Laman

Jumat, 26 Mei 2017

Sejarah Kota Padang (38): Riwayat Banjir di Kota Padang, Dari Tsunami hingga Banjir Kanal (Banda Bakali)

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Kota Padang, selain rawan gempa, sesungguhnya rawan banjir. Dampak gempa terbesar yang dialami Kota Padang akibat gempa adalah munculnya tsunami pada tahun 1797. Sedangkan banjir sendiri di Kota Padang dikhawatirkan dapat muncul kapan saja. Curah hujan yang tinggi dengan Kota Padang yang relatif datar, kapan saja bisa muncul banjir Bandang dari hulu yang memiliki kemeringan yang tajam. Kota Padang memiliki riwayat banjir yang cukup panjang.


Peta Kota Padang (kanal), 1929
Kota Padang pada tahun 2012 dan 2016 terjadi banjir besar: genangan air tinggi dan cakupan wilayah banjir sangat luas. Peristiwa itu begitu dekat, tapi sesungguhnya Kota Padang sendiri memiliki riwayat banjir yang cukup panjang. Kanalisasi (pembuatan kanal di Kota Padang) di era Belanda adalah upaya menangkal banjir. Namun mengapa banjir terus menghantui Kota Padang hingga kini?

Untuk memahami banjir di Kota Padang, mari kita telusuri riwayat banjir yang pernah terjadi di Kota Padang. Catatan banjir di Kota Padang sesungguhnya cukup tersedia, namun sejauh ini belum pernah dikompilasi. Upaya pengumpulan data banjir ini diperlukan untuk memahami pola-pola banjir di Kota Padang dan bagaimana solusi-solusi yang pernah diterapkan. Pola-pola banjir dan solusi yang pernah ada di masa lampau dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam perencanaan penanggulangan bahaya banjir di Kota Padang. Mari kita lacak!

 Warga Kota Padang Sumbang Korban Banjir di Belanda

Kota Padang mulai berkembang sejak kehadiran Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1819. Kota Padang saat itu masih di sekitar Moearo, hilir sungau Batang Arau. Luapan sungai saat terjadi hujan lebat maupun air kiriman dari hulu tidak sampai meluber ke pemukiman di sepanjang sisi kiri sungai. Dengan kata lain, Kota Padang awal perkembangannya tidak pernah dilaporkan adanya banjir.

Peristiwa tahun 1797 (era VOC) saat terjadi tsunami, kota Padang tersapu habis dengan munculnya terjangan air laut yang tingginya 5-10 meter. Peristiwa ini bukan banjir tetapi tsunami, yang menghancurkan kota Padang. Bagi penduduk kota Padang, kewaspadaan hanya tertuju pada tsunami, bukan banjir akibat hujan lebat dan luapan sungai Batang Arau.

Bahaya banjir justru sebaliknya kerap terjadi di Belanda (Moederland). Banjir di Belanda adalah momok, warga selalu was-was dan banjir terbilang suatu hal yang mengkhawatirkan. Banjir yang terjadi di Belanda tahun 1861 adalah banjir yang sangat besar. Banyak korban jiwa dan kerugian materi. Warga kota Padang turun prihatin dan dari kota Padang dikirimkan sumbangan oleh Schellenbach cs. Sebesar f650 dan manajemen muzijkgezelschap sebesar f1250. Sumbanga-sumbangan tersebut dikirim melalui Kementerian Dalam Negeri (Nederlandsche staatscourant, 24-10-1855). Total sumbangan dari seluruh Hindia Belanda sebesar f251.723 (Padangsch nieuws- en advertentie-blad, 04-05-1861).

Meski demikian, wilayah di sekitar kota Padang sesungguhnya kerap terjadi banjir. Oleh karena wilayah-wilayah yang terkena banjir terutama luapan sungai Batang Arau berada di luar kota, peristiwa banjir dianggap bukan persoalan. Wilayah-wilayah yang terkena banjir di luar kota tersebut, menyisakan genangan air dan terbentuknya rawa-rawa. Wilayah rawa-rawa tersebut, kini berubah menjadi bagian kota metropolitan Padang.

Warga/Penduduk Padang Menantang Banjir

Lanskap cikal bakal Kota Padang, 1890
Kota Padang terus berkembang. Awalnya kota berkembang ke timur di sisi barat sungai Batang Arau ke arah hulu. Dalam perkembangan lebih lanjut kota berkembang di sebelah barat sepanjang pantai menuju ke utara. Kota yang terus berkembang, kebutuhan lahan pemukiman semakin meningkat. Akibatnya muncul pemukiman-pemukiman baru di area belakang di dua koridor kota. Area baru pemukiman di Kota Padang ini merupakan garis diagonal dua koridor sehingga lanskap kota Padang seperti segitiga. Namun karena topografinya yang rendah, di area diagonal tersebut, di sani-sini terdapat rawa-rawa besar (dampak banjir dari masa ke masa). Oleh karenanya pemukiman penduduk berdampingan dengan rawa-rawa.

Sketsa Kota Padang, 1879
Pada fase ini, warga/penduduk Kota Padang seakan menantang banjir, rawa-rawa yang kerap terjadi banjir, yang sewaktu-waktu banjir meninggi sehingga menggenangi pemukiman penduduk. Saat itu, warga/penduduk Kota Padang yang mendiami area rawa-rawa tersebut adalah orang-orang pribumi yang terus berdatangan dari segala penjuru di Pantai Barat Sumatra, termasuk dari pedalaman di dataran tinggi yang pada akhirnya terbentuk kampong-kampung. Nama-nama kampong yang terbentuk seperti Kampong Berok, Kampong Nipah, Kampong Seblah, Poeloe Ambatjang, Goeroen, Pondok dan sebagainya.

Kanalisasi di Kota Padang

Pada tahun 1850an Kota Padang yang masih terkonsentrasi di sepanjang sisi barat sungai Batang Arau mulai merasakan perlunya pengembangan pemukiman Eropa/Belanda. Jumlah orang Eropa.Belanda semakin banyak lalu membutuhkan lahan baru peruntukan bangunan (rumah dan bangunan lainnya). Sejumlah pemukiman penduduk pribumi mulai digusur terutama di area yang menjadi kampong Nipah. Ini dengan sendirinya area orang-orang Eropa/Belanda semakin meluas ke belakang sisi barat sungai Batang Arau.

Area orang-orang Eriopa/Belanda ini mulai dikeringkan dengan meningkatkan sistem drainase yakni membuat kanal besar. Pembuatan kanal ini tampaknya untuk dua fungsi: yang pertama untuk sistem drainase untuk penampungan/pengaliran air ke laut; fungsi yang kedua adalah untuk memisahkan pemukiman orang-orang Eropa/Belanda dengan penduduk pribumi.

Kota Padang sebagai ibukota Province Sumatra’s Westkust, wilayah provinsi di sisi pantai mulai dari Moko-moko hingga Singkel dan dari pulau-pulau hingga ke pedalaman, arus penduduk (urbanisasi) terus mengalir, akibatnya perkembangan kota menjadi tidak pernah berhenti. Pemerintah lambat laun mulai merasakan permasalahan social dan spasial. Semakin banyak penduduk, semakin banyak pula penduduk yang berada di area pemukiman yang tidak layak (rawa-rawa) yang kerap banjir.

Residen/Asisten Residen Padangsche (Benelanden) mulai merencanakan kota yang lebih luas dengan mengubah permasalahan social (tempat tinggal) dengan tantangan spasial. Perencanaan kota ini melahirkan konsep kanalisasi Kota Padang (membuat kanal). Ada pengeluaran ekstra pemerintah (membuat kanal) dan potensi pendapatan pemerintah dengan menerapkan pajak lahan tempat tinggal.

Untuk mengatasi tata ruang Kota Padang tersebut muncul ide pembuatan kanal seiring dengan rencana pembangunan rel kereta api (lihat Ingenieur JL. Cluijsenaer, 1876). Kanal yang dimaksud adalah kanal yang merupakan pembuatan sungai (kali) dengan menyodet sungai Batang Arau di hulu dan mengalirkannya ke sisi barat lalu berbelok ke selatan menuju laut melewati area pemukiman penduduk (kampong-kampong). Kanal ini sangat besar dan cukup dalam yang kini dikenal sebagai Banda Bakali. 

Peta Kota Padang 1916 (belum ada kanal) 
Ide kanal baru ini sesungguhnya tidak hanya berfungsi untuk menopang sistem drainase tata ruang kota (muara sungai-sungai kecil, pengeringan rawa-rawa, saluran pembuangan), tetapi kanal ini dari sisi pemerintah dapat dipandang sebagai barier, semacam garis pertahanan kota. Ide ini setelah direalisasikan, kelak dalam perang kemerdekaan, kanal yang dibangun pada tahun 1911 ini menjadi batas pemisah area pertempuran antara militer Belanda dan pejuang RI.

Perencanaan tata ruang kota yang terintegrasi dengan pertahanan pada era VOC pernah dibuat di Batavia yakni dengan menyodet sungai Kali Tjiliwong ke arah sisi barat (Jl. Djuanda/Gadjah Mada yang sekarang) dan pada fase berikutnya menyodet kembali sungai Kali Tjiliwong ke arah timur/utara (Jl. Soetomo Pasar Baroe/Goenoeng Sahari). Sungai Tjiliwong yang asli dihilangkan antara Stasion Djoeanda dan Stasion Mangga Doea. Kanal baru akan bertemu di Glodok. Pada fase selanjutnya dibuat kanal baru dengan menyodet sungai Kroekoet di Tanah Abang menuju sungai Kali Angke (drainase dan pertahanan).  Pada era pemerintahan Hindia Belanda, pada tahun 1918 kanal (banjir) barat dibuat dengan menyodet sungai Tjiliwong di Manggarai (dan dihubungkan dengan kanal Tanah Abang) hanya semata-mata untuk penanggulangan banjir ke istana (di Konings Plein). Pada era kemerdekaan (masa kini) pembangunan kanal banjir timur untuk penanggulangan banjir.  

Namun demikian, perencanaan kanal ini di Kota Padang tidak segera direalisasikan karena membutuhkan dana dan daya yang sangat besar. Oleh karena itu pemerintah daerah (gewest) tidak akan cukup alokasi dana untuk membangun kanal di dalam kota, sementara wilayah pembangunan begitu luas. Untuk itu diperlukan suatu pemerintahan kota yang mampu mengkonsolidasikan pengeluaran dana yang besar untuk infrastruktur dengan penciptaan pendapatan baru berupa (ekstensifikasi) pajak (pajak baru).

Banjir menerjang jembatan kereta api di Anai, 1892
Sebagaimana diketahui konsep kanal ini adalah bagian dari perencanaan tata ruang kota. Oleh karena infrastruktur ini berada di dalam kota, kegunaan untuk penduduk/warga kota, maka system pembiayaan harus terbatas pada kota. Berbeda dengan pembangunan jalan/jembatan antara Solok dengan Padang, karena infrastruktur daerah (gewest) maka pembiayaan harus dilihat dari dua sisi: potensi ekonomi di Padang dan sekitarnya, potensi ekonomi di Solok dan sekitarnya serta potensi pengembangan ekonomi daerah di antara dua kota. Oleh karena itu, pembangunan kanal di dalam kota harus dibebankan pada pembiayaan swa kelola, seperti halnya pembangunan jalan-jalan di tengah kota.

Banjir Besar di Kota Padang Memicu Pembangunan Kanal

Algemeen Handelsblad, 26-10-1907).
Banjir besar terjadi di Kota Padang tahun 1907. Inilah awal munculnya perkara mengapa ide pembuatan kanal (kanaal) di Kota Padang segera direalisasikan. Banjir yang terjadi pada tahun 1907 di Kota Padang tepatnya tanggal 29 dan 29 September. Akibat banjir ini satu orang tewas dan banyak ternak tenggelam. Kerugian ditaksir sebesar 2 ton emas (Algemeen Handelsblad, 26-10-1907).

Sebagaimana diketahuii pada tahun 1906 Kota Padang sudah ditingkatkan menjadi kota (gemeente) berdasarkan Staatsblad No.151 tahun 1906. Peluang pembangunan bandjir-kanaal di Kota Padang sangat dimungkinkan mengingat dewan kota (gemeenteraad) sudah mulai bekerja.

Peta Padang, 1929 (sudah ada kanal)
Pada tahun 1911 bandjir-kanal di Kota Padang benar-benar mulai direalisasikan (lihat M. Joustra, 1923). Pembangunan kanal ini diharapkan agar air di waktu hujan lebat berada di bawah kampong-kampung (pemukiman-pemukiman). Selama ini hujan lebat yang lama menjadi momok bagi warga yang selalu air menggenangi tempat-tempat pemukiman penduduk.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-01-1912: ‘…Di Pasar Gsdang pedagang inlandsen di dalam air tidak bisa menjaga keseimbangan dan dia diseret oleh air yang mengalir kuat untuk di Pulau Ayer, di mana untuk mengambil orang itu berhasil tiang lampu di samping rel kereta api, sehingga kerusakan lebih lanjut dicegah. Diharapkan bahwa pekerjaan bandjir kanaal yang mendesak dilanjutkan sehingga Padang setiap muncul hujan lebat dapat terhindar dari banjir’.

Proses pembangunan kanal ini cukup lama. Hal ini karena kanal ini cukup lebar dan dasar kanal dengan permukaan tanah cukup tinggi. Ini dimaksudkan agar terjadi sinkronisasi antara arus air dari Batang Arau dengan air laut. Selama proses pembuatan kanal ini beberapa kali terjadi banjir di Kota Padang. Beberapa kejadian banjir yang penting adalah banjir pada tahun 1914 dan 1915.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie: ‘Banjir. Padang, 12 Mei 1914. Padang kemarin setelah hujan lebat tampak sebagian terendam. Di kampong Cina dan sekitarnya, air lebih dari satu meter. Koneksi rel Poeloe Ajer-Emmahaven rusak oleh bandjir. Layanan telepon harus terhenti. Banyak pohon tumbang di dekat pemukiman. Kerusakan materil cukup besar.

Awal pengoperasian banjir kanal Kota Padang, 1916
Kanal ini dimaksudkan untuk mencegah banjir. Namun ada dua kejadian yang tidak perlu terjadi. Pertama, konstruksi kanal di area Djati yang tidak sesuai dengan potensi ketinggian arus air dengan tinggi permukaan kanal yang saat terjadi arus air besar membuat tanggul jebol mengakibatkan banjir (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 13-07-1915). Kedua, adanya luapan air kanal mengakibatkan banjir ke tempat pemukiman. Padahal tidak ada angin tidak ada hujan. Hal ini terjadi karena pintu air kanal di sungai Batang Arau jebol (Bataviaasch nieuwsblad, 23-10-1915). Peristiwa banjir ini seakan ‘banjir kiriman’, hujan lebat di hulu yang mengakibatkan arus sungai Batang Arau menerjang pintu kanal.

Dua peristiwa yang terjadi pada tahun 1915 ini mengindikasikan bahwa banjir kanal yang sudah mulai rampung dibuat belum efektif beroperasi. Perencanaan teknis kanal adalah satu hal, tetapi perilaku alam yang muncul dalam perilaku arus air adalah hal yang lain. Dua peristiwa itu seakan menguji desain dan konstruksi banjir kanal Kota Padang sebelum benar-benar mampu efektif beroperasi.

Banjir Pasca Banjir Kanal

Banjir kanal (banda bakali) adalah upaya pemerintah kota (gemeenteraad) untuk mewujudkan Kota Padang bebas banjir memang perlu tetapi tidak cukup. Karena, kenyataannya, setelah adanya kanal, Kota Padang masih terjadi banjir. Berikut adalah daftar banjir yang pernah terjadi di Kota Padang.

Tanggal Kejadian Banjir di Kota Padang
Tanggal
Keterangan
Sumber
28-12-1915
Bandjir te Padang: Padang, 28 Desember. Terjadi bandjir besar di distrik komersial dan campongs sekitarnya di Padang sekitar 80 sentimeter air. Sekarang air sudah surut.
Bataviaasch nieuwsblad, 28-12-1915
03-11-1923
Bandjir te Padang. Padang, 3 Nov. v. (Aneta) Oleh bandj di Cineesche Kamp berada di bawah air. Jembatan di atas bandjir kanaal telah rusak.
Bataviaasch nieuwsblad, 03-11-1923
16-04-1926
Di Padang tanggal 16 April banjir.
Tilburgsche courant, 17-04-1926
09-12-1926
Banjir. Padang, 9 (Aneta). Suatu bandjir di Batang Harau membanjiri bagian bawah Padang dan Ommelanden
De Indische courant, 09-12-1926
30-06-1931
Banjir di Padang. Kerusakan itu ƒ110. 000..
De Telegraaf, 30-06-1931
07-09-1931
Suatu banjir di Padang. Aneta kita untuk Padang mentransmisikan sekarang ada banjir lagi. Di kampong Cina dan daerah-daerah rendah air adalah setengah meter tinggi.
De Sumatra post, 07-09-1931

Serentetan te Padang. Padang hujan terus berlanjut. Di beberapa tempat bandjir. Pasaroesang beberapa rumah melayang; dari 11 orang yang hanyut masih belum diketahui.
De Indische courant, 18-11-1938

27-12-1938
Bandjir te Padang. Banjir berat muncul kemarin di dataran rendah bagian dari Padang. Daerah kamp Cina terendam setengah meter. Tidak ada kecelakaan diri.
Bataviaasch nieuwsblad, 28-12-1938
Tidak semua data ditampilkan


Banjir Darah Banjir Kanal

Sebagaimana di kota lain, banjir kanal dirancang Belanda tidak hanya untuk penanggulangan banjir tetapi juga untuk fungsi pertahanan.  Pada perang kemerdekaan wilayah Kota Padang di dalam area banjir kanan menjadi pusat Belanda, sementara di luar TRI bergerilya terutama pada malam hari. Banjir kanal menjadi semacam batas pemisah antara Belanda dengan republiken dan banjir kanal menjadi barier.
Pasukan TRI terus mengincar jembatan di atas banjir kanal baik jembatan kereta api maupun jembatan oto. Pertempuran kerap terjadi di seputar jembatan di atas banjir kanal. Pada malam tanggal 11 dan 12 Agustus serangan TRI terhadap kereta api tidak ada kerugian sementara pada malam tanggal 12 seorang TRI menyusup dan dapat diatasi (Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 20-08-1946).  Pada tanggal 18 Januari 1947 mortir-mortir TRI telah menghantam dua jembatan di atas banjir kanal (Provinciale Drentsche en Asser courant, 25-01-1947).

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

3 komentar:

  1. TERIMAKASIH CUKUP INFORMATIF, TERUTAMA YANG SEDANG MEMPELAJARI POLA BANJIR DI KOTA PADANG SERTA UPAYA PENANGGULANGANNYA YANG TERNYATA SUDAH DIMULAI SEJAK JAMAN KOLONIAL BELANDA DAHULU

    BalasHapus