkan Kapitein Chinezen adalah Lie Saai dan Letnan Chinezen adalah Lie Goe. Mereka diangkat pada tahun 1860. Satu-satunya pejabat pribumi yang teridentifikasi adalah Mas Wongso Prawiro sebagai Opziener di Paoeh (perbatasan antara Padang dan Padangsch Bovenlanden).

Soetan Iskandar sebagai Regent van Padang baru diganti pada tanggal 16 Agustus 1868. Ini berarti Soetan Iskandar di posisinya telah berlangsung selama 34 tahun (suatu waktu yang sangat lama). Sebagai pengganti Toeankoe Panglima yang merangkap Regent van Padang adalah Mara Indra. Sebagaimana diketahui, nama yang mirip Mara Indra di tahun 1832 adalah bosnya Soetan Iskandar. Saat itu Soetan Iskandar adalah Toeankoe Bandahara.

Marah Indra yang sudah sepuh tidak berumur panjang lagi. Marah Indra meninggal tahun 1875 (setelah menjabat sebagai Toeankoe Panglima Regent van Padang selama tujuh tahun). Lalu kemudian penggantinya diangkat pada tahun 1876 yakni Marah Oejoep. Pengangkatan Marah Oejoep sebagai Regent van Padang yang baru dilaporkan oleh surat kabar Sumatra courant.

Sumatra-courant, 22-03-1876
Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 22-03-1876: ‘Hari ini pagi, baru diangkat menjadi Regent Padang,  Toeankoe Mara Oejoep dipasang seperti itu. Dia adalah, setelah pengusiran Atchineezen dari  Padang pada abad ke-17, Panglima ke-23, yang menempati kursi Regent. Untuk mempersiapkan dirinya untuk tujuan ini, pukul setengah 9 bergabung hadir setiap pejabat sipil dan militer, dan warga lainnya dan sangat banyak pribumi, yang memenui ruang sidang Raad van Justitie. Setelah pembacaan Keputusan Pemerintah, Toeaukoe Mara Oejoep dinobatkan sebagai Padang’s Regent, Gubernur memberi klaim kepadanya seorang Melayu yang relevan untuk tugas itu dan mengungkapkan sungguh-sungguh ucapan selamat, memberi simbol martabat, pin emas dan tongkat komando. Kemudian regent yang baru diangkat pidato dimana ia menyatakan terima kasih atas panggilan dan kepercayaan yang diberikan oleh Pemerintah dan lalu memberi ucapan selamat kepada Toean Besar. Sementara dilakukan senjata ke  udara oleh militer yang membuat meraung di seputar  gedung dewan dan kemudian milisi pribumi mengarak yang dikelilingi oleh penjagaan setelah keluar ruangan yang selanjutnya menuju klub societeit’.

Regent van Padang Terakhir

Regent van Padang, Toeankoe Marah Oejoep adalah panglima ke-23 dari panglima van Padang sejak terjadinya pengusiran Atjeh dari Padang oleh Belanda pada pertengahan tahun 1600an. Sebagaimana, Soetan Iskandar yang menjabat regent van Padang selama 34 tahun, Marah Oejoep juga menjabat cukup lama yakni 34 tahun juga.

Sebagaimana diketahui pada tahun 1905 Residentie Tapanoeli dipisahkan dan berdiri sendiri sebagai Residentie otonom. Sedangkan Province Sumatra’s Westkust dilikuidasi menjadi setingkar Residentie. Sebagaimana di Jawa, Kota Padang diubah statusnya pada tahun 1906 sebagai Kota (Gemeente) yang akan dipimpin seorang Burgemeester (Walikota).

Dengan adanya Gemeenteraad (dewan kota) fungsi pemimpin tradisional semakin berkurang. Akhirnya jabatan Regent van Padang dihilangkan pada tahun 1910 dan Marah Oejoep dipensiunkan dengan hormat.

Jumlah pemangku jabatan Regent van Padang sesungguhnya hanya empat orang. Regent Padang yang pertama adalah Soetan Mansoer Alam Shah. Setelah sempat jabatan regent ditiadakan, kemudian regent van Padang difungsikan kembali pada tahun 1834 (ketika Province Sumatra’s Westkust dibentuk). Regent van Padang di era baru itu adalah Soetan Iskandar. Setelah menjabat selama 34 tahun, Soetan Iskandar digantikan oleh Marah Indra pada tahun 1868. Kemudian regent berikutnya adalah Marah Oejoep pada tahun 1876. Jabatan regent van Padang dijabat Marah Oejoep hingga tahun 1910 (selama 34 tahun). Sehubungan dengan perubahan struktur pemerintahan, jabatan regent van Padang dihapuskan dan Marah Oejoep diberhentikan dengan hormat sebagai regent van Padang yang terakhir. Dengan demikian hanya terdapat empat orang Regent van Padang: Soetan Mansoer Alam Shah, Soetan Iskandar, Marah Indra dan Marah Oejoep. Sejak Soetan Iskandar. Tiga Regent yang terakhir adalah merangkap sebagai Panglima.  


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar